Review Buku: Katakan Tidak pada Perundungan

Buku "Katakan Tidak pada Perundungan" karya Febri Purwantini menjadi bacaan anak saya (dan Ibunya) di liburan kenaikan kelas kali ini. Liburan yang jatuh bersamaan dengan diterapkannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa Bali. Aturan yang ditetapkan pemerintah sebagai imbas naiknya kasus Covid-19 yang belakangan memuncak lagi. Membuat libur sekolah ujung-ujungnya tetap tinggal di rumah saja demi keselamatan semua. 

Maka, baca buku bisa jadi pilihan kegiatan yang tak hanya akan menghibur tapi juga menambah wawasan. Apalagi kalau temanya adalah kejadian yang marak terjadi, yakni tentang bullying alias perundungan yang makin hari kian mengkhawatirkan.

Menariknya, pada buku "Katakan Tidak pada Perundungan" ini, pesan terkait tersampaikan dengan baik melalui cerita pendek bertema keseharian yang diikuti tips menghadapi kasus perundungan. Enggak hanya itu, ilustrasi yang melengkapi buku pun menarik hati membuat anak tak hanya akan meresapi isinya tapi juga terbantu pemahamannya lewat visualisasi yang ada.

Penasaran? Yuk, kita ulas bukunya!

Katakan Tidak pada Perundungan

Blurb


Apakah kamu salah satu korban perundungan?
Atau justru pelakunya?
Tahukah kamu, perundungan adalah perilaku yang tidak hanya menyakiti fisik, tetapi juga perasaan korbannya. Perundungan mengakibatkan trauma dan sedih yang lama terobati. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita melawan perundungan untuk menciptakan lingkungan yang aman.
Apakah kamu mau ikut menjadi pahlawan anti-perundungan? 
Kamu bisa memulainya dengan membaca buku ini, lo

Data Buku


Judul: Katakan Tidak pada Perundungan
Penulis: Febri Purwantini
Editor: Imran Laha, Andini Aprilia
Penerbit: Kanak (IG: @penerbitkanak | kanak.bumiakasara.com | FB: @bukukanak)
Cetakan pertama: April 2021
Jumlah halaman: 82
ISBN: 978-623-6043-25-7
Genre: Cerita Anak (10+)
Harga: Rp 71.250 (saya beli langsung ke penulisnya)

Tentang Penulis


Febri Purwantini, perempuan kelahiran 18 Februari ini, menikmati kesehariannya sebagai seorang istri dan ibu dari ketiga anaknya. Selain itu, dia juga berprofesi sebagai apoteker di salah satu rumah sakit di Surakarta.
Beberapa karya antologi telah dilahirkan dari berbagai event lomba dan komunitas yang diikuti. Baginya, menulis tidak hanya sekadar mengeluarkan ide-ide yang sering berloncatan, tetapi dia berharap suatu saat karyanya dapat menginspirasi dan bermanfaat untuk orang lain.
Untuk menyapa penulis, silakan kunjungi akun media sosial yakni:

Facebook: Febri Purwantini, IG: @febripurwantini,
Wattpad: @febripurwantini, maupun email: myferaiza@gmail.com


Buku: Katakan Tidak pada Perundungan

Buku Anak

Apa yang Menarik dari Buku "Katakan Tidak pada Perundungan" Ini?


First of all, tampilannya children friendly. Dari ukuran, desain cover, font size, peletakan ilustrasi dan hal detil seputar pemilihan warna, menarik sekali terutama buat anak-anak. Terlihat tim yang terlibat dalam buku ini memang mumpuni di buku anak.

Pemilihan judul pun pas dan mampu membawa tema yang diusung. Kalimatnya pun positif sehingga saat membaca judulnya, tersampaikan pesannya. Isi yang dibikin konsep cerita pendek, juga sungguh tepat. Membuat anak-anak lebih mudah mencerna rangkaian kalimat dan memahaminya dalam waktu singkat.

Tema cerita pun mewakili kejadian yang biasa terjadi, seperti: perundungan berupa ejekan fisik, bullying terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), pemalakan, perbedaan status sosial dan lainnya. 

Cara bercerita yang menyertakan pembuka kemudian dilengkapi dialog di dalamnya akan membuat anak tidak bosan sehingga lanjut terus membaca. Apalagi di tiap halaman didukung ilustrasi gambar yang mendukung kisahnya.

Enggak hanya itu pemilihan diksi pun ringan sesuai dengan kategori pembaca yang disebutkan (usia 10+). Sehingga meski buku ini dibaca sendiri oleh anak, ia akan paham artinya.

Lalu, tips untuk menghadapi perundungan yang menutup setiap cerita cocok benar, dengan poin-poin yang jelas serta mudah dimengerti pun tak berkesan menggurui. 

And last but not least, editing-nya top, enggak ada salah tulis dan penggunaan kata yang tidak sesuai makna sehingga enggak rancu dan bikin bingung pembaca. 

Nah, deretan cerita menariknya, diantaranya kisah tentang Kidung si "Anak si Tukang Sayur". 

Setiap sore anak-anak berkumpul di lapangan untuk bermain bersama. "Yur...sayurrr" seru Seli ketika Kidung melintas. Teman-teman lain yang sedang berkumpul di sana pun cekikikan. Wajah Kidung merah padam menahan malu. 
"Dung, kok diam saja? Mana gerobak sayurmu? Ooh, masih dibawa bapakmu ya?" sindir Seli masih terus mengolok-olok. 
Kidung yang merasa sakit hati berjalan menjauh dari Seli, lalu duduk sendiri di ujung lapangan. Teman-teman saling berpandangan. (hal 38)

Bagaimana kisah Kidung si "Anak si Tukang Sayur" selanjutnya? Beranikah Kidung melawan anak-anak yang merundungnya? Dengan cara apa ya kira-kira? Baca cerita lengkapnya di buku yaaa...

Febri Purwantini

Say NO to bullying

Jadi, Buku "Katakan Tidak pada Perundungan" Ini,


tepat sekali dijadikan media edukasi bagi anak terkait perundungan. Pasalnya, ada contoh kasus sekalian solusi untuk menghadapi jika perundungan terjadi. Apalagi dengan tampilan buku yang memang "anak-anak banget" begini. 

Enggak hanya itu ketujuh cerita pendek dalam buku juga mengandung pesan moral lain seperti tentang pentingnya menjunjung tinggi nilai persahabatan, kedekatan dengan saudara kandung dan teman, menghormati orangtua dan guru, juga lainnya.

Meski sayangnya ada sedikit kekurangan, pada bagian tips anti perundungan, tidak semua memuat bagaimana jika pembaca (anak) ada dalam posisi saksi alias bukan pelaku dan bukan pula korban. Jika ada pasti lebih lengkap karena anak yang di posisi ini akan tahu bagaimana bersikap jika melihat perundungan di sekitarnya. Memang sih, sebagian sudah tercermin dalam cerita, tapi jika ditegaskan lagi tentu akan lebih baik.

Oia, satu lagi, saya rasa, meski ini buku "Cerita Anak" pendampingan orangtua tetap perlu ada. Ini terkait isi cerita yang mungkin membuat bingung mereka. Sehingga jika orangtua mendampingi bisa memberi pemahaman nanti. 

Apalagi masalah perundungan ini benar-benar mesti diwaspadai. Karena bisa jadi anak kita sendiri adalah korban perundungan namun enggan bercerita. Sambil membaca bersama, orangtua bisa memancing anak untuk bercerita tentang dirinya, siapa tahu mereka pernah mengalami hal serupa. Sehingga jika ternyata YA, orangtua bisa segera ambil tindakan nantinya. 

Jadi, recommended-kah buku ini! 

Pasti!!💖


Happy Reading!

signature-fonts

31 comments

  1. Betul sekali meskipun buku "untuk anak", ketika anak membaca bukunya tetap harus mendapatkan pendampingan dari orang dewasa. Itu lebih baik sehingga anak bisa bertanya jika ada yang tidak dimengerti

    ReplyDelete
  2. Buku yang bagus, sangat cocok untuk di baca anak dan orang tua juga ya. Orang tua bisa sekalian menjelaskan tentang dampak negatif perundungan bagi korban dan memberikan nasehat agar anak tidak melakukan perundungan. Apalagi hal seperti ini lazim kita temukan dan dekat dalam kehidupan anak sehari2. Keren mbak Febri Purwantini, sukses selalu buat bukunya.

    ReplyDelete
  3. Terima kasih mbak Dian. Review bukunya menambah wawasan saya akan buku ini. Perundungan kadang masih terjadi, sayangnya lagi di usia muda.
    Orang melakukan perundungan biasanya rasa cinta yang kurang dalam dirinya.
    Dengan adanya buku ini bagus sekali ya mbak dibaca banyak orang. Bisa mencegah perundungan kedepannya.
    Berharap banyak orang menebar kebaikan dan tidak melakukan perundungan dalam kehiduoan sehari-hari.
    Buku ini sangat bermanfaat.
    Semoga makin banyak yang baca.
    Dan Katakan Tidak pada Perundungan.

    ReplyDelete
  4. Jadi punya referensi yang tepat buat nambah koleksi buku anak-anak di rumah nih mbak. Semoga anak-anak kita semua terhindar dari hal-hal seperti ini ya🤲

    ReplyDelete
  5. Bukunya bagus nih. Aku suka yang menuliskan pendek-pendek gitu kisah-kisahnya.
    Jadi engga bosan dan ngantuk bacanya.
    Btw...kita sebagai orang tua wajib nih memantau anak-anak, agar bisa menghadapai perundungan...

    ReplyDelete
  6. Saya harus punya juga buku ini sepertinya mba Dian.
    Buat dibaca bersama-sama anak-anak.
    Pelajaran hidup juga buat anak, bahwa ada kasus seperti perundungan ini di keseharian kita.
    Kita gak pengen kan, anak kita jadi korban, ataupun pelaku, ataupun saksi.

    ReplyDelete
  7. Pertama lihat buku ini distatus IG Mba Dian, saya langsung tertarik dong baca reviewnya. Pas banget kalo dibaca anak-anak kita yang usia sekolah. Mereka bisa jadi someday jadi korban perundungan. Kita kan gak tahu pergaulan anak zaman sekarang. Kadang tanpa sengaja anak kita pun mungkin maksudnya biasa-biasa aja, tapi sesungguhnya sudah melakukan perundungan pada temannya. Ini harus kita edukasi dengan baik.

    Bisa jadi Mba Febri menulis ini karena pengalaman juga dari tiga anaknya, khususnya yang sudah bersekolah ya mba. Keren ini tampilan sampulnya aja udah children friendly. Isinya pasti lebih asik.

    ReplyDelete
  8. Referensi buku yang bagus ini, anak2 sekarang mudah sekali mengalami perundungan meskipun mereka tidak tau sebenarnya tindakan tsb perundungan atau tidak, melalui buku ini paling tidak anak2 memiliki gambaran

    ReplyDelete
  9. Terima kasih untuk ulasan buku ini. MasyaAllah komplit banget. Barakallah, Mbak Dian, sehat selaluu...

    ReplyDelete
  10. Terima kasih untuk ulasan buku ini. MasyaAllah komplit banget. Barakallah, Mbak Dian, sehat selaluu...

    ReplyDelete
  11. Bukunya keren sekali. Cocok sekali dibaca anak-anak. Saya saja ikut senang dan terbawa suasana kalau pakai gaya cerita begini.

    ReplyDelete
  12. Pas banget buku ini buat anak-anak kami. Apalagi si sulung kami paling tidak suka dan rapuh bila mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari temannya.
    Perundungan tampak sepele padahal efek jangka panjangnya bisa menjadi sangat serius.

    ReplyDelete
  13. Betul juga ya bagaimana bertindak jika posisinya sebagai saksi yg melihat peristiwa. Banyak anak yg berani terang-terangan bela temannya yg dirundung karna takut akan dirundung pula. Sekarang ini banyak memilih untuk terlibat dan tidak berbuat apa-apa. Pengamatannya bagus Mbak Dian, tadinya saya juga tidak kepikiran hingga ke situ

    ReplyDelete
  14. Perlu banget ini dibaca anak² kita dan bacanya sambil didampingi ya Mbak,, krn ada hal² yg memerlukan penjelasan kita sbg orang tuanya. Mbak Dian menyimpulkan recommended yaa, noted, ikutan nyari jg ah ntar

    ReplyDelete
  15. Waah related banget sama kondisi anak2 sekarang. Banyak bully di sekolah dan kalau ada buku ini harapannya mereka ikut membaca, orangtua juga membaca. Sehingga tingkat perundungan bisa ditekan bangett yaa kak. Kurang edukasi dan penanaman empati aja sih untuk mereka2 yang suka merundung ini

    ReplyDelete
  16. Wah jadi pengen baca bukunya. Btw penulisnya mbak febri purwanti nggam asing nih, ternyata udah saling follow di ig

    ReplyDelete
  17. Buku yang menarik, untuk solusi salah satu permasalahan anak akibat perundungan

    ReplyDelete
  18. Dari dulu masalah perundungan ini selalu ada di setiap generasi ya mbak, beneran ikutan sebel aq kalo ada anak yang menjadi korban perundungan. Aq jadi pengen beli buku ini buat anakq biar mereka bisa tau cara mengatasi perundungan ini seandainya disekitarnya terjadi hal teraebut

    ReplyDelete
  19. jadi ingin beli juga untuk hadiah keponakanku

    karena potensinya sama: korban perundung atau justru si pelaku perundungan

    terjadinya sejak kecil dan didiamkan orangtua/lingkungannya

    ReplyDelete
  20. Penerbit Bumi Aksara semakin eksis dengan ragam spesifikasi produknya, di rumah punya koleksi terbutan Bumi Aksara. Perundungan menjadi salah satu problem di dalam pergaulan dan komunikasi, menghindari dan memberi edukasi secara benar akan membantu masyarakat dan menghindari stigma berlebih

    ReplyDelete
  21. Saya dari dulu paling benci dengan "perundungan", karena hal ini akan berakibat fatal efek ke masa depan atau ketika si anak dewasa (secara psikis dan mental). Makainya, sayapun dalam memperlakukan anak-anak harus dengan hati-hati.

    Btw, kadang masih banyak kok saya temuin perundungan/bullying ini di lingkungan pendidikan, dan kadang jika anak tidak bisa adaptasi dengan teman bermainnya bisa mereka pindah sekolah/tidak masuk sekolah. Ini nyata dan sekali lagi saya tidak mengizinkan diri saya dan keluarga saya melakukan tindakan perundungan kepada keluarga sendiri atau orang lain di lingkungan sekitar.

    ReplyDelete
  22. Buku berkualitas yang gak cuma bisa dibaca oleh mereka (anak2) yang mengalami perundungan ya Mbak. Bagus juga nih buat semua kalangan untuk memahami what we must not do other person. Apalagi jika itu mengarah ke anak2 yang bisa menyisakan trauma dan luka batin.

    ReplyDelete
  23. Recommended banget nih buku. Apalagi bagi sebagian orang, perundungan adalah hal yang biasa bahkan menganggap sebuah goyanan.

    ReplyDelete
  24. Terimakasih ulasannya, kayanya cocok nih buat dibaca anakku, covernya juga menarik. Biar anakku tidak melakukan bully dan semoga tidak dibully

    ReplyDelete
  25. Cocok nih untuk bahan bacaan anak2 karena zaman now perudundungan pada sesama anak sudah pada tahp mengkhawatirkan terlebih menggunakan sosial media ..jadi emang harus diberikan pemahaman ttg perundungan ini ya mbak pada si anak

    ReplyDelete
  26. Bicara masalah perundungan ini memang menyesakkan hati ya kak.bersyukur Ada buku ini yang pastinya sangat bermanfaat sekali ya

    ReplyDelete
  27. Waktu kecil aku pernah hampiiiir saja mengalami perundungan,
    dan itu aja aku sudah merinding setiap mengenangnya, jijiiiik gitu sama si pelaku, dan gak akan aku maafkan
    kudoain semoga dia punya anak perempuan juga supaya merasakan

    ReplyDelete
  28. rekomen banget ya mbak. Dengan adanya cerita yang menyajikasn studi kasus, anak-anak jadi lebih mudah mencernah dan mengambil hikmah. apalagi tema yang dibahas bagus banget buat membangun karakter baik anak.

    ReplyDelete
  29. Wah bagus nih bukunya. Menanamkan mindset tentang bully dan semuanya. Sebab banyaknya anak-anak gak ngeasa ada yang salah dengan bully. Jangankan anak-anak sih ya, orang tua juga banyak yang begini. Aku juga termasuk. Kadang gak nyadar. Kayak ketemu orang tiba2 ngomongin fisik. Awalnya biar ada tema ngomong. Padahal body shamming yang akhirnya jadi bully karena terus aja diomongin. Kudu ditanamkan sejak kecil ya semua tentang bullying ini.

    ReplyDelete