Mengunjungi Makam Sentot Alibasyah di Bengkulu

Saat roadtrip ke Sumatera dan sampai di Kota Bengkulu, suami mengutarakan kalau salah satu tempat yang bisa kami kunjungi nanti adalah Makam Sentot Alibasyah. Ini adalah makam seorang Panglima Pangeran Diponegoro bernama Sentot Alibasyah yang wafat pada tanggal 17 April 1855. Dan, makam ini termasuk Cagar Budaya yang dikelola Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi berdasarkan SK Menteri NoKM.10/PW.007/MKP/2004.

Nah, bagaimana situasi makam tokoh panglima termuda (berusia 17 tahun sudah jadi panglima) dari masa Perang Diponegoro pada 1825-1830 itu?


Mengunjungi Mama Sentot Alibasyah


Siapa Sentot Alibasyah?


Dilansir dari website Universitas Dehasen Bengkulu (www.ctzonedehasenbkl.com), keberhasilan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa atau lebih dikenal dengan Perang Diponegoro, tentu tidak terlepas dari pasukan tempur yang dipimpinnya. 

Nah, salah seorang Panglima yang memegang kendali pasukan pelopor yang dibentuk Diponegoro adalah seorang anak muda bernama Sentot Alibasya Mushtofa Prawirodirjo. 

Sentot yang merupakan buyut Sri Sultan Hamengkubuwono pertama, dipercaya memegang komando sebanyak 250 orang pasukan pelopor atau lebih dikenal dengan nama “Pasukan Pinilih”. 

Bersama pasukannya, keberanian dan kehebatan strategi perang Sentot diakui oleh Belanda yang terlulis dalam buku “De Java Oorlog van 1825-1830" yang ditulis E.S Klerek (1905) yang menyebutkan bahwa strategi perang Sentot dalam melakukan manuver sangat mencengangkan pihak Belanda.

Ketika pecah perang Diponegoro atau perang Jawa (1825), Sentot Alibasyah yang masih berusia 17 tahun segera bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro. Nama Sentot termasuk salah satu diantara para tokoh pelaku sejarah yang berpengaruh besar terhadap jalannya Perang Diponegoro. 

Dalam catatan sejarah, setidaknya ada beberapa tokoh pelaku selain nama besar Pangeran Diponegoro, yaitu: Pangeran Mangkubumi (putra Sultan Hamengkubuwono II), yang juga paman dari Pangeran Diponegoro, Pangeran Ngabei Jaya Kusuma (putra Sultan Hamengkubuwono II), Kyai Mojo (seorang ulama besar pada abad ke 19 yang juga menjadi guru spiritual-penasehat agama Pangeran Diponegoro) dan Sentot Alibasyah.

Memang, Perang Diponegoro (1825-1830) selama lima tahun ini tergolong perang besar dan hampir melibatkan seluruh wilayah pulau penduduk di Jawa. Oleh karenanya perang ini juga dikenal dengan sebutan Perang Jawa. 

Betapa tidak, perang tersebut telah menelan korban jiwa sebanyak 8.000 serdadu yang berkebangsaan Eropa, 7.000 serdadu pribumi, dan 200.000 orang Jawa. 

Nah, selaku tokoh sentral dalam perang Jawa, Pangeran Diponegoro melakukan konsolidasi dengan mengangkat beberapa orang senopati yang baru. Salah satunya yang diangkat menjadi senopati perang adalah Sentot Alibasyah yang diberi kepercayaan oleh Pangeran Diponegoro untuk memimpin pasukan yang diberi nama Pasukan Pinilih.

Saya lansir dari website kebudayaan.kemdikbud.go.id, setelah berakhirnya perang Diponegoro, Sentot Alibasyah berserta pengikutnya dimanfaatkan Belanda untuk memerangi Kaum Paderi di Sumatera Barat. Namun, karena dicurigai memiliki rasa keberpihakan pada Kaum Paderi. Sentot Alibasyah ditangkap dan diasingkan Belanda ke Bengkulu pada tahun 1833 hingga beliau wafat pada tahun 1855.


Wisata Sentot Alibasyah
sumber: pribadi

Panglima Perang Diponegoro
sumber gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Tentang Makam Sentot Alibasyah


Makam Sentot Alibasyah dibangun secara istimewa disebabkan beliau termasuk tokoh yang disegani oleh masyarakat Bengkulu. Bangunan Makam Sentot Alibasyah terletak di kompleks pemakaman umum yang kelilingi pagar tembok dan berpintu besi. 

Gapura pintu gerbang berbentuk kerucut dan di dalamnya terdapat bangunan beratap (cungkup) yang di atasnya dihiasi dengan pilar seperti pintu gerbang. Terdapat ruang terbuka untuk peziarah. Untuk masuk ke cungkup harus melalui pintu gerbang utama yang memiliki anak tangga dan terdapat sisi tangga.

Bangunan cungkup berbentuk seperti ”Tabot”. Istilah "Tabot" berasal dari kata Arab (tabut) yang secara harfiah berarti kotak kayu atau peti. Tradisi Tabot dibawa oleh para pekerja, asal Madras-Bengali bagian selatan dari India yang membangun benteng Marlborough di Bengkulu. Bentuk bangunan Tabot ini adalah suatu bangunan bertingkat-tingkat seperti menara masjid dengan lebar lantai dasar 1,5-3 meter, dengan ketinggian 5-12 meter.

Oh ya, makam berlokasi di pinggir jalan tanpa tersedia parkiran. Sehingga kita parkir di bahu jalan jika ingin mengunjunginya. Kondisinya cukup bersih meski kurang terawat mengingat makam tergabung dengan komplek Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang terletak di Kelurahan Bajak, Kecamatan Teluk Segara, Bengkulu.

Ada gerbang terkunci gembok menuju cungkup makam, sehingga peziarah hanya bisa sampai di bagian luar cungkup saja. 

Saya dapatkan informasi dari website kemendikbud tadi, di atas nisan makam tertulis ‘KPH Alibascha Sentot Abdul Mustapa Prawirodirjo’, wafat 17 April 1885.


Makam Sentot Alibasyah di Bengkulu


Saya mengunjungi makam ini saat sing hari, sekejap saja mengingat dari 4 hari di Bengkulu, hanya bisa jalan di hari ketiga, karena suami sempat masuk RS dan saya juga si sulung batpil parah. Belum lagi ternyata sampai Jakarta ada masalah dengan flash disk DSLR yang saya bawa sehingga sebagian foto selama roatrip Sumatera tak terselamatkan. Syukur ada foto di HP kami yang jadi kenangan meski cuma beberapa.

Tapi, gapapa, selalu ada cerita di setiap perjalanan, kan?

Nah, makam Sentot Alibasyah bisa jadi tujuan saat kita mengunjungi Kota Bengkulu. Lokasinya cukup dekat dari Rumah Ibu Fatmawati Soekarno dan Rumah Pengasingan Soekarno di Bengkulu. Cagar budaya yang bisa mengingatkan kita akan perjuangan seorang pahlawan Indonesia. Yang pastinya bisa kita teladani nilai-nilai kebaikannya.

Baiklah, kalau ke Bengkulu, jangan lupa singgah!💖



Happy Traveling

signature-fonts

13 comments

  1. setuju mbak,, dengan mengunjungi cagar budaya, kita bisa kembali belajar sejarah. Bahkan waktu aku sekolah pun nama sentot alibasyah ini nggak pernah disebut. justru dengan trip seperti ini, kita bisa bebas mengunjungi tempat cagar budaya sambil belajar langsung

    ReplyDelete
  2. Saya mengenal nama Sentot Alibasyah dan juga sepak terjang perjuangannya pas dulu masih SD berlangganan majalan anak-anak Ananda.
    Pernah jadi cerbung di majalah tersebut.
    SAyang ya, majalah anak-anak sekarang gak seperti dulu lagi.
    Saya tau cerita perwayangan, para pahlawan nasional, dari majalah anak-anak dulu ketika masih kecil

    ReplyDelete
  3. foto-foto saat liburan ilang emang rada nyesek ya mbak, tapi insyaAllah kenangan dalam otak kita bisa bertahan. Nah, apalagi diceritakan kembali di blog. aku jadi tahu ada makam setor alibasyah di Bengkulu.

    ReplyDelete
  4. Selama ini paling hapal dengan periode Perang Diponegoro yg 1825-1830 itu.hehe... Tapi baru tahu kalo ada seorang Panglima Pangeran Diponegoro bernama Sentot Alibasyah. hehe....

    ReplyDelete
  5. Seru ya mbak bisa mengunjungi cagar budaya seperti makan Sentot Alibasyah ini. Jiwa nasionalisme kita auto muncul mengingat perjuangan pahlawan dalam perang melawan Belanda. Sejarah memang nggak boleh dilupakan.

    ReplyDelete
  6. Pangeran Diponegoro Keren ya ... Masih usia 17 th sudah bersemangat membela negara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang 17 tahun Sentot Alibasyah, Mbak. bukan Pangeran Diponegoro

      Delete
  7. Ternyata di Bengkulu banyak juga ya Mba menyimpan cagar warisan budaya..
    By the way,saya teringat dengan perang Diponegoro. dulu saat sekolah saya hafal sekali kalau perang Diponegoro berlangsung tahun 1825 sampai 1830. Dulu guru kami menyebutnya sebagai adzan maghrib agar kami mengingat tahunnya. Soalnya kalau Di Medan umumnya adzan maghrib di jam-jam tersebut.

    ReplyDelete
  8. Makam pahlawan seperti ini memang patut dilestarikan dan menjadi salah satu destinasi wisata wajib. Supaya masyarakat tidak lupa akan sejarah dan jasa pahlawannya.

    ReplyDelete
  9. Kembali lagi mengingatkan para pahlawan dari pulau jawa, salah satunya Sentot Alibasya. Wah kapan-kapan saat ada kesempatan berkunjung ke Bengkulu, pengen bisa mampir kesini sekaligus untuk mengenang dan menjaga cagar budaya.

    ReplyDelete
  10. pengen ke makam sentot alibasyah agar bisa melihat dan membaca bagaiman perang dulu melawan belanda untuk membela dan ingin merdeka. salut saya sama sultan pertama hamengku yang ternyata itu adalah kakek buyutnyaa

    ReplyDelete
  11. masih sangat muda ya waktu Sentot bergabung dengan perang Diponegoro, 17 tahun. Bytheway seinget aku, aku belum pernah ke makam pahlawan seperti ini mba

    ReplyDelete