Ini Alasan Saya Mengapa Memilih Menjadi Ibu Rumah Tangga!


Jujur memilih menjadi Ibu Rumah Tangga penuh waktu, tak pernah terbayang sebelumnya oleh saya sejak dulu. Saat (((muda))), meski sempat ada perubahan cita-cita, saya selalu bermimpi menjadi wanita pekerja yang ngantor seharian, berpakaian rapi dan mandiri dari semua sisi. Bahkan saat tamat SMA ketika orang tua menanyakan apakah saya ingin mengikuti jejak keempat kakak, yang masuk ke IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) dan menjalani profesi sebagai Guru seperti Bapak, saya juga menolak.

Pokoknya, saya ingin kerja kantoran saja! Enggak mau yang lainnya...!😁



Mengapa saya jadi ibu rumah tangga


Kilas Balik dari Wanita Bekerja ke Ibu Rumah Tangga


Keinginan ini pun saya awali sedari sebelum kelar kuliah dengan bekerja sembari ngerjain skripsi. Selanjutnya, mulai menjadi bagian dari management team di McD area Bali. Sampai ketika suami (yang saat itu masih calon) berniat memajukan rencana pernikahan, membuat saya mesti mengajukan untuk pindah ke store yang terdekat dengan lokasi penempatan suami di Pangkalan Berandan.

Saat itu saya masih kekeuh mengurus mutasi, meski nanti saya bakal terpisah tinggalnya dengan suami. Rencananya dia tetap tinggal di Pangkalan Brandan dan saya di Medan. Bayangan saya (lihat di peta) toh hanya 80 km saja jaraknya. Jadi kami bisa saling berkunjung di saat akhir pekan atau libur kerja. 

Tapi ternyata pengajuan kepindahan saya ke Medan ditolak oleh kantor pusat. Alasannya, tidak ada formasi kosong di sana. Ada sih tempat, tapi di store Batam.

Saya sempat nangis enggak karuan waktu dengar kabar ini. Saat itu memang saya sudah di posisi 2nd Asst Manager jelang promosi ke 1st Asst Manager Sehingga posisi ini hampir pasti sudah ditempati di store tujuan, kecuali jika tukeran.

Akhirnya, dengan perasaan nyesek bukan kepalang, saya pun mengajukan resign jelang 3 hari pernikahan. Kemudian langsung ikut terbang suami ke tempat tugasnya setelah sepasaran mantenan.

Dan...sesampainya di Sumatera Utara, meski dengan kesedihan yang masih mendera, saya mulai ngeh, mengapa Yang Maha Kuasa menentukan ini semua. Karena ternyata pemirsaaah...meski 80 km jaraknya aksesnya belum bagus banget seperti di Jawa. Bayangan saya kotanya juga sudah lumayan. Tapi ternyata Pangkalan Brandan ini kota kecil yang saya mikirnya kok jadi kasihan kalau suami tinggal di sana sendirian..

Memulai Hidup Jadi Ibu Rumah Tangga Penuh Waktu


Sesampainya di sana, suami bilang kalau saya mau kerja lagi silakan. Dia menyerahkan semua keputusan ke saya. Saya mikirnya kalau kerja berarti cari loker di Medan yang sesuai dengan latar belakang ilmu dan pengalaman. 

Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Di saat saya adaptasi sambil nyari-nyari informasi, bulan depannya sudah ada calon buah hati kami di rahim ini. Sebuah kenyataan yang membuat saya akhirnya mikir lagi dan mengurungkan niatan untuk hunting pekerjaan. Mosok ya lagi hamil pertama saya mau kelayapan nglamar kerja atau wawancara ke Medan? Enggak banget, kan?

Hingga akhirnya saya lahiran dan anak pertama ini Qadarullah meninggal di usia 13 hari. Saya hancur lebur, sampai mikir kenapa juga sudah kehilangan pekerjaan hilang juga momongan. Sempat ada penolakan akan pernikahan dan menganggap keputusan yang saya ambil kemarin itu terlalu terburu-buru.

Tapi syukurnya ini sesaat saja. Karena suami dan saya akhirnya kembali menata hati dan saling menguatkan satu sama lain.

Peristiwa ini membuat saya pun mengurungkan niat untuk bekerja dan fokus ke program hamil lagi setelah menyiapkan mental ini. Hingga sampailah di bulan ke delapan... saat saya hamil lagi!

Kehamilan ini saya jaga ekstra, hingga di usia kandungan 7 bulan saya diungsikan ke rumah Orang Tua saya di Kediri. Kemudian, setelah dua bulan lahiran saya balik ke Pangkalan Brandan. Saat itu saya benar-benar full menikmati jadi Ibu, setelah sebelumnya tertunda karena anak diambil pemiliknya.


Mengapa saya jadi ibu rumah tangga


Akhirnya..., Saya Memutuskan untuk Jadi Ibu Rumah Tangga Saja!


Nah, di titik itu saya - meski belum 100 % rela- mulai disibukkan dengan urusan anak yang tentu saja menjadi hiburan di saat ditinggal suami kerja. Saya secara penuh mengasuh si Mas sendiri dan hanya dibantu Wak Sam, asisten rumah tangga yang datang pagi hingga siang membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan menemani saya saat suami dinas ke luar kota. 

Hingga, suami mutasi ke Jakarta, dapat bea siswa ke Amerika, kembali bekerja di Jakarta, pindah tugas ke Aljazair, balik ke Jakarta, pindah tugas ke Ogan Komering dan ke Jakarta lagi hingga kini.

Nah, seiring berjalannya waktu, akhirnya saya memutuskan untuk sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga saja. Alasannya:

1. Saya ingin dekat dan diingat oleh anak-anak


Saya dekat sekali dengan Ibu saya. Ibu yang seorang Ibu Rumah Tangga dengan 6 putri di mata saya adalah sosok ibu yang bisa jadi teladan dan panutan. Meski kini kesemua putri sudah berkeluarga tapi Ibu tetap ada bagi kami semua.

Ini berbeda dengan suami saya. Saat bayi karena satu dan lain hal, ia tidah diasuh oleh Ibunya sendiri melainkan oleh nenek angkat yang terpisah tinggal dengan orang tuanya - meski masih deketan rumahnya. Ternyata ini fatal akibatnya, saat dewasa ia jadi merasakan kedekatan yang lebih ke (alm) nenek angkatnya dibanding ke ibunya. Hingga, rasa sayang ke Ibunya pun tak bisa dalam karena saat kecil bukan Ibunya sendiri yang "pegang".

Inilah yang membuat saya bertekat untuk punya hubungan yang dekat dengan anak-anak, agar sampai besar nanti mereka masih "mengingat" Ibunya. Dan dengan menjadi Ibu Rumah Tangga yang mengasuh sendiri anak-anak, saya bisa punya kesempatan yang lebih lama untuk membersamai mereka. Sehingga harapan saya hubungan erat itu akan tetap ada.

2. Suami saya kerjanya berisiko dimutasi dan sering pergi-pergi


Nah, di awal pernikahan, saat menyerahkan keputusan ke saya mau bekerja lagi atau tidak, suami sudah menekankan kalau pekerjaannya nanti akan berisiko dimutasi. Jadi kami harus siap untuk dipindah ke sana-sini. Juga akan ada dinas ke luar kota yang bisa dibilang sering juga. Maka, dia sudah mewanti-wanti bahwa urusan keluarga termasuk anak adalah tanggung jawab terbesar saya.

Sebagai gantinya sejak awal menikah dia membolehkan saya memiliki asisten rumah tangga meski saya tidak mau kalau si Mbak ini menginap di rumah. Karena, kami merantau dan jauh dari keluarga besar jadi kalau pas suami enggak ada, saya masih bisa minta bantuan pada si Mbak asisten ini. Sekalian jadi teman.

Nah, ini juga lah yang membuat saya berpikir ulang saat dulu akan mencari pekerjaan. Suami sering mutasi, kalau saya kerja mesti pindah lagi dan lagi bisa nyesek hati..nyari lagi, dapat, pindah lagi hihihi. Karena di awal nikah Ibu saya berpesan jika kemanapun suami pindah nanti saya wajib mengikuti. Enggak boleh terpisah kecuali memang keluarga tidak diperkenankan ikut serta (biasa saat 4 on 4 off shift pattern). Juga karena Bapaknya sering pergi, mosok anak juga saya tinggal di keseharian. Duh, mana kerja di industri pariwisata sesuai latar belakang ilmu saya itu tidak mengenal libur akhir pekan dan tanggal merah. Bisa-bisa pas suami jadwalnya di rumah, saya malah kerja...Lhadalah!!

3. Saya ingin membersamai tumbuh kembang anak-anak


Menjadi Ibu yang mengasuh sendiri anak-anak sejak mereka bayi merah tanpa ada yang membantu (Mbah dan Budhenya jauh semua) membuat saya tahu tahapan tumbuh kembang anak-anak saya. Kapan mereka mulai merangkak, berjalan, bicara, mengajarkan toilet training, tidur sendiri, membaca dan menulis...semua!

Sungguh ini bikin saya bahagia dan bangga pada diri sendiri. Karena bagaimanapun di luar sana banyak yang di keseharian masih dibantu keluarga besar atau pengasuh bayi. Juga menyaksikan sendiri perkembangan anak-anak membuat saya tersadar bahwa saya dibutuhkan oleh mereka - karena Bapaknya sering enggak ada. Sehingga rasanya saya kok enggak tega kalau harus pergi lama-lama termasuk bekerja di luar sana.


4. Saya yakin tetap bisa berkarya meski jadi Ibu Rumah Tangga


Nah, alasan terakhir saya mengapa memutuskan jadi Ibu Rumah Tangga, karena dari rumah pun masih bisa berkarya. Ada teman saya yang hobi masak bisa berjualan makanan, bisa jahit lalu menerima jahitan, suka merajut bisa terima pesanan rajutan atau yang senang dagang bisa jadi reseller/dropshipper. Banyaaaak peluang dan kesempatan, tinggal kitanya mau memanfaatkan atau tidak.

Nah, saya pun demikian juga. Karena sejak kecil punya passion dalam dunia tulis-menulis saya pun menekuni ini. Hingga kini saya serius ngeblog yang akhirnya merembet juga ke profesi influencer dan buzzer. Sebuah profesi di era digital yang meski saya telat memulai tapi yakin dengan ketekunan pasti bisa menjalani. Dan, Alhamdulillah tak hanya silaturahmi tapi juga kesempatan untuk mengembangkan diri pun terbuka lebar bagi saya lewat dunia tulis menulis ini.


Mengapa saya jadi ibu rumah tangga


Nah....itulah tadi beberapa alasan saya mengapa memilih jadi Ibu Rumah Tangga. Tapi, bukan berarti saya memandang Ibu Bekerja itu enggak baik ya. Mungkin kalau situasi dan kondisi saya tidak ditakdirkan seperti di atas bisa saja saya tetap bekerja...hahaha

Bagi saya apapun keputusan seorang Ibu apakah ia ingin tetap berkarya di luar rumahnya atau memilih untuk menjadi Ibu Rumah Tangga sah-sah saja. Asalkan ia tetap menomorsatukan tugas dan kewajiban sebagai istri dan ibu sehingga semua berjalan pada koridornya.

Dan yang utama apapun pilihannya, sebagai sesama Ibu mari saling dukung kita!

Lalu bagaimana dengan teman-teman? Kalau dirimu adalah Ibu Rumah Tangga sama seperti saya, apa alasan yang membuat keputusan itu ada?

Yuk curhat-curhatan kita!

Oh ya teman saya Mbak Nurul Fitri Fatkhani menuliskan tema yang sama, Full Time Mom? Kenapa Tidak? Produktiflah dari Rumah juga Mbak Yeni Sovia , 5 Alasan Penting Ini Mengapa Memilih Menjadi Ibu Rumah Tangga!

Jangan lupa singgah juga ya...😍



Semakin Tua Semakin Bahagia (ngikut hastagnya Bunda Maia...hahaha)

Dian Restu Agustina








53 comments:

  1. Waah menyimak ceritamu pasti fantastik ya pindah sana sini. Dan memang keputusan untuk menjadi full time mom itu nggak mudah, butuh kebesaran hati dan dukungan penuh dari keluarga. Syukurlah sekarang udah bisa beraktualisasi diri lagi dengan nulis ya... mantab mba. Sukses terus! Dikau adalah salah satu inspiratorku 😘

    ReplyDelete
  2. Mbak Dian memang keren. Mungkin aku masih perlu beberapa tahun lagi untuk bisa jadi fulltime mom. Terima kasih sharingnya ya mbak ^^

    ReplyDelete
  3. Saya juga lebih memilih fokus mengurus anak-anak setelah sekian lama bekerja di luar rumah. Meskipun sudah tidak bekerja di kantoran, tetapi kita masih bisa produktif di rumah, bukan? Kita masih bisa berpenghasilan dari rumah.

    Apapun yang dipilih, menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga, pasti ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tinggal kita sendiri yang menyikapinya dengan bijaksana.

    ReplyDelete
  4. nomer 3 itu buatku alasan yang benar2 mulia
    aku selalu angkat topi bagi wanita yg jadi ibu rumah tangga meski tidak mengesampingkan wanita karir
    yang jelas perhatian kepada anak sangatlah penting
    saya lihat Mbak Dian benar2 jadi supermom

    sehat selalu mbak...

    ReplyDelete
  5. sama saya juga memutuskan jadi ibu rumah tangga aja meski ortu masih ngotot saya harus kerja di luaran kalau perlu di kantoran. Tapi saya mikir siapa yang bakalan masak? mau anak2 beli masakan matang terus? apalagi mereka anak tiri saya nah siapa lagi yang mau dekat dengan mereka? memang masih ribut dan saling kekeuh dari pihak ortu menginginkan saya bekerja sedangkan dari pihak suami menginginkan saya buka usaha aja kalau perlu ikut suami mengembangkan usaha.

    ReplyDelete
  6. Saya memutuskan untuk tidak bekerja lagi, setelah guru anak saya yang ke 2 bilang, bahwa dia melihat sorot mata anak saya kosong seperti menunggu sosok ibunya. Saya kira sebelumnya, anak saya sudah mandiri, ternyata...itu adalah titik balik hidup saya memutuskan keluar dari pekerjaan dengan segala hal yang positif yang menyertai, maupun resikonya

    ReplyDelete
  7. Pengorbanan ibu tak ternilai harganya...

    ReplyDelete
  8. Memutuskan menjadi fulltime mom ternyata perlu lika liku pemikiran. Yang jelas orientasinya untuk anak ya,mbak. Apalagi sekarang peluang untuk berkreasi bisa dilakukan dari rumah. Semoga makin jadi blogger mom kereeen, mbak dian

    ReplyDelete
  9. Saya memang tidak berpikiran untuk resign setelah menikah, apalagi suami mendukung. Tapi keputsan tersebut ternyata lebih berat, karena saya harus pegang erat komitmen dlm memegang kendali rumah tangga & mengurus anak2. Maklum suami super sibuk & pulang setelah larut.

    Untuk tidak.kehilangan momen bersama anak, saya melakukan semua sendiri. Mulai dr menyiapkan makanan dan lainnya, begitu pulang langsung take over anak2. Tapi lelahnya ga terkira, aku senang melkukannya. Tidak ada anak2 yg lwngket dg pengasuhnya, tp.tetap nyari emak ya. Klo dinas keluar kota & anak2 libur sekolah, saya boyong anak2 dinas..hehe
    Menjalankan 2 fungsi itu intinya harus komit benar dijalankan. Memang berat tp.ka hidup.pilihan..heheh

    ReplyDelete
  10. Mbak seru banget ceritanya. Aku juga resign karena tidak ada yang menjaga anak².

    Karena punya blog, aku jadi ttp produktif walau hanya di rumah aja 😊

    ReplyDelete
  11. Mbak Dian, terharu baca kisahnya. Pilihan Mbak Dian udah keputusan yang tepat. Menikmati setiap proses. Aku dulu wisuda Maret, April menikah. Malah engga kepikir kerja, maunya jadi IRT. Hehe... Mulai kerja anak pertama usia 2 tahun. Pikir-pikir mengajar aja deh...supaya perginya engga lama.

    ReplyDelete
  12. Bun kusedih dengernya. Alhamdulillah Allah gantikan dengan 2 jagoan ya bun. Setuju bun, aku pun jg lebih suka jadi ibu rumah tangga dibanding kerja kantoran. Dari dulu pas lulus kuliah cari kerja juga enggak mau pns atau bumn takut enggak mau resign pas nanti nikah, karena keenakan kerja, wkwk.

    Karena IRT tuh cita-cita aku dari kecil, ntahlah kenapa saya kepikiran cuman mau jadi IRT daripada cita-cita keren lainnya, wkwkwk. Alhamdulillah menikmati banget jadi IRT. Bisa sambil berkarya juga tentunya dengan menulis. Semoga kita tetap menebar manfaat lewat tulisan ya, bun. Aamiin.

    ReplyDelete
  13. Hashtagnya asyek!! Nggak nyangka lho, dirimu sempat galau juga di awal menikah. Beda sama aku yang galaunya nanggung di tengah-tengah. Kalau aku sih, karena dari kecil tahunya jadi perempuan harus mandiri, harus punya duit sendiri. Jadi pas gak kerja tuh, galaunya setengah mati. HIks... hiks. Semacam belum tuntas juga dengan trauma masa susah saat kecil. Tapi ya bismillah wis. Demi anak-anak.

    ReplyDelete
  14. Saya pun akhirnya memilih menjadi ibuvrumah tangga tulen mbak. Sebab anak anak kasihan slalu terjadi drama kalo pagi hari saat berangkat kerja. Alhasil. Saya lah sendiri. Dan memilih bersama amnak anak dirumah, membersamai tumbuh kembang mereka.

    ReplyDelete
  15. Harapanku sebelum menikah adalah nantinya saya adalah seorang ibu pekerja. Apalagi, para perempuan di keluarga besarku sukses dengan kariernya masing2. Qadarallah, pikiran itu berubah setelah mempelajari bahwa tempat terbaik perempuan adalah di rumahnya sendiri. Bukan berarti perempuan dilarang berkarier, hanya saja saya merasa lebih nyaman bila berada di rumah saja.
    Meski demikian, saya sempat merasakan keseruan berkarier saat anak empat orang. Ada kondisi tertentu yang mengharuskan saya mengambil keputusan tersebut. Dan, ketika pindah ke Malaysia saya pun harus melepaskan karier tersebut dan kini sepenuhnya kembali menjadi IRT.
    Iya sih, banyak yg menyayangkan keputusan tsb bahkan ada yg prihatin. Katanya, saya akan bete seharian di rumah. Hm, rupanya mereka belum tahu kalau emak2 juga bisa eksis meski dari rumah, hehehe.

    ReplyDelete
  16. Abis paradigma kalo mau jadi IRT ngapain repot-repot sekolah jadi sarjana kalo ujung-ujungnya didapur. Bener yah mbak? Itu tuh yang aku rasain juga sekarang selalu di usilin dengan perkataan itu. Hmmm padahal belum tau yah kita juga IRT masih bisa berkarya dan berpenghasilan plus kita ga kalah gaul kok sama ibu-ibu kantoran. Yang penting lillah aja yah mbak

    ReplyDelete
  17. MasyAllah Mba Dian. Ternyata Mba Dian itu ya sebelum menjadi ibu rumah tangga seorang wanita karier yang hebat ya. Sama hebatnya dengan peran Mba Dian yang sekarang. Aku ikut sedih juga denger cerita sedih Mba Dian. Ngomong-ngomong suami kita sama ya, suka dimutasi. Berarti nanti ada kemungkinan dimutasi lagi mba Dian? Kalau suami aku pasti dimutasi lagi. Tapi nggak tahu kemananya

    ReplyDelete
  18. Sangat menginspirasi ceritanya, Mbak.
    Dan tugas ibu rumah tangga termasuk paling mulia.

    ReplyDelete
  19. Mbak Dian, aku terharu bener bacanya huhu. Semoga terus produktif menjadi Ibu Rumah Tangga ya mbak :) insyaAllah pasti ada hikmahnya. Mba Dian keren banget kogh jadi blogger. Dan sy jadi salfok sama akhirnya, semakin tua semakin bahagia. Ciieee. Amin :)

    ReplyDelete
  20. jadi ibu rumah tangga emang kenikmatan yang haqiqi.. nggak ada profesi yang lebih membahagiakan dari ini..

    ReplyDelete
  21. Tidak perlu banyak waktu bagi saya untuk memilih menjadi fulltime mom, karena saya ingin selalu ada dalam memori anak saya.

    ReplyDelete
  22. Istri saya juga IRT atas kemauannya sendiri, masalah rejeki sdh ada yg atur. :) nice share mbak

    ReplyDelete
  23. MasyaAllah... barokAllahu fiik Mbak Dian, insyaAllah itu pilihan terbaik 😍

    ReplyDelete
  24. Memang jadi ibu rumah tangga bukan berarti ga bisa berkarya ya. Jaman sekarang malah banyak IRT yang punya penghasilan wah, meski ia diam saja di rumah, tidak kemana mana. Semangat Mbak Dian. Dengan bersyukur insyaallah nikmatnya akan bertambah lebih :)

    ReplyDelete
  25. Saya sudah menikmati menjadi full ibu rumah tangga selama 5 tahun. Tapi sekarang sudah enggak lagi karena kebetulan ada lowongan CPNS di dekat tempat tinggal saya yang jaraknya gak sampai 5 menit dari rumah. Pertimbangan saya yang lainnya untuk memilih bekerja adalah karena pekerjaan saya tidak full seharian jadi cuma sampai siang saja. Makanya saya berani untuk mengambil kerjaan ini setelah bertahun-tahun menjadi IRT full di rumah saja. Tapi apapun pilihannya, takdir tetaplah takdir. Dan takdir setiap orang tak mungkin sama. Pasti itu yg terbaik bagi setiap yg menjalani

    ReplyDelete
  26. Aku baru setahun nih berhenti bekerja kantoran karena memutuskan untuk menemani anakku dirumah. Sambil dirumah masih bisa melakukan hobi atau kerjaan yang bisa dilakukan dirumah seperti foto produk dan blogging.

    ReplyDelete
  27. Pilihan menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan mulia mbak, karena ibu adakah madrasah untuk keluarganya

    ReplyDelete
  28. Kalau saya alasannya sama dengan poin 3 dan 4. Dan memang kebetulan juga lagi susah cari kerja yang sesuai background pendidikan saya, yaitu tenaga kesehatan.

    Saking udah betah jadi fulltime mom, saat ada tawaran kerja malah nggak diambil, hihi

    ReplyDelete
  29. Waaaaah keren mbk. Semangat mengurus keluarga, suami dan anak2 hehe. Karena itu sangat membanggakan loh kumpul keluarga terus

    ReplyDelete
  30. Seru ya mbaa, ikut suami pindah-pindah, jadi punya banyak pengalaman dan tau banyak kota. Setelah enjoy jadi IRT pun nikmat yg terasa jadi lebih banyak ya kan? :)

    ReplyDelete
  31. Innalillahi wainnailahibrojiun, saya baru tahu ttg putr mbk Dian yang kembali pada yang Kuasa, semoga kelak ia yang mengangkat mbk Dian menuju pintu surga. Luar biasa mbak perjuangannya, alhamdulillah saat ini mbak Dian menjadi inspirasi banyak orang sebagai blogger, termasuk saya.
    Semoga selalu sehat dan sukses ya mbak dan semoga selalu samawa dengan keluarganya. Amin:)

    ReplyDelete
  32. Walau awalnya nyesek, tapi akhirnya justru bertambah kuat dan semangat, ya, Mbak. Bahkan mendapatkan banyak kesempatan baru untuk berkarya.

    ReplyDelete
  33. Hampir semua ibu rumah tangga yang saya kenal adalah perempuan perempuan hebat. Keputusan untuk menjadi ibu rumah tangga jika berasal dari diri sendiri tanpa paksanaan insyaAllah akan berjalan baik seperti yang mba lakukan :)

    ReplyDelete
  34. Emang kalau suami suka dipindah2, andai istri kerja, jd riskan LDR ya mbak hehe.
    Zaman now dengan kemudahan teknologi enak ya? Ibu rumah tanggapun bisa produktif dan bekerja dari rumah ya mbak?

    ReplyDelete
  35. Sama nih mbak, pas hamil aku memutuskan resign. Kemudian dapat tawaran kerja yg menggiurkan, tapi posisi lg hamil tua. Terus abis lahiran ditawarin lagi tapi posisi anak baru 3 bulan kok sayang banget sama anak, jadilah aku memutuskan untuk jadi ibu rumah tangga aja. Aku jg anak yg ditinggal orang tua kerja, jadi bonding ke orang tua kurang. Aku gak mau sih anakku jg gitu.

    ReplyDelete
  36. Alhamdulillah....senan s sekali membaca tulisan ini mbak. Sama2 wanita pekerja (((dulu))) tapi sekarang menjadi ibu rumah tangga yang berpenghasilan sambil mengurus anak dan rumah...

    ReplyDelete
  37. Rencananya nanti setelah menikah aku juga mau kerja di rumah aja. Syukur-syukur bisa full time mom. Tapi lihat nanti sajalah, hehe.

    ReplyDelete
  38. Kalau aku pribadi sejujurnya enggak pernah punya mimpi jadi ibu rumah tangga. Berat!
    Tapi ternyata suami ridlonya begitu, duh jungkir balik rasanya sampai akhirnya sekarang malah bersyukur banget bisa menjadi ibu rumah tangga. Malah bisa kerja sesuai passion

    ReplyDelete
  39. Memutuskan menjadi ibu rumah tangga itu jadi keputusan besar saya 8 tahun yang lalu
    Saat sedang masa promosi untuk naik level, saya mengajukan resign
    Ahhh... masa-masa itu

    Setelah 8 tahun berlalu, ternyata saya menikmati kok
    Dan syukurnya bisa tetap produktif meski dari rumah

    ReplyDelete
  40. Kak Dian keren. Mungkin diluar sana masih banyak wanita karir yang hanya mementingkan pekerjaan. Tapi kak Dian berhasil menunjukkan menjadi ibu rumah tangga adalah anugerah yang luar biasa

    ReplyDelete
  41. Saya jg bersyukur jadi ibu rumah tangga. Kalau saya, agar anak2 tidak merasa kesepian seperti apa yg saya rasakan dulu saat mama saya kerja. Huhu. Sediiih banget

    ReplyDelete
  42. Semangat mba. Sebagai Ibu Rumah tangga merupakan tugas mulia dan sebagai Ibu Rumah Tangga bukan berarti tidak punya ilmu dan penghasilan.

    ReplyDelete
  43. I feel you mbaa. Walaupun aku nikah selagi masih jadi mahasiswi, belumbpernah mengucap kerja kantoran kecuali pas ambil matkul magang di sekolah xDkexdepannya blm tau bakal ttp jd IRT atau gmna tp utk alasan bertahan menjadi IRT aku bs temukan di postingan ini. :')

    ReplyDelete
  44. MasyaAllah, semoga dede jadi tabungan syurga ya mbak. Dan semoga rejekinya lancar meski dirumah saja. InsyaAllah berkah

    ReplyDelete
  45. Kondisinya memang mengharuskan untuk di rumah ya Mba. Enakan menemani suami keliling dunia xixi.... Saya juga setelah nikah, langsung resign. Sampai hari ini, semua urusan rumah dan anak dihandle sendiri. Sesekali dibantu orang, tapi jarang. Alhasil, anak-anak lengket terus sama mamanya.

    ReplyDelete
  46. Saya terinspirasi dari almarhumah mamah mertua yang memang full time mom. Panutan banget, deh! Bukan berarti mamah saya bukan sosok terbaik. Saya juga dekat dengan mamah. Tetapi, mamah saya kan kebalikannya dari mertua. Mamah saya itu seorang working mom. Mamah saya juga panutan karena udah sibuk bekerja, tetap mampu mengurus anak dan rumah tangga dengan baik.

    Tetapi, kalau dibalikin ke diri sendiri, kayaknya saya bukan tipe multitasking kayak mamah. Pasti salah satu bisa saya korbankan. Setelah dipertimbangkan, saya memilih seperti almarhumah mamah mertua aja. Menjadi ibu rumah tangga dan resign dari kantor

    ReplyDelete
  47. Subhanallah..perjalanan membina biduk rumah tangga yang inspiratif. Di sini seakan mba Dian menyampaikan bahwa rejeki pasca menikah benar2 diatur sangat baik oleh Sang Maha Kuasa
    SaMaWa selalu ya mba

    ReplyDelete
  48. Saya ingat sebuah nasihat Perempuan itu harus sekolah tinggi supaya bisa mendidik anak-anaknya lebih baik lagi. Salut, Mbak Dian bisa mengambil keputusan untuk membersamai anak-anak agar dapat mendidik dan menyaksikan tumbuh kembang mereka.

    ReplyDelete
  49. Inspiratif sekali ceritanya. Sama mbak, saya juga sekarang menjadi ibu rumah tangga. Sambilan bekerja dari rumah. Entah itu menulis atau lainnya, yang penting bisa dikerjakan secara online.

    ReplyDelete
  50. Jadi ibu rumah tangga itu juga tidak gampang. Salut dengan pilihan yang sudah fix memilih jadi irt saja. Toh meski jadi irt tetap bisa produktif kan ya...

    ReplyDelete
  51. Kalau saya sih salut banget dengan sosok wanita yang konsisten memilih peran full sebagai ibu rumah tangga. Peran ini begitu luar biasa, tanpa sosok ibu dan istri, apalah jadinya kita.

    ReplyDelete
  52. Saya selalu salut ama yang memilih jadi full time housewive. Pekerjaaan yang paling susah di dunka karena ga ada jam kerjanya, 24 jam mesti standby

    ReplyDelete
  53. Ya Allah aku ko bacanya kayak berasa lagi ngobrol berdua sm mba Dian trus d kasih insight panjang lebar yang bikin aku terenyuh banget. Makasih mba telah menuliskannya, sometimes ak jg mau menuliskan dengan tema yg sama ketika waktunya sudah tiba hehe

    ReplyDelete