Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengunjungi Patung Macan Putih yang Viral di Kediri

Fenomena Macan Putih Kediri yang ramai pada akhir tahun lalu, sukses bikin penasaran saya sebagai "mantan warlok" yang sudah merantau selama 32 tahun meninggalkan Kota Tahu. 

FYI, buat yang ketinggalan info, macan putih ini bukan hewan asli, tapi sebuah patung unik yang mendadak ramai dibicarakan di media sosial. Viral karena bentuknya dianggap tidak seperti macan pada umumnya, dan banyak warganet menyebutnya lucu, aneh, enggak jelas itu macan atau zebra,...

Menariknya, patung ini dibuat oleh seniman lokal dengan biaya yang relatif kecil, hanya Rp 3,5 juta saja dan dikerjakan dalam waktu singkat. Karena itulah, hasilnya tidak “sempurna” secara visual, yang justru jadi alasan kenapa viral.

Memang, kalau dilihat sekilas di foto, bentuk “macan putih Kediri” yang berada di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri ini memang langsung mencuri perhatian. Bukan karena garang, tapi justru karena tampilannya yang polos dan unik. Patung yang awalnya jadi bahan candaan bahkan hujatan, malah berubah jadi peluang karena ramai dikunjungi wisatawan sehingga membuka peluang UMKM lokal.

Karenanya, saya dan keluarga pun tertarik untuk menyambangi lokasi wisata baru ini untuk membuktikan sendiri bentuk macan putih Kediri yang di TikTok dan Instagram, dijuluki: “macan gemoy”, “macan versi kartun” dan dibandingkan dengan hewan lain karena proporsi uniknya.

Hm...memang seperti apa sih bentuk patung macan putih Kediri ini?


Tentang Patung Macan Putih Kediri

Berada di pertigaan Desa Balongjeruk, sekitar 25 km dari Monumen Simpang Lima Gumul (SLG), saya, suami dan si Adik mengunjungi patung saat dalam perjalanan ke Jombang, mau Lebaran ke rumah kakak ipar.

Hm..., jauh juga ternyata dari rumah ortu saya di Kota Kediri, sepertinya lebih dekat kalau ditempuh dari Kabupaten Jombang ini.  

Jalanan menuju lokasi, tidak terlalu lebar khas jalanan perkampungan tapi halus mulus semua sudah beraspal. Sampai di tekape ada keramaian mencolok, penjual makanan ramai di kiri kanan yang merupakan imbas dari viralnya patung ini.

Saya parkir di dekat situ, ada musholla yang punya halaman buat naruh kendaraan. Sementara parkiran motor ada dibuka oleh warga di sekitar lokasi. Karena masih pagi, jadi warung dadakan yang ada belum semua buka. Tapi, pengunjung sudah banyak, datang silih berganti.

Nah, untuk patungnya sendiri memang terbukti:

1. Wajahnya jauh dari kesan buas: alih-alih terlihat sangar seperti macan pada umumnya, wajahnya justru bulat dan cenderung “flat”, ekspresinya datar, hampir seperti tersenyum tipis, mata terlihat besar tapi tidak tajam

2. Mata dan tatapan: posisi mata agak melebar, tatapan tidak fokus ke satu arah  dan terkesan kosong, tidak memberi kesan mengintimidasi

3. Hidung dan mulut: hidungnya kecil dan sederhana, mulutnya tidak terbuka lebar  dan tidak menunjukkan taringnya, tidak ada kesan mengaum

4. Tubuh dan proporsi
: badan agak kaku, tidak terlihat seperti sedang bergerak, proporsi antara kepala dan badan terasa kurang seimbang, kaki terlihat pendek dan tidak terlalu berotot

5. Warna dan finishing: dominan warna putih terang, diberi garis loreng hitam sederhana, cat terlihat polos, tanpa detail gradasi atau tekstur bulu, terkesan macan yang “apa adanya”.

Kesan keseluruhan: macan putih ini tidak menakutkan, cenderung ramah, bukanlah sosok macan yang gagah, tapi unik, jujur, dan punya karakter sendiri. Patung ini seperti punya “kepribadian”, bukan karena detailnya sempurna, tapi karena ketidaksempurnaannya terasa manusiawi.


Patung Macan Putih dan Latar Pembangunannya

Well, awalnya saya kira viralnya patung Macan Putih Kediri ini cuma salah satu konten yang FYP di timeline, yang saya tonton, senyum sebentar, lalu scroll lagi. Tapi ternyata tidak. “Macan Putih Kediri” ini bikin saya berhenti, memperhatikan, lalu penasaran.

Di media sosial, patung ini langsung jadi bahan perbincangan. Banyak yang membandingkan, bercanda, bahkan menjadikannya meme. Dan, semakin banyak yang menertawakan, semakin banyak juga yang ingin datang.

Sepertinya, ada yang dayang untuk sekadar membuktikan, “Emang seunik itu?” Ada juga yang mungkin penasaran, “Kenapa bisa viral?”

Bentuk unik, candaan dan hujatan yang ditujukan, alih-alih negatif, justru bikin banyak orang penasaran dan datang langsung untuk membuktikan. Dan seperti biasa, dunia maya memang punya cara sendiri untuk mengangkat sesuatu yang sederhana jadi luar biasa.

Nah, ternyata Patung Macan Putih Kediri bukan sekadar patung biasa. Di balik viralnya, ada cerita budaya yang cukup dalam. Yang mana bagi masyarakat setempat, macan putih bukan simbol sembarangan. Ia dipercaya sebagai: penjaga desa, simbol kekuatan gaib dan perantara dengan leluhur dalam tradisi Jawa.

Legenda lokal bahkan menyebut adanya sosok macan putih yang “momong” (menjaga) desa sejak dulu kala. Jadi, patung dibuat bukan sekadar sebagai hiasan, tapi representasi dari kepercayaan tradisional, penghormatan leluhur, dan identitas desa Balongjeruk ini.

Memang yaaa, kadang yang kita anggap “aneh” di awal, justru menyimpan makna yang tidak sederhana.

Seperti patung di pertigaan desa yang mungkin tidak dibuat dengan standar estetika, tidak juga dirancang untuk jadi viral. Tapi ia lahir dari sesuatu yang lebih dalam, kepercayaan, ingatan kolektif, dan cara sederhana masyarakat menjaga warisan yang mereka yakini.

Lalu datanglah dunia digital, dengan segala riuh dan komentarnya. Ada yang tertawa, ada yang heran, ada yang sekadar lewat. Tapi di balik itu, perlahan orang mulai berhenti sejenak, lalu bertanya, “Sebenarnya ini tentang apa?” Dan di situlah cerita ini menemukan maknanya.

Bahwa tidak semua hal harus terlihat sempurna untuk bisa berarti. Bahwa sesuatu yang dibuat dengan niat baik, akan menemukan jalannya sendiri untuk sampai ke banyak hati. Seperti Patung Macan Putih Kediri, yang mungkin tidak gagah, tidak realistis, tapi justru berhasil membuat banyak orang datang, melihat, dan akhirnya memahami.

Hmm memang seperti itu kadang cara sebuah cerita bekerja, pelan, sederhana, tapi tinggal lama.  
Akhirnya, setelah puas mengambil foto dan video untuk dokumentasi, skip jajannya, karena warung yang saya pengin njajanin belum buka, saya pun meninggalkan Patung Macan Putih dengan lega.

Pada akhirnya, perjalanan kecil ini terasa lebih dari sekadar “mengecek” sesuatu yang viral.

Patung Macan Putih di Balongjeruk mengingatkan saya bahwa tidak semua hal harus sempurna untuk bisa berarti. Justru dari bentuknya yang sederhana, dari detail yang apa adanya, lahir cerita, tentang kreativitas warga, tentang kepercayaan lokal, dan tentang bagaimana sesuatu yang dianggap biasa bisa berubah jadi luar biasa.

Di tengah dunia yang serba rapi dan estetik di media sosial, “macan gemoy” ini hadir dengan caranya sendiri: jujur, unik, dan membumi. Ia mungkin tidak gagah seperti bayangan kita tentang seekor macan, tapi justru di situlah letak pesonanya: dekat, hangat, dan terasa nyata.

Ya, kadang, yang kita cari dalam perjalanan bukan hanya tempatnya, tapi cerita di baliknya… dan perasaan yang diam-diam ikut pulang bersama kita.

Nextjalan-jalan seru dan menyenangkan kemana lagi ya.....! Hm, cari ide dulu ah di Blog Jalanjalanbangbang , ada banyak pengalaman jalan-jalan dari Mas Bambang Irwanto yang inspiratif, seru dan menyenangkan!😍






Happy Traveling

Dian Restu Agustina












Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

18 komentar untuk "Mengunjungi Patung Macan Putih yang Viral di Kediri"

  1. Macan putih merupakan hewan yang sudah lama identik dengan kediri. Tapi aku baru tahu kalau patungnya jadi viral. Tadinya malah sekilas aku ngiranya badak hehehe...

    BalasHapus
  2. Ya ampun. Saya ngakak lihat patungnya. Apalagi setelah memperhatikan bulu mata jarang-jarang yang turut dilukis oleh sang pematung. Tapi ya medsos tuh memang sesuatu ya Mbak. Ketidaksempurnaan dan kelucuan patungnya malah bikin orang penasaran. Malah viral dan bikin orang pengen lihat langsung. Termasuk Mbak Dian. Saya mungkin akan melakukan hal yang sama.

    BalasHapus
  3. Macannya gemoy dan bogel banget. Ternyata ini ya yang justru bikin dia viral.

    BalasHapus
  4. Ngakak lihatnya ..... wkwkwk
    dan auto ngebandingin dengan patung macan di Bandung yang banyak diletakkan di kawasan Kodam Siliwangi yang punya simbol maung/harimau
    hihihi tapi okelah yang di Kediri kan didanai kocek pribadi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat sama Bu Maria. Aku suka fotoin, macan² di Kodam Siliwangi, macem² bentuknya. Skrng nambah deh model Macan Putih...Lucu & gemoy. Malah viral ya...
      Kebayangnya, di sekitarnya muncul penjual asongan...

      Hapus
  5. Menggemaskan macannya.
    Kelihatan garang tapi gagah, sehingga cocok jadi salah satu spot buat dikunjungi dan diabadikan, sampe banyak yang datang juga ke sana dan viral

    BalasHapus
  6. patung macannya ginuk ginuk dan nggak menakutkan, inilah yang bikin banyak warga penasaran pengen liat langsung. Dan dibikin salfok sama dana pembuatannya, gak sampe ber M M juga

    BalasHapus
  7. Lho beneran ini ya macan putih yang viral tapi aku lihatnya jadi kyk perpaduan zebra ama macan ama b2 , hehehe,.. btw gak ada yg frotes kah warloknya mbak secara wujudnya gimana gitu

    BalasHapus
  8. Patung macan putih Kediri ini menarik karena punya nilai sejarah dan daya tarik wisata. Aku suka tempat yang punya cerita di baliknya, jadi bukan sekadar objek foto saja. Kalau suatu saat ke Kediri, sepertinya wajib mampir untuk lihat langsung

    BalasHapus
  9. Sebagai sesama orang yang suka hunting kuliner dan konten unik, saya ikut penasaran sama si "Macan Gemoy" ini. Lucu ya, terkadang ketidaksempurnaan visual justru membawa berkah buat UMKM sekitar—buktinya warung-warung jadi ramai!
    Setuju banget, nggak semua hal harus estetik sempurna untuk punya makna. Patung ini terasa sangat "manusiawi" karena lahir dari niat tulus warga. Jadi pengen mampir kalau pas lewat Kediri, sekalian ajak anak main.

    BalasHapus
  10. Wah, patung macan putih ini unik dan lucu banget, bikin penasaran sekaligus jadi ikon desa yang menarik. Semoga kehadirannya terus membawa rezeki dan ramai dikunjungi orang.

    BalasHapus
  11. patung putihnya unik ya Mbak, bukan sangar malah terkesan lebih kalem gitu.. mungkin menggambarkan orang-orang di Desa Balongjeruk ini yang ramah dan bisa saling menjaga ya

    BalasHapus
  12. Macannya melahirkan banyak persepsi, dari peranakan hibrid macan dan badak sampai siluman 🐈. Lucu sih, lebih dekat kalau dari Surabaya lewat Pare - Kediri untuk melihatnya.

    BalasHapus
  13. Perihal patung macan gemoy yang malah mirip kucing besar ini bikin ingat dunia perpolitikan Indonesia. 😆😆😆

    BalasHapus
  14. Lhaaaa ya ampun itu macan kirain di manaaaa, cuma meme2 viral di sosmed eh nggak tahunya ada beneran di Kediri =))
    Jadi asal muasal "macan putih" karena emang dulu ada yang dianggap sebagai penjaga area sana yaa.
    Balik ke patung, untung nggak menelan anggaran banyak ya mbak, soalnya sakit hati pastinya masyarakat kalau misalnya anggarannya em-em-an eh hasilnya begitu. Udah pasti akan banyak kecurigaan publik.
    Patung ini jadi kek berkah tersendiri terlepas apa filosofi yang melatarbelakangi patung ini dibikin, yang pasti udah sukses viralnya :D

    BalasHapus
  15. Kediri dan patung macan putihnya yang viral, ada-ada aja ya, bentuknya yang unik itu mungkin ya yang bikin viral....

    BalasHapus
  16. dan saya termasuk warga yang ikutan fomo nonton macan ini hihihi. Btw, di Jl PK Bangsa ada mie ramen dengan brand Macan Putih, gambarnya mirip Macan putih balongjeruk. Mungkin mbak Dian pernah kesana?

    BalasHapus