Harapan di Akhir Ramadan
Alhamdulillah, hari ini, hari terakhir saya mengikuti Challenge Menulis IIDN: 10 Hari Konsisten Ngeblog (21 Februari 2026 - 2 Maret 2026). Sebuah tantangan yang dihelat oleh komunitas IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis) di bulan Ramadan, yang didasari niatan bahwa bulan suci ini adalah momen terbaik untuk memulai kebiasaan baik. IIDN mengajak para anggotanya untuk bersama, saling menguatkan, dan saling menginspirasi. Tidak harus sempurna, yang penting adalah konsistensi.
Lewat Challenge “10 Hari Konsisten Ngeblog”, diharapkan kami akan saling menyemangati untuk terus berkarya, berbagi, dan menebar manfaat selama 10 hari berturut-turut di bulan mulia ini.
Lewat Challenge “10 Hari Konsisten Ngeblog”, diharapkan kami akan saling menyemangati untuk terus berkarya, berbagi, dan menebar manfaat selama 10 hari berturut-turut di bulan mulia ini.
Dan, tema hari terakhir adalah "Harapan di Akhir Ramadan"
Jadi, meski Ramadan baru berjalan selama 12 hari, saya akan menuliskan apa saja harapan saya. Semoga ini bisa menjadi pengingat bagi diri saya sendiri untuk terus semangat meneruskan kebaikan-kebaikan yang sudah saya mulai sejak Ramadan.
Harapan Sebelum Berakhir Ramadan
Ya, Ramadan selalu berakhir dengan rasa yang sulit dijelaskan. Ada lega karena berhasil melewati hari-hari panjang. Ada syukur yang memenuhi dada. Juga ada rindu yang pelan-pelan muncul, ingin Ramadan tinggal sedikit lebih lama.
Akhir Ramadan selalu membuat saya menundukkan kepala sedikit lebih lama. Ada banyak hal yang ingin saya syukuri, tapi juga banyak yang ingin saya perbaiki. Di momen-momen hening menjelang berbuka, setelah salam rakaat terakhir, jelang memejamkan mata,...saya sering berbicara pada diri sendiri, pelan, jujur, merefleksi diri.
Pun, melantunkan doa untuk kesehatan kedua orang tua saya, keberkahan bagi rezeki suami, kesuksesan bagi kedua anak saya, kekuatan iman dan Islam bagi kami sekeluarga...
Dan, banyak hal lainya.
Ramadan mengingatkan saya bahwa saya masih jauh dari sempurna. Masih ada hari-hari ketika saya lelah sebelum berusaha. Ketika saya menunda padahal bisa segera. Ketika saya membiarkan emosi menang tanpa perlawanan.
Ramadan mengingatkan saya bahwa saya masih jauh dari sempurna. Masih ada hari-hari ketika saya lelah sebelum berusaha. Ketika saya menunda padahal bisa segera. Ketika saya membiarkan emosi menang tanpa perlawanan.
Tapi, Ramadan juga mengajarkan bahwa setiap orang berhak mencoba lagi. Bahwa kebaikan tidak harus besar, yang penting terus dijalankan.
Di ujung bulan suci ini, saya membawa beberapa muhasabah untuk diri saya sendiri:
Saya ingin lebih sabar, bukan hanya ketika berpuasa, tapi juga dalam menghadapi hari-hari yang panjang setelahnya. Saya mau lebih memilih kata, terutama pada kesayangan, yang sering tidak sengaja terkena ledakan kemarahan. Saya ingin lebih tulus beribadah: tidak hanya karena ingin sesuatu, tapi karena saya butuh itu. Saya ingin menjaga hati agar tidak iri, enggak mudah kecewa, dan tak terlalu keras pada diri sendiri. Saya ingin menjadi ibu, istri, dan perempuan yang bersyukur dengan semua anugerah-Nya. .
“Ya Allah, lembutkan hati saya setelah Ramadan ini. Jangan biarkan saya kembali pada kebiasaan lama yang tidak membawa kebaikan. Jaga keluarga saya, jauhkan mereka dari marabahaya, luaskan rezeki kami, dan kuatkan iman kami. Bimbing langkah-langkah saya agar selalu dekat dengan jalan yang Engkau ridai. Izinkan saya bertemu Ramadan berikutnya dengan hati yang lebih bersih, usia yang panjang, dan kesehatan yang cukup untuk beribadah.”
Doa yang berujung pada harapan yang menenangkan: bahwa meski Ramadan berpamitan, semoga cahayanya menetap di hati hingga nanti.
Di ujung bulan suci ini, saya membawa beberapa muhasabah untuk diri saya sendiri:
Saya ingin lebih sabar, bukan hanya ketika berpuasa, tapi juga dalam menghadapi hari-hari yang panjang setelahnya. Saya mau lebih memilih kata, terutama pada kesayangan, yang sering tidak sengaja terkena ledakan kemarahan. Saya ingin lebih tulus beribadah: tidak hanya karena ingin sesuatu, tapi karena saya butuh itu. Saya ingin menjaga hati agar tidak iri, enggak mudah kecewa, dan tak terlalu keras pada diri sendiri. Saya ingin menjadi ibu, istri, dan perempuan yang bersyukur dengan semua anugerah-Nya. .
“Ya Allah, lembutkan hati saya setelah Ramadan ini. Jangan biarkan saya kembali pada kebiasaan lama yang tidak membawa kebaikan. Jaga keluarga saya, jauhkan mereka dari marabahaya, luaskan rezeki kami, dan kuatkan iman kami. Bimbing langkah-langkah saya agar selalu dekat dengan jalan yang Engkau ridai. Izinkan saya bertemu Ramadan berikutnya dengan hati yang lebih bersih, usia yang panjang, dan kesehatan yang cukup untuk beribadah.”
Doa yang berujung pada harapan yang menenangkan: bahwa meski Ramadan berpamitan, semoga cahayanya menetap di hati hingga nanti.
Penutup
Ramadan mungkin akan pergi, tapi harapannya boleh tinggal. Semoga kita bertemu lagi dengan Ramadan berikutnya, dengan umur yang panjang, kesehatan, dan hati yang lebih siap.Saya percaya, siapa pun yang pulang dari Ramadan dengan niat untuk memperbaiki diri, betapa pun kecil, sedang berjalan menuju kebaikan yang besar. Semoga saya salah satunya. Semoga kita semua.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Salam
Dian Restu Agustina

Posting Komentar untuk "Harapan di Akhir Ramadan"