Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Yuk ke Keraton Kasepuhan Cirebon, Museumnya Keren, Lho!

Setelah makan siang di Empal Gentong H Apud, tujuan berikutnya adalah Keraton Kasepuhan Cirebon. 

Keraton ini terletak di Jl. Kasepuhan 43, Lemahwungkuk, Kota Cirebon dan bisa dikunjungi dari pukul 8 pagi sampai 6 sore.

Sesampai di depan keraton, kita akan diarahkan untuk parkir di bagian depan yang merupakan alun-alun keraton. Tempat parkir ini cukup luas, hanya saja kurang terawat karena rumputnya tinggi dan tanahnya tidak rata. Oh ya, parkir kendaraan ini bertarif 10 ribu rupiah.





Museum Pusaka Cirebon
bagian depan Keraton Kasepuhan Cirebon
Lalu menyeberang ke arah keraton, sampailah di loket tiket dimana harga tiket untuk pelajar adalah 10 ribu, umum 15 ribu dan wisatawan mancanegara 20 ribu. Tiket ini hanya untuk memasuki area keraton saja, begitu info yang terbaca.

Setelah membeli tiket dan melewati pemeriksaan di pintu gerbang, seorang petugas pemandu wisata menawarkan jasanya. Kami pun mengiyakan untuk bantuan guide ini. Tarifnya sukarela karena enggak ada patokan di loket tiketnya. Mengapa memilih pakai guide? Biar tahu kisah tempat yang saya tuju. Jadi enggak cuma dolan tapi dapat juga pengetahuan dan sekalian bisa minta bantuan saat pepotoan.

Museum Pusaka Cirebon
Candi Bentar
Memasuki area keraton kita akan melewati pintu gerbang atau Candi Bentar menuju ke Siti Hinggil. Yang merupakan bangunan tinggi dengan tembok bata kokoh mengelilingi.

Di area Siti Hinggil ada lima bangunan tak bertembok yang dinamai sesuai fungsi. Ada: Mande Malang Semirang (tempat untuk Sultan), Mande Pendawa Lima (untuk pengawal), Mande Semar Tinandu (untuk penasehat Sultan), Mande Pengiring (tempat untuk pengiring), Mande Karasemen (tempat penabuh gamelan).

Sampai kini, setahun dua kali tempat ini difungsikan, yaitu saat perayaan Hari Raya Idul fitri dan Idul Adha dimana gamelan Sekaten dibunyikan.

Museum Pusaka Cirebon
Siti Hinggil
Selanjutnya kita akan melewati gerbang berikutnya dan menemui Halaman Pengada yang dulunya berfungsi sebagai tempat menambatkan kuda. Dan ada Langgar Agung di sisi kanannya yang dulunya berfungsi sebagai tempat beribadah kerabat keraton.

Lanjut ke arah dalam di sisi kiri ada Museum Pusaka, bangunan baru yang diresmikan oleh Presiden Jokowi tahun lalu

Kemudian akan nampak di depan kita Taman Dewandaru yang berukuran 20 meter persegi dengan bentuk melingkar. Dimana di taman ini ada pohon Soko, sepasang meriam (Ki Santomo dan Nyi Santoni) dan dua ekor macan putih (lambang kerajaan Pajajaran)

Museum Pusaka Cirebon

Sementara, di sisi kanan taman ada Bangsal Keraton dan Langgar Alit. Serta di sisi kiri ada bangunan Sri Menganti (tempat menunggu keputusan Sultan).

Berikutnya di depan taman adalah bangunan utama tempat Sultan melakukan kegiatan kesultanan. Tempat ini tidak dibuka untuk umum untuk mencegah kerusakan lantaran sampai sekarang tempat ini masih digunakan. 

Museum Pusaka
penampakan luar bagian induk keraton

Museum Pusaka
bagian dalam bangunan induk keraton (saya foto dari balik jendela)
Mengarah ke sebelah kiri kita akan menuju Dalem Agung Pakungwati dimana di di sisi kanan akan kelihatan beberapa rumah kerabat keraton yang berada di lingkungan dalam, sehingga kelihatan sedikit mengganggu pemandangan. Saran saya buat pengelola: kalau bisa diberi pagar pembatas sehingga jelas antara bangunan keraton dan rumah kerabat yang berbentuk biasa...

Setelah melewati halaman yang luas, ada sebuah bangunan megah, Bangsal Pagelaran yang dibangun saat diselenggarakan Festival Keraton Nusantara kedua pada 997.

Mengarah ke kiri, ke Patilasan Dalem Agung Pakungwati, kita harus membayar tiket masuk lagi sebesar 10 ribu/orang. Entah kenapa tiketnya bisa terpisah dengan yang di pintu masuk depan. Saya juga baru tahu kalau di sini bayar lagi. Mungkin agar tidak memberatkan pengunjung karena jika digabung akan kemahalan.

Hmm, tapi kalau tiket jadi satu tentu lebih memudahkan wisatawan, karena bayar sekalian. Apakah mungkin karena dikelola oleh garis keturunan yang berbeda? Entahlah!

FYI, Keraton Kasepuhan dikelola oleh pihak keraton sendiri dengan Sultan sebagai Kepala Adatnya, jadi bukan pemerintah pengelolanya.

Setelah melewati pintu gerbang yang kecil, kita akan melewati dinding berbatu bata yang masih kokoh meski telah berusia ratusan tahun dengan jalan setapak yang ber-paving rapi. Ada beberapa pohon besar yang menaungi area yang tak kalah tua usianya dengan bangunan keratonnya. 

Museum Pusaka Cirebon
Sumur Tujuh
Ada juga beberapa sumur, yang dipercaya bisa memberikan keberkahan bagi yang meminumnya/berwudhu/mandi di situ. Dan pengunjung bisa menikmati kesegaran airnya baik di tempat maupun jika ingin dibawa pulang. Ada petugas yang menjaga yang meminta jasa 10 ribu untuk per botol/1 liter.

Oh ya, di beberapa tempat ada yang meletakkan kotak/kardus sebagai sumbangan sukarela uang kebersihan. Padahal lingkungan di sekitar nampak kurang terawat. Rumput dan semak yang tinggi dan tak terpelihara rapi juga nampak di sana sini. Sayang sekali!

Museum Pusaka Cirebon

Di area yang sama ada Sumur Kejayaan dimana terdapat Petilasan P. Cakrabuana dan Petilasan Sunan Gunung Jati. Di sini perempuan dilarang masuk, karena hanya khusus untuk kaum laki-laki. 

Kembali ke area depan, kami pun menyinggahi Museum Pusaka Keraton Kasepuhan yang diresmikan Presiden Jokowi pada 18 September 2017. 

Bangunan luar museum nampak megah berdesain senada dengan bangunan di area keraton lainnya. Tiket memasuki museum sebesar 25 ribu/orang. 

Keraton Kasepuhan Cirebon

Bangunan modern dan koleksi yang keren segera menyapa kita begitu memasuki bagian dalamnya.

Ada koleksi keris pada era Cirebon Awal Panembahan Girilaya. Koleksi keramik Cina peninggalan Putri Ong Tien (istri Sunan gunung Jati). Juga Kereta Kencana Singa Barong yang mendapat penghargaan sebagai kereta kencana tercantik di dunia dari UNESCO. 

Kereta ini dibuat pada abad ke-15 sebagai lambang persahabatan. Kereta cantik ini memiliki bentuk yang unik, Ada kepala naga dengan belalai gajah, dan sebuah sayap pada badan naga tersebut, sementara ketika keluarga kerajaan menaikinya, kereta Singa Barong harus ditarik oleh 4 ekor kerbau putih.

Keraton Kasepuhan Cirebon
Kereta Kencana Singa Barong
Kepala naga merupakan lambang negeri Cina, belalai gajah merupakan perlambang bangsa Hindu di India, sebab sebelum masuknya Islam ke tanah Jawa, tanah Cirebon dikuasai oleh penganut agama Hindu, sedangan sayap dan badan buroq merupakan perlambang negara Mesir. Pada bagian belalai naga, terdapat sebuah trisula. Trisula ini melambangkan rasa, cipta, serta karsa manusia! Hm, betapa saat itu toleransi sudah membumi di negeri ini yaa! 

Selain itu, terdapat lapisan serbuk emas dan intan pada tubuh kereta sehingga menjadikannya lebih indah ketika dipandang. Kereta ini memiliki roda yang tak kalah hebat juga. Karena rodanya bisa berputar 90 derajat sehingga lebih gampang untuk berbelok ke mana-mana. Juga sayap dari Kereta Kencana ini bisa dikepakkan dari atas ke bawah. Hebat perancangnya!

Yang pasti karena usia, kereta tidak diperkenankan dipakai lagi. Dan kini sudah ada replika kereta yang pada saat ada acara, dikeluarkan oleh pihak keraton. Tapi, replika ini tak bisa menyamai persis kebisaan dari sang Kereta Kencana Singa Barong tadi.

Beberapa koleksi lain di Museum Pusaka Keraton Kasepuhan diantaranya:

Keraton Kasepuhan Cirebon
Gamelan Sekaten, dibuat tahun 1495 M

Museum Pusaka Keraton Cirebon
Lukisan Maharaja Prabu Siliwangi, 3 dimensi, matanya bisa mengikuti kita

Museum Pusaka Cirebon
Alat Debus Banten

Keraton Kasepuhan Cirebon
Kursi dan ukiran peninggalan keraton Cirebon

Keraton Kasepuhan Cirebon
tanduk rusa

Juga koleksi lainnya diantaranya: rebana peninggalan Sunan Kalijaga, gamelan Kodok Ngorek peninggalan Sunan Kalijaga, Meriam Mongolia, baju zirah prajurit Keraton Kasepuhan, Batu Peluru Bandil, Ukiran Wayang Ki Togog dan Ki Semar, berbagai senjata dari daerah lainnya, Ruang Pusaka Sunan Gunung Jati (buka hanya tiap hari Minggu saja) dan beraneka koleksi lainnya.

Keraton Kasepuhan Cirebon
lorong museum

Keraton Kasepuhan Cirebon
beberapa koleksi
Meski tak terlalu luas areanya, tapi karena penataan yang optimal dan efisien, museum ini termasuk dalam kategori keren!

Begitu keluar ke arah pintu luar, di tengah gerimis yang menghadang, saya sekeluarga pun puas telah mendatangi salah satu warisan budaya Indonesia yang sampai kini masih terjaga. Teriring doa semoga ke depannya, pengelolaan Keraton Kasepuhan Cirebon ini lebih ditingkatkan lagi. Dengan memperhatikan masalah kebersihan area, perawatan berkala pada bangunan dan benda peninggalan, penambahan fasilitas seperti toilet yang lebih layak dan penataan area agar wisatawan makin nyaman saat datang.

Sebagai penutup, mari kita hormati leluhur dan rawat peninggalannya, begitu pesan yang disampaikan oleh Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat di bagian depan museum.

Museum Pusaka Cirebon

Karena sudah hampir Maghrib dan hujan turun makin deras, maka niatan berkeliling di area luar Keraton Kasepuhan pun kami urungkan.

Dan, kami pun melanjutkan perjalanan ke penginapan, Hotel Cordela Cirebon.




Yuk ah, kapan-kapan main ke Cirebon!



Happy Traveling,

Dian Restu Agustina







Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

32 komentar untuk "Yuk ke Keraton Kasepuhan Cirebon, Museumnya Keren, Lho!"

  1. Saya mah sudah jarang maen maen ke museum, sepertinya perlu banyak maen ke museum agar bisa mengenal sejarah lebih jauh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak museum dengan desain modern Mas, Kunjungi saja, asyik juga kok

      Hapus
  2. Foto prabu Siliwangi kok ada disitu ya, bukan nya beliau Dr kerajaan Padjajaran..

    Haduh jadi inget sejarah baca artikel mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Prabu Siliwangi adalah Raja Pajajaran, sekaligus ayah dari Pangeran Cakrabuana yang merupakan pendiri Cirebon. Sang Pangeran adalah paman dari Sunan Gunung Jati, yang berandil besar dalam penyebaran agama Islam di Kota Udang tersebut.

      Begitu sejarahnya, Mas 😊

      Hapus
  3. Udah bagus ya musiumnya..iya nekanya pake tourguide, biar tau jalan ceritanya...saya terakhir kesana th 92...hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mba.. Baru ini, belum setahun, semoga terus terawat museumnya . Yuk kesana lagi lain kali...

      Hapus
  4. Selama ini cuma lewat saja di Cirebon, banyak onjek wisata menarik ya. Museumnya lengkap dan rapi, senang lihatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, selama ini saya juga cuma lewat pas mudik aja..
      Yuk lain kali mampir Cirebon..

      Hapus
  5. Mbaaaa.. Baru tau saya kegunaan HQQ si tur gaed ituh..

    Kami biasanya selalu menolak tawaran kayak gitu, ternyata oke juga yaaa buat nambah pengetahuan buat isi blog dan paling pentingggg ada yang bisa fotoin hahahaha 😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah yang terakhir itu paling penting hihihi.. Jadi nggak minta tolong orang lain..

      Hapus
  6. Wajah, harus ke sana nih. Khusus jelajah Keraton. Beberapa kali ke Cirebon tapi belum ada kesempatan ke keraton. Jadi tambah penasaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum ya Mbak Denik.. Yuk ah segera bikin rencana...

      Hapus
  7. Dulu waktu ke cirebon bingung mau ngapain, ternyata banyak yang bisa dieksplor ya mba... Kayanya next bisa masuk list nih Cirebon, secara gak jauh juga dari Jakarta.

    BalasHapus
  8. Wah, masih dikelola pihak keluarga sendiri? Unik juga, nih. Biasanya tempat2 kayak gini sudah diambil alih PEMDA untuk pengelolaannya. Tapi kalau bisa ngerawat sih gpp, pasti lebih kopen karena ada ikatan tersendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak..masih dikelola sendiri..Semoga lebih rapi nanti:)

      Hapus
  9. Wahh jadi pengen ke sana. Klo saya ke cirebon pikirannya kuliner hehehe. Next time, coba mampir ke sini deh. Masuk keraton baru di Jogja aja. Terima kasih sharingnya ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ke keraton juga biar tahu sejarah kita mbak..hehe

      Hapus
  10. Ternyata penataan museum keratonnya bagus juga ya ... , menyerupai penataan di museum keraton Surakarta dan Yogyakarta.

    BalasHapus
  11. Cirebon salah satu destinasi yang pengen kutuju. Noted mbak, nanti ke sana insyaAllah aamiin.
    Keraton Cirebon ini unik ya, kyknya campuran budaya Jawa dan Sunda gtu...
    Oh ya di Cirebon tu ada kendaraan online tdk sih? Maklum gk ada mobil sendiri, jd kyknya ke sananya pakai kereta :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada mbak, bisa ke sana naik kereta api terus di kota puter-puternya pake ojol

      Hapus
  12. Pengen ke cirebon belum kesampaian terus nih aku mbak

    BalasHapus
  13. Seneng ya jalan2 sambil tau sejarah, bagus buat ank2 juga. Pasti bnyk tempat2 yg bagus y

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang sengaja cari tempat yang ada muatan sejarahnya, karena ajak anak-anak

      Hapus
  14. Aku masukin daftar wishlist piknik aku ah. Keren.

    BalasHapus
  15. ya ampun aku belum pernah ke keraton di Cirebon.. bisa jadi wisata edukasi banget ini. Btw mba Dian pantes mama muda alias awet muda bgt gitu kegiatan travelling sama keluarga sepertinya sudah menjadi salah satu rutinitas hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus..traveling bikin aeet muda, karena meski jalan kemana-mana haha

      Hapus
  16. Jadi kepengen kesana. Moga suatu saat bisa kesana bersama keluarga

    BalasHapus