Public Speaking Bukan Bakat, Melainkan Keterampilan yang Bisa Dilatih
Sebenarnya acara ini sudah berlangsung cukup lama, tepatnya pada November 2025. Saat sedang rapi-rapi dan melanjutkan beberapa draft tulisan blog yang belum sempat tayang, saya menemukan kembali catatan dari kegiatan ini. Setelah membacanya lagi, saya merasa materi yang dibagikan masih relevan hingga kini, terutama bagi siapa saja yang ingin lebih percaya diri berbicara di depan umum. Karena itu, sayang rasanya jika catatan ini hanya tersimpan di folder dokumentasi. Jadi, inilah sebuah catatan dari:
Kegiatan yang menghadirkan dua narasumber berpengalaman, yaitu Nurul Pratiwi, trainer dan profesional MC, serta Fadly Delino, praktisi komunikasi dan hypno communication, dan dihadiri oleh pengurus Jamiyyah dari jenjang TK, SD, SMP hingga SMA Islam Al Azhar Kembangan. Melalui sesi yang interaktif dan penuh praktik, peserta diajak memahami pentingnya komunikasi efektif sekaligus mengembangkan kepercayaan diri saat berbicara di depan publik.
Keberhasilan public speaking tidak hanya ditentukan oleh isi materi. Berdasarkan konsep komunikasi yang disampaikan dalam sesi ini, terdapat tiga unsur penting yang dikenal dengan Teknik Komunikasi 3V, yaitu Visual, Vocal, dan Verbal.
1. Visual (55%)
Aspek visual menjadi faktor terbesar dalam komunikasi. Bahasa tubuh, ekspresi wajah, postur tubuh, hingga kontak mata sangat memengaruhi bagaimana pesan diterima audiens. Gestur yang tepat dapat memperkuat makna pesan, sementara kontak mata membantu membangun kedekatan dan kepercayaan dengan pendengar.
2. Vocal (38%)
Suara merupakan instrumen utama seorang pembicara. Pengaturan volume, intonasi, ritme bicara, artikulasi, dan tempo akan membuat penyampaian materi menjadi lebih hidup dan menarik. Pembicara yang mampu memainkan variasi suara cenderung lebih mudah mempertahankan perhatian audiens dibandingkan mereka yang berbicara dengan nada datar.
3. Verbal (7%)
Verbal berkaitan dengan isi atau materi yang disampaikan. Meskipun persentasenya lebih kecil dibanding visual dan vokal, materi tetap harus dipahami dengan baik agar informasi yang diberikan jelas, runtut, dan mudah diterima audiens.
Pada sesi berikutnya, Fadly Delino membahas mengenai Hypno Communication, yaitu pendekatan komunikasi yang memanfaatkan kekuatan pikiran bawah sadar untuk membangun keyakinan, motivasi, dan perubahan perilaku yang lebih positif.
Sesi ini diawali dengan refleksi terhadap firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 104 yang mengajak umat manusia untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa komunikasi memiliki peran penting dalam menyampaikan nilai-nilai positif kepada masyarakat.
Fadly menjelaskan bahwa komunikasi efektif adalah proses pertukaran informasi yang berlangsung secara jelas, tepat, dan efisien sehingga dapat dipahami oleh semua pihak yang terlibat. Komunikasi yang baik mampu mengurangi kesalahpahaman, meningkatkan motivasi, serta membantu proses pengambilan keputusan yang tepat.
Gelombang Alpha disebut sebagai kondisi relaksasi ringan yang menjadi pintu masuk menuju keadaan fokus yang lebih dalam. Pada kondisi inilah seseorang lebih mudah menerima sugesti positif yang dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri maupun mengubah pola pikir yang kurang produktif.
Menurut Fadly, banyak orang sebenarnya memiliki potensi besar dalam dirinya, namun belum menyadarinya. Ia mengibaratkan manusia seperti sepotong baja yang memiliki kekuatan luar biasa ketika termagnetisasi. Sebaliknya, ketika tidak memiliki keyakinan pada dirinya sendiri, potensi tersebut sulit muncul ke permukaan.
Sebagai penutup, Fadly Delino menekankan pentingnya memiliki growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan proses belajar yang berkelanjutan.
Sharing Session “Public Speaking Skills: Tips & Trik Public Speaking Keren” bersama Fadly Delino dan Nurul Pratiwi di SMAI Al Azhar 20 Kembangan.
Well, kemampuan berbicara di depan umum sering kali dianggap sebagai bakat alami yang hanya dimiliki oleh sebagian orang. Padahal, kenyataannya public speaking adalah keterampilan yang dapat dipelajari dan dilatih oleh siapa saja. Inilah salah satu pesan penting yang mengemuka dalam kegiatan Sharing Session Public Speaking Skills: “Tips & Trik Public Speaking Keren” yang diselenggarakan oleh Forkom Pendidikan Jamiyyah Al Azhar Kembangan pada Senin, 17 November 2025, di SMA Islam Al Azhar 20 Kembangan.
Kegiatan yang menghadirkan dua narasumber berpengalaman, yaitu Nurul Pratiwi, trainer dan profesional MC, serta Fadly Delino, praktisi komunikasi dan hypno communication, dan dihadiri oleh pengurus Jamiyyah dari jenjang TK, SD, SMP hingga SMA Islam Al Azhar Kembangan. Melalui sesi yang interaktif dan penuh praktik, peserta diajak memahami pentingnya komunikasi efektif sekaligus mengembangkan kepercayaan diri saat berbicara di depan publik.
Public Speaking: Seni Menyampaikan Pesan dengan Baik
Dalam pemaparannya, Nurul Pratiwi menjelaskan bahwa public speaking merupakan cara berkomunikasi untuk menyampaikan pesan atau informasi kepada sekelompok orang maupun khalayak umum. Tujuan utamanya bukan sekadar berbicara, melainkan memastikan pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh audiens.Keberhasilan public speaking tidak hanya ditentukan oleh isi materi. Berdasarkan konsep komunikasi yang disampaikan dalam sesi ini, terdapat tiga unsur penting yang dikenal dengan Teknik Komunikasi 3V, yaitu Visual, Vocal, dan Verbal.
1. Visual (55%)
Aspek visual menjadi faktor terbesar dalam komunikasi. Bahasa tubuh, ekspresi wajah, postur tubuh, hingga kontak mata sangat memengaruhi bagaimana pesan diterima audiens. Gestur yang tepat dapat memperkuat makna pesan, sementara kontak mata membantu membangun kedekatan dan kepercayaan dengan pendengar.
2. Vocal (38%)
Suara merupakan instrumen utama seorang pembicara. Pengaturan volume, intonasi, ritme bicara, artikulasi, dan tempo akan membuat penyampaian materi menjadi lebih hidup dan menarik. Pembicara yang mampu memainkan variasi suara cenderung lebih mudah mempertahankan perhatian audiens dibandingkan mereka yang berbicara dengan nada datar.
3. Verbal (7%)
Verbal berkaitan dengan isi atau materi yang disampaikan. Meskipun persentasenya lebih kecil dibanding visual dan vokal, materi tetap harus dipahami dengan baik agar informasi yang diberikan jelas, runtut, dan mudah diterima audiens.
Dari konsep tersebut, peserta diajak menyadari bahwa kemampuan berbicara bukan hanya soal apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya.
Mengapa Banyak Orang Takut Berbicara di Depan Umum?
Nah, salah satu topik yang paling menarik perhatian peserta adalah pembahasan mengenai rasa gugup atau nervous saat tampil di depan banyak orang. Menurut Nurul Pratiwi, hambatan dalam public speaking umumnya berasal dari beberapa faktor, seperti kurang percaya diri, belum terbiasa berbicara di depan publik, minim persiapan, kondisi fisik yang kurang sehat, motivasi diri yang lemah, hingga kebiasaan meremehkan potensi yang dimiliki.
Rasa gugup sebenarnya merupakan respons alami tubuh terhadap pikiran negatif yang muncul sebelum tampil. Ketakutan akan melakukan kesalahan, kekhawatiran dinilai orang lain, atau kecemasan tidak mampu menyampaikan materi dengan baik dapat memunculkan gejala fisik seperti gemetar, jantung berdebar, tangan berkeringat, perut terasa mulas, bahkan kesulitan berbicara.
Kabar baiknya, kondisi tersebut dapat dikelola dan dikendalikan melalui latihan yang tepat.
Rasa gugup sebenarnya merupakan respons alami tubuh terhadap pikiran negatif yang muncul sebelum tampil. Ketakutan akan melakukan kesalahan, kekhawatiran dinilai orang lain, atau kecemasan tidak mampu menyampaikan materi dengan baik dapat memunculkan gejala fisik seperti gemetar, jantung berdebar, tangan berkeringat, perut terasa mulas, bahkan kesulitan berbicara.
Kabar baiknya, kondisi tersebut dapat dikelola dan dikendalikan melalui latihan yang tepat.
Cara Mengatasi Nervous Sebelum Public Speaking
Untuk itu, Nurul Pratiwi membagikan beberapa langkah sederhana namun efektif untuk mengurangi rasa gugup sebelum tampil.
1. Mengelola Pikiran
Langkah pertama adalah mengelola pola pikir. Pikiran negatif perlu digantikan dengan pikiran yang lebih positif melalui teknik reframing atau positive self-talk. Selain itu, pembicara perlu menyadari bahwa setiap kesempatan berbicara merupakan amanah dan sarana untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Menguasai materi juga menjadi bentuk ikhtiar penting. Semakin memahami topik yang akan disampaikan, semakin besar rasa percaya diri yang muncul saat berbicara.2. Mengelola Fisik
Selain mental, kondisi fisik juga perlu dipersiapkan. Beberapa teknik yang disarankan antara lain:
- Melakukan latihan pernapasan 7-4-8 sebanyak 3–5 kali.
- Minum air putih secukupnya.
- Membasuh wajah atau berwudhu.
- Melakukan peregangan ringan.
- Mengobrol santai dengan audiens sebelum acara dimulai.
- Menebarkan senyum untuk menciptakan suasana yang lebih nyaman.
Menurut Nurul, kombinasi antara kesiapan mental dan fisik akan membantu pembicara tampil lebih tenang dan percaya diri.
Public Speaking Perlu Latihan, Bukan Kesempurnaan
Dalam sesi praktik, peserta diajak melakukan latihan artikulasi sederhana menggunakan vokal A-I-U-E-O. Latihan ini bertujuan memperjelas pengucapan kata serta melatih kelenturan otot-otot bicara. Peserta juga diajak mempraktikkan langsung teknik berbicara di depan kelompok.
Dari sini terlihat bahwa kemampuan public speaking berkembang bukan karena bakat semata, melainkan karena keberanian mencoba dan konsistensi berlatih.Latihan dengan memperhatikan beberapa tips penting untuk menjadi pembicara yang lebih baik antara lain:
- Percaya pada kemampuan diri sendiri.
- Memahami karakter audiens yang akan dihadapi.
- Menguasai materi dan teknik vokal.
- Menggunakan ekspresi serta bahasa tubuh yang sesuai.
- Menyiapkan pembukaan dan penutupan yang berkesan.
- Tidak menyia-nyiakan kesempatan berbicara.
- Terus berlatih, berdoa, dan yakin bahwa kemampuan akan berkembang seiring waktu.
Hypno Communication: Menggali Potensi Diri melalui Komunikasi Positif
Pada sesi berikutnya, Fadly Delino membahas mengenai Hypno Communication, yaitu pendekatan komunikasi yang memanfaatkan kekuatan pikiran bawah sadar untuk membangun keyakinan, motivasi, dan perubahan perilaku yang lebih positif.Sesi ini diawali dengan refleksi terhadap firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 104 yang mengajak umat manusia untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa komunikasi memiliki peran penting dalam menyampaikan nilai-nilai positif kepada masyarakat.
Fadly menjelaskan bahwa komunikasi efektif adalah proses pertukaran informasi yang berlangsung secara jelas, tepat, dan efisien sehingga dapat dipahami oleh semua pihak yang terlibat. Komunikasi yang baik mampu mengurangi kesalahpahaman, meningkatkan motivasi, serta membantu proses pengambilan keputusan yang tepat.
Mengenal Kekuatan Pikiran dan Gelombang Otak
Dalam pembahasan mengenai hipnosis, peserta dikenalkan pada konsep gelombang otak manusia yang terdiri dari Beta, Alpha, Theta, dan Delta.Gelombang Alpha disebut sebagai kondisi relaksasi ringan yang menjadi pintu masuk menuju keadaan fokus yang lebih dalam. Pada kondisi inilah seseorang lebih mudah menerima sugesti positif yang dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri maupun mengubah pola pikir yang kurang produktif.
Menurut Fadly, banyak orang sebenarnya memiliki potensi besar dalam dirinya, namun belum menyadarinya. Ia mengibaratkan manusia seperti sepotong baja yang memiliki kekuatan luar biasa ketika termagnetisasi. Sebaliknya, ketika tidak memiliki keyakinan pada dirinya sendiri, potensi tersebut sulit muncul ke permukaan.
Orang yang memiliki “daya magnet” positif umumnya lebih percaya diri, berani mengambil peluang, tidak mudah ragu, aktif bertindak, dan melihat tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang.
Memahami Kepribadian untuk Komunikasi yang Lebih Efektif
Salah satu materi yang menarik adalah pengenalan empat tipe kepribadian manusia:- Sanguin
- Koleris
- Melankolis
- Phlegmatis
Dengan memahami karakter diri sendiri maupun karakter lawan bicara, seseorang dapat menyesuaikan gaya komunikasi sehingga pesan lebih mudah diterima.
Growth Mindset: Kunci Bertumbuh dan Berkembang
Sebagai penutup, Fadly Delino menekankan pentingnya memiliki growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan proses belajar yang berkelanjutan.Banyak orang gagal berkembang bukan karena tidak memiliki kemampuan, melainkan karena terlalu cepat menyerah atau meyakini bahwa dirinya tidak berbakat. Padahal setiap keterampilan, termasuk public speaking, dapat ditingkatkan melalui latihan yang konsisten.Pesan yang paling membekas dari sesi ini adalah bahwa pikiran memiliki pengaruh besar terhadap tindakan dan hasil yang diperoleh seseorang. Ketika seseorang percaya bahwa dirinya mampu belajar dan berkembang, maka ia akan lebih berani mencoba, berlatih, dan mengambil peluang yang ada.
Penutup
Sharing Session Public Speaking Skills: Tips & Trik Public Speaking Keren memberikan pemahaman bahwa menjadi pembicara yang baik bukanlah privilese segelintir orang. Kemampuan berbicara di depan umum dapat dibangun melalui penguasaan teknik komunikasi, latihan yang berkesinambungan, pengelolaan rasa gugup, serta pola pikir yang positif.Dengan keberanian untuk terus belajar dan memanfaatkan setiap kesempatan berbicara, setiap orang memiliki peluang untuk menjadi komunikator yang efektif, inspiratif, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.💗
Salam Semangat
Dian Restu Agustina

Posting Komentar untuk "Public Speaking Bukan Bakat, Melainkan Keterampilan yang Bisa Dilatih"