Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kebiasaan Baik yang Ingin Saya Bangun Saat Ramadan

Ramadan hari ke-11, saya berhasil tidak minum kopi dan teh sama sekali. Sebenarnya saya bukannya mau berhenti total ya. Pasalnya, saya mulai berlebihan mengonsumsi dua minuman ini. Kadang pagi di rumah sudah ngopi, eh meet up sama bestie ngopi lagi. Sore sambil masak makan malam dan nunggu suami dan anak pulang, biar enggak gabut, nyeduh secangkir lagi..

Meski minum kopi pada perempuan usia jelang 50 tahun (jelita) seperti saya umumnya sih aman, asal dalam jumlah sedang (1-2 cangkir/hari). Sebab bisa memberikan manfaat antioksidan dan peningkatan mood. Namun, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko osteoporosis (penurunan penyerapan kalsium), memperburuk gejala menopause seperti hot flashes, meningkatkan kecemasan, insomnia, dan asam lambung. 

Masalahnya, saya ngopi atau ngeteh mostly masih pakai gula, jadi kekhawatiran saya mengarah ke sana. Kedua orang tua saya pengidap diabetes, juga anggota keluarga besar dari Bapak dan Ibu. Meski genetik berperan, diabetes seringkali memerlukan pemicu gaya hidup tidak sehat (obesitas, kurang olahraga) untuk berkembang, jadi lebih baik mencegah, bukan? 

Nah, karenanya saya bertekad, saat Ramadan saya ingin coba stop kopi dan teh, lalu nantinya saya akan minum secukupnya saja. 

Hmm, sebuah kebiasaan baik yang ingin saya bangun saat Ramadan. Semoga, sesuai harapan.



Kebiasaan Baik: Konsistensi adalah Kunci

Well, Ramadan selalu datang membawa kesempatan baru. Ia adalah momentum "tombol reset" spiritual dan fisik yang tepat. Apalagi di usia matang seperti saya, kebiasaan baik tak hanya soal ibadah saja. Tapi juga tentang menjaga mental, fisik, dan gaya hidup agar tetap selaras semua.

Nah, Ramadan ini, ada beberapa kebiasaan kecil yang ingin saya bangun, pelan-pelan tetapi konsisten, di antaranya:

1. Mengurangi Overthinking

Sebagai ibu dari anak sulung yang sedang kuliah jauh di negeri seberang, anak bungsu masih SMA - usia remaja yang mulai susah diajak cerita, sementara suami makin berat tanggung jawab pekerjaannya, kadang overthinking tuh mendera saya. Terlebih melihat situasi dan kondisi negara dan dunia yang tambah hari makin bikin worry  .. 

Saat Ramadan ini, saya ingin membiasakan diri lebih bijak mengelola pikiran yang sering berlari ke mana-mana, tentang hal-hal yang sebenarnya belum tentu terjadi. Saya ingin belajar berhenti mencemaskannya, menarik napas, dan kembali pada yang penting saja. Sedikit lebih tenang, sedikit lebih ringan. Berusaha sebab OVT bukan sesuatu yang “harus dimusuhi”, tetapi bisa dikelola. Dengan latihan, pikiran bisa diarahkan agar lebih sehat, ringan, dan terkendalikan.

2. Menurunkan Konsumsi Gula 

Seperti yang saya ceritakan di awal, tahun ini saya ingin lebih disiplin menurunkan konsumsi gula pelan-pelan, tidak ekstrem tetapi konsisten. Saya mulai dengan meningkatkan asupan protein dan serat agar tubuh lebih stabil, tidak mudah lapar, dan tidak cepat tergoda pada camilan manis.

Saat keinginan ngemil muncul, saya membiasakan diri meraih buah terlebih dahulu. Rasanya tetap memuaskan, jauh lebih ringan, dan tentu lebih sehat untuk tubuh di usia jelita seperti saya.

Saya juga ingin lebih sadar dalam mengatur pola makan: makan secukupnya, minum air putih lebih banyak, dan belajar menahan diri dari godaan membuka toples kue lebaran yang sudah saya pesan “sekali lagi” yang biasanya berakhir dengan kok sudah habis setengah toples ya...hiks. 

Ramadan ini saya ingin lebih tenang, lebih terukur, dan lebih sayang pada tubuh sendiri lewat pilihan kecil yang lebih bijak.

3. Lebih Peduli pada Diri

Saya ingin berhenti terlalu keras menilai diri saat rumah tak sempurna, mood naik turun, atau energi cepat habis. Ramadan juga tentang memaafkan diri. Saya ingin memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, merawat tubuh, dan menjaga emosi tetap stabil. 

Self-care bagi saya bukan memanjakan diri berlebihan, tetapi memberi jeda yang wajar, agar hati lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan energi tetap terjaga sepanjang Ramadan. Di antaranya, masak untuk berbuka nyicil saja biar enggak grubak grubuk, satu lauk matang lalu jeda dulu, baca buku, gerak badan ringan, atau ngapain gitu.. 

4. Mengurangi Scrolling Tidak Penting

Ramadan bagi saya adalah undangan untuk kembali pada keheningan, ruang tenang yang sering hilang karena terlalu banyak layar, notifikasi, dan informasi yang tidak selalu perlu. Tahun ini, saya ingin lebih tegas membatasi scrolling yang tidak penting.

Tidak semua hal perlu diketahui, dan tidak semua informasi perlu direspons.

Dengan mengurangi paparan pada distraksi, saya berharap pikiran lebih lapang, hati lebih tenang, dan waktu yang tersisa bisa saya gunakan untuk hal yang lebih bermakna, entah itu membaca, berdoa, berbincang dengan keluarga, atau sekadar menikmati sudut rumah sendiri.

Bagi saya, mengurangi scrolling bukan sekadar mengurangi waktu di layar, tapi mengembalikan fokus pada hidup yang nyata di depan mata.

5. Konsisten Ngeblog Lagi

Sebagai blogger, saya ingin kembali menjaga ritme. Satu paragraf pun cukup, asal jari tetap ingat caranya merawat ide. Menulis itu seperti otot: jika jarang dipakai, ia mudah kaku. Karena itu, Ramadan ini saya ingin kembali membangun kebiasaan sederhana, rutin ngeblog lagi. Tidak harus menghasilkan tulisan panjang atau sempurna; cukup menuangkan satu ide, atau bahkan satu refleksi singkat tentang hari yang saya jalani. 

(Seperti saat ini saya sedang mengikuti "Challenge Menulis IIDN"  selama 10 hari)

Kebiasaan kecil ini membantu saya tetap terhubung dengan diri sendiri, menjaga alur berpikir tetap hidup, dan mengingatkan bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan waktu panjang, hanya butuh konsistensi dan keberanian untuk memulai.

Penutup: Ramadan Sebagai Ruang Tumbuh


Pada akhirnya, semua kebiasaan baik yang saya coba bangun di Ramadan ini bukanlah tentang menjadi sempurna, melainkan tentang menjadi lebih peduli pada tubuh sendiri, pola pikir, waktu, dan pada apa yang benar-benar penting. Ramadan selalu memberi kesempatan untuk menekan tombol jeda, lalu perlahan menata ulang hidup yang sering terasa terlalu cepat berjalan.

Setiap kebiasaan kecil yang saya pilih yang mungkin terlihat sederhana. Namun di usia jelita, saya belajar bahwa perubahan besar sering lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan hati yang tenang dan niat yang konsisten.

Keputusan saya untuk berhenti minum kopi dan teh sementara waktu juga menjadi pengingat bahwa tubuh perlu diberi ruang untuk beristirahat. Dan bahwa kebiasaan yang selama ini terasa “biasa saja” kadang justru membutuhkan evaluasi. Ramadan memberi saya momentum untuk melakukannya tanpa merasa terpaksa.

Saya berharap kebiasaan-kebiasaan ini tidak berhenti setelah bulan suci ini berlalu. Semoga bisa terus menempel dalam keseharian saya, membentuk versi diri yang lebih sehat, lebih seimbang, dan lebih damai. Sebab pada akhirnya, Ramadan bukan sekadar soal menahan lapar dan dahaga, tapi tentang merawat diri agar lebih siap menjalani segala tantangan hidup setelahnya.

Kalau teman-teman, kebiasaan baik apa yang ingin dibangun saat Ramadan?💖




Salam


Dian Restu Agustina













Kalau kamu, kebiasaan baik apa yang ingin kamu bangun Ramadan ini?
Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

Posting Komentar untuk "Kebiasaan Baik yang Ingin Saya Bangun Saat Ramadan"