Yuk, Wahai Perempuan Kita Bijak Mengelola Keuangan dengan Metode Kakeibo!

Buibuuuu, pernah kebingungan enggak sih saat belum akhir bulan eh uang belanja kok udah habis aja. Padahal perasaan enggak ada pengeluaran ekstra, tapi kok udah menguap saja nih duitnya yaaaa, hadeh! Beneran deh, perempuan terutama yang sudah berkeluarga, dituntut selain dapat mengatur rumah tangganya, juga harus cakap mengelola keuangan dengan baik. Karena, kalau enggak baik-baik ngaturnya, bisa bablas deh semua rencana. Enggak mau kan, keinginan punya hunian batal jadi kenyataan, atau persiapan pendidikan anak jadi berantakan?

Nah, karena itulah perlu ada metode untuk pengaturan keuangan, sehingga semua berjalan aman. Dan salah satu metode yang dapat diterapkan demi menjadi perempuan bijak dalam finansial adalah metode Kakeibo.

Kakeibo?

Mengelola Keunang dengan Metode Kakeibo

Apa Itu Kakeibo?


Yes, Kakeibo adalah metode mengatur keuangan yang banyak diterapkan oleh para ibu rumah tangga di Jepang. Nah, secara harfiah, Kakeibo bisa diartikan sebagai ‘buku rekening untuk ekonomi rumah tangga'.

Metode ini, pertama kali diperkenalkan pada tahun 1904 oleh seorang jurnalis Makoto Hani dan dipopulerkan kembali pada tahun 2017 oleh Fumiko Chiba dalam buku Kakeibo: The Japanese Art of Saving Money

Dan, metode Kakeibo inilah salah satunya yang dapat diadopsi perempuan Indonesia dalam mengatur anggaran rumah tangganya. Caranya:


1. Catatlah Hal-hal Ini dengan Rapi

Catatlah hal-hal ini, yaitu: penerimaan, perkiraan kebutuhan, pengeluaran dan jumlahnya dalam catatan harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan. Catat yang rapi sehingga bisa kita baca kembali nanti. Oia, ingat dalam mencatat, harus rutin atau tidak menunda, sehingga perlu berkomitmen dan telaten. Kemudian, jika tiba saat akhir bulan, lakukan evaluasi keuangan.


2. Catat Semua Penghasilan

Berikutnya, untuk penghasilan, yang harus dicatat secara rutin adalah kapan dan darimana sumbernya. Misalnya jika ada gaji pribadi, uang bulanan dari suami, termasuk jika ada usaha sampingan. Oia, ingat jika ada piutang yang diterima juga perlu dicatat. Termasuk jika kita berasuransi dan mendapatkan nilai tunai/manfaat/tahapan yang juga dicatat sebagai penerimaan.


3. Catat Perkiraan Jumlah Kebutuhan

Selanjutnya, catat perkiraan jumlah kebutuhan. Agar mudah mengingat pengeluaran, bagilah ke dalam beberapa pos. Misalnya:

  • Pengeluaran primer yang sudah pasti (mencakup belanja bulanan, transportasi, cicilan rumah, cicilan kendaraan bermotor, biaya sekolah anak, tagihan listrik atau air)
  • Pengeluaran sekunder (belanja perlengkapan rumah, membeli pakaian, jalan-jalan)
  • Pengeluaran darurat (biaya ke bengkel saat kendaraan rusak, biaya ke dokter saat sakit). 

Ingat, dana darurat perlu dimiliki oleh setiap keluarga yang besarnya sekitar 6-12x gaji/pendapatan. Misalnya, jika gaji Rp5 juta maka dana darurat setidaknya Rp30-60 juta tersedia.


4. Buat Pos Pengeluaran Harian

Kemudian, pengeluaran rutin setiap hari perlu juga dibuat pos. Untuk memudahkan, dapat memanfaatkan amplop sebagai tempat dana atau uang bagi masing-masing pos pengeluaran. Contohnya, amplop ‘Belanja Bulanan’ dan amplop ‘Jalan-Jalan.’ Jika isi amplop tersebut sudah dihabiskan atau kosong, jangan pernah mengambil uang dari amplop lainnya, memang agak susah...tapi di sinilah para ibu dituntut untuk disiplin.


5. Catat Pengeluaran

Setelah merencanakan pengeluaran, catat juga pengeluaran yang terjadi, bisa juga kita tambahkan informasi kapan dan di mana melakukan suatu transaksi sehingga bisa membandingkan harganya dengan pembelian barang yang sama sebelumnya. Kemudian lakukan evaluasi, yaitu dari amplop yang dimiliki, perhatikan apakah ada yang tersisa? Teliti pos mana saja yang berhasil dihemat dan pos mana yang banyak menghabiskan anggaran.


Sequis Life

Manfaat Kakeibo


Well, dari kelima langkah pada metode Kakeibo ini, kita diingatkan bahwa dengan mencatat, akan diketahui:

✔ Apakah yang kita belanjakan sudah sama dengan perkiraan atau malah berlebihan
✔ Apakah kebutuhan saat ini sama besarnya atau lebih banyak dari sebelumnya
✔ Apakah pengeluaran tidak melebihi pendapatan atau sebaliknya

Nah, dengan mengetahui hal tersebut, kita bisa menyesuaikan budgeting lebih baik di bulan berikutnya.

Enggak hanya itu, melakukan pencatatan, juga akan membantu mengetahui kondisi finansial kita secara detail dan saat dihadapkan kembali pada keputusan untuk mengeluarkan uang untuk hal yang di luar dari prioritas kebutuhan, kita lebih mudah memutuskan untuk menunda keinginan tersebut. 

Dan, jika seiring berjalannya waktu berhasil menekan pengeluaran dan menghemat lebih banyak uang, berarti  kita telah berhasil mengimplementasikan Kakeibo!

Memasukkan Pembayaran Premi Asuransi ke Jurnal Keuangan


Gimana? Menarik ya metode Kakeibo-nya? 

Senang sekali saya jadi makin mengerti perihal metode pengelolaan keuangan Kakeibo dan ingin menerapkannya dalam pengelolaan keuangan rumah tangga saya nanti.

Oia, terkait informasi Kakeibo, ini merupakan penjelasan yang disampaikan oleh Regional Head of Agency Development Sequis, Fourrita Indah Ssos, CFP, CEC AEPP, pada kesempatan peringatan hari Kartini tahun ini.

Di mana Ibu Fourrita mengajak perempuan Indonesia untuk meningkatkan pengetahuan mengatur keuangan dengan cara membuat jurnal sebagaimana yang diterapkan dalam metode Kakeibo. 

“Sangat penting bagi perempuan untuk mampu menata keuangan. Apalagi, saat pandemi Covid-19 banyak ketidakpastian yang dapat terjadi sehingga kita harus pintar mengelola keuangan. Bagi yang sudah berkeluarga, pendapatan yang kita miliki tentunya akan digunakan untuk memenuhi semua kebutuhan satu keluarga sehingga kita perlu memiliki keahlian mengatur keuangan,” tegas Ibu Fourrita.

Tambahnya lagi, perempuan Indonesia diharapkan dapat mandiri dan diandalkan sesuai cita-cita mulia Ibu Kartini. Kemandirian ini akan tercermin dari cara kita mengatur finansial. Jadi, tidak masalah jika kita dapat mengadopsi metode Kakeibo karena cocok dengan keseharian kita.

Kemudian diingatkan, membayar premi asuransi juga perlu dimasukkan dalam jurnal keuangan. Namun, jika kita belum memiliki asuransi dan bermaksud memberikan perlindungan bagi keluarga maka akan mudah bagi kita yang sudah menerapkan metode Kakeibo untuk menghitung perkiraan kebutuhan asuransi. 

Saran Ibu Fourrita, ketika membuat perencanaan keuangan sebaiknya alokasikan 10-20% pendapatan untuk berasuransi pada dana darurat karena kebutuhan proteksi sangat penting bagi keluarga.

“Dengan berasuransi, keluarga akan memiliki safety net jika terjadi risiko sakit, kecelakaan, atau meninggal dunia karena akan diterima sejumlah Uang Pertanggungan yang bisa menjadi penyambung hidup bagi keluarga,“ sebutnya.

Tentang Sequis Q Smart Life


Nah, terkait asuransi, yang bisa jadi pilihan diantaranya adalah salah satu produk unggulan Sequis yakni Sequis Q Smart Life. Di mana asuransi ini memberikan perlindungan jiwa seumur hidup dan produk asuransi tambahan kesehatan yaitu SQIMC XBooster yang menggantikan biaya rawat inap dan rawat jalan sesuai tagihan serta memberikan manfaat tunai untuk nasabah yang mengalami sakit kanker dan jantung. 

Dengan memiliki asuransi kesehatan, seorang Ibu tidak perlu khawatir jika jatuh sakit atau jika ada anggota keluarga yang harus mendapat perawatan di rumah sakit sebab biaya perawatan RS akan ditanggung perusahaan asuransi sesuai tagihan yang tertera pada masing-masing polis asuransi. 

Well, semoga para perempuan makin bijak di era modern ini dan tidak ada salahnya untuk mulai menerapkan metode Kakeibo dalam pengelolaan keuangan demi mencapai masa depan keluarga yang lebih baik lagi!💖


Selamat Hari Kartini!

signature-fonts

11 comments

  1. kakeibo ini sangat penting nih dipelajari untuk pelaku usaha. jika ingat metode kakeibo ini saya jadi inget website rezkypradata dot com

    ReplyDelete
  2. Saya pernah rutin mencatat setiap transaksi, sampai akhirnya kelupaan nggak mencatat lagi, ujungnya malah kebablasan nggak nyatet lagi. Padahal metodenya mirip KEKEIBO gitu deh. Namun ini KEKEIBO versi saya, hehehe...

    Saya rasa perlu banget menerapkan strategi KEKEIBO ini, apalagi zaman now, harus lebih telaten lagi mengatur keuangan keluarga.

    Nice info Mba 👍👍

    ReplyDelete
  3. Baru tahu namanya Kakeibo. Padahal ya udah diterapkan siii dulu-dulu, dipisahkan di amplop-amplop gitu.
    Aku ya ikut Sequis dulu untuk dana raih sarjana buat anak. Mayan sih bisa lulus berkat asuransi pendidikan.

    ReplyDelete
  4. Kakeibo: The Japanese Art of Saving Money ini bukunya populer ya mba. Saya pernah lihat punya teman saya, tapi gak baca keseluruhan, cuma prolognya doang. Kekeke. Setelah saya baca penjabaran Mba Dian, kayaknya praktik dasarnya sama yaaa seperti saran-saran financial planner di Indonesia. Hal yang membedakan tentu saja kemauan kita menerapkannya atau tidak. Kekeke. Seru banget ini Sequis berbagi semangat untuk Kartini masa kini menyiapkan perencanaan keuangan, khususnya dalam hal asuransi.

    ReplyDelete
  5. Kalau pertama kali melakukan pencatatan pasti terkejut karena ternyata banyak banget pengeluaran yang tidak berarti tapi begitu dihitung jumlahnya wow banget.
    Menarik sekalo metode Kakeibo ini

    ReplyDelete
  6. Mbaa aku selalu bermasalah nih sama pencatatan keuangan. Mesti semangat di awalnya doang hikss.
    Aku mau coba yg inii. Noted banget. Makasii sudah menuliskannya

    ReplyDelete
  7. Saya pribadi pernah melakukan pencatatan mirip KEKEIBO ini waktu kuliah. Sekarang udah gak lagi, seringnya kelupaan. 🤭🤭

    Lewat tulisan Mba jadi diingatkan kembali untuk melakukan hal penting ini.

    ReplyDelete
  8. Awal menikah, istri saya termasuk orang yg telah menerapkan metode kakeibo. Tapi dengan seiring berjalannya waktu, sekarang udah gak pernah gunakan metode itu lagi. Mungkin karena alasan Besar pasak dari pada tiang, jadi enggan mencatat semuanya

    ReplyDelete
  9. Kalau aku sih tiap kali ada uang masuk, prioritas ditabung dulu. Saya lebih suka nabung emas sekalian investasi. Kalau untuk lainnya saya punya rekening terpisah untuk dana darurat.

    ReplyDelete
  10. Detail sekali pencatatan dalam metode kakeibo ini ya. Metode pengaturan keuangan yang baik, memang seharusnya membuat pengeluaran kita jadi lebih hemat. Jadi kalau sering gagal mengatur keuangan, mungkin bukan karena metodenya yang salah, tapi sayanya yang kurang komitmen dalam mengaturnya.

    ReplyDelete