Nyeri Tumit dan Lutut di Masa Perimenopause, Ternyata Saya Didiagnosis OA Bilateral dan Plantar Fasciitis
Ada satu hal yang baru benar-benar saya sadari saat memasuki usia menjelang 50 tahun. Tubuh ternyata selalu memberi tanda ketika ada yang tidak beres. Sayangnya, sering kali kita menganggapnya sekadar pegal biasa.😑
Yup, beberapa bulan terakhir saya mulai merasakan nyeri pada kedua kaki. Namun, sekitar satu bulan terakhir keluhannya semakin sering muncul dan cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.
Yang paling terasa adalah nyeri tumit ketika pertama kali menginjak lantai setelah bangun tidur. Rasanya seperti tertusuk dan membuat saya berjalan tertatih beberapa langkah pertama.
Setelah itu rasa nyerinya biasanya sedikit berkurang. Namun, beberapa waktu kemudian akan muncul lagi, terutama setelah banyak beraktivitas.
Saya sampai sempat berpikir, "Apa saya salah posisi tidur, ya?" Ternyata setelah kejadian itu berulang hampir setiap pagi, saya mulai yakin ada yang tidak beres dengan tumit saya.Selain tumit, kedua lutut saya juga terasa nyeri, terutama lutut kiri. Naik turun tangga menjadi kurang nyaman. Bahkan untuk sholat pun saya lebih sering memilih duduk karena lutut terasa sakit saat ditekuk.
Awalnya saya pikir ini hanya pegal biasa. Namun karena semakin sering terjadi, akhirnya saya memutuskan memeriksakan diri ke dokter spesialis ortopedi di RSPP.
Saat menunggu hasil, tentu ada rasa cemas. Alhamdulillah, kondisi lutut saya dari hasil rontgen dinyatakan baik dan tidak ditemukan kerusakan yang serius. Namun pada tumit kiri ditemukan sedikit pengapuran.😟
Dokter kemudian menegakkan diagnosis: OA Bilateral dan Plantar Fasciitis. Yang membuat saya bertanya-tanya, sebenarnya apa arti kedua diagnosis itu.
Dokter juga menjelaskan bahwa pada tahap awal, keluhan osteoarthritis belum tentu tampak jelas pada foto rontgen. Diagnosis ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala, pemeriksaan fisik, dan hasil penunjang.
Nah, ternyata OA atau Osteoarthritis adalah kondisi ketika bantalan atau tulang rawan pada sendi mengalami penurunan kualitas sehingga menimbulkan nyeri, kaku, atau rasa tidak nyaman saat bergerak. Sedangkan bilateral berarti terjadi pada kedua sisi tubuh. Dalam kasus saya, keluhan muncul pada kedua lutut.
Meskipun hasil rontgen lutut saya cukup baik, dokter menjelaskan bahwa gejala OA dapat mulai muncul meskipun kerusakan sendi belum terlalu berat.
Gejalanya antara lain:
Plantar fascia adalah jaringan tebal yang membentang di telapak kaki, menghubungkan tumit dengan bagian depan kaki. Ketika jaringan ini mengalami peradangan atau iritasi, muncullah nyeri yang khas, yaitu:
Selama terapi, selain mendapatkan terapi laser dari dokter, saya juga diberikan beberapa tindakan dari fisioterapis, yaitu:
Setelah menyelesaikan enam sesi fisioterapi, Alhamdulillah saya mulai merasakan perbedaan yang cukup signifikan. Nyerinya memang belum hilang sepenuhnya, tetapi jauh lebih ringan dibanding sebelumnya.
Kedua olahraga tersebut termasuk low impact exercise, sehingga tetap menjaga kebugaran tanpa memberikan tekanan berlebih pada tumit dan lutut.
Saya jadi belajar bahwa olahraga yang baik bukanlah yang paling berat atau paling lama dilakukan, tetapi yang paling sesuai dengan kondisi tubuh kita saat ini. Sehingga kini, jadwal olahraga saya dalam satu minggu bervariasi: jalan pagi 30 menit, bersepeda statis di rumah, senam jantung sehat di halaman masjid komplek dan line dance di Bucan Studio milik teman saya. Selang-seling waktunya yang utama konsisten menjalaninya.
Yang paling terasa adalah nyeri tumit ketika pertama kali menginjak lantai setelah bangun tidur. Rasanya seperti tertusuk dan membuat saya berjalan tertatih beberapa langkah pertama.
Setelah itu rasa nyerinya biasanya sedikit berkurang. Namun, beberapa waktu kemudian akan muncul lagi, terutama setelah banyak beraktivitas.
Saya sampai sempat berpikir, "Apa saya salah posisi tidur, ya?" Ternyata setelah kejadian itu berulang hampir setiap pagi, saya mulai yakin ada yang tidak beres dengan tumit saya.Selain tumit, kedua lutut saya juga terasa nyeri, terutama lutut kiri. Naik turun tangga menjadi kurang nyaman. Bahkan untuk sholat pun saya lebih sering memilih duduk karena lutut terasa sakit saat ditekuk.
Awalnya saya pikir ini hanya pegal biasa. Namun karena semakin sering terjadi, akhirnya saya memutuskan memeriksakan diri ke dokter spesialis ortopedi di RSPP.
Pemeriksaan Rontgen dan Hasil yang Saya Terima
Dokter pun melakukan pemeriksaan dan meminta saya menjalani rontgen lutut serta tumit.Saat menunggu hasil, tentu ada rasa cemas. Alhamdulillah, kondisi lutut saya dari hasil rontgen dinyatakan baik dan tidak ditemukan kerusakan yang serius. Namun pada tumit kiri ditemukan sedikit pengapuran.😟
Dokter kemudian menegakkan diagnosis: OA Bilateral dan Plantar Fasciitis. Yang membuat saya bertanya-tanya, sebenarnya apa arti kedua diagnosis itu.
Dokter juga menjelaskan bahwa pada tahap awal, keluhan osteoarthritis belum tentu tampak jelas pada foto rontgen. Diagnosis ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala, pemeriksaan fisik, dan hasil penunjang.
Apa Itu OA Bilateral?
Dokter menjelaskan bahwa kondisi ini bisa dipengaruhi banyak faktor, seperti pertambahan usia, aktivitas berulang, berat badan, bentuk telapak kaki, hingga perubahan hormon pada masa perimenopause. Pada setiap orang penyebabnya bisa berbeda-beda sehingga pemeriksaan dokter tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis dan penanganannya.
Nah, ternyata OA atau Osteoarthritis adalah kondisi ketika bantalan atau tulang rawan pada sendi mengalami penurunan kualitas sehingga menimbulkan nyeri, kaku, atau rasa tidak nyaman saat bergerak. Sedangkan bilateral berarti terjadi pada kedua sisi tubuh. Dalam kasus saya, keluhan muncul pada kedua lutut.
Meskipun hasil rontgen lutut saya cukup baik, dokter menjelaskan bahwa gejala OA dapat mulai muncul meskipun kerusakan sendi belum terlalu berat.
Gejalanya antara lain:
- Nyeri lutut saat berjalan.
- Nyeri saat naik turun tangga.
- Lutut terasa kaku setelah bangun tidur atau lama duduk.
- Tidak nyaman saat jongkok.
- Kadang terdengar bunyi "krek-krek".
Apa Itu Plantar Fasciitis?
Sementara, kalau nyeri tumit yang saya alami ternyata disebabkan oleh Plantar Fasciitis.Plantar fascia adalah jaringan tebal yang membentang di telapak kaki, menghubungkan tumit dengan bagian depan kaki. Ketika jaringan ini mengalami peradangan atau iritasi, muncullah nyeri yang khas, yaitu:
- Nyeri tumit saat pertama kali bangun tidur.
- Nyeri saat berdiri setelah lama duduk.
- Nyeri berkurang setelah berjalan beberapa saat, tetapi bisa muncul lagi setelah banyak aktivitas.
Saya merasa sangat relate dengan gejala ini. Hampir setiap pagi saya mengalaminya.
Pada masa perimenopause, hormon estrogen mulai menurun. Padahal hormon ini berperan menjaga kesehatan: tulang, sendi, otot jaringan ikat dan tendon. Penurunan hormon inilah yang membuat sebagian perempuan mulai merasakan: nyeri lutut, nyeri tumit, pegal pada persendian
Perimenopause Ternyata Bisa Menjadi Salah Satu Pemicu
Saat berkonsultasi dan mencari informasi lebih lanjut, saya mengetahui bahwa saya (bulan ini berusia 50 tahun), sedang berada pada fase perimenopause yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pada sendi dan jaringan ikat.Pada masa perimenopause, hormon estrogen mulai menurun. Padahal hormon ini berperan menjaga kesehatan: tulang, sendi, otot jaringan ikat dan tendon. Penurunan hormon inilah yang membuat sebagian perempuan mulai merasakan: nyeri lutut, nyeri tumit, pegal pada persendian
Tubuh terasa lebih mudah lelah. Rasanya seperti mendapat pengingat bahwa memasuki usia matang, kita perlu lebih bijaksana dalam menjaga tubuh. Jujur saja, sebelumnya saya tidak pernah menghubungkan nyeri tumit dan lutut dengan perimenopause. Saya mengira penyebabnya hanya faktor usia atau terlalu sering berjalan kaki. Ternyata perubahan hormon juga memiliki peran yang cukup besar.
Saya Dirujuk ke Dokter Rehabilitasi Medik
Setelah pemeriksaan, dokter ortopedi merujuk saya ke dokter spesialis Rehabilitasi Medik. Di sana saya kembali diperiksa, kemudian dilakukan terapi laser oleh dokter pada area yang nyeri. Selain itu, saya juga dijadwalkan menjalani fisioterapi sebanyak enam kali.
Selama terapi, selain mendapatkan terapi laser dari dokter, saya juga diberikan beberapa tindakan dari fisioterapis, yaitu:
- Terapi gelombang ultrasound pada lutut dan tumit.
- Penyinaran pada area yang mengalami peradangan.
- Latihan dan edukasi dari fisioterapis.
Awalnya saya sempat khawatir terapi akan terasa sakit. Ternyata tidak. Selama proses fisioterapi saya justru merasa nyaman dan setiap sesi membuat tumit terasa lebih ringan..
Setelah menyelesaikan enam sesi fisioterapi, Alhamdulillah saya mulai merasakan perbedaan yang cukup signifikan. Nyerinya memang belum hilang sepenuhnya, tetapi jauh lebih ringan dibanding sebelumnya.
Ternyata Tidak Semua Olahraga Cocok
Oia, ada satu nasihat dokter yang cukup membuat saya harus menyesuaikan rutinitas.Selama ini saya cukup rutin berjalan pagi. Lalu dokter menyarankan agar aktivitas jalan kaki juga diimbangi olahraga yang ramah untuk sendi dan tumit, misalnya: berenang/olahraga akuuatik dan bersepeda statis. Bukan berarti saya sama sekali tidak boleh berjalan kaki. Dokter hanya menyarankan agar porsinya disesuaikan dan tidak berlebihan selama tumit masih dalam proses pemulihan.
Kedua olahraga tersebut termasuk low impact exercise, sehingga tetap menjaga kebugaran tanpa memberikan tekanan berlebih pada tumit dan lutut.
Saya jadi belajar bahwa olahraga yang baik bukanlah yang paling berat atau paling lama dilakukan, tetapi yang paling sesuai dengan kondisi tubuh kita saat ini. Sehingga kini, jadwal olahraga saya dalam satu minggu bervariasi: jalan pagi 30 menit, bersepeda statis di rumah, senam jantung sehat di halaman masjid komplek dan line dance di Bucan Studio milik teman saya. Selang-seling waktunya yang utama konsisten menjalaninya.
Selain itu saya stop memakai flat shoes yang tips dan keras dan heels, demi kesehatan kaki saya. Saat di rumah saya memakai sandal yang ada bantalan tebal dan empuk juga sepatu yang arch support. Ini mengingat plantar fasciitis bisa berulang atau kambuh kembali, maka saya harus jaga diri.
Belajar Mendengarkan Tubuh
Well, pengalaman ini membuat saya lebih menghargai tubuh sendiri. Kadang kita terlalu sibuk mengurus keluarga, pekerjaan, dan berbagai aktivitas lainnya hingga lupa memperhatikan sinyal-sinyal kecil yang diberikan tubuh. Padahal rasa nyeri yang terus berulang bukanlah sesuatu yang harus ditahan begitu saja.
Dokter juga mengingatkan agar berat badan tetap stabil. Beliau bahkan sempat bercanda,
"Kalau belum bisa turun, yang penting jangan naik lagi. Kasihan lututnya nanti bekerja lebih keras."
Ngikik dengarnyaaa....😀
Dokter juga mengingatkan agar berat badan tetap stabil. Beliau bahkan sempat bercanda,
"Kalau belum bisa turun, yang penting jangan naik lagi. Kasihan lututnya nanti bekerja lebih keras."
Ngikik dengarnyaaa....😀
Benar juga, ya. Kini dengan tinggi badan 155 cm dan berat badan 58 kg, saya berharap berat badan ini tetap terjaga, bahkan kalau bisa perlahan turun supaya lutut bekerja lebih ringan.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa menjaga kesehatan bukan hanya soal rajin berolahraga atau makan sehat. Yang tidak kalah penting adalah mendengarkan tubuh ketika ia mulai "berbicara". Jangan menunggu nyeri semakin berat baru mencari pertolongan.
Usia memang terus bertambah. Namun saya percaya, menjadi sehat bukan berarti bebas dari segala keluhan, melainkan terus belajar memahami tubuh, menerima setiap perubahan, dan tetap berikhtiar agar bisa menikmati setiap fase kehidupan dengan penuh syukur.
Bismillah. Ikhtiar dengan makanan sehat, olahraga yang tepat, pikiran yang waras, dan doa yang menderas. Semoga ke depan sehat senantiasa, biar bisa tetap jadwalin jalan-jalan misalnya travel di Jogja ngikutin rekomendasi teman blogger saya RianaDewi.com. Aamiiiin.....
Karena sehat adalah nikmat yang sering kali baru kita sadari nilainya ketika mulai berkurang. Bismillah. Sehat. Sehat. Sehat!🤍
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa menjaga kesehatan bukan hanya soal rajin berolahraga atau makan sehat. Yang tidak kalah penting adalah mendengarkan tubuh ketika ia mulai "berbicara". Jangan menunggu nyeri semakin berat baru mencari pertolongan.
Usia memang terus bertambah. Namun saya percaya, menjadi sehat bukan berarti bebas dari segala keluhan, melainkan terus belajar memahami tubuh, menerima setiap perubahan, dan tetap berikhtiar agar bisa menikmati setiap fase kehidupan dengan penuh syukur.
Bismillah. Ikhtiar dengan makanan sehat, olahraga yang tepat, pikiran yang waras, dan doa yang menderas. Semoga ke depan sehat senantiasa, biar bisa tetap jadwalin jalan-jalan misalnya travel di Jogja ngikutin rekomendasi teman blogger saya RianaDewi.com. Aamiiiin.....
Karena sehat adalah nikmat yang sering kali baru kita sadari nilainya ketika mulai berkurang. Bismillah. Sehat. Sehat. Sehat!🤍


Posting Komentar untuk "Nyeri Tumit dan Lutut di Masa Perimenopause, Ternyata Saya Didiagnosis OA Bilateral dan Plantar Fasciitis"