Semarak Ramadan di New Orleans



Temans..

Pernahkah menjalankan Ramadan di tempat yang kiri kanan depan belakang bukan Muslim yang wajib menjalankan?

Saya dua kali mengalami. Pertama saat tinggal di Bali dimana mayoritas masyarakatnya bukan pemeluk agama Islam. Tapi, masih mendingan karena banyak pendatang dari luar Bali yang adalah seorang Muslim. Dan meski enggak banyak, ada juga orang Bali yang memang Islam agamanya.

Kemudian, pengalaman kedua adalah saat saya tinggal di New Orleans dimana baik warga asli maupun pendatang sama...enggak banyak Muslimnya.

Lalu bagaimana berpuasa di sana? Apakah suasananya sesemarak jika tinggal di tempat yang hampir semua merayakan hal yang sama?

Tentu saja...lumayan beraaaat menjalankannya!!

Terbayang saja tinggal di kota yang mau ke masjid saja harus ke kota tetangga..Belum lagi jauh dari sanak saudara..Juga enggak mungkin ada pasar takjil beraneka. Ah, kalau diingat-ingat lagi ternyata hebat juga kami bisa lancar menjalani...hihihi #pujidiri

(*Oh ya, kalau mau intip versi fiksi di sini yaaa Tak Ada Hari raya di Amerika)

Tapiiii, masih ada yang patut disyukuri. Masih ada saudara seperantauan tempat berbagi kesemarakan Ramadan.

Di New Orleans, masyarakat Indonesia membentuk komunitas IACA (Indonesian American Community Association), dimana ada divisi pengajian di bawahnya.

teman-teman IACA


Pengajian ini bernama Pengajian NOLA (New Orleans).

Meski namanya identik dengan satu kota, tapi sebenarnya anggotanya hampir tersebar di seluruh state Louisiana. Jadi ini sebenarnya adalah pengajian AKDP (Antar Kota Dalam Propinsi). Sama seperti bis Kediri-Surabaya atau Solo-Semarang.😀

Walah...jauh-jauh dong berarti?

Iyes...bukan jauh lagi, ngajinya sudah seperti mudik saja, bahkan kadang harus menempuh puluhan atau ratusan mil perjalanan....Hiks!

Demi apa coba?

Demi silaturahmi dengan sesama saudara sebangsa. Lalu demi beribadah dan menimba ilmu agama yang meski terbatas waktunya Insya Allah ada keberkahannya. Juga, demi aneka hidangan Nusantara yang sungguh m e n g g o d a...!! hahaha
  • Silaturahmi

Pengajian di luar bulan Ramadan, jadwalnya suka-suka. Kadang sebulan sekali, kadang dua bulan sekali. Tergantung pada kesiapan tuan rumah yang ketempatan. 

Tapi, kalau Ramadan, pengajiannya setiap akhir pekan. Jadi dipilih rumah yang mampu menampung sekitar 30 anggota (ada yang single, double juga keluarga). Sekalian buka bersama dan salat Tarawih.

Nah, masalah rumah ini juga ada syaratnya. Kadangkala luasan rumah cukup, tapi parkiran terbatas. Karena masalah parkir ini di sana ketat sekali.

Seperti di apartemen tempat saya tinggal, satu unit hanya berhak parkir di lot yang ada nomor apartemen kita. Bukan di tempat lainnya. Jika parkir sembarangan, enggak sampai 30 menit mobil sudah bertengger manis kena derek dari dinas kota.

Whuaaa..Maka, rumah luas saja enggak cukup, harus ada tempat parkirnya juga!

Nah, karena itulah, kadang tempatnya ya di rumah si itu, si ini lagi hihihi..

Oh ya, untuk waktunya, meski jadwalnya adalah sebelum Maghrib sampai sesudah tarawih, tapi biasa waktu Ashar juga sudah datang. Biar enggak buka puasa di jalan.
  • Tausiah



Sewaktu saya pertama ikut pengajian NOLA ini, di setiap jadwalnya belum tentu ada ceramahnya. Sesekali saja datang dari state lain ustaz untuk mengisi tausiahnya dengan dana pribadi dan donasi dari anggota. Padahal itu berarti antar negara bagian datangnya...

Nah, satu ketika saya diamanahi menjadi koordinator pengajiannya, saya mencoba mengajukan bantuan ke IMSA (Indonesian Muslim Society in America), sebuah organisasi nirlaba masyarakat Muslim Indonesia di Amerika.

Saya kirimkan email agar dibantu ada ustaz untuk setiap kegiatan pengajian NOLA yang dilakukan dengan cara online via media Skype. Saat itu memang eranya Skype, layanan pesan/suara/video milik Microsoft.

Dan, Alhamdulillah, permintaan itu disambut dengan baik. Pihak IMSA akhirnya membuatkan jadwal materi dan pemberi tausiah untuk pengajian kami.

Jadilah, acara pengajian yang sebelumnya hanya sekedar ngumpul dan beribadah bareng, ada nilai plusnya dengan tambahan ilmu agama.

Maka, di setiap pengajian dan akhir pekan Ramadan, kami tidak hanya bukber tapi juga disemarakkan dengan tausiah via Skype dengan ustaz yang berada di Houston, Los Angeles dan state lainnya. Masya Allah!
  • Sajian Ramadan

Ngomongin sajian, ini yang paling ditunggu saat acara bukber Pengajian NOLA di akhir pekan. Gimana enggak coba...semua menu favorit Nusantara keluar semua euyyyy! Puas-puasin rasa kangennya ..

Untuk sistem makanan teteup seperti acara lainnya, potluck. Jadi saya mengkoordinir ibu-ibu setelah tahu dari tuan rumah apa yang akan disajikan.

Misalnya tuan rumah sudah siap dengan nasi, opor ayam, urap dan kolak, anggota lainnya tinggal menambahkan apa yang mau dibawa. Biar enggak sama menunya, semua bikin list dan berbalas email (saat itu, 2009-2011 belum ada WA yaaa😀). Nanti ada yang bawa es kopyor, rujak buah, pastel, bacem tahu/tempe, putu ayu, dan banyak lagi...

Dan semua itu buatan sendiri, karena enggak ada warung yang jual di sini hihihi

Meski enggak semua habis dimakan, nanti pulangnya bisa jadi buah tangan. 

Yesss!Bungkusss!!



Lalu, kalau enggak akhir pekan, bagaimana Ramadannya?

Wah, susaaah..hampir enggak ada beda dengan hari biasa. Anak dan suami yang sama-sama sekolah saat itu jadwalnya pun sama seperti hari biasa. Meski begitu, puasa Insya Allah tetap dijalani dengan semangat empat lima!

Buka puasa biasanya sih di rumah saja, setelah sebelumnya lihat jadwal salat di print out yang disebarkan oleh IMSA. Juga, karena masjid letaknya di kota sebelah, tarawihnya jadi di rumah. Terus  nonton saja dari youtube ceramah agamanya. Sahur, pasang alarm di hape dan nikmati sajiannya tanpa dengar musik sahur dari jalanan.

Pokoknya menyemarakkan diri sendiri lah ...kwkwkw

Nah, begitulah nostalgia tentang kesemarakan Ramadan di New Orleans yang pernah saya jalani bersama keluarga sewaktu tinggal di sana. Meski tidak sesemarak Ramadan di tempat lainnya, saya masih bersyukur karena bisa menjalankan Ramadan bersama saudara-saudara yang seiman. Alhamdulillah.



Selamat Berpuasa,


Dian Restu Agustina




*Artikel ini diikutsertakan dalam posting kompakan Pasukan Blogger JoeraganArtikel dengan tema "Semarak Ramadan"





30 comments:

  1. Whuaaa seru ya, ketemu teman sebangsa di luar negeri itu sesuatu. Deuuh jadi pengen ngerasain ramadhan dan idul fitri di negeri orang.

    ReplyDelete
  2. pengalaman yang tak terlupakan yah mba, pasti kangen tuh hihihi

    ReplyDelete
  3. Seru juga ya puasa di negeri seberang. Kalau menunyaasakan nusantara, memangnya di sana bahan bahannya bisa didapatkan dengan mudah ya. Semavam tempe, tahu dan sebagainya

    ReplyDelete
    Replies
    1. enggak mudah Mbak..Harus ke Asian Market gitu...Dan mahal lagi. Tapi demi kumpul-kumpul...sesekali enggak apa-apa.

      Oh ya, tempe biasa saya bikin sendiri

      Delete
  4. Luar biasa ya menjaga ibadah dan silaturahminya.. smga selalu mendapat berkah dari Allah

    ReplyDelete
  5. Wah...seru ya pengalaman menjalankan ibadah Ramadan di area non Muslim.

    ReplyDelete
  6. Jadi kenangan indah yang tak terlupakan menjalankan ibadah puasa di negeri orang ya mba.

    ReplyDelete
  7. Pengalaman kayak gini mendidik banget lho, Mbsk. Mahal dan sangat membekas buat anak. Kelak mereka akan lebih bisa menghargai sekecil apapun momen penting dalam kehidupan relijiusnya

    ReplyDelete
  8. Kalau pas di Indonesia, menunya sepertinya biasa saja (umum), tapi di perantauan menjadi luar biasa. Sebab, dibuat dengan tidak mudah (terutama bahan bakunya), disajikan untuk saudara-saudara perantauan setanah air, dinikmati di tempat yang jauh dari Indonesia. Wah, wah, luar biasa senangnya. Ngaji dapat ilmunya, silaturahmi dapat rezekinya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..menunya tampak biasa tapi bikin bahagia, dah jarang makan beginian, makan barengan saudara sekampung halaman lagi...Senangnya pasti!

      Delete
  9. Seru ya mbak kalau bisa bareng-bareng gini, puasa itu urusannya hamba Allah dengan Tuhannya, maka kadang bingung juga sama orang yang beribadah tapi minta dihormati, hihi. Astagfirullah hampir keceplosan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi..bener banget Mbak. Harusnya ya keteguhan diri saat menajalankan tanpa butuh sebuah penghormatan :)

      Delete
  10. Seru juga ya, buka puasa di sana. Alhamdulillah bisa ada komunitasnya dan ada pengajian pula.
    Untung ada Skype ya..jadi masih bisa dengar tausiah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..meski jarak jauh bisa dengar ceramah sekalian tanya jawab dengan ustaz

      Delete
  11. Keren ih mbak Dian, pengalamannya buanyaak..sukak deh baca blognya. Jadi berasa jalan-jalan hehe

    ReplyDelete
  12. Mba Dian senang sekali bisa berada di Negeri orang tapi masih bisa merasakan suasana Ramadan ya.
    Ditunggu cerita yang lainnya ya mba :)

    ReplyDelete
  13. hebat deh mbak, saya sampai merinding bacanya, hehehe. Jadi tahu gimana rasanya puasa di luar negeri, Membuat saya semakin bersyukur hidup di Indonesia

    ReplyDelete
  14. Hmmm. Jadi iri dg pengalaman Mbak Dian deeh

    ReplyDelete
  15. Wah Masya Allah pengalamannya ya, Mba. Iyalah hebat, di sini aja banyak orang yang rasanya lelah berpuasa, haha... Adanya pengajian walau tinggalnya pada jauh2, ya untuk apalagi kalau bukan saling kenal saudara sesama perantau ya. Makanan nusantara pun jadi pelepas kangen kampung ya, Mba :D

    ReplyDelete