Kediri Selalu di Hati!



Desaku yang kucinta... Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda... Dan handai taulanku

Tak mudah kulupakan.... Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan... Desaku yang permai 


(Desaku, Ibu Soed)


Hola semua...Bagaimana akhir pekannya? Semoga bikin hepi dan jadi mood booster untuk mengawali pekan ini yaaa...Aamiin

Memang teman-teman biasa kemana tiap akhir pekan?

Kalau saya sekeluarga biasanya Sabtu malam perginya. Entah cuma mau makan di luar atau jalan kemanaaaa...Tapi masih di dalam kota. Kami jarang sekali pergi ke luar kota saat akhir pekan, karena tanggung waktunya. Kalau niat mau jalan jauh, seringnya pas ada long weekend. Jadi, jika di kalender ada merah berjejer-jejer, barulah perginya jauh dari rumah. Alasannya, kalau cuma semalam, lebih banyak macet di jalan. Sehingga capek rasanya jika Senin sudah kembali berkegiatan.

Tapi, itu enggak berlaku saat liburan sekolah tiba. Saya dan suami beberapa tahun terakhir ini menjadwalkan pulang kampung di setiap liburan. Kalau bisa, ya berempat pulangnya. Kalau suami sedang tidak bisa cuti, ya saya sama anak-anak saja yang pergi.

Alasan kenapa tiap liburan selalu pulang adalah agar anak-anak kenal dan dekat dengan Kakek-Nenek dan saudara-saudaranya. Mumpung tinggalnya di Jakarta yang relatif dekat jaraknya untuk pulang ke Kediri dan Madiun. Ini mengingat sebelumnya saya dan keluarga tinggal di luar Jawa dan di luar negeri. Sehingga pulang kampungnya hanya bisa sesekali.

Keputusan untuk selalu pulang ke Kediri dan Madiun saat liburan tak hanya membuat anak-anak senang, tapi Ibunya juga lebih senang lagi. Ya, Kediri memang kota istimewa yang selalu ingin saya kunjungi.  

[Tapi kenapa Kediri sih? Bukankah sudah tinggal dan pergi kemana-mana? ]

Iya sih..Kalau dihitung-hitung saya tinggal di Kediri dari lahir sampai lulus SMA, berarti sekitar 18 tahun. Sisanya, hampir 24 tahun di beberapa tempat yang berbeda. Tapi Kediri tetap punya porsi istimewa di hati saya. #eaaaa

Mengapa?

Karena Kediri: Kota Tempat Saya Dilahirkan dan Dibesarkan

Dian Restu Agustina
Mbak Putri, Bapak, Ibu, dan saya enam bersaudara, 1982
Karena, saya dilahirkan dan dibesarkan di Kediri. Meski saat saya lahir, orang tua masih tinggal di rumah Mbah Putri, tapi sejak umur 2 tahun saya sudah diajak pindah ke rumah orang tua saya sendiri. Jadi, ingatan akan rumah tempat saya dibesarkan yang sampai saat ini masih ditempati Bapak dan Ibu begitu melekat di hati. Bersama kelima kakak yang perempuan semua. Dengan kamar yang hanya tiga. Satu untuk Bapak Ibu, dua untuk kami berenam, masing-masing tiga orang. Meski Umpel-umpelan tapi hati senaaaang!

Karena semua perempuan, jadi saya berenam(juga Ibu) terbiasa sepanjang hari cekikikan. Ramainyaaa! Menjadikan Bapak saya yang pendiam, makin tak terdengar suaranya. hahaha

Kami berenam terbiasa saling tukeran juga lungsuran baju dan barang lainnya. Juga makan barengan bahkan kadang kembul dari wajan. Pokoknya rumah enggak pernah sepi dah...! 

Nah, kenangan masa kecil yang indah itulah yang membuat saya selalu ingin datang dan datang lagi. Dengan membawa setangkup rindu heuheu...

Bedanya kini, saya tak hanya berkumpul berdelapan di rumah Bapak dan Ibu. Tapi jika ngumpul semua, sekarang sudah menjadi 28 orang beserta mantu dan cucu. Seruuuu!

Karena Kediri: Mengabadikan Banyak Kenangan


Dian Restu Agustina
Ultah emas pernikahan Bapak Ibu tahun 2013
Kediri menyimpan banyak kenangan akan mantan masa kecil saya yang membahagiakan. Kenangan akan Bapak dan Ibu yang telah membesarkan dan mendidik saya dengan limpahan kasih sayang sampai jadi seperti ini. Orang tua yang selalu ada kapanpun saat saya membutuhkan sosoknya. Dan yang selalu menunggu kepulangan saya dengan rasa rindu yang tak terhingga.

Lalu, kenangan akan kebersamaan bersama kakak-kakak saya, yang kalau diulang ke belakang rasanya saya enggak tahu harus berucap apalagi akan nikmat Allah yang demikian hebat. Mereka semua selalu mendukung saya apapun kondisinya. Senantiasa ada di saat saya memerlukan bantuan. Juga enggak pernah ada perselisihan sampai kami beranak (dan hampir) bercucu-seorang kakak saya sebentar lagi, Insya Allah, sudah menimang cucu.

Selain itu, kenangan akan rumah dengan pernak-pernik yang tak banyak berubah. Memang rumah Bapak dan Ibu sudah mengalami penyesuaian di sana-sini. Tapi kenangan akan rumah yang menjadi awal perjalanan saya sebagai manusia meninggalkan memori tersendiri. Begitu juga beberapa barang masa belia yang masih tersimpan di sana. Bahkan pernah  nemu di lemari, diary saya saat SMP yang membacanya pun jadi geli sendiri hihihi. Meski sebagian besar sudah tak tersimpan lagi, tapi berbagai kisah di rumah itu tetap membayangi saat saya pulang ke Kediri.

Karena Kediri: Menyimpan Kenangan Akan Teman-Teman

Kota kediri
Reuni kelas SMP 4 Kediri Angkatan '91
Meski sudah punya banyak teman baru di berbagai tempat yang berbeda, bukan berarti saya melupakan teman lama. Hanya saja, karena tak pernah lama pulangnya (karena waktunya harus dibagi dua, ke Kediri dan Madiun), maka seringnya saya jarang berjumpa dengan teman-teman lama. Tapi paling tidak jika ada acara reuni, Insya Allah saya hadiri.

kota Kediri
Reuni Alumni SMA 1 Kediri Angkatan'94
Karena Kediri: Mencatat Kenangan Akan Banyak Tempat

Begitu banyak tempat di Kediri yang sampai saat ini enggak berubah sama sekali. Dan saya senang saat melewatinya sambil membatin dulu pernah ngebakso di situ sama gebetan teman-teman. Sempat lompat pagar sekolah karena pengin jajan lantaran bosan dengan menu buka puasa saat ikut Pesantren Ramadan. Juga, mengucap syukur tiada henti saat lewat sebuah toko baju yang dulu jangankan bisa beli, masuk saja enggak pernah karena tak mampu.

Dan begitu banyak tempat di Kediri yang dulunya menjadi bagian dari perjalanan hidup saya sejak belia hingga tumbuh menjadi menjadi perempuan dewasa seperti saat ini. Sehingga, saat pulang dan ada waktu luang, saya akan mendatangi lagi tempat-tempat tersebut untuk melihat kondisinya terkini.

Karena Kediri: Punya Aura yang Tak Tergantikan 

Suasana Kediri meski kini juga dibumbui kemacetan di sana-sini, tapi jauh lebih menenangkan daripada Jakarta. Begitu banyak hal yang mebuat saya masih merasa damai, nyaman dan selalu rindu akan pulang. Kesederhanaan orang-orang dan kebiasaan yang dijalankan enggak banyak berubah. 

Nah, beberapa alasan itulah yang membuat saya menjadikan Kediri, kota istimewa yang selalu ingin saya kunjungi. Karena Kediri selalu di hati....๐Ÿ’

Lalu, bagaimana denganmu temans? Adakah tempat istimewa yang selalu terpatri di jiwa?๐Ÿ˜


Salam dari cah Kediri yang merantau ke Jakarta,

Dian Restu Agustina



#SatuHariSatuKaryaIIDN
#Harike8
#TemaTraveling
#Tempat/KotaIstimewayangSelaluInginDikunjungi


31 comments:

  1. Oohh... kediri juga dah kena virus macett ha mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa..Mbak sudah sampai sana virusnya hadeeeh!

      Delete
  2. Tempat tumbuh itu memang melekat di Hati mbak. Ada teman dan saudara yang sama2 membentuk kenangan. Masa2 kecil dan berkembang.
    Saya jg ngerasa gitu, tempat lahir beda sama tempat tumbuh. Teman2 banyak di tempat tumbuh jadi rasanya lebih nyaman untuk pulang. Walaupun di tempat kelahiran jg pasti ada rasa spesialnya. Tapi karena ga punya banyak kenangan jadi untuk kesana ga kayak pulang karena disana emang ga punya rumah sih haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama kayak suamiku, ortu asli Maiun..sementara dia enggak pernah tinggal di situ, malah gede di Kediri..Jadilah kenangannya ada di Kediri..Sampai nyari istri orang Kediri #eh..hahaha :D

      Delete
  3. Mungkin sama dengan saya Mbak, tinggal di kota kelahiran juga tak lama, sisanya tinggal di berbagai tempat. Belum pernah nich traveling ke daerah timur, kepingin banget, semoga bisa sampai sana, Insya Allah

    ReplyDelete
  4. Kayaknya intinya cuma satu, Kediri bikin Baper. Sayang banget icon simpang lima gumul itu mencontek Arc De Triomphe Paris. Coba kalau dulu dibangun dengan gaya arsitek khas kerjaan Kadiri atau icon Nusantara lainnya, pasti lebih berwibawa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi saya sendiri juga heran kok Mas...:D Tapi mungkin ada pertimbangan tersendiri kenapa pilih itu:)

      Delete
  5. Wah, kelahiran kediri toh mbak Dian ini. Saya baru sekali ke Kediri. Kota yang selalu terpatri di hati saya ya Kota Malang, sayangnya saya nggak pernah beranjak dari Malang,jadi ya nggak pulkam, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi..yang penting tetap terpatri di hati :)

      Delete
  6. dulu jaman kecil saat liburan aku suka dikirim ibuku ke rumah sepupu , nenek dan kakek agar kita mengenal saudara

    ReplyDelete
  7. Kalau ngobrolin Kediri, jadi ingat dosen organik saya mbak. Beliau udah lumayan sepuh, tapi tiap hari berangkat ngajar bolak balik Kediri-Surabaya-Kediri naik bus. Sementara saya bolak balik jalan kaki dari asrama ke kampus saja banyak ngeluhnya, hahahaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha..dari asrama ke kampus saja rasanyaaaa, kok enggak nyampe-nyampe ya:D

      Delete
  8. Belum pernah menjelajah Kediri noh.. jadi pengen ..hihi..

    ReplyDelete
  9. semoga saya bisa ke simpang lima gumul lagi.. pas malem bagus... rame disana..^^

    ReplyDelete
  10. Sekarang nggak di mana macet ya, Mbak..pernah juga di Batu terjebak macet sampai lama banget, ngalah2in yang di Jakarta pula.. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh kalau Batu jangan ditanya, secara obyek wisata di sana semua

      Delete
  11. Kalau aku, Nganjuk tetap di hati...

    ReplyDelete
  12. Waah, keluarganya rame. Seneng ya? Kalo saya yang rame keluarga Embah. Saya 'hanya'lima bersaudara. Kalo amlh Emak, sekitar 14 bersaudara. Jadi paman dan bibi saya itu yang segambreng. Seru juga kalo ngumpul. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampun Mbak , 14 bersaudara Emaknya..Kebayang rame keluarga besarnya:D

      Delete
  13. Kediri.. aku belum pernah menginjakkan kaki ke sana. Semoga suatu hari nanti kesampaian. Amon ๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
  14. Waaah...asyiknya yg punya kampung ya. Kampung saya Jakarta tepatnya di Kemayoran & saya hanya bisa mengingat2 dimana rumah Nyak & Engkong, tp rumah ibu & bapak sdh jadi kantor...
    Btw saya jg keluarga besar loh...selusin jumlah kakak beradik.
    Saya bolak-balik jakarta-malang, hanya lewat aja ga oernah mampir ke kediri...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, selusin Mbak..rameee,,,
      Kapan-kapan kalau lewat Kediri mampir Mbak:)

      Delete
  15. 6 bersaudara cewek semuaaaa ... hihiiii kebayang ramainya ... sekarang jadi ber 28 ramaiii sekaliiiii Mbakkk
    Memang kota kelahiran selalu membuat kangen dan rindu, terlalu banyak kenangan yang tersimpan. Ndelalah saya sudah bisa kembali ke kampung halaman sejak 2005, jadi merasa ayem tentrem aja Mbak ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Mbak..udah namabha jadi 31 sekarang :D rameee!
      Alhamdulillah kalau sudah ayem :)

      Delete
  16. Kampung halaman memang selalu dirindu ya, Mba

    ReplyDelete