Pendapat Ikatan Dokter Anak Indonesia Mengenai Rencana Transisi Pembelajaran Tatap Muka

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyelenggarakan Seminar Media pada hari ini mengenai rencana transisi pembelajaran tatap muka. Ya, sampai saat ini hampir semua siswa di Indonesia menjalani Pembelajaran Jarak Jauh terkait pandemi COVID-19 yang belum juga tuntas.

Nah, kabar terbaru dari pemerintah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menyatakan, pemerintah memutuskan sekolah boleh melaksanakan pembelajaran tatap muka pada Januari 2021. Hanya saja, menurut Nadiem Makarim, pembelajaran tatap muka diperbolehkan, tetapi tidak diwajibkan. 

Tak hanya itu saja, kini kewenangan diserahkan kepada pemerintah daerah (Pemda), sekolah, dan orangtua. Tiga komponen ini menjadi kunci diselenggarakannya pembelajaran tatap muka atau tidak.

Keputusan itu menimbulkan pro kontra di kalangan orangtua, ada yang setuju dan ada yang menolaknya.

Lalu, bagaimana Ikatan Dokter Anak Indonesia, sebagai satu-satunya organisasi profesi Dokter Spesialis Anak Indonesia yang bernaung di bawah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyikapinya?

Berikut press release yang diberikan berdasarkan Seminar Media yang berlangsung virtual pada hari Kamis, 3 Desember 2020 di Jakarta yang dihadiri undangan dan rekan media serta blogger.

Oh ya, saya sengaja tidak menambah maupun mengubah rilis resmi ini agar esensinya tetap terjaga. Acara dibuka oleh pembawa acara, dilanjutkan penjelasan dari Ketua IDAI dan ditutup dengan tanya jawab.


Rencana Transisi Pembelajaran Tatap Muka

Kasus Kematian Anak Indonesia Akibat COVID-19 Tertinggi di Asia Pasifik

Wabah COVID-19 telah berlangsung hampir satu tahun sejak kasus pertama dilaporkan. Dalam satu tahun ini terjadi banyak perubahan drastis pada hampir seluruh tatanan kehidupan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. 

Salah satu perubahan yang berdampak signifikan terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak Indonesia adalah ditutupnya sekolah sehingga anak belajar dari rumah. Pelaksanaan kegiatan belajar dari rumah merupakan hal yang sulit namun sangat perlu diterapkan, mengingat saat ini jumlah kasus konfirmasi COVID-19 di Indonesia masih terus meningkat. 

Di mana satu dari sembilan kasus konfirmasi COVID-19 di Indonesia adalah anak usia 0-18 tahun. Data tanggal 29 November 2020 menunjukkan proporsi kematian anak akibat COVID-19 dibanding seluruh kasus kematian di Indonesia sebesar 3,2% dan merupakan yang tertinggi di Asia Pasifik saat ini. 

Anak yang tidak bergejala atau bergejala ringan dapat menjadi sumber penularan kepada orang di sekitarnya. Bukti-bukti menunjukkan bahwa anak juga dapat mengalami gejala СOVID-19 yang berat dan mengalami suatu penyakit peradangan hebat yang diakibatkan infeksi COVID-19 yang ringan yang dialami sebelumnya. 

Pembukaan sekolah untuk kegiatan belajar mengajar tatap muka mengandung risiko tinggi terjadinya lonjakan kasus COVID-19 karena anak masih berada dalam masa pembentukan berbagai perilaku hidup yang baik agar menjadi kebiasaan rutin di kemudian hari, termasuk dalam menerapkan perilaku hidup bersih sehat. 

Ketika protokol kesehatan dilanggar, baik sengaja maupun tidak, maka risiko penularan infeksi COVID-19 akan meningkat sangat tinggi. Peningkatan jumlah kasus yang signifikan pasca pembukaan sekolah telah dilaporkan di banyak negara sekalipun negara maju (Korea Selatan, Prancis, Amerika, Israel) termasuk di Indonesia. 

Penundaan sekolah dikatakan dapat menurunkan transmisi. Semua warga sekolah, termasuk guru dan staf, dan juga masyarakat memiliki risiko yang sama untuk tertular dan menularkan COVID-19. Namun demikian, didapatkan berbagai laporan selama pandemi berlangsung tentang meningkatnya tingkat stres pada anak dan keluarga, perlakuan salah, pernikahan dini, ancaman putus sekolah, serta berbagai hal yang juga mengancam kesehatan dan kesejahteraan anak yang secara umum di alami di negara-negara berkembang. Hal ini juga membutuhkan perhatian dan penanganan khusus oleh seluruh pihak. 


Seminar Media IDAI
Host: Dr. Catharine Mayung Sambo, Sp.A(K)

Pendapat IDAI Mengenai Rencana Transisi Pembelajaran Tatap Muka 


Maka, sehubungan dengan rencana dimulainya transisi pembelajaran tatap muka pada bulan Januari 2021, maka Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memandang perlu untuk menyampaikan pendapat sebagai berikut:

1. Upaya bersama yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan anak Indonesia perlu terus diperjuangkan, baik melalui pembelajaran tatap muka maupun saat belajar dari rumah. 

2. Seluruh pemangku kepentingan, baik orangtua, masyarakat, maupun pemerintah, berkewajiban memenuhi Hak Anak sesuai dengan Konvensi Hak Anak Tahun 1990 yaitu hak untuk hidup, hak untuk bertumbuh dan berkembang dengan baik, serta hak untuk mendapatkan perlindungan. Pemenuhan kebutuhan kesehatan dasar anak seperti nutrisi lengkap seimbang, imunisasi lengkap sesuai usia, kasih sayang, stimulasi perkembangan, keseimbangan aktivitas fisik dan tidur, serta perlindungan dari berbagai risiko gangguan keselamatan dan tumbuh kembang dimulai dari lingkungan rumah dan keluarga. Orangtua dan anggota keluarga dewasa di rumah diharapkan dapat memeriksa apakah kebutuhan anak telah terpenuhi dan mencari bantuan untuk memenuhi kebutuhan tersebut ke fasilitas layanan terdekat. 

3. Pendidikan disiplin hidup bersih sehat serta penerapan protokol kesehatan dimulai dari rumah sebagai lingkungan terdekat anak, terlepas dari apakah anak menghadiri kegiatan belajar tatap muka atau tidak. Orangtua dan anggota keluarga dewasa diharapkan mulai memperkenalkan 3M; kebiasaan cuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak sejak dini. Pengenalan kebiasaan mencuci tangan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana memberi contoh secara rutin dan membersihkan tangan bayi sejak usia mulai MPASI, lalu ditingkatkan secara bertahap. Pemakaian masker dengan cara yang benar dapat mulai dikenalkan sejak usia 2 tahun, dengan durasi semampu anak, kemudian ditingkatkan secara bertahap. Ketika anak belum mampu hendaknya tidak dimarahi, melainkan diberi apresiasi ketika ia mampu melakukan dengan benar, serta terus diberikan contoh, kesempatan, dan bimbingan secara berulang-ulang hingga lancar dan menjadi kebiasaan. 

4. Menimbang dan memperhatikan panduan dari World Health Organization (WHO), publikasi ilmiah, publikasi di media massa, dan data COVID-19 di Indonesia maka saat ini IDAI memandang bahwa pembelajaran melalui sistem jarak jauh (PJJ) lebih aman. 

5. Pada kelompok anak yang tinggal di sekolah berasrama, peran keluarga sebagai komunitas terdekat anak terbagi antara keluarga di rumah dengan lingkungan sekolah dan asrama, sehingga penting bagi pihak penyelenggara sekolah untuk melaksanakan pemenuhan kebutuhan dasar tumbuh kembang, bimbingan dan pendidikan perilaku sesuai yang telah diuraikan sebelumnya. Sebaiknya dilakukan pengaturan keluar masuk lingkungan sekolah dengan tujuan meminimalkan risiko penyebaran penyakit. 

6. Keputusan membuka sekolah untuk memulai kegiatan tatap muka dapat berbeda-beda dari satu daerah dengan daerah lainnya di Indonesia, karena dipengaruhi berbagai faktor. Namun demikian, sedapatnya keputusan membuka dan menutup kembali sekolah dalam waktu singkat dihindari, karena berdampak pada rutinitas keseharian anak dan keluarga. Untuk itu diperlukan suatu pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi setempat, juga melibatkan berbagai pihak yang terkait dalam upaya kesehatan dan kesejahteraan anak. 

7. Kebijakan pembukaan sekolah di masing-masing daerah harus meminta pertimbangan dinas kesehatan dan organisasi profesi kesehatan setempat dengan memperhatikan apakah angka kejadian dan angka kematian COVID-19 di daerah tersebut masih meningkat atau tidak.

8. Pihak sekolah hendaknya pertama-tama memenuhi standar protokol kesehatan dengan memastikan dukungan fasilitas yang memadai sesuai anjuran atau petunjuk teknis yang berlaku sebelum merencanakan mulainya pembelajaran tatap muka dan dipastikan dapat terpenuhi selama kegiatan berlangsung. Perlu adanya mekanisme pemantauan pemenuhan standar protokol kesehatan. Pihak sekolah perlu memiliki standar prosedur operasional apabila terdapat murid, guru, dan/atau staf yang sakit dan konfirmasi COVID-19. 


Ketua IDAI
Narasumber: Ketua IDAI, DR.Dr. Aman B.Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI(Hon).



9. Bagi orangtua yang mempertimbangkan persetujuan kegiatan pembelajaran tatap muka dalam masa pandemi ini disampaikan pertimbangan sebagai berikut: 

a. Sebaiknya tetap mendukung kegiatan belajar dari rumah, baik sebagian maupun sepenuhnya. 

b. Pertimbangkan apakah partisipasi anak dalam kegiatan tatap muka lebih bermanfaat atau justru meningkatkan risiko penularan dari hal-hal berikut: 

  • Apakah anak sudah mampu melaksanakan kebiasaan cuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak dengan memadai?
  • Apakah anak masih sangat memerlukan pendampingan orangtua saat sekolah? Bila masih, maka sebaiknya anak masih di rumah dulu saja. 
  • Apakah anak memiliki kondisi komorbid yang dapat meningkatkan risiko sakit parah apabila tertular COVID-19? Bila ada, sebaiknya anak belajar dari rumah. 
  • Adakah kelompok lanjut usia dan risiko tinggi di rumah yang mungkin tertular apabila banyak anggota keluarga yang beraktivitas di luar rumah? 

c. Periksa apakah sekolah sudah memenuhi standar protokol kesehatan yang berlaku. d. Apabila akan menyetujui partisipasi anak dalam kegiatan belajar tatap muka, persiapkan pula kebutuhan penunjangnya, seperti rencana transportasi, bekal makanan dan air minum, masker, pembersih tangan, serta persiapan tindak lanjut apabila mendapat kabar dari sekolah bahwa anak sakit (di antaranya fasilitas kesehatan yang akan dituju untuk perawatan selanjutnya, asuransi kesehatan, dll). 

e. Ajarkan anak untuk mengenali tanda dan gejala awal sakit, serta untuk melapor kepada guru apabila diri sendiri atau teman sepertinya ada tanda dan gejala sakit. 

f. Ajarkan anak untuk berganti baju, mandi, dan membersihkan perlengkapannya setiap pulang dari sekolah, sebagaimana orang dewasa yang beraktivitas di luar rumah. 

10. Apabila dalam kasus tertentu manfaat partisipasi kegiatan pembelajaran tatap muka dipandang lebih besar daripada anak tetap tinggal di rumah, misalnya dalam kasus anak terancam perlakuan salah, maka disampaikan pertimbangan sebagai berikut: 

a. Anak dan keluarga yang bermasalah perlu dibantu lebih dari sekedar mengizinkan anak berpartisipasi dalam kegiatan belajar tatap muka, sehingga sebaiknya masyarakat serta perangkat dan dinas terkait turut melakukan pendekatan tata laksana sesuai panduan yang berlaku. 

b. Dalam membuat keputusan partisipasi anak untuk ikut pembelajaran tatap muka, sebaiknya mengacu pada pertimbangan dan persiapan yang telah diuraikan sebelumnya. 

c. Semua pihak hendaknya bahu-membahu dari semua lapisan untuk mewujudkan rumah dan lingkungan ramah anak. 

11. Dalam rangka menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan sehat maka diperlukan revitalisasi dan penyesuaian program Usaha Kesehatan Sekolah yang berfokus pada pencegahan infeksi, pengenalan tanda dan gejala sakit yang memerlukan rujukan, serta penetapan alur rujukan yang memadai. 

12. Peningkatan kapasitas contact tracing dan tata laksana kasus COVID-19 perlu terus diupayakan. 


Perubahan besar yang terjadi selama masa pandemi akan menjadi bagian dari potret kehidupan anak yang sedang beranjak dewasa. Kebutuhan untuk membentuk perilaku sehat yang konsisten adalah suatu keniscayaan yang perlu ditanamkan sejak dini, agar menjadi kebiasaan rutin di kemudian hari. Karena itu peran orangtua, keluarga, guru, serta lingkungan terdekat anak untuk mendidik dengan sabar dan konsisten sejak dini sangatlah penting. Semoga anak Indonesia selamat melewati pandemi ini. 


Ikatan Dokter Anak Indonesia


Demikian disampaikan oleh Ketua IDAI, DR.Dr. Aman B.Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI(Hon).

Untuk keterangan mengenai Ikatan Dokter Anak Indonesia dan hal-hal terkait tumbuh kembang anak dapat dilihat di www.idai.or.id, instagram @idai_ig, laman Facebook Ikatan Dokter Anak Indonesia, dan follow @idai-tweets.

Baiklah, semoga infonya bermanfaat, kita bisa sikapi dengan bijak dan semoga selalu sehat!💖


Salam Semangat

signature-fonts

8 comments

  1. Ternyata masih butuh waktu dan proses yang lama dengan hidup new normal ini karena serba kebiasaan baru harus cuci tangan, mandi dengan bersih, dan tidak luput dari pemakaiaan masker maupun hand sanitizer, permasalahan letak di anak" apakah siap atau belum?

    ReplyDelete
  2. Rekomendasi IDAI ini semoga menjadi pertimbangan pemda dalam mengizinkan sekolah membuka pembelajaran tatap muka di Januari nanti. Anak bungsu saya sudah di-souding nih sama gurunya untuk sekolah tatap muka, Mbak Dian. Kalau saya sendiri masih berharap anak2 bisa PJJ saja dulu hingga awal tahun ajaran baru 2021. Lebih tenang dan menghindari risiko.

    ReplyDelete
  3. Sudah tugas kita bersama untuk menciptakan lingkungan yang ramah anak, soalnya anak2 merupakan generasi penerus bangsa ini. Harapanku smg pandemi segera berlalu supaya anak2 bisa bersekolah seperti dulu lagi

    ReplyDelete
  4. Anak apalagi yang masih usia TK dan SD masih sangat butuh pengawasan dalam penerapan protokol kesehatan. Kalau saya sih mendukung pelaksanaan PJJ dulu. Karena kasus masih naik terus...

    ReplyDelete
  5. Ya Allah rasanya deg-degan jika kembali tatap muka di saat pandemi masih berlangsung. Semoga press release dari IDI ini bisa jadi pertimbangan.

    ReplyDelete
  6. Saya sendiri termasuk yang belum sepakat untuk anak-anak masuk sekolah tatap muka, mbak. Bukan underestimate ya, apa yang disampaikan sama dokter-dokter IDAI ini bener banget. banyak hal yang harus disiapkan dan dipertimbangkan. Kita bisa lihat sekarang, jangankan anak-anak ya, yang sudah dewasa aja kadang masih banyak yang gak aware untuk cuci tangan, jaga jarak, dan pake masker. PR nya banyak. Ya mendidik anak, mendidik orang tua, menyediakan fasilitas yang memadai, dan membuat sistem yang bagus. Hffhhh. Tarik nafas panjang deh.

    ReplyDelete
  7. Saya sepenuhnya setuju dengan IDAI dan memilih tidak menyekolahkan anak saya secara offline dulu, sambil terus berdoa semoga pandemi segera berlalu... Aminn

    ReplyDelete