Tips Bugar Saat Puasa di Usia Jelita
Bestieee,..kapan hari saya kegeeran sendiri. Saat salat Tarawih di masjid, saya disapa ibu X yang duduk bersebelahan. Beliau nanya kenapa saya sendirian, kok enggak sama anak. Saya jawab anak saya di saf laki-laki. Lalu nanya lagi sudah kelas berapa, saya jawab sudah kelas XI SMA. Beliau heran, apalagi saat saya bilang "Itu yang bungsu, anak sulung saya sudah kuliah, Bu!". Ibu X pun langsung berkomentar panjang, "Masa sih, ibunya masih muda begini, oh nikah muda ya, pantesan anaknya sudah gede aja"
Saya malas membantahnya, senyumin saja, biar enggak berisik di masjid, kan ya...Tapi, dalam hati, saya merasa happy. Saya nikah usia 26, punya si Mas saat usia 28 dan si Adik di usia 33. Tahun 2002 nikah usia segitu pas saja, bukan nikah mudaaaaa. Tapi kalau dibilang terlihat muda, ya Alhamdulillah kan. Padahal, Insya Allah tahun ini, separuh baya alias lima puluh tahun usia saya.
Hm,,sebuah pujian yang menambah semangat saya untuk menjalani ibadah puasa!😊
Tips Tetap Bugar Saat Puasa untuk Perempuan Usia Jelita
Tapiiiii, bukan berarti perempuan jelita tidak bisa tetap bugar termasuk saat puasa. Hanya saja, tubuh jelita memang memiliki ritme yang berbeda. Bukan berarti melemah - justru tubuh semakin bijak memilih apa yang dibutuhkannya. Kita memahami batas, mengutamakan kenyamanan, dan menentukan prioritas dengan lebih matang. Ramadan pun menjadi momentum tepat untuk kembali selaras dengan tubuh, melalui proses healing, detoksifikasi, dan penyucian hati.
Ya, menjalani puasa di usia jelang lima puluh tahun menghadirkan tantangan tersendiri. Tubuh tetap kuat, tetapi ritme energinya tentu tidak sama seperti saat usia dua puluhan. Nah, agar Ramadan tetap berjalan dengan nyaman, sehat, dan produktif, berikut beberapa tips bugar yang saya terapkan sebagai perempuan jelita yang mulai lebih memahami ritme tubuhnya.
Apa saja?
1. Minum Pelan-pelan, Bukan 1 Liter Sekalian
1. Minum Pelan-pelan, Bukan 1 Liter Sekalian
Targetnya: tubuh tetap terhidrasi tanpa harus menghabiskan air sekendi. Polanya: minum bertahap dari buka sampai sahur. Kecukupan cairan sangat penting. Namun, konsumsi air dalam jumlah besar sekaligus dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Jadi, gunakan pola hidrasi bertahap—dua gelas saat berbuka, dua gelas setelah tarawih, dan dua gelas saat sahur. Ritme ini membantu tubuh tetap terhidrasi tanpa memberi tekanan berlebih pada pencernaan.
2. Menu Seimbang, Bukan Balas Dendam
Kini, sahur bukan lagi sekadar “makan biar kuat”, tetapi kesempatan untuk memberi tubuh asupan yang tepat. Saya pilih menu yang berkuah, mengandung protein cukup, dan serat. Hindari makanan terlalu berminyak yang dapat mengganggu pencernaan. Tubuh di usia jelita lebih membutuhkan makanan yang lembut di lambung dan stabil dalam menjaga energi.
3. Gerak Ringan, Bukan Berlebihan
Perempuan jelita tidak lagi terjebak standar olahraga yang viral di sosial media. Alih-alih, pilih aktivitas yang memulihkan sekaligus memperkuat tubuh, seperti: jalan kaki ringan, stretching pelan, yoga yang menenangkan pikiran, dan tipis-tipis latihan beban.
Jelita sudah lewat masa-masa ingin punya body goals. Sekarang targetnya cukup: tidak nyeri punggung ketika bangun tidur. Kuncinya: gerak elegan!.
4. Berikan Tubuh Istirahat Singkat
Tidur siang singkat bukanlah tanda kemalasan, melainkan strategi menjaga tubuh tetap bugar dan fungsional selama seharian. Sebentar saja, Tidur singkat selama 20–30 menit setelah Dzuhur efektif memulihkan energi karena memberi kesempatan otak dan tubuh untuk beristirahat tanpa masuk ke fase tidur nyenyak.
Ini akan meningkatkan kewaspadaan, fokus, dan suasana hati tanpa rasa pening saat bangun. Sebuah kebutuhan biologis untuk mengatasi penurunan energi tengah hari, meningkatkan produktivitas, serta mengurangi stres.
5. Kurangi Drama, Hemat Tenaga
5. Kurangi Drama, Hemat Tenaga
Stres dapat menguras energi lebih cepat daripada aktivitas fisik. Oleh karena itu, penting untuk menjaga ketenangan pikiran, menghindari perdebatan tidak perlu, serta membatasi paparan hal-hal yang memicu emosi negatif. Fokus pada hal yang memberi ketenteraman dan kebahagiaan sederhana.
Drama kecil itu menyedot energi besar. Komentar pedas, debat receh, gosip yang bikin kening berkerut, semua itu bisa bikin puasa terasa panjang. Jadi, pilih yang menenangkan: mute grup WhatsApp jika perlu, skip komentar negatif, fokus pada kebahagiaan kecil. Ingat, energi kita sudah tidak unlimited seperti paket internet. Energi cuma satu, jangan buang waktu buat drama yang tidak perlu.
6. Dengarkan Tubuh dengan Sungguh-Sungguh
7. Self-Care Itu Wajib
Ramadan adalah waktu yang baik untuk melakukan reset pada tubuh dan pikiran. Jaga pola makan, pastikan skincare tetap berjalan, dan beri ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat mental. Enggak harus treatment mahal, perawatan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat meningkatkan kenyamanan dan kepercayaan diri selama berpuasa.
Penutup: Bugar Saat Puasa Ala Si Jelita
Ramadan itu maraton, bukan lari 5K, 10K atau lari cepat. Kita yang usia jelita butuh strategi ala ninja: pelan, stabil, tapi tetap elegan. Yang penting bukan lagi soal tampil paling kuat, tapi paling peduli dengan tubuh sendiri.Puasa di usia jelita bukan tentang bertahan, melainkan tentang menghargai ritme. Dengan pilihan yang bijak dan langkah yang seimbang, Ramadan dapat dijalani dengan penuh vitalitas, ketenangan, dan kelembutan.
Semoga Ramadan ini menjadi perjalanan yang menyehatkan tubuh, menenangkan hati, dan memperkuat jiwa—seindah perempuan yang menjalaninya.
Kalau teman-teman, apa tips bugarnya saat puasa?
"Challenge Menulis IIDN"
Salam Sehat
Dian Restu Agustina
.png)
Posting Komentar untuk "Tips Bugar Saat Puasa di Usia Jelita "