Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bunda Belajar Melepaskan: Parenting di Fase Anak-Anak Mulai Terbang Menggapai Mimpi

Menjadi orang tua adalah perjalanan panjang yang penuh pembelajaran. Sejak anak bersekolah, hari-hari saya dipenuhi dengan berbagai kesibukan: antar jemput anak sekolah, menemani belajar, mengingatkan makan, mendengarkan cerita mereka, hingga membantu mereka mengejar impian.

Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin saya mengantar anak-anak ke sekolah dengan tas yang hampir lebih besar dari tubuh mereka. Kini, anak sulung saya sudah menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Sementara itu, adiknya sedang berada di tahun terakhir SMA, dan insyaAllah akan menyusul kakaknya.

Sebagai orang tua, tentu ada rasa bangga yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Melihat anak-anak berani melangkah lebih jauh untuk meraih cita-cita adalah kebahagiaan tersendiri. Namun, di balik kebanggaan itu, ada satu hal yang juga harus saya persiapkan: hati saya sendiri.



Well, selama ini, ketika mendengar kata parenting, saya selalu membayangkan aktivitas mengasuh anak sejak mereka kecil: menemani belajar, mendampingi tumbuh kembang, mengantar ke sekolah, hingga membantu mereka menentukan pilihan pendidikan.

Namun kini saya menyadari bahwa parenting tidak berhenti ketika anak beranjak dewasa. Justru ada tantangan baru yang harus dihadapi orang tua, yaitu belajar melepaskan dan mempercayai anak-anak yang mulai menapaki jalan hidupnya sendiri.

Anak sulung saya sudah lebih dulu merantau untuk kuliah. Sebentar lagi, jika Allah mengizinkan, adiknya akan menyusul. Artinya, untuk pertama kalinya dalam hidup saya sebagai ibu, rumah akan jauh lebih sepi dibandingkan sebelumnya.

Saya mulai bertanya pada diri sendiri, apakah saya sudah siap menghadapi fase ini?

Ketika Rumah Mulai Berubah

Selama bertahun-tahun, kehidupan keluarga kami memiliki ritme yang sama. Ada suara kesibukan omelan di pagi hari, obrolan saat makan bersama, tumpukan buku pelajaran di meja, hingga berbagai cerita yang mengisi rumah setiap hari.

Ketika anak pertama ke luar dari rumah untuk kuliah, saya mulai merasakan perubahan itu. Rumah yang biasanya ramai perlahan menjadi lebih tenang. Ada ruang kosong yang sebelumnya tidak pernah saya sadari keberadaannya.

Tahun depan, jika adiknya juga berangkat kuliah, rumah kami akan kembali berubah. Tidak lagi ada jadwal mengantar sekolah atau menemani belajar untuk ujian. Sebuah fase yang mungkin akan terasa asing pada awalnya.

Saya sadar, banyak orang tua mengalami hal yang sama. Anak-anak tumbuh dewasa, lalu pergi mengejar masa depan mereka masing-masing. Ini adalah bagian alami dari kehidupan. Meski demikian, menerima kenyataan tersebut tetap membutuhkan proses.

Well, melepaskan memang bukan berarti berhenti peduli. Melepaskan adalah memberikan ruang bagi anak untuk bertumbuh. Memberi mereka kesempatan mengambil keputusan sendiri, menghadapi tantangan, dan belajar dari pengalaman hidup mereka.

Sebagai ibu, tentu saya masih ingin memastikan mereka baik-baik saja setiap saat. Namun saya juga memahami bahwa kemandirian tidak akan tumbuh jika saya terus memegang kendali atas setiap langkah mereka.

Karena itulah saya mulai belajar mempercayai proses. Mempercayai bahwa nilai-nilai yang selama ini ditanamkan akan menjadi bekal bagi mereka, bahwa mereka mampu menjaga diri, dan yang terpenting, mempercayai bahwa doa orang tua akan selalu menyertai ke mana pun mereka pergi.

Bunda Juga Harus Terus Belajar

Semakin saya menjalani fase ini, semakin saya memahami bahwa parenting adalah proses belajar yang berlangsung sepanjang hayat. Ketika anak-anak masih kecil, kita belajar mendampingi mereka. Saat mereka remaja, kita belajar memahami perubahan yang mereka alami. Ketika mereka dewasa dan mulai meninggalkan rumah, kita belajar merelakan sekaligus mempercayai mereka.

Di fase inilah saya semakin memahami makna menjadi seorang bunda belajar. Belajar menerima perubahan, mengelola rasa rindu, mempercayai anak, dan belajar menemukan kebahagiaan dalam bentuk yang berbeda.

Ternyata, tidak ada wisuda dalam perjalanan menjadi orang tua. Selalu ada pelajaran baru yang menanti di setiap tahap kehidupan kita.

Nah, salah satu hal yang mulai saya pikirkan adalah bagaimana mengisi hari-hari ketika anak-anak sudah tidak tinggal bersama kami.

Saya menyadari bahwa menunggu dan larut dalam kesepian bukanlah pilihan yang sehat. Karena itu, saya mulai membuka diri pada berbagai kegiatan yang selama ini mungkin belum sempat saya jalani secara rutin.

Belakangan ini saya mulai mengikuti kegiatan line dance dan senam bersama. Selain membuat tubuh lebih aktif dan sehat, kegiatan tersebut juga menjadi sarana bersosialisasi dan bertemu teman-teman baru. Ternyata bergerak bersama sambil tertawa dan berbagi cerita dapat menjadi penyegar di tengah perubahan fase kehidupan yang sedang saya jalani.

Di samping itu, saya juga mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan ibu-ibu di lingkungan komplek. Bagi saya, aktivitas seperti pengajian, arisan, dan kegiatan sosial lainnya bukan hanya menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, tetapi juga wadah untuk saling berbagi pengalaman dan menguatkan satu sama lain.

Saya menemukan bahwa banyak ibu lain yang sedang berada pada fase serupa. Maklum, kompleks tempat saya tinggal merupakan perumahan yang sudah cukup lama, sehingga lebih dari separuh penghuninya sudah memasuki usia "lolita" alias lolos lima puluh tahun bahkan lanjut usia. Anak-anak kami mulai mandiri, rumah menjadi lebih sepi, dan kami sama-sama belajar menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

Perlahan saya memahami bahwa ketika anak-anak tumbuh dewasa, orang tua juga perlu terus bertumbuh. Menjaga kesehatan, memperluas pergaulan, memperdalam ilmu, dan menjalani aktivitas yang bermanfaat merupakan cara untuk tetap menjalani hidup dengan penuh makna.

Karena Cinta Juga Berarti Merelakan

Menjadi orang tua mengajarkan banyak hal. Salah satunya adalah memahami bahwa cinta tidak selalu berarti menggenggam erat. Kadang-kadang, cinta justru berarti memberi sayap. Membiarkan anak-anak menjelajahi dunia yang lebih luas. Mendukung mereka dari kejauhan. Dan tetap menjadi rumah yang selalu bisa mereka tuju kapan pun mereka ingin pulang.

Hari ini saya masih belajar. Mungkin besok juga masih akan belajar. Sebab menjadi ibu ternyata bukan hanya tentang membesarkan anak, tetapi juga tentang terus bertumbuh bersama mereka.

Sebagai seorang bunda belajar, saya menyadari bahwa setiap fase parenting memiliki tantangannya masing-masing. Ketika anak-anak masih kecil, tantangannya adalah mendampingi mereka tumbuh. Ketika mereka dewasa, tantangannya adalah merelakan mereka melangkah.

Dan ketika saatnya tiba, saya berharap dapat melepaskan mereka dengan hati yang penuh syukur, bangga, dan percaya bahwa setiap langkah yang mereka ambil adalah bagian dari perjalanan hidup yang telah Allah Subhanahu Wa Ta'ala siapkan dengan sebaik-baiknya.💜





Salam Bahagia


Dian Restu Agustina







Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

16 komentar untuk "Bunda Belajar Melepaskan: Parenting di Fase Anak-Anak Mulai Terbang Menggapai Mimpi"

  1. Cinta harus memberi sayap
    Gue banget nih, dua anak saya kuliah di luar Bandung, dan itu kerasa banget
    Dari rutinitas nyiapin seragam dan sarapan pagi mereka
    hingga hal-hal seperti berteriak mengingatkan solat karena kamar mereka di atas :D
    Apalagi sekarang, semua udah berkeluarga
    Biasanya belanja ini itu untuk persiapan berbuka puasa di bulan Ramadan, sekarang ngerasa gak ada yang perlu dibeli karena toh hanya untuk sendiri
    Untung punya aktivitas ngeblog, jadi gak ngeribetin anak dengan bolak balik nelpon :D

    BalasHapus
  2. Begitulah kehidupan ya, datang dan pergi, semua berproses
    Fase ditinggalkan anak untuk masa depan akhirnya kita rasakan. Saya malah lebih dini, lepas SD anak udah berada ribuan km dari rumah
    Dipastikan saya kehilangan momen masa remaja, masa ia beranjak baligh, dan sebagainya
    Tapi itulah orang tua, apalagi ibu, dekat atau jauh, besar atau kecil, anak adalah anak
    Belajar terus untuk menghadapinya karena semua sudah bagian dari ketentuan kehidupan

    BalasHapus
  3. Pengennya saya sih anak kecil terus. Supaya mereka akan tetap ngikutin bundanya ke mana-mana hihihi. Tapi, kan, gak mungkin ya. Cepat atau lambat memang akan ada fase melepas. Yang bisa saya lakukan sebagai orang tua salah satunya dengan membantu anak membuat benteng dirinya. Ketika kelak mereka berhadapan dunia nyata sendiri, insyaAllah akan tetap aman. Selain itu, saya juga selalu berusaha menjadikan rumah adalah tempat ternyaman bagi anak.

    BalasHapus
  4. Aamiin allahumma aamiin 😇🙏 aku bacanya melow banget. Kebayang seorang bunda belajar mesti berdamai dan mengatasi perasaannya saat harus melepaskan anak-anak tercinta menggapai impian mereka masing-masing.

    Meski aku belum jadi seorang Ibu, kurang lebih perasaan yang sedang menerpa mba itu berada dari tulisannya pun.

    Tetap semangat, semoga kedua anak tercinta selalu dalam lindunganNya, lancar study dan bisa menggapai impian mereka dengan maksimal. Bunda belajar pun harus bahagia dan berkegiatan, belajar memang akan terus berlangsung selama hayat masih dikandung badan ya Mba.

    BalasHapus
  5. That is why , ibu-ibu yang masuk usia jelita atau lolita malah semakin terlihat "eksis" yaaa... ternyata jawabannya ya karena di rumah terasa "kosong" .

    Aku juga sekarang malah bisa menemukan beberapa grup kecil (ada Mungils yang tiap tahun 2 kali keluar kota, nabung pake niat) dan ada grup yang hobi keluyuran kulineran seputar rumah ...(Gading Serpong, Binong, BSD)bahkan sampe ke Bogor!

    Kalau aku, sekarang hobi banget uplek di jualan produk digital hihihi... bukan karena validasi tapi justru cari cuan buat jalan jalan!

    BalasHapus
  6. Wah cucok banget dengan yang lagi ngetrend saat ini, graduation. Kemaren saat acara grad, bu KS juga sempat mengutarakan hal ini sih.

    BalasHapus
  7. Ini nih yang kadang terlupakan oleh orang tua. Merelakan anaknya tumbuh dewasa dan hidup mandiri. Kebanyakan mereka stuck menganggap anak ya masih anak-anak. Belum bisa mandiri dan lain sebagainya.

    Bagi anak yang pengertian, mungkin akan otomatis berusaha untuk nggak membebani orang tuanya.

    Tapi, bagi anak yang keliru. Dia akan berpikir akan terus bergantung sama orang tua. Bahkan beberapa anak yang kukenal malah menyulitkan orang tuanya ketika dewasa.

    BalasHapus
  8. Mendadak mengharu biru. Pada kenyataannya, menjadi orang tua itu sekolahnya seumur hidup. Seiring dengan pemahaman bahwa anak itu sejatinya adalah titipan-Nya. Terutama untuk kita para ibu. Mereka mungkin lahir dari rahim kita, tapi takdir dan nasib mereka sudah diatur sendiri.

    Saya kebetulan anak yang besar jauh dari orang tua sejak SMA. Jadi merasakan berada di kedua pihak. Mengevaluasi apa yang saya alami adalah bahwa memberikan kepercayaan dan tanggung jawab penuh pada anak-anak adalah salah satu poin terpenting dan modal buat anak-anak belajar, memutuskan, dan bertanggung jawab pada diri sendiri.

    Semoga kita senantiasa menjadi orang tua yang penuh dengan doa kebaikan untuk anak-anak kita ya Mbak. Melahirkan, mengasuh, dan sekarang di tahap pelan-pelan melepaskan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya bisa merasakan apa yg Ibu rasakan
      Apalagi saya ini sedang belajar di tahap itu. Anak semata wayang saya udah mulai belajar jauh, di usia 12 tahun
      Mana jarak ribuan km bikin saya susah untuk menyambangi karena kendala biaya
      Akhirnya pasrah dan percaya saja kalau perpisahan ini mungkin cara menjadikannya menjadi pribadi lebih baik
      Belajar melepaskan sejak awal. Hehehe

      Hapus
  9. Aduh, jadi ikutan sedih. Membayangkan anak-anak perlahan tumbuh dan harus merelakan mereka pergi mengejar mimpi mereka sendiri, jadi melow. Kalau tiba waktunya, apakah akan kuat? Makanya berusaha lebih sadar mengenai hari ini. Nikmati waktu saja bersama anak-anak, dengan segala kesibukan dan kerepotannya, karena suatu saat, kita pasti akan merindukan saat-saat seperti ini.

    BalasHapus
  10. Dari berdua jadi berdua lagi ya.. Apa kabar dengan yang LDM nih sepi banget. Anak kedua saya baru mau TK, itu sudah membuat saya mengubah ritme pagi mba. Jadi setiap tahu ada perubahan.

    BalasHapus
  11. Sepakat dengan pernyataan mbak "Tidak ada wisuda dalam perjalanan hidup orang tua", sayapun akan merasakan hal yang sama mbak, si sulung ke rumah saudara nginap aja tetiba rumah jadi sepi. Walau ini mereupakan proses yang berat, tetapi harus dijalani. Semangat Mbak.

    BalasHapus
  12. ngga, aku ga nangis, kamu yg nangis :( wkwkwkkwk

    emang bener sih kak.. cinta itu juga berarti harus rela untuk melepas.. semoga anak-anaknya bisa gapai mimpi yang udah mereka impikan ya kak :).

    BalasHapus
  13. MashaAllah.. barakallahu fiik, ka Dian.
    Rasanyaa.. baru kemarin melihat anak-anak dengan momen pertama mereka yaah..
    Dan kini, alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimush shalihaat.. mereka tumbuh menjadi pribadi yang hebat dan mandiri.

    Semoga Allah senantiasa melindungi selalu langkah ananda dimana pun mereka menuntut ilmu.

    BalasHapus
  14. Mba Dian saya sedang berada fase ini, anak-anak sudah merantau menjemput impian masing-masing. Kita kembali berdua di rumah, setuju banget dengan pernyataannya cinta itu merelakan mereka untuk terus bertumbuh dan berkembang.

    BalasHapus
  15. aku aja sekarang sudah kepikiran mbak gimana ya kalau misal nanti anak kuliah di luar kota duh kayaknya bakal sepi banget hidup ya walaupun ada suami. tapi memang sebagai orang tua kita mengalami banyak fase ya, mbak mulai dari anak baru lahir hingga mereka siap untuk mengepakkan sayapnya. dan kita tentunya selalu berharap bisa menjadi orang tua yang mengantarkan anak-anaknya menggapai impian mereka dan menjadi anak yang soleh dan solehah

    BalasHapus