Sehari ke Bandung Kulineran dan Berburu Oleh-Oleh
Ada kalanya kita memang perlu berhenti sejenak dari rutinitas. Bukan untuk pergi jauh atau berlibur berhari-hari, tetapi cukup sehari pergi bersama teman-teman yang satu frekuensi, menikmati perjalanan, makan enak, ngobrol, tertawa, lalu pulang dengan membawa cerita.
Begitu juga dengan perjalanan saya dan pengurus Jamiyyah SMA Islam Al Azhar 20 Kembangan kali ini. Kami bersepuluh sepakat untuk sehari ke Bandung sebagai penutup tahun kepengurusan kali ini. Tidak ada agenda resmi yang terlalu serius. Kali ini kami ingin menikmati waktu bersama jelang selesainya masa bakti, seseruan, kulineran, sekaligus berburu oleh-oleh.Dan ternyata, perjalanan singkat seperti ini bisa bikin hati happy bahkan sampai beberapa hari setelahnya.
Berangkat Pagi dari Joglo, Kembangan, Jakarta Barat
Hari itu kami berkumpul di SMA Islam Al Azhar 20 Kembangan pukul 07.00 WIB. Peserta perjalanan ada 10 orang. Supaya lebih nyaman, kami menyewa mobil Elf berkapasitas 13 penumpang.Jadi masih cukup lega untuk kami duduk, ngobrol, bercanda, sekaligus menampung barang belanjaan yang kemungkinan besar akan semakin banyak ketika pulang nanti. Maklum, kalau sudah masuk Bandung, niat awalnya hanya jalan-jalan sering kali berubah jadi:
"Sekalian beli ini, yuk! Ntar mampir belanja ke sana, ya! Lanjut beli oleh-oleh ke situ!”😀
Yang membuat perjalanan ini terasa lebih menyenangkan, biaya perjalanan bukan menggunakan uang orang tua murid atau OTM. Kami menggunakan uang kas pengurus Jamiyyah yang dikumpulkan sebesar Rp100.000 setiap bulan.
Buat saya, ini justru salah satu bagian yang menyenangkan. Ada rasa puas ketika bisa menikmati hasil dari uang kas yang memang kami kumpulkan bersama. Jadi perjalanan ini benar-benar menjadi kegiatan internal pengurus, menggunakan uang kami sendiri.
Dan yang paling penting, bukan hanya soal jalan-jalannya. Ini kesempatan untuk mempererat kebersamaan setelah selama ini kami lebih sering bertemu dalam suasana rapat dan kegiatan sekolah.
Yang membuat perjalanan ini terasa lebih menyenangkan, biaya perjalanan bukan menggunakan uang orang tua murid atau OTM. Kami menggunakan uang kas pengurus Jamiyyah yang dikumpulkan sebesar Rp100.000 setiap bulan.
Buat saya, ini justru salah satu bagian yang menyenangkan. Ada rasa puas ketika bisa menikmati hasil dari uang kas yang memang kami kumpulkan bersama. Jadi perjalanan ini benar-benar menjadi kegiatan internal pengurus, menggunakan uang kami sendiri.
Dan yang paling penting, bukan hanya soal jalan-jalannya. Ini kesempatan untuk mempererat kebersamaan setelah selama ini kami lebih sering bertemu dalam suasana rapat dan kegiatan sekolah.
Sarapan Bubur DPR (TB. Dibawah Pohon Rindang))
Tujuan pertama kami adalah Toko Bubur Dibawah Pohon Rindang atau yang populer disebut Bubur DPR di kawasan Taman Cibeunying yang beralamat di Jl. Taman Cibeunying Utara No. 24, Bandung.Karena memang viral, jangan kaget kalau harus antre. Kami sendiri menunggu sekitar 30 menit sebelum akhirnya bisa memesan. Untungnya, penantian itu terbayar.
Buburnya enak! Raos pisan! Enak tenan!
Ada pilihan menu: Bubur Kanton Polos Non Topping (10K), Bubur Kanton Bebek Asap (28K), Bubur Kanton Ayam (20K), Bubur Kanton Saikoro (25K), Bubur Kanton Jamur (17,5K), Bubur Kanton Udang (23K)
Teksturnya lembut ala Kanton, dengan rasa yang sudah sangat gurih bahkan ketika dimakan tanpa tambahan macam-macam. Buat saya, ini tipe bubur yang tidak perlu dibantu dengan banyak kecap, sambal, atau topping tambahan. Suapan pertama langsung terasa gurihnya.
Teksturnya lembut ala Kanton, dengan rasa yang sudah sangat gurih bahkan ketika dimakan tanpa tambahan macam-macam. Buat saya, ini tipe bubur yang tidak perlu dibantu dengan banyak kecap, sambal, atau topping tambahan. Suapan pertama langsung terasa gurihnya.
Selain itu ada pilihan topping: telur pitan, telur asin, capit kepiting, kulit ayam, udang, pangsit goreng..dengan harga 7K-11K. Makan dengan suasana teduh dan asri karena berada di bawah area pepohonan rindang, perut dan hati jadi hangat dan kenyang...
Buka pagi 06.00-11.00 dan sore 16.00-22.00 bubur yang enak, tempat yang nyaman dan pelayanan yang memuaskan memang layak jika kuliner ini diburu hingga rela antri panjang.
Nah, setelah perut terisi dan tenaga kembali terkumpul, perjalanan kami lanjutkan.
Nah, setelah perut terisi dan tenaga kembali terkumpul, perjalanan kami lanjutkan.
Mr. Quilting, Bolu Bakar Tunggal, Kopi Djawa
Destinasi berikutnya adalah Mr. Quilting di Jl. Teuku Umar No. 5, Lebakgede, Kecamatan Coblong, Bandung.Di sini kami tidak hanya melihat-lihat, tetapi sekaligus memanfaatkan kesempatan untuk berburu oleh-oleh. Mr. Quilting, sebuah toko tas lokal, bukan toko perlengkapan quilting yang menjual terutama puffy bag dan quilting bag dengan desain yang warna-warni dan kekinian.
Seperti: pufffy bag/tas gembung, quilting bag berbagai model dengan pilihan warna beragam, dari warna pastel sampai warna bold lengkap dengan strap tas dan aksesori tas. Harganya terjangkau; tas mulai Rp100 ribuan, dan aksesoris dibandrol puluhan ribu.
Menariknya, Mr. Quilting ini tuh salah satu pelopor Super Puff/Puffy Bag di Indonesia. Toko di Teuku Umar ini juga berada di area Rumah TU 5, yang di sekitarnya ada beberapa tenant lain. Maka sekalian kami singgah ke Bolu Bakar Tunggal yang punya pilihan bolu bakar asin dan manis: coklat, keju, nanas, tuna pedas, dll yang pas buat oleh-oleh keluarga di Jakarta.
Menariknya, Mr. Quilting ini tuh salah satu pelopor Super Puff/Puffy Bag di Indonesia. Toko di Teuku Umar ini juga berada di area Rumah TU 5, yang di sekitarnya ada beberapa tenant lain. Maka sekalian kami singgah ke Bolu Bakar Tunggal yang punya pilihan bolu bakar asin dan manis: coklat, keju, nanas, tuna pedas, dll yang pas buat oleh-oleh keluarga di Jakarta.
Lanjut di situ juga ngopi dulu di Kopi Toko Djawa yang bisa kami dapatkan di tempat yang sama. Sambil nyelonjorin kaki sebentar menikmati tempat nongkrong yang sederhana, nyaman, dan punya suasana Bandung yang menyenangkan.
Tentu sambil cek & ricek apa saja yang sudah ditenteng kwkwkw. Inilah enaknya bepergian bersama rombongan. Ada saja yang awalnya tidak berniat membeli, tetapi setelah melihat teman membawa oleh-oleh akhirnya ikut tergoda.
“Ini buat di rumah.” “Yang ini buat anak.” “Eh, sekalian ada teman nitip tuh.”
“Ini buat di rumah.” “Yang ini buat anak.” “Eh, sekalian ada teman nitip tuh.”
Begitulah kira-kira, lifestyle ibu huhuhu. Niatnya hanya beli satu, bisa beberapa kantong yang dibawa pulang.😀
Bolu Tjilaki, Primarasa dan Kartika Sari
Perjalanan kuliner dan berburu oleh-oleh belum selesai. Kami kemudian mampir ke Bolu Tjilaki. Sayangnya, ketika kami datang, stoknya sudah hampir habis. Tinggal tersisa empat bolu. huhuhu...Gila ya, memang serame itu ini bolu, padahal baru jam 11-an lhoYa sudah, daripada tidak dapat sama sekali, empat bolu pun kami bawa pulang - meski saya termasuk yang tidak kebagian....
Setelah itu perjalanan berlanjut ke Primarasa (Jl. Kemuning) dan Kartika Sari. Kalau sudah membicarakan oleh-oleh khas Bandung, rasanya memang sulit melewatkan dua nama ini. Apalagi kalau pulang ke Jakarta tanpa membawa sesuatu untuk keluarga di rumah, rasanya seperti ada yang kurang.
Nambahlah tuh segala Brownies, Lapis, Picnic Roll Primarasa dan teman-temannya ke tas belanja. Lanjut hunting perkeripikan yang dijual di seberang. Jajanan Sari Milo yang murah dan ranyah: keripik tempek, basreng, sale pisang, sumpia dan kawan-kawannya pun nambah berat tentengan.
Belum geser ke Kartika Sari dan masuk lagi deh Pisang Bolen, Cheese Roll, Bagelen dan teman-temannya.
Meskipun hanya sehari, koper tidak diperlukan. Tetapi jangan salah, bagasi Elf perlahan mulai terisi dengan berbagai kantong belanjaan kami....
Makan Siang di Warung Bu Imas
Setelah dari beberapa tempat untuk berburu oleh-oleh, tentu saja kami kembali memikirkan satu hal penting: makan!Tujuan berikutnya adalah Warung Bu Imas. (setelah coba ke dua tempat lainnya yang full house...plat B bikin penuh parkiran, genks)
Setelah sejak pagi menikmati bubur, lalu berkeliling dan berbelanja, makan siang atau makan menjelang sore terasa semakin nikmat.
Memang kalau sedang berada di Bandung, rasanya belum lengkap kalau belum mencicipi masakan Sunda. Seperti Warung Bu Imas yang ternama dengan masakan Sunda yang sederhana, tetapi kaya rasa, terutama sambal dan lauk-pauknya yang menggugah selera.
Pilihan lauknya cukup beragam, mulai dari ayam, ikan, tahu, tempe, lalapan hingga sambal yang menjadi salah satu daya tariknya. Rasanya cocok untuk makan siang setelah berkeliling Bandung—sederhana, nikmat, dan bikin ingin nambah nasi lagi dan lagi .
Inilah salah satu keuntungan perjalanan bersama teman-teman. Agenda makan bisa menjadi bagian penting dari perjalanan. Bukan hanya soal rasa makanannya, tetapi juga suasana ketika duduk bersama, ngobrol ngalor-ngidul, saling mencicipi makanan, dan tentu saja foto-foto.Kadang justru momen-momen sederhana seperti ini yang paling lama diingat.
Pukul 17.30, Saatnya Kembali ke Jakarta
Tidak terasa hari sudah sore. Sekitar pukul 17.30 WIB kami mulai perjalanan kembali menuju Jakarta.Rasanya baru saja berangkat pagi-pagi, tahu-tahu sudah waktunya pulang. Tapi bukankah memang begitu kalau sedang bersenang-senang? Waktu terasa cepat sekali.
Di dalam Elf, suasananya masih ramai. Ada yang ngobrol, ada yang mungkin mulai mengantuk, ada pula yang sibuk dengan oleh-oleh masing-masing.
Saya sendiri merasa senang. Bukan hanya karena hari itu bisa menikmati kuliner Bandung atau membawa pulang berbagai oleh-oleh, tetapi karena kami bisa menikmati waktu bersama di luar rutinitas.
Kalau dipikir-pikir, perjalanan ini sebenarnya sederhana. Tidak menginap, enggak mengunjungi banyak tempat, juga tidak punya itinerary yang terlalu padat.
Kami hanya berangkat pagi, sarapan, belanja oleh-oleh, makan, ngobrol, tertawa, lalu sore kembali ke Jakarta. Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat perjalanan ini terasa menyenangkan.
Ada kalanya kita tidak membutuhkan liburan panjang untuk merasa bahagia. Cukup sehari pergi bersama orang-orang yang menyenangkan, suasana yang santai, makanan enak, dan kesempatan untuk tertawa bersama.
Bagi saya, perjalanan seperti ini juga menjadi pengingat bahwa kebersamaan tidak selalu harus dibangun lewat kegiatan formal. Kadang justru ketika duduk bersama di dalam mobil, antre membeli makanan, memilih oleh-oleh, atau tertawa karena hal-hal kecil, hubungan menjadi semakin dekat.
Hari itu Bandung hanya menjadi tujuan. Yang membuat perjalanan ini berkesan adalah orang-orang yang pergi bersama saya. Sepuluh orang, satu Elf, banyak makanan, banyak oleh-oleh, dan tentu saja banyak cerita.
Sehari ke Bandung, pulang membawa oleh-oleh dan cerita, tetapi yang paling penting: pulang dengan hati yang happy. Karena ternyata, sesekali “kabur” sehari dari rutinitas itu memang perlu. Dan Bandung menjadi pilihan yang pas, meski kurang puas hehe. Lain kali sebelum ke sana lagi mesti ngullik info nih dari teman blogger saya Alienda Sophia biar dapat info wisata Bandung yang lebih lengkap!💕
Salam Sehat
Dian Restu Agustina



Warung Bu Imas nih favoritnya mamah saya. Sekarang tempatnya katanya lebih bagus setelah direnov. Kalau saya yang belum kesampean itu bubur DPR. Anak saya bilang buburnya enak. Tapi, memang harus siap antre karena suka ramai pembelinya/
BalasHapusOw Mbak Dian, menggoda sekali buburnya. Salfok juga ma judulnya, Bubur DPR dong
BalasHapusya ampun nunggu 30 menit cuma buat makan bubur
BalasHapusEmang asyik sih kalo bareng temen-temen ya? Gak kerasa tau-tau pesanan terhidang
Dari semua destinasi kuliner yang ditulis Mbak Dian hampir semua belum pernah saya kunjungi
Paling cuma Primarasa, Kartika Sari dan warung Ibu Imas
Lihat rangkaian tempat yang dikunjungi di atas keknya seru banget Mbak. Beneran wishlist dengan pilihan yang jitu. Makan, nongkrong, dan belanja oleh-oleh. Serunya lagi saat pergi bareng teman rasa saudara sekaligus menikmati akhir masa bakti. Duh berkesan banget ya Mbak Dian.
BalasHapusAda dua tempat yang belum sempat aku sambangi. Bubur DPR dan Mir. Quilting. Pernah mau sarapan di Bubur DPR itu tapi pas datang antrian nya nauzubillah. Batal dah. Padahal aku penasaran betul sama bubur yang kabarnya adalah salah satu yang terenak di Bandung. Semoga pas ke Bandung lagi bisa mampir.
seru banget ya sarapan di kota orang. walau ngantre tetep puas karena emang kulinernya sedap. belum lagi buruan2 lain yang didapat di bandung. mantaplah. kompak selalu!
BalasHapusSehari di Bandung ternyata bisa explore banyak tempat sekalian kulineran. Mulai dari makan bubur, beli oleh-oleh, ke kopi Djawa, sampai makan siang di warung Bu Imas. Mantep sekali sih. Apalagi pergi bareng teman-teman sefrekuensi dan memilih sewa elf worth it, lega. Jalannya nggak macet kah?
BalasHapusSoalnya aku suka ke Bandung pas weekend dan seringnya kena macet.
Pasti seneng banget bisa menghabiskan waktu ke Bandung tanpa dibayang-bayangi sama agenda rapat ya, Mbak. Bebas belanja oleh-oleh. Mana nggak pake uang orang tua murid. Pake kas yang dikumpulin sendiri lebih menyenangkan.
BalasHapusMbak Dian, aku ikut capek sekaligus ngiler baca perjalanan Bandungnya. Ini tipe jalan-jalan sehari yang spontan, tapi pulangnya malah penuh kantong oleh-oleh. Hahahaha. Awalnya cuma mau beli satu, merembet jadi bolu, keripik, bolen, sampai tas. Relate banget ini sama aku kalo jalan-jalan ke Bandung, Yogya, atau Bali.
BalasHapusIyes, sepakat, sometime nggak perlu itinerary heboh atau menginap berhari-hari. Punya teman satu frekuensi, makan enak, ngobrol sepanjang jalan, tahu-tahu sudah sore dan pulang bawa banyak cerita. Ini iyes banget.
Wah jadi kangen Bandung. Bubur DPR langganan jadi tikum kalau habis jogging. Mr. Quilting baru tau euy padahal dulu tinggal dekat sana. Terima kasih sharingnya mba Dian!
BalasHapusHai, mbak Dian :) Mantap banget konsep jalan sehari ke Bandung bareng ibuk2 kece ini! Ternyata bisa tetap padat cerita tanpa harus bikin itinerary terlalu penuh. Bubur DPR nih wow ya, sampai rela antre sekitar 30 menit lalu lanjut berburu puffy bag di Mr. Quilting, bolu, keripik, sampai Pisang Bolen di Kartika Sari. Kalau abis subuh jam 5 berangkat bisa lebih longgar makan2 terus ahahah :D Apalagi perjalanan ini jadi penutup masa kepengurusan. Jadi yang dibawa pulang bukan cuma oleh-oleh tapi juga kenangan kebersamaannya. Kompak outfit dan kacamata hitamnya hehehe.
BalasHapusSeru banget perjalanannya, Mbak Dian. Ternyata sehari di Bandung bisa puas kulineran, ngopi, sampai berburu oleh-oleh. Tapi yang paling menarik justru kebersamaannya, karena pergi bareng teman yang satu frekuensi memang bikin perjalanan sederhana jadi terasa berkesan.
BalasHapusPerjalanan sehari ke Bandung ternyata tetap bisa terasa seru kalau rutenya ditata dengan baik. Aku suka konsep jalan-jalan seperti ini karena nggak harus selalu menginap untuk menikmati suasana kota dan kulinernya. Apalagi Bandung punya banyak tempat yang bisa dikunjungi dalam waktu singkat, tinggal pintar memilih lokasi yang arahnya nggak terlalu berjauhan
BalasHapusSeru sekali bisa jalan jalan bareng gengnya, hehehe. Apalagi suasana disana pastinya menyenangkan dan gak boleh dilewati.
BalasHapusKeliatan banget aura bahagianya walau cuma sehari ke Bandung. Paling relate sama urusan belanja oleh-oleh yang niatnya cuma ngecek doang tapi pulangnya malah bawa beberapa kantong plastik penuh haha.
BalasHapusBubur DPR emang juara sih, walau ngantri panjang tetep worth it sama rasanya. Pas banget tuh ditutup dengan kulineran Sunda di Warung Bu Imas. Kapan-kapan mau ikutan ngetrip bareng rombongan emak-emak rempong tapi seru begini ah, dijamin ketawa mulu sepanjang jalan!
Zaman waktu kuliah di UI, pernah beberapa kali main ke Bandung. Membaca postingan Mba Dian, membuat nostalgia itu kembali lagi. Terima kasih ya Mba. Apalagi buat saya anak perantauan dari Medan. Jadi rindu ke Bandung lagi, jalan-jalan dan kulineran.
BalasHapusWalaupun cuma sehari ke Bandung, ternyata tetep bisa menikmati banyak hal dan dapet quality time yang menyenangkan. Bandung memang selalu jadi pilihan favorit buat liburan tipis-tipis ya, Mbak.
BalasHapusMbaaaa... seru bangett.. ini sih semua yang lagi viral didatengin dalam satu hari ya.. jujur kalau saya jarang sengaja ngedatengin tempat viral apalagi di jam makan. Keburu laper karena ngantri soalnya wkwk..
BalasHapusSeneng banget bacanya. Serasa diajakin seharian ke Bandung. Kebersamaan dan bonding nya pun sangat nyata nih.
BalasHapusSatu elf ber sepuluh emang leluasa ya. Lebih lega. Makan bubur di DPR alias di bawah pohon rindang, is the best. Kalau ke Bandung emang kudu mampir. Nah part beli bolu bakar tunggal, sampe kartikasari emang nggak boleh skip. Mumpung di Bandung yakan.
Penasaran sama tempat makan siangnya. Aku kayaknya belum pernah makan di warung Bi Imas deh. Seharian di Bandung bareng bestie bisa makin ciamik yaaa.
Seru banget ceritanya! Bandung memang nggak pernah gagal ya buat jadi tempat healing tipis-tipis. Foto-foto dan cerita di artikel ini bikin makin kangen sama suasana Bandung yang adem. Ditunggu cerita perjalanan berikutnya!
BalasHapusjauh juga makan bubur ke Bandung ya Mbk, tapi momen seru kalau bareng teman-teman pasti indah ya, kenangan tak akan terlupakan deh
BalasHapus