Tantangan Terberat Saat Puasa bagi Perempuan Usia Jelita
Kemarin anak sulung saya WA, dia lagi di kelas dan merasa lemas. Maklum di Toulouse, Prancis tempat dia tinggal sekarang, sedang musim dingin. Meski sudah lewat bulan terdingin yang jatuh pada bulan Januari, tapi suhu di kisaran 10°C saat ini pada kondisi berpuasa memang bisa bikin mengggigil.
2. Menjaga Mood Tetap Stabil
Di usia jelita, hormon sering kali berjalan di ritmenya sendiri. Pagi bisa saja tenang, siang dunia terasa kurang ramah hanya karena lapar hingga bikin uring-uringan, lalu malam merasa sedih tak karuan.
Puasa di usia perimenopause tiba, memang menantang karena fluktuasi hormon (estrogen/progesteron) yang memicu gejala seperti hot flashes, perubahan suasana hati, dan insomnia. Penurunan gula darah saat puasa memperburuk emosi sensitif, sementara manajemen berat badan lebih sulit akibat metabolisme melambat dan pola tidur terganggu.
Jelang usia paruh baya, otak itu semangatnya masih 17 tahun, ingin beres-beres rumah, bikin itu ini, rapi-rapi, ngeblog, beberes folder HP, pokoknya produktif lah.
Tapi tubuh? Sudah seperti baterai ponsel sekian tahun pakai: masih berfungsi, tetapi cepat turun prosentasenya. Kadang duduk di depan laptop dengan niat mau lanjutin draft, lima menit malah bengong seperti buffering. Kadang jari sudah di keyboard, tapi lama loading. Mau nulis apa tadi ya
Bukan tidak mau produktif saat Ramadan—mau banget! Tapi, energi menguap duluan! Tubuh tanpa basa-basi mengingatkan bahwa energinya tidak lseperti dulu lagi. Puasa menambah satu lapis tantangan baru: ritme makan berubah, waktu istirahat berkurang, dan hormon yang naik-turun ikut memengaruhi stamina.
Namun ada sisi positifnya: momen ini menjadi pengingat untuk lebih mindfull pada diri sendiri. Produktivitas bukan hanya tentang kecepatan, tapi keberlanjutan. Dan bagi perempuan usia jelita, belajar menyeimbangkan antara semangat bekerja dan merawat diri adalah bentuk kedewasaan tersendiri.
Perempuan usia jelita mungkin menghadapi lebih banyak level dalam puasa, tapi juga punya kelapangan hati yang membuat semuanya tetap bisa dijalani.
Semoga Ramadan ini membawa kekuatan, kedamaian, dan ruang bagi kita untuk mencintai diri sendiri sekaligus orang-orang yang kita sayangi.
Saya sarankan dia untuk memperbanyak menu protein, mengingat manfaat protein yang mampu membantu menangkis suhu dingin dengan meningkatkan produksi panas tubuh (efek termogenik) melalui proses pencernaan yang lama. Konsumsi makanan tinggi protein bisa membakar lebih banyak kalori, meningkatkan suhu inti, serta mendukung metabolisme otot untuk menghasilkan panas alami saat kedinginan.
Memang, tantangan berpuasa pada saat musim dingin itu berat, meliputi peningkatan rasa lapar akibat metabolisme yang bekerja ekstra menjaga suhu tubuh, dehidrasi terselubung karena udara kering, durasi siang yang bisa sangat panjang, serta kurangnya suasana Ramadan jika berada di negara minoritas muslim. Tubuh juga lebih cepat lelah karena harus beradaptasi dengan cuaca ekstrem.
Meski enaknya, karena siangnya lebih cepat, durasi puasa di sana jadi lebih pendek, Maghribnya pukul 18.29 dan Fajar 06.48.
Nah, berbeda dengan anak saya yang sedang berpuasa Ramadan tahun kedua, di tengah cuaca winter di belahan dunia sana, saya pun punya tantangan saat menjalankan ibadah puasa kali ini. Meski bukan masalah musim pastinya, karena di Jakarta aman suhunya, walau sesekali musim banjir dimana-mana.🙈
Tantangan Terberat Saat Puasa bagi Saya
Puasa di usia jelang lima puluh tahun (jelita) memiliki tantangan sendiri bagi saya. Bukan soal kemampuan menahan lapar, tetapi tentang bagaimana menjalani Ramadan sambil menyeimbangkan berbagai peran. Tentu tak hanya sebagai istri, tapi juga ibu yang bertanggung jawab pada semua printilan rumah dan dalam kasus saya ibu dari anak sulung yang sedang jauh menuntut ilmu.
Karenanya, tantangan terberat saya saat puasa:
1. Rindu yang Muncul Setiap Sahur
Ini adalah tahun kedua si sulung di negeri orang. Sejatinya saya sudah terbiasa dengan berkurangnya satu anggota keluarga. Tapi, suasana Ramadan membuat kerinduan itu kerap datang. Meja makan yang “kosong satu kursi” membuat suasana berbeda. Kadang saya memasak ditemani senyum dan rasa melow yang datang bergantian. Ya, tidak ada panduan puasa yang menjelaskan bagaimana mengelola rasa rindu pada anak yang sedang jauh menuntut ilmu.
Apalagi si Mas itu beda dengan adiknya kalau soal selera. Kalau si Adik tipe cuek: Ibu masak apa aku makan aja. Kalau Masnya tipe yang suka request menu ini itu. Juga, kadang bebikinan sendiri takjil atau kudapan yang dia mau. Jadi nyiapin menu buka dan sahur berasa lebih seru.
Well, saya sepertinya mengalami empty nest syndrome, perasaan sedih, hampa, kesepian, atau kehilangan yang dialami orang tua saat anak-anak mereka beranjak dewasa dan meninggalkan rumah untuk hidup mandiri (kuliah, bekerja, atau menikah). Meskipun bukan gangguan klinis, kondisi ini umum terjadi dan dapat memicu stres, kecemasan, atau depresi.
Well, saya sepertinya mengalami empty nest syndrome, perasaan sedih, hampa, kesepian, atau kehilangan yang dialami orang tua saat anak-anak mereka beranjak dewasa dan meninggalkan rumah untuk hidup mandiri (kuliah, bekerja, atau menikah). Meskipun bukan gangguan klinis, kondisi ini umum terjadi dan dapat memicu stres, kecemasan, atau depresi.
Hm, semoga saya cuma melow saja dan enggak melebar kemana-mana.
Tentu yang bisa saya lakukan adalah tak putus memanjangkan doa untuk anak saya untuk keselamatan, kemudahan belajar, dan perlindungan iman. Juga, mengulang nasehat untuk selalu menjaga salat, bijak memilih teman, dan selalu bercerita jika mengalami kesulitan.
Tentu yang bisa saya lakukan adalah tak putus memanjangkan doa untuk anak saya untuk keselamatan, kemudahan belajar, dan perlindungan iman. Juga, mengulang nasehat untuk selalu menjaga salat, bijak memilih teman, dan selalu bercerita jika mengalami kesulitan.
Di usia jelita, hormon sering kali berjalan di ritmenya sendiri. Pagi bisa saja tenang, siang dunia terasa kurang ramah hanya karena lapar hingga bikin uring-uringan, lalu malam merasa sedih tak karuan.
Puasa di usia perimenopause tiba, memang menantang karena fluktuasi hormon (estrogen/progesteron) yang memicu gejala seperti hot flashes, perubahan suasana hati, dan insomnia. Penurunan gula darah saat puasa memperburuk emosi sensitif, sementara manajemen berat badan lebih sulit akibat metabolisme melambat dan pola tidur terganggu.
Karenanya, saat sahur saya mengurangi gula dan kafein berlebihan (sejak hari pertama saya puasa teh manis dan kopi), dan meningkatkan konsumsi serat untuk rasa kenyang lebih lama. Minum air yang cukup antara buka dan sahur untuk mengatasi keringat malam. Rutin berolahraga ringan sebelum berbuka. Juga, mengelola emosi dengan istirahat cukup.
Bismillah, dengan menjaga pola makan dan pola hidup sehat, puasa ramadan dapat dilakukan dengan nyaman meskipun dalam fase transisi hormonal.
Bismillah, dengan menjaga pola makan dan pola hidup sehat, puasa ramadan dapat dilakukan dengan nyaman meskipun dalam fase transisi hormonal.
3. Mengelola Ekspektasi Diri
Tapi tubuh? Sudah seperti baterai ponsel sekian tahun pakai: masih berfungsi, tetapi cepat turun prosentasenya. Kadang duduk di depan laptop dengan niat mau lanjutin draft, lima menit malah bengong seperti buffering. Kadang jari sudah di keyboard, tapi lama loading. Mau nulis apa tadi ya
Bukan tidak mau produktif saat Ramadan—mau banget! Tapi, energi menguap duluan! Tubuh tanpa basa-basi mengingatkan bahwa energinya tidak lseperti dulu lagi. Puasa menambah satu lapis tantangan baru: ritme makan berubah, waktu istirahat berkurang, dan hormon yang naik-turun ikut memengaruhi stamina.
Namun ada sisi positifnya: momen ini menjadi pengingat untuk lebih mindfull pada diri sendiri. Produktivitas bukan hanya tentang kecepatan, tapi keberlanjutan. Dan bagi perempuan usia jelita, belajar menyeimbangkan antara semangat bekerja dan merawat diri adalah bentuk kedewasaan tersendiri.
Penutup: Tantangan Terberat Saat Puasa di Usia Jelita
Pada akhirnya, berpuasa di usia jelita adalah perjalanan yang penuh dinamika. Ada rindu, ada lelah, ada hormon yang kadang punya agenda sendiri, dan ada tugas rumah yang tidak pernah cuti.Perempuan usia jelita mungkin menghadapi lebih banyak level dalam puasa, tapi juga punya kelapangan hati yang membuat semuanya tetap bisa dijalani.
Semoga Ramadan ini membawa kekuatan, kedamaian, dan ruang bagi kita untuk mencintai diri sendiri sekaligus orang-orang yang kita sayangi.
Kalau teman-teman, apa tantangan terberatnya saat puasa? Apapun itu tetap semangat, ya....💖
"Challenge Menulis IIDN"
Salam
Dian Restu Agustina

Bener banget mbak Dian, protein memang bagus dikonsumsi, terutama protein hewani seperti daging dan telur (saat puasa). Protein bisa menjadikan kenyang lebih lama, sebab kalo musim dingin tubuh lebih sering lapar karena kehilangan panas/kalor lebih cepat. Dengan konsumsi protein maka tubuh akan lebih hangat. Beda kalo karbo, malah bikin lonjakan gula darah naik dan tiba2 drop, jadi bikin cepat lapar.
BalasHapusBeen there Mbak Dian. Terasa sunyi di beberapa tahun saat anak-anak semua kos. Dan mereka baru bisa pulang H-6 sebelum lebaran. Tapi saya jadi terbiasa karena kembali ke pengalaman dulu saya saya tinggal terpisah dari ortu cukup lama. Begitulah ibu-ibu ya Mbak.
BalasHapusNanti setelah meno kondisi fisik malah lebih stabil Mbak. Saya sudah meno 11-12 tahun sekarang. So far gak adalah masalah berarti sih pas puasa. Tapi memang harus pandai ngatur asupan karena ketahanan tubuh di golden age memang patut lebih dijaga.
Tantangan terberat saya adalah melawan rasa kantuk mbak. Belum masuk waktu isya, mata udah berat. Abis subuh pun susah sekali mengendalikan rasa kantuk.
BalasHapusTantangan terberat menjalani puasa setiap orang bisa jadi beda-beda ya. Semoga kita bisa melewati tantangan masing-masing dengan baik
Wah jadi ingat cucu pertama saya yang mulai puasa
BalasHapusbersama ayahnya (anak saya), mamah dan adiknya mereka sekarang sedang di London Inggris
pastinya kedinginan juga
Yang pasti waktu VC, dia sahur sambil matanya masih merem dan disuapi ayahnya
Kalo saya sih seneng udara dingin, bisa blogging sambil bergelung dalam selimut
ketika ngantuk ya tidur :D
Kalo aku tantangannya bangunin anak2 usia remaja yang sekolah ditiadakan fullday, jadi pulang sekolah tidur sampe sore, dan begadang sampe dini hari, bangun sahurnya susaah huhuu
BalasHapusMau marah2 masa 30 hari wkkww
Aku yang ditinggal anak ngekos aja merasakan kangen keseruan menyiapkan buka bersama, apalagi yang tinggalnya sampai beda negara. Turut mendoakan semoga ananda di sana selalu sehat dan dalam lindungan-Nya.
BalasHapusAku juga mendekati usia jelita nih, soal baterai tubuh rupanya kita sama mbak wkwkwkkw
Ternyata lapisan puasa itu banyak ya mbak. Lapisan rindu, perubahan hormon, sampai ekspektasi diri yang sering gak realistis. Kosong satu kursi aja di rumah kerasa banget kangennya.
BalasHapusAku setuju bahwa perimenopause itu harus empowering kita dan itu fase yang sudah pasti dilewati semua peran. So... kita gak boleh ngeluhin itu juga. Yang penting berdamai sama ritme tubuh sendiri. Thx u sharingnya Mbak Dian.
Whuah, apakah picky Eater itu tipikal anak sulung lelaki? Soalnya si sulung saya juga begitu, beda sama adiknya yang doyan apa saja.
BalasHapusPasti di sana diapun sedang merindukan menu rumahan yang bisa disantap berenang keluarga.
Semangat mbak Dian. Semoga semakin mendekati usia jelita baik fisik maupun batin makin tenang, bahagia dan sehat.
Malah yang jauh yang doyan request ya. Jadi makin kerasa perbedaannya. Kayak biasanya ada yang request makanan ini dan itu, malah nggak ada. Terus, biasanya ada yang ngerecokin pas nyiapin sahur dan buka, malah lancar saja tanpa hambatan.
BalasHapus