Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tentang Bulan Bahasa dan Pernikahan Keponakan Saya

Kemarin, saya menjadi anggota rombongan besan pada pernikahan keponakan. Keponakan saya bersuku Jawa, berjodoh dengan gadis bersuku Sunda. Acara akad yang digelar di kediaman mempelai perempuan memakai adat Sunda. Pada saat pembacaan ijab qabul masih berbahasa Indonesia, tapi saat acara adat, full berbahasa Sunda. Alhasil kami rombongan besan yang semua wong Jowo, roaming mendengarnya. Kwkw

Syukurnya di pertengahan acara, mungkin karena baik manten laki-laki maupun tamu-tamu nampak ngang ngong mukanya, muncullah host pendamping, yang menerjemahkan ucapan pembawa acara ke dalam bahasa Indonesia!

Akhirnya, paham deh kami rombongan besan setelah sang bahasa persatuan, bahasa Indonesia dipergunakan. Sebuah bukti nyata betapa besar peran bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa. Mengingat Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah (indigenous languages) yang menurut Ethnologue, ada 715 bahasa daerah yang menjadikan Indonesia sebagai negara pemilik bahasa daerah terbanyak kedua setelah Papua Nugini dengan 840 bahasa daerah yang ada!!

Karenanya, pas benar jika di bulan Oktober yang ternama sebagai bulan bahasa dan sastra Indonesia kita mengulik soal bahasa Indonesia, menilik fungsinya yang menjadi bahasa pemersatu bangsa!


Tentang Bulan Bahasa

Bulan Oktober diperingati sebagai bulan bahasa dan sastra Indonesia sejak tahun 1980, hingga saat ini. Karena pada bulan ini terdapat peristiwa penting, yakni Sumpah Pemuda, dimana pemuda-pemudi Indonesia mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang mengikat keberagaman bangsa Indonesia sebagai bangsa yang satu. 

Oh ya, jauh sebelum bahasa Indonesia diakui sebagai bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda, bangsa Indonesia berkomunikasi menggunakan bahasa daerah masing-masing yang berbasis pada bahasa Melayu.

Bahasa Indonesia sendiri lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam Kerapatan Pemuda dan berikrar dalam Sumpah Pemuda, yaitu:

"Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia."


Setelah Sumpah Pemuda, bahasa Indonesia mulai digunakan untuk berkomunikasi, baik secara verbal maupun literal dan menjadi amunisi pemersatu bangsa. 

Sepenggal ikrar pada poin ketiga naskah Sumpah Pemuda itulah yang menjadi awal mula bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Oleh karena benang merahnya dengan Sumpah Pemuda yang dahulu diikrarkan, Indonesia memeringati bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa dan Sastra.

Peringatan ini sendiri, ditujukan untuk mengingat bahwa kukuhnya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bukan tanpa dasar perjuangan. Hingga perlu bagi kita memeringatinya dalam Bulan Bahasa dan Sastra. Agar sebagai putra dan putri Indonesia, kita lebih menghargai bahasa Indonesia dan berbangga terhadap bahasa Indonesia.

sumber: https://dispersip.pangkalpinangkota.go.id/sejarah-singkat-bulan-bahasa-dan-sastra-indonesia/

Bahasa Indonesia Bahasa Pemersatu Bangsa

Balik lagi ke acara nikahan ponakan saya. Memang sih enggak semua pakai adat Sunda. Seharian itu acaranya dibagi ke dalam tiga tema: acara pagi akad pakai adat Sunda, siang resepsi dengan adat Jawa, dan malam pakai tema modern 'Lilac Dress'. 

Jadi adil dan merata...!

Nah, saat pagi itu sempat roaming karena memang kami serombongan besan, wong Jowo yang tahunya bahasa Sunda hanya "Kumaha, damang?" "Nuhun" "Punten"....Syukurnya, hingga akhir acara, MC pendamping sigap menerjemahkan.

Tapi, asli saya happy bisa hadir di prosesi adat pernikahan Sunda ponakan saya ini. Saya menyimak acaranya dengan bahagia. Bertambahlah wawasan saya tentang adat pernikahan yang sangat beragam di Indonesia. 

Meski saya sudah pernah tinggal di beberapa daerah di Indonesia juga traveling ke penjuru Nusantara, tapi pengalaman langsung berada di acara yang mengusung adat istiadat setempat sungguhlah berbeda!

Apalagi selain menyaksikan sendiri saya pun bisa mengerti dan memahami acaranya, sebab disampaikan dalam bahasa Indonesia. Bahasa yang menjadikan rakyat Indonesia yang berbeda-beda bisa menuju satu makna!

Yuk, Bangga Berbahasa Indonesia!

Nah, terkait Bulan dan Bahasa dan Sastra, kita sebagai masyarakat Indonesia bisa memeringatinya melalui berbagai macam cara. Semua komponen bangsa dapat terus berkomitmen menggunakan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan santun. 

Selain itu, yang tak kalah penting, kepedulian dan kecintaan terhadap karya-karya berbahasa Indonesia tentunya perlu terus ditumbuhkan. 

Misalnya kamu hobi menulis, bisa berkarya dalam blog pribadi yang selain untuk memberikan beraneka informasi juga ikut serta membudayakan bahasa Indonesia ini. Seperti beragam info bermanfaat yang dituliskan oleh Mba Wati Artanto, seorang Blogger Semarang dalam blog kerennya!

Jadi, mari rayakan Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia secara antusias, karena kalau bukan kita yang melestarikannya, siapa lagi?

Selamat Bulan Bahasa!💗


Salam

Dian Restu Agustina

Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

18 komentar untuk "Tentang Bulan Bahasa dan Pernikahan Keponakan Saya"

  1. Mbaaak, wajah ngang-ngongnya terabadikan kamera nggak? Hihi....
    Perbedaan bahasa Jawa dan Sunda ini memang lumayan bikin roaming. Ada yang sama, tapi banyak yang jauh berbeda. Duluuu, bulik (alm) sempat bengong waktu tamu resepsi bilang "atos" pas disodorin piring buat makan. Lah, piring ya atos. Hehehe....

    BalasHapus
  2. Benar banget, nggak kebayang jika tidak ada bahasa persatuan bahasa Indonesia, kita akan pusing banget pastinya ya, karena setiap daerah di Indonesia memiliki bahasanya masing-masing.

    BalasHapus
  3. Kerennya Indonesia memang, kemana pun perginya di wilayah Nusantara, dipersatukan dengan bahasa Indonesia. Sehingga lebih nyambung ya mbak komunikasinya. Cuss lestarikan terus bahasa Indonesia tanpa disisipi dialeg slang

    BalasHapus
  4. Siapa lagi nih yang mencintai BAhasa Indonesia, kalau bukan kita-kita ini?
    Yuk, mulai dari diri sendiri yuk... Tunjukkan kecintaan kita pada bahasa Indonesia di bulan bahasa ini...

    BalasHapus
  5. hihihi saya beruntung jadi orang Jawa yang lahir dan besar di tanah Sunda
    Jadi ngerti kedua bahasa, walau gak lancar
    Terkadang saya kesulitan menerjemahkan
    Kaya tadi minta izin ibu pengarit rumput
    Akhirnya pakai bahasa Indonesia deh untuk kata2 yang "bingung"

    BalasHapus
  6. Adik saya juga menikah dengan orang Sunda mbak, tapi dulu pas acara udah langsung ada penerjemah dari bahasa Sunda ke Bahasa Indonesia sih, jadi kami nggak ngang ngong saat acara adat.

    Banyak yang bisa kita perbuat di bulan bahasa dan sastra ini ya, salah satunya kalau sebagai blogger ya menulis dengan bahasa Indonesia baku

    BalasHapus
  7. Kebayang ya Mbak Dian jika tidak ada bahasa persatuan yang diikarkan pada 28 Oktober. Gak akan ada girah kebanggaan menjadi warga negara Indonesia. Komunikasi antara suku pun gak akan semumpuni sekarang. Pesan tidak akan tersampaikan dengan baik karena masing-masing menggunakan bahasa daerah yang berbeda.

    BTW, nikahan saya juga menggunakan dua adat yang berbeda. Adat Palembang untuk resepsi (dari keluarga saya). Adat Sunda untuk akad nikah (dari keluarga suami). Saya dan suami memutuskan untuk menampilkan adat hanya pada outfit saja. Jadi semua narasi dll. tetap menggunakan bahasa Indonesia aja supaya gak ada yang roaming hahahaha.

    BalasHapus
  8. Pernikahan dengan dua adat yang berbeda tak masalah, aku dan suamiku juga beda, di rumah kami pakai Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris hehe. Bahasa persatuan sangat penting karena Indonesia tu terdiri dari beragam suku dan adat istiadat.
    Tp emang sih kyknya di pelosok sana masih banyak yang gak lancar berbahasa Indonesia, eh jangankan di pelosok dekat Jakarta juga beberapa kali nemuin org2 daerah yang gak paham Bahsa Indonesia. Semoga pendidikan di sini makin merata jadi semua org bisa belajar Bahasa Indonesia ya mbak :D

    BalasHapus
  9. Hahahahaa, aduuh ini kocak bgt siikk, klo roaming ttg bahaasa.
    klo di kluarga besarku jaraanggg bgt yg dapat non-Jawa.
    ada sih yg dpt Sumsel, ehhh ternyata ortunya keturunan Jawa

    BalasHapus
  10. Pas baca awal tulisan ini aku ngakak. Pernah mengalami seperti ini. Alhasil sepanjang acara hanya bisa bengong karena MC pakai bahasa setempat. Memang penting banget bahasa Indonesia. Aplagi kalau pas traveling ke daerah2 yang tidak paham bahasanya. Dengan pakai bahasa Indonesia semua masalah selesai.

    BalasHapus
  11. Kebayang serunya itu Mbak Dian, hehe.
    Uniknya negara kita itu memang beragam budaya dan bahasa ya mbak, tapi jika acara resmi ada baiknya bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Namun dengan dikemas seperti terjemahan juga nggak apa-apa, karena tamu yang hadir pun akan menghormati jika keluarga mempelai mempunyai budaya yang beragam.

    BalasHapus
  12. Wkwkwk aku tahu banget gimana rasanya ngang ngong ditengah acara gini. Untung banget sih ada Bahasa pemersatu Bahasa Indonesia ini

    BalasHapus
  13. Dulu pas pindah dari Kalimantan, saya belum bisa bahasa Jawa. Pas naik angkot , kernetnya tanya "mudun endi" dan saya pun bengong aja karena tidak tahu artinya. Bersyukur ada Bahasa Indonesia jadinya saya tanya sama kernetnya artinya apa. kalau ingat itu jadi senyum sendiri

    BalasHapus
  14. Wah pengalaman menyaksikan pernikahan adat ini pernah saya saksikan saat teman menikah Dalam adat batak toba. Meski beda bahasa ssya cukup khidmat mendengarnya.
    Selain itu pernah berhadir di acara pernikahan Aceh. Ini juga cukup unik selain acara pernikahan melayu ysng sering saya saksikan di lingkaran keluarga kami kak Dian.
    Memanglah bahasa daerah kita menjadi daya tarik dan kekayaan budaya yang gak boleh hilang. Selain bahasa indoneia yang harus kita galakkan saat berada pada forum resmi

    BalasHapus
  15. Ketemu orang Indonesia saat kerja TKW bahagia banget. Tapi langsung mleyot ketika si mbak bicara pakai bahasa Jawa, lah saya gak ngerti semuanya.
    Oalah, kami gak ngerti bahasa Jawa toh? Yo wes ngobrol karo bahasa Indonesia wae.

    Baru deh saya senang. Haha... Sesakti itu ya bahasa Indonesia itu bagi bahasa persatuan kita yang beda suku

    BalasHapus
  16. Hebat ya Indonesia ini. Dari awalnya berbeda-beda bahasa, bisa dijadikan ke satu bahasa, bahasa Indonesia

    BalasHapus
  17. Alhamdulillah host-nya tanggap ya.
    Benar Mbak, bersyukur banget ada bahasa Indonesia. Saya di Sulsel pun mengalami bahasa daerah yg berbeda2. Lha bahasa daerah ayah saja tak saya kuasai krn ayah dan ibu beda suku, apalagi bahasa daerah lain2nya di Sulsel yg beda banget satu sama lain 😄

    BalasHapus
  18. Saya suka banget kalau menghadiri pesta pernikahan ragam adat seperti ini, jadi menambah pengetahuan tentang budaya adat lain. Di tempat saya juga begitu walaupun pernikahannya sarat dengan adat, tetap gak lupa mereka menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa pengantar, agar yang melihat mengerti prosesinya

    BalasHapus