Merenda Kenangan di Magetan



Holaaaaa...! Kamu perantau bukan ya? Kalau iya, mudiknya kemana?

Kalau saya ke Kota Madiun dan Kediri!

Kota Madiun adalah tempat tinggal Mertua saya, sementara Kediri adalah tempat tinggal Orang Tua saya. Jadi, biasanya saya sekeluarga pulang dulu ke Madiun beberapa hari, kemudian lanjut ke Kediri. Dulu, pernah dibalik tujuannya. Tapi semakin kesini polanya selalu Madiun dulu. Lantaran dari segi lokasi, saat pulang dengan kereta api atau kendaraan pribadi, Madiun dilewati dulu baru Kediri.

Ibu Mertua saya, asli Madiun, sementara Bapak Mertua (alm) dari Magetan. Sedangkan suami saya, lahir dan besar di Kediri. Dimana saat itu, Bapak dan Ibu Mertua menjadi guru sampai pensiun di Kediri.

Jadi kini kalau ditanya, suami sering bingung sendiri. Ngakunya dari Madiun tapi nyatanya enggak pernah tinggal di sini dan enggak tahu banyak daerah ini. Tapi, saat bilang dari Kediri, kok ya enggak punya kampung di sana..hahaha. Untungnya dapat istri orang Kediri, ya! Jadi masih punya alasan untuk datang ke sana.😀

kota Madiun
Nasi pecel di samping rumah ibu, 4 ribu
Nah, setiap pulang ke Madiun, kami lebih sering berada di rumah dan jarang pergi kemana-mana. Paling cuma ke pusat kota, agar anak-anak enggak bosan di rumah saja. Rumah Ibu terletak relatif dekat dengan pusat kota, sehingga di kiri kanannya ramai dan berbagai warung lengkap tersedia. Ada dua minimarket ternama, beragam kuliner seperti pecel, warung mie, tepo tahu, siomay, bakso....Semua bisa didatangi hanya dengan melangkahkan kaki. Enggak perlu jauh-jauh jika ingin jajanan, tinggal keluar sebentar dari rumah dan dapatlah makanan yang enak juga muraaah!

kota Madiun
Rujak cingur..banyaaak, tujuh ribu!
Kondisi fisik Ibu yang sudah berusia 80 tahun, tidak memungkinkan lagi sering-sering diajak pergi kesana-kemari. Meski secara jiwa raga sehat, Ibu berjalan sudah dibantu sebuah tongkat. Itu yang membuat Ibu sering menolak untuk diajak ke tempat keramaian yang bagi anak-anak saya justru menyenangkan. Akhirnya kadang kami kebingungan, mau sering pergi enggak enak hati, sementara Ibu diajakin juga enggak mau. Hadeeh!

Gethuknya seribu rupiah saja
Tapi, sebagai menantu yang baik dan disayang mertua #tsyaah, saya berusaha memakluminya. Dan berusaha menjelaskan pada anak-anak bahwa tujuan pulang adalah untuk menjenguk Eyang Ti-nya dan bukan sekedar jalan-jalan semata. Alhamdulillah mereka mau mengerti dan enggak kekeuh minta pergi-pergi.

Madiun
Makan urap saja ah, 1500 sebungkus
Saat saya pulang pada Lebaran tahun lalu, sebagai sesepuh seperti biasa Ibu kedatangan banyak tamu. Diantaranya adalah ponakan Bapak dari Magetan. Jujur selama 15 tahun jadi menantu, saya belum terlalu kenal dengan mereka. Paling jumpa saat silaturahmi Idul Fitri. Selebihnya saya enggak ngerti silsilah keluarga besar suami. Hal ini disebabkan masing-masing orang tua sudah meninggal dunia. Sehingga saat turun ke anak-anaknya silaturahmi itu menjadi renggang bahkan nyaris tak ada.

Padahal merujuk pada sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Aa sallam ketika ada yang bertanya kepada beliau:

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا

“Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, adakah tersisa perbuatan bakti kepada orang tua yang masih bisa saya lakukan sepeninggal mereka? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: "Berdoa untuk mereka, memohonkan ampunan, melaksanakan janji mereka, menyambung tali silaturahmi yang hanya terhubung melalui mereka serta memuliakan teman-teman mereka” (HR. Ahmad 3/279, Bukhari dalam kitab “Adabul Mufrad”, Abu Daud no. 5142)

Memang seringkali ketika orang tua kita sudah meninggal dunia, tak ada lagi perekat yang menyatukan dengan kerabat. Akhirnya lama-lama tak berasa jadi saudara.

Nah, saya dan suami pun berjanji nanti saat mudik lagi, kami akan menyambung tali silaturahmi dengan mengunjungi ponakan-ponakan Bapak di Magetan. Dan, Alhamdulillah liburan sekolah kemarin rencana itu akhirnya kesampaian.

Saya sekeluarga berkendara bersama keluarga Kakak Ipar dari Jombang, berangkat dengan dua kendaraan dari Madiun. Ada juga sahabat sejak SMA yang juga adik ipar saya dari Solo yang Alhamdulillah bisa pulang kampung juga. Dan, yang terpenting Ibu antusias sekali dengan rencana pergi-pergi ini. Meski pagi-pagi ada drama duluan, Ibu masuk angin dan agak kurang sehat sehingga kami menunda berangkatnya jadi agak siangan.

Enggak apa-apa juga, kan enggak jauh kok Magetan, hanya berjarak sekitar 20 km saja dari Madiun.

Di jalan menuju ke sana, kita akan melewati Bandara Iswahyudi, salah satu pangkalan utama TNI Angkatan Udara yang terletak di kecamatan Maospati. Juga, Magetan mempunyai obyek wisata alam yang terkenal yaitu Telaga Sarangan.

Nah, mumpung ke sana, kami pun berencana ke Telaga Sarangan dulu baru nanti keliling-keliling ke tempat kerabat.

Mengarah ke Telaga Sarangan yang terletak di Kecamatan Plaosan, kita akan melewati jalan yang mulus dan bagus dengan kiri kanan masih banyak pepohonan. Udara yang sejuk juga mulai terasa. Meski harus hati-hati memilih akses jalan, karena ada jalan lama dan baru untuk menuju ke telaga. Karena jalan lama ini curam sekali. Lebih baik ikuti petunjuk yang mengarah ke jalan baru yang lebih landai. Jalan inipun sebenarnya juga memiliki kelokan tajam. Sehingga kepiawaian pengemudi memang dibutuhkan.

Setelah menempuh jarak sekitar 16 km ke arah Barat kota Magetan sampailah kami ke gerbang obyek wisata Telaga Sarangan. Sudah nampak antrian panjang kendaraan yang akan memasuki lokasi. Maklum, kami berkunjung saat libur hari Natal. Jadi ya ramainyaaaa...warbiyasaaah!

Ada retribusi tiket untuk pengunjung dewasa sebesar Rp 10.000 dan anak-anak Rp 7.500 (Kabarnya per 1 Januari 2018, tiket akan naik menjadi Rp.20.000/dewasa dan Rp 15.000/anak)

Parkiran kendaraan dikelola oleh penduduk sekitar di rumah penduduk dan tanah kosong di kiri kanan atau di sekitar danau. Karena khawatir tidak mendapat tempat parkir di dekat danau, kami pun membelokkan kendaraan di parkiran yang diarahkan penduduk. Yang terpikir adalah, bagaimana Ibu nanti saat menuju ke telaganya ya? Kalau jalan menanjak kan kasihan....Syukurlah ada penjaga parkir yang mau saya mintai tolong mengojeki Ibu sampai ke lokasi telaga...Aman jadinya!

Magetan
Meski Ibu kurang sehat tapi tetap kekeuh mau ikutan jalan-jalan
Telaga sudah penuh sesak orang. Sampai-sampai yang biasanya terasa sejuk udara, jadi makin panas hawanya...kebanyakan manusia..

Di sepanjang jalan menuju telaga ada kios-kios cenderamata yang menjajakan macam-macam barang. Ada baju, kerajinan tas etnik juga sayur dan buah segar. Oh ya, Magetan punya sentra kerajinan kulit yang hasil produksinya juga bisa dibeli di sini. Ada pula taman bermain dan deretan tempat makan.

Jalanan padat karena tidak ada aturan jelas, dimana batas kendaraan boleh memasuki area. Jadilah campur aduk desak-desakan antara orang, mobil, motor, pedagang asongan dan kuda. Ya, kuda bisa disewa berkeliling telaga dengan biaya sewa 60 ribu. Si Adik dan sepupunya pun girang sekali menaiki.

Magetan

Telaga Sarangan ini terletak pada ketinggian 1200 m di atas permukaan laut dan mempunyai luas 30 ha dan kedalaman 28 m. Di kejauhan masih nampak hutan yang menghijau. Cantik sekali! Meski, di beberapa tempat terlihat tak tertata termasuk penginapan dan kios yang nampak tak beraturan. Juga fasilitas mushola yang ada kecil saja tempatnya, sehingga harus antri antara pria dan wanita. Semoga ke depannya ada perbaikan fasilitas yaa..

Magetan

Oh ya di telaga juga tersedia wisata air yakni speedboat dengan tiket 50 ribu/orang. Tapi anak-anak saya enggak ada yang mau diajak. Alasannya: "Mereka enggak sedia pelampung, Buk...Itu kan berbahaya!". (Benar juga..terima kasih sudah mengingatkan ya, Nak!)

Telaga Sarangan

Kami pun hanya duduk-duduk di tepi telaga sambil menikmati sate ayam dan sate kelinci. Oh ya, sate kelinci memang terkenal di sini dengan rasa daging yang gurih dan lembut. Juga banyak Ibu-Ibu yang menjinjing bakul berjualan jagung rebus, kacang rebus, keripik-keripik, bunga, buah dan sayur segar yang harganya murah meriah.

Telaga Sarangan

Setelah puas menikmati telaga di lereng gunung Lawu yang sering dikunjungi suami sejak kecil ini, kami pun beranjak pergi. Saya pun mencarikan ojek untuk mengantar Ibu lagi ke parkiran. Karena enggak nemu ojek, akhirnya nyegat penjual yang mau turun ke bawah pakai motor. Untungnya dia mau sekalian ngojekin Ibu, meski sempat menolak dibayar karena hanya ingin membantu.

Turun dari Sarangan kami langsung menuju Pasar Baru Magetan. Di sini kami akan menemui salah satu sepupu suami yang berdagang buah-buahan. Karena waktu masih siang jadi pasar belum tutupan. Masih ramai pedagang dan pembeli yang berdatangan. Mbak Marni, sepupu suami nampak terkejut dan senang sekali dengan kedatangan kami. Langsung deh kukutan(membereskan dagangan) dan mengajak kami pulang ke rumahnya yang juga kampung asal Bapak Mertua yang enggak jauh dari situ.

Kami pun berombongan pulang dengan melewati beberapa jalan di kota Magetan yang lancar dan enggak ada kemacetan. Jalanan ke perumahan penduduk sempit dan agak berkontur naik turun. Tak lama, kami pun sampai ke tempatnya.

Semua rumah lama sudah berubah, begitu komentar suami saya saat menginjakkan kaki di sana.

Pertama kami mengunjungi keponakan tertua Bapak yang rumahnya di bagian depan. Mbak Sri, kelihatan terkejut dengan kedatangan kami. Sampai tangis-tangisan sama Ibu dan meminta maaf karena lama enggak berkunjung ke Madiun. Kami disambut baik bahkan dimasakin makan siang dadakan dari hasil kebun sendiri dan ceplok telor dari ayam di belakang rumah. Begitulah enaknya tinggal di kampung, ada tamu enggak perlu bingung, tinggal ngramban (petik sayuran) dan ambil telor ayam peliharaan. Senangnyaaa...

Berikutnya, jalan ke belakang, ke rumah Mbah-nya suami yang enggak pernah dia temui, karena sudah keburu meninggal dunia sebelum dia lahir. Rumah itu kini sudah ditempati Mbak Marni yang tadi dan sudah direnovasi menjadi bangunan baru. Agak ke belakang ada kebun yang ditanami pohon Jati Mas dan sawah membentang yang membuat mata segar. Sembari bernostalgia, kami pun diajak Mbak Marni menyusuri kali (saluran irigasi) yang dulu dijadikan sumber air bersih bagi warga. Saat suami kecil dulu kalau ke situ pasti mandi di blumbang(cekungan air). Dan, airnya katanya dingiiiin sekali. Kini kali kecil itu masih ada hanya sudah dibangun dengan penambahan tanggul.

Menyusuri pematang sawah sambil bercerita meriah, kok ya mau dulu mandi di kali yang buthek gitu hihihi..Ya, karena dulu kan kalinya masih jernih airnya enggak kayak sekarang, begitu alasannya...Memang iya sih ya..

Mereka bersaudara juga mengenang kalau dulu pas datang, tidurnya beralaskan tikar dengan berteman cuaca dingin Magetan. Tapi hati senang karena bisa ngumpul dengan para sepupu.

Enggak terasa, ngobrolnya sampai beberapa lama. Kami pun berpamitan untuk menuju dua rumah saudara lainnya. Sembari berjanji untuk saling mengunjungi nanti.

Rumah yang dikunjungi berikutnya terletak dekat dengan alun-alun Magetan. Si empunya, ponakan Bapak, juga sama seperti kerabat sebelumnya. Nampak surprised dengan kedatangan kami. Dan, ngomel karena nggak dikabari hihihi...Masalahnya, rumahnya lagi renovasi jadi berantakan di sana-sini.

Di sini, lagi, kami ditawari makan (hadeh beginilah kalau pulang kampung ya..semua ngasih makan..#rejekitamu). Tapi kami tolak dengan halus, karena perut sudah terisi penuh. Meski masuk juga ke perut saat disuguhi tahu petis dan kue putu..(eh, enak gilaaaa! Tahunya lembut, gurih..kue putunya bahannya asli...Enak sekali..atau karena gratis yaa..hahaha)

Di sekitar rumah itu ada 2 saudara lainnya, sehingga memudahkan kami, karena enggak perlu jauh kemana-mana. Yang bersangkutan mendatangi kami di tempat kakak tertuanya.

Hari sudah malam saat kami berpamitan. Masih ada satu saudara lagi yang harus didatangi. Lokasinya agak lupa pula, karena malam hari jadi sudah enggak tanda lagi dimana. Jadilah musti nanya dulu ke warga sekitar situ.

Setelah ketemu, lagi..kami hendak disuguhi makan. Waduh, ..!

Kami pun menolak, bahkan secangkir kopi saat hendak dibuatkan pun kami tak hendak. Tapi, yang namanya kedatangan tamu, merasa enggak enak hati teteup bercangkir kopi dan teh panas pun tersaji juga di meja. Oh ya di rumah yang terakhir ini masih ada iparnya Bapak yang tinggal, meski sudah sepuh. Dan, karena kami menolak makan, pulangnya dibawakan sekarung beras hasil panenan. Masya Allah...

Akhirnya perjalanan kami pun tuntas sudah dan pulang ke Madiun dengan hati berbuncah. Karena hari itu tak hanya bisa menikmati salah satu ciptaan Allah yang sungguh indah yaitu Telaga Sarangan. Juga sembari menyambung tali silaturahmi dengan keluarga besar Bapak di Magetan.

Insya Allah, kunjungan ini akan jadi kegitan rutin kami.

Bukankah silaturahmi akan membuat orang yang telah wafat bahagia, karena keluarga yang ditinggalkannya tetap menjalin hubungan baik satu dengan yang lainnya?

Kota Madiun
Sehat-sehat ya Eyang Ti 😍
Oh ya, kalau kamu berencana ke Magetan, bisa datang waktu ada event tahunan Telaga Sarangan. Ada labuh sesaji tiap Jumat Pon bulan Ruwah penanggalan Jawa, liburan sekolah di bulan Juli, Ledug Sura 1 Muharam dan malam pergantian tahun 31 Des. Info terkini bisa dicari di website resmi Kabupaten Magetan yaa...

Juga, dari Telaga Sarangan, selain eksplore ke beberapa obyek lain di Magetan (ada Mojosemi Forest Park-yang sayangnya saya belum sempat datangi), kamu bisa sekalian ke arah Kabupaten Karanganyar. Karena jalannya sudah bisa tembus ke obyek wisata yang sejalur yaitu: Grojogan Sewu, Tawangmangu. Siiip? Selamat jalan-jalan yaaa...

Karanganyar
Grojogan Sewu, 2015



Happy Traveling Happy Sharing

Dian Restu Agustina



#SatuHariSatuKaryaIIDN
#Harike5
#TemaBebas

30 comments:

  1. Kulinernya bikin ngiler nih
    saya perantau dan pulangnya ke palembang
    tapi setahun sekali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siip...Dulu waktu masih di luar Jawa, saya mudik juga setahun sekali. Sekarang karena lebih dekat jaraknya, jadi setahun dua kali:)

      Delete
  2. Waaah ... sate kelinciiii ... pingiiiin.

    ReplyDelete
  3. saya belum pernah sama skali nih ke magetan..madiun juga belum pernah..
    yang ke kedirinya yang udah beberapa kali..
    nggumul ya klo kediri itu.. saya pernah kesana..^^

    ReplyDelete
  4. Wisata itu jodohnya memang dengan kuliner. Dan saya pingin nyoba rujak cingur secara utuh bukan hanya mencicipi milik teman yang sedang makan, hehe

    ReplyDelete
  5. Kok salfok sama kuliner ramah isi kantongnya yaa 😂
    Mudah2an eyang ti nya selalu sehat mbak amiin

    Salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..pulang dari sanan berat badan nambah ini hihi:)
      Aamiin, makasih doanya

      Delete
  6. Madiun, Caruban, Magetam selalu membekas dihatiku Mbak Dian. Penduduk yang ramah, bicaranya lembut, harga di pasarnya murah, makanannya enak.

    Pokoknya ngangenin bangettt huhuhuu.. Pengen nangis, aku dulu nikah di Madiun Mbak

    ReplyDelete
  7. Magetan oh Magegtan ternyata banyak yang tahu juga. Padahal dulu banyak yang tanya, di mana magetan itu? Ahh, mereka taunya Madiun aja karena tragedi 48

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tahu lah ..Dari kecil sudah pernah ke Magetan saya:)

      Delete
  8. senangnya jalan-jalan sambil bersilaturahmi,
    betul kita orang timur kental dengan budaya yang santun, tamu adalah raja, sajian menjadi sesuatu yg menyempurnakan dalam penyambutan sebagai rasa bahagia, penghormatan karena kunjungan, tradisi yg elok.
    Aku ingin lihat langsung keindahan alam disana, semoga saja kesampaian hehe

    ReplyDelete
  9. seumur-umur saya belum pernah jadi anak rantau, kang kepingin jadi anak rantau gmna rasanya :D

    ReplyDelete
  10. Pengen sate kelincinya, di Medan tak ade tuh. Kalo rujak cingur, nay. Dari kecil suka geli membayangkan cingurnya. Padahal kan enak ya kata orang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sate kelinci paling terkenal di daerah sini Mbak..karena ada peternakan kelinci.
      Rujak cingur bisa kok enggak pakai cingur..hihihi..teteup enak:D

      Delete
  11. Duuuh Mbaaak...saya kok jadi baper ya ... hiks
    Jadi kangen rumah simbah di walikukun, Madiun. Setiap kali saya ke sana, pasti disediakan nasi pecel. Kuliner yang paling enaak, kalau menurut saya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..saya nambah berat badan kalau pulang dari kampung...makaaaan terus kwkwkw

      Delete
  12. Jadi kangen makanan Jatim.. kabeeeh ..tapi ora sate kelincine. Nggak tegel maem e

    ReplyDelete
  13. Enak mba kalo mudik bisa dtg ke dua tempat sekaligus. Aku ama suami gantian. Krn aku orang medan, dan suami org solo. Ga mungkin bisa didatangin 2-2 nya. Tiket ke medan kalo peak season gitu sama ama tiket ke HK pas promo wkwkwkwkwk... Jd terpaksa ganti2an tiap thn..

    Telaga sarangan aku sukaaaa bgt. Pas kesana lg sepi. Kabutnya turun, cuaca jd lbh dingin. Tp bener kata anakmu. Kenapalah itu yg naik seed boat ga diksh baju pelampung. Kalo ada kecelakaan gimana. Apalagi itu dalan banget airnya . Tapi tiap ke telaga aku ga pernah mau makan sate kelinci . Dipaksa ama suami jg emoh. Kasian soalnya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya..untungnya searah jadi bisa sekalian biaya perjalanannya. Tapi enggak enaknya, saya mesti ketinggalan karena Kediri selalu belakangan didatangi. Jadi lebaran enggak pernah dapat hari pertama hahaha

      Delete
  14. Ya ampuuun banyak banget bucketlistkuuuh. Kalau gak ada saudara kadang suka ngerasa ngapain ya ke sana. Tapi ngeliat kulinernya jadi pengen banget, nyobain pecel khas sana langsung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo..ke Madiun dan sekitarnya buanyaak tempat oke hehe:)

      Delete
  15. begitulah kalau main ke kampung mbak. Akupun waktu main ke kampung masa kecilnya suami yaitu ke Ponorogo, tiap berenti di rumah teman2 masa kecilnya ya makan melulu, dan wajib hukumnya enggak boleh nolak, hahahaha (diet selalu dimulai dari besok ya mbak judulnya)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya Mbak..hari itu kami makan 5 kali total..lupakan saja diet saat pulkam :)

      Delete