Seminar Media Pekan Imunisasi Dunia 2021: Kejar Imunisasi, Selamatkan Generasi

Cakupan imunisasi di Indonesia sejak pandemi COVID-19 menurun drastis. Bila hal ini dibiarkan terus-menerus memungkinkan terjadinya wabah penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi. Maka, bertepatan dengan Pekan Imunisasi Dunia, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama Satgas Imunisasi mengadakan seminar media untuk meningkatkan kesadaran dari berbagai pihak agar imunisasi lengkap dapat tetap diberikan dan penyakit-penyakit yang sudah dapat dicegah dengan imunisasi tidak menjadi wabah di masa pandemi COVID-19 ini.

Duh, kebayang aja kan, sudah pandemi eh ada wabah penyakit lain lagi! Hiks, semoga aja enggak ya!  Maka, tepat sekali jika Ikatan Dokter Anak Indonesia mengajak semua pihak dukung upaya pencegahan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Termasuk jika sudah terlewat waktunya bisa dilakukan kejar imunisasi melalui imunisasi ganda.

Oia, saya pernah punya pengalaman terkait kejar imunisasi dengan imunisasi ganda ini saat anak bungsu saya masih bayi. Dia saya ajak pindah ke Amerika ketika berusia 2 bulan. Di sana - karena masih ribet urusan sekolah Bapaknya dan tempat tinggal kami - maka saya baru bawa dia ke layanan imunisasi saat berusia 5 bulan. Jadilah ada jadwal vaksin yang terlewatkan. Akhirnya di kunjungan tersebut, si Adik langsung diimunisasi di paha kiri, kanan, kedua lengan dan ada lewat tetesan. Saya sempat shock, kok barengan gitu huhuhu. Tapi setelah saya cari tahu referensi terkait ternyata tidak masalah. Dan Alhamdulillah hingga kini enggak ada efeknya...

Pekan Imunisasi Dunia 2021

Pekan Imunisasi Dunia 2021: Kejar Imunisasi, Selamatkan Generasi


Nah, acara Seminar Media Pekan Imunisasi Dunia 2021: Kejar Imunisasi, Selamatkan Generasi ini dibuka oleh moderator dari Ketua Bidang Organisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K). 

Seminar media juga menghadirkan sambutan dan pesan dari Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Prof. DR. Dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI(Hon.). 

Di mana dalam seminar media tersebut, Prof. Aman menyampaikan,

"Sesuai tema kita “Kejar Imunisasi, Selamatkan Generasi” dalam kegiatan ini, merupakan hal yang sesuai dengan kondisi saat ini. Kita dari IDAI sangat concern terhadap kurangnya cakupan imunisasi yang terjadi selama COVID-19, terlebih lagi akan dimulai pembukaan sekolah tatap muka, sehingga imunisasi menjadi hal yang penting, karena masih banyak yang tidak berani masuk sekolah." 

Tak hanya itu untuk melengkapinya, seminar juga menghadirkan tiga pembicara, yaitu:
  • Dr. Prima Yosephine B.T. Hutapea, M.K.M., Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  • Prof. Dr. Cissy B. Kartasasmita, Sp.A(K),MSc, PhD., Ketua Satgas Imunisasi IDAI
  • Dr. Kenny Peetosutan, Spesialis Imunisasi UNICEF Indonesia



Program Imunisasi Nasional "Langkah Sekarang dan Masa Depan untuk Sukseskan Imunisasi"


Narasumber pertama adalah Dr. Prima Yosephine B.T. Hutapea, M.K.M., Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Dalam paparannya Dokter Prima menjelaskan bahwa dengan cakupan imunisasi lengkap yang tinggi dan merata akan membentuk kekebalan kelompok, sehingga bila sudah banyak orang yang imunisasi maka akan membuat orang-orang di sekitarnya yang belum imunisasi akan ikut terlindungi dari penyakit tersebut. 

Imunisasi sendiri dijelaskan oleh Dokter Prima, adalah upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseoang secara aktif terhadap suatu penyakit sehingga bila suati saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan

Nah, imunisasi terbagi menjadi:

Imunisasi Program: imunisasi yang diwajibkan kepada seseorang sebagai bagian dari masyarakat dalam rangka melindungi yang bersangkutan dan masyarakat sekitarnya dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi

Imunisasi Pilihan: imunisasi yang dapat diberikan kepada seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka melindungi yang bersangkutan dari penyakit tertentu.

Alasan imunisasi


Lalu bagaimana apabila seorang anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap? Dipaparkan Dokter Prima:

Anak yang tidak diimunisasi lengkap tidak memiliki kekebalan sempurna terhadap penyakit-penyakit berbahaya sehingga mudah tertular penyakit, menderita sakit berat, serta menderita cacat bahkan meninggal dunia. 

Selain itu, anak juga dapat menjadi sumber penularan penyakit bagi orang lain. Yang mana akumulasi anak yang tidak mendapat imunisasi rutin lengkap mengakibatkan tidak akan terbentuk Kekebalan Kelompok atau Herd Immunity sehingga memungkinkan terjadinya Kejadian Luar Biasa Penyakit-penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (KLB PD3I)

Kemudian, bagaimana pelayanan imunisasi pada masa pandemi? Dijelaskan oleh Dokter Prima:

  • Prinsip dasarnya, pada masa pandemi COVID-19, imunisasi tetap harus diberikan sesuai jadwal untuk melindungi anak dari PD3I
  • Rekomendasi Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (ITAGI) yakni: imunisasi harus tetap diupayakan lengkap sesuai jadwal. Penundaan imunisasi akan memperbesar risiko KLB PD3I.
  • Strategi pemberian imunisasi harus mempertimbangkan situasi epidemiologi COVID-19, kebijakan pemerintah daerah, serta situasi epidemiologi PD3I.

Lebih lanjut terkait Strategi Penguatan Imunisasi, Dokter Prima menyebutkan:

✔ Pelaksanaan defaulter tracking atau pelacakan bayi dan baduta yang belum lengkap status imunisasinya
✔ Melakukan catch-up imunisasi atau pelaksanaan imunisasi kejar untuk melengkapi status imunisasi pada anak yang belum lengkap atau belum mendapat imunisasi sama sekali
✔ Melakukan peningkatan kompetensi petugas secara berjenjang, baik melalui peningkatan kapasitas secara langsung dan on the job training, maupun melalui virtual training
✔ Peningkatan kualitas pelayanan imunisasi melalui pelaksanaan supervisi suportif peningkatan kesadaran dan keinginan masyarakat untuk imunisasi atau penerimaan masyarakat terhadap vaksin melalui pendekatan Human Centered Design
✔ Penguatan jejaring Public-Private Mix/kerjasama layanan kesehatan pemerintah dengan swasta
✔ Vaccine supply chain yang cukup dan tepat waktu


Pelayanan imunisasi pada masa pandemi


Nah, terkait hal ini, bila sekolah tatap muka dilakukan dan membuat adanya akumulasi anak yang belum di imunisasi lengkap, maka dapat meningkatkan resiko outbreak penyakit lain yang sebelumnya sudah dapat tertangani. Pasalnya, seorang anak dapat dikatakan memiliki imunisasi lengkap jika mendapatkan imunisasi saat bayi, dibawah 2 tahun, dan saat sekolah. 

Lebih lanjut, Dokter Prima menyampaikan data yang diperoleh Kementerian Kesehatan, sampai dengan saat ini jumlah Kabupaten/Kota yang mencapai target Imunisasi Dasar Lengkap lebih rendah dibandingkan dengan bulan Desember 2019. 

Sementara strategi yang dapat dilakukan dalam penguatan imunisasi diantaranya adalah pelacakan bayi dan baduta yang belum lengkap status imunisasi, melakukan pelaksanaan imunisasi kejar (catch-up), peningkatan kompetensi petugas agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan imunisasi, mengupayakan agar kesadaran dan keinginan masyarakat meningkat untuk melakukan imunisasi, melakukan penguatan kerjasama layanan kesehatan pemerintah dan swasta, serta penyediaan vaksin yang cukup dan tepat waktu. 

Oia, Dokter Prima juga menyampaikan akan adanya rencana penambahan vaksin baru yaitu vaksin Pneumokokus (PCV), Japanese Encephalitis (JE), dan Rotavirus. Targetnya tahun 2024 seluruh Indonesia sudah memiliki vaksin tersebut. 

Hingga di akhir materi Dokter Prima menyimpulkan jika:

  1. Imunisasi telah terbukti sebagai intervensi kesehatan yang cost effective dalam melindungi kesehatan anak
  2. Pada masa pandemi COVID-19 pelayanan imunisasi harus tetap diupayakan berjalan dan dilaksanakan sesuai jadwal imunisasi program nasional yang berlaku mengikuti kebijakan pemerintah darah setempat dengan mengikuti prinsip PPI dan menjaga jarak aman 1-2 meter
  3. Dukungan dari semua pihak sangat penting untuk keberhasilan program imunisasi saat ini dan di masa depan


Kejar Imunisasi, Selamatkan Generasi

Kejar Imunisasi, Selamatkan Generasi!


Kemudian, materi selanjutnya disampaikan oleh Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Prof. Dr. Cissy B. Kartasasmita, Sp.A(K),MSc, PhD

Dalam paparannya Prof. Dr. Cissy B.Kartasasmita, Sp.A(K),MSc, PhD menjelaskan bahwa pandemi COVID-19 menyebabkan disrupsi layanan imunisasi sehingga anak banyak yang tidak mendapatkan imunisasi dan menyebabkan mereka rentan terkena PD3I. 

Cakupan imunisasi DPT-HB Hib 4 tahun 2020 sebesar 42,8% sedangkan cakupan Rubella/MR-2 sebesar 40,9%. Angka ini mengalami penurunan sebesar 24% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan cakupan signifikan terjadi pada Mei 2020. 

Mangapa bisa?

Pelayanan imunisasi ini mengalami disrupsi karena anjuran pemerintah untuk stay at home sebagai salah satu upaya untuk mencegah transmisi penyakit COVID-19. 

Nah, terkait Petunjuk Teknis Pelayanan Imunisasi Pada Masa Pandemi COVID-19, dijelaskan Prof. Cissy:
  • Imunisasi tetap diupayakan lengkap dan dilaksanakan sesuai jadwal untuk melindungi anak dari P3DI
  • Pelaksanaan kegiatan operasional pelayanan imunisasi baik di Puskesmas maupun Posyandu mengikuti kebijakan Pemerintah Daerah setempat
  • Bila dilaksanakan di Posyandu, harus menjalankan prinsip social distancing
  • Bila social distancing sulit dilakukan, kegiatan pelayanan imunisasi dapat ditunda, dicatat, prinsip penjangkauan, defaulter tracking, sesegera mungkin memberikan imunisasi selanjutnya
  • Kegiatan pencatatan dan pelaporan tetap seperti biasa
  • Kegiatan surveilans P3DI selama masa pandemi harus dioptimalkan

Ketua Satgas Imunisasi IDAI


Kemudian, dijelaskan lebih lanjut oleh Prof. Cissy, imunisasi kejar harus dilakukan segera sesuai berdasarkan catatan riwayat imunisasi anak, tujuannya untuk memberikan proteksi maksimal kepada anak. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melakukan imunisasi ganda yaitu pemberian lebih dari satu jenis imunisasi (imunisasi ganda) dalam satu kali kunjungan. 

Sedangkan menyoal Imunisasi Kejar (Catch-up Immunization), Prof Cissy memaparkan:

✔ Imunisasi Kejar adalah imunisasi yang diberikan setelah usia yang direkomendasikan dan disebut catch-up immunisation (WHO)
✔ Artinya menyusulkan segera imunisasi yang tertunda
✔ Idealnya rencana imunisasi kejar harus berdasarkan catatan riwayat imunisasi anak. Bila catatan tidak ada, sesuaikan dengan usia anak
✔ Tujuan catch-up vaccination adalah untuk memberikan proteksi optimal terhadap penyakit sesegera mungkin dengan memenuhi jadwal vaksinasi yang direkomendasikan pada jangka waktu yang terpendek tetapi paling efektif
✔ Setiap kunjungan vaksinasi harus dinilai status imunisasi anak, untuk mengurangi kemungkinan missed opportunity for vaccination
✔ Untuk mengejar dapat diberikan vaksin kombinasi dan imunisasi ganda
✔ Jadwal pemberian vaksin dapat dipersingkat


imunisasi kejar


Well, pemberian lebih dari satu jenis imunisasi dalam satu kali kunjungan yang bermanfaat untuk mempercepat perlindungan kepada anak, meningkatkan efisiensi pelayanan dan orang tua tidak perlu datang ke fasilitas kesehatan berulang kali. Pemberian imunisasi ganda ini sudah terbukti aman, efektif dan tidak meningkatkan risiko KIPI pada anak. Tapi, pastikan pelayanan imunisasi mematuhi prinsip penyuntikan aman dan memperlihatkan kontra indikasi imunisasi.

Dijelaskan juga ketidaknyamanan ketika diberikan imunisasi ganda hanya akan dirasakan dalam waktu singkat. Mengingat pula kemberian imunisasi pada bulan atau waktu kunjungan yang berbeda akan memberikan ketidaknyamanan dua kali kepada bayi/anak.

Ya, imunisasi ganda atau yang biasa dikenal dengan stimultaneous vaccination diberikan untuk mempercepat perlindungan kepada anak, meningkatkan efisiensi pelayanan dan orang tua tidak perlu datang ke fasilitas kesehatan berulang kali. Selain itu, survailans harus tercatat baik untuk mencegah morbiditas dan mortalitas serta menghindarkan KLB di satu daerah.

Etapiii....aman enggak sih imunisasi ganda ini? 

Data ilmiah menunjukkan tidak akan menyebabkan masalah kesehatan di kemudian hari. Bila diperlukan 3 suntikan intramuskular/subkutan pada bayi kurang dari 12 bulan, diperbolehkan dan aman diberikan 2 suntikan pada satu paha atas yang sama. Terpisah jarak 2,5 cm. Dan berikan suntikan yang lebih kurang menyebabkan rasa sakit lebih dahulu

So, pesan dari Prof Cissy:

  1. Program imunisasi harus terus diberikan dengan menerapkan aturan-aturan untuk pemutusan penyebaran pandemi COVID-19
  2. Survailans yang tercatat baik untuk anak-anak sangat dibutuhkan pada setiap daerah untuk menjaga morbiditas dan mortalitas untuk tindakan segera dengan tujuan menghindarkan KLB di satu daerah
  3. Bila imunisasi tidak dilaksanakan kita akan menghadapi masalah baru yaitu KLB Campak, Difteri, Polio yang akan memperberat masalah pandemi COVID-19 yang masih harus ditanggulangi yang akan memeprberat biaya ekonomi yang sudah menuju resesi
  4. Imunisasi ganda dan vaksin kombinasi sangat dianjurkan, aman dan mengurangi kunjungan
  5. Imunisasi kejar harus segera dilakukan bagi anak yang belum lengkap mendapatkan imunisasi

Melindungi Anak-anak Indonesia Melalui Imunisasi - Perspektif UNICEF Indonesia


Perpektif UNICEF Indonesia


Selanjutnya, materi terakhir dari Dr. Kenny Peetosutan yang merupakan Spesialis Imunisasi UNICEF Indonesia. Dr. Kenny Peetosutan memaparkan berdasarkan Riskesdas tahun 2018, sekitar 2 juta anak tidak mendapat vaksinasi di sebagian wilayah Indonesia.

Dijelaskan Dokter Kenny, terdapat 7 prioritas strategis dan prinsip dasar UNICEF untuk program imunisasi yaitu Commitment and Demand, Coverage and Equity, Life Course and Integration, Outbreaks and Emergencies, Supply and Sustainability, serta Research and Innovation. 

Nah, UNICEF ingin memastikan distribusi vaksin COVID-19 yang cepat, aman dan efisien serta mampu menjangkau kelompok yang sangat marjinal. Tak hanya itu, UNICEF mendukung logistik rantai suplai imunisasi dan sistem distribusinya, penguatan imunisasi rutin dengan pencangkauan imunisasi di wilayah yang tertinggal, pengenalan vaksin baru serta memberikan dukungan terhadap kampanye imunisasi. 

No One is Safe until Everyone is Safe


Kemudian menutup seminar media, terkait imunisasi, Prof. DR. Dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI(Hon.). menyebutkan bahwa Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) harus dijalankan kembali, dengan tetap sesuai protokol kesehatan. Penting juga untuk melibatkan seluruh UKS dalam pembukaan sekolah ini. 

Beliau juga menyampaikan pesan kepada media untuk ikut berperan aktif, antara lain rekan media dapat ikut membantu agar cakupan imunisasi COVID-19 meningkat dan mencapai target. Hal inilah yang dapat menjadi upaya pencegahan penyakit. 

Penutup dari beliau “No One is Safe until Everyone is Safe”, jadi kita harus memastikan kejar imunisasi agar kita semua saling terlindungi. 

No one is safe until everyone is safe

Well, semoga kita semua bisa mendukung program dari Ikatan Dokter Anak Indonesia ini. 

Mari, kita kejar imunisasi demi selamatkan generasi!

Semoga liputan Seminar Media Pekan Imunisasi Dunia 2021: Kejar Imunisasi, Selamatkan Generasi ini bermanfaat!

Untuk keterangan mengenai Ikatan Dokter Anak Indonesia dan hal-hal terkait tumbuh kembang anak silakan langsung ke link IDAI berikut ya! See Ya!💖


www.idai.or.id | Instagram @idai_ig | 
Facebook Ikatan Dokter Anak Indonesia | Twitter  @idai-tweets



Salam Sehat

signature-fonts


14 comments

  1. Saya sih setuju banget, imunisasi harus terus digencarkan dan dikejar supaya pandemi segera berlalu. Jangan sampai di negara kita terjadi badai covid.

    ReplyDelete
  2. “No One is Safe until Everyone is Safe”
    Kalimat ini BENER BANGET.
    Semoga bisa membuka mata dan hati semua orang ya.

    kita harus memastikan kejar imunisasi agar kita semua saling terlindungi.
    Terlebih lagi, IDAI sangat concern terhadap kurangnya cakupan imunisasi yang terjadi selama COVID-19, sehingga imunisasi menjadi hal yang penting.

    ReplyDelete
  3. Setuju banget sama “No One is Safe until Everyone is Safe” kita harus banyak belajar berempati, terutama di saat pandemi kayak sekarang. Semoga makin banyak orang yang sadar pentingnya imunisasi

    ReplyDelete
  4. Kalau gak salah di posyandu deket rumah msh ada gtu woro2 utk datang. Dari petugasnya udah mulai proaktif, mungkin masyarakatnya yg masih ragu ya?
    Bisanya yg gak mau vaksin krn aliran kepercayaan tertentu. Pdhl kalau mau umrah atau naik haji aja kan jg vaksin ya.
    MUngkin edukasinya harus digencarkan lg jg yaa

    ReplyDelete
  5. imunisasi adalah langkah baik untuk mempersiapkan masa depan anak bangsa. ini ngga bisa ditunda agar anak anak terbebas dari penyakit berbahaya

    ReplyDelete
  6. Ya ampun jadi inget anakku udah lama bngt ga imunisasi.

    Penyakit yg terkait virus dan sejenisnya memang perlu kerja sama semua pihak tanpa kecuali ya. Makanya perlu bgt kesadaran bersama utk peduli dan melindungi dirinya dan org lain

    ReplyDelete
  7. Acaranya menarik sekali kak Dian, lagi-lagi kita diingatkan betapa pentingnya kesehatan dan tetap menjaga imunitas tubuh. Apalagi untuk imunisasi, penting sekali bahkan penting banget. Semoga kita semua sadar betapa pentingnya imunisasi ini khususnya pada anak.

    ReplyDelete
  8. Setuju sekali. Imunisasi harus terus digalakkan demi meningkatkan kekebalan tubuh. Apalagi sekarang virus semakin banyak dan berkembang sangat mempengaruhi kesehatan tubuh manusia.

    ReplyDelete
  9. Sepakat, Mbak Dian. wabah bisa cepat teratasi kalau semua peduli dengan mau divaksinasi. Dukungan lewat kesadaran adalah kunci untuk bisa bertahan. Mewujudkan keselamatan semua berawal dari kesadaran diri, lanjutkan!

    ReplyDelete
  10. setuju. imunisasi hrs d gencarkan. karena virus dan bakteri berbahaya makin byk

    ReplyDelete
  11. Imunisasi ini bisa meningkatkan kekebalan tubuh yah, semoga dengan berlanjutnya program ini tidak ada lagi penyakit yg meresahkan

    ReplyDelete
  12. Meskipun dimasa pandemi begini, imunisasi pada bayi-bayi jangan sampai lengah.

    Semoga pandemi ini segera usai, Aamiin

    ReplyDelete
  13. Yup, imunisasi tuh penting ya. Selain untuk meningkatkan imunitas tubuh, melindungi juga orang lain yang kemungkinan daya tubuhnya lebih lemah.

    Yang 3 jenis vaksin baru itu anakku belum dapet mba, yang mulai dari Pneumokokus itu loh. Nantinya harus vaksin mandiri atau gimana ya mba?

    ReplyDelete