Menikmati Kopi Lim Kok Tong, Kopitiam Legendaris Pematangsiantar yang Berusia 101 Tahun
Menjamurnya kopi kekinian tidak menghilangkan minat saya untuk menikmati kopi legend yang sudah ada jauh sebelum budaya ngopi menjadi viral seperti sekarang.
Buat saya, ada sensasi tersendiri ketika duduk di sebuah kopitiam yang sudah puluhan tahun bertahan. Bukan hanya soal secangkir kopi, tetapi juga tentang sejarah, tradisi, resep yang diwariskan lintas generasi, dan cerita panjang di balik sebuah nama.
Salah satunya adalah Lim Kok Tong, kopitiam legendaris asal Pematangsiantar yang sejarahnya sudah dimulai sejak tahun 1925.
Kalau dihitung sampai tahun 2026 sekarang, berarti usianya sudah 101 tahun! Lebih dari satu abad, Gaissss!
Selasa, 15 September 2026, saya bersama teman, Mbak Sri, yang merupakan orang asli Medan, jalan-jalan ke area Green Ville. Namanya juga jalan bareng teman, tentu saja tidak lengkap kalau tidak mampir makan dan ngopiiiii.
Karenanya tepat jika kami singgah ke Lim Kok Tong – Kopitiam, yang bukan cuma kopinya menarik, tapi jenama ini juga menyimpan perjalanan sejarah yang panjang.
Lokasinya agak nyempil di antara deretan ruko lama. Tidak terlalu besar dan area parkirnya juga terbatas. Sepertinya hanya bisa menampung sekitar tiga mobil saja. Tetapi jangan salah, meskipun tempatnya tidak terlalu besar, suasana kopitiamnya cukup terasa.
Ada area outdoor dengan meja dan kursi yang bisa menampung sekitar 20 orang. Area produksi dan kasir berada di luar sni, menyatu dengan tempat pemesanan. Di sekitarnya terlihat pajangan kopi bean dan bubuk serta gelas-cangkir yang ditata rapi.
Selama di sana, saya bahkan sempat melihat beberapa bapak-bapak Chindo yang sedang ngobrol serius. Sepertinya sedang deal-dealan bisnis nih. Hehehe... kopitiam memang pas menjadi tempat ngopi sekaligus tempat bertemu dan ngobrol urusan bisnis.
Di bagian dalam tersedia ruangan ber-AC dengan meja dan kursi untuk sekitar 20 orang. Di sudut ada rak juga terlihat kopi bubuk dalam kemasan yang bisa dibawa pulang.
Namun, perhatian saya justru tertuju pada tulisan yang terpajang di dinding berjudul: The Journey of Lim Kok Tong.
Pada awal tahun 1900-an, Lim Tie Kie yang berasal dari Kota Fu Zhou, Provinsi Fu Jian, China, melakukan perjalanan ke Indonesia ketika usianya baru 18 tahun.
Kemudian pada tahun 1925, Lim Tie Kie membuka kopitiam pertamanya di Jalan Cipto, Pematangsiantar. Saat itu namanya adalah Heng Seng Can, yang kemudian menjadi salah satu ikon Kota Siantar.
Perjalanan bisnis ini kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya. Pada tahun 1970, generasi kedua, Lim Kok Tong, mengambil alih kopitiam tersebut dan mengubah namanya menjadi Massa Kok Tong.
Memasuki tahun 1980-an, generasi ketiga, Lim Ming, mulai mengelola bisnis kopitiam ini. Lim Ming kemudian membuat resep asli (signature) dan membangun coffee roastery sendiri untuk menjaga kualitas kopi. Hingga sekarang, kopi yang digunakan di seluruh cabang freshly roasted dari roastery milik sendiri.
Memasuki tahun 2000-an, Lim Ming mengubah nama kopitiam menjadi Lim Kok Tong dan mulai membuka cabang di berbagai wilayah Sumatera Utara. Dari satu kopitiam di Pematangsiantar, kemudian berkembang dan dikenal lebih luas ke berbagai kota.
Pilihan minumannya cukup beragam.
Saya memang punya hubungan nostalgia dengan kuliner Sumatera Utara. Dulu saya pernah tinggal di sana selama kurang lebih lima tahunan. Jadi, makanan khas (Melayu) Medan dan Sumatera Utara cukup akrab dengan lidah saya.
Makanya ketika melihat ada Soto Medan di menu, rasanya seperti menemukan sedikit obat kangen. Dan setelah dicicipi...Not bad lah. Lumayan untuk mengobati rasa rindu dengan kuliner Sumatera Utara.
Buat saya, kunjungan ke Lim Kok Tong kali ini bukan sekadar makan siang dan ngopi bersama teman. Ada rasa nostalgia yang ikut muncul.
Apalagi kali ini saya ditemani Mbak Sri yang merupakan orang asli Medan. Obrolan tentang makanan, Medan, dan pengalaman masing-masing tentu jadi semakin seru. Memang ya, makanan sering kali punya kemampuan ajaib untuk membawa kita kembali ke sebuah tempat atau masa tertentu.
Tidak harus kembali ke kota asal kenangan. Kadang cukup menemukan rasa yang familiar.
Di tengah menjamurnya kedai kopi kekinian dengan berbagai konsep yang terus berganti, saya justru senang masih bisa menemukan tempat seperti Lim Kok Tong. Sebuah kopitiam yang sudah melewati 101 tahun perjalanan tentu menyimpan cerita yang tidak sedikit.
Dari Lim Tie Kie sebagai generasi pertama yang datang ke Indonesia, kemudian membuka kopitiam di Pematang Siantar pada tahun 1925, hingga diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya sampai berkembang seperti sekarang.
Lebih dari satu abad bukan waktu yang sebentar. Dan menurut saya, inilah salah satu hal yang membuat kopi legend seperti Lim Kok Tong menarik.
Bukan hanya rasa kopinya. Tetapi juga sejarah, tradisi, dan perjalanan sebuah usaha keluarga yang mampu bertahan lintas generasi.
Buat saya, ada sensasi tersendiri ketika duduk di sebuah kopitiam yang sudah puluhan tahun bertahan. Bukan hanya soal secangkir kopi, tetapi juga tentang sejarah, tradisi, resep yang diwariskan lintas generasi, dan cerita panjang di balik sebuah nama.
Salah satunya adalah Lim Kok Tong, kopitiam legendaris asal Pematangsiantar yang sejarahnya sudah dimulai sejak tahun 1925.
Kalau dihitung sampai tahun 2026 sekarang, berarti usianya sudah 101 tahun! Lebih dari satu abad, Gaissss!
Selasa, 15 September 2026, saya bersama teman, Mbak Sri, yang merupakan orang asli Medan, jalan-jalan ke area Green Ville. Namanya juga jalan bareng teman, tentu saja tidak lengkap kalau tidak mampir makan dan ngopiiiii.
Ya, secangkir kopi memang bisa punya cerita yang berbeda bagi setiap orang. Bagi working mom seperti Mbak Sri yang dokter gigi spesialis prostodonsia, kopi mungkin menjadi teman di sela-sela pekerjaan dan kesibukan praktik. Sementara bagi ibu rumah tangga seperti saya, ngopi bersama teman bisa menjadi kesempatan untuk sejenak keluar dari rutinitas rumah dan menikmati waktu santai
Karenanya tepat jika kami singgah ke Lim Kok Tong – Kopitiam, yang bukan cuma kopinya menarik, tapi jenama ini juga menyimpan perjalanan sejarah yang panjang.
Lim Kok Tong, Kopitiam Legendaris Sejak 1925
Saat pertama kali sampai, saya sempat memperhatikan bangunannya, khas kopitiam yang dulu banyak saya temui di Sumatera Utara dan Singapura saat pernah tinggal di sana.Lokasinya agak nyempil di antara deretan ruko lama. Tidak terlalu besar dan area parkirnya juga terbatas. Sepertinya hanya bisa menampung sekitar tiga mobil saja. Tetapi jangan salah, meskipun tempatnya tidak terlalu besar, suasana kopitiamnya cukup terasa.
Ada area outdoor dengan meja dan kursi yang bisa menampung sekitar 20 orang. Area produksi dan kasir berada di luar sni, menyatu dengan tempat pemesanan. Di sekitarnya terlihat pajangan kopi bean dan bubuk serta gelas-cangkir yang ditata rapi.
Selama di sana, saya bahkan sempat melihat beberapa bapak-bapak Chindo yang sedang ngobrol serius. Sepertinya sedang deal-dealan bisnis nih. Hehehe... kopitiam memang pas menjadi tempat ngopi sekaligus tempat bertemu dan ngobrol urusan bisnis.
Di bagian dalam tersedia ruangan ber-AC dengan meja dan kursi untuk sekitar 20 orang. Di sudut ada rak juga terlihat kopi bubuk dalam kemasan yang bisa dibawa pulang.
Namun, perhatian saya justru tertuju pada tulisan yang terpajang di dinding berjudul: The Journey of Lim Kok Tong.
Perjalanan Lim Kok Tong dari Generasi ke Generasi
Dari tulisan sejarah yang terpajang di dinding, saya mengetahui bahwa perjalanan Lim Kok Tong berawal dari Lim Tie Kie, generasi pertama keluarga ini.Pada awal tahun 1900-an, Lim Tie Kie yang berasal dari Kota Fu Zhou, Provinsi Fu Jian, China, melakukan perjalanan ke Indonesia ketika usianya baru 18 tahun.
Kemudian pada tahun 1925, Lim Tie Kie membuka kopitiam pertamanya di Jalan Cipto, Pematangsiantar. Saat itu namanya adalah Heng Seng Can, yang kemudian menjadi salah satu ikon Kota Siantar.
Perjalanan bisnis ini kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya. Pada tahun 1970, generasi kedua, Lim Kok Tong, mengambil alih kopitiam tersebut dan mengubah namanya menjadi Massa Kok Tong.
Memasuki tahun 1980-an, generasi ketiga, Lim Ming, mulai mengelola bisnis kopitiam ini. Lim Ming kemudian membuat resep asli (signature) dan membangun coffee roastery sendiri untuk menjaga kualitas kopi. Hingga sekarang, kopi yang digunakan di seluruh cabang freshly roasted dari roastery milik sendiri.
Memasuki tahun 2000-an, Lim Ming mengubah nama kopitiam menjadi Lim Kok Tong dan mulai membuka cabang di berbagai wilayah Sumatera Utara. Dari satu kopitiam di Pematangsiantar, kemudian berkembang dan dikenal lebih luas ke berbagai kota.
Seperti di Jakarta dan sekitarnya, selain di sini, Lim Kok Tong bisa kita temui di Terminal 2 Bandara Soetta, Green Lake City, Taman Palem Lestari, Green Terrace TMII, Harapan Indah Bekasi, Pluit Indah, Bekasi Galaxy, Kota Wisata Cibubur, Gading Serpong dan lainnya.
Membaca perjalanan sejarah tersebut sambil berada di tempatnya tentu dirimu tentu enggak perlu ragu, semakin yakin untuk menikmati pengalaman ngopi di sini. Bayangkan, sebuah usaha kuliner bisa bertahan dan melewati 101 tahun.
Membaca perjalanan sejarah tersebut sambil berada di tempatnya tentu dirimu tentu enggak perlu ragu, semakin yakin untuk menikmati pengalaman ngopi di sini. Bayangkan, sebuah usaha kuliner bisa bertahan dan melewati 101 tahun.
Sungguh, bukan perjalanan yang sebentar!
Pilihan Menu di Lim Kok Tong
Setelah puas melihat-lihat tempat dan membaca sejarahnya, kami mulai melihat menu. Mbak Sri sudah pernah ke tempat aslinya di Siantar pun ke cabang lainnya di Jakarta. Sementara saya baru pernah dapat oleh-oleh dan icip kopi bubuknya di rumah, belum pernah langsung datang ke store-nya...Pilihan minumannya cukup beragam.
Ada menu coffee based, tea based, float, hingga juice. Beberapa pilihan yang tersedia antara lain: Kopi O Kok Tong, Kopi Susu Kok Tong, Teh Tarik, Yin Yang, Fresh Milk Kopi Jelly, Kopi Susu Float, Juice Martabe dan lainnya dengan harga berada di kisaran Rp12.000–Rp48.000.
Untuk makanan juga cukup banyak pilihannya.
Untuk makanan juga cukup banyak pilihannya.
Mulai dari menu sarapan, makanan berat, sampai camilan khas kopitiam. Ada: Bubur Ayam, Bubur Ikan, Kwetiau Sapi, Nasi Siram Sapi, Nasi Goreng Kok Tong, Nasi Soto Medan Sapi, Mie Bangladesh Komplit, Roti Bakar Srikaya, Kue Lobak dan lainnya dengan harga makanan berada di kisaran Rp20.000–Rp58.000.
Kalau melihat pilihan menunya, datang ke sini sepertinya tidak cukup hanya untuk ngopi, bisa sekalian makan juga.
Kalau melihat pilihan menunya, datang ke sini sepertinya tidak cukup hanya untuk ngopi, bisa sekalian makan juga.
Nasi Soto Medan Sapi dan Es Kopi Susu Kok Tong
Setelah mempertimbangkan beberapa menu, akhirnya saya dan Mbak Sri sama-sama memesan Nasi Soto Medan Sapi (56K). Untuk minuman, saya memilih Es Kopi Susu Kok Tong (32K), sedangkan Mbak Sri memesan Es Teh Tarik (28K).Saya memang punya hubungan nostalgia dengan kuliner Sumatera Utara. Dulu saya pernah tinggal di sana selama kurang lebih lima tahunan. Jadi, makanan khas (Melayu) Medan dan Sumatera Utara cukup akrab dengan lidah saya.
Makanya ketika melihat ada Soto Medan di menu, rasanya seperti menemukan sedikit obat kangen. Dan setelah dicicipi...Not bad lah. Lumayan untuk mengobati rasa rindu dengan kuliner Sumatera Utara.
Porsi nasinya banyak (untuk ukuran saya). Di mangkuk terpisah ada soto berkuah santan bertekstur agak kental, dengan isian daging berpotongan cukup besar. Menu ini dilengkapi sepotong perkedel, sebungkus emping, sambal serta jeruk nipis dan kecap.
Untuk kopinya sendiri, terasa khas kopi kopitiam legend. Ada sensasi berbeda ketika menikmati kopi dari tempat yang sudah punya perjalanan panjang seperti ini. Bukan seperti kedai kopi kekinian yang sekarang bisa kita temukan dengan mudah di berbagai sudut kota. Ini memang istimewa!
Sementara, untuk pelayanannya juga cukup cepat, ramah dan kualitas makanannya baik.
Untuk kopinya sendiri, terasa khas kopi kopitiam legend. Ada sensasi berbeda ketika menikmati kopi dari tempat yang sudah punya perjalanan panjang seperti ini. Bukan seperti kedai kopi kekinian yang sekarang bisa kita temukan dengan mudah di berbagai sudut kota. Ini memang istimewa!
Sementara, untuk pelayanannya juga cukup cepat, ramah dan kualitas makanannya baik.
Ngopi Sambil Nostalgia Kuliner Medan
Buat saya, kunjungan ke Lim Kok Tong kali ini bukan sekadar makan siang dan ngopi bersama teman. Ada rasa nostalgia yang ikut muncul.Apalagi kali ini saya ditemani Mbak Sri yang merupakan orang asli Medan. Obrolan tentang makanan, Medan, dan pengalaman masing-masing tentu jadi semakin seru. Memang ya, makanan sering kali punya kemampuan ajaib untuk membawa kita kembali ke sebuah tempat atau masa tertentu.
Tidak harus kembali ke kota asal kenangan. Kadang cukup menemukan rasa yang familiar.
Di tengah menjamurnya kedai kopi kekinian dengan berbagai konsep yang terus berganti, saya justru senang masih bisa menemukan tempat seperti Lim Kok Tong. Sebuah kopitiam yang sudah melewati 101 tahun perjalanan tentu menyimpan cerita yang tidak sedikit.
Dari Lim Tie Kie sebagai generasi pertama yang datang ke Indonesia, kemudian membuka kopitiam di Pematang Siantar pada tahun 1925, hingga diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya sampai berkembang seperti sekarang.
Lebih dari satu abad bukan waktu yang sebentar. Dan menurut saya, inilah salah satu hal yang membuat kopi legend seperti Lim Kok Tong menarik.
Bukan hanya rasa kopinya. Tetapi juga sejarah, tradisi, dan perjalanan sebuah usaha keluarga yang mampu bertahan lintas generasi.
Semoga Kopi Legend Terus Bertahan
Semoga kopi-kopi legend seperti Lim Kok Tong akan terus ada dan tidak tergerus zaman. Karena di tengah tren kopi kekinian yang datang silih berganti, selalu ada tempat bagi kopi dengan cerita panjang.Apalagi buat saya, ngopi bersama teman seperti ini bukan sekadar menikmati makanan dan minuman. Ada obrolan, nostalgia, dan kesempatan untuk sejenak berhenti dari rutinitas. Sederhana memang, tetapi hal-hal kecil seperti ini bisa menjadi bentuk self healing. Tidak harus selalu pergi jauh atau melakukan sesuatu yang istimewa. Kadang, cukup duduk santai sambil menikmati secangkir kopi dan mengenang cerita masa lalu saja sudah membuat hati terasa lebih ringan
Bagi saya, menikmati secangkir kopi di kopitiam seperti ini juga bukan sekadar urusan rasa. Ada sejarah yang ikut kita teguk, tradisi yang masih dipertahankan, dan ada cerita lintas generasi yang membuat secangkir kopi terasa lebih istimewa.
Jadi, kalau suatu saat sedang ingin menikmati kopi dengan nuansa kopitiam legend, Lim Kok Tong bisa masuk dalam daftar tempat yang ingin dikunjungi.
Saya sendiri masih penasaran dengan cabang lainnya, sekaligus ingin mencoba menu-menunya.. Mungkin kunjungan saya berikutnya bersama keluarga, ngopi, makan, sekaligus bernostalgia dengan cita rasa Sumatera Utara.
Kenapa tidak, kan? 💝
Bagi saya, menikmati secangkir kopi di kopitiam seperti ini juga bukan sekadar urusan rasa. Ada sejarah yang ikut kita teguk, tradisi yang masih dipertahankan, dan ada cerita lintas generasi yang membuat secangkir kopi terasa lebih istimewa.
Jadi, kalau suatu saat sedang ingin menikmati kopi dengan nuansa kopitiam legend, Lim Kok Tong bisa masuk dalam daftar tempat yang ingin dikunjungi.
Saya sendiri masih penasaran dengan cabang lainnya, sekaligus ingin mencoba menu-menunya.. Mungkin kunjungan saya berikutnya bersama keluarga, ngopi, makan, sekaligus bernostalgia dengan cita rasa Sumatera Utara.
Kenapa tidak, kan? 💝
Lim Kok Tong - Kopitiam
Jalan Green Ville Raya Blok A No 7, RT.3/RW.9
Duri Kepa, Kec. Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11510
Salam Bahagia
Dian Restu Agustina



Ternyata mbak Dian melepas rindu pula sekalian karena pernah di Medan, jadi bisa menyantap hidangan rindu di Kopi Lim Kok Tong bareng bestie.
BalasHapusIni nih asiknya di tempat yang legendaris, rasa yang otentiknya itu ga berubah ya mbak, makanya bertahan terus
Memang legend ya, bisa sampai 101 tahun gitu tetap eksis. Aku engga terlalu tahu kopi. Tapi dikit-dikit bisa lah bedain mana kopitiam yang emang rasa kopinya nendang, dibandingkan kopi kekinian yang lebih kuat rasa susunya. Nasi Soto Medan, penampakannya mirip Soto Betawi ga sih? Hum...pengen loh ke Medan (belum pernah), pastinya akan mampir ke Lim Kok Tong.
BalasHapus