Daya Saing Pertanian dan Industri Makanan Jadi Fokus Rakornas KADIN 2019



"Together We Go Far and Fast


Begitu disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan, Bapak Franky O. Widjaya, saat  Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) KADIN 2019. Rakornas yang mengambil tema "Produktivitas dan Daya Saing Pertanian dan Industri Pangan" ini diselenggarakan pada hari Selasa, 5 November 2019 di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta. Rakornas dihelat untuk merumuskan rekomendasi kepada pemerintah seputar upaya peningkatan produktivitas dan daya saing pertanian juga industri pangan, serta mengkoordinasikan program kerja dunia usaha dan pemerintah ke depannya.

Ya, ketahanan pangan memang masih menjadi fokus utama Pemerintah Indonesia. Pasalnya, masih ditemukan sejumlah tantangan, diantaranya peningkatan produktivitas pangan di tengah jumlah populasi yang terus meningkat.

Betapa tidak, pada tahun 2045, diperkirakan jumlah populasi dunia akan menembus 9 miliar jiwa. Sementara, populasi penduduk Indonesia akan mencapai 350 juta jiwa. Ini artinya, kita harus bisa meningkatkan produksi pangan secara signifikan untuk bisa memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Maka mengingat pentingnya hal ini, tepat kiranya jika Rakornas KADIN 2019 kali ini berfokus pada tema "Produktivitas dan Daya Saing Pertanian dan Industri Pangan"




Tentang Rakornas Kadin 2019


Nah, acara Rakornas yang dipandu oleh host Prita Laura ini diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars KADIN dan Hymne KADIN.

Selanjutnya ada sambutan dari Ketua Pelaksana Rakornas, Bapak Franky Welirang yang menjelaskan, selain melibatkan Dewan Pengurus Kadin seluruh Indonesia di sektor agribisnis, Rakornas juga menghadirkan para pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, asosiasi dan himpunan bisnis, petani, korporasi, perbankan, lembaga keuangan, anggota parlemen dan lainnya.




"Semua yang berkumpul di Rakornas ini, sedikitnya ada 200 peserta. Bersama-sama akan merumuskan rekomendasi untuk mensinergikan program dunia usaha dengan pemerintah," jelas Pak Franky.

Selanjutnya Pak Franky mengatakan bahwa bidang pertanian dan pangan perlu diperhatikan karena peningkatan jumlah populasi yang kian tinggi. Ini membuat kita harus bisa meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, apalagi dengan tantangan perubahan iklim yang ada kini.




Ketahanan Pangan Nasional dan Permasalahannya



Nah, untuk meningkatkan produksi pangan diperlukan bibit tanaman pangan yang unggul dan berproduksi tinggi. Namun sayangnya, kondisi perbibitan dan perbenihan komoditas pangan saat ini masih belum terkoordinasikan secara baik. Sebabnya, sehari-hari, bibit dan benih yang beredar sangatlah beragam dan banyak yang belum terstandarisasi juga kadang hilang dari pasaran.

Bibit dan benih bersertifikat yang masih sangat terbatas ini berakibat pada harga yang cukup mahal, mengakibatkan banyaknya impor bibit untuk memenuhi kekurangan pasokan. Padahal, banyak bibit impor yang tidak sesuai dengan kebutuhan para petani.

Hal inilah yang menurut Bapak Franky O. Widjaya, WKU KADIN Indonesia Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan tadi, pemerintah perlu mengeluarkan payung kebijakan yang mengatur tentang perbibitan dan perbenihan komoditas pangan secara nasional agar dapat terkoordinasi mulai dari pengadaan, pendistribusian, penyimpanan hingga cara menanamnya. Pemerintah juga dirasa perlu menumbuhkembangkan industri pembibitan dan perbenihan dengan memberikan insentif khusus.

Tata dagang (distribusi) bibit dan benih yang baik serta penangkar benih yang terlatih dan tersebar ke seluruh wilayah Indonesia, sehingga bibit dan benih mudah didapat, dengan harga terjangkau.




Selain itu, edukasi kepada petani soal penggunaan pupuk berimbang untuk sejumlah komoditas juga terbukti berhasil meningkatkan produktivitas pertanian. Di samping itu, pemanfaatan teknologi pertanian yang tepat juga semakin penting untuk mentransformasi pertanian nasional di tengah perubahan iklim.

Hal ini penting karena perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu yang cenderung meningkatkan hama tanaman dan merubah pola curah yang berdampak pada menurunnya produksi pangan.

Sementara di sisi lain, sistim perdagangan pangan global yang semakin terbuka menyebabkan harga produk pangan di dalam negeri ikut terpengaruh. Kondisi ini menyebabkan harga komoditas pangan strategis menjadi berfluktuasi. Terkait hal ini, Pak Franky menekankan pentingnya menciptakan ekosistem iklim investasi ketahanan pangan yang baik agar sektor pertanian nasional mampu meningkatkan daya saingnya dalam persaingan internasional yang semakin dinamis dan kompetitif.

"Strategi industrialisasi berbasis agroindustri perlu dipersiapkan dengan matang. Sama halnya dengan strategi daya saing ekspor unggulan kita, memproses dan mengolah produk hasil pertanian mejadi barang-barang setengah jadi atau produk final yang dapat langsung dikonsumsi atau dipakai," ungkap Pak Franky yang juga Ketua Dewan Pengarah Rakornas ini.





Pentingnya Pertumbuhan Investasi di Subsektor Pangan




Sementara, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pengolahan Makanan dan Industri Peternakan, Bapak Juan P. Adoe menekankan pentingnya pertumbuhan investasi di subsektor pangan. Juga perlunya infrastruktur pembiayaan perbankan yang lebih inovatif dan kreatif, sehingga mempermudah akses permodalan Kepada petani dan peternak dengan skema perkreditan yang lebih kompetitif dan dapat menciptakan nilai tambah keuntungan bagi petani dan peternak.

Data Kementerian Perindustrian menyebutkan sektor makanan menjadi penyumbang utama Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) senilai Rp 7,1 triliun, dan kedua terbesar Penanaman Modal Asing (PMA) senilal USS 376 juta pada kuartal 1/2019. Pada periode-periode sebelumnya, sektor makanan Juga menjadi salah satu kontributor utama investasi, terutama untuk PMDN.

"Kita harapkan investasi di sektor pangan terus tumbuh, tentunya ini perlu didorong dengan kebijakan fiskal dan insentif yang baik, karena akan berpengaruh banyak pada keberlanjutan pertanian dan industri makanan," kata Pak Juan.




Tujuan Rakornas Kadin Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan 2019



Selanjutnya Ketua Umum KADIN Indonesia, Bapak Rosan P. Roeslani menggarisbawahi bahwa:


1. Di Indonesia pangan dan pertanian adalah bagian tidak terpisahkan dari sistem agribisnis (value chain) dari hulu ke hilir (from up-stream to down stream) dimana keberadaan dan kebersamaan petani dan pengusaha adalah sebuah keniscayaan

2. Memahami kondisi dan potensi yang masih ada, diperlukan peningkatan investasi pada kegiatan hulu dan hilir (up-stream to down-stream investment) untuk dapat melipatgandakan kontribusi pangan dan pertanian dalam perekonomian Indonesia serta meningkatkan kesejahteraan petani. Hal ini berpotensi menambah pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 1-1,5%

3. Peningkatan investasi hulu-hilir tersebut fokus pada peningkatan produkstivitas dengan kerjasama antara petani dan pengusaha sebagai kunci keberhasilan

4. Peningkatan investasi hulu-hilir bagi peningkatan produktivitas membutuhkan penciptaan iklim usaha yang kondusif secara konsisten dan persisten




Meningkatkan Produktivitas Melalui Bibit dan Teknologi dalam Menghadapi Perubahan Iklim



Kemudian ada Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof Bambang PS. Brodjonegoro dalam sambutan Pembukaan Rakornas KADIN 2019 yang menyatakan bahwa pemerintah selalu siap berkomunikasi dengan KADIN Indonesia terkait dengan penelitian dalam upaya meningkatkan sektor pertanian, terutama terkait bibit dan teknologi dalam menghadapi perubahan iklim.

Pak Bambang membandingkan antara petani Indonesia dan Australia. Profesi "petani" di Indonesia kurang dibanggakan beda dengan di Australia, misalnya. Padahal mereka adalah "pengusaha bidang pertanian". Karenanya, perlu ada dorongan pada para petani dari level terkecil untuk berpikir seperti pengusaha di bidang pertanian. Kita mesti libatkan mereka dan mulai bermitra bersama.







Nah, pendekatan kemitraan ini harus diperluas serta lebih diintensifkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan menekan inflasi serta kemiskinan. Juga, industri berbasis pertanian harus dijadikan prioritas dalam transformasi ekonomi. Sehingga otomatis produktivitas akan meningkat.

Meski hal yang penting untuk dicatat, produktivitas dalam negeri harus ditingkatkan juga seiring dengan semakin kuatnya industri pangan. Kalau produksi dalam negeri enggak cukup kuatirnya lari ke impor!

Maka, Research & Develompment di Indonesia akan lebih diarahkan ke:
  • Dapat dikembangkan secara komersial
  • Bisa dirasakan langsung hasil/dampaknya bagi masyarakat

Inovasi bisa jadi sudah banyak ada, cuma masih banyak prototype hasil R&D yang tidak menjadi produk komersiil. Ini perlu jadi catatan bagi periset, harusnya prinsip efisiensi dan kebutuhan pasar perlu juga untuk diperhitungkan.

Nah, pada Riset Nasional 2020-2025 sendiri, pangan dan pertanian tetap menjadi fokus utama. Diantaranya, salah satu prioritas riset adalah rekayasa genetika dan pemuliaan tanaman. Tak hanya itu, ada juga bibit unggul di bidang biota air dan kehutanan.

Riset pertanian, juga berbasis pada kawasan, mengingat iklim dan kondisi Indonesia yang sangat majemuk. Juga harus tahan pada perubahan iklim yang ada. Tak itu saja, perlu kiranya riset yang berbasis smart model water management system dan weather forecasting.

Kesemuanya itu perlu karena R&D adalah kunci kita untuk bersaing!!




Diskusi Panel Rakornas Kadin Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan


Oh ya, dalam Rakornas Kadin Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan 2019 ada tiga diskusi panel dengan narasumber yang seru.

Topik diskusi pertama adalah: “Meningkatkan Produktivitas Melalui Penyediaan Lahan, Bibit dan Teknologi dalam Menghadapi Perubahan Iklim.” Penting membahas perubahan iklim karena selain menyebabkan kenaikan suhu dan penyimpangan cuaca, juga meningkatkan potensi serangan hama tanaman. Imbasnya, gagal panen!!

Kemenristek/KaBRIN mendorong agar R&D tidak hanya menghasilkan publikasi tetapi juga paten dan inovasi serta hasil R&D dapat diproduksi dan bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu Kemenristek/KaBRIN juga akan terus mendorong terwujudnya kerjasama triple helix sehingga ketiga komponen tersebut bersinergi dan berkolaborasi untuk menghasilkan suatu inovasi yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

Selain R&D peran BMKG juga sangat dibutuhkan termasuk dalam sistem peringatan dini yang efektif untuk antisipasi dan mitigasi risiko bagi bidang pertanian.

Sementara berbicara mengenai perubahan iklim, Bapak Franky Welirang menyatakan bahwa perubahan iklim menurunkan produktivitas sehingga R&D sangatlah penting.

Lalu, menanggapi hal ini Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal mengatakan jika BMKG secara rutin mengadakan National Climatology Forum. Yakni kegiatan bersama dengan beberapa kementerian untuk menyusun masa tanam, masa panen, dan info terkait untuk berbagai komoditas di Indonesia. Selain itu BMKG juga aktif mengedukasi petani tentang iklim dan cuaca di Indonesia.


Diskusi Panel 1


Sedangkan topik untuk diskusi panel kedua adalah “Ekosistem Investasi Ketahanan Pangan & Daya Saing Ekspor.” Ini juga topik penting karena sektor makanan menjadi penyumbang utama penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp7,1 triliun, dan kedua terbesar penanaman modal asing (PMA) senilai US$376 juta pada kuartal I/2019.

Dalam diskusi ini hadir Wakil Menteri Luar Negeri, Bapak Mahendra Siregar yang mengatakan bahwa economic governance harus berjalan transparan dalam meyakinkan dunia usaha agar investornya masuk ke Indonesia.

Sementara Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Pengamanan Pasar, Sutriono Edi, mengatakan bahwa dari sisi ketahanan pangan Kementerian Perdaganagan telah banyak melakukan pengamanan pasar dalam negeri berdasarkan UU No. 18. Selain itu, ketahanan pangan harus didukung dengan kesediaan komoditi, keterjangkauan akses dan harga karena semua harus dilindungi baik petani maupun konsumen. Investasi dari hulu ke hilir mesti ditangani dengan tepat sehingga terwujud ketahanan pangan. Seperti: gudang, kapal dan para pelaku yang bisa mengelola gudang dan sistem e-commerce

Kemudian dari sisi industri, Dodi Widodo, Staf Ahli Kementerian Perindustrian menyatakan penting adanya keberlanjutan bahan baku setelah diolah. Sehingga Kemenperin terus berupaya agar komoditi Indonesia bisa bernilai tambah sehingga dapat meningkatkan daya saing.

Diskusi Panel 2

Nah, topik diskusi panel ketiga juga tak kalah seru: “Access to Finance”, membahas tentang peran fintech bagi petani. Akses pembiayaan petani memang masih menjadi masalah utama dalam mewujudkan program-program ketahanan pangan oleh Pemerintah, terutama para petani yang berada di daerah terpencil. Harapannya memang dengan semakin banyaknya bermunculan perusahaan fintech, bisa menjadi solusi layanan keuangan bagi masyarakat yang belum memiliki akses ke institusi perbankan.

Suahasil Nazara, Wakil Meteri Keuangan dalam panel ini mengatakan bahwa Kemenkeu telah melakukan banyak hal pada petani dan UMKM lewat APBN. Pada sisi penerimaan APBN, kebijakan fiskal telah memberikan keleluasaan pada pengusaha kecil untuk memilih rezim pajak. Ini adalah salah satu bentuk keleluasaan supaya pengusaha kecil memiliki fleksibilitas. Sementara bicara tentang Fintech, diharapkan Fintech bisa mempercepat akses dan dikelola dengan baik sehingga aman dan tidak menjadi risiko yang sifatnya sistemik.

Boedi Armanto, Senior Advisor Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK menyebutkan bahwa OJK Indonesia telah mengeluarkan banyak ketentuan untuk Fintech yang dapat menjamin rasa aman. Praktiknya juga terus dipantau dengan menerapkan tindakan preventif dan represif yang bekerjasama dengan Polri dan instansi terkait.

Jerry Ng, Founder Fintech punya perpektif tersendiri yakni, teknologi merupakan bagian dari solusi. Tapi bukan solusi terakhir. Sebab pada akhirnya semua akan kembali ke bank sebagai penyedia dana. Tapi sayangnya, saat ini perbankan sebagian besar masih menyentuh sektor perdagangan. Perbankan harusnya masuk ke sektor lain seperti pertanian dan peternakan.

Diskusi Panel 3


Menteri Lingkungan Hidup & Kehutanan - Siti Nurbaya

Sementara Menteri LHK, Ibu Siti Nurbaya, mengajak KADIN Indonesia untuk membuka lapangan kerja. Pesan utamanya: peningkatan lapangan kerja, neraca perdagangan, produksi dan ekspor serta iklim investasi dalam perspektif investasi dan lingkungan.




Fakta-Fakta Rakornas Kadin Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan



Ketahanan Pangan

Dalam UU No.18/2012 Tentang Pangan, Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi Negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.


Peningkatan Produktivitas Pangan

Tahun 2045, jumlah populasi dunia diperkirakan akan menembus 9 miliar jiwa. Sementara populasí penduduk Indonesia akan mencapai 350 juta jiwa. Semua pihak harus bekerja keras agar produksi pangan meningkat secara signifikan dan berkelanjutan untuk bisa memenuhi kebutuhan pangan nasional dan global.

Peningkatan produksi membutuhkan bibit tanaman pangan yang unggul atau berproduksi tinggi, yang didukung ketersediaan serta penggunaan pupuk yang berimbang, melibatkan sumber daya manusia yang terlatih dan berkualitas, pemanfaatan teknologi tepat guna, kehadiran lembaga yang menjamin penyerapan atau pembelian hasil panen (off taker), dukungan sistem pendanaan yang terbuka dan inklusif berbasis teknologi informasi dan komunikasi.





Bibit Unggul

Dibutuhkan adanya kebijakan umum yang mengatur perbibitan dan perbenihan komoditas pangan secara terpadu dan terkoordinasi mulai dari pengadaan, pendistribusian, penyimpanan hingga cara penanamannya.

Dengan begitu, ketersediaan bibit unggul bersertifikat akan terjamin, dan penyebarannya akan meliputi seluruh sentra perkebunan dan pertanian di Indonesia, dengan harga terjangkau.

Industri pembibitan dan perbenihan juga mesti dikembangkan dengan menyediakan insentif khusus bagi lembaga yang berkomitmen melakukan penelitian dan pengembangan perbibitan. Selain itu dibutuhkan pula kehadiran regulasi berikut standarisasi pemuliaan bibit yang bersifat terbuka, sehingga potensi masyarakat dan petani datam perbibitan tanaman pangan lokal dapat turut menjadi kontributor pencapaian ketahanan pangan nasional.




Teknologi Pertanian 4.0

Pemanfaatan teknologi pertanian yang tepat akan memberikan efisiensi waktu dan mendorong peningkatan produktivitas.

Sejak empat setengah tahun lalu Kementerian Pertanian telah memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk berbagai alat dan mesin (Alsintan) pertanian seperti autonomous tractor, drone sebar benih, drone sebar pupuk granule, alsin panen olah tanah terintegrasi dan penggunaan obat tanam. Pendekatan teknologi semacam ini tetap dapat berlangsung beriringan dengan teknologi berbasis kearifan Iokal seperti pola tanam jajar legowo pada padi sawah dan jarak tanaman hortikultura, dimana jarak tanam yang sesuai akan mampu meningkatkan produktivitas tanaman.




Perubahan Iklim

Perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu yang selain mengakibatkan penyimpangan cuaca, juga meningkatkan potensi serangan hama tanaman. Kesemuanya berdampak pada menurunnya produksi pangan. Untuk merespon Perubahan Iklim, dibutuhkan keterlibatan seluruh sektor, mulai dari sektor yang berpengaruh pada kesediaan pangan sampai pada infrastruktur fisik, menggunakan strategi pembangunan yang mengadopsi pengarusutamaan (mainstreaming) perubahan iklim.

Menyediakan wahana berbasis teknologi informasi dan komunikasi guna mendukung aktivitas pengelolaan lahan para petani atau pekebun — seperti citra satelit untuk pemantauan cuaca, sebaran titik panas dan titik api — sekaligus mendidik mereka untuk terlatih memanfaatkan perangkat ini, secara bertahap diharapkan dapat mengurangi potensi terjadinya kebakaran lahan yang disengaja maupun tidak. Pemerintah juga dapat mengkaji pemberlakuan skema insentif bagi sektor privat yang berkomitmen dalam penerapan praktik agribisnis berkelanjutan berikut mencegah kebakaran lahan, sementara disinsentif diberlakukan bagi mereka yang terbukti terlibat dalam pembakaran.



Investasi dan Daya Saing

Di industri pengolahan, seperti dirilis oleh Kemenperin, sektor makanan menjadi penyumbang utama penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp7,1 triliun, dan kedua terbesar penanaman modal asing (PMA) senilai US$376 juta pada kuartal 1/2019. Pada periode-periode sebelumnya, sektor makanan juga menjadi salah satu kontributor utama investasi, terutama untuk PMDN.

Dikutip dari Reuters, Indeks Daya Saing Global atau Global Competitiveness Index 4.0 dengan metodologi baru edisi 2018 yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF) di Jenewa, Swiss, pada Selasa (16/10) menempatkan Indonesia di peringkat ke-45 dari 140 negara.

Pelemahan ekonomi global dituding menjadi penyebab utama terpuruknya ekspor Indonesia. Negara-negara tujuan utama ekspor Indonesia secara tradisional seperti China, Jepang, AS, dan negara-negara Eropa tengah mengalami perlambatan ekonomi. Akibatnya permintaan barang dari Indonesia menurun.

Sistem perdagangan pangan dunia yang semakin terbuka akibat pasar bebas menyebabkan harga produk pangan di dalam negeri ikut terpengaruh oleh situasi dan kondisi internasional. Kondisi tersebut, berikut pengaruh ketersediaan dan distribusi di dalam negeri, menyebabkan harga komoditas pangan, terutama pangan strategis seperti beras, kedelai, daging sapi, cabai dan bawang merah menjadi berfluktuasi.

Agar produksi pangan dapat berkelanjutan, Pemerintah harus melindungi masyarakat dan petani dari gejolak harga. Sebagai konsumen mampu membeli bahan pangan dengan harga yang terjangkau.

Pemerintah diharapkan menciptakan iklim investasi berbasis agroindustri, yang selain dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional, juga dunia secara berkelanjutan melaui komoditas berdaya saing, sekaligus juga menyediakan lapangan kerja dalam skala besar.




Inovasi Keuangan

Hambatan akses pembiayaan petani masih menjadi masalah yang utama dalam mewujudkan program-program ketahanan pangan oleh Pemerintah. Hambatan terutama terjadi pada para petani yang berada di daerah terpencil dengan keterbatasan akses ke layanan keuangan.

Walaupun telah ada model pembiayaan yang cukup berhasil pada komoditas kelapa sawit, kendala geografis menyebabkan penerapannya pada komoditas pertanian maupun perkebunan lainnya cukup sulit. Bank maupun pembiayaan konvensional lainnya membutuhkan dukungan inovasi Infrastructure Financing and Creative Financing berbasis teknologi finansial yang inklusif, terbuka, namun legal.




Fintech

FinTech, adalah singkatan dari Financial Technology, yakni teknologi dan inovasi untuk menciptakan lanskap keuangan yang lebih baik bagi konsumen dan bisnis. Inovasi baru ini juga mampu menjadi solusi bagi keterbatasan jangkauan layanan keuangan tradisional selama ini karena mampu menaklukan keterbatasan topografi, menjangkau wilayah yang lebih terpencil. Saat ini sudah ada lebih dari 150 starttup FinTech ditemukan di Indonesia, pertumbuhan 78 persen sejak 2015.

Perkembangan fintech beberapa tahun terakhir ini juga terbilang pesat, terbukti dengan nilai transaksi yang terus melonjak, terutama yang berjenis peer to peer 2P lending. Layanan Fintech Microfinancing menyediakan layanan keuangan bagi masyarakat yang belum memiliki akses ke institusi perbankan.

Kehadiran tekfin maupun aplikasi berbasis TIK membutuhkan ekosistem yang memadai agar dapat berkembang dan berdaya guna. Selain pengembangan regulasi yang sesuai berikut pembangunan infrastruktur pendukung, upaya lain yang dapat dilakukan adala menggalang dukungan dari talent global untuk bekerja sama, menghasilkan SDM yang berkompeten di bidang TIK.






Baiklah.....semoga Rakornas Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan 2019 berhasil mencapai tujuan.

Terima kasih sudah membaca dan semoga infonya bermanfaat ya, teman-teman!

Sampai jumpa!!😍






Twitter: @Kadin_Indonesia | FB: @kadin.pusat | IG: @Kadin.Indonesia. Official





Salam Semangat,

Dian Restu Agustina






6 comments:

  1. Saluut sekali dengan event ini. Saya sangat berharap dan dream big, bahwa pertanian di Indonesia segera kuat. Ketahanan pangan benar benar bisa tercapai.
    Dalam keluarga saya banyak yg petani, tapi sistem terasa masih kurang mendukung petani. Semoga kelak pemerintah makin mendukung petani sehingga para pelaku di grassroots itu benar benar semangat mendukung ketahanan pangan

    ReplyDelete
  2. aih, saya agak bingung mau komentar, hehe banyaj banget sih, infonya. tapi saya salut sama pemerintah yang terus berusaha menyejajarkan diri dengan kemajuan teknologi. karena mau nggak mau segala hal harus sejalan dengan perkembangan zaman. petani melek fintech, pedagang dengan QR code, dll.

    ReplyDelete
  3. Kompliiiit banget. Yang paliiing pertama, aku tuh baru tuh lho kalau KADIN pun turut menyorot stabilitas pangan di negara kita. Dulu saat ngantor, sering banget mondar-mandir ke KADIN dan aku tahunya fokus mereka itu pada perindustrian dan perdagangan aja.

    Tapi yang memang ternyata saling ada keterkaitan, ya. Bicara pangan ya bicara soal bahan pangan yang berasal dari pertanian, lalu merembet ke perkembangan kehidupan petani, macam-macam jadinya.

    Overall, aku lega karena ada perhatian khusus soal ketahanan pangan karena hal ini akan berimbas juga ya pada kualitas hidup SDM kita ke depannya.

    Thanks sharing-nya, Mbak Dian ...

    ReplyDelete
  4. Senengnya bisa ikut acara keren dan bermanfast kayak gini ya mba Dian. Sebagai negara berkembang yang sebentar lagi maju (amiiin) Indonesia emang perlu banget memperhatikan ketahanan pangan. Apalagi penduduk yang segambreng ini pastinya butuh ketersediaan pangan yang baik ya mba. Semoga kualitas hidup mady Indonesia makin baik dari tahun ke tahun.

    ReplyDelete
  5. Ketahanan pangan memang seharusnya jadi perhatian yang utama ya, selain menyoroti sektor industri dan perdagangan.
    Semoga saja produksi pangan dapat berkelanjutan dan pemerintah bisa melindungi masyarakat dan petani dari gejolak harga. Semoga.

    ReplyDelete
  6. PR besar bangsa kita salah satunya ini'Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi Negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.' Karena rasanya sampai detik ini, hal ini belum benar-benar terwujud dalam hal pemeratannya.

    ReplyDelete