Review Buku: "Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya"
"Kios Pasar Sore - dan Cerita Orang‑Orang Biasa Lainnya" adalah sebuah buku kumpulan cerita pendek (cerpen) karya penulis Indonesia, Reda Gaudiamo, yang dirilis pada Oktober 2025. Sebuah buku yang terdiri dari 31 cerita pendek yang berdiri sendiri dan saling terkait lewat tema umum kehidupan sehari-hari yang sederhana namun penuh makna.
Reda Gaudiamo menyoroti kehidupan orang-orang biasa, merangkai momen kecil - obrolan di rumah, tempat kerja, antar tetangga, beragam kebiasaan sederhana - menjadi potret humanis yang lembut dan relate dengan keseharian kita. Kisahnya tidaklah megah atau penuh drama, tapi justru itulah kekuatannya.
Dengan gaya penulisan ringan, puitis, dan seringkali meninggalkan ending terbuka, Reda membuat pembaca bukunya merenung dan berimajinasi bagaimana akhir cerita versinya sendiri.
Reda bertumbuh dari jurnalis → editor → pemred → eksekutif media → penulis sastra, yang menggabungkan dua dunia: media modern dan sastra puitis. Beberapa karyanya, terutama buku anaknya, sudah diterjemahkan dan dikenal di luar negeri, juga pernah tampil di berbagai festival sastra internasional, yang membuatnya menjadi salah satu penulis Indonesia yang aktif membawa cerita lokal ke ranah global.
Berisi 31 cerita ringkas, yang bisa sekali duduk saja dibaca - tapi efeknya bisa terkenang lama. Ada humor receh, ada kegetiran, ada kesendirian, ada harapan. Ceritanya tidak dramatis, bukan melankolis - semuanya terasa manusiawi dan wajar. Beberapa cerita mengajak pembacanya merenung bak
Bahasa yang tenang, alurnya yang pelan, dan suasananya seperti senja yang indah, membuat buku ini bisa jadi teman istirahat dan melepas lelah. Baik remaja, dewasa, ibu rumah tangga, pekerja kantoran, atau pensiunan - semua bisa menemukan dirinya dalam salah satu cerita pada bukunya.
Menyoroti seseorang yang tidak memiliki alamat yang jelas, dan bagaimana itu memengaruhi hidupnya. Sebuah kisah yang memotret betapa pentingnya “tempat pulang” bagi manusia dengan pesan moral: alamat bukan hanya lokasi, tapi simbol identitas dan rasa memiliki. Identitas manusia tak selalu ada pada alamat fisik, sebab ada orang yang merasa rumah sesungguhnya adalah pengalaman hidupnya, bukan titik di peta.
3. “Ross & Joko”
Mengangkat dinamika dua orang yang berbeda sifat tetapi saling melengkapi. Dimana tokoh perempuan berusaha memaksa suaminya mengucapkan cinta dalam bahasa yang ia sukai; tapi justru perbedaan kecil itu menjadi sumber konflik dan komedi. Mengangkat pesan dalam relasi apa pun, perbedaan bukan halangan, dan hidup akan lebih ringan jika kita bisa menertawakan diri sendiri.
4. “Madame l’Usherette”
Mengisahkan sosok wanita tua yang bekerja sebagai penyambut tamu di tempat pertunjukan yang menemukan makna dari rutinitas yang biasa dan menyadari bahwa momen kecil bisa jadi hal yang paling berharga dalam hidupnya. Membawa pesan bahwa keberadaan kadang bukan tentang pencapaian, tetapi tentang ketulusan dan perhatian terhadap hal-hal kecil yang kita lakukan.
Menceritakan tentang seseorang yang akhirnya kembali setelah lama pergi. “Pulang” tidak selalu mudah. Kadang itu perjalanan paling berat. Waktu mengubah banyak hal, meski kenangan tetap hidup yang membuat kita semua punya tempat yang ingin kita datangi kembali, entah fisik atau batin.
Reda Gaudiamo menyoroti kehidupan orang-orang biasa, merangkai momen kecil - obrolan di rumah, tempat kerja, antar tetangga, beragam kebiasaan sederhana - menjadi potret humanis yang lembut dan relate dengan keseharian kita. Kisahnya tidaklah megah atau penuh drama, tapi justru itulah kekuatannya.
Dengan gaya penulisan ringan, puitis, dan seringkali meninggalkan ending terbuka, Reda membuat pembaca bukunya merenung dan berimajinasi bagaimana akhir cerita versinya sendiri.
Tokoh cerpennya hadir dengan problem yang bisa dibilang receh namun bermakna, dari keegoisan, kesepian, harapan, ketulusan hingga kebahagiaan yang muncul tanpa suara.
"Kios Pasar Sore - dan Cerita Orang‑Orang Biasa Lainnya" adalah sebuah bacaan yang hangat dan menenangkan. Sebuah ajakan untuk merayakan hidup dengan apa adanya, serta menemukan keindahan dalam keseharian yang sering kita anggap remahan.
"Kios Pasar Sore - dan Cerita Orang‑Orang Biasa Lainnya" adalah sebuah bacaan yang hangat dan menenangkan. Sebuah ajakan untuk merayakan hidup dengan apa adanya, serta menemukan keindahan dalam keseharian yang sering kita anggap remahan.
Tentang Penulis: Reda Gaudiamo
Sebelum mengenal Reda Gaudiamo sebagai penulis buku, saya lebih dulu tahu Reda Gaudiamo saat ia menjabat sebagai Pemimpin Redaksi majalah Cosmopolitan Indonesia di awal 2000-an. Reda memimpin transformasi konten majalah saat itu, agar lebih relevan bagi perempuan modern terutama soal karier, relasi, finansial, kesehatan mental, dan pemberdayaan.
Saya yang masa itu sedang happy"-nya berkarir menjadi salah satu pembaca setia Cosmopolitan Indonesia yang ketika berada di bawah kepemimpinan Reda, dikenal dengan gaya penulisan yang berani dan terbuka tapi tetap elegan, berfokus pada self-empowerment perempuan urban lewat kampanye dan event besar termasuk penghargaan dan kegiatan komunitas perempuan.
Reda bertumbuh dari jurnalis → editor → pemred → eksekutif media → penulis sastra, yang menggabungkan dua dunia: media modern dan sastra puitis. Beberapa karyanya, terutama buku anaknya, sudah diterjemahkan dan dikenal di luar negeri, juga pernah tampil di berbagai festival sastra internasional, yang membuatnya menjadi salah satu penulis Indonesia yang aktif membawa cerita lokal ke ranah global.
Bahkan, salah satu karya Reda untuk anak (Na Willa) menjadi tonggak penting buku anak Indonesia masa kini dan membuatnya dipandang sebagai salah satu suara penting sastra Indonesia modern - dengan ciri khas: hangat, puitis, dan manusiawi.
Tentang Buku "Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya"
Membaca "Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya" terasa seperti mendengarkan seseorang bercerita pelan sambil menikmati teh sore berteman kudapan. Tidak ada tokoh “hebat” di buku ini, hanya sosok yang kita kenal sehari-hari, tapi justru itu yang membuatnya istimewa. Reda mengisahkan hidup orang-orang biasa yang nyatanya bisa penuh warna, perjuangan, dan keindahan yang sering luput dari perhatian kita.
Berisi 31 cerita ringkas, yang bisa sekali duduk saja dibaca - tapi efeknya bisa terkenang lama. Ada humor receh, ada kegetiran, ada kesendirian, ada harapan. Ceritanya tidak dramatis, bukan melankolis - semuanya terasa manusiawi dan wajar. Beberapa cerita mengajak pembacanya merenung bak
sedang melihat cermin dan membatin: “Oh, ternyata hidup saya pun samaaaaa.”
Bahasa yang tenang, alurnya yang pelan, dan suasananya seperti senja yang indah, membuat buku ini bisa jadi teman istirahat dan melepas lelah. Baik remaja, dewasa, ibu rumah tangga, pekerja kantoran, atau pensiunan - semua bisa menemukan dirinya dalam salah satu cerita pada bukunya.
Tema dan Pesan Moral Buku "Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya"
Merupakan kumpulan 31 cerita pendek yang berbeda dan masing-masing punya judul sendiri, buku "Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya" mengangkat tema dan pesan moral di antaranya:
1. “1, 37, …”
Judul cerpennya unik: "1.37,.."
Berkisah tentang seorang perempuan yang tidak suka (benci) hewan peliharaan (kucing), tapi nyatanya beberapa tahun kemudian memelihara dari 1 ekor sampai 37 ekor kucing di rumahnya. Dengan plot twist tak terduga, menyajikan adegan dan dialog yang sederhana, tapi mampu membuat kita merenung bahwa hidup sering kali tidak masuk akal, dan kita tidak harus selalu menemukan jawaban lengkap untuk setiap hal.
2. “Dengan Alamat”
2. “Dengan Alamat”
Menyoroti seseorang yang tidak memiliki alamat yang jelas, dan bagaimana itu memengaruhi hidupnya. Sebuah kisah yang memotret betapa pentingnya “tempat pulang” bagi manusia dengan pesan moral: alamat bukan hanya lokasi, tapi simbol identitas dan rasa memiliki. Identitas manusia tak selalu ada pada alamat fisik, sebab ada orang yang merasa rumah sesungguhnya adalah pengalaman hidupnya, bukan titik di peta.
3. “Ross & Joko”
Mengangkat dinamika dua orang yang berbeda sifat tetapi saling melengkapi. Dimana tokoh perempuan berusaha memaksa suaminya mengucapkan cinta dalam bahasa yang ia sukai; tapi justru perbedaan kecil itu menjadi sumber konflik dan komedi. Mengangkat pesan dalam relasi apa pun, perbedaan bukan halangan, dan hidup akan lebih ringan jika kita bisa menertawakan diri sendiri.
4. “Madame l’Usherette”
Mengisahkan sosok wanita tua yang bekerja sebagai penyambut tamu di tempat pertunjukan yang menemukan makna dari rutinitas yang biasa dan menyadari bahwa momen kecil bisa jadi hal yang paling berharga dalam hidupnya. Membawa pesan bahwa keberadaan kadang bukan tentang pencapaian, tetapi tentang ketulusan dan perhatian terhadap hal-hal kecil yang kita lakukan.
5. “Pulang”
Menceritakan tentang seseorang yang akhirnya kembali setelah lama pergi. “Pulang” tidak selalu mudah. Kadang itu perjalanan paling berat. Waktu mengubah banyak hal, meski kenangan tetap hidup yang membuat kita semua punya tempat yang ingin kita datangi kembali, entah fisik atau batin.
Kesimpulan
Buku "Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya" memperlihatkan kekuatan Reda Gaudiamo sebagai penulis dengan bahasa puitis yang tidak berlebihan, kemampuan mengangkat hal kecil menjadi bermakna dan kedalaman emosi yang tenang dan tidak dramatis.
Buku yang pas buat dirimu yang suka cerita pendek, bacaan ringan namun bermakna dan penuh renungan. Juga, cocok untuk yang sedang merasa lelah sebab buku ini seperti jeda kecil yang tidak menghakimi, tidak berat, hanya menghadirkan kehidupan apa adanya.
Pun, buat kamu yang menyukai refleksi kehidupan, senang merenungkan hal kecil maka buku ini akan terasa dekat. Bertema “orang biasa”, tidak ada tokoh glamor, semua sederhana, pas untuk yang suka membaca tentang kisah kehidupan nyata di sekitar kita dengan sentuhan sastra. Cerita-cerita yang universal dan timeless membuat siapa saja bisa menemukan bagian yang relate dengan kehidupannya.
Meski memang ada hal-hal kecil yang luput dari perhatian, seperti ada linimasa yang terlalu kecepatan. Salah satunya dalam cerpen "Romantis"yang menceritakan tokoh " Om Ruben" yang mendaftar sekolah pertanian (jurusan peternakan) waktu tokoh "Aku" baru kelas 3 SD. Kemudian si Om Ruben diceritakan sudah menjadi kepala dinas peternakan saat "Aku" sudah SMP. Hmm... , kayaknya enggak mungkin ya, kecuali dia Gibran..#eh 💗
Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya
Penulis: Reda Gaudiamo
Penerbit: Shira Media
Tahun Terbit: 2025
ISBN: 978-6238678235
Bahasa: Bahasa Indonesia
Genre: Fiksi
Jumlah Halaman: x + 126 halaman
Harga: Rp 59.000 (Pulau Jawa)
Salam
Dian Restu Agustina




Buku yang menarik ini Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya ala Bu Reda. Kumpulan cerita yang dari diksi bahasanya gak hanya indah tapi sarat makna. Daku baru engeh dengan buku ini, belum baca. Engehnya yang Na Wila
BalasHapus