Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ibu Haji Belum ke Mekah

"Review Buku: Ibu Haji Belum ke Mekah" adalah tajuk artikel saya kali ini, masih dalam rangka mengenang salah satu sastrawan besar Indonesia Ajip Rosidi yang telah berpulang di bulan Juli. Bulan lalu, saya mengulas juga buku karya Beliau yang berjudul "Amir Hamzah Sang Penyair", serta tahun silam berkesempatan menghadiri acara tahunan yang Beliau inisiasi "Hadiah Sastra Rancage" 2019 di Perpusnas RI.

Ya, Ajip Rosidi adalah  adalah sastrawan Indonesia, penulis, budayawan, dosen, pendiri, dan redaktur beberapa penerbit, pendiri serta ketua Yayasan Kebudayaan Rancage, yang memprakarsai Hadiah Sastera Rancage, ajang tahunan bagi karya sastra daerah di Indonesia.  

 


Nah, buku "Ibu Haji Belum ke Mekah" ini adalah buku ketiga yang memuat tulisan-tulisan Ajip Rosidi dalam kolom "Stilistika" surat kabar Pikiran Rakyat, Bandung sejak tahun 2009. Setelah buku pertama "Bus Bis Bas" (Pustaka Jaya, 2010) dan Badak Sunda & Harimau Sunda (Pustaka Jaya, 2011). Yang mana dalam kolom ini Ajip Rodisi menuliskan segala sesuatu yang bertalian dengan bahasa, baik bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, maupun bahasa ibu atau bahasa daerah yang merupakan kekayaan budaya warisan leluhur kita.


Data Buku "Ibu Haji Belum ke Mekah"


Judul: Ibu Haji Belum ke Mekah - Bahasa dan Perilaku Bangsa - Catatan dan Padangan
Penulis: Ajip Rosidi
Penerbit: Pustaka Jaya
Desain Jilid: Ayi R Sacadipura
Halaman: 189
Cetakan Pertama: November 2012
ISBN: 978-979-419-380-8


BLURB

Salah satu kelebihan Ajip Rosidi sebagai penulis kolom bahasa di koran adalah keterlibatannya secara pribadi dalam sejarah pembentukan dan perkembangan bahasa Indonesia. Dia tidak hanya menuliskan hasil pengamatan dan keprihatinan atas pemakaian bahasa nasional masa kini, tetapi selalu melengkapi tulisannya dengan argumen kesejarahan dan perdebatan yang pernah terjadi, sehingga pembaca memperoleh kemudahan buat memahami latar belakang historis dan sekian banyak persoalan kebahasaan kontemporer. Di samping itu, dia menempatkan bahasa daerah setara, sama pentingnya, dengan bahasa nasional. Tak jemu-jemunya ia mengajak kita untuk merawat dan melestarikan bahasa ibu atau bahasa daerah, sebab ini salah satu kekayaan budaya kita sebagai bangsa.


Review Buku: Ibu Haji Belum ke Mekah


Tentang Buku "Ibu Haji Belum ke Mekah"


Terdapat 5 bagian pada buku "Ibu Haji Belum ke Mekah" ini. Masing-masing mewakili beberapa judul tulisan yang dikelompokkan sesuai dengan isi, yakni:


Bahasa dan Perilaku Bangsa

Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah, Bahasa Indonesia sebagai Bahasa nasional, Bahasa Pengantar, Bahasa Ibu sebagai Bahasa Pengantar, Bahasa Pengantar di Sekolah, Bahasa Sunda Seminggu Sekali, Bahasa Baku, Bahasa Dialek, Bahasa Selalu Berubah, Bahasa dan Perilaku Bangsa


Pelajaran Berbahasa

Tradisi Lisan, Bahasa Lisan, Bahasa Tulisan, Pelajaran Bahasa, Pelajaran Bercakap dan Mengarang, Mendongeng, Kewajiban Menulis, Kegemaran Menyingkat, Akronim dan Ilmu hukum, Hruf "kk"


Kesantunan Berbahasa

Bahasa yang Santun, Sebutan kepada Orang Tua, Ibu Haji Belum ke Mekah, Kata-kata Datang dan Pergi, Minal Aidin Walfaizin, Kata-kata Makian, Sarung dan Sarungan, Kata Jamak dalam Bahasa Indonesia, Pengambilan Kata dari Bahasa Asing, Cara Menuliskan Kata-kata


Etimologi dan Onomatope

Ghost Writer, Hak Cipta, Etimologi, Onomatope, Pantun, Wayang, Mantera, Makhluk Halus, Asa=Harapan, Buku dan Tradisi Pemotongan Bantuan


Kritik dan Teka-teki

Kritik, Prasasti, Maestro, Sumpah, Anekdot, Nyentrik, Tempat Tinggal, Teka-Teki, Yang Tidak Penting, Tentang Kata "Mah"


Nah, "Ibu Haji Belum ke Mekah" adalah salah satu judul artikel di bagian ketiga, Kesantunan Berbahasa. 

Ajip Rosidi menuangkan catatan dan pandangan akan bahasa dan perilaku bangsa dengan mengedepankan fakta, kemudian memberikan ulasan pun berargumen akan hal yang sedang dibahasnya.


Meski Ajip menegaskan, tulisan-tulisan ini sama sekali tidak berpreferensi bahwa apa yang dikemukakannya benar, melainkan hanya menunjukkan ada masalah sebagaimana adanya supaya menjadi perhatian para pemakai bahasa yang lain. Syukur jika juga menjadi perhatian para ahli sehingga dapat dicarikan penyelesaiannya (hal 5).


Review Buku: Ibu Haji Belum ke Mekah


Ibu Haji Belum ke Mekah


Misalnya pada "Ibu Haji Belum ke Mekah", Ajip Rosidi menyoroti tentang sebutan "Haji" yang disandang oleh orang yang sudah menunaikan Rukun Islam kelima, yaitu naik haji. Tapi di Indonesia, kata Ajip, kita mengenal "Ibu Haji" yang belum pernah ke Mekah artinya belum pernah menjalankan Rukun Islam kelima itu. 

Bagaimana mungkin?

Mungkin saja, karena suami wanita itu sudah pernah naik haji sehingga dipanggil "Pak Haji". Sebagai istrinya dia juga akan disebut "Bu Haji" meskipun orang tahu dia sendiri belum naik haji. (hal 86)

Ajip kemudian menyoroti jika kebiasaan menyebut "Ibu" kepada isteri orang sebenarnya dapat menimbulkan kerancuan. Pemberitahuan bahwa "Ibu Abdullah meninggal" bisa rancu. Ada kemungkinan yang meninggal isteri Pak Abdullah tapi ada kemungkinan yang meninggal itu Ibu Pak Abdullah.

Tak hanya itu, Ajip juga berargumen jika karena pengaruh bahasa Arab belakangan ada kecenderungan Arabisasi dalam penggunaan istilah keagamaan, seperti kata "haji" sekarang mendapat padanan "hajjah" untuk menyebut haji perempuan

Padahal menurut Ajip, seperti yang pernah ia kemukakan bahasa Melayu dan dengan demikian juga bahasa Indonesia, pada dasarnya tidak membedakan laki-laki dan perempuan dengan memakai kata yang hampir sama. Tapi dibedakan di suku kata terakhirnya. Seperti: dewa-dewi, pemuda-pemudi, putera-puteri atau pramugara-pramugari. 

Karena itu sebenarnya tak harus menyebut "hajjah" untuk haji perempuan. Seperti halnya dokter atau guru, kita bisa menambahkan kata "pak' atau "ibu" 

Yang saya maksud dengan Arabisasi, kata-kata yang sudah menjadi pribumi itu ialah karena sekarang ada kecenderungan kata serapan dari bahasa Arab yang sudah mempribumi dikembalikan pada kata asalnya dalam bahasa Arab. Seperti: "hadith" atau "hadist", "salat” atau "sholat”, "kuatir” menjadi "khawatir”, bulan Ramadan menjadi bulan Ramadhon, dll. Seharusnya kata-kata yang diserap dan sudah menjadi kosakata bahasa Indonesia, tidak usah dikembalikan lagi pada kata asalnya dalam bahasa Arab atau bahasa asing lainnya. (hal 88)

 

Review Buku: Ibu Haji Belum ke Mekah
Ajip Rosidi saat menikah dengan artis Nani Wijaya pada tahun 2017 (saat itu status Nani janda 72 tahun, Ajip duda 78 tahun) - sumber gambar: kompas.tv


Tak Ada Lagi Ajip Rosidi si 'Tukang Kritik" yang Sering Bikin Polemik


Ajip Rosidi, si tukang kritik yang polemiknya di media masa, terutama Pikiran Rakyat, kerap memantik perdebatan orang, kini telah tiada.

Ajip yang teguh memperjuangkan "Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional" dengan pendapatnya: Seperti yang kita saksikan belasan tahun terakhir, bahasa Indonesia yang masih bahasa nasional dan bahasa Negara Republik Indonesia kian tidak dihargai oleh bangsanya sendiri....suka casciscus menyelipkan kalimat dan ungkapan bahasa Inggris kalau berbicara-tapi mungkin tidak membaca buku bahasa Inggris sehingga tidak dapat mensejajarkan pengetahuannya dengan mereka yang berbahasa ibu atau bahasa nasional bahasa Inggris. Memang dalam soal membaca bangsa kita tidak mau mengalahkan bangsa lain, sehingga membiarkan dirinya menjadi nomer yang dekat paling bawah atau bahkan menjadi paling bawah menjadi Juara Malas Membaca! (Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional - hal 17)

Ajip yang sangat produktif sejak menerbitkan kumpulan puisi "Ketemu di Jalan" bersama Sobron Aidit dan S.M. Ardan (1958), yang terus melahirkan ribuan tulisan. Juga ratusan buku yang sudah terbit dan yang ia editori dengan tema beragam. Mulai dari kumpulan sajak, cerpen, roman, drama, cerita rakyat, cerita wayang, bacaan kanak-kanak, kumpulan humor, esai dan kritik, linguistik, memoar, bunga rampai, publikasi ilmiah, biografi, hingga ensiklopedi. 

Oh ya, buku ini tak hanya mengulik hal pelik, tapi banyak hal remeh-temeh yang dikemukakan Ajip, misalnya ketika menyoroti "anekdot", kisah lucu yang berdasarkan kenyataan dan yang diceritakan adalah orang-orang besar memang pernah hidup, seperti cerita berikut ini:

Karena sedang butuh uang, Chairil Anwar menemui S. Takdir Alisjahbana meminta pekerjaan menerjemahkan. Keesokan harinya Chairil kembali sambil menyerahkan hasil terjemahannya. Takdir setelah membaca beberapa halamn pertama gembira dan memujinya, lalu membayar honorariumnya. Tetapi setelah Chairil pergi membawa uang dan setelah diperiksanya lebih lanjut, kecuali beberapa lembar di depan, teks itu bukan terjemahan. Takdir hanya menyesali dirinya sendiri karena tidak berhati-hati. Seharusnya di memeriksa dahulu seluruh terjemahan itu sebelum membayarkan honorariumnya. (Anekdot - hal 163)

Atau, ketika Ajip mengulas tentang istilah "Nyentrik" yang artinya, aneh, tidak biasa, tidak wajar yang ditujukan pada kelakuan atau sifat seseorang, misalnya dengan mencontohkan:

Padahal yang nyentrik tidak hanya seniman. Menteri juga ada yang nyentrik Mr. Iwa Kusumasumantri, dalam rapat kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno sering tertidur, tetapi kalau sudah waktunya mengemukakan pendapat, dengan lancar dia memberikan komentar terhadap pembicaraan menteri-menteri sebelumnya. Belakangan kebiasaan tidur dalam rapat itu dilakukan juga oleh Gus Dur dan dia pun selalu memberi komentar terhadap para pembicara sebelumnya. Entah kapan dan di mana Gus Dur mempelajari ilmu Mr.Iwa itu. (Nyentrik - hal 166)

Juga....banyaaak ulasan menarik lainnya!!

Ajip Rosidi melalui buku "Ibu Haji Belum ke Mekah" yang betul-betul membuka mata saya akan banyaknya hal terkait bahasa telah mengubah perilaku bangsa. Dan Ajip yang mengakui diri bukan ahli bahasa dan hanya penggunanya tapi hidup dari menjual kata-kata. Hingga ketika menyusun kata-kata yang hendak dia jual itu, dirinya sering menghadapi masalah yang bertalian dengan bahasa. Itulah yang mendasarinya menulis dalam kolom-kolom, masalah-masalah yang biasa dihadapi oleh para pemakai bahasa.

Ajip Rosidi, begawan sastra yang mestinya membuka hati kita semua untuk lebih peduli pada bahasa kita sendiri. Karena kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak kini kapan lagi.

Terima kasih Ajip Rosidi untuk pemikiran-pemikiran hebat yang terangkum dalam buku "Ibu Haji Belum ke Mekah" ini!💖


Selamat Membaca

Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

52 komentar untuk "Ibu Haji Belum ke Mekah"

  1. mempelajarinya bahasa Indonesia selalu menarik buat dikulik ya mba. Suka amazed sama yang pintar sekali merangkai kata menjadi kalimat menarik dan bisa menyentuh hati siapa saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya terutama belajar pada ahlinya melalui karya mereka, karya Ajip Rosidi diantaranya

      Hapus
  2. Pembahasan tentang bahasa ini memang selalu menarik. Selama ini belajarnya dari media sosialnya Ivan Lanin aja karena takut bosan kalau baca buku. Tapi kalau dari reviewnya Mbak Dian sepertinya buku ini menarik untuk dibaca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kadang dari baca buku lebih lengkap apalagi ini bahasan dari tokoh angkatan 66

      Hapus
  3. Tak jemu2nya mengajak kita merawat dan melestarikan bahasa daerah
    Ajip Rosidi sungguh hebat!
    Semangat ini semoga nulaaarrr ke kita semua dan generasi muda ya

    BalasHapus
  4. Kirain novel, ternyata kumpulan tulisannya di kolom harian pikiran rakyat.

    Saya kok suka desain sampulnya, simple tapi menarik. Biasanya sampul mewakili isinya, jadi pengen baca juga bukunya

    BalasHapus
  5. Cuma mau bilang, ulasannya keren bangeett, mbak. Pengen bisa nulis kaya gini.
    Aku belum pernah baca tulisannya Ajip Rosidi. Kayaknya habis ini mau hunting ah. Dan semoga suatu hari jadi bu haji yang bener-bener haji, hihi

    BalasHapus
  6. "Mengakui diri bukan ahli bahasa dan hanya penggunanya tapi hidup dari menjual kata-kata."

    Menjual kata2 yang kadang perlu perhatikan dari segi bahasa ya, Apalagi perbedaan suku kata bisa menjadi perdebatan.
    Selalu seru belajar bahasa Indonesia yang akupun masih manggut2 untuk belajar dan memperhatikannya.

    Makasih loh ulasannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, karena pengguna biasanya yang tahu masalahnya
      dan yang diulas ini dari segala segi bahasa

      Hapus
  7. Ah iya, masalah Ibu Haji, Pak Haji, Ibu Hajjah ini sering banget terdengar di masyarakat kita ya... Saya sendiri termasuk yang suka pakai karena terpengaruh lingkungan.

    BalasHapus
  8. Nah .. ini, saya biasa gak rela menyebut IBU WALI KOTA untuk istri wali kota sementara kalau wali kotanya perempuan, kita tidak menyebut suaminya "pak wali kota", kan. Sama juga sebutan istri dokter dengan "bu dokter" hehe. Tapi begitulah orang Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, itu yang dikritik Ajip Rosidi rancu memang jadinya ya

      Hapus
  9. Saya jd inget kalau pak Ajip Rosidi ini menikah bu Nani Wijaya,artis yg jd nenek2 kaya di sinetron. Hehe... Ternyata beliau toh maksudnya, saya kira orang biasa ternyata sastrawan

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sastrawan besar Beliau, suami Nani Wijaya itu sahabatnya, keika pasangan mereka sudah sama-sama meninggal, akhirnya berdua menikah

      Hapus
  10. Kata-kata Ibu Haji ini menurutku lekat dengan wanita Indonesia yang menggunakan kerudung. Karena memang faktanya dibeberapa tempat gitu sering aku masih menjumpai memanggil dengan kata bu Haji tapi pas aku tanya iseng kenapa memanggil dengan bu Haji dan jawabannya simpel "karena perempuan dan berkerudung".

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau sekarang ya mbak..kalau jaman buku ini ditulis pengertian seperti yang disebutkan Ajip Rosidi.
      Aku di sekolah anak atau di lingkungan rumah sering juga dipanggil Bu Haji karena berkerudung hihi..di-Aamiin-i aja biar jadi doa

      Hapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  12. Sering juga di grup wa bahas bahwa penulisan ini salah, itu salah, padahal bahasa Indonesia tu betul, cuma mreka sesuaikan ke bahasa asal/arab. Jd bingung kan hehe
    Btw baru tau kl Nani Wijaya adalah istrinya 😀🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, maksudnya yang sudah diserap ke bahasa Indonesia ya jangan balik ke bahasa asal
      Nani wijaya istri sambung, istri pertama Beliau meninggal, suami Nani meninggal...jadi berdua menikah setelahnya

      Hapus
  13. BUku yang sangat menarik. Saya jadi inging punya dan memasukkannya ke daftar wishlist.
    Mnyoroti perilaku sosial di sekitar kita memang tak ada habisnya. sebagian adalah bentuk kearifan lokal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak...dan jadi tema menarik untuk diulik

      Hapus
  14. Mba Dian baca kepingan coretannya di Pikiran Rakyat juga tidak? Wah keren banget ini ulasan bukunya. Berat loh ini menurutku mba. Wkwkwk. Terima kasih Mba Dian. Saya jadi tahu ikhtisar buku ini, meski belum pernah membacanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. enggak , Mbak..saya besar di Jawa Timur, bacaannya Jawa pos :)

      Hapus
  15. Hihihi.. saya baru tau ajib Rosidi itu suami terakhir Nani Wijaya mba..
    Berarti kata "Bu haji" gak ada yang salah ya Mba Dian.. noted.

    BalasHapus
    Balasan
    1. G ada yang salah Mbak Rey, itu hanya pemikiran Ajip Rosidi dan memang benar sih alasannya

      Hapus
  16. Aku punya beberapa buku beliau mbak dan suka kubaca ulang karena isinya itu sarat ilmu sekaligus lucu..aku pernah baca bukunya tentang pengalaman tinggal di Jepang, beliau lama di sana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, masih ada beberapa saya beli belum dibaca ini

      Hapus
  17. Masyarakat terlanjur meyakini jika seseorang yang bijaksana, dermawan dipanggil dengan sebutan haji dannitu sebetulnya adalah doa, mantap nih bukunya. Pak Ajib dibutuhkan di negara kita yang luar biasa tak bisa lagi membedakan mana bahasa Indonesia yang baku yang baik dan yang berasal dari bahasa gaul yang dibakukan sehingga kesannya menjadi bahasa resmi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak paling tidak pemakaian sesuai tempat dan waktu

      Hapus
  18. Saya mengenal nama beliau sejak SMP. Sama seperti mengenal Chairil Anwar dan Sutat Takdir Alisyahbana. Nama-nama ini melekat erat dalam hati dan fikiran saya. Belum banyak membaca karya beliau, dan dengan membaca tulisan ini saya jadi semakin penasaran ingin membaca karya-karyanya lebih banyak lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak..saya juga baru baca-baca lagi setelah berita kepulangan Ajip Rosidi

      Hapus
  19. Beberapa kali saya sempat baca buku karyanya, termasuk yang ini pernah baca.

    BalasHapus
  20. Buku terbitan pak Ajib Rosidi bagus-bagus ya, dari judulnya saja sudah bikin senyum sendiri

    BalasHapus
  21. dengan kepiawaiannya menulis dan sensitivitasnya terhadap dinamika sosial di masyarakat, tulisan yang ditampilkan pak Ajib pasti penuh warna ya

    BalasHapus
  22. Nama Ajip Rosidi ini sangat terkenal. Sayangnya saya belum pernah membaca buku karya beliau. Ternyata beliau kritis sekali ya Mbak. Terima kasih telah menuliskan salah satu buku karya beliau

    BalasHapus
  23. Ilmu menulisnya Pak Ajib selalu keren... Al Fatihah untuk almarhum....

    BalasHapus
  24. Sepertinya buku yang menarik, gimana cara berbahasa Indonesia masyarakat umumnya membuat kerancuan walaupun yang dimaksud kadang bener juga sih walaupun ga gitu. Ah pengen baca jadinya. Sama kayak bu guru tapi bukan pengajar melainkan istri dari seorang suami yang berprofesi sebagai guru, tetanggaku begitu soalnya wkwkkw

    BalasHapus
  25. Kalau dipikir-pikir, Pak Aip ini sangat filosofis ya mba. Tulisannya penuh makna tentang kebanggaan sebagai orang Indonesia, yang miris dengan kecenderungan berbahasa orang jaman sekarang.

    BalasHapus
  26. mba Dian, aku melihat dari sisi judulnya aja udah retorika gitu, jadi menarik buat nerusin bacanya..Kang Ajip ini kok unik ya mba jadi pengen ngobrol sama beliau hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beliau sudah meninggal Juli lalu, ada di atas infonya ya

      Hapus
  27. Eh baru tahu kalau Pak Ajip menikah sama Nani Wijaya.
    BTW aku jd keinget dulu zaman kuliah petugas perpusatakaanku tu suka banget manggil mahasiswi berkerudung Bu Haji Bu Haji. Yawda aku aminin aja moga ada umur dan rezeki menunaikan rukun Islam kelima :D

    BalasHapus
  28. Bukunya menarik buat dibaca sampai selsai nih...Ibu Haji yang belum ke Mekkah bukan hanya panggilan untuk istrinya pak haji ya..Kalo ke pasar para pedagang manggilnya suka Bu Haji meski bukan istri pak haji wkwkw..asal pake jilbab aja dipanggilnya Bu Haji

    BalasHapus
  29. i am correct, is ladies and getleman as like pemudi pemuda not pemuda pemudi, since i am follow webbinar from kemednikbud, explaning like that, so try to finding it, what the true.

    BalasHapus
  30. Karya-karya sastrawan senior memang punya kekuatan sendiri ya mbak. Byk pelajaran yang bisa kita ambil dari setiap tulisan mereka.
    btw, saya beru tau kalo beliau suaminya artis senior nani wijaya :)
    Dua duanya seniman sejati

    BalasHapus
  31. Mbak Dian,
    Saya belum pernah membaca karya Ajib Rosidi, tapi namanya sendiri tidak asing di telinga.

    Isi bukunya menarik sekali,
    juga tentang Chairil Anwar yang berani sekali "mengibuli" S.T. Alisyahbana.

    Yang saya tidak mengerti, soal nyentrik itu mbak.
    Kenapa bisa sampai mengetahui apa yang dikemukanan pembicara sebelumnya.
    Apa mungkin dia setengah tertidur?
    Seperti serdadu yang selalu siap siaga dan pasang kuping?

    BalasHapus
  32. Oh baru paham saya Mba... harusnya yang benar itu Pak haji dan Bu haji ..

    BalasHapus