Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Review Buku Jelajah Pasar Nusantara: Menyusuri Wajah Indonesia dari Lorong-Lorong Pasar

"Pasar bukan sekadar tempat berjual beli. Di dalamnya ada sejarah, budaya, tradisi, mimpi, dan kehidupan yang terus bergerak dari hari ke hari."

Data Buku

Judul: Jelajah Pasar Nusantara
Penyunting & Penata Letak: Annie Nugraha
Foto Sampul: Katerina S.
Penerbit: Annie Nugraha Mediatama
ISBN: 978-634-04-5826-8
Cetakan Pertama: Januari 2026
Genre: Antologi Non-Fiksi


Ketika Pasar Menjadi Jendela Kehidupan

Bagi sebagian orang, pasar hanyalah tempat membeli kebutuhan sehari-hari. Namun bagi saya, pasar selalu menawarkan pengalaman yang jauh lebih kaya daripada sekadar aktivitas belanja.

Di pasar, kita dapat melihat denyut kehidupan masyarakat secara nyata. Ada pedagang yang membuka lapak sejak subuh, pembeli yang berburu kebutuhan terbaik dengan harga terjangkau, aroma makanan khas yang menggoda, hingga percakapan sederhana yang mencerminkan karakter sebuah daerah.

Karena itulah saya tertarik membaca Jelajah Pasar Nusantara, sebuah antologi non-fiksi yang mengajak pembaca berkeliling Indonesia melalui pasar-pasar yang memiliki cerita unik dan karakter berbeda.

Buku ini merupakan antologi ke-9 yang diterbitkan oleh Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI). Sebanyak 21 penulis berkontribusi menghadirkan kisah tentang pasar yang mereka kenal, kunjungi, dan alami secara langsung. Hasilnya adalah sebuah buku yang tidak hanya berbicara tentang transaksi ekonomi, tetapi juga tentang budaya, sejarah, kuliner, tradisi, hingga kehidupan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya.

Kata Pengantar yang Mengajak Pembaca Menjelajah

Sebelum memasuki kisah para kontributor, pembaca terlebih dahulu disambut oleh kata pengantar yang ditulis oleh Annie Nugraha, yang juga pelopor komunitas PAPI dan indie publisher Annie Nugraha Mediatama.

Menurut Annie, menjelajah pasar selalu menghadirkan cerita tersendiri. Menyusuri kios demi kios dan kedai demi kedai bukan hanya soal mencari barang yang dibutuhkan. Ada percakapan hangat, proses tawar-menawar yang seru, gelak tawa, hingga dinamika kehidupan yang berlangsung setiap hari.

Saya sangat menyukai sudut pandang yang disampaikan dalam pengantar ini. Pasar digambarkan sebagai ruang tempat ekonomi kerakyatan bergerak secara nyata. Di sana terjadi pertemuan antara kebutuhan dan harapan, antara penjual dan pembeli, antara keuntungan dan kepuasan.

Lebih menarik lagi, Annie mengajak pembaca melihat pasar sebagai destinasi wisata. Saat berkunjung ke daerah baru, pasar sering kali menjadi tempat terbaik untuk mengenal budaya lokal. Dari pasar kita bisa menemukan bahan pangan khas, kuliner tradisional, hasil kerajinan, hingga kebiasaan masyarakat yang mungkin tidak dijumpai di tempat lain.

Ajakan itulah yang kemudian menjadi benang merah seluruh isi buku.

Menjelajah Pasar dari Barat hingga Timur Nusantara

Salah satu keunggulan utama buku ini adalah keberagaman lokasi dan tema yang diangkat.

Melalui 21 tulisan, pembaca diajak berkeliling Indonesia, mulai dari Pasar Sarimalaha di Tidore, Pasar Rawa Belong, Pasar Cawang Kavling, Pasar Gerendeng Karawaci, Pasar Legi Kotagede, Pasar Aceh, Pasar Santa Jakarta, Pasar Beringharjo Yogyakarta, Pasar Gede Hardjonagoro Solo, Pasar Burung Sukahaji Bandung, Pasar Buah Berastagi di Tanah Karo, Pasar Inpres Kebun Sayur Balikpapan, Pasar Batu Akik Rawa Bening Jakarta, Pasar Ikan Ngrimase di Kepulauan Tanimbar, Pasar Hunian Vertikal Kalibata City, Pasar Baru Jakarta, Pasar Rakyat Cipanas, Pasar Oro Oro Dowo Malang, Pasar Besar Madiun, Pasar Manis Purwokerto, Pasar Konveksi Aur Kuning Bukittinggi, Pasar Jodoh Batam, Pasar Kramatjati, hingga Pasar Modern BSD City.

Masing-masing pasar memiliki karakter yang berbeda. Ada pasar buah, pasar burung, pasar ikan, pasar batu akik, pasar tekstil, pasar bunga, hingga pasar modern. Namun semuanya memiliki kesamaan sebagai ruang tempat kehidupan masyarakat berlangsung.

Keberagaman inilah yang membuat buku setebal hampir dua ratus halaman ini terasa kaya, hidup, dan tidak membosankan.


Pasar Buah Berastagi, Kebanggaan Masyarakat Tanah Karo

Melalui tulisan Tri Suci A.S., saya diajak mengenal Pasar Buah Berastagi yang terkenal sebagai etalase hasil bumi masyarakat Karo.

Penulis menggambarkan pasar yang penuh warna dengan deretan jeruk, markisa, kesemek, bunga hias, dan aneka sayuran segar. Tidak hanya menjadi tujuan wisata, pasar ini juga menjadi simbol kekayaan alam sekaligus urat nadi ekonomi masyarakat setempat.

Tulisan ini membuat saya seolah ikut berjalan menyusuri lorong-lorong pasar yang sejuk di kaki pegunungan Berastagi.

Irama Anggunan di Pasar Burung Sukahaji

Tulisan Hani Widiatmoko membuka wawasan saya tentang dunia perkutut dan para pencinta burung.

Melalui kisah Mas Yanto dan komunitas pehobi burung, saya memahami bahwa memelihara burung bukan sekadar hobi, tetapi juga bagian dari tradisi dan filosofi hidup masyarakat Jawa.

Menarik sekali mengetahui bahwa seekor perkutut dapat memiliki nilai tinggi karena kualitas suara, garis keturunan, serta proses perawatan yang membutuhkan kesabaran bertahun-tahun.

Panggung Ikan Itu Bernama Ngrimase

Salah satu tulisan yang paling membekas bagi saya adalah karya Dian Radiata tentang Pasar Ikan Ngrimase di Kepulauan Tanimbar.

Pasar yang berdiri di tepi laut ini digambarkan bersih, tertata, dan jauh dari kesan kumuh yang sering melekat pada pasar ikan.

Lebih dari sekadar tempat jual beli hasil laut, Ngrimase menjadi ruang sosial tempat masyarakat pesisir membangun harapan, bekerja sama, dan menjaga tradisi mereka. Tulisan ini memperlihatkan bahwa pasar dapat menjadi cerminan karakter dan semangat sebuah komunitas.

Pasar Konveksi Aur Kuning Bukittinggi

Melalui tulisan Dilla NFD, pembaca diajak melihat denyut perdagangan di salah satu pusat grosir terbesar di Sumatera Barat.

Saya menyukai cara penulis menggambarkan suasana tawar-menawar yang hangat dan akrab. Aur Kuning bukan hanya pusat perdagangan pakaian, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Minangkabau.

Tulisan ini memperlihatkan bagaimana aktivitas ekonomi dan tradisi lokal dapat tumbuh berdampingan dalam satu ruang yang sama.

Pasar Batu Akik Rawa Bening Jatinegara

Utami Isharyani Putri mengajak pembaca memasuki dunia batu mulia dan pusaka Nusantara.

Tulisan ini tidak hanya membahas perdagangan batu akik, tetapi juga memperkenalkan filosofi keris, sejarah pusaka, hingga keterampilan para perajin yang masih bertahan di tengah perkembangan zaman.

Saya merasa pasar ini menjadi bukti bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan berdampingan. Di tengah era digital, nilai budaya dan warisan leluhur tetap memiliki tempat di hati para pencintanya.

Beranda Bahagia di Pasar Modern BSD City

Tulisan Katerina S. menjadi salah satu tulisan yang paling personal dan hangat dalam buku ini.

Awalnya, pasar adalah tempat yang dihindarinya. Namun setelah menikah dan belajar mengelola rumah tangga, pasar justru menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

Melalui Pasar Modern BSD City, ia belajar memilih bahan makanan, memasak, membangun kebersamaan dengan keluarga, hingga menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana.

Saya sangat menikmati tulisan ini karena tidak hanya berbicara tentang pasar sebagai tempat belanja, tetapi juga sebagai ruang tumbuh, ruang belajar, dan ruang untuk menciptakan kenangan.

Pasar Modern BSD City digambarkan sebagai pasar yang bersih, nyaman, lengkap, dan modern tanpa kehilangan kehangatan khas pasar rakyat. Sebuah gambaran yang menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus menghilangkan identitas budaya.

Kesan Setelah Membaca

Menurut saya, kekuatan terbesar Jelajah Pasar Nusantara terletak pada keberagaman perspektif para penulisnya.

Meskipun mengangkat tema yang sama, setiap tulisan memiliki karakter dan pendekatan yang berbeda. Ada yang bernuansa sejarah, ada yang fokus pada budaya lokal, ada yang kaya informasi wisata, dan ada pula yang sangat personal serta emosional.

Bahasanya ringan dan mudah diikuti sehingga cocok dibaca oleh siapa saja, baik pecinta perjalanan, penikmat budaya, maupun pembaca yang sekadar ingin mengenal Indonesia lebih dekat.

Melalui buku ini saya semakin menyadari bahwa pasar adalah salah satu tempat terbaik untuk memahami sebuah daerah. Pasar menghadirkan wajah masyarakat yang sesungguhnya. Dari pasar kita bisa melihat hasil bumi unggulan, kuliner khas, tradisi yang masih bertahan, hingga semangat para pelaku usaha kecil yang menjadi penggerak ekonomi rakyat.

Di tengah menjamurnya pusat perbelanjaan modern dan kemudahan transaksi digital, pasar tetap memiliki pesona yang tidak tergantikan.


Penutup

Jelajah Pasar Nusantara bukan sekadar kumpulan tulisan tentang pasar. Buku ini adalah potret kecil Indonesia yang kaya budaya, tradisi, sejarah, dan kisah kemanusiaan.

Terima kasih kepada Annie Nugraha, Teguh Sudarisman, Tanti Amelia, Salmanbiroe, Raihana Mahmud, Lala Rahman, Ari Dian Aryono, Tri Suci A.S., Hani Widiatmoko, Christin Liem, Utami Isharyani Putri, Dian Radiata, Saskia Ichnati, Rurisa Hartomo, de Laras, E3Trip, Ety Widihastuti, Ika Patte, Dilla NFD, Siska Meilanti, dan Katerina S. yang telah membawa pembaca menjelajahi pasar-pasar Indonesia dari sudut pandang yang beragam.

Melalui 21 kisah yang tersebar dari barat hingga timur Nusantara, saya diajak memahami bahwa pasar bukan hanya tempat transaksi ekonomi, melainkan ruang tempat kehidupan tumbuh, berinteraksi, dan berdenyut setiap hari.

Bagi pencinta buku perjalanan, budaya lokal, kuliner, dan kisah-kisah keseharian masyarakat Indonesia, buku ini layak masuk dalam daftar bacaan.

Karena pada akhirnya, di balik setiap lapak pasar, selalu ada cerita tentang manusia, harapan, dan kehidupan yang terus berjalan dari generasi ke generasi.💕




Salam

Dian Restu Agustina
















Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

28 komentar untuk "Review Buku Jelajah Pasar Nusantara: Menyusuri Wajah Indonesia dari Lorong-Lorong Pasar"

  1. Terima kasih Mbak Dian, udah review antologi Jelajah Pasar Nusantara. Buat aku juga pengalaman tersendiri menulis dengan gaya storytelling. Agak berbeda dengan ngeblog. (Hani Widiatmoko)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berkat tulisan gaya story telling ini informasi pasar yang biasanya kalau di berita ekonomi itu kaku, kini jadi no lebih manis dan terkenang ya...

      Hapus
  2. Terima kasih untuk ulasan bernasnya Mbak Dian.

    Sejalan dengan visi dan misi lahirnya buku antologi JELAJAH PASAR NUSANTARA yang menghadirkan puluhan tulisan tentang beragam pasar di tanah air, dari ujung barat ke bagian timur Indonesia, mendorong PAPI dan ANM untuk terus berkarya di dunia literasi negeri kita tercinta. Hal ini juga membuktikan bahwa sesungguhnya materi tulisan itu bisa kita dapatkan dari banyak hal yang ada di sekitar kita. Mengulik apa dan bagaimana kegiatan perdagangan di pasar pun bisa jadi beragam ulasan yang menarik hati.

    Semoga setiap artikel membawa jejak kebaikan dan ribuan manfaat bagi siapa pun yang membaca plus tentu saja bagi yang menuliskannya.

    Yuk Mbak Dian. Saya mengundang Mbak Dian untuk ikut meramaikan setiap jejak PAPI di dunia literasi kita.

    BalasHapus
  3. Masya Allah, senangnya membaca ulasan ini. Mbak Dian memang selalu bisa merangkai kata dengan hangat dan penuh rasa. Terima kasih banyak ya, Mbak, atas ulasannya. Saya sangat mengapresiasi perhatian Mbak terhadap buku ini, terlebih karena tulisan saya juga ikut dibaca dan diapresiasi.

    Buku ini memang menarik. Lewat cerita-cerita tentang pasar dari berbagai daerah, saya jadi ikut belajar banyak hal baru. Rasanya seperti diajak berjalan-jalan dari satu kota ke kota lain sambil mendengar kisah yang berbeda-beda.

    BalasHapus
  4. Terima kasih kak. Informasi menarik dan bermanfaat sekali. Btw aku belum pernah baca buku ini. Banyak cerita sekali mengenai pasar tradisional.

    BalasHapus
  5. Senang sekali membaca artikel yang satu ini karena merupakan review buku yang didalamnya ada saya juga 🤩 kebetulan, nulis terkait pasar santa Jakarta.

    Seneng deh, dengan POV mbak terkait buku antologi Jelajah Pasar Nusantara. Memang sangat unik serta menarik banget. Beberapa sudut pandang setiap penulis sangat kreatif. Penggambaran terkait pasar kian detail. Jelas, pasar bukan sekadar tempat berbelanja semata. Banyak pasar yang spesifik dan khas.

    BalasHapus
  6. Aku setuju kalau pasar itu lebih dari sekadar tempat transaksi. Setiap pasar punya cerita, karakter, dan suasana yang berbeda. Kadang justru dari pasar kita bisa melihat kebiasaan masyarakat setempat dengan lebih dekat dibanding tempat wisata populer. Setelah membaca ulasannya jadi penasaran dengan buku ini, terutama karena mengangkat keberagaman Indonesia dari sudut yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menarik sekali idenya menjadikan pasar sebagai jendela untuk mengenal budaya dan kehidupan masyarakat

    BalasHapus
  7. Senang sekali jika diangkat dalam tulisan kita bisa mengetahui betapa keanekaragaman pasar itu ternyata nyata
    Masing-masing punya kelebihan dan keunikannya ya
    Yg pasti semuanya sudah modern ya pasar nya.

    BalasHapus
  8. Membaca review ini membuat saya sadar kalau pasar tradisional itu punya magisnya sendiri yang tak bisa digantikan oleh e-commerce.
    Saya paling tersentuh dengan cerita Pasar Ngrimase dan Pasar Modern BSD..... bisa menangkap sisi humanis dari tempat yang biasanya bising dan penuh sesak. jadi ikut merasakan kehangatan obrolan di lorong pasar dan mencium aroma khas kulinernya.
    pengen baca juga

    BalasHapus
  9. Wah, bukunya terdengar seru dan kaya wawasan. Cocok untuk menambah pengetahuan tentang keberagaman budaya Indonesia.

    BalasHapus
  10. Sebuah buku yang menarik dan bikin saya teringat pada buku terbitan Museum Sonobudoyo Yogyakarta, yang juga tentang pasar. BTW pasar memang mencerminkan tradisi dan budaya setempat sehingga bikin saya tak kabur.

    BalasHapus
  11. Baru tahu ada buku ini, menarik banget membacanya, Kadang suka nemu hidden gems kalo menjelajahi pasar hehehe

    BalasHapus
  12. Membaca review ini bikin saya langsung ngebayangin aroma khas pasar tradisional. Buku Jelajah Pasar Nusantara ini kayaknya emang berhasil ya memotret sisi lain pasar yang gak cuma tempat transaksi, tapi juga pusat budaya. Jadi makin penasaran sama bab yang bahas pasar di luar Jawa. Makasih ulasannya, Kak, bikin daftar buku yang pengen dibeli jadi nambah lagi nih.

    BalasHapus
  13. Pasar tradisional itu memang bukan cuma tempat transaksi, tapi punya ruh, sejarah, dan cerita budayanya sendiri di setiap lorongnya. Makanya saya seneng deh kalau diajak ke pasar tradisional. Karena biasanya suka ada aja yang unik di masing-masing pasar tradisional.

    BalasHapus
  14. Unik ya buku antologinya, mengangkat tema tentang jelajah pasar nusantara yang pasti menyajikan kekhasannya masing-masing. Selamat buat penerbit, para kontributor penulis dan tak kalah penting buat Mbak Dian yang telah mengulasnya. Btw, kebetulan saya dan suami punya pengalaman krg enak ketika membeli buah mangga arumanis. Yang dijadikan tester dengan yang dijual ternyata jenis buah yang berbeda, dg harga overpriced pula. Lain kali harus lebih cermat lagi berbelanja di sana.

    BalasHapus
  15. Masyaallah, hadirr kontributor Pasar Buah dari Medan hehe
    Ada keseruan sendiri saat menulis tentang pasar ini,
    Disana ada kebingungan pasar mana yang kepilih jadi tulisan juga mengundang kenangan masa kecil yang cukup akrab dengan pasar.
    Semoga pasar tradisional ngga tergerus jaman...

    BalasHapus
  16. Suka dengan sudut pandang yang diangkat. Pasar bukan sekadar tempat transaksi, tetapi juga ruang yang merekam denyut kehidupan sebuah daerah.

    BalasHapus
  17. Huaaaa.. terharu bacanya .. makasih mbak Dian, udah ditulis namaku di sini!
    btw dikau SM McDonald's Bali yaaa? hhahaa oot maafin

    Bacaan tentang Jelajah Pasar Nusantara ini tuh memang dibuat supaya pembaca ngerasa kayak diajak jalan-jalan keliling Indonesia lewat lorong pasar yang penuh cerita

    Bahwa pasar itu bukan cuma tempat transaksi, tapi ruang hidup yang penuh aroma, suara, dan memori. Ada tawar-menawar sampai cerita kecil yang sering luput diperhatiin. Aktivitas sehari-hari yang sederhana tapi hangat banget, karena dekat sama kehidupan kita ya!

    Buku ini juga kerasa kayak arsip emosi dari banyak orang, terutama perempuan yang punya keterikatan personal dengan pasar di daerahnya masing-masing. Jadi bukan cuma soal tempat, tapi juga soal identitas dan kenangan yang nempel di tiap sudutnya. Jadi pengen ikut “nyasar” ke pasar tradisional dan merhatiin hal-hal kecil yang biasanya kelewat...

    BalasHapus
  18. Yang daku tahu pasar tradisional nya yang Pasar Batu Akik Rawa Bening, soalnya itu di Jatinegara dan pernah lewat, walau belum pernah eksplor masuk ke dalamnya hehe.
    Kalau dikumpulkan ternyata banyak ya pasar tradisional di Nusantara ini, dan kesemuanya punya ciri khas tersendiri yang patut buat dikunjungi

    BalasHapus
  19. Saat saya mendampingi teman-teman dan proses kreatifnya, banyak ilmu yang saya pahami lewat tulisan rekan-rekan kontributor untuk buku ini. Setiap dari mereka hadir dengan keunikan diksi dan cara penyajian ceritanya. Dan itu bikin saya kagum luar biasa. Ternyata ya, teman-teman yang bergabung di buku JELAJAH PASAR NUSANTARA ini punya kualitas menulis yang gak main-main.

    Again. Terima kasih Mbak Dian yang sudah berkenan menelusur setiap lembar dan membuatkan ulasan yang apik dan menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan.

    BalasHapus
  20. setuju banget, pasar gak sekadar tempat transaksi jual beli
    Pasar juga tempat sejarah, budaya, seni dan seluruh hal menyangkut kehidupan manusia
    karena itu setiap mengunjungi kota, saya pasti menyempatkan mendatangi pasarnya
    untuk menemukan denyut kehidupan sesungguhnya dari kota tersebut

    BalasHapus
  21. Benar juga. Pasar memang bukan hanya tempat kita bisa membeli berbagai kebutuhan dengan harga yang lebih terjangkau. Kalau kita berkunjung ke pasar dekat rumah malah ada banyak cerita yang bisa kita dapatkan.

    Jadi pingin baca buku jelajah pasar juga.

    BalasHapus
  22. Saya tertarik membaca soal Pasar Batu Akik Rawa Bening, yang tak cuma ngomongin jual-beli batu mulia tapi juga filosofi keris dan keterampilan perajin pusaka yang masih bertahan di tengah modernitas.
    Menarik pula untuk dikunjungi, di tengah serbuan barang modern, masih ada pasar yang jadi penjaga nilai sejarah dan spiritualitas lewat benda-benda pusaka. Jadi kepikiran, pasar kayak ini sebenarnya museum hidup yang belum banyak orang sadari.

    BalasHapus
  23. Pasar tradisional itu memang bukan sekadar tempat transaksi jual-beli, tapi juga pusat interaksi sosial dan penjaga denyut nadi kebudayaan lokal suatu daerah. Saya pribadi suka semangat kalau diajak ke pasar tradisional di mana pun. Karena biasanya suka ada aja yang unik di pasar tersebut.

    BalasHapus
  24. Menarik menariikk sekaliii sub-judul dengan tema besar "Jelajah Pasar Nusantara"
    Sebelum ada mall mall dan toko online yang femes seperti saat ini, pergi ke pasar gak melulu untuk berbelanja kebutuhan pangan yaah... ada banyak kebutuhan lainnya yang butuh dibeli jugaa..

    Senang membaca "Jelajah Pasar Nusantara" dengan kontributornya yang memang travel blogger dan memiliki ciri khas sentuhan kalimat demi kalimat yang hangat...

    BalasHapus
  25. Unik ya bukunya. Dulu waktu saya kuliah, teman yang juga kerja di penerbitan, pernah juga bikin kayak gini, tetapi lingkupnya lokal, seputar pasar-pasar di daerah Magelang, Jateng.

    BalasHapus
  26. Sebagaimana ciri khas buku antologi di mana beberapa penulis berkumpul dalam satu karya. Sekalipun tema sama, tapi ditulis dengan sudut pandang yag berbeda pula. Saya tertarik dengan temanya yg unik. Jarang-jarang ada tema pasar ditulis dalam satu buku.

    BalasHapus
  27. Setelah baca review buku antologi pasar malah jadi makin pengen baca bukunya, nih. Suka banget bacain buku-buku yang bercerita tentang aneka pasar apalagi pasar di Indonesia

    BalasHapus