Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengalaman Mudik Pakai Mobil Listrik

Sejak September 2025, suami dan saya memutuskan mengganti mobil hybrid/Hybrid Electric Vehicle (HEV) kami ke mobil listrik alias Electric Vehicle (EV). 

Yes, Electric Vehicle, kendaraan yang sepenuhnya digerakkan oleh motor listrik dan menggunakan energi dari baterai yang diisi ulang, tanpa mesin pembakaran internal, sehingga tidak menghasilkan emisi gas buang.

Dulu, kami memakai mobil konvensional atau mobil bensin biasa. Lalu, saat mobil HEV marak di Indonesia kami ganti ke kendaraan hybrid ini. Jadi, sebenarnya baru juga mobilnya, kurang dari 3 tahun usianya. Tapiii, karena pak suami begitu menggebu ingin ganti mobil listrik yang punya teknologi terbaru, ya sudah, gantilah..pasraaah!

Meski, sebagai istri yang juga mengemudi sendiri (dan pernah mengunjungi pabrik EV, yakni Hyundai Motor Manufacturing Indonesia), saya sebenarnya agak ragu dengan keputusan ini. Maklumlah, ibuk-ibuk macam saya lebih rentan terpapar mitos di sosial media dimana disebutkan jika mobil listrik tuh jarak tempuhnya pendek, kurang bertenaga, boros, mudah terbakar, dan tidak kuat menerjang hujan dan genangan. 

Padahal faktanya, teknologi EV sudah berkembang pesat sehingga jarak tempuh lebih jauh, akselerasi lebih responsif, biaya operasional lebih murah, lebih ramah lingkungan, memiliki fitur keamanan canggih, dan terbukti aman saat hujan.

Tapiiii, apakah kami sudah membuktikan sendiri segala kelebihan ini?



Kelebihan Mobil Listrik 

Well, beberapa bulan terakhir, kami sudah memakai mobil listrik untuk beraktifitas hampir setiap hari. Juga, telah memakai mobil untuk pergi ke Bandung, Bogor, juga mudik ke Kediri dua kali, dengan perjalanan sejauh sekitar 730 km, Jakarta-Kediri, yang Alhamdulillah semua lancaaaar! 

Meskiii, tentu mobil listrik ada juga kekurangannya, sebab tidak ada benda yang sempurna....Nah, pertama kita bahas kelebihan mobil listrik dulu ya, di antaranya:


1. Biaya Murah, Perawatan Mudah

Sekali nge-charge mobil di rumah, hitungannya adalah: Rp 2.500/kWh (ada diskon tarif listrik PLN di malam hari pukul 22.00-05.00). Kalau isi ulang di SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) kena biaya Rp 3.500/kWh. 

Dalam sebulan, pengisian token listrik untuk Home Charging Station kami rata-rata Rp 500.000/bulan. Sementara, saat punya mobil bensin, sebulannya buat BBM (Pertamax) kami bisa habis sekitar per bulannya Rp 2.000.000 dan sebesar Rp 1.500.00 saat pakai mobil hybrid. 

Nah, waktu pulkam ke Kediri lalu, kami isi baterai mobil full dari rumah, dan di rest area ngisi lagi dua kali, totalnya hampir Rp 400.000. Dulu, saat pakai mobil bensin, beli Pertamax total kena Rp 1.500.000, sedangkan saat pakai mobil hybrid habisnya Rp 1.000.000 sekali jalan.

Jadi, biaya bahan bakar mobil listrik jauh lebih murah dibandingkan kendaraan bensin.

Kemudian, biaya perawatan, yang ternyata lebih hemat karena komponennya lebih sedikit (tidak ada oli mesin, knalpot, dll). 

Dulu, sekali ganti oli per 5.000 km kena kurang lebih Rp 800.000, belum servis rutin per sekian ribu kilometer. Well, mekanikal yang berbeda dengan mobil konvensional, membuat komponen mobil listrik memang tidak harus dirawat secara rutin sehingga mengurangi frekuensi dan biaya servis. 

Oh ya, biaya pajak juga lebih ringan karena adanya kebijakan insentif pemerintah untuk kendaraan listrik, ya...Pemerintah memberi beberapa stimulus untuk memperluas penggunaan mobil listrik seperti menggratiskan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dan PKB yang hanya perlu dibayar 10 persen oleh pemilik mobil (CMIIW buat aturan terbaru ya).

2. Ramah Lingkungan

Mobil listrik tidak menghasilkan emisi gas buang, sehingga berkontribusi mengurangi polusi udara yang tentunya lebih baik untuk kesehatan kita. Hal ini berbeda dengan mobil konvensional yang mengeluarkan sisa pembakaran dari bahan bakar minyak. Ini dapat dikatakan sebagai alasan terbesar yang menjadi faktor pendorong peralihan dari mesin pembakaran internal menuju teknologi elektrifikasi, bukan hanya di Indonesia, tapi juga berlaku secara global. Apalagi, EV juga tidak bergantung pada bahan bakar fosil sehingga mendukung energi berkelanjutan. 

Oh ya, suara mesinnya sangat halus, nyaris tanpa suara, lebih nyaman dan tenang saat dikendarai sehingga mengurangi kebisingan di lingkungan.

3. Teknologi Lebih Modern

Performa laju mobil listrik kurang bertenaga? Kata siapa....

Mobil listrik menawarkan mesin dengan torsi puncak yang langsung tersedia ketika pedal akselerator diinjak. Nyetir mobil ini terasa lincah dan gesit saat digunakan terutama dalam situasi stop and go. Ini jelas sangat berbeda dengan karakter mobil mesin pembakaran internal dimana torsi puncak baru tersedia pada putaran mesin tertentu.

Selain itu, teknologi EV sudah dilengkapi fitur canggih, seperti: layar digital, konektivitas pintar, sistem keselamatan terbaru hingga sistem infotainment lengkap (Apple CarPlay, Android Auto), kamera 360°, dan sistem ADAS (Adaptive Cruise Control, Lane Keep Assist, dll.)

4. Bebas Ganjil Genap

Sebelum punya mobil listrik, suami saya ke kantor pakai mobil bensin dengan plat ganjil/genap, sehingga di saat bukan tanggal ganjil/genap harus memutar untuk menghindari kawasan yang kena aturan ganjil genap. Jadilah, lebih lama sampai kantor atau rumah. 

Nah kini hal itu enggak perlu, sebab dengan mengendarai mobil listrik yang ditandai dengan garis warna biru di plat nomor kendaraannya itu, mobil bebas melaju di jalanan Jakarta karena tidak terikat aturan ganjil genap, sehingga bisa lewat jalan mana saja, tentu jadi lebih hemat waktu dan biaya.


home charging station / wall charger di rumah saya


Kekurangan Mobil Listrik

Nah, kelebihan mobil listrik sudah....Lalu kekurangannya apa ya? 

Well, kekurangan mobil listrik di antaranya: 

1. Infrastruktur Pengisian Daya Masih Terbatas

Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) belum merata, yang menjadi kendala utama pengembangan kendaraan listrik di Indonesia, terutama di luar kota besar. Ini menimbulkan "kecemasan jarak tempuh" (range anxiety) bagi calon pengguna termasuk saya. Saya yang dalam setahun bisa 3 kali pulang ke Kediri dulu mikirnya, duh nanti ngecas-nya dimana kalau di luar Jakarta.

Memang di hampir semua rest area sudah ada, tapi beberapa jumlah station-nya belum banyak, jadi mesti antri saat ramai pengguna. Seperti ketika pulang libur Nataru lalu, kami pernah harus menunggu. Juga, meski tersedia beberapa tapi ada yang rusak kemungkinan karena kurang perawatan. 

Kemudian, lebih banyak ada SPKLU AC yang menawarkan kecepatan rendah, sehingga butuh waktu lebih lama, sementara DC fast charging masih terbatas jumlahnya.

Jadi, tetap perlu perencanaan ekstra saat bepergian jauh dengan memeriksa lebih dulu dimana saja ada SPKLU.

2. Waktu Pengisian Daya Lama

Saat pakai mobil bensin, ketika BBM habis, tinggal belok ke SPBU dan beli. Kalau enggak antri, 5 menit pun selesai. Tapi kalau mobil listrik butuh waktu untuk mengisi daya, ngecas di rumah perlu waktu berjam-jam, di SPKLU meskipun ada opsi fast charging, tapi sama butuh waktu juga, apalagi kalau mesti antri.

Oh ya, untuk efisiensi, saat di luar rumah seperti di rest area atau dimana, hal ini kami siasati dengan ngecas mobil, lalu ditinggal nge-mall, ngopi, ishoma...Sehingga enggak sampai sejam sudah full dayanya. Syukurnya ini didukung dengan adanya SPKLU di pusat keramaian di kota besar, seperti di Bandung lokasi SPKLU menyatu dengan Jabarano Cafe, jadi bisalah ngecas mobil sembali nyeruput caffe latte.

3. Jarak Tempuh Terbatas

Sekali isi baterai, jarak tempuh mobil listrik masih kalah dibanding mobil BBM. Sekali isi penuh tangki, mobil bensin bisa menempuh jarak ratusan kilometer tanpa khawatir kehabisan bahan bakar.

Sebagai perbandingan, saat memakai mobil bensin, full tank dari Jakarta, isi full lagi sekali di perjalanan ke Kediri. Sedangkan waktu pakai mobil listrik harus dua kali ngisi dayanya.

4. Persiapan Anggaran

Mobil listrik umumnya dibanderol lebih mahal dibanding mobil BBM sekelasnya. Juga, baterai adalah komponen termahal pada mobil listrik. Meski umur baterai panjang (±8–10 tahun), biaya gantinya bisa tinggi, meski pabrikan mobil listrik memberikan garansi lama tapi tetap perlu ada persiapan anggarannya.

Selain itu, nilai jual kembali EV belum stabil, masih perlu waktu untuk pasar mobil listrik bekas berkembang. Apalagi kekhawatiran soal kondisi baterai akan memengaruhi harga jual mobil ini.

Mudik Pakai Mobil Listrik Yes or No?


Nah, gimana, meski enggak rinci review saya seperti ulasan mobil dari  Om Fitra Eri, Ridwan Hanif, atau Om Mobi, tapi paling tidak dirimu jadi tahu POV dari pengguna mobil listrik yaaa...😀

Harapan saya (karena sudah punya mobilnya), semoga ekosistem mobil listrik terus mengedepankan standar keselamatan, diperkuat sinergi kebijakan pemerintah, investasi industri, dan penerimaan konsumen yang didasarkan pada faktor harga dan efisiensi. Singkatnya, bisa makin murah harganya, merata SPKLU-nya, bervariasi modelnya, dan berbagai kebijakan ada untuk mendukung perkembangannya.

Well, jangan khawatir lagi kalau berniat pakai mobil listrik saat mudik nanti. So far so good, dirimu enggak perlu takut. 

Oh ya, sepanjang Jakarta-Kediri (pulang mampir ke Madiun dan Semarang dulu) tak hanya di rest area, kami sempat isi daya juga di SPKLU Kantor PLN setempat. 

FYI, kantor PLN menyediakan lounge yang nyaman buat ruang tunggu pengguna mobil listrik yang sedang isi daya. Seperti di kantor PLN UP3 Madiun yang memfasilitasi dengan ruangan yang nyaman beserta TV, WiFi, dan teh/kopi.

Waktu libur Nataru juga gitu, ada posko jaga PLN di area SPKLU beserta petugas yang akan membantu plus tersedia teh, kopi, pop mie...
 
Memang pemakai EV sedang dimanja sesuai dengan tujuan pemerintah yang ingin:
  • Menciptakan ekosistem yang berkelanjutan untuk industri mobil listrik di Indonesia.
  • Mengurangi emisi karbon dan mewujudkan transportasi yang lebih hijau.
  • Target ambisius untuk memiliki jutaan kendaraan listrik beroperasi pada tahun 2030.

Jadiiiii, buat teman-teman yang ada niatan ganti mobil BBM-nya ke EV, saran saya, boleeeeh:

Pilih mobil listrik jika: kamu tinggal di kota, mau hemat biaya harian, peduli lingkungan, siap dengan besaran modal awal dan rutinitas ngecas. 
Dan, pilih Mobil BBM saja jika: tinggal di daerah, budget awal terbatas, ingin fleksibilitas penuh tanpa ngecas.

Well, mobil listrik unggul di efisiensi dan masa nanti, sedangkan mobil BBM unggul di fleksibilitas dan kemudahan saat ini.

Pilih yang mana, sesuaikan saja dengan kebutuhan dan kemampuanmu, ya....! 💕






Salam

Dian Restu Agustina












Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

10 komentar untuk "Pengalaman Mudik Pakai Mobil Listrik"

  1. Aduh, nyaliku belum setinggi kamu, Di. Kebayang kalau habis baterai di tengah macet total atau di daerah yang nggak ada SPKLU-nya. Apa nggak ketar-ketir tuh jantung? Masih trauma liat berita antre ngecas pas mudik tahun lalu huhuhu

    BalasHapus
  2. Wah, mbak Dian ceritanya asik banget dibaca!
    Baru tahu aku betapa effisien dan “nyantai” perjalanan mudik bisa jadi pakai mobil listrik — apalagi setelah kemajuan infrastruktur SPKLU makin real di beberapa rute mudik sekarang.

    Aku suka banget cara kakak jelasin detailnya: dari biaya operasi yang lebih ramah kantong sampai pengalaman langsung ke Kediri yang lancar jaya itu!

    Tapi ya, aku juga kebayang deg-degan dikit kalau ngecas di rest area sambil ngopi chill sambil nunggu baterai penuh — vibes yang beda banget sama ngegas bensin biasa. Makasih banget ya udah share POV jujur dan relatable gini. Bikin pembaca yang penasaran sama EV jadi lebih paham dan berani nyobain sendiri!

    BalasHapus
  3. Pilihan mau pakai mobil listrik atau konvensional, emang mesti memperhatikan kebutuhan dan lingkungan juga ya mbak. Kalau tinggal di kota, yang sudah banyak SPKLU, tak masalah. Tapi kalau jauh dari SPKLU ya mesti mikir-mikir lagi

    BalasHapus
  4. wah info lengkap dibituhkan anak saya nih
    Udah lama dia pingin pindah ke EV karena selain ngirit, suami istri berkecimpung di bidang lingkungan
    jadi gak mau sekadar omon-omon
    Sayang diskon 30% tarif listrik ternyata cuma sampai Juni 2026
    Mereka belum pulang dari UK, sekitar 3 tahunan lagi
    Semoga ketika pulang pemerintah nambahin insentif untuk EV ^^

    BalasHapus
  5. Mitos-mitos EV emang banyak ya Mbak Dian. Suami sebelumnya sempat mau beliin aku mobil listrik, tapi papa mama mertua gak setuju, gak aman. Eh, ujung-ujungnya mobil biasa. Padahal aku baca di sini, perbandingan biaya BBM vs listriknya juga kebayang banget, langsung kerasa hematnya. Overall, ini POV ibu-ibuk yang relate, informatif, meski cukup telat buat aku pribadi. Hiks. Makasih infonya Mbak Dian.

    BalasHapus
  6. Ya ampun. Mbak Dian sungguh sudah menggoda saya hahaha. Bertahun-tahun saya tuh masih (tetap) ragu memiliki mobil listrik karena harus memikirkan bahwa saat memutuskan beli wajib berpikir untuk tidak menjual. Karena pangsa jualnya saat ini masih sempit betul persis seperti yang Mbak Dian tulis di atas. Pun jika akan ganti baterai, harganya ratusan juta.

    Saya juga beberapa kali nonton YTnya Fitrah Eri dan langsung naksir dengan salah satu mobilnya Chery yang saat itu dia ulas. Bentuknya sih kek kotak korek tapi dalam ukuran besar. Unik sih menurut saya hahahaha.

    Oia ngomongin soal sumber energi nikel yang menjadi komponen utama mobil listrik. Saya membuka kembali sebuah tulisan menarik tentang ini di buku #RESET INDONESIA. Di halaman 265, tertulis sebuah teori bahwa mobil listrik dilahirkan dari nikel. Jadi gak heran jika Cina ngotot menambang nikel di Marowali dan Halmahera. Pengolahan nikel ini membutuhkan energi besar yang berasal dari batu bara kotor. Sementara semua bagian dari mobil listrik berasal dari bahan yang mempunyai jejak karbon tinggi. Dilematis di antara semua kelebihan yang dihadirkan SETELAH kendaraan tersebut lahir dan digunakna.

    BalasHapus
  7. Sejak lama saya tuh naksir sama mobil listrik ini mbak. Hanya di kampung halamanku, stationnya masih sebiji dan jauh sekali dari rumah. Termasuk kalau di rumah orang tua, listriknya nggak kuat untuk mobil listrik. Jadi bakal bingung mau ngecharge-nya. Makanya pas mau beli mobil setahun lalu bener-bener nggak memungkinkan. :(

    Kalau untuk ramah lingkungan, aku setuju. Salah satu kendaraan yang tak berknalpot dan bersih.. :D

    BalasHapus
  8. Aduhh jadi pengen punga mobil listrik. Tapi harus lama banget menabungnya. Apalagi mobil listrik ini untuk mengurangi polusi udara.

    BalasHapus
  9. Cerita mudik pakai mobil listrik ini menarik karena membahas pengalaman nyata, tantangan di jalan, serta kesiapan infrastruktur yang mulai berkembang. Tapi setelah dipikir pikir hemat banget juga ya untuk biaya pengisiannya

    BalasHapus
  10. Btw emang banyak yg tertarik dengan mobil EV sekarang. Selain ramah lingkungan, katanya juga lebih hemat ya. Cuma kalo aku agak takut juga, soalnya kayaknya ya ini, stasiun pengisiannya di Indonesia ini belum begitu banyak ya. Ngeri aja gitu ntar lagi di tengah jalan, kehabisan daya huhu

    BalasHapus