Kekecewaan yang Tak Terbendung Saat Berkunjung ke Pasar Terapung "Damnoen Saduak Floating Market" Thailand



Hari terakhir saya di Thailand, dimulai dengan packing barang dan keterlambatan keberangkatan dikarenakan teman-teman banyak yang tepar setelah kemarinnya tour seharian. Akibatnya, jadwal hari terakhir, harusnya bisa ke dua tempat, ujung-ujungnya hanya bisa ke satu lokasi plus maksi. Meski sejatinya rombongan terbagi menjadi 2 jadwal penerbangan, yang satu agak sorean, yang lain maleman, tapi mau enggak mau harus berangkat sama-sama ke bandaranya, untuk memudahkan koordinasinya. Nah, hari terakhir ini kami dibawa oleh guide, tour ke luar kota, tepatnya ke Damnoen Saduak Floating Market. Sebuah pasar terapung yang telah menjadi tujuan wisata sejak 1971. Yang bayangan saya bakal seperti di tipi penampakannya, rapi, bersih dan nyaman buat belanja-belanji. Tapi, ternyata jauh dari itu semua, pasarnya ruwet, macet dan harga barangnya mahal banget! Padahal perjalanan ke sana memakan waktu hampir 2 jam! 


Pasara Terapung Damnoen Saduak



Tentang Damnoen Saduak Floating Market


Di masa lalu, perdagangan harian di Thailand sebagian besar dilakukan di sepanjang sungai dan kanal (atau khlong dalam Bahasa Thailand). Jaringan perairan di Bangkok saat itu sungguh sibuk karena berfungsi sebagai sarana transportasi utama yang menyebabkan Bangkok disebut sebagai "Venesia dari Timur" oleh pengunjung Eropa. Dan pasar terapung adalah salah satu produk hasil dari cara perdagangan ini.

Nah, Pasar Terapung Damnoen Saduak di Ratchaburi adalah salah satu pasar terapung paling populer di Thailand. Setiap hari banyak wisatawan melakukan perjalanan ke sini untuk berbelanja, makan, dan menikmati suasana pasar dengan konsep yang telah ada lebih dari 100 tahun lamanya. 

Pasar yang berlokasi di Klong Damnoen Saduak ini adalah kanal paling lurus dan terpanjang di Thailand. Kanal itu dibangun atas prakarsa kerajaan ketika Raja Rama IV dari Thailand ingin menghubungkan Sungai Mae Klong untuk mendukung transportasi dan perdagangan. Butuh waktu lebih dari 2 tahun untuk menggali, dan akhirnya selesai di bawah pemerintahan penggantinya Raja Rama V. Kanal memiliki panjang 32 kilometer dan memiliki lebih dari 200 cabang. Popularitas Pasar Terapung Damnoen Saduak dimulai pada tahun 1971-1973 ketika sungai dipenuhi petani di atas perahu yang menjual hasil pertanian mereka. Dan begitulah cara perdagangan dilakukan di daerah ini hingga hari ini. Meski tak hanya hasil pertanian saja, aneka barang juga dijajakan oleh pejual: makanan, minuman, souvenir dan lainnya. Tak hanya untuk penduduk tapi juga buat wisatawan yang datang.


Pasar Terapung Damnoen Saduak

Pasar Terapung Damnoen Saduak

Damnoen Saduak Floating Market

Pasar Terapung Damnoen Saduak

Damnoen Saduak Floating Market

Damnoen Saduak Floating Market

Pasar Terapung Damnoen Saduak


Berkunjung Ke Pasar Terapung Damnoen Saduak 


Bis berangkat dari Centre Point Hotel Pratunam sekitar pukul 9 lewat. Molor dari jadwal pukul 7.00. Proses check out dan beberapa teman yang telat sarapan membuat rencana perjalanan rombongan ke Pasar Terapung Damnoen Saduak jadi terhambat. 

Hari itu, Minggu pagi, arah luar kota lumayan sepi. Sehingga perjalanan lancar jaya sampai di Damnoen Saduak sekitar hampir 2 jam. Di mana sepanjang perjalanan yang saya perhatikan, masih banyak sekali ucapan selamat atas pelantikan Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn menjadi Raja Thailand yang baru menggantikan ayahnya, Raja Bhumibol Adulyadej yang mangkat karena sakit pada 13 Oktober 2016. 

Raja baru yang bergelar Rama X ini dinobatkan pada 4 Mei 2019. Dan aura penobatan masih ada berbulan kemudian di penjuru Thailand. Enggak heran beraneka baliho, replika patung, gapura...bertuliskan ucapan beserta foto sang Raja ada di mana-mana di sepanjang perjalanan saya. Oh ya semua ucapan ini (terutama di luar kota), keterangan jalan, papan petunjuk tempat, nama gedung semua ditulis dalam aksara Thai (atau disebut dengan aksorn). Jadi siap-siap kalau ke arah luar kota Bangkok kita bakal buta arah jika tanpa bantuan Google Maps dan sejenisnya.

Nah, sesampainya di provinsi Ratchaburi, lokasi dari Damnoen Saduak Floating Market ini, bis langsung memasuki area parkir di mana sudah ada belasan bis lainnya. Sebelum ke tekape, saya dan beberapa teman mencari-cari toilet. Dan ada satu toilet yang dijaga seorang nenek yang enggak bisa bahasa Inggris sama sekali. Dia memarahi teman saya yang membayar dalam nominal besar. Maksud si teman dia mau bayarin kami berenam sekalian. Eh, si nenek beranggapan si teman seperti "ngejek" bayar toilet yang harusnya cuma pakai koin eh pakai uang kertas dengan nominal besar. Tak lama, seorang perempuan datang. Setali tiga uang dia juga enggak ngerti ngomong Inggris sama sekali. Akhirnya, kami panggil guide kami untuk menyelesaikan masalah ini. Oh ya, toiletnya gimana? Sama seperti kebayakan tempat wisata di Indonesia: bau dan kotor sekali! Hihihi

Selanjutnya kami menuju tempat naik perahu. Kami melewati lorong pasar dulu. Jadi meski ini pasar terapung bagian depan tetap seperti pasar pada umumnya. Ada kios di atas ada juga kios di pinggir kanal yang nantinya akan dilewati oleh para penjual dan pembeli. Sementara perahu lain juga lalu-lalang berisi pedagang. Sewaktu kami sampai, rombongan dibagi menurut perkiraan berat badan. Bukan karena diskriminasi ya haha..ini lebih untuk membuat perahu stabil nanti. Maka saya sekeluarga bersama 1 teman ditempatkan di 1 perahu. Biaya perahu dihitung per orang atau per perahu untuk rombongan. Dan karena datang berombongan semua pembayaran diurus oleh guide kami. Saya baca di beberapa tulisan sih 300 Bath (150 ribu/orang).

Dan saat berdiri di dermaga mungil tempat naik perahu itu saya beneran sudah illfeel. Air kanalnya coklat banget warnanya, enggak sebersih bayangan saya seperti di Venezia atau Kalimantan sana (saya nonton di tipi sih kwkw). Lalu, perahunya itu banyaak banget, sampe kadang stuck, ga bisa bergerak, macet cet karena saling tabrak (terutama di dermaga dan persimpangan kanal). Terus, perahunya ada yang dayung manual which is ramah lingkungan ada pula yang menderu-deru sudah digerakkan mesin yang asap hitamnya itu bikin polusi ke sekitar. Kebayang, cuaca panas, perahu macet, depan saya perahu motor ngeluarin asap...duh!

Kami dibawa berkeliling dan sesekali ibu pengemudi perahu merapat ke pinggir dan "setengah memaksa" kami untuk membeli dagangan penjual di sana. Tapi mengingat harganya saya pun mundur saja. Kemarinnya memang saya sudah berbelanja di pusat oleh-oleh di Bangkok. Tapi, karena memang ada yang khas cuma ada di sini saya pun beli, seperti kaos bergambar dan souvenir lokal. Nawarnya harus juwara memang, karena harganya berlipat-lipat dari harga di Bangkok. Pokoknya mendingan jangan banyak belanja di sini hihi, apalagi untuk jenis barang yang sama.

Yang saya beli malah jajanan, selain buat ganjal perut juga karena nemu yang enak, yakni durian/mango sticky rice yang di Jakarta sempat happening. Wah, aseeelik..enak banget mangga, durian dan pulen ketannya. Pas banget komposisinya. Mantap bener makan jajanan asli di negeri ini.

Sementara perahu yang saya tumpangi berkeliling menyusuri kanal dengan lambatnya, lantaran memang kadang mesti bersinggungan dengan perahu lainnya. Dan setelah sekitar 30 menit kami kembali ke dermaga asal. Di sini maceeet sekali. Yang mau berangkat terhambat, yang ingin merapat tersekat. Masing-masing pengemudi perahu berbalas komentar. Entah apa yang diributkan karena saya enggak paham. Sepertinya, sama saja seperti di Indonesia pada umumnya, semua maunya sendiri, diatur susah sekali. Sehingga alur keluar masuk perahu jadi semrawut begini. Korbannya jelas para wisatawan yang kepanasan dan enggak nyaman kena kepulan asap beberapa mesin perahu motor. Hiks!


Pasar Terapung Damnoen Saduak

Damnoen Saduak Floating Market

Pasar Terapung Damnoen Saduak

Pasar Terapung Damnoen Saduak

Pasar Terapung Damnoen Saduak

Pasar Terapung Damnoen Saduak

Pasar Terapung Damnoen Saduak

Damnoen Saduak Floating Market

Pasar Terapung Damnoen Saduak

Pasar Terapung Damnoen Saduak


Tips Mengunjungi Pasar Terapung Damnoen Saduak Thailand


Setelah sekitar 1 jam di lokasi, maka rombongan kami pun menyudahi kunjungan ke Pasar Trapung Damnoen Saduak ini. Beberapa tips yang bisa membantu jika teman-teman akan datang diantaranya:
  • Perjalanan menuju ke Pasar Terapung Damnoen Saduak dari Bangkok lumayan jauh, maka siapkan diri sebelumnya
  • Datang agak pagi, agar tak menemui jam terpadat - jelang makan siang, karena pengunjung penuh sehingga lalu lintas perahu terganggu
  • Berhati-hati dengan harga sewa perahu, barang atau makanan yang ditawarkan. Biasanya nominal yang disebutkan berlipat besarannya
  • Lebih baik tidak belanja barang yang bisa kita temukan di pusat oleh-oleh di Bangkok. Karena di sini lebih mahal harganya.
  • Coba jajanan lokal (halal) karena mantul rasanya. Juga aneka buah potong atau semacam rujak buahnya. Karena kualitas buahnya juara dengan harga standar saja.
  • Pakai kostum yang nyaman, karena kita akan berpanas-panasan.
  • Hati-hati dengan barang bawaan karena kita akan berada di atas perahu selama berkeliling. Mending jangan bawa banyak-banyak dan waspada pada ponsel yang kita bawa takut kecemplung ke dalam airnya
  • Keluar dari lokasi kita akan dicegat untuk beli souvenir berupa foto yang sudah dicetak di atas bahan. Karena tadi saat di atas perahu memang ada yang bergaya layaknya fotografer memotret sana-sini. Eh ternyata ini jawabannya haha
  • Banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris jadi ya gitu deh...lebih baik memang ikut paket tour sehingga ada guide lokal yang sangat fasih berbahasa Indonesia

Well, Thailand memang pandai mengemas pariwisatanya, meski sebenarnya banyak hal dimiliki juga oleh negara lain termasuk Indonesia. Seperti pasar terapung ini yang menjadi itinerary jika kita ambil paket tour selama 3 hari (Jumat - Sabtu - Minggu). Meski kondisi pasarnya di luar ekspetasi, saya senang bisa mengunjunginya karena jadi tahu sisi asli negeri Gajah Putih ini. Seperti kondisi penduduk ke arah luar Bangkok yang semakin ke arah daerah makin ada ketimpangan ekonomi. Juga kemampuan berbahasa Inggris yang malah lebih bagus rata-rata penduduk Indonesia. Kondisi failitas tempat wisata yang kurang layak. Dan ketiadaan pengontrolan tarif pada wisatawan sehingga ada yang dirugikan.

After all, selalu ada hikmah di balik kisah dan pengalaman dalam sebuah perjalanan, kan?


Pasar Terapung Damnoen Saduak

Damnoen Saduak Floating Market

Pasar Terapung Damnoen Saduak

Damnoen Saduak Floating Market

Pasar Terapung Damnoen Saduak

Pasar Terapung Damnoen Saduak

Damnoen Saduak Floating Market

Damnoen Saduak Floating Market




Nah, yang jadi saran saya buat Pasar Terapung Damnoen Saduak ini:
  1. Saya tidak tahu apakah mereka punya aturan atau tidak, tapi lebih baik ada penyeragaman jenis perahu. Yang jenis tradisional (perahu dayung) saja dan bukan perahu motor. Karena bisa bikin polusi udara dan suara sehingga mengurangi kenyamanan wisatawan dan merusak lingkungan
  2. Sebaiknya ada pelatihan bahasa Inggris untuk penduduk lokal. Sekedar bisa berbincang seputar jualan saja cukup. Pasalnya, anak laki-laki seusia anak sulung saya (SMP ) yang menjual souvenir foto berbingkai (seperti di foto saya yang pertama) juga tidak bisa berbahasa Inggris. Padahal saya cuma bicara seputar nawar harga.
  3. Fasilitas toilet yang layak dengan air bersih perlu ada perbaikan
  4. Perlu ada perbaikan kanal dan kios di pasar karena penampakannya yang tua 

Baiquelah...semoga info ini bermanfaat. Siapa tahu setelah pandemi ini berlalu teman-teman bisa jalan-jalan juga ke Damnoen Saduak Floating Market Thailand. 

Tetap sehat dan selalu semangat! This too shall pass! Aamiin!


Pasar Terapung Damnoen Saduak
"meja penghormatan" penobatan Raja, di restoran di Bangkok sepulang kami dari Pasar Terapung



Stay Home - Stay Happy

signature-fonts

32 comments

  1. tempat wisata di thailand cuma liat di tv doank. mudah-mudahan bisa sekali kesana. seru juga ya ada floating market kayak gitu meskipun airnya gak bersih tapi terlihat banget tradisionalnya.

    ReplyDelete
  2. Wah keren bangat. Mbak, itu halal foodnya pakai bahasa Indonesia, apa orang Indonesia ya yang jual makanan.

    Trims.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan, Mas..karena pengunjung Indonesia banyak yang notabene Muslim maka tertera Bahasa Indonesia meski salah ejaannya. Mereka biasanya orang Thailand Muslim atau keturunan India Muslim yang jualan

      Delete
  3. Mending ke Pasar Terapung Banjarmasin ya mba. Hehehehe. Meski sedikit kecewa, tapi saya lihat dan baca wisata sejarahnya menarik ya Mba Dian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, karena bersejarah maka ini jadi list kunjungan biasanya
      Iya, wishlist saya nih Banjarmasin, suami yang pernah ke sana sekalian dinas. Semoga next bisa ke sana sekeluarga

      Delete
  4. Wah, jadi kebayang seperti apa di sana. Tapi cukup menarik dan penasaran juga dengan sejarah yang tadi mba Dian ceritakan. Kalau ke sana (semoga bisa) kayaknya harus pakai tips dari mba Dian nih dan semoga mereka sudah bisa bahasa Inggris lebih baik pas saya berkunjung ke sana, hehehe.


    Keren mba bisa berlibur bersama keluarga. Semoga mba Dian dan keluarga selalu bisa berlibur dengan bahagia, nyaman, aman, dan menginspirasi, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin
      Yang di Bangkok malah banyak yang bisa bahasa Indonesia , ga tau mungkin bahasa Inggris ga jadi pelajaran wajib di sekolah kali hihi

      Delete
  5. Kadang-kadang promo paket wisata itu memang gak sesuai dengan kondisi aktual. Tapi dibikin seru saja, kondisi uniknya bisa jadi pengalaman tersendiri. Btw, kapan saya bisa ke Thailand ya?

    ReplyDelete
  6. menggunakan paket tour itu enaknya terarahbya walooun klo berombongan dengan orang lain jd tunggu2an...mungkin enaknya pilih paket tour yg privat trip ato solo trip aja alias backpakeran hehe..pasar terapungnya sptinya kumplit ya mbak jualannya sy liat ada jualan tas wanita ala abang2 di blok m hihi...jadi penasaran klo ke Thailand mau juga ah liat pasar terapungnya..

    ReplyDelete
  7. Wah mb Dian kita patut berbangga banget ini ya, jauh banget sama pasar Terapung Kalimantan kondisinya. Airnya keruh banget itu. DI Kalimantan bahkan sunrisenya indah banget dari pasar Terapung. Masih jadi PR tulisan saya hihi.

    Tapi tetap saja pengalaman jalan-jalan pasti ada kesan tersendiri ya mb dian. Bisa melihat negara lain dan menjadi makin bangga dengan negara sendiri kadang begitulah. Semakin menumbuhkan kecintaan pada bangsa sendiri. Ceilee

    ReplyDelete
  8. Aku jadi ikut membayangkan mago sticky ricenya. Meskipun di Indonesia ada, katanya sih rasanya beda. Di blog ini juga ternyata pendapatnya sama. Emang bener2 harus dicoba dari negara asalnya ini mah kulinernya.

    ReplyDelete
  9. ga bisa ngebayangin beli barang sambil berada di atas perahu. Hehehe. mungkin saya udah kebayang kecebur duluan kali yah. kalau di banjarmasin juga ada pasar terapung mungkin mirip2 dengan yg di Thailand ini

    ReplyDelete
  10. Liat penampakan foto aku kira pasar terapung banjarmasin wkwkwkw, maklum gak pernah ke luar negri. daaaan aku sempet salfok ama jejeran tas .. dudududu di jajakan di pinggir sungai, pemandangan indah kaaaaak

    ReplyDelete
  11. Waah jadi ingin kesana mbak mengunjungi pasar terapung, pasti seru bisa berbelanja sambil mainan air di perahu.

    ReplyDelete
  12. Menarik sih
    Saya tertarik untuk kesana. Semoga masa pandemi ini sungainya jadi bersih dan penataan seperti yg disarankan bisa terwujud. Amiin

    ReplyDelete
  13. Wah jadi pingin ke Thailand.. Tapi kapaann.. Duh seru banget deh jalan2nya

    ReplyDelete
  14. Aku pernah ke pasar terapung di Thailand tp lupa pasar terapung apa ya karena dah lama thn 2011. Sayangnya foto2ku hilang di FB yg dihack. Ingatku ada patung gajah sblm msk area pasar. Btw mb Dian brangkat sm rombongan kantor ya? Seruuu kalau rame-rame...

    ReplyDelete
  15. wwwwaaahh byk temen2 yang beruntung bisa ke thailand, aku kapan yaaa,, huks

    inget pasar terapung ajdi inget iklan di RCTI jaman dlu, hihi

    ReplyDelete
  16. Berlibur ke Thailand memang paling suka hunting floating market nya. Di kota lainnya pun saya pergi ke pasar terapungnya dan syukurnya jauh lebih bersih dari Damnoen Saduak ini. Memang hal tidak enaknya disini kadang pengemudi perahu nya suka maksa kita belanja padahal kadang pun bukan barang yang kita tuju mau dibeli.

    ReplyDelete
  17. hehehe pembagian kelompok penumpang di perahu berdasarkan perkiraan berat badan ya, supaya imbang. Kalau saya, kayaknya bakalan takit deh naik perahu kecil dan masih di dayung manual gitu.

    ReplyDelete
  18. Iya, ya, airnya keruh banget itu. Ternyata sama aja ya dengan di Indonesia, suka ada yang nawarin foto buat souvenir padahal kita gak ngerasa minta difoto hihihi

    ReplyDelete
  19. Kirain nyaman juga, secara, berbau air-air gitu. Eh rupanya berpanas-panasan ya. Tapi seru juga kelihatannya

    ReplyDelete
  20. Wow floating marketnya kelihatan alami
    Ga artifisial kayak di lembang
    Cuma jadi kesannya kotor gitu ya

    ReplyDelete
  21. Di Thailand ada pasar terapung juga ya. Memang kondisinya beda dengan pasar terapung di negeri kita. Inilah indahnya perbedaan dan keunikan setiap tempat. Punya kekhasannya masing-masing.

    ReplyDelete
  22. aku kalo ke tempat wisata macam begini juga nggak belanja belanja mbak, takut zonk. di kota juga banyak. jadi ya mending jajan buat ngisi perut

    kalau ke thailand lagi, bisa masuk list dulu ini, kemarin nggak keburu, cuman lewat kota nya aja

    ReplyDelete
  23. Hmmmm, gak kepikiran buat pergi ke Thailand, banyak lady boy hahahaha.. BTW, kalo di Bangkok penunjuk jalan masih ada bahasa Inggrisnya ya? Kan kalo keluar Kota Bangkok penunjuk arah pakai aksara Thai.

    Ada juga ya tukang foto yang ujungnya maksa beli hasil fotonya. Kayak di Ragunan gitu ya...

    ReplyDelete
  24. Pedagangnya berjualan di atas perahu gitu ya Mbak, bagus juga, tapi kayaknya gak bisa ke mana-mana ya, atau cuma pikiran saya. Dan lagi, andai air kanalnya jernih, tentu akan lebih berkesan lagi

    ReplyDelete
  25. Bermanfaat tips-tipsnya. rentan jatuh juga barang bawaan ya.. terutama HP. kalo sdh nyemplung alamat hilang tuh !

    ReplyDelete
  26. Asik juga ya wisata di thailand belanja di atas air pake kapal. jadi penasaran kalo aku langsung belanja seperti itu. kalo liburan jadi ada rencana ke sana juga

    ReplyDelete
  27. Malah keinget sama iklan RCTI OK yang jualannya di atas perahu kecil. Kalau harganya apakah wajar saat belanja disana? atau memang pasar tersebut dibangun buat turis-turis agar daya jual lebih mahal.

    ReplyDelete
  28. I never been there Damnoen Saduak. Duh benar juga ya harus dibagi berdasarkan berat badan biar kapal seimbang bukan persoalan lain, jadi yang badannya montok kaya aku gak boleh tersinggung sebelum naik hihi

    ReplyDelete