Lebarannya di Jakarta Aja


Harusnya hari ini saya dalam perjalanan mudik. Karena biasanya seminggu sebelum lebaran tiba saya sekeluarga sudah otewe ke kampung halaman. Berombongan dengan ribuan pemudik lainnya, melintasi berbagai kota hingga sampai di tanah kelahiran tercinta. Sebuah ritual yang menjadi tradisi bagi pernatau di penjuru Indonesia khususnya yang ingin merayakan Idul Fitri bersama orangtua dan sanak saudara. Meski, kini karena beberapa tahun terakhir diberlakukan cuti bersama membuat yang tidak merayakan hari raya pun ikut serta dalam gegap gempita mudik lebaran. Macetnya jalanan, biaya yang enggak sedikit, capeknya badan...semua terbayar saat bisa mencium tangan orangtua, bersenda gurau dengan sanak saudara, reunian dengan teman...Ah, mudik memang begitu menyenangkan. Lalu, jika ada larangan untuk mudik, saya lebaran dimana jadinya? #DiRumahAja jawabannya...


Lebaran di Jakarta



Pernah Lebaran di Jakarta Sebelumnya?


Ini bukan kali pertama saya berlebaran di Jakarta. Dulu pertama kali pindah ke sini, tahun 2007, saya, suami dan si sulung juga berlebaran di rumah aja. Tahun pertama enggak pulang pas lebaran. Tahun berikutnya pulang pas hari biasa juga. Memang, saat itu kami lagi habis-habisan uangnya. Buat DP rumah dan pindahan, nyaris hanya punya dana untuk biaya hidup saja dan beberapa bulan dana darurat. Boro-boro mikir pulang. Mikir KPR dan hutang yang belum terbayar saja rasanya sudah ambyar. Maka kami setelah salat Ied keliling ke rumah saudara di Bekasi, Jakarta Utara, Tangerang...bertiga naik motor. Capek tapi hepiii, karena bisa silaturahmi. Kemudian hari kedua ke Ragunan dan hari berikutnya ngemol. Pokoknya meski syediih enggak bisa mudik, kami masih terhibur dengan Jakarta.

Berikutnya, saya pernah juga enggak pulang di hari H lebaran. Jadi ceritanya, suami saat itu penempatan kerja di Hassi Messaoud. Nah, dia baru tukar shift itu di hari pertama Idul Fitri. Akhirnya kami atur, saya dan anak-anak 2 minggu puasa terakhir di Kediri dan Madiun (anak-anak sudah libur) dan H-1 saya balik ke Jakarta. esoknya suami datang dan kami sorenyat otewe ke Singapura dan Malaysia selama 4 hari. Setelah balik ke Jakarta suami langsung pulang sendiri ke Madiun dan Kediri. Jadi, kami enggak mudik barengan karena ngikuti jadwal suami. Kalau enggak pergi saat itu, nunggu dia off pasti enggak samaan dengan libur anak-anak. Jadi mudiknya digeser saja waktunya.


Tapi Kenapa Mesti Enggak Mudik?


Berkumpul bersama keluarga di hari lebaran tentu menjadi dambaan semua orang. Olah karena itu, mudik atau pulang kampung menjelang hari raya Idul Fitri sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia, termasuk saya. Tapi kelima alasan berikut pasti bisa jadi pertimbangan bagi teman-teman untuk memantapkan hati untuk tidak mudik lebaran:

Menghindari Risiko Penularan COVID-19 Pada Keluarga

Dengan enggak mudik maka kita meminimalkan terjadinya penularan COVID-19 pada keluarga. Terutama pada orangtua atau golongan rentan lainnya. Misalnya seperti orangtua dan mertua saya yang sudah lansia, tentu kasihan skali jika sampai tertular virus ini gara-gara kepulangan kita

Mudik Menyulitkan Kita untuk Physical Distancing

Perjalanan selama mudik memakai moda apapun akan menyulitkan kita untuk menjaga jarak sesuai dengan aturan. Bisa jadi kita berdesakan yang memungkinkan terjadinya penularan virus dari satu orang ke lainnya.

Harus Isolasi Mandiri di Kampung Halaman

Kalau nekat mudik, setibanya di kampung halaman ada aturan kita harus melakukan isolasi mandiri. Cobak enaknya dimana? Sudah jauh-jauh datang disuruh isolasi diri...ngapain juga, tahu gitu mending di rumah aja, kan?

Fasilitas Kesehatan Di Daerah Lebih Terbatas

Di kampung fasilitas kesehatan lebih terbatas daripada Jakarta, misalnya. Kalau kita ada apa-apa bingung pastinya mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadai.

Ambil Bagian Dalam Aksi Bersama

Semua pihak, pemerintah, seluruh dunia, masyarakat ikut serta mengatasi memburuknya pandemi ini . Keikutsertaan kita untuk menghambat penyebarannya dengan di rumah aja, enggak mudik juga, akan membuat kita ikut ambil bagian dalam memutus rantai penyebaran virus COVID-19 ini.


Sekarang Lebaran di Jakarta Aja


Nah, ternyata tahun ini pandemi membuat kami mesti lebaran di Jakarta lagi. Bedanya enggak bisa salat Ied di masjid komplek, silaturahmi ke tetangga, pergi ke tempat kerabat di sekitar Jakarta, enggak bisa jalan-jalan, enggak ngemol juga....Duh, tersiksa bayanginnya!

Tapi, demi kebaikan bersama kenapa enggak, kan ya?

Maka saya dan suami sudah menyiapkan skenario untuk bersenang senang dengan anak-anak. Bikin makan kesukaan mereka, tetap sedia kue lebaran meski enggak banyak. Hari itu kami juga berencana salat di rumah serta berkostum baju lebaran dari baju yang ada. Kemudian mendengarkan ceramah yang katanya di TV akan ditayangkan atau online aja nontonnya di Yutub. Tak lupa, yang utama bermaaf-maafa pastinya!

Bismillah, lebaran kali ini memang berbeda tapi warbiyasa hikmahnya! Jadi mari syukuri dimanapun kita merayakannya. Yang lebih penting kita tetap utamakan keselamatan dan menyisihkan keinginan pribadi diantaranya mudik yang akan membuat pandemi ini enggak pergi-pergi.

Tetap sehat dan selalu semangat ya!!



Salam Waras

signature-fonts

No comments