Kusta Bukan Kutukan, Kusta Bisa Disembuhkan!

Kusta bukan kutukan, kusta bisa disembuhkan! Demikian satu pesan penting yang saya dapatkan setelah menyimak Talkshow Ruang Publik KBR yang bertema "Gaung Kusta di Udara" pada hari ini, Senin, 13 September 2021 bersama teman-teman blogger dari Ibu-Ibu Doyan Nulis.

Sebuah acara yang disiarkan live di radio dan channel Youtube KBR, yang mesti singkat tapi bahasannya sangat bermanfaat. Talkshow yang merupakan kerjasama antara NLR Indonesia dan KBR yang dipandu oleh host KBR, Rizal Wijaya.

Gaung Kusta di Udara

Tentang Tema "Gaung Kusta di Udara"

"Gaung Kusta di Udara", begitulah tema yang dipilih dalam rangkaian talkshow ke-enam terkait kusta, yang dipilih dalam rangka perayaan Hari Radio Nasional pada tanggal 11 September silam. Tema ini diangkat mengingat perkembangan informasi yang semakin cepat di era digital sekarang. 

Sehingga untuk mengimbangi hal ini masyarakat mestinya memiliki tingkat literasi informasi yang semakin tinggi. Salah satunya adalah literasi kesehatan yang memiliki tantangan maraknya informasi yang tidak valid alias hoaks. 

Nah, salah satu hoaks kesehatan yang sering beredar adalah tentang penyakit kusta yang disebut sebagai penyakit kutukan dan tidak bisa disembuhkan, yang membuat penderitanya harus dijauhkan. Menjadikan penderita kusta juga penyandang disabilitas akibat kusta sering mendapatkan stigma dan perlakuan diskriminatif dari masyarakat akibat misinformasi yang beredar.

Karena itulah NLR Indonesia dan Kantor Berita Radio (KBR) bekerja sama dalam meningkatkan akses publik terhadap penderita kusta dan disabilitas. 

NLR sendiri adalah sebuah organisasi non-pemerintah yang didirikan di Belanda pada 1967 untuk menanggulangi kusta dan konsekuensinya di seluruh dunia. Yang mana saat ini NLR beroperasi di Mozambique, India, Nepal, Brazil dan Indonesia. Di Indonesia, NLR mulai bekerja di tahun 1975 bersama Pemerintah Indonesia. 

Pada 2018, NLR bertransformasi menjadi entitas nasional dengan maksud untuk membuat kerja-kerja organisasi menjadi lebih efektif dan efisien menuju Indonesia bebas dari kusta. Dan, sama seperti aliansi NLR Internasional lainnya, NLR Indonesia memiliki slogan: "Hingga kita bebas dari kusta".

Sementara, KBR adalah penyedia konten berita berbasis jurnalisme independen yang berdiri sejak 1999. Dengan dukungan reporter dan kontributor terbaik di berbagai kota di Tanah Air dan Asia, produk KBR telah digunakan lebih dari 500 radio di Nusantara dan 200 radio di Asia dan Australia. Enggak itu saja, berita-berita KBR juga bisa disimak lewat website KBR.id, juga di media sosial di Facebook dan Twitter.

Oia, sepanjang usianya, KBR telah meraih beragam penghargaan nasional dan internasional untuk sepak terjangnya sebagai media serta karya-karya jurnalistik berkualitas. KBR adalah salah satu media yang sudah mendapat verifikasi dari Dewan Pers. KBR juga merupakan satu-satunya media di dunia yang pernah mendapat penghargaan dari Raja Belgia, King Baudouin Award.

Lalu, apa saja kegiatan yang dilakukan NLR Indonesia bersama KBR untuk melawan hoaks dan stigma terkait kusta ini? Mengapa isu kusta dan disabilitas perlu terus digaungkan lagi dan lagi?

Mari, simak liputan talkshownya berikut ini!

NLR Indonesia

Data Kusta di Indonesia


Nah, narasumber acara, dr. Febrina Sugianto, Junior Technical Advisor NLR Indonesia, menyebutkan jika kasus kusta di Indonesia pada tahun 2020 sebesar 16.704, turun dari jumlah 17.439 di tahun 2019. 

Menurut Dokter Febrina, penurunan angka kusta ini bisa jadi merupakan kabar baik atau malah sebaliknya adalah kabar buruk. Pasalnya, mungkin memang benar ada penurunan kasus yang artinya segala daya upaya untuk penanganan penyakit ini membuahkan hasilnya. 

Tapi, dikhawatirkan penurunan ini disebabkan screening yang tidak bisa dilakukan secara rutin terkait situasi pandemi Covid-19. Mengingat sejak awal pandemi pada Maret 2020 banyak proses screening yang berada pada mode on hold alias tertunda.

Sementara, disebutkan juga, di Indonesia, sejumlah 26 provinsi sudah berada pada status eliminasi kusta. Sehingga masih ada 8 provinsi lainnya yang belum berstatus eliminasi, yakni: Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat.

Sedangkan, 113 kota/kabupaten yang dilaporkan belum mencapai eliminasi kusta dari 514 kota/kabupaten yang tersebar di 22 provinsi di Indonesia. Jumlah ini juga dilengkapi data jika kasus anak proporsinya masih tinggi, sejumlah 11 % di tahun 2019 dan pada tahun 2020 ada 10%. Sehingga bisa disimpulkan jika mayoritas kasus kusta memang terjadi di luar Pulau Jawa. 

Lalu, apa faktor penyebab belum tercapainya eliminasi kusta ini?

1. Kurangnya Accesibility

Indonesia memiliki 17.000 lebih pulau dengan kondisi sosio demografis yang berbeda, sehingga diperlukan usaha yang besar untuk mencapai kantong-kantong kusta itu.

2. Stigma

Masalah terbesar adalah stigma. Pasalnya, seseorang yang sudah tahu, terdiagnosis, terkonfirmasi positif kusta tapi tidak mau menjalani pengobatan dan bahkan dikucilkan.

Kemudian, apa saja jenis kusta dan apa saja gejalanya?

1. Pausi Basiler (PB)

Lesi (bercak) di kulit lebih sedikit, 1-5, karena memang jumlah kuman lebih sedikit. Terdapat hipopigmentasi, kulit lebih terang dari kulit sekitarnya di bercak tersebut. Lesi terdistribusi asimetris, yakni di bagian kanan tubuh saja atau di beberapa bagian tubuh tertentu. Ada mati rasa di bagian yang lebih muda itu, jika disentuh tidak terasa, fungsi saraf berkurang di area itu. Hanya mengganggu fungsi satu saraf, misal di wajah ya wajah saja

2. Musti Basiler (MB)

Kasus ini paling banyak di Indonesia dengan lesi tersebar merata di seluruh tubuh (distribusi simetris), jadi bisa ada bercak di seluruh tubuh. Mati rasa tetap ada dan memengaruhi lebih dari satu saraf, misalnya di kaki kanan dan kiri. 

Host KBR Rizal Wijaya

Etapiii, Mengapa sih KBR Peduli pada Masalah Kusta Ini?

Nah terkait jumlah kasus kusta di Indonesia yang dijelaskan oleh Dokter Febriana, narasumber kedua Malika, Manager Program dan Podcast KBR, menyebutkan jika KBR selama ini selain berfungsi sebagai konten berita kerapkali juga mengangkat isu-isu marjinal.

Menurutnya, kelompok marjinal sering mengalami hambatan struktural maupun kultural dalam pemenuhan hak-hak kewarganegaraan. Dalam situasi ini sebenarnya media bisa mengambil peran untuk membantu terwujudmya hak-hak tadi. Bukan sebaliknya meligitimasi atau bahkan memicu tindakan diskriminasi terhadap mereka.

Maka, senang sekali KBR bisa bekerja sama dengan NLR Indonesia terkait meningkatkan literasi seputar kusta. Yang mana hal ini juga dilakukan KBR dengan pihak lainnya. 

Misalnya, bekerja sama dengan Into The Light Indonesia terkait tema kesehatan mental. Juga berbagai program menarik lainnya.

Tapi, seberapa pentingkah literasi untuk mengangkat isu marjinal ini? Kenapa KBR tidak mencari tema lain saja yang lebih banyak diminati pendengarnya?

Menjelaskan hal ini Malika menyebut jika radio sama seperti media lainnya, fungsi-fungsi media bisa memengaruhi opini masyarakat. Selain itu radio juga bersifat watch dog, sehingga bisa memengaruhi proses pembuatan kebijakan publik. 

Contoh sederhana, ketidaktahuan masalah kusta akan membuat penderita dikucilkan oleh masyarakat. Padahal Indonesia masih menduduki peringkat ketiga jumlah penderita terbesar di seluruh dunia. Sedangkan faktanya penularan kusta itu tak mudah. Penyebab masih tingginya angka karena terlambat penanganan, minimnya pengetahuan tentang gejala juga tingginya stigma pada penyakit kusta.

Ini semua membuat KBR ingin berpartisipasi menjadi corong, untuk mengedukasi masyarakat dan meningkatkan pemahaman agar penderita tidak dikucilkan sehingga bisa menjalankan pengobatan dengan benar.

Lalu Apa Saja Mitos dan Hoaks Seputar Kusta? Apa Dampaknya Bagi Penderita?


Dokter Febrina menyebutkan jika mitos yang sering beredar perihal kusta bisa berefek sangat buruk bagi Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK)

Pasalnya mereka percaya:

1. Kusta adalah kutukan
Kusta dianggap kutukan akibat dari dosa yang dilakukan penderita di masa lalu. Maka penderita tidak mencari solusi dan cenderung merasa malu,  sehingga tidak berusaha mencari pertolongan. Bahkan ada beberapa komunitas yang mengucilkan OYPMK karena menganggap penderita membawa bad luck atau kesialan bagi komunitasnya

2. Kusta menular lewat sentuhan
Orang yang mengetahui orang lain menderita kusta akan tidak mau berdekatan dan berada di ruangan yang sama sehingga berakibat buruk bagi OYPMK. Padahal penderita perlu ditemukan dan butuh pengobatan dalam waktu lama sehingga butuh support dari lingkungannya. Lalu, jika orang di sekitarnya saja enggak mau seruangan dengan penderita bagaimana mereka mendapat support untuk pengobatannya?

3. Kusta akibat higienitas yang buruk/kurang menjaga kebersihan
Faktanya kusta adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.

4. Kusta tidak bisa disembuhkan
Mitos ini bisa berakibat fatal, sebab OYPMK merasa percuma minum obat karena toh enggak bisa sembuh.

dr. Febrina Sugianto

Lalu Bagaimana Pengobatan Kusta?


Dijelaskan Dokter Febriana pengobatan yang digunakan untuk kusta di Indonesia dilakukan dengan metode MDT (multi drug therapy) bentuknya blister. Satu blister berisi beberapa obat yang harus diminum setiap hari secara intens (ada kepatuhan berobat)

Nah, untuk kusta Pausi Basiler setiap blister untuk satu bulan, diperlukan 6 blister yang bisa dikonsumsi 6-8 bulan. Artinya, jika ada masa berhenti minum obat karena lupa atau lainnya, ada tenggat waktu 2 bulan bisa dikonsumsi. Tapi jika lebih dari tenggat waktu ini, maka dokter bisa saja memutuskan penderita harus mengulang terapi dari awal lagi. Intinya tidak boleh menghabiskan obat lebih dari 8 bulan. Jadi tidak boleh putus obat apalagi berhenti sendiri!

Sedangkan untuk tipe Multi Basiler, setiap blister untuk satu bulan, dibutuhkan 12 blister yang bisa dihabiskan dalam 12- 18 bulan.

Lalu, bagaimana cara media meliterasi isu yang sensitif tanpa melukai perasaan orang lain a.k.a penderita?

Menanggapi hal ini, Malika menyebutkan jika pihak KBR melakukan riset terlebih dahulu, mempelajari, yang kemudian di cek lagi oleh NLR dengan fokus bahwa OYPMK akan bisa mandiri nantinya. Sebisa mungkin KBR berada dalam koridor yang betul jangan sampai niatnya untuk meruntuhkan stigma eh malah menguatkan.

Sehingga program dikemas  unik dalam bentuk Ruang Publik KBR yang disiarkan secara live di 100 radio jaringan di seluruh Indonesia dari Aceh sampai Papua. Selain itu akan disiarkan lewat Podcast di kbrprime.id atau di Spotify dan lainnya. Sementara khusus untuk kerjasama dengan NLR, ada pada podcast #SUKA (Suara Untuk Kusta).

gejala kusta
sumber: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20150116/0711797/bercak-putih-di-kulit-mungkin-bukan-panu-tapi-gejala-awal-kusta/


Q & A Talkshow


Q: Adakah tempat khusus untuk menampung penderita kusta?

A: Pasien kusta sebenarnya tidak perlu penampungan atau bangsal khusus, karena jika sudah terkonfirmasi pengobatan bisa dimulai. Nah, ketika mulai mengonsumsi MDT, 72 jam setelah dosis pertama risiko penularannya sudah sangat turun. Hanya tersisa 20% atau kurang dari itu. Sehingga sangat tidak menular. Oia, penularan kusta juga tidak semudah itu, karena butuh kontak erat, lebih dari 15 jam. Misalnya, dari 100 orang yang kontak dengan OYPMK, yang terdeteksi hanya 5 dan yang menghasilkan gejala hanya 2 orang. Jadi, transmisinya sangat rendah, maka enggak perlu takut berlebihan. Interaksi yang lebih intenslah yang akan memicu penularan.

Q: Apa saja program NLR terkait kusta dan menyasar siapa programnya?

A: Ada 3 program utama NLR Indonesia: zero transmission (mencegah penularan), zero disability (mencegah disabilitas) dan zero exclusion (menurunkan stigma). Program-program yang diturunkan lebih meningkatkan pemahaman dari masyarakat. Yang paling diunggulkan adalah #SUKA. Sasarannya adalah publik secara umum dengan melakukan talkshow di radio secara bulanan. Pemahaman pada mahasiswa juga dilakukan khususnya di ilmu kesehatan melalui webinar. Promosi kesehatan juga dilakukan baik secara tatap muka maupun virtual untuk tenaga kesehatan, mahasiswa, juga siapa saja yang bekerja di lapangan dan komunitas yang masih masuk wilayah endemik kusta.

Q: Di saat pandemi ini, apa strategi khusus untuk menangani kusta di Indonesia mengingat mobilitas masyarakat dibatasi? 

A: NLR menjalankan strategi blended, online dan offline. Untuk kegiatan yang bisa virtual ya dilakukan virtual. Tapi jika tidak bisa tetap offline dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.

Q: Bagaimana jika setelah pengobatan terjadi bengkak pada kaki, terasa sakit.

A: Untuk pasien dengan kusta ada yang disebut dengan reaksi kusta, sebelum, saat dan sesudah pengobatan. Ini dipengaruhi dari berbagai faktor internal, bisa karena stres atau imunitas. Maka, jika terasa mengganggu harus konsultasi ke dokter. Selanjutnya tergantung pemeriksaan fisik yang dilakukan. Tapi untuk menghentikan pengobatan tidak boleh diputuskan sendiri tanpa konsultasi. Nanti dokter akan menambah obat disesuaikan dengan reaksinya tersebut. Agar tak berefek buruk pada terapi jangka panjangnya, obat mesti diminum setiap hari. Memang beberapa orang akan merasa bosan dan merasa tidak nyaman dengan perubahan warna kulit dan gejala lainnya, tapi tidak boleh berhenti minum obatnya agar sembuh dari kusta! 

Q: Apa kendala paling berat OYPMK? Apakah mudah mengembalikan kepercayaan diri mereka?

A: Membesarkan hati OYPMK butuh waktu. Perlahan-lahan mesti diubah pola pikir individunya yang awalnya enggak percaya diri dan merasa bukan bagian dari masyarakat. Mereka diyakinkan bahwa kusta hanya penyakit yang bisa disembuhkan dan jika sudah sembuh maka bisa kembali ke masyarakat seperti biasa. Dengan tujuan akhir membuat quality of life mereka meningkat melalui pola pikir dan perilaku.

Q: Apa efek pengobatan kusta? Kelainan saraf apakah bisa sembuh sempurna jika sudah terlambat pengobatannya?

A: Efek pada penderita, hampir semua ada perubahan warna kulit jadi lebih gelap, efek di saluran pencernaan seperti sakit perut, mual, badan rasanya panas, berbeda pada tiap orang. Tapi agar tahu itu efek samping obat atau reaksi kusta perlu konsultasi ke dokter atau petugaa kesehatan di Puskesmas terlebih dulu. Nanti dilihat apakah karena kusta atau penyakit lainnya. Sedaangkan cacat karena terlambatnya ditangani kusta bisa diatasi dengan rehabilitasi lewat exercise setiap hari atau dengan alat untuk membantu kegiatan sehari-hari. Ada saraf yang kembali berfungsi normal seperti sediakala, ada juga yang menetap, berbeda di setiap orang demikian juga penanganannya. Tapi selalu ada harapan, meski tidak kembali sempurna paling tidak, tidak akan lebih parah nantinya.

Q: Pengobatan kusta dimana?

Di semua puskesmas sudah ada pengobatan kusta, bisa ke puskesmas atau tenaga kesehatan terdekat juga.

Kusta Bukan Kutukan


Lalu, Apa Strategi NLR dan KBR agar Pesan Kusta Tersampaikan?


NLR dan KBR menghelat talkshow dengan mengangkat sisi lain dari kusta. Misalnya, tentang kesempatan kerja yang memungkinkan bagi OYPMK agar pengambil kebijakan dan perusahaan mau menerima OYPMK bekerja. Juga, bagaimana menyiasati agar penderita kusta meski situasi pandemi masih bisa mendapatkan pengobatan. Intinya, NLR dan KBR berusaha mengemas sisi yang belum banyak diangkat oleh pihak lain.

Harapan KBR, disebutkan oleh Malika, akan hadir lebih banyak kebijakan yang inklusif pada berbagai kebutuhan. Dilakukan juga berbagai aktivasi offline agar orang makin teredukasi agar isu ini lebih banyak dibincangkan dan orang banyak menaruh perhatian di situ sehingga stigma kusta akan menurun dan tak ada diskriminasi lagi .

Sementara, harapan terkait dari NLR Indonesia untuk kegiatan ini, Dokter Febrina menyampaikan agar media lain bisa lebih berpihak pada isu-isu marjinal dengan menyampaikan pesan yang positif dan mengedukasi dan bukan melihat dari kacamata belas kasihan.

Nah terkait "Gaung Kusta di Udara", tak hanya lewat radio saja edukasinya. Untuk itu dihelat lomba Podcast SUKA. Juga ada Instagram Reels dan Instagam Photo terkait kusta dengan tema "Indonesia Bebas Kusta: Sebarkan Faktanya, Lawan Hoaksnya", untuk periode 13 - 22 September 2021. So, kepoin akun Instagram @kbr.id dan @nlrindonesia untuk info lengkapnya ya...!

Yuk, kita bisa, sebarkan faktanya, lawan hoaksnya. Kusta bukan kutukan, kusta bisa disembuhkan!

See Ya!💖


kusta bisa disembuhkan

Salam Semangat

www.dianrestuagustina.com

28 comments

  1. Yuk, sebarkan faktanya, lawan hoaksnya! Kusta bukan kutukan, kusta bisa disembuhkan!

    ReplyDelete
  2. Dulu, aku pernah berpikir bahwa kusta adalah penyakit yang sangat mengerikan. Rasanya, aku enggan mau mengenalnya. Seolah aku berpikir itu adalah penyakit menular yang menyakitkan.

    Yah, semua itu karena apa yang masyarakat sekitar deskripsikan mengenai penyakit kusta. Meski sebenarnya nggak pernah bersinggungan langsung dengan penderita. Tapi pembahasan mengenai penyakit tersebut kadang nggak sengaja tercipta.

    Memang kudu banyak edukasi mengenai penyakit ini. Biar masyarakat semakin paham bahwa penyakit ini bisa disembuhkan.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah kalau tahun 2020 udah menurun ya. Sedih waktu baca, bahwa Indonesia urutan ke-3 di dunia soal jumlah penyandang kusta. Harus bener-bener sosialisasi nih, spy orang engga takut lagi dan betul-betul diobati hingga sembuh.

    ReplyDelete
  4. Informasi mengenai kusta ini masih sangat minim di kalangan masyarakat awam. Saya juga sempat kaget ternyata angka kusta di Indonesia bahkan Jawa Barat masih tinggi. Tidak sedikit juga Orang Dengan Kusta yang mendapat perlakuan berbeda karena ketidaktahuan warga. Dipikir kalau kusta itu bisa menular dengan mudah. Padahal enggak juga. Semoga dengan edukasi rutin dari lembaga seperti KBR begini infonya makin jelas dan masyarakat jadi nggak sekedar menerka-nerka aja.

    ReplyDelete
  5. Terima kasih liputannya Mbak Dian. Aku jadi belajar banyak. Termasuk baru tau kalau kusta tidak menular kecuali kontak erat lebih dari 15 jam

    ReplyDelete
  6. Hoax kesehatan yang sering beredar salah satunya adalah penyakit kusta. Kusta disebut sebagai penyakit kutukan, tidak bisa disembuhkan dan perlu dijauhkan. Orang yang terdiagnosa kusta maupun penyandang disabilitas akibat kusta seringkali mendapat stigma dan perlakuan diskirminatif dari masyarakat karena misinformasi yang beredar. salut dgn NLR Indonesia bekerja sama dengan KBR dalam meningkatkan akses publik terhadap informasi dan pengetahuan tentang kusta dan disabilitas.

    ReplyDelete
  7. Selama ini aku pikir penyakit kusta itu gak bakal sembuh lho, nambah wawasan banget nih kalau nyatanya ada kusta yang bisa sembuh dan gak nular kalau nggak kontak erat 15 jam.

    ReplyDelete
  8. Jadi teringat saat dulu lady Diana berkunjung ke Indonesia. Beliau mengunjungi para pasien penderita kusta tanpa ragu2, trus [ercaya diri bersalaman dan mengobrol bersama. Duluuuu, kusta dianggap kutukan. Alhamdulillaah semakin ke sini makin disosialisasikan perihal penyakit kusta ke[ada masyarakat sehingga kita saling support, ga menjauhkan mereka lagi. Kusta bisa disembuhkan, pelan2 namanya juga ikhtiar ya mbak Dian.

    ReplyDelete
  9. Dulu saya tahu penyakit kusta ini dari sebuah serial di TV. Di sana diceritakan tentang seseorang yang menderita kusta dan dikucilkan oleh semua orang. Semua menganggap penyakit kusta sebagai penyakit kutukan.
    Sekarang zamannya udah berubah, seharusnya masyarakat lebih pandai dan mau menerima penderita kusta yang ada di sekitarnya.

    ReplyDelete
  10. Entah informasi yang tertanam kuat di kepala ini berasal darimana. Bahwa penderita kusta harus diungsikan diisolasi jarena ini penyakit sangat udah menular dan sangat mengerikan. ternayata salah semua ya....terima kasih kak infonya

    ReplyDelete
  11. Bener banget Mbak Dian, media harusnya memang lebih berpihak pada isu-isu marjinal dengan menyampaikan pesan yang positif serta mengedukasi,ya mbak.
    Bukan malah menyebar hoax tanpa faktayang benar.
    Detail banget bahasannya mbak, baru tahu juga efek samping obat pada pasien saat terapi ini dilakukan.

    ReplyDelete
  12. Ini perlu diforward nih. Bagus. Hoax soal kusta memang masih melekat di masyarakat. Bahkan saya pun gak tau persis fakta yang sebenarnya. Terima kasih ya. Informatif banget. Dlu saya ada kawan yang punya kusta juga, entahlah skrg nasibnya ke gmn

    ReplyDelete
  13. Wah, lengkap banget. Emang stigmatisasi jadi sesuatu yang sering memperparah kondisi. Banyak juga yang saya baru tahu dari tulisan ini.

    ReplyDelete
  14. Wahh aku dulu takut bangett, takut kalau bisa nular.. Soalnya kan dulu emang disuruh gak boleh deket-deket gitu, bahaya.. Dan kubaru tau sih ternyata gak ada masalah yang seperti itu disini, pasti bisa sembuh pasti

    ReplyDelete
  15. Awalnya aku pikir Juga ini penyakit kulit bawaan dari lahir Dan gàk bisa disembuhkan ternyata bisa ya.. Dan noted tidak juga menular klo dekat Penderita kusta

    Andai ditanganin di awal pasti bisa disembuhkan

    ReplyDelete
  16. Dengan sosial kemasyarakatan terkait kusta sangat penting agar masyarakat tdk salah paham dengan stigma bahwa kusta tidak bisa disembuhkan.

    ReplyDelete
  17. Kusta memang bisa disembuhkan. Memang lama sekali. Btw, dulu di kota saya termasuk endemi kusta, di daerah ujung utaranya. Sampai ada gereja (masa kolonial) khususnya dan ada rumah sakitnya juga. Sekarang jadi RS umum setingkat Propinsi. ALhamdulillah Jawa sudah bebas kusta. Sekarang bagaimana agar pulau lainnya juga segera bebas.

    ReplyDelete
  18. Melalui ruang publik KBR & NLR Indonesia kita jadi tau lebih banyak tentang penyakit kusta ini, padahal bisa disembuhkan dan kembali normal, semoga semakin banyak yang tercerahkan ya mba

    ReplyDelete
  19. Sebelum ada sosialisasi ini, saya juga termasuk yang menganggap kusta adalah penyakit kutukan. Pasalnya, saya sering melihat film kolosal yang mengisahkan kerajaan zaman Romawi kuno tentang penderita kusta yang diasingkan dan dianggap sebagai sebuah kutukan.

    ReplyDelete
  20. Stigma masyarakat terhadap OYMPK ini yang harus kita hilangkan ya. Kasihan mereka para OYPMK dan penderita. Biarkan mereka sembuh dan memiliki hak hidup dan penghidupan yang layak.
    Dan itu diatur oleh undang-undang, bukan?

    ReplyDelete
  21. Masih ada banyak yang mengira bahwa kusta ini sangat sulit disembuhkan ya. Kini memang penting untuk mengedukasi masyarakat agar paham tentang kusta ini sendiri. Support dari pemerintah dan lingkungan sekitar juga pastinya sangat penting sekali ya.

    ReplyDelete
  22. Alhamdulillah sudah ada penurunan kasus kusta ya mba Dian.. semoga nantinya kbr konsisten untuk terus kampanye tentang kusta agar lama kelamaan kusta dapat hilang dari negeri kita.

    ReplyDelete
  23. mudah-mudahan semakin banyak yang mengedukasi jadi semakin banyak orang yangg aware ya. Jadi kasus bisa dihilangkan dari muka bumi hhehe...

    ReplyDelete
  24. Saya ingat, pernah baca buku novel, yang setiingannya zaman dulu, di mana penyakit kusta belum ada obatnya dan merupakan penyakit yang berbahaya.
    Jika ada yang terkena kusta ketika itu, maka akan diasingkan ke hutan.
    Mungkin cerita ini benar. Dulu belum ditemukan obatnya.
    Sekarang obatnya sudah ada. Tinggal konsisten untuk mengkonsumsinya.
    Btw, ndak dikasi tau kah mba Dian, berapa harga obat satu balister itu? Jadi pengen tau, mahal apa gak.. Apa saya kelewat bacanya ya...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. gratis..langsung ke Puskesmas ada layanan dan obatnya

      Delete
  25. Tulisan yang bagus sekali mba Dian.
    Terus terang mitos yang beredar dan stigmatisasi masyarakat yang berkembang seputar penyakit kusta membuat penanganan kusta menjadi tidak maksimal.
    Saya melihat di daerah tempat saya berdomisili, Para penderita kusta pun sebagian malah lebih nyaman hidup dan mengemis di jalan dibandingkan dirawat di rumah sakit khusus.
    Semoga masyarakat dan para penderita kusta semakin teredukasi bahwa kusta sangat mungkin untuk disembuhkan

    ReplyDelete
  26. Bener banget mbaa, kadang suka heran sama yang bilang kutukan itu darimana sihh hhuhu
    tapi gabisa disalahkan speenuhnya juga sih karena mereka gatau dan belum teredukasi

    ReplyDelete
  27. Salut deh dengan KBR dan NLR Indonesia yang konsisten menyuarakan kusta bukan kutukan ini ya Mbak... nah saya tahu nih ada jenis-jenis penyakit kusta, Pausi Basiler dan Musti Basiler ya, noted, Nice info Mbak Dian, tfs.

    ReplyDelete