SELISIK 2018 | Menyiapkan Sumber Daya Manusia untuk Menghadapi Era Industri Terkini


Halo hola...

Temaaan, boleh ya kalau kali ini saya ngobrolin hal yang seriusan..?

Sekali-kali dong ah, meski saya Ibu Rumah Tangga boleh ngrumpiin masalah berat juga. Tapi bukan beratnya rindu lho yaaa...😀

Ini tentang beratnya tantangan yang dihadapi dalam mewujudkan Making Indonesia 4.0

Making Indonesia 4.0?? Apa tuh?? Indonesia dibikin jadi apa?? Kok ada angkanya?? 


Oke, ..kalau ada yang belum paham, saya jelaskan pengertiannya saja dulu padamuuuu..

Siyaaap? 

Beginiii..


Saat ini, dunia industri tengah memasuki era baru yang disebut Revolusi Industri 4.0. Nah, tak hanya ramai jadi perbincangan dunia, tapi gaung soal industri generasi keempat ini juga terus dibahas di Indonesia.


Gimana enggak terus-terusan jadi bahan diskusi coba, revolusi industri generasi keempat yang tengah berjalan ini dampaknya memang besar sekali. Mengutip laporan lembaga riset McKinsey pada 2015, dampak revolusi industri generasi keempat ini 3.000 kali lebih dahsyat daripada revolusi industri pertama di abad ke-19. Dan, kecepatan perubahannya 10 kali lebih cepat dengan dampak 300 kali lebih luas.

Wooow!!

sumber: kemenperin.go.id

Oleh karena itu, demi menghadapi ekonomi digital yang semakin berkembang pesat, pemerintah berkomitmen meningkatkan industri nasional dengan meluncurkan Roadmap "Making Indonesia 4.0". Dimana peluncuran programnya diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 4 April 2018 yang lalu.

Kementerian Perindustrian yang menjadi koordinator program ini telah merancang Making Indonesia 4.0 sebagai sebuah roadmap (peta jalan) yang terintegrasi untuk mengimplementasikan sejumlah strategi dalam memasuki era industri 4.0 ini.

Roadmap ini diperuntukkan sebagai strategi Indonesia untuk dapat bersaing dalam industri global. Dimana nantinya konektivitas industri 4.0 melalui teknologi, informasi, dan komunikasi yang terintegrasi akan lebih efisien serta meningkatkan kualitas produk industri manufaktur.

sumber: sttbandung.ac.id

Sehingga untuk mencapai sasaran tersebut, langkah kolaboratif perlu dilakukan dengan melibatkan beberapa pemangku kepentingan, mulai dari institusi pemerintahan, asosiasi dan pelaku industri, hingga unsur akademisi.

Nah, sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam kesuksesan program Making Indonesia 4.0 dari unsur akademisi, Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (STT Bandung) pada hari Sabtu, 1 September 2018 telah berkontribusi dengan menjadi penyelenggara SELISIK. 

SELISIK?? Apaan lagi nih....?? 

Tenang-tenang...Bacanya pelan-pelan biar enggak kebingungan...!!😀



SELISIK 2018 (Seminar Nasional Telekomunikasi dan Informatika 2018) merupakan media bagi para praktisi dan akademisi untuk saling berbagi ide dan pengalaman baru mengenai disiplin ilmu dibidang informatika dan telekomunikasi. 

Sedangkan topik yang akan dibahas dalam seminar ini adalah "Bagaimana Mempersiapkan SDM dalam menghadapi Industri 4.0." 

Nah, seminar ini merupakan kerjasama antara:
  • Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (STT Bandung)
  • Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komputer (APTIKOM) Jawa Barat,
  • Indonesian Computer Elektronics and Instrumentation Support Society (IndoCEISS) dan NERIS. 
  • Dukungan  dari berbagai Perguruan Tinggi seperti : STIKOM BALI, STIMIK AMIKOM Purwokerto, AMIKOM Cipta Darma Surakarta, STMIK Atma Luhur Pangkal Pinang, STIKOM Banyuwangi, STMIK Bumigora Mataram-NTB, STMIK PalComTech, Politeknik PalComTech, dan MIKROSKIL.
SELISIK merupakan agenda tahunan yang kali ini penyelenggaranya adalah Sekolah Tinggi Teknologi Bandung. Dimana kegiatan ini diharapkan menjadi pertemuan ilmiah yang memadukan kegiatan diskusi sebagai sarana dalam menambah wawasan dibidang Informatika dan Telekomunikasi. 

Selain itu diadakannya SELISIK juga untuk memfasilitasi para akademisi khususnya dosen untuk mempublikasikan karya-karya terbaiknya. Juga dengan topik yang dibahas dalam SELISIK, diharapkan ke depannya mampu meningkatkan daya saing Sumber Daya Manusia Indonesia di tingkat dunia.

Duh, keren ya tema seminarnya?

Dan makin keren lagi karena SELISIK 2018 yang dihelat di Harris Hotel & Conventions Festival Citylink ini menampilkan 2 narasumber yang kompetensinya tak perlu diragukan lagi di bidangnya, yaitu:
  • Ir. Priyantono Rudito, M.Bus, Ph.D - Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Manajemen Strategis
  • Prof. Dr. M. Suyanto, M.M - Rektor Universitas AMIKOM Yogyakarta


Nah, acara seminar dimulai pada pukul 8 pagi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dilanjutkan dengan persembahan tari dan angklung dari Unit Kegiatan Mahasiswa STT Bandung.

Kemudian ada  kata sambutan dari Ketua Panitia SELISIK 2018, Ibu Harya Gusdevi, S.Kom M.Kom. Beliau menyampaikan ada 100 paper yang masuk dan terdapat 12 paper terbaik yang akan diterbitkan di jurnal-jurnal kampus pendukung acara. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa, mengingat pada tahun sebelumnya hanya ada 50 paper yang berkontribusi di acara tahunan ini.


Lalu ada sambutan dari Ketua STT Bandung Bapak Muchammad Naseer, S.Kom, MT yang diantaranya menyampaikan jika dilihat dari ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan secara umum, Indonesia tertinggal sekitar 75 tahun dibandingkan dengan negara lain. Juga adanya kekhawatiran jika sumber daya manusia Indonesia tak bersiap untuk menghadapi tantangan di masa depan perannya bisa terpinggirkan. Untuk itu perlu kerjasama dari berbagai pihak terkait, guna mendukung road map Making Indonesia 4.0 bisa direalisasikan.

Juga ada kata sambutan dari Ketua APTIKOM Jabar yang diwakili oleh Wakil Ketua APTIKOM. Dan dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala LLDIKTI Wilayah IV yang sekaligus membuka SELISIK 2018.

penandatanganan MoU

Kemudian acara berlanjut dengan penandatanganan MoU IndoCEISS dan NERIS dengan Perguruan Tinggi yang tergabung di IndoCEISS dan NERIS sebagai wujud kerja sama. Selanjutnya ada pemberian cinderamata juga pengumuman pemenang Kompetisi SELISIK 2018, siraman rohani dan doa bersama.

Pada sesi siraman rohani, Bapak Prof. Dr.Ing Ir. Iping Supriana Suwardi, menyampaikan bahwa revolusi industri 4.0 tidaklah ada artinya dibandingkan dengan kebesaran sang Pencipta semesta. Beliau mengingatkan bahwa jantung dari revolusi industri 4.0 adalah algoritma. Belajar pada algoritma alam karya sang Pencipta kehidupan, akhirnya kemajuan teknologi dan peradaban manusia berkembang pesat

STT Bandung
Juara Kategori Games

Priyantono Rudito, Ph.D

Setelah jeda coffe break, tampil pembicara pertama, Priyantono Rudito, Ph.D yang merupakan Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Republik Indonesia.


Beliau menyampaikan tema "Menyiapkan Sumber Daya Manusia untuk Menghadapi Industri 4.0 dengan Mengembangkan Digital Mastery"

Bapak Priyantono memulai materinya dengan mengingatkan bahwa saat ini kita benar-benar telah hidup di era digital yang lebih cepat terjadinya dari yang diperkirakan. Sehingga menyiapkan dengan segera sumber daya manusia untuk menghadapi industri 4.0 ini merupakan keharusan.

Pada awal materi, Bapak Priyantono yang juga asisten Direktur Eksekutif Co-Branding Wonderful Indonesia Kementrian Pariwisata, memaparkan tentang perkembangan industri mulai dari pertama hingga terkini dalam slide berikut ini:

Beliau juga memaparkan banyak hal, diantaranya ada banyak bisnis besar muncul yang berawal dari keinginan membantu sesama. Sebut saja, Gojek, Facebook, Google, Apple adalah contoh pebisnis raksasa yang muncul atas dasar ingin membantu atau memberikan solusi bagi masalah orang lain. Sehingga bisa dikatakan, semangat lahirnya revolusi industri 4.0 adalah untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam banyak aspek kehidupan.

Selanjutnya, Bapak Priyantono memberi contoh pencapaian apa saja yang dihasilkan dari revolusi industri 4.0, diantaranya: perkembangan pada bidang pertanian. Dulu, petani menanam padi dengan cara tradisional lalu dibantu mesin dan di era terkini dengan bantuan robot.




What? Diganti robot?? Hiks!!

Lalu, bagaimana dengan nasib kita yaaa?
Siapkah kita menghadapi perubahan yang  begitu cepat ini? Mampu enggak kita bersaing di era terkini? Atau terpinggirkan dan hanya jadi penonton yang kalah oleh teknologi?

Bapak Priyantono memaparkan bahwa pada revolusi industri generasi keempat ini disruptif teknologi hadir begitu cepat sehingga mengancam keberadaan perusahaan yang ada sebelumnya (petahana). Sehingga ancaman ini bisa mempengaruhi tenaga kerjanya.

Meski demikian, menurut Beliau kunci utama adalah kolaborasi. Perusahaan musti menerima dan menyesuaikan diri karena fundamental industri telah berubah dan juga menyadari bahwa mereka tidak lagi mendominasi. Sehingga perusahaan dapat tetap bertahan di tengah terpaan kompetisi.

Pengambil keputusan tak lagi berpikir linier tapi sudah harus pada taraf exponential bahkan progressive dimana menjadikan hari esok sebagai hari ini yang harus dikejar dan dijalankan.

Bapak Priyantono juga menegaskan revolusi industri 4.0 tidak berarti era meminggirkan manusia. Karena era revolusi industri keempat ini membutuhkan manusia yang memiliki motivasi tinggi untuk menjadi lebih baik dan berguna bagi sesamanya.



Selanjutnya, pembicara kedua, Prof. Dr Suyanto, MM - Rektor Universitas AMIKOM Yogyakarta mengemukakan bahwa modal utama perguruan tinggi dalam mengelola sekolahnya adalah berpikir progressive.

Seharusnya terpacu motivasi diri menjadi lebih baik dan tidak sekedar berkualitas biasa-biasa saja. Sehingga nantinya bisa dihasilkan lulusan perguruan tinggi yang bisa berkontribusi di era industri 4.0 ini

Diharapkan peran aktif akademisi dalam menghantarkan mahasiswa ke gerbang sukses di era industri 4.0. Salah satunya adalah memberikan tantangan dan kesempatan untuk praktik dengan cara berpenghasilan dari dunia intermet.

Dikatakan pula oleh Prof Suyanto bahwa akademisi yang menjadi penyumbang utama Sumber Daya Manusia Indonesia pada Making Indonesia 4.0 ini mustinya tidak hanya berkontribusi dalam bentuk paper yang dimuat oleh jurnal terkemuka. Tapi yang juga bisa terjual dan dipakai oleh khalayak umum.


Prof Suyanto juga menegaskan bahwa sumber daya manusia di masa depan akan terbagi menjadi 4 bagian:
  • Professional 
  • Enterpreneur 
  • Sciencetist 
  • Artist. 
Keuntungannya, dengan era revolusi industri 4.0 kita dapat memperluas jaringan. Dan, inilah hal yang terus dikembangkan oleh Universitas AMIKOM Yogyakarta. AMIKOM Yogyakarta yang bekerjasama dengan berbagai pihak baik perseorangan maupun perusahaan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. 



Beliau juga menceritakan kesuksesannya dalam pembuatan film Animasi Battle Of Surabaya. Dimana melalui film animasi ini, Indonesia kembali berjaya melalui berbagai penghargaan tingkat dunia. 

Prof Suyanto juga menekankan perlunya sebuah inovasi karena ini sangat diperlukan dalam produktivitas. Produktivitas sendiri harus memiliki value atau nilai lebih. Ada pun alur untuk menghasilkan value dimulai dari Design, Production, Branding, Channeling.


Akhirnya, acara SELISIK 2018 ini selesai dan berjalan dengan sukses. Selamat untuk STT Bandung sebagai penyelenggara dan semua pihak yang telah membantu dalam kelancaran seminarnya

Semoga baik unsur akademisi maupun masyarakat Indonesia pada umumnya akan makin paham akan perubahan yang begitu cepatnya pada  era revolusi industri 4.0 ini.

Juga mempersiapkan diri dan generasi mendatang dengan sebaik-baiknya untuk mampu menghadapi segala tantangan yang ada. Sehingga akan makin banyak sumber daya manusia Indonesia yang bisa bersaing di kancah dunia.

#MakingIndonesia4.0
#Selisik2018
#STTBandung



Salam,

Dian Restu Agustina

5 comments:

  1. coba disetiap provinsi selalu diadakan seperti ini, khususnya lah untuk mahasiswa :(.
    pengen banget ikut acara acara gini. biar nambah wawasannya. ya bu

    ReplyDelete
  2. Weee ada Prof Suyanto ya. Orangnya cerdas, kreatif, dan terkenal sangat bersahaja.

    ReplyDelete
  3. Tugas kita juga ini ya Bun mempersiapkan anak di era revolusi induatri 4.0 ini

    ReplyDelete
  4. Pas nih weekends ngajak keluarga kumpul bareng, entah ngemil di rumah atau jalan-jalan ya

    ReplyDelete
  5. Baca cuma sekilas ttg Selisik ini di grup PAS. Alhamdulillah, mb Dian menjelaskan dengan detil. Wuih, udah 4.0 ternyata. Hmm... SDM memang PR banget, ya. Moga kita sbg emak bisa mengawal anak2 menjadi SDM unggulan dan yups... memiliki motivasi tinggi untuk menjadi lebih baik dan berguna bagi sesamanya.

    ReplyDelete