Blogging di Usia 50: Masihkah Relevan?
Ada satu pertanyaan yang belakangan ini beberapa kali muncul di kepala saya: masihkah blogging relevan di usia 50?
Pertanyaan ini muncul karena saya merasa sedang berada di sebuah fase baru dalam kehidupan. Setelah beberapa tahun lebih banyak mengurus keluarga dan aktif dalam kegiatan sekolah anak, sekarang saya mulai punya ruang untuk kembali melakukan hal-hal yang dulu saya sukai. Salah satunya tentu saja menulis di blog.Saya mulai blogging pada 2016. Dari yang awalnya sekadar mencoba, lama-lama aktivitas ini berkembang menjadi sesuatu yang menyenangkan. Saya senang mencari ide tulisan, menulis pengalaman perjalanan, mencoba kuliner, membuat review, sampai membaca tulisan blogger lain lewat blogwalking.
Bahkan, blogging kemudian membawa saya bertemu dengan banyak orang baru. Ada komunitas, kegiatan offline, gathering, workshop, dan berbagai kesempatan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Hingga pandemi membuat semuanya berubah.
Saya kemudian lebih banyak mundur dari kegiatan blogger secara offline. Bukan berarti berhenti ngeblog sepenuhnya. Untuk aktivitas online, saya masih tetap menulis dan mengikuti perkembangan dunia blogging. Hanya saja, prioritas saya saat itu bergeser.
Anak-anak sedang berada di fase yang membutuhkan perhatian lebih. Saya pun akhirnya memilih untuk lebih aktif di lingkungan sekolah mereka.
Salah satu keputusan yang kemudian membawa saya ke pengalaman baru adalah bergabung menjadi pengurus Jamiyyah (komite sekolah) di sekolah anak.
Ternyata menjadi pengurus Jamiyyah bukan sekadar menghadiri rapat atau membantu acara sekolah. Ada banyak hal yang saya pelajari di sana. Mulai dari berkoordinasi dengan orang lain, terlibat dalam kegiatan sekolah, bertemu dengan orang tua murid lainnya, sampai belajar memahami bahwa setiap kegiatan membutuhkan kerja sama dan komunikasi yang baik.
Saya menikmati fase tersebut.
Rasanya menyenangkan ketika sebagai ibu, saya tidak hanya mengantar dan menjemput anak atau datang ke sekolah ketika ada keperluan, tetapi juga bisa ikut mengambil bagian dalam kegiatan sekolah.
Tetapi semua fase tentu ada waktunya.
Kini si bungsu berada di tahun terakhir SMA-nya. Masa kepengurusan saya di Jamiyyah pun sudah selesai. Setelah beberapa tahun energi dan waktu banyak tercurah untuk keluarga serta kegiatan sekolah, saya mulai merasa ingin kembali memberikan ruang untuk diri sendiri.
Bukan berarti tiba-tiba ingin hidup tanpa kesibukan, justru sebaliknya.
Saya ingin punya lebih banyak aktivitas yang membuat saya tetap bergerak dan bertumbuh. Menulis lagi. Berolahraga lebih rutin. Mengikuti kegiatan sosial. Bertemu dengan orang-orang baru. Dan tentu saja, sesekali tetap bepergian untuk melukiskan cerita perjalanan.
Rasanya memang berbeda ketika memasuki usia 50.
Dulu mungkin kita mengejar banyak hal karena ingin membuktikan sesuatu. Sekarang saya justru mulai belajar memilih. Mana yang memang penting, mana yang hanya membuat lelah, dan mana yang membuat hidup terasa lebih bermakna.
Termasuk dalam urusan blogging.
Dunia blogging sekarang tentu sudah tidak sama seperti ketika saya mulai menulis. Media sosial berkembang sangat pesat, video pendek menjadi salah satu bentuk konten yang digemari, dan orang bisa membagikan pengalaman dalam hitungan detik.
Lalu, apakah blog masih relevan?
Bagi saya, masih.
Justru ketika semua orang berlomba membuat konten yang cepat dikonsumsi, blog memberikan ruang untuk bercerita dengan lebih panjang dan personal. Kita bisa menyimpan pengalaman dalam bentuk tulisan yang suatu hari nanti dapat dibaca kembali.
Saya masih senang membaca tulisan blogger lain. Dari sana saya bisa menemukan cerita, pengalaman, rekomendasi, bahkan sudut pandang yang berbeda. Blogger juga tidak selalu harus tinggal di kota besar. Saya senang menemukan tulisan dari teman-teman blogger dari berbagai daerah, seperti Lifestyle Blogger Madura, misalnya. Ada cerita dan perspektif yang mungkin tidak akan saya temukan kalau hanya mengandalkan media sosial.
Dan semakin bertambah usia, saya merasa semakin banyak hal yang sebenarnya bisa ditulis.
Dulu mungkin cerita saya banyak berkisar pada perjalanan, kuliner, parenting, atau berbagai pengalaman sehari-hari. Sekarang topiknya mulai berkembang mengikuti kehidupan saya saat ini.
Tentang bagaimana menjaga kesehatan di usia menjelang 50. Tentang olahraga. Tentang perjalanan. Tentang menjadi ibu ketika anak-anak mulai beranjak dewasa. Tentang pengalaman mengikuti kegiatan sosial. Bahkan hal-hal sederhana seperti mengatur keuangan keluarga pun menjadi semakin menarik untuk dibagikan.
Karena ternyata kehidupan setelah 40, apalagi lolos 50, punya banyak cerita yang tidak kalah menarik.
Saya juga mulai menyadari bahwa blogging bagi saya bukan semata-mata soal angka. Bukan hanya berapa banyak pageview, berapa komentar yang masuk, atau berapa banyak orang yang membaca tulisan.
Blog menjadi semacam ruang untuk berhenti sejenak. Menuangkan apa yang ada di kepala. Mengabadikan pengalaman. Mengingat kembali sebuah perjalanan. Atau sekadar bercerita tentang sesuatu yang saya anggap menarik.
Mungkin karena itulah saya merasa ingin kembali lebih aktif menulis. Bukan untuk mengejar ketertinggalan dari blogger lain. Bukan pula karena merasa harus mengikuti semua tren terbaru. Saya hanya ingin kembali menikmati prosesnya.
Setelah beberapa tahun menjalani berbagai peran, rasanya menyenangkan juga punya satu ruang yang benar-benar menjadi milik sendiri.
Jadi, kalau ditanya apakah blogging masih relevan di usia 50, jawaban saya sederhana:
Masih. Bahkan mungkin sekarang justru lebih relevan.
Sebab semakin bertambah usia, semakin banyak pengalaman yang kita punya. Tinggal bagaimana pengalaman itu tidak hanya berhenti menjadi kenangan, tetapi diolah menjadi cerita yang mungkin bisa bermanfaat bagi orang lain.
Dan saya rasa, perjalanan blogging saya belum selesai. Mungkin hanya sempat berhenti sebentar untuk menjalani bab kehidupan yang lain.
Sekarang, saat satu bab sudah selesai, saya siap membuka halaman berikutnya. Dengan blog, olahraga, kegiatan sosial, dan tentu saja… cerita-cerita baru yang mudah-mudahan masih panjang. ❤️
Salam Semangat
Dian Restu Agustina

Posting Komentar untuk "Blogging di Usia 50: Masihkah Relevan?"