Mengunjungi Patung Macan Putih yang Viral di Kediri
Fenomena Macan Putih Kediri yang ramai pada akhir tahun lalu, sukses bikin penasaran saya sebagai "mantan warlok" yang sudah merantau selama 32 tahun meninggalkan Kota Tahu ini.
2. Mata dan tatapan: posisi mata agak melebar, tatapan tidak fokus ke satu arah dan terkesan kosong, tidak memberi kesan mengintimidasi
3. Hidung dan mulut: hidungnya kecil dan sederhana, mulutnya tidak terbuka lebar dan tidak menunjukkan taringnya, tidak ada kesan mengaum
4. Tubuh dan proporsi: badan agak kaku, tidak terlihat seperti sedang bergerak, proporsi antara kepala dan badan terasa kurang seimbang, kaki terlihat pendek dan tidak terlalu berotot
Bentuk unik, candaan dan hujatan yang ditujukan, alih-alih negatif, justru bikin banyak orang penasaran dan datang langsung untuk membuktikan. Dan seperti biasa, dunia maya memang punya cara sendiri untuk mengangkat sesuatu yang sederhana jadi luar biasa.
Memang yaaa, kadang yang kita anggap “aneh” di awal, justru menyimpan makna yang tidak sederhana.
Seperti patung di pertigaan desa yang mungkin tidak dibuat dengan standar estetika, tidak juga dirancang untuk jadi viral. Tapi ia lahir dari sesuatu yang lebih dalam, kepercayaan, ingatan kolektif, dan cara sederhana masyarakat menjaga warisan yang mereka yakini.
Lalu datanglah dunia digital, dengan segala riuh dan komentarnya. Ada yang tertawa, ada yang heran, ada yang sekadar lewat. Tapi di balik itu, perlahan orang mulai berhenti sejenak, lalu bertanya, “Sebenarnya ini tentang apa?” Dan di situlah cerita ini menemukan maknanya.
Bahwa tidak semua hal harus terlihat sempurna untuk bisa berarti. Bahwa sesuatu yang dibuat dengan niat baik, akan menemukan jalannya sendiri untuk sampai ke banyak hati. Seperti Patung Macan Putih Kediri, yang mungkin tidak gagah, tidak realistis, tapi justru berhasil membuat banyak orang datang, melihat, dan akhirnya memahami.
Hmm memang seperti itu kadang cara sebuah cerita bekerja, pelan, sederhana, tapi tinggal lama.
Pada akhirnya, perjalanan kecil ini terasa lebih dari sekadar “mengecek” sesuatu yang viral.
Patung Macan Putih di Balongjeruk mengingatkan saya bahwa tidak semua hal harus sempurna untuk bisa berarti. Justru dari bentuknya yang sederhana, dari detail yang apa adanya, lahir cerita, tentang kreativitas warga, tentang kepercayaan lokal, dan tentang bagaimana sesuatu yang dianggap biasa bisa berubah jadi luar biasa.
Di tengah dunia yang serba rapi dan estetik di media sosial, “macan gemoy” ini hadir dengan caranya sendiri: jujur, unik, dan membumi. Ia mungkin tidak gagah seperti bayangan kita tentang seekor macan, tapi justru di situlah letak pesonanya: dekat, hangat, dan terasa nyata.
Ya, kadang, yang kita cari dalam perjalanan bukan hanya tempatnya, tapi cerita di baliknya… dan perasaan yang diam-diam ikut pulang bersama kita.
FYI, buat yang ketinggalan info, macan putih ini bukan hewan asli, tapi sebuah patung unik yang mendadak ramai dibicarakan di media sosial. Viral karena bentuknya dianggap tidak seperti macan pada umumnya, dan banyak warganet menyebutnya lucu, aneh, enggak jelas itu macan atau zebra,...
Menariknya, patung ini dibuat oleh seniman lokal dengan biaya yang relatif kecil, hanya Rp 3,5 juta saja dan dikerjakan dalam waktu singkat. Karena itulah, hasilnya tidak “sempurna” secara visual, yang justru jadi alasan kenapa viral.
Memang, kalau dilihat sekilas di foto, bentuk “macan putih Kediri” yang berada di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri ini memang langsung mencuri perhatian. Bukan karena garang, tapi justru karena tampilannya yang polos dan unik. Patung yang awalnya jadi bahan candaan bahkan hujatan, malah berubah jadi peluang karena ramai dikunjungi wisatawan sehingga membuka peluang UMKM lokal.
Karenanya, saya dan keluarga pun tertarik untuk menyambangi lokasi wisata baru ini untuk membuktikan sendiri bentuk macan putih Kediri yang di TikTok dan Instagram, dijuluki: “macan gemoy”, “macan versi kartun” dan dibandingkan dengan hewan lain karena proporsi uniknya.
Hm...memang seperti apa sih bentuk patung macan putih Kediri ini?
Tentang Patung Macan Putih Kediri
Berada di pertigaan Desa Balongjeruk, sekitar 25 km dari Monumen Simpang Lima Gumul (SLG), saya, suami dan si Adik mengunjungi patung saat dalam perjalanan ke Jombang, mau Lebaran ke rumah kakak ipar.
Hm..., jauh juga ternyata dari rumah ortu saya di Kota Kediri, sepertinya lebih dekat kalau ditempuh dari Kabupaten Jombang ini.
Jalanan menuju lokasi, tidak terlalu lebar khas jalanan perkampungan tapi halus mulus semua sudah beraspal. Sampai di tekape ada keramaian mencolok, penjual makanan ramai di kiri kanan yang merupakan imbas dari viralnya patung ini.
Saya parkir di dekat situ, ada musholla yang punya halaman buat naruh kendaraan. Sementara parkiran motor ada dibuka oleh warga di sekitar lokasi. Karena masih pagi, jadi warung dadakan yang ada belum semua buka. Tapi, pengunjung sudah banyak, datang silih berganti.
Nah, untuk patungnya sendiri memang terbukti:
1. Wajahnya jauh dari kesan buas: alih-alih terlihat sangar seperti macan pada umumnya, wajahnya justru bulat dan cenderung “flat”, ekspresinya datar, hampir seperti tersenyum tipis, mata terlihat besar tapi tidak tajam
2. Mata dan tatapan: posisi mata agak melebar, tatapan tidak fokus ke satu arah dan terkesan kosong, tidak memberi kesan mengintimidasi
3. Hidung dan mulut: hidungnya kecil dan sederhana, mulutnya tidak terbuka lebar dan tidak menunjukkan taringnya, tidak ada kesan mengaum
4. Tubuh dan proporsi: badan agak kaku, tidak terlihat seperti sedang bergerak, proporsi antara kepala dan badan terasa kurang seimbang, kaki terlihat pendek dan tidak terlalu berotot
5. Warna dan finishing: dominan warna putih terang, diberi garis loreng hitam sederhana, cat terlihat polos, tanpa detail gradasi atau tekstur bulu, terkesan macan yang “apa adanya”.
Kesan keseluruhan: macan putih ini tidak menakutkan, cenderung ramah, bukanlah sosok macan yang gagah, tapi unik, jujur, dan punya karakter sendiri. Patung ini seperti punya “kepribadian”, bukan karena detailnya sempurna, tapi karena ketidaksempurnaannya terasa manusiawi.
Patung Macan Putih dan Latar Pembangunannya
Well, awalnya saya kira viralnya patung Macan Putih Kediri ini cuma salah satu konten yang FYP di timeline, yang saya tonton, senyum sebentar, lalu scroll lagi. Tapi ternyata tidak. “Macan Putih Kediri” ini bikin saya berhenti, memperhatikan, lalu penasaran.Di media sosial, patung ini langsung jadi bahan perbincangan. Banyak yang membandingkan, bercanda, bahkan menjadikannya meme. Dan, semakin banyak yang menertawakan, semakin banyak juga yang ingin datang.
Sepertinya, ada yang dayang untuk sekadar membuktikan, “Emang seunik itu?” Ada juga yang mungkin penasaran, “Kenapa bisa viral?”
Sepertinya, ada yang dayang untuk sekadar membuktikan, “Emang seunik itu?” Ada juga yang mungkin penasaran, “Kenapa bisa viral?”
Bentuk unik, candaan dan hujatan yang ditujukan, alih-alih negatif, justru bikin banyak orang penasaran dan datang langsung untuk membuktikan. Dan seperti biasa, dunia maya memang punya cara sendiri untuk mengangkat sesuatu yang sederhana jadi luar biasa.
Nah, ternyata Patung Macan Putih Kediri bukan sekadar patung biasa. Di balik viralnya, ada cerita budaya yang cukup dalam. Yang mana bagi masyarakat setempat, macan putih bukan simbol sembarangan. Ia dipercaya sebagai: penjaga desa, simbol kekuatan gaib dan perantara dengan leluhur dalam tradisi Jawa.
Legenda lokal bahkan menyebut adanya sosok macan putih yang “momong” (menjaga) desa sejak dulu kala. Jadi, patung dibuat bukan sekadar sebagai hiasan, tapi representasi dari kepercayaan tradisional, penghormatan leluhur, dan identitas desa Balongjeruk ini.
Legenda lokal bahkan menyebut adanya sosok macan putih yang “momong” (menjaga) desa sejak dulu kala. Jadi, patung dibuat bukan sekadar sebagai hiasan, tapi representasi dari kepercayaan tradisional, penghormatan leluhur, dan identitas desa Balongjeruk ini.
Seperti patung di pertigaan desa yang mungkin tidak dibuat dengan standar estetika, tidak juga dirancang untuk jadi viral. Tapi ia lahir dari sesuatu yang lebih dalam, kepercayaan, ingatan kolektif, dan cara sederhana masyarakat menjaga warisan yang mereka yakini.
Lalu datanglah dunia digital, dengan segala riuh dan komentarnya. Ada yang tertawa, ada yang heran, ada yang sekadar lewat. Tapi di balik itu, perlahan orang mulai berhenti sejenak, lalu bertanya, “Sebenarnya ini tentang apa?” Dan di situlah cerita ini menemukan maknanya.
Bahwa tidak semua hal harus terlihat sempurna untuk bisa berarti. Bahwa sesuatu yang dibuat dengan niat baik, akan menemukan jalannya sendiri untuk sampai ke banyak hati. Seperti Patung Macan Putih Kediri, yang mungkin tidak gagah, tidak realistis, tapi justru berhasil membuat banyak orang datang, melihat, dan akhirnya memahami.
Hmm memang seperti itu kadang cara sebuah cerita bekerja, pelan, sederhana, tapi tinggal lama.
@dianrestuagustina Patung Macan Putih #CapCut ♬ suara asli - Rini Mukrim
Penutup
Akhirnya, setelah puas mengambil foto dan video untuk dokumentasi, skip jajannya, karena warung yang saya pengin njajanin belum buka, saya pun meninggalkan Patung Macan Putih dengan lega.
Pada akhirnya, perjalanan kecil ini terasa lebih dari sekadar “mengecek” sesuatu yang viral.
Patung Macan Putih di Balongjeruk mengingatkan saya bahwa tidak semua hal harus sempurna untuk bisa berarti. Justru dari bentuknya yang sederhana, dari detail yang apa adanya, lahir cerita, tentang kreativitas warga, tentang kepercayaan lokal, dan tentang bagaimana sesuatu yang dianggap biasa bisa berubah jadi luar biasa.
Di tengah dunia yang serba rapi dan estetik di media sosial, “macan gemoy” ini hadir dengan caranya sendiri: jujur, unik, dan membumi. Ia mungkin tidak gagah seperti bayangan kita tentang seekor macan, tapi justru di situlah letak pesonanya: dekat, hangat, dan terasa nyata.
Ya, kadang, yang kita cari dalam perjalanan bukan hanya tempatnya, tapi cerita di baliknya… dan perasaan yang diam-diam ikut pulang bersama kita.
Next, jalan-jalan seru dan menyenangkan kemana lagi ya.....! Hm, cari ide dulu ah di Blog Jalanjalanbangbang , ada banyak pengalaman jalan-jalan dari Mas Bambang Irwanto yang inspiratif, seru dan menyenangkan!😍
Happy Traveling
Dian Restu Agustina
.png)
Posting Komentar untuk "Mengunjungi Patung Macan Putih yang Viral di Kediri"