Review Buku: Pulih karena Journaling dan Kucing
Belakangan ini, isu kesehatan mental semakin sering dibicarakan. Banyak orang mulai mencari cara sederhana untuk menjaga kewarasan di tengah hidup yang terasa melelahkan. Ada yang memilih berjalan-jalan, mendengarkan musik, berkebun, hingga menulis jurnal atau journaling.
Menariknya, aktivitas journaling ternyata menjadi salah satu cara yang juga dilakukan oleh Emmy Herlina dalam menghadapi berbagai luka emosional di hidupnya. Pengalaman itulah yang kemudian dituangkan dalam buku "Pulih karena Journaling dan Kucing - Sebuah Kisah tentang Kesembuhan dan Cinta".
Sebuah buku setebal 166 halaman yang bukan sekadar bacaan tentang teknik journaling saja, tapi lebih terasa seperti ruang curhat yang hangat, jujur, dan penuh refleksi tentang proses seseorang berdamai dengan dirinya.
Awalnya, bagi Emmy Herlina, ini hanyalah tulisan pribadi yang tidak ingin dibaca siapa pun. Namun, perlahan ia memberanikan diri membagikan sebagian isi jurnalnya kepada pembaca. Dari situlah lahir buku yang berisi memoar kehidupan, refleksi kesehatan mental, praktik journaling, hingga kisah hangat bersama kucing-kucing peliharaannya.
Bagi saya, hal paling menarik dari buku ini adalah keberanian penulis untuk tampil apa adanya. Emmy tidak berusaha terlihat sempurna. Ia justru memperlihatkan sisi rapuhnya sebagai manusia yang pernah merasa marah, kecewa, kehilangan, dan kelelahan menghadapi hidup.
Di titik itulah journaling menjadi ruang aman baginya.
Melalui tulisan-tulisannya, Emmy belajar jujur terhadap emosi yang selama ini dipendamnya. Ia tidak hanya menulis tentang rasa syukur dan kebahagiaan, tetapi juga kemarahan, kehilangan, bahkan rasa kecewa terhadap hidup.
Menurut saya, pesan ini terasa penting sekali. Banyak orang sering merasa harus terlihat kuat sepanjang waktu, padahal menerima bahwa diri sedang tidak baik-baik saja juga bagian dari proses pulih.
Buku ini juga menjelaskan bahwa journaling tidak harus rumit. Tidak perlu buku mahal atau alat tulis estetik terlebih dahulu. Bahkan menggunakan buku tulis bekas pun tidak masalah. Yang paling penting adalah keberanian untuk menuliskan apa yang benar-benar dirasakan. Untuk itu, pada setiap bagian buku disediakan lembar jurnal yang bisa diisi pembaca untuk berefleksi sesuai tema.
Penulis juga membagikan beberapa jenis journaling, termasuk gratitude journal atau jurnal syukur. Pembahasannya ringan dan mudah dipahami, sehingga cocok untuk pembaca yang baru ingin mulai menulis jurnal.
Sesuai judulnya, buku ini juga dipenuhi kisah tentang kucing-kucing peliharaan penulis: Kali, Otih, dan Koko.
Awalnya saya mengira bagian tentang kucing hanya menjadi pemanis cerita. Ternyata tidak, karena kehadiran mereka justru terasa sangat emosional dan bermakna.
Bagi Emmy Herlina yang telah menulis 17 buku solo sebelum buku ini, kucing-kucing tersebut bukan sekadar hewan peliharaan, tetapi teman yang selalu hadir tanpa menghakimi. Mereka menjadi penghibur di saat penulis merasa sedih, cemas, dan kehilangan semangat.
Sebagai pembaca, saya bisa merasakan bagaimana hubungan manusia dengan hewan peliharaan memang sering kali menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Ada rasa nyaman sederhana yang muncul hanya dari keberadaan mereka.
Bagian ini membuat buku terasa lebih hangat dan tidak terlalu berat meski membahas tentang kesehatan mental.
Karena sangat personal, beberapa bagian mungkin terasa emosional bagi pembaca yang pernah mengalami luka serupa. Namun justru di situlah kekuatan buku ini. Tulisan Emmy Herlina terasa tulus dan tidak dibuat-buat.
Meski begitu, pembaca yang mencari buku psikologi dengan pembahasan ilmiah dan sistematis mungkin akan merasa buku ini lebih dominan sebagai memoar reflektif dibanding buku panduan kesehatan mental.
Melalui buku ini, Emmy Herlina seolah ingin mengatakan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian dalam menghadapi luka hidup.
Menariknya, aktivitas journaling ternyata menjadi salah satu cara yang juga dilakukan oleh Emmy Herlina dalam menghadapi berbagai luka emosional di hidupnya. Pengalaman itulah yang kemudian dituangkan dalam buku "Pulih karena Journaling dan Kucing - Sebuah Kisah tentang Kesembuhan dan Cinta".
Sebuah buku setebal 166 halaman yang bukan sekadar bacaan tentang teknik journaling saja, tapi lebih terasa seperti ruang curhat yang hangat, jujur, dan penuh refleksi tentang proses seseorang berdamai dengan dirinya.
Tentang Buku
"Pulih Karena Journaling dan Kucing" diterbitkan pada Januari 2026 oleh Penerbit FBM Solusindo. Buku ini lahir dari pengalaman penulis mengikuti Challenge 20 Hari Journaling Jadi Buku.Awalnya, bagi Emmy Herlina, ini hanyalah tulisan pribadi yang tidak ingin dibaca siapa pun. Namun, perlahan ia memberanikan diri membagikan sebagian isi jurnalnya kepada pembaca. Dari situlah lahir buku yang berisi memoar kehidupan, refleksi kesehatan mental, praktik journaling, hingga kisah hangat bersama kucing-kucing peliharaannya.
Bagi saya, hal paling menarik dari buku ini adalah keberanian penulis untuk tampil apa adanya. Emmy tidak berusaha terlihat sempurna. Ia justru memperlihatkan sisi rapuhnya sebagai manusia yang pernah merasa marah, kecewa, kehilangan, dan kelelahan menghadapi hidup.
Ketika Journaling Menjadi Tempat Pulang
Salah satu bagian yang paling membekas adalah ketika penulis menceritakan perjuangannya menghadapi gangguan kecemasan (Anxiety Disorder) dan depresi sedang. Ia menuliskan bagaimana luka batin yang dipendam akhirnya berubah menjadi sakit fisik seperti vertigo dan insomnia.
Di titik itulah journaling menjadi ruang aman baginya.
Melalui tulisan-tulisannya, Emmy belajar jujur terhadap emosi yang selama ini dipendamnya. Ia tidak hanya menulis tentang rasa syukur dan kebahagiaan, tetapi juga kemarahan, kehilangan, bahkan rasa kecewa terhadap hidup.
Menurut saya, pesan ini terasa penting sekali. Banyak orang sering merasa harus terlihat kuat sepanjang waktu, padahal menerima bahwa diri sedang tidak baik-baik saja juga bagian dari proses pulih.
Buku ini juga menjelaskan bahwa journaling tidak harus rumit. Tidak perlu buku mahal atau alat tulis estetik terlebih dahulu. Bahkan menggunakan buku tulis bekas pun tidak masalah. Yang paling penting adalah keberanian untuk menuliskan apa yang benar-benar dirasakan. Untuk itu, pada setiap bagian buku disediakan lembar jurnal yang bisa diisi pembaca untuk berefleksi sesuai tema.
Penulis juga membagikan beberapa jenis journaling, termasuk gratitude journal atau jurnal syukur. Pembahasannya ringan dan mudah dipahami, sehingga cocok untuk pembaca yang baru ingin mulai menulis jurnal.
@dianrestuagustina review buku: "Pulih karena Journaling dan Kucing" karya Emmy Herlina #journaling #bookreview #CapCut ♬ Books! Books! - Emily Arrow
Kehangatan dari Kucing-Kucing Kesayangan
Sesuai judulnya, buku ini juga dipenuhi kisah tentang kucing-kucing peliharaan penulis: Kali, Otih, dan Koko.Awalnya saya mengira bagian tentang kucing hanya menjadi pemanis cerita. Ternyata tidak, karena kehadiran mereka justru terasa sangat emosional dan bermakna.
Bagi Emmy Herlina yang telah menulis 17 buku solo sebelum buku ini, kucing-kucing tersebut bukan sekadar hewan peliharaan, tetapi teman yang selalu hadir tanpa menghakimi. Mereka menjadi penghibur di saat penulis merasa sedih, cemas, dan kehilangan semangat.
Sebagai pembaca, saya bisa merasakan bagaimana hubungan manusia dengan hewan peliharaan memang sering kali menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Ada rasa nyaman sederhana yang muncul hanya dari keberadaan mereka.
Bagian ini membuat buku terasa lebih hangat dan tidak terlalu berat meski membahas tentang kesehatan mental.
Gaya Penulisan yang Personal dan Mengalir
Buku ini menggunakan gaya bahasa yang ringan dan mengalir seperti membaca diary atau mendengarkan teman bercerita. Tidak ada istilah psikologi yang terlalu rumit, sehingga pembaca bisa menikmati isi buku dengan nyaman.Karena sangat personal, beberapa bagian mungkin terasa emosional bagi pembaca yang pernah mengalami luka serupa. Namun justru di situlah kekuatan buku ini. Tulisan Emmy Herlina terasa tulus dan tidak dibuat-buat.
Meski begitu, pembaca yang mencari buku psikologi dengan pembahasan ilmiah dan sistematis mungkin akan merasa buku ini lebih dominan sebagai memoar reflektif dibanding buku panduan kesehatan mental.
Penutup
Well, Buku "Pulih Karena Journaling dan Kucing" adalah buku yang hangat, jujur, dan penuh empati. Buku ini mengingatkan bahwa proses pulih tidak selalu harus besar dan sempurna. Kadang, langkah kecil seperti menulis jurnal, mengungkapkan rasa syukur, atau ditemani kucing kesayangan sudah cukup membantu seseorang bertahan melewati hari-hari sulitnya.Melalui buku ini, Emmy Herlina seolah ingin mengatakan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian dalam menghadapi luka hidup.
Buku yang cocok dibaca oleh pencinta buku self-healing, pemula yang ingin belajar journaling, pecinta kucing, maupun siapa saja yang sedang belajar berdamai dengan dirinya sendiri.💕
Salam
Dian Restu Agustina


bagus bukunya, mengingatkan pembaca bahwa gangguan kecemasan tuh gapapa, terima aja
BalasHapusAgar bisa dicari jalan keluarnya, diantaranya dengan membuat journal dan berteman dengan kucing
Sekarang semakin banyak ya buku seperti ini?
Mungkin karena lebih inspiring, lebih nyambung dengan kehidupan pembacanya
Dari judulnya aja sudah menyentuh sih. Apalagi saat di tengah tekanan jiwa yang jatuh sejatuh-jatuhnya. Been there Mbak Dian. Jadi saya bisa bilang bahwa JOURNALING dan KUCING itu dua solusi yang pas untuk mentalitas yang sedang diuji. Menulis membuat kita bisa mengalihkan luka ke dalam tulisan sementara kucing memberikan nuansa kebahagiaan dan kasih sayang. Yang saya suka adalah buku ini tidak melibatkan teori-teori psikologi, yang jujurly, buat saya pribadi, kurang sreg. Saya lebih klop dengan uraian reflektif dan terbangun dari sebuah pengalaman yang menggugah. Bisa jadi dari diri penulis maupun terinspirasi dari orang lain.
BalasHapusKeren sih udah nulis 17 buku solo sebelumnya. Jadinya lebih lancar ya buat nerbitin jurnal yang tadinya pengen disimpan sendiri. Semoga semakin banyak yang terinspirasi
BalasHapusPulih karena journaling dan kucing memang bukan sesuatu yang nggak mungkin sih. Kerasa banget sih gimana bisa release emosi saat journaling tuh. Terus main sama kucing juga bagian dari merelease emosi negatif. Jadi kepingin baca bukunya juga akutu.
BalasHapusDari judul sampai dengan cover bukunya, bikin aku tertarik banget sih.
BalasHapusTernyata isinya memang senyaman itu buat dibaca ya? Hangat, ramah, aduh. Makinlah penasaran dengan buku Pulih Karena Journaling dan Kucing.
Benar adanya journaling ini banyak manfaatnya buat kehidupan dan pemulihan. Pun dengan memelihara anabul, termasuk kucing. Kedekatan yang sangat hangat tanpa ada hal-hal drama yang meresahkan.
Journaling emak sekeren dan sebermanfaat itu. Nanti kalau saya pensiun, rasa-rasanya ini adalah kegiatan yang akan saya tekuni deh.
BalasHapusSudah menerbitkan 17 buku solo, wow keren penulisnya. Butuh keberanian juga untuk mempublikasikan catatan dan memoar pribadi ke publik. Tapi mudah-mudahan itu juga cara healing dari gangguan mental yang dialaminya dan juga bisa jadi pembelajaran bagi para pembacanya. Thanks for sharing buku ini mba
BalasHapusKekuatan journaling kembali terlihat ya
BalasHapusBisa jadi self healing
Teringat pengalaman saya belajar mendalami journaling (dulu istilahnya aja gak tahu) tapi yg pasti saya terus menulis. Bener, tidak harus rumit. Tidak perlu buku mahal atau alat tulis estetik terlebih dahulu. Bahkan menggunakan buku tulis bekas pun tidak masalah. Dan itu yg saya lakukan
Baru mengenal mesin tik waktu itu tahun 1998 an. Di kampung pula. Mengenal komputer setelah bekerja di luar negeri.
Salut untuk keberanian penulis yg menuliskan semua pengalaman.
Yang paling penting adalah keberanian untuk menuliskan apa yang benar-benar dirasakan.
Suka journaling tapi nggak suka kucing.. Setiap orang seperti beda memulihkan jiwa ya mbak.. Intinya mencintai diri sendiri versi kita masing-masing
BalasHapusBanyak yang bilang, kucing itu bisa menyerap energi negatif yang ada disekitar kita ya mbak
BalasHapusBuku ini menarik jadi pengen baca juga
Menarik ya bukunya, jurnaling ini terbukti bermanfaat banget ya. Ingin belajar juga terkait jurnaling ini, sepertinya bisa dipelajari caranya di buku ini secara saya bingung mau mulai darimana
BalasHapusSaya penasaran dengan journal karena banyak yang memberi tahu kalau journal tuh bisa jadi self healing, bisa jadi tempat melepas penat. Hidup jadi teratur. Sepertinya buku ini cocok u tuk pemula seperti saya
BalasHapus