Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perjalanan 10 Tahun Ngeblog: Cerita, Tawa, Luka,.... Semua Ada!

Sepuluh tahun ngeblog bukanlah waktu yang sebentar. Kalau dihitung-hitung, itu sama dengan ribuan kali membuka dashboard, ratusan draft yang terbengkalai, puluhan fase “Kayaknya hiatus bentar aja deh” atau "Apa udahan aja yaaa", dan entah berapa banyak momen ketika menatap layar sambil berkata, “Mau nulis apa, yaa? Padahal tadi ada idenya…” 

Huh!

Tapi justru di balik kekacauan itu saya menemukan satu hal: menulis di blog ini adalah sarana refleksi diri, membantu mengenali emosi, pikiran, dan jati diri. Ini bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang bertumbuh dan memahami diri lebih baik lagi. 

Well, siapa sangka hubungan paling setia saya selain pada manusia, ternyata bukan dengan kopi, gorengan, drakor atau indomie,...tapi dengan blog ini. Blog yang sudah menemani selama 10 tahun, meskipun saya kadang menghilang bagai artis yang vakum dari dunia hiburan.
Ya, perjalanan satu dekade ngeblog yang bisa diringkas dalam tiga tahap penting: iseng → kecanduan → sayang beneran!

 

Awal yang Sederhana: Ngeblog Jadi Ruang Bercerita

Mulai ngeblog dulu itu seperti membuka jendela kecil di tengah keramaian pikiran. Awalnya hanya ingin menuangkan sebagian sebelum kepala kepenuhan. Tulisannya masih lugu, spontan, tanpa banyak aturan. Blog jadi tempat curhat yang tidak pernah protes meski saya datang tengah malam, pagi buta, atau mendadak menulis 1000 kata tanpa jeda.

Lama-kelamaan saya sadar, setiap kali menulis, sebenarnya saya sedang berhenti sejenak dari kecepatan hidup. Menulis memaksa saya memperlambat langkah, mengamati, dan merasakan. Dari sinilah, perlahan-lahan, blog ini berubah menjadi ruang mindful—tempat saya hadir sepenuhnya tanpa harus pura-pura sempurna.
 
Yes, mindfulness yang adalah hidup dengan sadar, menikmati momen, dan kembali pada diri. Versi idealnya tentu terlihat damai seperti meditasi, zikir, atau momen jeda saat aktivitas beribadah sehari-hari

Kalau versi blogger?

Enggak beda jauh, mindfulness versi blogger tuh:
  • Menikmati proses edit foto sana-sini padahal juga sudah pakai fitur beauty.
  • Menerima kenyataan bahwa mood ngeblog tidak datang sesuai kata hati.
  • Hadir sepenuhnya meski layar penuh notifikasi.
  • Ikhlas meski nulisnya bagus, tapi viewer-nya cuma lima biji
Saya belajar bahwa menjadi mindful lifestyle blogger bukan soal selalu tenang. Meski kadang nulisnya sambil dikejar deadline, sembari mikir hari ini mau masak apa, atau sambil ngemil dan lupa akan rencana diet saya. Tapi mindfulness mengajarkan saya: yang penting saya ada, berusaha, dan menikmati prosesnya.

Tahun-Tahun Penuh Cerita

Sepuluh tahun. Rasanya seperti menutup dan membuka buku yang sama, tapi dengan bab-bab yang terus berubah warnanya. Ketika pertama kali menulis, saya bahkan tidak pernah membayangkan bahwa blog ini akan menemani saya selama satu dekade - menyimpan family and personal journey.

Awalnya, blog hanyalah ruang pelarian. Tempat menaruh pikiran yang terlalu bising untuk disimpan sendiri. Saya tidak peduli apakah ada yang membaca; yang penting, saya bisa bernapas lewat kata-kata. Tapi seiring waktu, saya mulai sadar: tulisan-tulisan ini juga berguna bagi orang lain. 

Selama sepuluh tahun ini, saya melihat diri ini tumbuh. Gaya menulis yang berubah. Topik yang berkelana. Dari tulisan-tulisan polos yang penuh spontanitas, hingga artikel yang lebih rapi, tambah matang, makin mencerminkan siapa saya. Blog yang serasa album foto: tak semuanya indah, tapi semua apa adanya.

Dan di luar dugaan, blog membawa saya pada hal-hal yang dulu tak pernah terbayangkan. Bertemu teman-teman baru. Diundang ke acara-acara yang seru. Mendapat kesempatan bekerja sama dengan brand ini dan itu. Bahkan membuka kesempatan untuk berprestasi melalui lomba-lomba blog yang saya ikuti. Tapi yang paling berharga bukan itu semua—melainkan rasa percaya diri yang pelan-pelan tumbuh di balik setiap kata.

Saya belajar banyak. Tentang konsistensi, keberanian bersuara, menerima kritik, juga tentang semua tidak selalu harus sempurna. Saya belajar bahwa tulisan bukan hanya milik yang yakin; tulisan justru milik mereka yang berani mencoba.

Dari blog ini, saya juga belajar mencintai diri saya di setiap versi. Versi yang dulu menulis dengan ragu. Versi yang pernah merasa tidak cukup mampu. Versi yang sekarang lebih gentar tapi juga lebih berani. Semua versi itu ada di sini—di antara baris yang mungkin hanya saya yang benar-benar mengerti.

10 Tahun Belajar Tentang Hidup dari Blog

Yang paling saya syukuri adalah, ngeblog membuat saya lebih mindful dalam menjalani hidup. Setiap kali saya menulis tentang hal-hal kecil—secangkir kopi, perjalanan keluarga, momen hening di pagi hari—saya sebenarnya sedang belajar memperhatikan, bahwa menulis mengajarkan saya:
  • bahwa hal kecil bisa sangat berarti,
  • bahwa perasaan tidak harus sempurna untuk ditulis,
  • bahwa hidup bukan tentang selalu (sok) sibuk dan kepoin hidup orang,
tapi tentang bisa berhenti sejenak dan berkata, “Oh, ternyata hari ini indah yaaa.”

Dalam ngeblog, saya belajar memaafkan diri saat gagal konsisten, merayakan kemajuan kecil, dan memberi ruang bagi perjalanan yang meski pelan namun sampai ke tujuan. Hm, kalau blog saya bisa bicara, mungkin percakapannya bakal begini:

Blog: “Kamu lama banget enggak mampir.”
Aku: “Maafkan, aku sibuk… , hm sibuk rebahan dan netflix-an.”
Blog: “Enggak apa-apa. Kamu mau curhat lagi? Aku siap.”
Aku: “Tolong jangan ingatkan draft yang belum selesai…”
Blog: “Hehe… sayangnya aku ingat semua.

Dan akhirnya saya kembali menulis. Karena blog ini tidak pernah marah. Tidak menuntut. Hanya menunggu dengan tenang, seperti ibu yang selalu membuka pintu.

Ngeblog Melatih Kesabaran dan Mental Baja

Sepuluh tahun menulis mengajari saya satu hal penting: proses kreatif tidak bisa dipaksa. Kadang saya penuh inspirasi, kadang kosong total. Kadang semangat menggebu, kadang laptop cuma jadi pajangan.

Tapi dari semua itu, saya belajar: sabar menghadapi diri sendiri, ikhlas menerima ritme hidup,  Tidak membandingkan jalan saya dengan orang lain, Dan yang paling penting: tetap menulis, meski sedikit.

Itulah mindfulness yang diam-diam tumbuh. Terima kasih, Blog!!

Well, untuk blog tercinta yang telah menemani saya:

Terima kasih sudah menjadi tempat untuk kembali. Tempat bertumbuh, belajar, dan kadang tertawa sendiri. Terima kasih sudah menampung semua rasa—yang jujur, yang ragu, yang rapuh, dan yang penuh doa dan harapan. Sepuluh tahun ini bukan hanya perjalanan menulis, tapi perjalanan menjadi manusia yang lebih sadar.

Dan untuk 10 Tahun Berikutnya…

Saya ingin tetap menulis dengan lebih hangat, kian mindful, makin jujur. Ingin tetap menertawakan diri sendiri, tetap belajar, tetap tumbuh, dan tetap membuka ruang bagi cerita-cerita baru.

Saya tahu mungkin langkah ini akan makin pelan. Bisa jadi saya akan hiatus kembali. Sepertinya saya akan bingung lagi. Tapi saya tahu: saya akan selalu kembali. Karena di sinilah saya menemukan diri saya yang paling apa adanya.

Jadi, mari melangkah ke satu dekade selanjutnya—

Untuk diriku sepuluh tahun lalu, saya hanya ingin bilang:

Terima kasih sudah memulai, bahkan ketika kamu takut dan bingung. Kamu tidak pernah tahu, tulisan-tulisanmu akan menjadi rumah bagi banyak momen indah dalam hidupmu.

Dan untuk diriku yang sekarang, saya berharap:

Teruslah menulis dengan hati. Jangan mengejar angka, jangan mengukur dirimu dari likes atau view. Ukurlah dari ketulusanmu menjaga ruang ini tetap hidup.

Perjalanan masih panjang. Tapi hari ini saya ingin merayakan. Bukan hanya usia blognya… tapi versi diri saya yang tumbuh bersama setiap kata!💖

Oh ya, kalau dirimu sendiri gimana? Apa masih rajin ngeblognya? Semangaaat ya!! 



Salam

Dian Restu Agustina








Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

3 komentar untuk "Perjalanan 10 Tahun Ngeblog: Cerita, Tawa, Luka,.... Semua Ada!"

  1. Aku pun mulai serius ngeblog dan bikin domain TLD di 2014. Kurang lebih sama ya perjalanan kita, 10 tahunan ngeblog. Samma nih...apa udahan aja, apa pindahin aja ke domain gratisan? Toh, masih bisa nulis kapan-kapan, engga perlu perpanjang domain.
    Tapi yaaa tetap aja masih menulis sampai sekarang. Masih suka daaan...kadang-kadang masih menghasilkan. Hehe...Semoga masih tetap konsisten nih...

    BalasHapus
  2. Sering kepikiran untuk hiatus. Tapi, dipikir lagi, blog memang tempat saya menumpahkan cerita. Beberapa kali mencoba bercerita melalui medsos, rasanya gak sepuas kayak di blog. Ya akhirnya saya tetap menulis di blog meskipun mungkin udah agak berkurang aktifnya.

    BalasHapus
  3. Inspiratif banget. Rasanya saya harus banyak belajar dari Kak Dian. Konsistensi sih yang tetap jadi tantangan utama saya untuk terus ngeblog.

    BalasHapus