Belajar Menjadi Istri dan Ibu yang Lebih Baik dari Kajian Muslimah Bersama Dewi Sandra
Alhamdulillah pada Senin, 10 Agustus 2026 saya berkesempatan menghadiri sebuah kajian muslimah yang temanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari perempuan: “Wanita & Keseimbangan Hidup di Dalam Rumah Tangga.”
Kajian ini diselenggarakan oleh Majelis Taklim Sahabat Surga dan berlangsung di Masjid At-Tawwab, Jl. Basoka Raya No. 96, Larangan Indah, Tangerang, mulai pukul 08.30 hingga 11.30 WIB.
Yang membuat acara ini semakin menarik, narasumber yang hadir adalah Dewi Sandra, aktris sekaligus aktivis perempuan yang bebeberapa tahun terakhir ini memang lebih sering kita lihat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan muslimah, keluarga, dan nilai-nilai keislaman.
Bagaimana seorang wanita bisa menjadi seorang istri dan ibu yang baik? Bagaimana menjaga rumah tangga tetap harmonis tanpa kehilangan diri sendiri? Bagaimana seorang perempuan yang juga bekerja atau memiliki banyak aktivitas tetap bisa menjaga kesehatan mentalnya?
Dan yang paling penting, dari mana seorang perempuan mendapatkan kekuatan ketika menghadapi berbagai ujian dalam kehidupan rumah tangganya?
Dalam sharing session tersebut, pembahasan banyak dikaitkan dengan peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga, konsep kepemimpinan suami, serta bagaimana seorang istri menempatkan dirinya dalam rumah tangga.
Salah satu landasan yang dibahas adalah QS An-Nisa ayat 34 yang menjelaskan laki-laki sebagai qawwam bagi perempuan. Dalam konteks kajian ini, hal tersebut disampaikan sebagai peran laki-laki untuk memimpin, melindungi, dan menafkahi keluarga.
Menariknya, pembahasan tidak berhenti pada siapa yang menjadi pemimpin. Justru yang kemudian banyak dibicarakan adalah bagaimana perempuan menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dengan tetap memiliki ketenangan, identitas, dan kekuatan mental.
Karena itu, sejak anak perempuan masih kecil, penting untuk membekalinya dengan pemahaman mengenai seperti apa laki-laki yang baik untuk dijadikan pasangan. Bukan semata-mata laki-laki yang tampan, mapan, atau memiliki pekerjaan bagus. Tetapi laki-laki yang takut kepada Allah, memiliki tanggung jawab, memahami bagaimana memimpin, dan mampu melindungi keluarganya.
Sebaliknya, anak laki-laki juga perlu dididik untuk memahami tanggung jawabnya sebagai calon pemimpin keluarga. Bukan anak laki-laki yang sejak kecil selalu dilayani, dimanjakan, dan akhirnya tumbuh dengan anggapan bahwa pekerjaan rumah adalah urusan perempuan.
Ia perlu belajar bertanggung jawab, menghormati perempuan, dan memahami bahwa menjadi pemimpin bukan berarti berkuasa sesuka hati. Sebab pemimpin seharusnya bukan hanya memiliki hak untuk mengambil keputusan, tetapi juga memiliki tanggung jawab yang besar terhadap orang-orang yang dipimpinnya.
Begitu pula bagi suami. Setelah seharian bekerja, menghadapi tekanan, kemacetan, target, persoalan dengan rekan kerja, atau berbagai masalah lainnya, rumah seharusnya menjadi tempat untuk mendapatkan ketenangan.
Bukan karena perempuan harus menjadi “pelayan” bagi suaminya. Tetapi ketika dilakukan dengan niat yang baik dan penuh keikhlasan, perhatian kecil tersebut bisa menjadi bahasa kasih dalam rumah tangga.
Begitu pula dengan menjaga penampilan. Sering kali kita perempuan justru tampil rapi ketika mau pergi keluar rumah. Dandan kalau mau kondangan, bertemu teman, atau menghadiri acara.
Sementara di rumah? Kaos belel, daster andalan, rambut dicepol seadanya. 😄
Padahal suami juga tentu senang melihat istrinya tampil menarik di rumah. Bukan berarti harus berdandan lengkap setiap hari. Sesederhana menjaga kebersihan, kerapian, dan berusaha tampil menyenangkan untuk pasangan.
Misalnya daripada berkata, “Bapak sih nggak pernah bantu!” mungkin bisa diganti dengan, “Pak, hari ini aku capek sekali. Bisa tolong bantu ini?”
Sederhana, tetapi cara menyampaikan sesuatu ternyata sangat memengaruhi respons pasangan. Dalam rumah tangga, ada kalanya kita perlu berkomunikasi, bernegosiasi, sekaligus berempati. Karena suami juga manusia. Ada hari ketika ia sedang kuat dan bersemangat, ada pula hari ketika ia sedang lelah.
Begitu juga dengan istri. Jadi, rumah tangga bukan perlombaan siapa yang paling banyak berkorban. Rumah tangga adalah tempat dua orang belajar saling memahami.
Suami pendiam bukan berarti tidak peduli atau tidak mau berbicara. Bisa jadi memang karakter komunikasinya berbeda. Karena itu, jangan memaksa suami berbicara ketika sedang tidak dalam kondisi nyaman.
Cari waktu ketika suasana sedang santai. Ciptakan lingkungan rumah yang membuatnya nyaman untuk berbicara. Kemudian ajukan pertanyaan dengan lembut dan jangan langsung menghakimi jawabannya.
Termasuk ketika ingin melibatkan suami dalam pengambilan keputusan. Alih-alih langsung memberikan tuntutan, bisa mencoba bertanya: “Menurut Bapak bagaimana?” Pertanyaan sederhana seperti itu dapat membuat suami merasa dilibatkan dan dihargai.
Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti berhenti belajar. Seorang perempuan tetap perlu mengembangkan dirinya. Namun, pengembangan diri tidak selalu harus berarti mengejar karier.
Belajar agama, membaca Al-Qur'an dan memahami maknanya, mengikuti kajian, menambah wawasan, belajar keterampilan baru, menjaga kesehatan, ataupun melakukan aktivitas yang membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik juga merupakan bagian dari proses bertumbuh.
Karena pada akhirnya, identitas utama seorang muslimah bukanlah pekerjaannya. Bukan pula jabatan, status sosial, jumlah pengikut di media sosial, atau pencapaiannya. Identitas utama kita adalah sebagai seorang muslimah.
Karena itu, jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita kehilangan hubungan dengan Allah.
Karena kalau semua masalah dipikirkan terus-menerus, kepala bisa penuh. Sudah masalah A, ditambah masalah B. Belum selesai memikirkan B, sudah khawatir dengan C. Akhirnya yang lelah bukan hanya badan, tetapi juga pikiran.
Di sinilah zikir, doa, dan kedekatan dengan Allah menjadi sumber kekuatan. Dizikirin, jangan dipikirin. Kalimat sederhana, tetapi bagi saya cukup menenangkan.
Saat mendapatkan ujian, kita belajar bersabar. Saat mendapatkan nikmat, kita belajar bersyukur. Keduanya sama-sama membutuhkan kekuatan hati. Dan kekuatan itu tidak selalu bisa kita dapatkan dari manusia.
Ada saat ketika kita sudah bercerita kepada suami, sahabat, atau keluarga, tetapi hati tetap belum tenang. Mungkin karena memang ada bagian yang hanya bisa diisi oleh hubungan kita dengan Allah.
Karena itu, beberapa kebiasaan sederhana yang disarankan adalah memperbanyak zikir pagi dan petang, membaca Al-Qur'an sekaligus memahami artinya, berdoa, serta membangun kebiasaan beribadah bersama pasangan.
Bukan sesuatu yang rumit. Tetapi justru amalan sederhana yang dilakukan konsisten setiap hari sering kali memberikan pengaruh besar terhadap ketenangan hati.
Tidak ada istri yang selalu sabar. Tidak ada ibu yang setiap hari selalu happy. Tidak ada rumah tangga yang setiap harinya berjalan mulus tanpa konflik. Kita semua pasti pernah lelah, kesal, salah bicara pernah ingin menyerah.
Maka mungkin menjadi istri dan ibu yang baik bukan tentang menjadi perempuan yang sempurna, tetapi tentang terus belajar menjadi lebih baik. Belajar berkomunikasi, mengendalikan emosi, meminta bantuan, memahami pasangan, belajar mendidik anak. Dan yang paling penting, belajar kembali kepada Allah setiap kali hati mulai kehilangan arah.
Untuk hubungan suami istri:
Karena perempuan memang memiliki banyak peran. Sebagai istri, ibu, anak, sebagai bagian dari masyarakat. Bahkan mungkin sebagai perempuan yang juga memiliki pekerjaan, komunitas, dan berbagai aktivitas lainnya.
Semua peran itu bisa membuat kita lupa satu hal penting: kita juga perlu merawat diri dan hati. Bukan hanya tubuh yang membutuhkan istirahat. Pikiran juga perlu jeda. Hati juga perlu diisi. Dan mungkin, salah satu cara terbaik untuk menemukan keseimbangan itu adalah dengan kembali kepada sumber ketenangan yang sebenarnya: Allah SWT.
Pada akhirnya, rumah tangga bukan tentang siapa yang paling berkuasa atau siapa yang paling banyak berkorban. Rumah tangga adalah perjalanan dua manusia untuk saling belajar, saling menguatkan, dan bersama-sama mencari ridha Allah SWT.
Semoga kita semua bisa menjadi pasangan yang menenangkan, orang tua yang membimbing, dan terutama menjadi muslimah yang tidak kehilangan arah di tengah banyaknya peran yang harus dijalani.
Karena ternyata, menjadi perempuan bukan hanya tentang mampu melakukan banyak hal, tetapi juga tahu kepada siapa kita harus bersandar ketika sudah tidak sanggup melakukan semuanya sendiri.
Dan saya pulang dari Masjid At-Tawwab pagi itu membawa satu kalimat yang mungkin akan terus saya ingat: dizikirin, jangan dipikirin! ❤️
Kajian ini diselenggarakan oleh Majelis Taklim Sahabat Surga dan berlangsung di Masjid At-Tawwab, Jl. Basoka Raya No. 96, Larangan Indah, Tangerang, mulai pukul 08.30 hingga 11.30 WIB.
Yang membuat acara ini semakin menarik, narasumber yang hadir adalah Dewi Sandra, aktris sekaligus aktivis perempuan yang bebeberapa tahun terakhir ini memang lebih sering kita lihat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan muslimah, keluarga, dan nilai-nilai keislaman.
Wanita dan Keseimbangan Hidup dalam Rumah Tangga
Tema yang dibahas sebenarnya sederhana, tetapi ketika direnungkan lebih dalam ternyata luas cakupannya.Bagaimana seorang wanita bisa menjadi seorang istri dan ibu yang baik? Bagaimana menjaga rumah tangga tetap harmonis tanpa kehilangan diri sendiri? Bagaimana seorang perempuan yang juga bekerja atau memiliki banyak aktivitas tetap bisa menjaga kesehatan mentalnya?
Dan yang paling penting, dari mana seorang perempuan mendapatkan kekuatan ketika menghadapi berbagai ujian dalam kehidupan rumah tangganya?
Dalam sharing session tersebut, pembahasan banyak dikaitkan dengan peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga, konsep kepemimpinan suami, serta bagaimana seorang istri menempatkan dirinya dalam rumah tangga.
Salah satu landasan yang dibahas adalah QS An-Nisa ayat 34 yang menjelaskan laki-laki sebagai qawwam bagi perempuan. Dalam konteks kajian ini, hal tersebut disampaikan sebagai peran laki-laki untuk memimpin, melindungi, dan menafkahi keluarga.
Menariknya, pembahasan tidak berhenti pada siapa yang menjadi pemimpin. Justru yang kemudian banyak dibicarakan adalah bagaimana perempuan menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dengan tetap memiliki ketenangan, identitas, dan kekuatan mental.
Memilih Suami Itu Memilih Pemimpin Keluarga
Salah satu hal yang cukup menarik perhatian saya adalah pembahasan mengenai pentingnya memilih pasangan hidup. Ketika seorang perempuan menikah, ia bukan hanya memilih seseorang untuk menjadi teman hidup. Ia juga memilih siapa yang kelak akan menjadi pemimpin keluarganya.Karena itu, sejak anak perempuan masih kecil, penting untuk membekalinya dengan pemahaman mengenai seperti apa laki-laki yang baik untuk dijadikan pasangan. Bukan semata-mata laki-laki yang tampan, mapan, atau memiliki pekerjaan bagus. Tetapi laki-laki yang takut kepada Allah, memiliki tanggung jawab, memahami bagaimana memimpin, dan mampu melindungi keluarganya.
Sebaliknya, anak laki-laki juga perlu dididik untuk memahami tanggung jawabnya sebagai calon pemimpin keluarga. Bukan anak laki-laki yang sejak kecil selalu dilayani, dimanjakan, dan akhirnya tumbuh dengan anggapan bahwa pekerjaan rumah adalah urusan perempuan.
Ia perlu belajar bertanggung jawab, menghormati perempuan, dan memahami bahwa menjadi pemimpin bukan berarti berkuasa sesuka hati. Sebab pemimpin seharusnya bukan hanya memiliki hak untuk mengambil keputusan, tetapi juga memiliki tanggung jawab yang besar terhadap orang-orang yang dipimpinnya.
Istri sebagai Tempat Ketenangan
Ada satu gagasan yang cukup kuat disampaikan dalam kajian ini, yaitu bahwa perempuan memiliki peran sebagai sumber ketenangan bagi suami dan keluarganya. Rumah idealnya menjadi tempat seseorang pulang setelah menghadapi berbagai persoalan di luar.Begitu pula bagi suami. Setelah seharian bekerja, menghadapi tekanan, kemacetan, target, persoalan dengan rekan kerja, atau berbagai masalah lainnya, rumah seharusnya menjadi tempat untuk mendapatkan ketenangan.
Tentu saja ini bukan berarti istri harus selalu tersenyum, tidak boleh lelah, atau tidak boleh mengeluh. Perempuan juga manusia. Ada hari ketika badan capek, emosi naik turun, pekerjaan rumah terasa tidak ada habisnya.
Dan, justru di sinilah pentingnya komunikasi antara suami dan istri. Menjadi sumber ketenangan bukan berarti memendam semuanya sendirian.
Dan, justru di sinilah pentingnya komunikasi antara suami dan istri. Menjadi sumber ketenangan bukan berarti memendam semuanya sendirian.
Melayani Suami dengan Ikhlas
Pembahasan berikutnya adalah tentang bagaimana seorang istri melayani suami dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal sederhana seperti menyiapkan pakaian, perlengkapan mandi, makanan atau minuman yang disukai suami ternyata bisa menjadi bentuk perhatian yang memiliki makna.Bukan karena perempuan harus menjadi “pelayan” bagi suaminya. Tetapi ketika dilakukan dengan niat yang baik dan penuh keikhlasan, perhatian kecil tersebut bisa menjadi bahasa kasih dalam rumah tangga.
Begitu pula dengan menjaga penampilan. Sering kali kita perempuan justru tampil rapi ketika mau pergi keluar rumah. Dandan kalau mau kondangan, bertemu teman, atau menghadiri acara.
Sementara di rumah? Kaos belel, daster andalan, rambut dicepol seadanya. 😄
Padahal suami juga tentu senang melihat istrinya tampil menarik di rumah. Bukan berarti harus berdandan lengkap setiap hari. Sesederhana menjaga kebersihan, kerapian, dan berusaha tampil menyenangkan untuk pasangan.
![]() |
| sumber foto: Ig @ mtsahabat_surga |
Komunikasi adalah Kunci
Satu hal yang rasanya selalu relevan dalam kehidupan rumah tangga adalah komunikasi. Apalagi ketika seorang istri sedang merasa lelah dan membutuhkan bantuan. Daripada memendam kemudian berharap suami tiba-tiba mengerti, lebih baik menyampaikan kebutuhan dengan cara yang baik.Misalnya daripada berkata, “Bapak sih nggak pernah bantu!” mungkin bisa diganti dengan, “Pak, hari ini aku capek sekali. Bisa tolong bantu ini?”
Sederhana, tetapi cara menyampaikan sesuatu ternyata sangat memengaruhi respons pasangan. Dalam rumah tangga, ada kalanya kita perlu berkomunikasi, bernegosiasi, sekaligus berempati. Karena suami juga manusia. Ada hari ketika ia sedang kuat dan bersemangat, ada pula hari ketika ia sedang lelah.
Begitu juga dengan istri. Jadi, rumah tangga bukan perlombaan siapa yang paling banyak berkorban. Rumah tangga adalah tempat dua orang belajar saling memahami.
Bagaimana Kalau Suami Tipe Pendiam?
Nah, bagian ini menurut saya menarik karena pasti ada juga yang memiliki suami dengan karakter pendiam.Suami pendiam bukan berarti tidak peduli atau tidak mau berbicara. Bisa jadi memang karakter komunikasinya berbeda. Karena itu, jangan memaksa suami berbicara ketika sedang tidak dalam kondisi nyaman.
Cari waktu ketika suasana sedang santai. Ciptakan lingkungan rumah yang membuatnya nyaman untuk berbicara. Kemudian ajukan pertanyaan dengan lembut dan jangan langsung menghakimi jawabannya.
Termasuk ketika ingin melibatkan suami dalam pengambilan keputusan. Alih-alih langsung memberikan tuntutan, bisa mencoba bertanya: “Menurut Bapak bagaimana?” Pertanyaan sederhana seperti itu dapat membuat suami merasa dilibatkan dan dihargai.
Menjadi Ibu Rumah Tangga Bukan Berarti Berhenti Berkembang
Ini bagian yang menurut saya juga penting untuk direnungkan, terutama bagi perempuan yang memiliki banyak aktivitas di luar rumah.Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti berhenti belajar. Seorang perempuan tetap perlu mengembangkan dirinya. Namun, pengembangan diri tidak selalu harus berarti mengejar karier.
Belajar agama, membaca Al-Qur'an dan memahami maknanya, mengikuti kajian, menambah wawasan, belajar keterampilan baru, menjaga kesehatan, ataupun melakukan aktivitas yang membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik juga merupakan bagian dari proses bertumbuh.
Karena pada akhirnya, identitas utama seorang muslimah bukanlah pekerjaannya. Bukan pula jabatan, status sosial, jumlah pengikut di media sosial, atau pencapaiannya. Identitas utama kita adalah sebagai seorang muslimah.
Karena itu, jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita kehilangan hubungan dengan Allah.
Ketika Mental Mulai Lelah: “Dizikirin, Jangan Dipikirin”
Nah, ini salah satu kalimat yang paling saya ingat dari sharing session bersama Dewi Sandra:“Dizikirin, jangan dipikirin.”Bukan berarti setiap masalah tidak perlu dipikirkan atau diselesaikan. Tetap harus ikhtiar, tetap harus mencari solusi. Tetapi ada saatnya kita berhenti memikirkan sesuatu secara berlebihan dan menyerahkannya kepada Allah.
Karena kalau semua masalah dipikirkan terus-menerus, kepala bisa penuh. Sudah masalah A, ditambah masalah B. Belum selesai memikirkan B, sudah khawatir dengan C. Akhirnya yang lelah bukan hanya badan, tetapi juga pikiran.
Di sinilah zikir, doa, dan kedekatan dengan Allah menjadi sumber kekuatan. Dizikirin, jangan dipikirin. Kalimat sederhana, tetapi bagi saya cukup menenangkan.
Hidup Memang Ujian
Dalam kajian ini juga kembali diingatkan bahwa hidup memang tempatnya ujian. Kadang kita diuji dengan kesulitan, kadang dengan kesenangan.Saat mendapatkan ujian, kita belajar bersabar. Saat mendapatkan nikmat, kita belajar bersyukur. Keduanya sama-sama membutuhkan kekuatan hati. Dan kekuatan itu tidak selalu bisa kita dapatkan dari manusia.
Ada saat ketika kita sudah bercerita kepada suami, sahabat, atau keluarga, tetapi hati tetap belum tenang. Mungkin karena memang ada bagian yang hanya bisa diisi oleh hubungan kita dengan Allah.
Karena itu, beberapa kebiasaan sederhana yang disarankan adalah memperbanyak zikir pagi dan petang, membaca Al-Qur'an sekaligus memahami artinya, berdoa, serta membangun kebiasaan beribadah bersama pasangan.
Bukan sesuatu yang rumit. Tetapi justru amalan sederhana yang dilakukan konsisten setiap hari sering kali memberikan pengaruh besar terhadap ketenangan hati.
Menjadi Ibu dan Istri Ideal, Apa Ukurannya?
Setelah mendengarkan sharing session ini, saya jadi berpikir bahwa istilah “ibu rumah tangga ideal” sebenarnya tidak perlu diterjemahkan sebagai perempuan yang sempurna.Tidak ada istri yang selalu sabar. Tidak ada ibu yang setiap hari selalu happy. Tidak ada rumah tangga yang setiap harinya berjalan mulus tanpa konflik. Kita semua pasti pernah lelah, kesal, salah bicara pernah ingin menyerah.
Maka mungkin menjadi istri dan ibu yang baik bukan tentang menjadi perempuan yang sempurna, tetapi tentang terus belajar menjadi lebih baik. Belajar berkomunikasi, mengendalikan emosi, meminta bantuan, memahami pasangan, belajar mendidik anak. Dan yang paling penting, belajar kembali kepada Allah setiap kali hati mulai kehilangan arah.
Beberapa Kebiasaan yang Bisa Dicoba di Rumah
Dari materi yang disampaikan, ada beberapa hal sederhana yang sebenarnya bisa langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.Untuk hubungan suami istri:
- Menyiapkan kebutuhan suami dengan penuh perhatian.
- Menyiapkan makanan dan minuman sesuai kebutuhannya.
- Menjaga penampilan dan kebersihan diri di rumah.
- Membiasakan berkomunikasi dengan lembut.
- Melibatkan suami dalam pengambilan keputusan.
- Belajar beristigfar ketika mulai merasa kesal.
- Menyempatkan salat dan zikir bersama.
Untuk menjaga kesehatan mental:
- Membiasakan zikir pagi dan petang.
- Membaca Al-Qur'an dan memahami artinya.
- Berdoa memohon kekuatan dan petunjuk.
- Terbuka kepada pasangan ketika sedang lelah secara mental.
- Berani meminta bantuan ketika memang membutuhkan.
- Bernegosiasi mengenai pembagian tugas rumah tangga.
- Saling berempati karena setiap orang punya hari baik dan hari buruk.
Pulang Membawa Banyak Renungan
Tiga jam mengikuti kajian terasa cukup cepat berlalu. Bagi saya pribadi, sharing session ini bukan sekadar tentang bagaimana menjadi “istri ideal”. Lebih dari itu, saya menangkap pesan tentang bagaimana seorang perempuan bisa menjaga rumah tangga sekaligus menjaga dirinya sendiri agar tetap dekat dengan Allah.Karena perempuan memang memiliki banyak peran. Sebagai istri, ibu, anak, sebagai bagian dari masyarakat. Bahkan mungkin sebagai perempuan yang juga memiliki pekerjaan, komunitas, dan berbagai aktivitas lainnya.
Semua peran itu bisa membuat kita lupa satu hal penting: kita juga perlu merawat diri dan hati. Bukan hanya tubuh yang membutuhkan istirahat. Pikiran juga perlu jeda. Hati juga perlu diisi. Dan mungkin, salah satu cara terbaik untuk menemukan keseimbangan itu adalah dengan kembali kepada sumber ketenangan yang sebenarnya: Allah SWT.
Pada akhirnya, rumah tangga bukan tentang siapa yang paling berkuasa atau siapa yang paling banyak berkorban. Rumah tangga adalah perjalanan dua manusia untuk saling belajar, saling menguatkan, dan bersama-sama mencari ridha Allah SWT.
Semoga kita semua bisa menjadi pasangan yang menenangkan, orang tua yang membimbing, dan terutama menjadi muslimah yang tidak kehilangan arah di tengah banyaknya peran yang harus dijalani.
Karena ternyata, menjadi perempuan bukan hanya tentang mampu melakukan banyak hal, tetapi juga tahu kepada siapa kita harus bersandar ketika sudah tidak sanggup melakukan semuanya sendiri.
Dan saya pulang dari Masjid At-Tawwab pagi itu membawa satu kalimat yang mungkin akan terus saya ingat: dizikirin, jangan dipikirin! ❤️
Salam Semangat
Dian Restu Agustina

.jpeg)

Posting Komentar untuk "Belajar Menjadi Istri dan Ibu yang Lebih Baik dari Kajian Muslimah Bersama Dewi Sandra"