10 Tips Penting Jika Sakit Saat Traveling






Roadtrip kami ke Sumatera tempo hari memang penuh drama. Yang terberat adalah saat suami saya tiba-tiba demam tinggi ketika kami dalam perjalanan Bandar Lampung - Bengkulu. Yang mana membuat kami 2 hari benar-benar diam di hotel saja, menunggu kesembuhannya. Bahkan saya sempat kepikiran buat balik pulang ke Jakarta dan batal melanjutkan perjalanan. Tapi, setelah istirahat dan mengonsumsi obat dari dokter UGD RSUD Bengkulu, suami yang sudah pulih pun bersikeras melanjutkan perjalanan. Tanggung katanya, sudah nyaris setengah rutenya. Saya yang awalnya ragu pun menyetujui rencana itu. Dan, Alhamdulillah drama itu masih berseri dengan jatuh pingsannya saya di Jambi.

Duhh!!




Sakit Saat Traveling? Oh No!!


Jadi, dua minggu sebelum berangkat, suami saya memang sempat dalam kondisi kurang sehat. Demam tinggi serta ada keluhan di lambungnya. Kata dokter sih gejala tipes. Dia sesudahnya membaik hingga saat hari-H. Sementara saya, tiga hari sebelum hari H, tiba-tiba gantian demam dan batpil parah. Membuat saya sempat ke dokter dulu dan akhirnya bawa obat buat sangu.

Nah, selama di Lampung kami semua dalam kondisi baik-baik saja. Meski batpil saya belum mereda juga, tapi masih oke rasanya. Atau mungkin ini efek hepi karena traveling enggak tahu juga ya...hahaha, bukankah hormon bahagia bisa menghalau rasa sakit hati yang ada😁

Nah, drama mulai ada saat di perjalanan Bandar Lampung - Bengkulu. Kondisi hujan-reda-hujan lagi-reda lagi-...dan seterusnya, juga jalanan yang enggak mulus semua, membuat durasi perjalanan jadi lebih lama. Rencananya, kami akan masuk hotel sebelum gelap datang setelah menempuh perjalanan sejauh 570 km jauhya. Tapi rencana tinggallah rencana. Kalau itu rute tol Trans Jawa pasti enggak beda jauh sampainya (kondisi normal bukan Lebaran yaa) Tapi ini Jalan Lintas Barat Sumatera yang lewat hutan, perkebunan dan pesisir barat Sumatera yang jalannya indah tapi susaaah. Jadi ya gitulah, saat malam tiba kami masih berada jauh dari kota. 

Terus tiba-tiba, suami saya bilang dia menggigil karena demam. Saat saya pegang dahinya memang benar. Saya kekeuh gantiin dia di belakang kemudi. Dia enggak kasih sama sekali. Memang sejak awal dia bertekad nyetir sendiri, wong sopir Sumatera kok digantiin sopir Jakarta, enggak ah, gitu katanya (kezel bener dengernya ..hhhh)

Saya tawarin minum obat, dia nolak. Benar juga sih, takut ngantuk malah bahaya. Jadi dia bilang, jalan pelan saja, nanti masuk kota Bengkulu baru langsung cari dokter di sana.

Okelah, ide bagus. Dan kami pun lanjut sampai masuk kota. Putar-putar, nemu Apotik & Klinik Kimia Farma. Mereka bilang dokter praktek umum sudah pulang tadi jam 9. Ketika saya tanya, dimana klinik dokter 24 jam, enggak ada katanya. Adanya UGD Rumah Sakit Umum Daerah.

What??





Kami coba keliling lagi, tapi semua praktek dokter sudah gelap. Suami sudah enggak kuat, dia mau masuk hotel saja, minum obat dan istirahat.

Ya sudah, saya setuju!

Esok paginya, dia bukannya mulai pulih tapi tambah parah. Akhirnya kami ke UGD RSUD Kota Bengkulu.

Langsung diminta ke bed pasien untuk diperiksa. Ada 2 mbak perawat (magang) yang nanya-nanya. Saya juga diminta mendaftar ke bagian pendaftaran. Agak lama enggak segera ditangani, baru setelah agak lama, dokternya mendatangi. Enggak ada ramah-ramahnya, cuma nanya seperlunya lalu pergi. Suami yang bilang sedang dalam perjalanan meminta kalau bisa diinfus saja karena dia lemas sekali. Sekalian nanya boleh enggak obat penurun panas diberikan dalam bentuk infus, karena suhu sudah 40 dercel. Dokter berkelit mesti rawat inap kalau perawatannya minta itu.

Saya bilang bisa enggak rawat sementara saja di tempat, enggak perlu rawat inap. Katanya enggak bisa. Saya tanya mengapa. Katanya karena perawatan seperti itu enggak ditanggung BPJS.

Oalah dari tadi dikira pakai BPJS ternyata. Lalu saya bilang kami bayar tunai, enggak pakai BPJS. Barulah dokternya setuju. Dan bilang ke mas perawat tadi untuk ini itu.

Enggak lama siap infusnya. Mbak perawat yang 2 tadi sibuk tusuk sana-sini cari nadi. Enggak ketemu-ketemu. Sampai kasihan lihat suami. Baru ada mas perawat (senior) yang lain datang membantu. Akhirnya terpasang 2 infus (yang satu parasetamol) dan terambil 1 ampul sampel darah.

Saya kemudian diberi ampul darah tadi dan diminta mengantar sendiri ke laboratorium yang berada di gedung berbeda. Waduh, pertama kaget juga saya. 

Seriusan ini saya yang bawa sendiri? Ternyata memang iya. 

Laboratoriumnya ada di area yang sama di gedung yang terpisah. Setelah menyerahkannya dan menunggu, hasilnya pun jadi - enggak sampai 1 jam.

Saya pun ke UGD lagi sembari singgah ke Alfamart yang ada di sebelahnya. Maunya sih cari kopi hihihi. Saya kira seperti sebagian gerainya di Jakarta, ada kopinya. Ternyata zonk!

Saya sempat beli beberapa camilan buat anak-anak yang saya tinggal di ruang tunggu UGD dan bergegas kembali ke sana.

Segera saya serahkan hasil pemeriksaan darah sekalian nengok suami yang masih diinfus dan sedang tertidur pulas.

Kemudian saya ajak anak-anak ke mobil yang terparkir di depan pintu masuk pintu masuk UGD. Saya ngeri saja mereka ada di ruang tunggu karena banyak penyakit kan di situ.

Sambil ngemil saya minta mereka di situ saja. Eh, enggak lama datang sesebapak bawa anak, langsung di jendela mobil di depan muka saya. Sampai kaget!

Katanya, "Minta uang, Buk! Belum makan!"

Setelah saya kasih, niatan meninggalkan anak-anak berdua di kendaraan saya batalkan. Meski beberapa meter dari situ ada satpam, saya khawatir mereka kenapa-kenapa.

Jadi saya ajak ke ruang tunggu lagi. Hingga saya bolak-balik nengokin anak-anak dan  suami. Sekitar  2 jam dari itu, Mas Perawat yang pertama nanya-nanya manggil saya.

"Kak, bayar tunai, kan? "
"Iya"
"Ke kasir dulu"

Kasir ada di depat pintu.
Pertama baca, saya mengira itu sejuta sekian, langsung nanya.

"Bisa pakai debit,B u"
"Enggak bisa, hanya tunai"

Dan sebagai warga Jakarta yang sudah jarang bawa uang tunai dalam jumlah banyak saya pun nanya, 

"ATM Mandiri atau BCA di dekat sini dimana?"

Sebelum Ibunya jawab,

"Berapa ya Bu, totalnya?"
"Ini tulisannya enggak jelas kan, nulis kok ngasal"

Si Ibu malah ngajak ngobrol saya. Memang semua isian kertas tadi masih bertulis tangan dan bukan print-print an 

"Lima ratus sekian ribu....rupiah"

Oh, ternyata yang saya kira angka satu tadi angka 5 (??). Ya sudah, kalau segitu masih punya tunai saya. Saya bayar cash dan segera ambil obat di counter-nya.

Selesai semua, saya lalu lapor ke perawat yang tadi. Kami pun bangunin suami saya. Kelihatan sudah segeran dia. Si Mas Perawat berpesan untuk istirahat dulu dan bilang kalau bisa diinfus lagi Neurobion (infus darimana coba..hhh)

Saya manggut-manggut saja. Yang penting dah membaik kondisi suami saya.

Dan kami pun balik ke hotel jadinya. Suami saya pun full istirahat di kamar satunya (kami selalu memesan 2 kamar). Sementara saya dan anak-anak kruntelan di kamar satunya. Dia seharian itu benar-benar tidur, hanya bangun seperlunya. Saya juga enggak kemana-mana, cuma ambil laundry di dekat penginapan dan beli makan.

Keesokan harinya, suami saya belum 100% balik ke kondisinya. Dia bilang masih mau rehat seharian ini. Saya setuju dan mengajaknya besok balik ke Jakarta, tapi enggak mau dia.

Baiklah kita tungggu saja esok hari!

Besoknya pagi-pagi, suami saya dah segar bugar dan mengajak kami keliling kota Bengkulu hari itu. Rencana untuk keliling Propinsi Bengkulu pupus sudah. Dua hari praktis buat menyehatkan diri suami. Tapi enggak apa-apa, yang penting sehat seperti sedia kala.



Tips Penting Jika Sakit Saat Traveling


Sakit saat traveling memang di luar dugaan kita. Tapi paling tidak beberapa hal bisa kita lakukan untuk mengantisipasi dan mengatasinya, diantaranya:


1. Sedia Obat dan Peralatan P3K

Sekarang sudah ada travel kit untuk P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) yang mudah dibawa. Atau yang versi car kit-nya juga bisa. Biasanya ada: plester luka, kain kasa, cairan antiseptik, gunting, perban, obat pereda demam, obat flu, obat diare, oralit, obat batuk, obat tetes mata dan obat lain yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

Seperti saat suami sakit kemarin, karena kami bawa obat flu yang ada pereda demamnya, sebagai pertolongan pertama, dia minum itu. Tapi karena enggak nahan lagi, maka ke dokter jadi solusi.

Oh ya, karena ada anak-anak saya juga bawa plester demam dan minyak kayu putih untuk mereka. Juga obat flu untuk anak buat si Adik yang masih 10 tahun.

Sementara untuk saya sendiri, sangunya koyo...maklum faktor U bikin punggung dan kaki protes di perjalanan jarak jauh ini hihihi...


2. Makan Teratur

Karena sedang di perjalanan akhirnya jam makan terabaikan. Padahal terutama untuk anak sekolah dan pekerja seperti suami saya, terbiasa makan teratur di kesehariannya. Jam sarapan, makan siang dan makan malam biasa di jam yang sama. Beda dengan bukibuk rumah tangga macam saya, kadang makan paginya sepulang antar sekolah atau malah kalau sudah kelar beberes rumah.

Nah, ini jadi catatan saya, biar enggak drop, makan tepat waktu mesti dijaga. Jangan sampai telat makan sehingga pola badan jadi enggak karuan.


3. Konsumsi Vitamin

Vitamin akan membantu menguatkan daya tahan tubuh kita. Minum vitamin yang biasa kita konsumsi sehari-hari atau madu dan produk sejenis yang akan membantu. Saya kemarin tuh bawa juga multivitamin dan madu.


4. Cukup Istirahat

Saat traveling biasa kita happy saja bawaannya, ujung-ujungnya enggak terasa capeknya. Padahal justru ketika tenaga banyak keluar istirahat pun harus tetap dicukupi. Misalnya, jika pergi sampai sore, kalau bisa di malam hari segera istirahatkan diri sehingga segar di keesokan hari. Atau kalau misalnya kita di posisi penumpang, kalau bisa curi-curi waktu buat merem sebentar dulu. Mayan, kan kalau bisa sejam dua jam buat segarkan badan.

Nah, suami karena nyetir terus - enggak mau digantiin, akhirnya enggak sempat merem sebentar di jalan. Sementara anak-anak dan saya sempat rehat singkat. Maka enggak heran dia yang tepar. Hmm, kek-nya dia lupa sama faktor U kwkwkw. Yup, ini adalah roadtrip kami yang kesekian kali. Setelah sebelumnya kami keliling 48 states di Amerika selama kurang lebih 2 bulan (dalam 5 kali pergi, saat libur semester kuliah suami), keliling Sumatera Utara saat tinggal di sana, Jakarta-Bali, ...dan lainnya. Tapi kan waktu itu berdua sama-sama (((muda))) 😁


5. Biasakan Cuci Tangan

Debu dan kotoran rentan ada di perjalanan. Entah apa-apa juga kita pegang. Maka cuci tangan adalah solusinya. Atau bisa juga pakai cairan/gel/tisu antiseptik untuk membersihkan tangan kita.


6. Cukupi Asupan Air Minum

Jalan kesana kemari jika enggak cukup asupan airnya bisa bikin dehidrasi. Maka bawa tumbler berisikan air mineral adalah jawaban. Sehingga sewaktu-waktu kita bisa minum dari situ. Apalagi kini banyak hotel tak lagi memberikan air minum dalam kemasan di kamar, melainkan dispenser dengan galon air mineral. Jadi tinggal kita isi saja wadah air minum kita. Atau jika tidak ada, bisa juga bawa air minum dalam botol kemasan kecil sehingga mudah dibawa.


7. Pilah Pilih Makanan 

Baik di jalan maupun di tempat tujuan pilih makanan dan minuman sebelum mengkonsumsinya. Jangan ngasal!. Bisa saja itu makanan yang bikin kita jadi sakit perut karena kepedasan, kurangnya kebersihan tempat bisa bikin diare dan lainnya. Maka, pilah pilih tempatnya juga jenis makanannya. Seperti kami kemarin juga menghindari makanan pedas. Maklum area Sumatera terkenal dobel pedasnya kan? Jadi kalau sudah ambil balado, enggak ambil sambalnya lagi. Pokoknya tahan diri, kuatir perut kaget nanti.


8. Konsumsi Buah

Seharian di perjalanan tentu membuat kita butuh makanan berserat. Buah bisa dijadikan camilan di perjalanan untuk mencukupi kebutuhan vitamin, air dan serat tubuh kita. Pilih buah yang gampang dimakan di jalan. Saya sempatkan beli buah di kios buah lokal. Saya beli pisang, jeruk dan apel, yang gampang dimakan di jalan.


9. Sesuaikan Itinerary

Siapa juga yang mau sakit, apalagi saat lagi traveling. Tapi apa mau dikata, jika perlu memang kita mesti sesuaikan itinerary kita. Jangan sampai karena nuruti jadwal, kita makin parah sakitnya. Jadi kalaupun ada yang batal ya ikhlaskan. Seperti kami membatalkan semua itinerary di Bengkulu selama 2 hari. Mesti nyesek, tapi mau gimana lagi...😁. Padahal kami berencana pergi-pergi dan stay di Bengkulu 4 hari mengingat suami ingin ngajak saya dan anak-anak nosatalgia ke provinsi yang pernah 4 tahun dia tinggali. Mungkin memang harus diulang lagi lain kali hihihi


10. Segera ke Dokter 

Jika minum obat-obatan bebas enggak reda juga, maka segera periksa ke dokter yang ada. Sebaiknya memang ke UGD agar penanganannya bisa cepat dan lengkap nantinya. Oh ya kaitannya dengan periksa ini ingat untuk bawa kartu BPJS dan asuransi lain jika perlu. Saya sekeluarga mendapatkan layanan kesehatan dari kantor tempat suami bekerja di RS yang telah ditunjuk di Jakarta. Tapi, saya juga punya BPJS buat sekeluarga. Meski untuk keadaan darurat saat traveling saya lebih pilih bayar tunai karena ya seperti yang saya ceritakan di atas, lebih cepat ditanganinya.




Alhamdulillah sampai Jakarta suami saya sehat walafiat. Meski saya dan si sulung sempat batpil dan periksa ke klinik di Kota Bengkulu. Syukurlah kami berdua juga sehat sampai Jakarta. Hanya saat di Jambi (hari ke-9 perjalanan) saya sempat pingsan, karena kecapekan, kurang tidur dan memang lagi haid hari pertama. Tapi setelahnya Alhamdulillah saya sehat-sehat saja.

Nah, kalau teman-teman bagaimana? Pernah enggak pas jalan-jalan sakit datang?

Jangan sampai ya....!💖


NB: saya tidak mengambil foto sama sekali saat di RSUD Bengkulu untuk menghormati aturan layanan kesehatan





Happy Sharing


Dian Restu Agustina
























33 comments

  1. waduh mbak sedih banget ya kalau lagi jalan-jalan trus tiba-tiba sakit, next trip semoga gak pakai sakit ya .... makasih tipsnya

    ReplyDelete
  2. Kesal juga bacanya hahahaha.
    Ya Allah, saat-saat seperti itu butuh banget kewarasan kita plus kesabaran ya Mba.
    Liat orang yang kerja di bagian pelayanan tapi asal gitu, semacam pengen saya getok palanya hahaha.
    Enak aja latihan nusuk ambil darah di badannya orang, iya juga kalau mereka yang bayar.

    Saya pernah tuh kayak gitu, ditusuk orang nggak biasa, bukan petugas lab, ya Allaaahh pengen saya gampar, tapi orangnya sabar dan baik banget hihihi.

    Oh ya, noted banget tuh Mba, kalau keluar dari pulau Jawa, sebaiknya siapin cash yang banyak, soalnya masih banyak juga yang menolak cashless, iya gitu kalau ATM bejubel kayak di kota besar :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Rey..banyak pelajaran dari perjalanan ini, penuh ujian kesabaran hihi

      Delete
  3. Untuk kisah di atas, saat traveling suami Mbak Dian lagi tidak fit malah nyetir mobil ya, jadi istirahatnya kurang.

    Duh, semoga gak kejadian lagi ya Mbak. Semoga pada next trip semuanya aman, terkendali, sehat, sentosa, dan lancar :)

    ReplyDelete
  4. Ke bengkulu udah ke wisata mana aja mba..
    Kan itu tanah kelahiranku loh.
    Ada danau dendam tak sudah, kediaman rumah bung karno, kediaman fatmawati, pantai panjang, view tower dekat benteng malborough, tugu pers, dan sentra makanan khas bengkulu.
    Dijamin recommend dech mba, apalagi sekarang ada yang baru yakni wisata bahari dan taman hutan bakau.

    Belajar dari pengalaman mba, ternyata meski selalu bawa p3k dimanapun berada untuk pertolongan pertama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena cuma sehari jadi ke seputar kota saja , Mbak Elva...enggak sempat ke luar daerah
      Terima kasih infonya

      Delete
  5. Baca cerita pas di rumah sakit itu kok jadi emosi sendiri ya. Untung segera sembuh ya mbak. Dan akhirnya bs jalan2 lagi. Emang penting banget untuk menjaga kesehatan saat traveling

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak...jangan samapai niat seneng-seneng malah puyeng karena sakit :D

      Delete
  6. Ya Allah mbak Dian, travelling tapi teman travelling sakit, ga pernah kebayang sama sekali. Pas baca pengalaman mbak Dian, saya jadi sadar kalo semua hal yg ga kita inginkan perlu diantisipasi saat travelling

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak..apalagi kalau jauh dan berhari-hari, memang perlu persiapan matang:)

      Delete
  7. aku udah terbiasa traveling dulu pas usia smp sampe perguruan tinggi. bareng keluarga juga. bandung - jambi - medan.
    nah suamiku, belom pernah travelingan yang jauh. kampung halaman beliau di pekalongan, kami tinggal di medan, beliau pengen mudik nyetir sendiri.
    tapi aku kok ya ndak mau ya...
    habis doi mudah sekali masuk angin.
    ntar kalo sakit di jalan begimana ya kan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Medan-Pekalongan berat di jalan, Mbak...kebayang dah. Kami aja sempat kepikiran Jakarta-Medan, pengin nosatlgia, tapi ga berani. Mending ke Medan naik pesawat di sana baru roadtrip Sumatera Utara, syukur-syukur sampai Aceh :D

      Delete
  8. Ya Allah Mbak.... Liburan kok jadi sakit bergantian gitu, ih. Jadi sedih bacanya. Apalagi pelayanan rumah sakit ga bagus gitu ya. Bikin jemgkel, ih

    ReplyDelete
  9. Wah ini kejadian di aku skrng, suamiku lg KO pdhl posisi skrng lagi di kota org. Baiklah ntr aku minta ke dokter aja..pdhl pas berangkat ya baik2 aja tapi mungkin pas perjalanan jauh jd drop gtu...
    Doain ya mbak Dian moga bisa lanjut travelingnya heuheuheu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Allah, semoga segera sehat ya Mbak...Segera ke dokter deh biar segera tertangani

      Delete
  10. Ini nih yang ga kepikiran saat traveling, ga mikirin kesehatan, aku tahunya hanya happy saat jalan2. Memang harus ada persiapan jika nanti sakit diperjalanan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, hepi saat jalan-jalan, kesehatan tetap harus diperhatikan

      Delete
  11. Paling gak enak ya Mbak lagi jalan jalan seru tetiba ada yang sakit. Masih mending jika bareng keluarga, lha kalo bareng temen-temen, repot dah.


    Jadi inget pas jalan-jalan ke Bandung, saya jadi gak mood lagi kemana-mana, gegara meriang panas dingin akibat digigit kuda di wisata kuda De Ranch.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya ampuun..digigit kuda, hiks
      Iya, mbak, kalau sakit saat jalan-jalan jadi buyar rencana

      Delete
  12. karena belasan tahun tinggal di kota Bengkulu akutuh udah ngebayangin gimana chaos nya situasi wkkkk.Apalagi RSUD Bengkulu itu udsh ke pingiran kota.Sebenernya ada beberapa rumah sakit dan klinik di tengah kota Bengkulu yang punya UGD.Seperti rumah sakit Raflesia dan Rs.Bhayangkara.
    Semoga sekarang udah sehat semua

    ReplyDelete
  13. Seru banget mbak ceritanya. Bikin deg-degan juga. Kalau saya mungkin dah panik duluan lihat suami sakit di perjalanan, secara saya ini tipe istri yang tergantung sama suami kalau berada di tempat baru. Hebat deh Mbak Dian, sigap dan cekatan melakukakn semuanya. Meskipun sempat ada drama, tetapi happy ending ya Mbak.

    ReplyDelete
  14. Waduh mb Dian. Kalau udah gitu terasa banget yah pelayanan kesehatan belum merata di seluruh Indonesia. Trus dokternya meuni kitu, tahu bayar tunai langsung dilayani. Huf...Memang sih factor U kita suka lupa. Haha...Temen-temen masih tuh nyupir jarak jauh. Suami sih udah enggak berani, nyewa supir atau naik KA aja deh...

    ReplyDelete
  15. Duh kebayang khawatirnya ya, Mbak kalau suami sakit saat di perjalanan. Apalagi berada di daerah yang minim pelayanan kesehatannya.
    Kalau soal peserta non BPJS yang langsung ditangani kayaknya banyak terjadi di tempat lain, deh. Soalnya saya juga ngalami, bisa ditangani dengan cepat karena pakai jalur umum hihihi

    ReplyDelete
  16. Sedihnya kalau lagi road trip tetiba ada yang sakit, apalagi di daerah yang bukan "jajahan" kita, ya. Puji Tuhan Mbak Dian sekeluarga bisa tetap melanjutkan liburan dengan aman bahagia. Terima kasih sharing tipsnya saat traveling, penting banget ini. Terutama untuk bisa fleksibel dengan itinerary dan gercep saat darurat.

    ReplyDelete
  17. Entah mungkin sudah terlalu lama tinggal di tempat adem kaya Wonosobo ini, jadi pas pulang ke Palembang pasti anakku sakit mbak. Heboh kan, setiap mudik pasti dirawat. Sampai neneknya heran, "kamu tiap ke sini kok numpang sakit nduk...". Hahaha, ya mau gimana lagi kadang beda iklim tuh badan kita juga kasih respon yang beda.

    ReplyDelete
  18. Wah memang mumet ya kalo niat jalan2 tapi malah nyasar ke rumah sakit. Berarti memang harus benar2 menjaga fisik sebelum liburan biar tidak tumbang.

    ReplyDelete
  19. Aku auto ngebayangin kalo ngetrip bawa balita dan sakit. Keknya kalo aku udah nangis itu, Mba. Bacanya campur aduk apalagi pas moment di RS.

    ReplyDelete
  20. Duh mba Dian.. nggak nyangka ya drama di balik road trip kemarin. Kirain sekua fine-fine aja. Habisnya liat poto-potonya senyum lebar kabeh. Wealaah ternyata... Tapi syukurlah semua terlewati dengan baik ya .Semoga next trip semuanya sehat bergas waras .. Amin amin

    ReplyDelete
  21. ya Allah mbak, aku bacanya sampek tahan napas. Nggak kebayang itu perjalanan dengan kondisi tubuh kurang fit. SEmoga next trip sehat-sehat terus supaya lebih seru sesuai rencana.

    ReplyDelete
  22. Kesal baca yang bagian di rumah sakit itu deh, nda ada ramah-ramahnya. Yah begitulah sebagian rusah sakit pemerintah mbak apalagi kalau gunakan BPJS.

    Tapi syukrlah suami mbak sudah sehat, semoga tidak kejadian lagi. Aamiin

    ReplyDelete