10 Cara Mengambil Hati Mertua



Saya memerlukan masa hampir satu dasawarsa untuk bisa dekat dengan (Ibu) Mertua. (Ha? Lamanyaaaa😭)

Bukan berarti selama sepuluh tahun pertama menjadi menantu, saya membenci, berantem atau diam-diaman yaaa... 

Bukan begitu..!

Hubungan kami baik dan biasa saja, tapi tak bisa mesra. Dan, ternyata butuh waktu sepanjang itu agar hati kami bisa bersatu. #eaaa

Kenapa bisa lama sekali? Penyebabnya karena:
  • Jarak  
Setelah menikah, saya langsung ikut suami tinggal di kota tempatnya bekerja, di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara yang berjarak jauh sekali dari tempat tinggal mertua di Madiun, Jawa Timur. Hal ini membuat saya dan Ibu Mertua, tak sempat saling mengenal satu sama lain. Apalagi saya dan suami jarang pulang lantaran harga tiket pesawat yang dulu sangat mahal. Kami mudik ke kampung halaman biasanya setahun atau bahkan dua tahun sekali. Itupun hanya pulang untuk beberapa hari. Kurangnya waktu inilah yang membuat saya dan Ibu Mertua tak pernah bisa lama berinteraksi. 

  • Kurang Komunikasi
Alat komunikasi yang belum meluas pemakaiannya pada saat itu, menjadi hambatan untuk sebuah perbincangan. Tak semua orang memiliki telepon seluler karena harganya yang mahal, biaya pulsanya juga masih belum terjangkau dan masih dianggap sebagai barang asing yang tak penting.

  • Saya Keras Kepala
Sifat saya yang keras kepala membuat hubungan saya dengan Ibu Mertua seringkali tak semestinya. Saya maunya Beliau mengerti saya, padahal seharusnya sayalah yang berusaha untuk memahami Beliau dulu. Bukankah saya yang menjadi anggota baru di keluarga suami? Mustinya, memang saya yang beradaptasi.

Mengapa saya keras kepala? Coba baca ini juga....😍

  • Kurangnya Pemahaman Agama
Dulu saya kurang paham dan enggan belajar tentang bagaimana semestinya hubungan antara menantu dan mertua. Saya memandang Ibu Mertua hanya sebagai ibu suami saya. Padahal menempatkan mertua pada kedudukan yang mulia sama halnya kita menghormati orang tua yang melahirkan kita. Menyakiti Ibu Mertua berarti sama saja menyakiti Ibu kita. Kalau kita mencintai anaknya lantas kenapa kita tidak mencintai orang yang melahirkannya?

  • Enggan Terbuka
Pernikahan saya dan suami terbilang singkat dan cepat. Meski ketika masih SMA saya sering main ke rumahnya karena saya bersahabat dengan adiknya, tapi saat itu saya tak mengenal Ibu Mertua sebagai calon mertua. (Coba tahu dari saat itu! kwkwk😜). Jadi sama sekali saya tak punya informasi Beliau itu seperti apa dan bagaimana. Dan setelahnya, saya enggan membuka diri kepada Beliau. Jika ada apa-apa saya selalu bilang "ya" padahal di belakang saya ngomel berkepanjangan dan menyesal, karena seharusnya tadi bilang "tidak". Saya nggak berani bilang "tidak" meski dalam versi halus sekalipun. Saya jaga gengsi dengan tetap berpegang pada slogan: "sopan di depan-dongkol di belakang". Padahal hal seperti ini fatal dan menyakitkan!

Baca juga cerita awal pernikahan saya : Jodoh Pasti Bertemu

Alhamdulillah setelah 10 tahun, tepatnya sekitar 5 tahun lalu, akhirnya hubungan saya dan mertua pun mencair. Bahkan kini, komunikasi kami melebihi antara Beliau dengan suami.

Apa saja cara yang saya lakukan untuk mengambil hati Ibu Mertua?
  • Tak Kenal Maka Tak Sayang
Coba kenali Ibu Mertua lebih dalam. Misalnya apa makanan kesukaannya, ukuran dan warna baju favoritnya, hobinya, dan kebiasaan kecil lainnya yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita. Jika ada saudara ipar, bisa tanya pada mereka. Misalnya, saya akan bertanya dulu pada adik ipar, baju apa kesukaan Ibu dan berapa ukurannya. Jadi saya nggak akan salah beli nantinya. 
Informasi ini bisa juga langsung kita gali dari Beliau. Sambil ngobrol kita selipin pertanyaan, Ibu suka buah mangga apa jambu, misalnya begitu. Sehingga lain kali kita beli yang memang Beliau mau. Jangan sampai Beliau suka mangga eh belinya semangka. Jadi kita nggak sakit hati kalau nggak disenggol sama sekali.
  • Memberi Perhatian
Semua orang pasti suka diperhatikan dan dianggap penting. Kini, karena alat komunikasi sudah memberi kemudahan pada kita, rutinlah menelepon Ibu Mertua (jika memang berjauhan tinggalnya). Isi pulsa HP Beliau agar sewaktu-waktu bisa menghubungi kita juga. Jika tinggal berdekatan, jadwalkan kunjungan. Beliau pasti akan bahagia, selalu dikunjungi anak cucunya yang tentunya membuat kesehatannya jadi terjaga. 

  • Membelikan Hadiah
Siapapun pasti suka hadiah. Jika sudah tahu apa kesukaan Ibu Mertua, belikan hadiah kejutan untuknya. Blus batik yang cantik, taplak meja yang unik atau sebuah tas etnik. Tak usah menunggu momen tertentu dan tak harus mahal harganya. Oh ya, jika ragu bisa juga minta tolong ipar kita untuk membelikan, karena biasanya putra-putrinya sendiri yang lebih tahu selera ibunya.  

  • Layani Sepenuh Hati
Ingat, jika kita berkesempatan merawat mertua berarti sama saja kita merawat orang tua kita. Jadi ikhlaslah apapun kondisinya. Apalagi jika mertua sudah sepuh usianya dan sakit-sakitan, tentu kita harus lebih memerhatikan. Saat melihat kesabaran dan keikhlasan kita merawatnya, Insya Allah kita pun akan mendapat balasan kebaikan darinya. 

  • Ceritakan Kebaikan Suami
Seorang ibu pasti bangga akan putra-putrinya. Jadikan pencapaian suami sebagai salah satu bahan obrolan bersama Ibu Mertua. Hindari menyampaikan sisi buruknya ataupun masalah rumah tangga yang bisa membuat Beliau bersedih atau terluka. 

  • Terima dan Hormati Mertua dengan Segala Apa Adanya
Setiap keluarga tentu punya kebiasaan yang berbeda. Begitupun cara kita dibesarkan yang bisa jadi tak sama dengan kebiasaan yang dijalani di keluarga suami. Terima dan hormati hal ini. Misalnya, Ibu Mertua punya kebiasaan sehari-hari yang tak sama dengan cara saya. Sudah biarkan saja. Pernah saat berkunjung ke rumahnya, saya bersih-bersih, merapikan dan membuang barang yang saya anggap tak layak dipakai lagi. Ternyata saya salah, itu kan rumah Beliau, harusnya saya menghargai kenangan yang ingin disimpan. Meski rumah jadi semacam museum saja, tapi tetap hormati pemiliknya. (Jadi bersih-bersihnya yang wajar saja, nggak usah kerajinan yaa..!😀)

  • Murah Hati
Jangan lupa jika ada hak ibunya pada rejeki suami. Jadi selalu ingatkan suami agar memastikan ibunya dalam keadaan tak kesulitan dalam hal keuangan. Atau jika suami memang menyerahkan tanggung jawab keuangan keluarga pada kita, ingatlah selalu mertua. Tak perlu jumlah jadi ukuran lantaran orang tua biasanya malah sungkan untuk meminta ke anaknya. Kita yang musti mengerti dan sadar diri.

  • Biarkan Suami Dekat dengan Ibunya
Tak perlu cemburu saat suami dekat dengan ibunya, karena bagaimanapun ia memang harus berbakti kepadanya. Jika kesibukan pekerjaan membuatnya lupa memerhatikan ibunya, ingatkan! Beri kesempatan jika mereka berdua sedang berbincang, tak perlu kita selalu ada diantaranya. Juga sediakan waktu khusus agar suami bisa mengunjunginya sendiri atau mengantarkan kemana saja, tanpa kita dan anak-anak ikut serta.

  • Bersikap Baik dengan Keluarga Besar
Pernikahan tidak hanya menyatukan dua insan namun juga dua keluarga besar. Jadi jaga hubungan baik dengan keluarga besar suami. Jika hubungan kita dengan ipar, keponakan dan kerabat baik, tentu akan membuat hubungan dengan mertua pun akan membaik.

  • Instropeksi Diri
Daripada menunjuk pada Ibu Mertua yang tak menganggap kita ada, lebih baik koreksi diri. Siapa tahu di mata Beliau kita dinilai tak pandai mengurus anaknya, kurang bisa mengatur keuangan keluarga atau enggan meleburkan diri ke keluarga suami. Perbaiki diri agar menjadi istri dan ibu yang lebih baik lagi. Cari ilmunya, teruslah belajar agar makin pintar. Dan yang utama jadikan ajaran agama sebagai pedoman. 

Itulah tadi yang saya lakukan hingga hubungan saya dan Ibu Mertua sangat mesra. Bahkan nomor HP yang dihubungi saat Beliau menelpon pun bukanlah HP suami lagi. Kalau ingin apa saja selalu disampaikan lewat saya. Berbagai ide dan saran saya seringkali jadi bahan pertimbangan keputusan Beliau. Dan, yang jelas tak ada lagi batas bahwa Beliau adalah mertua dan saya menantunya. 

Alhamdulillah.💕

Nah, kalau temans sendiri bagaimana? Punya cara lainkah untuk mengambil hati mertua? Silakan tulis di kolom komentar ya.....😍

Salam hangat,

Dian


18 comments:

  1. Wah bagua banget tipsnya Mbak Dian..sebagai senior didunia persilatan hahaha.
    Saya tinggal dengan mertua hampir 3tahun, skrg balik ke Jawa sementara karena suami sekolah..tipsnya betul banget itu Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. kwkwk iya nih, sudh sabuk warna apa nih saya hahaha:D.

      Alhamdulillah sempat tinggal dengan mertua, Mbak Dira. saya malah belum pernah tinggal dekat baik orang tua maupun mertua. Ketemunya setahun malah hanya beberapa hari saja..

      Siip, terima kasih sudah singgah:)

      Delete
  2. Aku yang baru 3 tahun berarti masih panjang jalannyaaaa. 😂😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya..masih sepertiga perjalanan itu, belum seberapa..hahaha :D

      Tetap semangat !!

      Delete
  3. Kadang kalau ada kejadian gak enak sm mertua rasanya galau banget. Tapi ya mesti berbesar hati ya mbak. Mudah-mudahan aku bisa mesra juga sama mertua hehehehee.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak.galau bin risau. Kayaknya kok semua salah aja di mata Beliau.

      Memang besar hati, sabar, ikhlas musti nggak berbatas untuk menghadapi hali ini. Insya Allah akan kita petik manisnya nanti.

      Aamiin, saya ikut doakan yaa:)

      Delete
  4. Makasih sharingnyaaa mbak diaaan, pengetahuaan banget buat saya nih untuk calon mertua 😄 hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siiip, Mbak Lucky :) Buat siap-siap biar nggak kaget lagi nanti...hihihi

      Delete
  5. Tips yang bagus hehe. Ilmu buat yang baru menapaki dunia rumah tangga :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..yang pemula musti baca yaaa:D

      Semoga bermanfaat :)

      Delete
  6. Saya malah udah nggak punya mertua. Orangtua saya juga tinggal seorang. Tapi kasih sayang saya kepada mertua tak pernah putus. Caranya ya dengan selalu berkirim doa setiap selesai sholat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siip Mbak:)

      Saya yang sudah berpulang Bapak Mertua. Orang tua saya masih lengkap.

      Semoga doa kita menjadi kasih sayang yang abadi yaa, Mbak..Aamiin

      Delete
  7. saya jarang ketemu mertua mba dian, kami dikepulauan riau, mertua di daratan sumatera.. thank infonya mba, setidaknya saling telpon telponan dengan mertua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, yang penting tetap rutin berkomunikasi, Alhamdulillah ya sekarang sudah lebih mudah...:)

      Delete
  8. TFS Mbak Dian, sharingnya bermanfaat sekali untuk menantu seperti saya. Memang untuk memenangkan hati mertua adalah berani mengalah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, meski mengalah bukan untuk kalah..karena yang utama kita memuliakan mertua yang memang selayaknya kita dahulukan kepentingannya :)

      Delete
  9. Saya juga sebenernya dulu ga dekat dengan mertua mba, efek kesalahpahaman dengan kakak ipar yang senang menggadu. Alhamdulillah setelah tahu semua kebenarannya, mertua jadi dekat dengan saya.

    ReplyDelete