Menikmati Pura Ulun Danu Beratan dan Kebun Raya Bali yang Menawan

"Perjalanan akan membuatmu tidak dapat berkata-kata, lalu mengubahmu menjadi pencerita" (Ibnu Batutta - musafir abad ke-14)
Setelah menikmati indahnya Pantai Lovina, saya dan keluarga pun melanjutkan perjalanan di hari kedua di Pulau Dewata. Agak melenceng dari rencana semula, yang seharusnya bisa lebih pagi agar bisa sightseeing di area Singaraja, kami pun langsung bertolak ke Kintamani dengan singgah terlebih dahulu di Bedugul.

Perjalanan ini akan melewati "jalan cacing" begitu sebut suami saya setelah melihat gambar di layar GPS Garmin yang terpasang di mobil. Pasalnya, rute Singaraja-Bedugul memang harus melewati pegunungan dengan kelokan tajam. Jadi diperlukan kehati-hatian saat mengemudikan kendaraan. Bahkan di beberapa tempat ada yang diselimuti kabut tipis yang bisa menghalangi jarak pandang pengemudi.

Jadilah, sopir tembak macam saya nyerah! Duduk manis di samping sopir utama saja lah..hahaha


Kondisi jalanan inilah yang membuat jarak sepanjang sekitar 30 km harus ditempuh selama satu jam lebih. Bukan saja karena medan dengan tanjakan, tikungan dan turunan yang bikin harus lebih waspada. Tapi juga lantaran kemacetan yang terjadi saat mendekati tempat wisata Danau Beratan.

Danau Beratan, tujuan kami ini adalah sebuah danau  yang terletak di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Berada paling timur di antara 2 danau lainnya, yakni, Danau Buyan dan Danau Tamblingan dan terletak di ketinggian 1240 Meter di atas permukaan laut.


Suhu di sini dingin, dimana saat malam hari bisa mencapai 18 derajat Celcius dan 24 derajat Celcius pada siang hari. Luas danaunya kurang lebih 275,6 Hektar dengan kedalaman 22 sampai 48 meter. Dan merupakan danau terbesar kedua di Bali setelah Danau Batur.

Keindahan Danau Beratan makin lengkap karena ada sebuah pura di tengahnya yaitu Pura Ulun Danu Beratan. Sebuah pura yang dibangun oleh I Gusti Agung Putu pada Tahun Saka 1556 (1634 Masehi).

Danau Beratan

Pura ini adalah tempat suci yang digunakan oleh umat Hindu di Bali maupun di Indonesia untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa). Khususnya untuk memohon kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan manusia dan kelestarian alam.

Kawasan daya tarik wisata Danau Beratan ini, memang menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi wisatawan di Bali. Tak heran, kepadatan lalu lintas pun terasa saat menuju ke sana. Sehingga saya menjadi bagian dari antrian panjang yang terjadi di 2 kilometer menjelang lokasi. Hiks!

Danau Beratan

Untung saja, hati terhibur melihat sisi kanan dan kiri. Dimana perumahan penduduk yang berarsitektur Bali yang unik dan cantik bikin mata jadi segar-segar saja. Belum lagi sambil menikmati penjor di depan rumah mereka. Pelengkap mebanten (persembahan) pada Hari Raya Galungan - Kuningan yang jatuhnya hampir bersamaan dengan Idul Fitri 1439 H, yaitu pada Rabu 30 Mei - Sabtu 9 Juni 2018 lalu.

Di kepadatan jalanan menjelang lokasi, nampak banyak kendaraan yang parkir di luar area, di kiri dan kanan jalan yang ada. Lantaran tempat parkir di dalam memang terbatas dan ternyata penuh dengan bis dan kendaraan lainnya.

Danau Beratan

Tapi syukurlah di sepanjang jalan, berjaga Polantas yang siap sedia mengatur dan mengurai kemacetan. Acung jempol untuk Polda, jajaran pemerintahan dan masyarakat Bali semua, yang makin hari makin siap dalam menyambut dan melayani wisatawan di wilayahnya.

Lanjut lagi...., setelah membayar karcis parkir sebesar 5 ribu rupiah dan membeli tiket masuk di loket seharga 20 ribu per orang, kami pun memasuki area di tengah ramainya wisatawan. Padaaat pengunjungnya!!

Danau Beratan

Dan, begitu memasuki gerbang masuknya, saya terpana dengan perubahan tempatnya. Kini area wisatanya diperluas dan dipercantik lagi. Sangat berbeda dibandingkan belasan tahun silam saat saya beberapa kali ke sini ketika tinggal di Denpasar, Bali.

Semuanya terawat dan ada tambahan beberapa bangunan baik permanen maupun sementara, juga ditambahkan taman. Apalagi saya berkunjung bertepatan dengan diselenggarakannya Ulun Danau Beratan Art Festival IV, pada 13 Juni - 1 Juli 2018. Dimana puncak acara adalah pada 24 - 26 Juni 2018. Pantas saja baik Wisatawan Mancanegara maupun Nusantara tumplek bleggg ada di sana.

Saking ramainya sampai-sampai mau cari spot foto saja sampai kesulitan saya...Hiks!

Danau Beratan

Setelah nyempil biar dapat latar menawan untuk pepotoan, kami pun berkeliling ke area yang buka dari pukul 5 pagi sampai 7 malam ini.

Saya sedikit bercerita ke anak-anak apa yang pernah saya baca tentang candi air seperti ini yang merupakan tempat pemujaan untuk Dewi Danu, sang dewi pemberi kesuburan. Danau Beratan ini memang menjadi sumber irigasi bagi perkebunan buah dan sayur di sekitar tempat ini.

Danau Beratan

Udara yang sejuk, tanah yang subur dan air yang melimpah membuat wilayah ini cocok untuk menanam sayur dan buah. Tak heran jika di Bedugul akan banyak ditemui sayuran segar dan buah-buahan khas tanaman pegunungan. Yang hasil panennya bisa kita dapatkan di Pasar Candi Kuning yang terletak tak jauh dari Danau Beratan ini.

Danau Beratan

Tapi, harusnya datang ke sini itu pagi-pagi (pengalaman saya dulu pernah menginap di hotel di dekat sini). Karena kita akan bisa menikmati pemandangan matahari terbit yang muncul perlahan dari balik perbukitan yang membuat kabut di atas danau pun angkat kaki.

Indah sekaliii!!

Dan, keindahan inilah yang menginpirasi saya, menuliskan sebuah cerpen yang dimuat di NOVA yang berlatarkan Danau Beratan dalam cerita Kembar Buncing. 😍

Danau Beratan

Selain bangunan tempat persembahyangan bagi Agama Hindu, di lokasi ini juga terdapat sebuah stupa Budha. Stupa ini dibangun bersamaan dengan komplek pura di Pura Ulun Danu Beratan Bali. Sebuah stupa yang memiliki makna adanya keselarasan dan harmoni beragama. Dimana stupa dibangun dengan posisi menghadap ke Selatan dan berlokasi di luar area utama komplek Pura Ulun Danu Beratan.

Tak hanya itu, obyek wisata ini juga dilengkapi sarana rekreasi air seperti speed boat keliling danau, sepeda air, berfoto dengan binatang unik, kandang rusa dan area bermain anak. Jadi, jika sudah puas wefie sana-sini bisa sekalian coba aneka kegiatan ini. Biar puas capeknyaaa...πŸ˜€

Danau Beratan

Kalau sudah puas menikmati danau dan bermain bersama keluarga dan lapar pun mendera, bisa langsung ke restoran yang ada di dalam area kawasan. Atau membeli cendera mata di deretan kios souvenir yang ada.

Dan bagi teman-teman Muslim jika ingin mencari rumah makan Muslim pun tak perlu khawatir. Di seberang lokasi wisata ada sebuah rumah makan yang lumayan rasanya. Namanya Warung Muslim Taliwang Bu Hj Marfu'ah.

Pura Ulun Danu Beratan

Menunya endesss...meski buat lidah Jawa saya, sambelnya kurang ada manisnya #teteup. kwkwkw. Karena hanya asin dan pedes saja seperti masakan Bali dan Lombok pada umumnya. Tapi menu yang lain oke punya kok..

Sedangkan harganya...enggak mahal juga! Apalagi ada tercantum harga tertera. Seringkali kita temui, rumah makan di tempat wisata tak mencantumkan harga dan ujung-ujungnya kita shock saat membayarnya. Dikemplang! Hadeeeh! Makanya biar sedikit mahal, mending pilih tempat makan yang pasti-pasti saja seperti ini.

Pura Ulun Danu Beratan

Pilihan menunya pun lengkap, buat anak-anak ada pilihannya. Tempatnya dua lantai dengan kapasitas tempat duduk yang lumayan banyak. Tersedia pula toilet bersih dan mushola. Juga ada aneka camilan sebagai buah tangan.

Kami memilih menu Taliwang paket, sate, rawon, soto, Taliwang porsi dilengkapi 4 nasi dan 4 buah minuman. Semuanya habis 193 ribu rupiah.

Warung Muslim di Danau Beratan

Oh ya, waktu menunggu makanan pun enggak lama. Padahal saat saya di situ, pengunjungnya ramainyaaa...Tapi karena pelayannya banyak, jadi perut enggak perlu kelamaan nunggunya.

Karena perut sudah kenyang dan hati senang sudah berkunjung ke Pura Ulun Danu Beratan, maka tiba saatnya kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bali.

Danau Beratan

Menjelang arah ke Kebun Raya Bali yang jauhnya sekitar 3 km dari Pura Ulun Danu Beratan ini, akan kita temui Pasar Candikuning yang terletak di sisi kanan jalan.

Tapi, meski mupeng habis, lihat dari luar kios buah, sayur segar juga aneka jajanan yang menggoda iman. Dan lirikan mata si Bapake yang nampak keberatan,...jadi skip dulu ke pasarnya. Karena perjalanan masih jauh pemirsaaah..hahaha

Oh ya setelah pasar akan ada patung jagung dan dua belokan ke kanan. Yang satu menuju Kebun Raya Bali dan yang lain ke perkampungan. Kami sempat salah belok di sini hihihi. Jadilah muter balik lagi dan ke jalan satu lagi menuju kebun botani yang terletak di wilayah Candikuning, Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.

Kebun Raya Bedugul

Kebun yang merupakan kebun raya pertama yang didirikan oleh putra bangsa Indonesia ini pengelolaannya dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dan secara struktur organisasi, kebun raya ini berada di bawah pembinaan Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor.

Kebun raya ini didirikan pada 15 Juli 1959. Dan pada awalnya bernama, Kebun Raya Eka Karya Bali dan hanya diperuntukkan bagi tumbuhan runjung (tumbuhan berdaun jarum). Seiring dengan perkembangan dan perubahan status serta luas kawasannya, kebun yang berada pada ketinggian 1.250–1.450 m dpl ini kini menjadi kawasan konservasi ex-situ bagi tumbuhan pegunungan tropika Kawasan Timur Indonesia. Dan luas kawasan Kebun Raya yang semula hanya 50 ha  pun diperluas menjadi 157,5 ha.

Kebun Raya Bedugul

Begitu memasuki Candi Bentar yang menjadi gerbang utama Kebun Raya, kita akan mendapati loket pembelian tiket. Tiket masuk adalah sebesar 11 ribu/orang. Dan untuk kendaraan dikenakan biaya masuk 12 ribu rupiah.

Untuk mobil diperkenankan masuk ke lokasi dan berkeliling ke area Kebun Raya. Sedangkan motor atau bis hanya bisa sampai di tempat parkir saja.

Kebun Raya Bedugul

Setelahnya ketika memasuki area Kebun Raya, hawa sejuk pun menerpa. Adeeeem melihat hijaunya pepohonan dan rumput luas yang terhampar. Ada beberapa kendaraan yang parkir di sepanjang jalan di area dalam juga rombongan yang bersantai di lapangan hijau atau bale bengong yang ada.

Memang Kebun Raya Bali ini bisa dijadikan tempat acara baik keluarga maupun perusahaan dan komunitas dengan aturan tertentu. Acara family gathering atau field trip sekolah biasanya yang sering diadakan di sini.

Kebun Raya Bedugul

Mereka bisa mengadakan acara di lapangan rumput yang ada. Luasan yang cukup untuk sekalian melakukan beragam permainan. Atau juga untuk keluarga bisa juga setelah berkeliling area Kebun Raya, bercengkerama di rerumputan yang terawat rapi ini.

Jika perut keroncongan, pengunjung juga tak perlu khawatir. Karena ada kafe yang menjual makanan dan minuman di dalam area. Tapi lebih baik memang bebekelan sendiri, bawa rantang dan tikar sekalian. Karena tempatnya memang recommended buat piknik.


Kebun Raya Bedugul

Oh ya, ketika menyusuri jalan masuk Kebun Raya kita akan mendapati beberapa patung yang menghiasi bundaran jalannya. Ini instagrammable spot buat para penyuka pepotoan. Selain itu ada beraneka koleksi Anggrek, tanaman obat, Kaktus, dan masih banyak yang lainnya. Pokoknya kalau mau buat kunjungan penelitian atau belajar enggak bakal kelar seharian.

Tapi enggak perlu khawatir, ada penginapan jika memang wisatawan ingin bermalam di Kebun Raya Bali, yakni di Guest House Etnobotani.

Meski, yang mau seharian saja tanpa menginap pun sudah bisa datang ke Kebun Raya sejak jam buka pada pukul 8 pagi dan tutup pada pukul 6 sore.

Kebun Raya Bedugul

Kemudian kita pun bisa menikmati keindahan pemandangan Danau Beratan dari ketinggian di Kebun Raya Bali ini, yaitu di sisi lake view. Dari sini nih..danaunya terlihat kereeen bangets!

Oh ya, anak-anak pun bisa dibawakan bola atau mainan lainnya kalau ke sini. Dan biarkan mereka lari-lari sepuas hati di hijaunya rumput. Meski tetap harus hati-hati karena kontur Kebun Raya yang berbukit dan miring, khawatir mereka terguling dan terperosok ke arah yang dalam.

Kebun Raya Bedugul

Oh ya, di dalam kompleks Kebun Raya juga ada taman yang khusus menjadi konservasi tanaman yadnya atau untuk upacara masyarakat Hindu di Bali.

Kebun yang luasnya sekitar tiga hektare itu dikembangkan sejak tahun 1995 dan baru pada tahun 2015 menyelesaikan bangunan yang berada di tengah areal taman. Ada sekitar 213 jenis tanaman yadnya yang ada di taman yang luasnya sekitar empat hektare itu. Di antaranya pohon andong, pisang hitam, cemara geseng dan bambu kuning. Dan masyarakat bisa meminta ke sini dengan perijinan bagi yang sulit mendapatkan bahan upacara.

Kebun Raya Bedugul

Hanya sayangnya, di tengah hijaunya pepohonan dan sejuknya udara sekitar Kebun Raya, saya menemui sampah yang menggunung selesai helatan sebuah acara. Juga anak-anak yang dibiarkan orang tuanya makan snack kemudian membuang sampahnya kemana-mana. Duh, kezeeel lihatnya!

Belum lagi, toilet yang tak menyediakan air yang layak. Juga kebersihannya yang jauh dari standar. Semoga ke depan hal seperti ini dibenahi lagi oleh pihak pengelola.

Dan, kunjungan saya sekeluarga di Bedugul pun harus berakhir di Kebun Raya. Selanjutnya kami akan melanjutkan perjalanan ke Kintamani. Tapi sebelum pergi dari sini, saya sempat bernostalgia dulu dengan suami.

Kebun Raya Bedugul

Ceritanya waktu pedekate pada tahun 2001, suami (masih calon waktu itu) mengunjungi saya di Bali dan kami pergi ke Kebun Raya Bedugul ini.

Seingat kami, dulu ada bale bengong di sini..

Lha kemarin.. Itu bale sudah dipindah tempatnya, berubah jadi bangunan entah apa.. Jadilah kami nostalgia di sini saja, di atas bangku potongan pohon sambil merasa dunia milik berdua... hahaha

πŸ‘¨Dulu ada bale bengong di sini... Kok jadi gini? "

πŸ‘©"Iyaaa ya, dulu di sekitar sini kok.. Jadi beda ya?"

πŸ‘¨"Iya, itu bangunan baru, dulu enggak ada itu...!"

πŸ‘©"Ya sudah.. foto di sini saja *pasrah!"πŸ˜¬πŸ˜‚

Oh, ya beberapa tips berkunjung ke Pura Ulun Danu Beratan dan Kebun Raya Bali, diantaranya:
  • Sunrise Pura Ulun Danu Beratan itu baguuuus bangets. Jadi kalau mau hunting sunrise ya lebih baik nginapnya musti di sekitar situ. Atau pagi-pagi buta sudah berangkat dari Denpasar (50 km/1,5jam). Kalau dari Singaraja berisiko, khawatirnya dini hari jalanan masih berkabut.
  • Tujuan pertama ke Pura Ulun Danu baru ke Kebun Raya. Pulangnya mampir dulu ke pasar Candikuning buat belanja sayuran, buah-buahan dan aneka penganan.
  • Bawa senjata perpiknikan: tikar, makanan, minuman, camilan, panci, wajan, mainan, buku bacaan dan jangan lupa baju hangat karena kadang udaranya bisa duuiingiiin.
  • Lebih baik sedia payung sebelum hujan. Di daerah sini curah hujan tinggi
  • Hati-hati jika membawa kendaraan sendiri (motor/mobil) karena jalanan menuju arah pegunungan banyak tikungan tajam (terutama dari arah Singaraja)
  • Perbekalan anak: baju ganti karena pasti baju kotor buat berguling-guling di rumput, minyak kayu putih biar badan hangat dan lotion anti serangga untuk menghindari gigitan nyamuk dan sebangsanya.

Okey dokey..sekian dulu, terima kasih sudah membaca. Please, tunggu kelanjutan ceritanya!!

Oh ya, kalau ke Bali jangan lupa mampir juga ke Pura Ulun Danu Beratan dan Kebun Raya Bali yaaa...😍



See You,

Dian Restu Agustina



Comments

  1. Indah sekali pemandangan danau Bedugul dan pura nya.., keren.

    Salah satu ciri khas tempat suci agama Hindu selalu dibuat di lokasi yang tinggi.
    Kepercayaan mereka semakin tinggi suatu tempat semakin suci.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas..tapi bangunan untuk dunia enggak boleh terlalu tinggi. Makanya enggak ada gedung pencakar langit di Bali :)

      Delete
    2. Betul, kak Dian.
      Di Bali tidak ada bangunan yang digunain untuk aktivitas keseharian diperbolehkan terlalu tinggi bangunannya karena merusak nilai kesakralan pura.

      Duh, kapan ya aku kesampaian ke Bali lagi :(
      Dulu aku 3 bulan job training disana,kak.

      Delete
  2. Bali tidak pernah kehilangan pesona, malah semakin tahun semakin kinclong. Terakhir saya ke Ulun Danu, sudah sore, hujan juga baru turun, membuat suasana bertambah syahdu.

    Nah sampah yang menggunung di tempat-tempat pariwisata seperti di hutan raya itu, selalu menjengkelkan. Entah kapan masyarakat yang jorok itu tersadar, bahwa kelakuan mereka sangat mengganggu kenyamanan orang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, pernah ke sini pas habis hujan,,,waduh suasananya beneran syahdu bikin merindu :)

      Iya, kelar acara langsung main angkat kaki saja. Sampahnya ditinggal ..Hadeh, sebel!

      Delete
  3. Aku kalau nyari makan di tempat-tempat wisata gitu suka deg-degan. Sering kan nggak ada daftar harganya, tahu-tahu kemahalan. Tapi ya kadang karena perut sudah nggak bisa diajak kompromi ya sudah makan aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak..mau enggak mau..ya sudah, kadung lapar :)

      Delete
  4. Jadi bernostalgia ya mbak hehehe....Bedugul memang tidak pernah sepi...saya pernah sekali ke Bedugul...mulai dari kebun raya Bali, pantai Lovina sampai Krisna Funtastic Land...cuma karena medannya yg berkelak kelok akhirnya mabuk... kalau inget mabuk jadi takut kesana lagi...cuma pemandangan yg indah itu kadang membuat penasaran ingin kesana lagiπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..jalanan memang penuh dengan kelokan..dan bikin kepala bisa kliyengan

      Delete
  5. aku juga sudah ke sana, eksotis ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes, apalagi sunrisenya Mbak..ketjee badai

      Delete
  6. sempat mampir di masjidnya bunda?
    masjid raya bedugul sebelum pura?
    saya ingin kesana lagi.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu, jaman tinggal ke Denpasar selalu mampir ke masjidnya. Karena naik motor sama teman-teman ke sininya.
      Kemarin sudah sekalian sholat di Warung Makan Bu Hj Marfu'ah, jadi enggak mampir masjid kami

      Delete
  7. Pura ulun danu beratan selalu bikin kangen untuk berwisata kesana lagi

    ReplyDelete
  8. ituuuuu satenya bikin salfok, hehe. Salam kenal mb :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Pedes dan asin tapi, enggak ada manis-manisnya hihi

      Delete
  9. Tapi menurut saya sih 193 ribu untuk menu segitu tidak terlalu mahal kok.. apalagi di tempat wisata dan masa lebaran pula...

    ReplyDelete
  10. Mbak Diaaann..
    Gegara liat postingan mbak, kami jadi pengen nyusul ke Bali kemaren, cuman karena berita tenggelamnya kapal di Danau Toba, bikin kami takut nyebrang di Gilimanuk hehehe.

    Danau ini tujuan saya dulu waktu ke Bali, 5 tahun lalu.
    Sayangnya malah nyasar di danau Batur hahaha.
    Mupeng berat ke sini.

    Semoga nanti bisa liburan ke sini.
    Thanks ulasannya mbak, gegara baca postingan mbak, kami jadi punya banyak referensi kalau ke mana-mana.

    Kayak kemaren nyasar di Cirebon, jadi tau harus makan di mana gegara postingan mbak waktu liburan di Cirebon ��

    ReplyDelete
  11. Seru banget. Saya termasuk orang yang gak memasukkan Bali ke dalam daftar traveling saya. Apakah sesudah ini harus saya masukkan? Hehehehe

    ReplyDelete
  12. Wah, jadi pengeeeeen...belum pernah ke Bali nih..hihihi

    ReplyDelete
  13. Cieeee romantisnya. Kalau saya ke wisata biasanya bawa bekal sendiri mbak. Apalagi pasukan bnyak, namun budget tidak mencukupo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya biasa juga kalau dari rumah, ini jauh soalnya berhari-hari lagi

      Delete
  14. Komplit banget liputannya. Semoga suatu saat bisa ke Bali.

    ReplyDelete
  15. Waah pemandangannya, ma sya Allah cantiikk Mba

    ReplyDelete
  16. Soalnya pas hari libur sih ya mba, jadi rame banget. Kayanya kalo ke Bali minimal seminggu deh biar puas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya seminggu di Utara, seminggu di Selatan kwkwkw puas deh kita

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog