Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Ramadan Semasa Kecil: Kenangan Manis si Anak Bungsu

Hari Minggu lalu, grup WA keluarga besar ramai dengan pesan. Seperti biasa, kakak saya yang nomor lima mengkoordinir buka puasa bersama di rumah orang tua saya. Kakak saya ini, meski sudah punya rumah sendiri, memang tinggal di rumah Bapak Ibu. Kakak dan suaminya, Qadarullah tidak dikarunia anak hingga senja usia. Karenanya, mereka berdua memutuskan tinggal untuk merawat Bapak Ibu yang sudah sepuh.

Oiya, acara bukber di keluarga besar kami memang rutin diadakan. Kelima kakak saya memang tinggal di kota yang sama dengan Bapak Ibu. Saat ini Bapak berusia 88 tahun dan Ibu 81 tahun, memiliki 6 anak perempuan di rentang usia 63 - 50 tahun. Dari keenam putri telah lahir 12 orang cucu (11 laki-laki dan 1 perempuan). Ponakan saya yang sudah menikah 4 orang dan dari mereka lahir 3 buyut sebagai generasi berikutnya.

Jadi kalau keluarga besar ini ngumpul, semua ada sekitar 30-an.....Ramai, kan? 

Nah, biasanya menu bukbernya potluck. Di grup ngelist dulu, kakak sulung bawa apa, kakak kedua buat apa, dst, yang lain menyesuaikan.

Saya, si bungsu, yang tinggal jauh sendiri di Jakarta hanya bisa menyimak saja, sambil pengen ikutan -sebenarnya-. Tapi apa daya, jarak membentang. Andai saya bisa minta Bubuk Floo ke Harry Potter, mungkin bakal beda cerita. Sebab saya bisa berpindah tempat, menghilang dari perapian di Jakarta dan muncul di perapian di Kediri. Tapi, enggak mungkin juga, selain karena Floo Powder-nya enggak ada, perapian juga enggak punya hahaha.

Namun saya bersabar, nanti saat saya mudik jelang lebaran, selalu ada bukber lagi, untuk menyambut saya sekeluarga.

Alhamdulillah, Bapak, Ibu, dan keenam putrinya, kami keluarga besar rukun semua. Sungguh sebuah kekayaan sejati yang perlu disyukuri setiap detiknya.

Apalagi kalau saya mengenang masa kecil, terutama saat bulan Ramadan seperti ini. Kenangan Ramadan di masa kecil yang selalu menempati ruang istimewa di hati.

Mbah Putri (Ibunya Ibu saya), Bapak, Ibu, kelima kakak dan saya - sekitar tahun 1982


Cerita Ramadan Semasa Kecil yang Menyenangkan


Saya tumbuh dalam rumah sederhana yang hangat. Bapak saya seorang guru yang lembut hatinya, tegas, meski tak banyak bicara. Beliau seharian sibuk mengajar, pagi di sekolah negeri sore di sekolah swasta. 

Sementara Ibu yang ibu rumah tangga, seorang pekerja keras yang menguasai hampir semua ketrampilan perempuan: jago masak, pinter jahit, pandai bikin kue, tekun beternak ayam, trampil bebikinan printilan, mahir berkebun... Pokoknya untuk urusan rumah tuh serba bisa! Dan dari ketrampilan ini Ibu bisa nambah penghasilan keluarga dengan menerima pesanan masakan, menitipkan jajanan ke kantin sekolah, dan berjualan minyak tanah di depan rumah. 

Rumah kami saat itu hanya punya tiga kamar sehingga tiga anak perempuan tidur jadi satu di masing-masing kamar itu, dan ini beneran seruuu. Kami berenam tuh selayaknya perempuan ada saja yang dibicarakan. Apalagi saat itu boro-boro layanan streaming, Tiktok, Youtube dan teman-temannya, stasiun TV saja masih terbatas jumlahnya.

Itulah yang bikin suasana Ramadan di rumah saya tidak membosankan, karena kami bisa seharian bebikinan itu ini, berbincang segala hal, rapi-rapi, bebenah, pokoknya ada saja kesibukan.

Oh ya, rumah orang tua saya termasuk di kota jadi tak ada kegiatan seperti di Petualangan Si Bolang seperti mandi di kali, main di sawah dan lainnya.

Paling kalau tidak main di rumah sama kakak, saya hanya keluar main ke tetangga kiri kanan atau satu gang, yang kebetulan ada 6 anak yang sepantaran. 

Nah Ramadhan dimulai dari waktu sahur dimana saya dapat julukan paling susah bangun. Sampai kakak saya ngomel ngalor ngidul dulu baru melek mata. Karena banyak perempuan di rumah otomatis pekerjaan dapur sudah kepegang semua. Jadilah saya paling bantu kerjaan receh saja. Potongin ini, siangin itu, nyuci piring, ngelap meja.. Pokoknya hal sepele yang ujung-ujungnya waktu saya gede, saya enggak piawai di dapur karena kerjaan utama biasa dikerjakan kakak-kakak saya semua. 

Setelahnya kami akan makan bersama. Meski ada meja makan, kami biasa makan lesehan di ruang tengah/ruang TV yang tahun segitu belum ada tayangan sahur. 

Menunya tidaklah mewah tapi nikmat luar biasa. Sayur sop berteman tempe goreng dan telur dadar (telur 3 biji dari ayam peliharaan sendiri terus ditepungin biar tebal) plus kerupuk. Atau sayur lodeh kacang terong, tahu kecap dan ikan pindang. Sesekali ada menu opor ayam dari nyembelih ayam peliharaan atau rawon daging (daging 1 ons ditambahin potongan labu siam). Kesemua menu itu adalah hasil masakan Ibu. Kami jarang jajan karena selain saat itu belum sebanyak sekarang yang jual makanan, juga karena Ibu tuh bisa masak aneka olahan. 

Setelah sahur lanjut salat Subuh di rumah, biasanya nunggu waktu sambil gantian mandi dan siap-siap ke sekolah. Sepulang sekolah semua wajib tidur siang di rumah saya. Sore barulah saya pergi ke langgar (musala) di dekat rumah untuk ngaji bareng teman-teman. Pulangnya, bantu-bantu Ibu nyiapin menu buka puasa. Saya kali ini bagian ke warung kalau ada yang kurang. Teriakan macam:

"Din, tukokno uyah"
"Din, lomboke entek, tuku o nggone Mbah Ri yo"

Pokoknya divisi logistik siap pergi. 
Kadang ke warungnya jalan kaki, kadang naik sepeda. 

Nah, suatu hari karena perut dah di titik lapar sekali, saya diminta ke warung, lupa beli apa

Saya berangkat naik sepeda, pulangnya karena enggak fokus lagi, saya ke rumah jalan kaki. 

Sampai Maghrib, selesai buka puasa, kakak saya enggak sengaja  ke teras, dia lihat kok enggak ada sepeda. Kakak saya nanya kemana sepedanya. Yang lain enggak tahu, saya baru ingat sepeda masih ketinggalan di warung. 

Langsung balik ke sana dan memang ada, sudah diamankan pemilik warung. Untung masa itu belum marak pencurian, jadi sepeda parkir sekian waktu pun aman. 

Baliknya, kakak ngomelin saya, untung pas sudah buka, jadi dia marah-marah pun enggak dosa, gitu katanya. Sepeda yang saya pakai memang sepeda kakak nomor tiga yang saat itu sudah SMP, dan biasa dipakai ke sekolah, jadi kalau hilang ya berabe... 

Oh ya tentang menu berbuka puasa: saat itu belum semarak takjil kurma jadi kami berbuka dengan teh manis hangat atau air putih ditemani takjil buatan Ibu. Kadang ada kolak pisang, atau bubur sumsum, wingko, jenang grendul, agar-agar, ote-ote, timus, jemblem, mendut, nogosari, dll. Itu nama kue-kue khas Jawa Timur (Kediri) hasil bikinan sendiri. 

Sementara untuk makanan beratnya ada sayur bening, tempe goreng, bandeng bumbu bali, sambel. Atau nasi pecel dengan lauk serundeng, tahu dan peyek. FYI, Kediri jauh dari laut jadi kami jarang mengonsumsi ikan segar. Adanya ikan air tawar, ikan asin dan ikan pindang. 

Oh ya, menu ini sekali masak dan makan. Jadi, Ibu saya jarang bikin banyak terus kalau sisa diangetin lagi besoknya. Meski menunya sederhana tapi hanya dimakan 1-2 kali makan saja. Besok sudah lain cerita. Kalau diingat-ingat kok ya enggak kehabisan ide Beliau itu, masaknya ganti-ganti melulu. Enggak kayak saya sekarang yang menunya bisa berulang meski belum seminggu... Kwkwk

Nah, kakak-kakak saya (semuanya berprofesi sebagai guru), dulu kuliahnya ada yang di Surabaya ada yang di Kediri. Jadi sampai saya lulus SMA, masih ada kakak yang tinggal di rumah. Membuat sepanjang saya tumbuh besar selalu ada teman dan enggak pernah sendirian. 

Itulah sebabnya, meski kami masing-masing punya bestie, tapi kami lebih nyaman di rumah sendiri. Kalau pun pergi ke rumah teman ya yang dekat dari situ saja. Paling-paling barengan pas ngaji dan main sebentar sesudahnya. Atau ketemuan di langgar saat salat Tarawih tiba. 

Selebihnya Ramadhan saya habiskan bersama kelima kakak saya yang meski cerewet semua tapi baik hatinya, Ibu yang sabar dan perhatian dan Bapak yang karena laki-laki sendiri jadi pendengar setia yang bijaksana.

foto keluarga besar saat ngunduh mantu ponakan - Oktober 2025


Ramadan Saya Saat Ini


Tahun demi tahun berlalu, rumah masa kecil itu kini lebih sunyi, sebab hanya ada Bapak, Ibu, kakak dan suaminya. Kami sudah terpisah oleh kota dan kesibukan. Namun setiap kali menyiapkan menu sahur atau buka, hati saya seperti ditarik pulang. Saya rindu sahur penuh tawa, rindu suara kakak-kakak yang seperti pasar, rindu tarawih berjamaah ke langgar, rindu obrolan seru jelang Azan Magrib tiba, rindu masakan Ibu dan nasihat Bapak yang jitu! 

WellRamadan bagi saya adalah rumah—tempat pulang yang tidak pernah hilang, meski kini hanya lewat ingatan.

Kalau teman-teman, kenangan Ramadan masa kecil apa yang paling sering datang?💗



"Challenge Menulis IIDN"


Salam


Dian Restu Agustina






Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

16 komentar untuk "Cerita Ramadan Semasa Kecil: Kenangan Manis si Anak Bungsu "

  1. Ini kalau jaman sekarang, Mbak Dian kurang fokus, harus banyak minum air putih ya (...iklan tahu kan...) sebelum imsak tiba. Hahaha...

    Senang ya punya saudara perempuan semua. Bisa curhat dll jadi Besti abadi
    Alhamdulillah semuanya Tukin dan sekarang pun tetap memiliki kenangan kebersamaan itu. Sehat selalu semuanya...

    BalasHapus
  2. Kenangan masa kecil saya banyak juga yang tidak terlupakan. Lahir dan SD di Bandung, itu saya main di rawa² dan pekuburan yang sekarang lahannya dijadikan Trans Studio di Gatot Subroto. Dari rumah di Gumuruh main ke Binong sambil ngabuburit gak jera walau jatuh berkali-kali. Padahal dari sepuluh orang anak, saya dan dua orang lainnya yg perempuan yaitu Nia dan Hani yang terbilang berani ikut main dengan rombongan laki-laki itu
    Kalau mengenang sekarang, jadi malu juga rasanya. Hehehe

    BalasHapus
  3. Seru banget mbak Dian kenangan masa kecilnya di bulan Ramadan, terlebih urusan sepedanya ketinggalan di warung hihi. Untungnya penjaga warungnya engeh ya, itu sepeda punya siapa meski saat itu belum ada CCTV hehe.
    Eh iya, salam sesama anak bungsu mbak wkwkwk. Cuma bedanya kakak saya nggak hanya perempuan, tapi ada laki-lakinya juga hehe

    BalasHapus
  4. Baca ini jadi langsung kebawa nostalgia
    kenangan masa kecil saat Ramadan di keluarga besar itu hangat banget, dari sahur rame-rame, menu sederhana tapi nikmat, sampai bantu-bantu persiapan sahur dan buka puasa. Rasanya betul-betul menggambarkan Ramadan sebagai waktu berkumpul dan kebersamaan yang berkesan sepanjang hidup. Bikin kangen suasana lama yang penuh canda tawa.

    BalasHapus
  5. Ketika masih kecil, Lebaran berasa ramai.Apalagi orang tua zaman dulu kan punya banyak anak. Jadi cucunya pun banyak. Numplek di satu rumah kalau mudik. Favorit saya tidur di ruang keluarga depan tv. Gak tau deh, kalau Lebaran malah suka malas tidur di kamar.

    BalasHapus
  6. Rameeee, senengggnyaaa.....
    Apalagi alhamdulilah bapak dan ibu masih sugeng, pastinya bahagia banget
    keluarga kami pernah rame di setiap Natal waktu ibu masih sugeng
    Sesudah gak ada ya masing masing cuma mengucapkan selamat natal via WA deh

    BalasHapus
  7. MasyaAllah pasti seru banget jadi bungsu dari enam bersaudara perempuan semua ya mbak Dian. Paling di sayang juga tuh makanya hanya diberi pekerjaan rumah yang ringan.
    Hebatnya semua kaka kompak mengikuti jejak bapak jadi guru.

    Semoga lebaran tahun ini bisa berkumpul full ya mbak

    BalasHapus
  8. Kalau saya tuh beda banget sama Mbak Dian. Saya tipe anak keluyuran hahaha. Senengnya main kemana-mana seperti gak pernah kehabisan energi. Main sepeda aja sampai jauh banget. Susah dicari dan disuruh pulang. Sepertinya kebiasaan "menjelajah" ini tetap bertahan hingga kini hahahaha. Saya juga gak mengenal atau tertarik dengan dunia masak. Tahunya makan. Bagi saya apa pun yang dimasak Ibu dan beberapa tante yang tinggal bersama kami, semua enak atau sangat enak. Dan karena saya anak perempuan satu-satunya, kehadiran saya tuh - kata ayah saya alm. - seperti raja dan penguasa hahahaha. Kelakuan saya ini gak mengenal waktu. Ramadan juga masih sama aja. Main aja sepanjang masa. Apalagi pas liburan sekolah.

    BTW, seneng dan bahagia yo Mbak kalau saudara-saudara akur. Bapak Ibu sudah sepuh - usia 80-an - tuh salah satu berkah yang tak terhingga Mbak. Apalagi sekarang dijaga dan terjaga dengan baik. Saya juga hidup di masa warung jajan bisa dihitung jari. Ibu juga jago masak segala rupa. Jadi jarang banget njagong di kedai makan. Penganan di jaman saya juga home made, tradisional, keknya gak ada yang mengandung zat-zat aneh. Jauh beda banget dengan kondisi sekarang.

    BalasHapus
  9. Telur 3 biji ditepungin biar tebal. Ini aku dulu sering banget mengalaminya mbak. Dan lucunya, meski sekarang ayah ibuku sudah bisa dibilang "senang" lah ya di masa tuanya, ibuku tetap punya kebiasaan yang sama.

    Jdai ikut nostalgia Ramadan nih baca cerita Mbak Dian. Potret keluarganya yang rukun dan hangat jadi bikin aku kangen sama ayah ibuku.

    BalasHapus
  10. Seru ya mbak kalo inget masa2 kecil dibulan puasa, apalagi aku tinggalnya di kampung jadi kegiatan ngabuburit itu banyak bangeet2.
    Masyaallah orang tua masih lengkap ya mbak, panjang umurnya. Semua saudara akur. alhamdulillah.
    Aku juga satu2nya yang merantau, tapi kami cuma bertiga sih dan perempuan semua. Kurang lebih cerita kita sama mbak hehe

    BalasHapus
  11. Baca sayur bening tempe sebagai lauk berat membuatku jadi kepengen bikin nanti buat menu makan malam, haha. Efek masih puasa baca cerita mba yang seru dan harmonis, dambaan setiap orang, apalagi sekamar beramai-ramai gak dipisah, pastinya bikin akrab dan menjadi kenangan sepanjang masa. Sehat-sehat terus buat bapak ibu, masyaallah senangnya masih ada walau berumur 80an..

    BalasHapus
  12. Kenangan cerita jadi anak bungsu emang selalu menarik ya kak apalagi bulan ramadhan bareng keluarga besar begini ya kak. Huhuhu andai bisa waktu terulang kembali ... Sehari saja

    BalasHapus
  13. Anak bungsu selalu jadi divisi logistik yang kudu siap pergi kemana saja. Adik bungsuku begitu soalnya. Kalau ada apa yang kurang selalu dia yang kusuruh berangkat beli. Hehehe...

    Kenangan Ramadhan semasa kecil begitu berkesan ya, Mbak Dian.

    BalasHapus
  14. Tulisan ini jadi terasa dekat nih buat saya, mengingat saya pun adalah anak bungsu. Ahhh pengalaman ramadan semasa kecil tuh emang selalu berkesan. Time flies, anak kecil itu sekarang udah jadi emak-emak

    BalasHapus
  15. Baca artikelnya mbak Dian, aku langsung keingat kenangan masa kecilku juga donk. Apalagi mbak Dian punya saudara perempuan semua ya, pasti tambah seru kalau lagi main pas puasa. Memori masa kecil kadang masih membekas hingga kita dewasa ya mbak (maria tanjung sari)

    BalasHapus
  16. Seru ya kak dian. Ramadhan yang saya ingat adalah ramadhan yang selalu hangat berdua dengan kakak nomer 2. Kami selalu bestie-an sampai ada temen yang cemburu melihat kami selalu lengket kayak perangko.
    Bapak selalu suka es teler. Kadang nyari menu bubur pedas melayu ataupun jongkong.

    BalasHapus