Menumbuhsuburkan Mahabbah kepada Rasulullah SAW Bersama Ustaz Abi Makki
Alhamdulillah pada hari Selasa, 8 September 2026, saya berkesempatan mengikuti Kajian Khusus Muslimah yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim Al Ikhlas Karang Tengah Permai. Kajian berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB di Masjid Al Ikhlas, Kompleks Karang Tengah Permai, Ciledug, Tangerang.
Tema yang diangkat kali ini begitu dekat dengan hati seorang muslim, yaitu “Menumbuhsuburkan Mahabbah kepada Rasulullah SAW”, bersama Ustaz Abi Makki. Kajian disampaikan dengan gaya yang ringan, komunikatif, sesekali diselingi humor, tetapi banyak sekali bagian yang membuat saya merenung.
Tema yang diangkat kali ini begitu dekat dengan hati seorang muslim, yaitu “Menumbuhsuburkan Mahabbah kepada Rasulullah SAW”, bersama Ustaz Abi Makki. Kajian disampaikan dengan gaya yang ringan, komunikatif, sesekali diselingi humor, tetapi banyak sekali bagian yang membuat saya merenung.
(Mahabbah berasal dari kata bahasa Arab ahabba - yuhibbu - mahabbatan, yang berarti menyukai atau mencintai secara mendalam)
Satu pertanyaan besar menjadi pembuka kajian: mengapa kita harus mencintai Rasulullah SAW?
Ternyata jawabannya bukan sekadar karena Rasulullah adalah manusia pilihan Allah. Ada alasan yang jauh lebih dalam. Apa saja? Yuk, lanjut bacanya!
1. Karena mencintai dan mengikuti Rasulullah adalah perintah Allah
Allah memerintahkan kita untuk mengikuti apa yang dibawa Rasulullah dan meninggalkan apa yang beliau larang. Namun, bagaimana mungkin kita bisa mengikuti seseorang dengan senang hati jika tidak memiliki rasa cinta kepadanya?
Sederhana saja. Ketika kita mencintai seseorang, biasanya kita akan senang mengikuti hal-hal yang dilakukannya. Kita bahkan bisa dengan sukarela meniru gaya, kebiasaan, atau sesuatu yang menjadi ciri khas orang yang kita idolakan.
Begitu pula dengan Rasulullah. Ketika rasa cinta kepada beliau tumbuh, mengikuti sunnah tidak lagi terasa sebagai beban. Kita justru merasa bangga ketika bisa meneladani Rasulullah SAW.
Karena itu, mahabbah bukan sekadar perasaan. Cinta kepada Rasulullah seharusnya melahirkan keinginan untuk mengikuti beliau.
2. Rasulullah adalah jalan untuk mengenal dan mendekat kepada Allah
Alasan kedua yang disampaikan Ustaz Abi Makki membuat saya semakin memahami posisi Rasulullah SAW dalam kehidupan seorang muslim.
Rasulullah adalah uswatun hasanah, teladan terbaik. Allah menurunkan Al-Qur'an, kemudian Rasulullah menjelaskan dan mempraktikkan bagaimana ajaran tersebut dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Cara salat, puasa, haji, makan, tidur, berjalan, berinteraksi dengan orang lain, memperlakukan pasangan, bahkan adab-adab kecil dalam kehidupan sehari-hari pun memiliki contoh dari Rasulullah. Inilah salah satu hal yang menarik dari kehidupan Rasulullah. Beliau bukan hanya menyampaikan teori, tetapi memberikan contoh secara langsung.
Al-Qur'an memerintahkan kita untuk mendirikan salat. Rasulullah kemudian memberikan contoh bagaimana salat itu dilakukan. Begitu juga dengan ibadah haji dan berbagai aspek kehidupan lainnya.
Jadi kalau kita ingin mengetahui bagaimana menjadi seorang muslim yang baik, salah satu jalan terbaik adalah mempelajari bagaimana Rasulullah menjalani kehidupannya.
Menariknya, akhlak Rasulullah bahkan digambarkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha sebagai akhlak Al-Qur'an. Apa yang diperintahkan Al-Qur'an beliau jalankan, dan apa yang dilarang beliau tinggalkan.
3. Karena Rasulullah SAW sangat mencintai dan mengkhawatirkan umatnya
Ini bagian kajian yang paling membuat hati saya tersentuh. Selama ini kita sering berbicara tentang kerinduan kita kepada Rasulullah. Kita mengatakan mencintai Rasulullah, bershalawat, membaca sirah, atau mengikuti kajian tentang kehidupan beliau.
Tetapi pernahkah kita berhenti dan menyadari bahwa Rasulullah SAW juga sangat mencintai kita, umatnya yang bahkan belum pernah beliau jumpai?
Ustaz Abi Makki mengingatkan pada QS At-Taubah ayat 128:
“Laqad jaakum rasulum min anfusikum ‘azizun ‘alaihi ma ‘anittum harisun ‘alaikum bil mukminina ra’ufur rahim.”
Rasulullah sangat berat merasakan penderitaan umatnya, sangat menginginkan kebaikan bagi orang-orang beriman, dan begitu penyantun serta penyayang.
Kisah yang disampaikan tentang seorang anak kecil bernama Umair juga membuat saya semakin memahami kelembutan Rasulullah. Umair bersedih karena burung kecil kesayangannya mati. Rasulullah yang memperhatikan ketidakhadirannya di masjid kemudian mendatanginya dan menghiburnya. Bahkan Rasulullah mengajaknya berbicara mengenai burung kecil tersebut.
Bagi kita mungkin kehilangan seekor burung adalah persoalan kecil. Tetapi bagi seorang anak, kehilangan sesuatu yang disayanginya bisa menjadi kesedihan yang besar. Dan Rasulullah memahami itu. Beliau tidak menganggap remeh kesedihan orang lain.
Ada pula kisah seorang budak yang menangis karena kehilangan uang milik majikannya. Rasulullah tidak hanya bertanya mengapa ia menangis, tetapi ikut membantu mencarinya. Ketika uang tersebut ditemukan, ternyata masalah belum selesai. Budak itu justru takut dimarahi karena terlambat.
Apa yang dilakukan Rasulullah? Beliau mengantarkan budak tersebut menemui majikannya dan meminta agar ia tidak dimarahi. Dari sini saya belajar bahwa cinta Rasulullah kepada umatnya bukan sekadar kata-kata. Beliau hadir ketika umatnya sedang kesusahan, pun tidak memandang status seseorang.
Dan yang paling indah, dakwah Rasulullah bukan hanya melalui ucapan, tetapi melalui akhlak dan tindakan nyata.
Tetapi pertanyaannya: Sudahkah cinta itu terlihat dalam perilaku kita?
Karena cinta kepada Rasulullah bukan hanya sesuatu yang tersimpan di hati atau terucap di lisan. Cinta seharusnya membuat kita ingin mengikuti jejak beliau, meniru akhlaknya, menghormati beliau, dan menjalankan apa yang beliau ajarkan.
Kalau Rasulullah mengajarkan kelembutan, maka kita belajar menjadi lembut. Jika Rasulullah mengajarkan kepedulian, kita belajar peduli. Sebab Rasulullah mengajarkan memaafkan, kita belajar memaafkan. Saat Rasulullah mengajarkan adab, maka kita berusaha memperbaiki adab.
Sebab ternyata, akhlak adalah salah satu bentuk cinta yang paling nyata.
Ustaz Abi Makki bahkan menyampaikan bahwa bagian tersulit dari dakwah bukanlah berdiri di mimbar, menghafalkan ayat atau hadis, tetapi menghadirkan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Kalimat ini terasa sederhana, tetapi justru mungkin menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi kita.
Ustaz Abi Makki mengajak jamaah memahami perbedaan antara ibadah dan tradisi. Ibadah membutuhkan dalil, sementara tradisi pada dasarnya diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat dan membawa kebaikan.
Dalam konteks Maulid Nabi, yang menjadi titik tekan adalah bagaimana sebuah kegiatan dapat menjadi sarana untuk mengingat Rasulullah dan menumbuhkan mahabbah kepada beliau.
Bukan sekadar memperingati tanggal kelahiran. Tak hanya sekadar acara seremonial. Tetapi menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah cinta kepada Rasulullah benar-benar “lahir” di dalam hati kita? Sebab kalau cinta sudah tumbuh, semestinya ada perubahan dalam diri kita. Lebih rajin bershalawat, makin senang mempelajari sirah, ingin lebih mengikuti sunnah, juga tambah menjaga adab. Dan lebih berusaha menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Ustaz Abi Makki menyampaikan kisah tentang seorang Badui yang bertanya kepada Rasulullah mengenai kapan datangnya kiamat. Alih-alih menjawab kapan kiamat terjadi, Rasulullah justru bertanya tentang apa yang sudah dipersiapkan untuk menghadapinya. Orang tersebut menjawab bahwa ia tidak memiliki banyak bekal amal, tetapi ia mencintai Rasulullah.
Kemudian Rasulullah menyampaikan sebuah kalimat yang begitu menenangkan: “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”
Kalimat ini membuat para sahabat bergembira. Abu Hurairah bahkan disebut sangat menyukai hadis tersebut karena ia memiliki harapan untuk dapat bersama Rasulullah di akhirat.
Dan di sinilah alasan keempat mengapa kita harus mencintai Rasulullah: Agar kelak kita dapat bersama beliau. Masya Allah...Bukankah itu sebuah harapan yang luar biasa?
Kita mungkin merasa amal ibadah kita masih jauh dari sempurna. Salat kita masih perlu diperbaiki. Sedekah kita masih sedikit. Puasa dan amal-amal lainnya pun mungkin belum seberapa. Namun kita memiliki satu harapan: mencintai Rasulullah SAW dan berusaha mengikuti jejak beliau.
Tentu cinta itu tidak boleh berhenti sebagai pengakuan.
Ustaz Abi Makki memberikan analogi sederhana. Orang yang haus tidak akan hilang dahaganya hanya dengan mengatakan, “Minum, minum, minum,” berkali-kali. Ia harus benar-benar minum.
Begitu juga cinta kepada Rasulullah. Tidak cukup hanya berkata, “Aku cinta Rasulullah.” Cinta harus dipraktikkan. Apa yang Rasulullah ajarkan, kita berusaha menjalankannya. Apa yang beliau larang, kita tinggalkan. Dan akhlak beliau kita jadikan teladan dalam kehidupan.
Saya mungkin belum mampu meneladani Rasulullah secara sempurna. Namun setidaknya saya ingin terus belajar: belajar mengenal beliau, mencintai beliau, mengikuti sunnahnya, belajar memperbaiki adab, dan belajar menjadi pribadi yang lebih lembut, lebih peduli, lebih penyayang kepada orang-orang di sekitar.
Karena pada akhirnya, mahabbah kepada Rasulullah bukan hanya tentang merindukan beliau. Tetapi tentang membuktikan kerinduan itu melalui kehidupan kita.
Semoga Allah menumbuhsuburkan mahabbah kita kepada Rasulullah SAW, menjadikan kita umat yang benar-benar mencintai dan mengikuti beliau, serta mengumpulkan kita bersama Rasulullah kelak di surga-Nya.
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Satu pertanyaan besar menjadi pembuka kajian: mengapa kita harus mencintai Rasulullah SAW?
Ternyata jawabannya bukan sekadar karena Rasulullah adalah manusia pilihan Allah. Ada alasan yang jauh lebih dalam. Apa saja? Yuk, lanjut bacanya!
Mengapa Kita Harus Mencintai Rasulullah?
Ustaz Abi Makki menyampaikan setidaknya empat alasan utama mengapa seorang muslim harus mencintai Rasulullah SAW.1. Karena mencintai dan mengikuti Rasulullah adalah perintah Allah
Allah memerintahkan kita untuk mengikuti apa yang dibawa Rasulullah dan meninggalkan apa yang beliau larang. Namun, bagaimana mungkin kita bisa mengikuti seseorang dengan senang hati jika tidak memiliki rasa cinta kepadanya?
Sederhana saja. Ketika kita mencintai seseorang, biasanya kita akan senang mengikuti hal-hal yang dilakukannya. Kita bahkan bisa dengan sukarela meniru gaya, kebiasaan, atau sesuatu yang menjadi ciri khas orang yang kita idolakan.
Begitu pula dengan Rasulullah. Ketika rasa cinta kepada beliau tumbuh, mengikuti sunnah tidak lagi terasa sebagai beban. Kita justru merasa bangga ketika bisa meneladani Rasulullah SAW.
Karena itu, mahabbah bukan sekadar perasaan. Cinta kepada Rasulullah seharusnya melahirkan keinginan untuk mengikuti beliau.
2. Rasulullah adalah jalan untuk mengenal dan mendekat kepada Allah
Alasan kedua yang disampaikan Ustaz Abi Makki membuat saya semakin memahami posisi Rasulullah SAW dalam kehidupan seorang muslim.
Rasulullah adalah uswatun hasanah, teladan terbaik. Allah menurunkan Al-Qur'an, kemudian Rasulullah menjelaskan dan mempraktikkan bagaimana ajaran tersebut dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Cara salat, puasa, haji, makan, tidur, berjalan, berinteraksi dengan orang lain, memperlakukan pasangan, bahkan adab-adab kecil dalam kehidupan sehari-hari pun memiliki contoh dari Rasulullah. Inilah salah satu hal yang menarik dari kehidupan Rasulullah. Beliau bukan hanya menyampaikan teori, tetapi memberikan contoh secara langsung.
Al-Qur'an memerintahkan kita untuk mendirikan salat. Rasulullah kemudian memberikan contoh bagaimana salat itu dilakukan. Begitu juga dengan ibadah haji dan berbagai aspek kehidupan lainnya.
Jadi kalau kita ingin mengetahui bagaimana menjadi seorang muslim yang baik, salah satu jalan terbaik adalah mempelajari bagaimana Rasulullah menjalani kehidupannya.
Menariknya, akhlak Rasulullah bahkan digambarkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha sebagai akhlak Al-Qur'an. Apa yang diperintahkan Al-Qur'an beliau jalankan, dan apa yang dilarang beliau tinggalkan.
3. Karena Rasulullah SAW sangat mencintai dan mengkhawatirkan umatnya
Ini bagian kajian yang paling membuat hati saya tersentuh. Selama ini kita sering berbicara tentang kerinduan kita kepada Rasulullah. Kita mengatakan mencintai Rasulullah, bershalawat, membaca sirah, atau mengikuti kajian tentang kehidupan beliau.
Tetapi pernahkah kita berhenti dan menyadari bahwa Rasulullah SAW juga sangat mencintai kita, umatnya yang bahkan belum pernah beliau jumpai?
Ustaz Abi Makki mengingatkan pada QS At-Taubah ayat 128:
“Laqad jaakum rasulum min anfusikum ‘azizun ‘alaihi ma ‘anittum harisun ‘alaikum bil mukminina ra’ufur rahim.”
Rasulullah sangat berat merasakan penderitaan umatnya, sangat menginginkan kebaikan bagi orang-orang beriman, dan begitu penyantun serta penyayang.
Kisah yang disampaikan tentang seorang anak kecil bernama Umair juga membuat saya semakin memahami kelembutan Rasulullah. Umair bersedih karena burung kecil kesayangannya mati. Rasulullah yang memperhatikan ketidakhadirannya di masjid kemudian mendatanginya dan menghiburnya. Bahkan Rasulullah mengajaknya berbicara mengenai burung kecil tersebut.
Bagi kita mungkin kehilangan seekor burung adalah persoalan kecil. Tetapi bagi seorang anak, kehilangan sesuatu yang disayanginya bisa menjadi kesedihan yang besar. Dan Rasulullah memahami itu. Beliau tidak menganggap remeh kesedihan orang lain.
Ada pula kisah seorang budak yang menangis karena kehilangan uang milik majikannya. Rasulullah tidak hanya bertanya mengapa ia menangis, tetapi ikut membantu mencarinya. Ketika uang tersebut ditemukan, ternyata masalah belum selesai. Budak itu justru takut dimarahi karena terlambat.
Apa yang dilakukan Rasulullah? Beliau mengantarkan budak tersebut menemui majikannya dan meminta agar ia tidak dimarahi. Dari sini saya belajar bahwa cinta Rasulullah kepada umatnya bukan sekadar kata-kata. Beliau hadir ketika umatnya sedang kesusahan, pun tidak memandang status seseorang.
Dan yang paling indah, dakwah Rasulullah bukan hanya melalui ucapan, tetapi melalui akhlak dan tindakan nyata.
Cinta Itu Harus Terlihat dalam Perilaku
Bagian ini rasanya menjadi inti penting dari kajian. Kita bisa mengatakan, “Aku cinta Rasulullah.” Lalu, bershalawat berkali-kali. Kita menangis ketika mendengar kisah perjuangan Rasulullah dan terharu ketika membaca sirah nabawiyah.Tetapi pertanyaannya: Sudahkah cinta itu terlihat dalam perilaku kita?
Karena cinta kepada Rasulullah bukan hanya sesuatu yang tersimpan di hati atau terucap di lisan. Cinta seharusnya membuat kita ingin mengikuti jejak beliau, meniru akhlaknya, menghormati beliau, dan menjalankan apa yang beliau ajarkan.
Kalau Rasulullah mengajarkan kelembutan, maka kita belajar menjadi lembut. Jika Rasulullah mengajarkan kepedulian, kita belajar peduli. Sebab Rasulullah mengajarkan memaafkan, kita belajar memaafkan. Saat Rasulullah mengajarkan adab, maka kita berusaha memperbaiki adab.
Sebab ternyata, akhlak adalah salah satu bentuk cinta yang paling nyata.
Ustaz Abi Makki bahkan menyampaikan bahwa bagian tersulit dari dakwah bukanlah berdiri di mimbar, menghafalkan ayat atau hadis, tetapi menghadirkan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Kalimat ini terasa sederhana, tetapi justru mungkin menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi kita.
Mahabbah Bukan Sekadar Memperingati, tetapi Menghidupkan Cinta
Kajian juga membahas tentang bagaimana menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah melalui majelis ilmu dan berbagai kegiatan yang mengingatkan kita kepada beliau.Ustaz Abi Makki mengajak jamaah memahami perbedaan antara ibadah dan tradisi. Ibadah membutuhkan dalil, sementara tradisi pada dasarnya diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat dan membawa kebaikan.
Dalam konteks Maulid Nabi, yang menjadi titik tekan adalah bagaimana sebuah kegiatan dapat menjadi sarana untuk mengingat Rasulullah dan menumbuhkan mahabbah kepada beliau.
Bukan sekadar memperingati tanggal kelahiran. Tak hanya sekadar acara seremonial. Tetapi menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah cinta kepada Rasulullah benar-benar “lahir” di dalam hati kita? Sebab kalau cinta sudah tumbuh, semestinya ada perubahan dalam diri kita. Lebih rajin bershalawat, makin senang mempelajari sirah, ingin lebih mengikuti sunnah, juga tambah menjaga adab. Dan lebih berusaha menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Hadiah Terindah: Bersama Orang yang Kita Cintai
Ada satu bagian terakhir dari kajian yang menurut saya sangat menguatkan hati.Ustaz Abi Makki menyampaikan kisah tentang seorang Badui yang bertanya kepada Rasulullah mengenai kapan datangnya kiamat. Alih-alih menjawab kapan kiamat terjadi, Rasulullah justru bertanya tentang apa yang sudah dipersiapkan untuk menghadapinya. Orang tersebut menjawab bahwa ia tidak memiliki banyak bekal amal, tetapi ia mencintai Rasulullah.
Kemudian Rasulullah menyampaikan sebuah kalimat yang begitu menenangkan: “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”
Kalimat ini membuat para sahabat bergembira. Abu Hurairah bahkan disebut sangat menyukai hadis tersebut karena ia memiliki harapan untuk dapat bersama Rasulullah di akhirat.
Dan di sinilah alasan keempat mengapa kita harus mencintai Rasulullah: Agar kelak kita dapat bersama beliau. Masya Allah...Bukankah itu sebuah harapan yang luar biasa?
Kita mungkin merasa amal ibadah kita masih jauh dari sempurna. Salat kita masih perlu diperbaiki. Sedekah kita masih sedikit. Puasa dan amal-amal lainnya pun mungkin belum seberapa. Namun kita memiliki satu harapan: mencintai Rasulullah SAW dan berusaha mengikuti jejak beliau.
Tentu cinta itu tidak boleh berhenti sebagai pengakuan.
Ustaz Abi Makki memberikan analogi sederhana. Orang yang haus tidak akan hilang dahaganya hanya dengan mengatakan, “Minum, minum, minum,” berkali-kali. Ia harus benar-benar minum.
Begitu juga cinta kepada Rasulullah. Tidak cukup hanya berkata, “Aku cinta Rasulullah.” Cinta harus dipraktikkan. Apa yang Rasulullah ajarkan, kita berusaha menjalankannya. Apa yang beliau larang, kita tinggalkan. Dan akhlak beliau kita jadikan teladan dalam kehidupan.
Pulang Membawa Pengingat
Dua jam mengikuti kajian pagi itu membuat saya pulang dengan satu kesadaran sederhana: ternyata mencintai Rasulullah bukan sekadar tentang seberapa sering kita mengucapkan cinta, tetapi seberapa jauh cinta tersebut mengubah diri kita.Saya mungkin belum mampu meneladani Rasulullah secara sempurna. Namun setidaknya saya ingin terus belajar: belajar mengenal beliau, mencintai beliau, mengikuti sunnahnya, belajar memperbaiki adab, dan belajar menjadi pribadi yang lebih lembut, lebih peduli, lebih penyayang kepada orang-orang di sekitar.
Karena pada akhirnya, mahabbah kepada Rasulullah bukan hanya tentang merindukan beliau. Tetapi tentang membuktikan kerinduan itu melalui kehidupan kita.
Semoga Allah menumbuhsuburkan mahabbah kita kepada Rasulullah SAW, menjadikan kita umat yang benar-benar mencintai dan mengikuti beliau, serta mengumpulkan kita bersama Rasulullah kelak di surga-Nya.
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Salam Semangat
Dian Restu Agustina

Posting Komentar untuk "Menumbuhsuburkan Mahabbah kepada Rasulullah SAW Bersama Ustaz Abi Makki"