Tausiyah Pengajian Menjelang Pernikahan yang Menyentuh Hati: Tentang Restu Orang Tua dan Amanah Pernikahan
Belum lama ini, saya menghadiri undangan pengajian menjelang pernikahan putra salah seorang tetangga. Acara yang berlangsung dalam suasana hangat dan khidmat ini dihadiri oleh keluarga calon pengantin, ibu-ibu majelis taklim masjid di kompleks tempat tinggal saya, serta para tetangga sekitar.
Pengajian seperti ini tentu bukan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Selain sebagai bentuk rasa syukur menjelang pernikahan, acara ini juga menjadi kesempatan untuk memanjatkan doa bersama agar calon pengantin diberikan kelancaran dalam menjalani hari bahagia dan kehidupan rumah tangganya kelak.
Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan Surah Ar-Rahman dan Surah Yasin, kemudian permohonan izin serta restu kepada kedua orang tua, dan ditutup dengan tausiyah.
Pembacaan Surah Ar-Rahman terasa begitu bermakna. Surah ini dikenal dengan pengulangan ayat:
"Fabiayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaan" yang artinya, "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Ayat tersebut mengingatkan kita untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah, termasuk nikmat dipertemukan dengan jodoh dan kesempatan membangun keluarga. Harapannya, calon pengantin kelak dapat membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
Namun, ada satu bagian acara yang benar-benar membekas di hati saya, yaitu tausiyah dari ustaz yang memberi tausiyah.
Jujur, rasanya jleb banget!
Ada banyak nasihat yang terdengar sederhana, tetapi begitu dalam maknanya. Beberapa di antaranya membuat saya kembali merenungkan hubungan anak dengan orang tua, makna pernikahan, serta tanggung jawab yang menyertai kehidupan berumah tangga.
Sayang rasanya jika nasihat sebaik ini hanya berlalu begitu saja. Karena itu, saya ingin menyimpannya di blog ini, sekaligus membagikannya kepada siapa saja yang mungkin membutuhkan pengingat serupa.
Restu Orang Tua Adalah Bekal Penting dalam Melangkah
Ustaz membuka tausiyah dengan mengingatkan bahwa cinta seorang anak kepada orang tuanya tidak akan pernah ada habisnya. Begitu pula cinta dan pengorbanan orang tua kepada anak, yang rasanya tidak akan pernah mampu dibalas sepenuhnya oleh seorang anak.
Sejak kecil, anak dirawat, dibesarkan, dididik, dan disekolahkan. Orang tua mendampingi perjalanan hidup anak hingga dewasa, bekerja, dan akhirnya siap memasuki jenjang pernikahan.
Ketika seorang anak hendak menikah, datanglah ia kepada kedua orang tuanya untuk memohon izin, restu, dan doa.
Mengapa hal ini begitu penting?
Ustaz menjelaskan bahwa doa orang tua untuk anak merupakan doa yang sangat istimewa. Beliau juga mengingatkan tentang sebuah hadis yang menyebutkan betapa besarnya kedudukan doa orang tua bagi anaknya.
Ketika orang tua meridai langkah anaknya, insyaallah langkah tersebut akan terasa lebih ringan dalam meniti kehidupan selanjutnya.
Saya jadi berpikir, terkadang kita terlalu sibuk mempersiapkan pernikahan dari sisi acara, pakaian, tempat, hingga berbagai kebutuhan lainnya. Padahal, ada hal yang jauh lebih mendasar untuk dipersiapkan, yaitu hati orang tua dan restu mereka.
Pernikahan bukan sekadar perayaan satu hari. Pernikahan adalah awal perjalanan panjang yang membutuhkan doa dan dukungan, termasuk dari orang-orang yang telah mengantarkan kita sampai pada titik tersebut.
Bersyukur atas Nikmat Allah, Termasuk Nikmat Jodoh
Ustaz kemudian mengingatkan pentingnya bersyukur kepada Allah SWT.
Acara pengajian menjelang pernikahan bukan hanya tradisi atau pertemuan keluarga. Di dalamnya ada ungkapan syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah, termasuk kesempatan bagi seorang anak untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Pembacaan Surah Ar-Rahman menjadi salah satu pengingat tentang begitu banyaknya nikmat Allah yang sering kali luput dari perhatian kita.
Bersyukur bukan hanya dengan mengucapkan alhamdulillah. Rasa syukur juga seharusnya tercermin dalam setiap langkah, aktivitas, pekerjaan, karier, dan keputusan yang kita ambil.
Orang yang bersyukur akan berusaha selalu mengingat Allah dan melibatkan-Nya dalam setiap urusan kehidupan. Termasuk ketika memutuskan untuk menikah, menjalani kehidupan bersama pasangan, hingga membangun keluarga.
Pesan ini membuat saya menyadari bahwa kehidupan rumah tangga sebaiknya tidak hanya dibangun dengan cinta, tetapi juga dengan rasa syukur dan ketaatan kepada Allah.
Sebab, perjalanan pernikahan tidak selalu berisi kebahagiaan. Akan ada berbagai ujian yang membutuhkan kesabaran, pengertian, dan keyakinan bahwa setiap masalah perlu dihadapi dengan melibatkan Allah.
Pernikahan Adalah Perjalanan dengan Al-Qur'an sebagai Kompas
Bagian ini menjadi salah satu nasihat yang paling menarik perhatian saya. Ustaz mengibaratkan kehidupan seorang laki-laki sebelum dan sesudah menikah seperti perjalanan menggunakan sebuah perahu.
Selama ini, seorang anak menjalani kehidupan di atas perahu yang dinakhodai oleh ayahnya. Ayah dan ibu menjadi sosok yang membimbing, mengarahkan, serta menjaga anaknya sejak kecil hingga dewasa.
Namun, ketika menikah, seorang laki-laki akan membawa perahunya sendiri. Ia menjadi nakhoda bagi keluarga kecil yang akan dibangunnya bersama sang istri.
Sebagai nakhoda, tentu ia harus memahami penumpangnya. Ia perlu mengenal karakter, perasaan, dan kebutuhan pasangannya. Ia juga harus berusaha memilih arah perjalanan yang baik agar perahu rumah tangganya dapat berlayar dengan selamat.
Lalu, apa kompas terbaik bagi seorang nakhoda? Jawabannya adalah Al-Qur'an.
MasyaAllah, saya suka sekali dengan perumpamaan ini.
Menjadi suami dan pemimpin keluarga ternyata bukan sekadar soal siapa yang mencari nafkah atau mengambil keputusan. Ada tanggung jawab besar untuk mengarahkan keluarga menuju kehidupan yang diridai Allah.
Seorang suami perlu belajar menjadi pemimpin yang bijaksana, mampu mendengarkan, memahami, dan menjaga keluarganya.
Sebab, perjalanan rumah tangga tidak selalu tenang. Ada kalanya ombak datang, angin bertiup kencang, dan arah perjalanan terasa sulit. Dalam situasi seperti itulah, pasangan membutuhkan pegangan yang kuat agar tidak mudah kehilangan arah.
Istri Adalah Amanah dari Allah yang Harus Dijaga
Nasihat berikutnya juga sangat menyentuh.
Ustaz mengingatkan calon pengantin laki-laki agar senantiasa bertakwa kepada Allah dalam memperlakukan perempuan yang kelak menjadi istrinya.
Pernikahan bukan hanya tentang mempersunting seseorang yang dicintai. Ada amanah besar yang menyertainya.
Seorang perempuan yang kelak menjadi istri telah dibesarkan dan dirawat oleh kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang. Setelah menikah, suami menerima tanggung jawab untuk ikut menjaga, menyayangi, dan membimbingnya.
Ustaz juga menjelaskan makna kepemimpinan dalam rumah tangga melalui istilah qawwamun dalam Al-Qur'an. Kepemimpinan bukan sekadar menuntut, melainkan juga menuntun.
Artinya, seorang suami bukan hanya berhak mengharapkan kebaikan dari istrinya. Ia juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan teladan, membimbing dengan baik, serta menjaga keluarganya dengan penuh kasih sayang.
Bagi saya, pesan ini menjadi pengingat bahwa pernikahan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menguasai pasangan. Justru, pernikahan adalah kesempatan untuk saling menjaga dan bertumbuh bersama.
Istri bukan seseorang yang harus selalu memenuhi keinginan suami, melainkan pasangan hidup yang memiliki perasaan, pemikiran, dan kebutuhan yang juga perlu dihargai.
Begitu pula sebaliknya, suami bukan sekadar sosok yang dituntut untuk selalu kuat. Ia juga manusia yang membutuhkan dukungan, penghargaan, dan kasih sayang dari pasangannya.
Dua Orang yang Menikah Harus Belajar Melepaskan Ego
Ada satu kalimat dari tausiyah tersebut yang menurut saya sangat relevan bagi siapa saja yang sudah menikah maupun yang sedang mempersiapkan pernikahan.
Pernikahan adalah proses menyatukan dua pribadi yang sebelumnya terbiasa menjalani kehidupan masing-masing.
Dua orang datang dengan latar belakang keluarga, kebiasaan, pola pikir, dan karakter yang berbeda. Masing-masing memiliki keinginan dan cara pandang sendiri. Namun, setelah menikah, keduanya perlu belajar membangun kehidupan bersama.
Ustaz mengingatkan bahwa pernikahan menyatukan dua "aku" menjadi satu kesatuan. Karena itulah, masing-masing harus berusaha melepaskan ego agar tercipta hubungan yang saling mengasihi, mengasuh, dan menguatkan.
Menurut saya, inilah salah satu tantangan terbesar dalam rumah tangga.
Kita mungkin sudah terbiasa dengan kebiasaan sendiri sejak kecil. Kita juga memiliki cara tertentu dalam menyelesaikan masalah, mengatur keuangan, mendidik anak, atau mengambil keputusan. Ketika dua kebiasaan yang berbeda bertemu, perbedaan pendapat tentu bisa terjadi.
Namun, perbedaan tidak selalu harus berakhir dengan pertengkaran. Kuncinya adalah belajar memahami pasangan, berkomunikasi dengan baik, dan tidak selalu merasa diri sendiri yang paling benar.
Dalam pernikahan, tidak semua hal harus dimenangkan. Ada kalanya kita perlu mengalah, ada saatnya mendengarkan, dan ada pula waktunya mencari jalan tengah.
Saling asah, saling asuh, dan saling asih bukan sekadar ungkapan indah. Ketiganya perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menikah Bukan Berarti Melupakan Orang Tua
Nah, bagian ini benar-benar membuat saya merenung. Ustaz mengingatkan agar seseorang tidak menjadi jauh dari keluarganya setelah menikah.
Ayah dan ibu kandung tetaplah ayah dan ibu kita. Sementara itu, orang tua pasangan juga perlu dihormati dan disayangi sebagaimana kita menghormati orang tua sendiri.
Pernikahan seharusnya memperluas keluarga, bukan memutus hubungan dengan keluarga yang sudah ada.
Ada kalimat yang sangat membekas dari tausiyah tersebut: setua apa pun usia kita, di mata orang tua, kita tetaplah anak kecil yang dahulu mereka rawat sejak bayi.
Mendengar kalimat itu, rasanya hati langsung tersentuh.
Ketika sudah dewasa, memiliki pasangan, bahkan mempunyai anak sendiri, terkadang kita merasa sudah mampu mengurus kehidupan tanpa campur tangan orang tua. Padahal, bagi mereka, kita akan selalu menjadi anak yang ingin mereka lindungi.
Mungkin itulah sebabnya orang tua masih suka mengingatkan hal-hal kecil, menanyakan kabar, atau khawatir ketika kita pulang terlambat. Bukan karena mereka tidak percaya kita sudah dewasa, melainkan karena kasih sayang mereka tidak pernah benar-benar berhenti.
Ustaz juga menjelaskan makna birrul walidain, yaitu berbakti kepada kedua orang tua. Berbakti bukan hanya dilakukan ketika kita masih kecil atau belum berkeluarga, melainkan terus diupayakan sepanjang hayat.
Jangan sampai kesibukan mengurus rumah tangga, pekerjaan, dan anak-anak membuat kita lupa menghubungi orang tua, menanyakan kabar mereka, atau sekadar meluangkan waktu untuk menemani mereka.
Selama orang tua masih ada, masih ada kesempatan untuk membahagiakan mereka, meminta doa, dan menunjukkan rasa sayang.
Selagi Orang Tua Masih Ada, Jagalah Mereka Sebaik-baiknya
Ustaz kemudian menyampaikan nasihat yang semakin menguatkan pesan sebelumnya.
Orang tua adalah anugerah besar dalam kehidupan seorang anak. Keberadaan mereka bukan hanya tempat kita pulang, tetapi juga sumber doa dan kasih sayang yang tidak ternilai. Selagi ayah dan ibu masih hidup, kita masih memiliki kesempatan untuk berbakti kepada keduanya.
Jangan menunggu sampai mereka tiada untuk menyadari betapa berharganya keberadaan mereka. Jangan pula menganggap bahwa perhatian dan pengorbanan mereka adalah sesuatu yang sudah semestinya kita terima tanpa perlu dibalas dengan kasih sayang.
Tentu saja, sebesar apa pun usaha kita, tidak akan pernah sebanding dengan pengorbanan orang tua sejak kita lahir hingga dewasa. Namun, bukan berarti kita berhenti berusaha membahagiakan mereka.
Mendengarkan cerita mereka, membantu kebutuhan sehari-hari, mengajak mereka berbincang, menemani saat sakit, atau sekadar menelepon untuk menanyakan kabar adalah bentuk perhatian yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sangat berarti.
Ustaz mengingatkan bahwa rida dan doa orang tua merupakan hal yang sangat berharga dalam kehidupan. Karena itu, jangan sampai setelah memiliki keluarga sendiri, kita justru melupakan orang-orang yang telah lebih dahulu mencintai kita tanpa syarat.
Bagi saya, nasihat ini bukan hanya relevan bagi calon pengantin, tetapi juga bagi siapa saja yang sudah bertahun-tahun menjalani kehidupan rumah tangga. Sebab, menikah tidak pernah menghapus kewajiban kita untuk tetap menyayangi dan menghormati orang tua.
Doa untuk Calon Pengantin dan Kita Semua
Menjelang akhir tausiyah, ustaz mengajak seluruh hadirin untuk mendoakan calon pengantin agar diberikan kemudahan dalam melangkah ke kehidupan yang baru.
Semoga pernikahannya kelak menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Semoga keduanya dapat saling menjaga, saling menguatkan, dan menjalankan kehidupan rumah tangga dalam ketaatan kepada Allah Swt. Juga, semoga kelak mereka dikaruniai keturunan yang saleh dan salehah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, berbakti kepada kedua orang tua, serta menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Bagi saya pribadi, menghadiri pengajian menjelang pernikahan ini bukan sekadar memenuhi undangan tetangga. Ada banyak pelajaran yang bisa dibawa pulang, bahkan mungkin lebih berharga daripada sekadar kenangan menghadiri sebuah acara.
Saya diingatkan kembali bahwa pernikahan bukan hanya tentang dua orang yang saling mencintai. Ada tanggung jawab, amanah, kesabaran, dan komitmen untuk terus belajar menjadi pasangan yang lebih baik.
Saya juga kembali diingatkan bahwa sesibuk apa pun kita membangun keluarga sendiri, jangan pernah melupakan orang tua yang telah mengantarkan kita sampai pada kehidupan hari ini.
Rasanya, nasihat seperti ini memang perlu sesekali kita dengarkan kembali. Bukan karena kita tidak tahu, melainkan karena terkadang kita membutuhkan pengingat agar tidak terlena oleh rutinitas dan kesibukan sehari-hari.
Semoga catatan kecil ini juga bisa menjadi pengingat bagi siapa pun yang membacanya.
Mari belajar menjadi pasangan yang baik tanpa melupakan bakti kepada orang tua. Sebab, rumah tangga yang baik bukan hanya tentang kebahagiaan dua orang, tetapi juga tentang bagaimana cinta, tanggung jawab, dan keberkahan tumbuh bersama di dalamnya.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.💖
Salam
Dian Restu Agustina

Posting Komentar untuk "Tausiyah Pengajian Menjelang Pernikahan yang Menyentuh Hati: Tentang Restu Orang Tua dan Amanah Pernikahan"