Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menghidupkan Sunah Nabi di Era Modern Bersama Ustadz Taufik Al Miftah

Senin, 14 September 2026, pagi saya kembali berkesempatan menghadiri kajian akhwat untuk umum. Kali ini kajian diselenggarakan oleh MT Sahabat Surga di Masjid At Tawwaab, Jl. Basoka Raya No. 96, Larangan Indah, Tangerang.

Kajian menghadirkan Ustadz Taufik Al Miftah sebagai narasumber. Tema yang diangkat cukup menarik dan terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni:
“Menghidupkan Sunah Nabi di Era Modern”
Sebuah tema yang menarik mengingat kita hidup di zaman yang serba cepat. Teknologi berkembang, gaya hidup berubah, begitu pula kebiasaan kita sehari-hari. 

Di tengah perubahan tersebut, bagaimana caranya agar sunah Rasulullah ï·º tetap hidup dalam keseharian kita?

Ternyata, menghidupkan sunah tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Justru bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang sering kita lakukan setiap hari.


Apa sebenarnya arti sunah?

Di awal kajian, Ustadz Taufik Al Miftah mengajak jamaah memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan sunah.

Secara sederhana, sunah berarti kebiasaan. Namun ketika berbicara tentang sunah Nabi, yang dimaksud adalah kebiasaan, tuntunan, dan contoh kebaikan yang dilakukan Rasulullah ï·º dan kemudian kita ikuti dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan sejak bangun tidur hingga kembali tidur, sebenarnya ada begitu banyak sunah yang bisa kita praktikkan. 

Menariknya, Ustadz Taufik mengingatkan agar kita jangan pernah meremehkan sunah, meskipun terlihat kecil. 

Misalnya makan menggunakan tangan kanan, makan sambil duduk, mengucapkan salam, atau berbagai adab sederhana lainnya. Mungkin bagi sebagian orang hal-hal tersebut terlihat sepele.

Namun ketika kita sudah mengetahui bahwa itu merupakan sunah Rasulullah ï·º, jangan sampai justru kita meremehkannya. 

“Kalau belum mampu istiqamah menjalankan sunah, jangan meremehkan sunah.” 

Kalimat ini menurut saya cukup menohok. Sebab terkadang kita memang belum mampu menjalankan semua sunah secara konsisten. Tetapi setidaknya hati kita tetap menghargainya dan berusaha perlahan untuk mengamalkannya.

Sunah adalah Jalan untuk Mempertahankan Hidayah

Ustadz Taufik menyampaikan bahwa salah satu hal yang luar biasa dari sunah adalah bahwa sunah dapat menjadi sebab datangnya hidayah. Karena itu, jika kita ingin tetap berada di jalan yang diridai Allah, jangan membiasakan diri menganggap remeh sunah.

Dalam Al-Qur'an, ketaatan kepada Allah juga sering disandingkan dengan ketaatan kepada Rasulullah ï·º. Salah satunya sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa ayat 80:

Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.”

Artinya, kecintaan dan ketaatan kepada Rasulullah ï·º tidak cukup hanya diucapkan. Salah satu bentuk nyatanya adalah berusaha mengikuti apa yang beliau contohkan.

Menghidupkan sunah berarti berusaha menghadirkan Rasulullah ï·º dalam kehidupan kita melalui tuntunan dan kebiasaan beliau.

Lima Keutamaan Menghidupkan Sunah

Dalam kajian ini, Ustadz Taufik menjelaskan beberapa keutamaan ketika kita berusaha menghidupkan sunah Rasulullah ï·º.

1. Sebagai bukti ketaatan kepada Allah

Mengikuti sunah Rasulullah ï·º merupakan salah satu bukti bahwa kita taat kepada Allah. Bukan hanya karena ingin mendapatkan pahala, tetapi karena kita ingin menjalani kehidupan sebagaimana yang dicontohkan oleh manusia terbaik, Rasulullah Muhammad ï·º. Semakin kita mengenal Rasulullah, semestinya semakin besar pula keinginan untuk mengikuti beliau.

2. Menyempurnakan pahala amal kebaikan

Manusia tentu tidak pernah bisa merasa bahwa ibadahnya sudah sempurna. Salat wajib kita mungkin masih banyak kurang khusyuknya. Puasa kita mungkin belum sempurna. Amal kebaikan yang kita lakukan pun mungkin masih jauh dari kualitas yang seharusnya. Karena itu, amalan-amalan sunah menjadi penyempurna.

Ustadz Taufik memberikan contoh salat rawatib yang mengiringi salat wajib. Ada pula puasa sunah seperti puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh, puasa Daud, dan puasa enam hari di bulan Syawal.

Salah satu yang ditekankan adalah salat rawatib 12 rakaat. Dalam hadis disebutkan keutamaannya berupa dibangunkan rumah di surga. Rinciannya adalah: 2 rakaat sebelum Subuh, 4 rakaat sebelum Zuhur, 2 rakaat setelah Zuhur, 2 rakaat setelah Magrib, 2 rakaat setelah Isya

Mendengar bagian ini saya jadi kembali diingatkan: ternyata amalan sunah itu bukan sekadar tambahan, tetapi bisa menjadi penyempurna kekurangan dalam ibadah wajib kita.

3. Mendapatkan cinta Allah

Ini tentu menjadi salah satu keutamaan yang paling kita harapkan. Ketika Allah mencintai seorang hamba, kecintaan itu bukan hanya menjadi hubungan antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Dalam hadis yang disampaikan Ustadz Taufik, Allah akan memberitahukan kecintaan-Nya kepada Jibril, kemudian Jibril mencintai orang tersebut dan para malaikat pun mencintainya.

Betapa luar biasanya jika seorang manusia mendapatkan cinta dari Allah. Maka menghidupkan sunah bukan sekadar menjalankan kebiasaan Rasulullah ï·º, tetapi juga menjadi salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

4. Berharap bersama Rasulullah ï·º di surga

Nah, ini yang membuat hati terasa hangat. Ustadz Taufik menyampaikan hadis:

Barang siapa menghidupkan sunahku, maka sungguh dia telah mencintaiku. Dan barang siapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku di surga.”

Betapa indahnya janji tersebut. Selama ini kita sering mengatakan bahwa kita mencintai Rasulullah ï·º. Namun cinta tentu membutuhkan bukti. Salah satu buktinya adalah berusaha mengikuti sunah beliau. Jadi, kalau ingin bersama Rasulullah ï·º di surga, salah satu jalannya adalah mulai menghidupkan sunah beliau dari sekarang.

5. Menjadi penghapus dosa

Keutamaan lainnya adalah amalan kebaikan dapat menjadi sebab terhapusnya keburukan. Ustadz Taufik mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak pernah lepas dari dosa dan kesalahan. Karena itu, jangan biarkan jarak antara satu amal kebaikan dengan amal kebaikan berikutnya terlalu panjang.

Setelah melakukan satu kebaikan, lanjutkan dengan kebaikan lainnya. Salat, puasa, sedekah, membaca Al-Qur'an, berdzikir, memperbanyak sujud dan berbagai amalan sunah lainnya menjadi kesempatan bagi kita untuk terus menambah timbangan kebaikan. 

Jangan biarkan waktu kosong tanpa kebaikan. Ada satu nasihat yang menurut saya sangat relevan dengan kehidupan modern. Orang beriman seharusnya terbiasa berpindah dari satu kebaikan menuju kebaikan berikutnya.

Selesai salat Zuhur, menunggu datangnya waktu Asar dengan aktivitas yang bermanfaat. Ketika memiliki waktu luang, jangan selalu diisi dengan scrolling media sosial, menonton sesuatu yang tidak bermanfaat, atau sekadar membuang waktu.

Kalau masih ada waktu, mengapa tidak digunakan untuk amalan sunah? Puasa Senin-Kamis, misalnya. Kalau Senin sedang tidak memungkinkan, mungkin Kamis bisa dilakukan. Atau ketika ada waktu senggang, kita bisa membaca Al-Qur'an, berdzikir, bershalawat, memperbanyak doa, atau melakukan kebaikan lainnya. Karena waktu yang kosong sangat mudah diisi dengan hal-hal yang sia-sia. 

Bagaimana Menghidupkan Sunah di Era Modern?

Pertanyaan berikutnya tentu saja: bagaimana caranya kita bisa konsisten menghidupkan sunah di tengah kehidupan modern? 
 
Ustadz Taufik mengawali jawabannya dengan satu hal yang sangat mendasar: Kuatkan niat. Niat menjadi kunci

Jangan melakukan sunah hanya karena ikut-ikutan atau sekadar mengikuti tren. Lakukan karena kita memang ingin mengikuti Rasulullah ï·º dan mengharap rida Allah.

Ustadz Taufik memberikan contoh ketika seseorang melakukan sesuatu yang dicontohkan Rasulullah. Misalnya mencium Hajar Aswad. Mengapa kita melakukannya? Bukan karena menganggap batu tersebut bisa memberikan manfaat atau mudarat. Tetapi karena kita mengetahui bahwa Rasulullah ï·º melakukannya.

Itulah yang dilakukan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Beliau mencium Hajar Aswad bukan karena menganggap batu tersebut memiliki kekuatan, tetapi karena melihat Rasulullah ï·º melakukannya.

Jadi, “Karena Rasulullah” bisa menjadi jawaban sederhana dari banyak sunah yang kita lakukan.

Sunah Tidak Boleh Menjadi Alat untuk Menghakimi Orang Lain

Ada hal lain yang juga menurut saya penting dari kajian ini. Ketika kita mulai belajar dan mengamalkan sunah, jangan sampai kemudian kita merasa lebih baik daripada orang lain. Sunah seharusnya menjadi tuntutan untuk memperbaiki diri sendiri, bukan senjata untuk menghakimi orang lain.

Kalau kita merasa masih berat melakukan tahajud, misalnya, justru introspeksi diri. “Kenapa saya masih berat?” Begitu juga ketika kita belum mampu istiqamah menjalankan amalan sunah tertentu. Jadikan itu sebagai bahan evaluasi diri.

Tetapi jangan kemudian memaksa orang lain atau menganggap orang yang meninggalkan amalan sunah sebagai orang yang buruk. Karena ketika sesuatu hukumnya sunah, jangan kita posisikan seolah-olah hukumnya wajib.

Jangan Lupakan Sunah yang Mulai Ditinggalkan

Salah satu contoh yang diberikan Ustadz Taufik adalah mengucapkan salam. Saat ini sapaan seperti “hai”, “halo”, atau “hai guys” terasa jauh lebih umum digunakan. Padahal kita memiliki ucapan yang begitu indah: Assalamu'alaikum.

Salam bukan hanya untuk orang yang sudah kita kenal. Berjumpa dengan orang lain, masuk rumah, bertemu teman, guru, bahkan kepada orang yang belum kita kenal sekalipun, kita bisa membiasakan mengucapkan salam. Hal sederhana seperti ini mungkin terlihat kecil. Namun justru kebiasaan-kebiasaan kecil seperti inilah yang perlu kembali kita hidupkan.

Bayangkan kalau anak-anak kita sejak kecil dibiasakan masuk rumah dengan mengucapkan salam, bertemu orang mengucapkan salam, dan berpamitan juga dengan salam. Insya Allah kebiasaan itu akan menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Cinta Kepada Rasulullah Harus Dibuktikan

Pada akhirnya, kajian ini membawa saya pada satu kesimpulan sederhana: mengaku mencintai Rasulullah ï·º tentu mudah, tapi membuktikan cinta membutuhkan usaha.

Salah satunya dengan mengenal sunah beliau dan berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak harus langsung sempurna atau sekaligus menjalankan semuanya. Mulailah dari yang sederhana. Mulai dari: 
  • Mengucapkan salam.
  • Makan dengan tangan kanan.
  • Membaca doa sebelum melakukan aktivitas.
  • Menjaga salat rawatib.
  • Memperbanyak sujud.
  • Memperbanyak shalawat.
  • Mengisi waktu luang dengan kebaikan.

Dan, .... terus belajar mengenal bagaimana Rasulullah ï·º menjalani kehidupannya.

Karena sebagaimana disampaikan dalam kajian ini, menghidupkan sunah bukan hanya tentang melakukan sesuatu yang pernah dilakukan Rasulullah, tapi tentang menghadirkan tuntunan beliau dalam keseharian kita.

Penutup: Semoga Sunah Tidak Hanya Menjadi Materi Kajian

Dua jam mengikuti kajian rasanya berlalu begitu cepat. Materinya cukup banyak, disampaikan dengan gaya yang ringan, diselingi humor, tetapi tetap membawa banyak bahan renungan.

Saya pulang dengan satu pengingat penting: jangan sampai sunah hanya menjadi pengetahuan yang kita dengar di majelis, tetapi tidak pernah menjadi kebiasaan dalam kehidupan.

Tidak perlu menunggu menjadi orang yang sempurna untuk mulai menghidupkan sunah.

Mulai saja dari hal-hal kecil yang kita mampu. Karena mungkin bagi kita itu hanya sebuah salam, doa, cara makan, cara tidur, atau amalan sederhana lainnya. Tetapi jika dilakukan karena ingin mengikuti Rasulullah ï·º dan mengharap rida Allah, semoga menjadi bagian dari cinta kita kepada beliau.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk mengenal, mencintai, mengamalkan, dan menghidupkan sunah Rasulullah ï·º dalam kehidupan sehari-hari.

Dan semoga kelak kita termasuk orang-orang yang mendapatkan janji indah itu: bersama Rasulullah ï·º di surga.

Aamiin ya Rabbal 'alamin. 



Salam Semangat

Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

Posting Komentar untuk "Menghidupkan Sunah Nabi di Era Modern Bersama Ustadz Taufik Al Miftah"