Target Ramadan Tahun Ini: Menjadi Diri yang Lebih Baik Lagi
Temaaan, Ramadan tahun ini datang ketika saya sudah berada di fase hidup yang berbeda. Jelang usia lima puluh tahun (Insya Allah Agustus nanti), rumah terasa lebih sepi sejak si sulung kuliah di luar negeri. Rasanya masih sering refleks memanggil namanya saat menyiapkan sahur, lalu tersenyum sendiri karena sadar ia sedang berada ribuan kilometer dari dapur rumah ini.
Sementara itu, si bungsu yang kini kelas XI SMA makin sibuk dengan dunia remajanya - tugas sekolah, les, ekskul, juga persiapan kuliah. Saya senang melihat mereka tumbuh, tapi juga mulai merasakan ruang-ruang hening yang dulu tak pernah ada.Mungkin itu sebabnya Ramadan tahun ini terasa lebih kontemplatif. Dan untuk pertama kalinya, saya menuliskan target Ramadan yang bukan hanya untuk mengejar produktivitas serta rutinitas ibadah, tetapi untuk memeluk diri sendiri di fase hidup yang terus berubah saat ini.
Ramadan di Usia Jelita: Menjalani Bulan Suci dengan Lebih Tertata
Well, Ramadan selalu punya cara untuk datang tepat pada waktunya. Tak pernah terlalu cepat, tidak juga terlambat. Ia selalu hadir ketika saya mulai merasa hidup butuh jeda.1. Menata Ritme Harian
Di usia jelita ini, saya mulai menyadari bahwa menjaga ritme hidup sama pentingnya dengan menyelesaikan pekerjaan. Saya ingin memulai Ramadan dengan bangun sedikit lebih pagi, bukan hanya untuk sahur, tapi untuk menikmati keheningan yang dulu tidak pernah bisa saya dapatkan saat anak-anak masih kecil. Setelahnya, sebelum memulai hari saya akan merencanakan apa yang akan saya lakukan hari ini, tanpa ambisi berlebihan.
2. Menjaga Kesehatan sebagai Hadiah untuk Masa Depan
Target saya sederhana: tubuh yang sehat untuk menjalani lima puluh tahun ke depan dengan ringan. Saya ingin berbuka puasa dengan lebih sehat - lebih banyak serat dan air putih, kurangi karbo, dan banyakin protein. Gorengan boleh sesekali, tidak setiap hari. Saya juga berjanji melanjutkan rutinitas jalan pagi meski mengubahnya jadi berjalan santai atau streching setiap sore. Sebab Ramadan bukan hanya soal menahan lapar, tapi juga memberi ruang agar tubuh bisa bernapas.
Saya sudah merasakan bagaimana rasanya melepas anak pertama ke ujung dunia. Dan sekarang, waktu bersama si bungsu terasa semakin berharga. Ramadan tahun ini, saya ingin menciptakan momen manis berdua dengannya - menunggu waktu berbuka sambil mengobrol ringan atau sekadar bersama nyiapin menu buka puasa. Tak lama lagi, ia pun akan ke luar rumah untuk kuliah. Jadi target saya adalah menikmati masa-masa ini tanpa tergesa-gesa.
5. Mengisi Rumah dengan Aktivitas Bermakna
Sebagai blogger, Ramadan selalu memberi saya inspirasi tak berujung. Nah, tahun ini saya ingin lebih reflektif saat menulis. Bukan hanya review hotel, rumah makan atau buku, atau menceritakan kegiatan di organisasi orang tua murid tempat saya jadi ketua. Tetapi tulisan hati - tentang perjalanan menjadi perempuan, soal fase hidup yang terus berubah, perihal menerima dan melepaskan.
Ramadan juga membuat saya selalu ingin menata ulang rumah. Tidak hanya untuk persiapan Idulfitri, tapi untuk membuat rumah lebih nyaman bagi diri sendiri. Saya ingin decluttering, menyortir barang-barang yang tidak terpakai, membersihkan sudut-sudutnya, dan membuat rumah terasa “bernapas”. Yang saya sadari, setiap kali rumah rapi, pikiran saya ikut terasa lega, menciptakan rasa nyaman, sehingga meningkatkan produktivitas serta kesehatan mental secara signifikan
6. Mengatur Keuangan dengan Lebih Bijak
Ramadan ini saya ingin lebih bijak mengatur keuangan. Bukan hanya karena kebutuhan meningkat, tapi karena ingin hidup lebih terarah. Seperti: menyisihkan sedekah dari awal, bukan menunggu ada sisa.
Membuat anggaran harian biar pengeluaran tidak melonjak hanya karena jajanan berbuka terlihat menggoda. Belanja secukupnya, bukan sebanyak-banyaknya, ingat: penghuni rumah dari empat kini jadi tiga. Membedakan kebutuhan vs keinginan, terutama ketika mata lebih lapar daripada perut. Mengurangi godaan check out, apalagi kalau cuma karena “tinggal 3 menit lagi, harga kembali normal saat berakhir live ini".
Dulu saya sering menunda untuk menghubungi saudara atau teman lama. Sekarang saya menyadari bahwa waktu berjalan cepat, dan saya juga orang-orang yang saya sayangi tidak selalu ada selamanya. Ramadan ini saya ingin kembali menyapa mereka, sekadar menanyakan kabar, atau mengirimkan pesan hangat.
Penutup: Target Ramadan Versi Usia Jelita
Target Ramadan tahun ini bukan tentang menjadi “sempurna”. Justru sebaliknya, saya ingin menjadi lebih lembut pada diri sendiri—belajar berjalan perlahan, menjalani hari dengan lebih sadar, dan menikmati setiap prosesnya.
Kalau tahun lalu saya banyak menuntut diri, tahun ini saya ingin lebih menerima. Ramadan versi tenang, damai, dan manusiawi. Karena pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tapi tentang merawat diri, hati, dan hubungan dengan orang-orang yang saya cintai.
Ramadan memang akan pergi, tapi harapannya boleh tinggal. Di usia jelita seperti saya, harapan-harapan itu bukan lagi tentang menjadi “sempurna”, tapi tentang menjadi lebih tenang, ikhlas, dan lebih bahagia menjalani hari.Semoga kita dipertemukan lagi dengan Ramadan berikutnya—dengan umur yang panjang, kesehatan, dan hati yang lebih kuat dari tahun ini. Semoga Ramadan ini membawa banyak keberkahan— meski perlahan, tapi pasti.
Oh ya, bagaimana dengan target Ramadan teman-teman?💖
"Challenge Menulis IIDN"
Salam Semangat
Dian Restu Agustina

Posting Komentar untuk "Target Ramadan Tahun Ini: Menjadi Diri yang Lebih Baik Lagi"