Percayalah, Sesudah Kesulitan Ada Kemudahan!




“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah: 5-6).

Bulan ini adalah bulan kelahiran anak saya, si Mas. Tak terasa, 13 tahun sudah ia menghirup udara dunia. Bayi mungil yang kelahirannya dinanti-nantikan setelah anak pertama kami meninggal dunia, kini Alhamdulillah telah menjelma menjadi remaja pria yang tak hanya rupawan tapi juga berakhlak menawan. (Seperti Ibunya gitu..kwkwkw)


Setelah menjalani perjuangan dibumbui kehawatiran karena rasa trauma dari kehamilan sebelumnya. Dan, kisah melahirkan yang ternyata prosesnya di luar dugaan saya.

Saat anak pertama meninggal, jenazahnya diterbangkan dari Pangkalan Brandan ke Kediri untuk dimakamkan. Setelah itu, saya tinggal dulu di rumah orang tua di Kediri, sementara suami balik sendiri. Ketika sudah merasa lebih sehat dan kuat, saya dijemput kembali. Begitu siap lahir batin, kami pun berkonsultasi ke dokter kandungan lagi. Sebenarnya, bukan bermaksud untuk program bayi dalam waktu dekat. Karena sejatinya kami hanya ingin curhat. Kami penasaran kenapa kemarin bayi kami bisa meninggal. Bukan bermaksud menyalahi takdir. Hanya ingin mengantisipasi agar kejadian yang sama tak terulang lagi.

Tapi, ternyata jawaban dokternya di luar dugaan kami. Beliau mengatakan, 

"Nggak usah terlalu mikir yang kemarin. Nanti malah jadi salah-salahan, menyesal dan nambah beban. Sekarang yang utama kehamilan berikutnya. Ayo lebih dijaga. Semoga nanti nggak ada apa-apa!"

Jujur, saya adem banget dengarnya. Dan, ini makin menguatkan semangat saya bahwa segala sesuatu memang akan indah pada waktunya.

Dokter itupun menyarankan saya "mengistirahatkan" rahim dulu. Paling tidak selama 6 bulan. Termasuk rehat mental. Sehingga kami berdua terutama saya, benar-benar siap untuk hamil lagi nanti.

Selama sekian waktu, saya pun berusaha memantaskan diri untuk menyambut buah hati lagi. Hingga pada bulan ke delapan setelah persalinan pertama, saya positif hamil lagi. Alhamdulillah, ternyata Allah menjawab doa saya dan suami dengan begitu mudah.

Dan, kehamilan kedua ternyata lebih "ringan" daripada kehamilan pertama. Mungkin karena sudah yang kedua, sehingga saya merasa sudah berpengalaman sebelumnya. Dan, pasti juga karena Allah lah yang memudahkannya.

Sepanjang kehamilan, saya rutin periksa ke bidan juga ke dokter kandungan. Tak banyak hal baru yang saya terapkan. Lantaran saya masih hafal dengan segala "rumus" saat hamil anak pertama. Jadi hampir semua lancar jaya..

Karena suami menginginkan saya melahirkan di rumah orang tua saya di Kediri. Akhirnya pada usia kehamilan ke-28 saya pun diantar pulang kampung. Selama di kota kelahiran, saya yang membawa berkas kehamilan dari dokter sebelumnya, melanjutkan periksa ke dokter di sana. Hasil pemeriksaan semua baik-baik saja dan diperkirakan saya bisa melahirkan secara spontan (normal).

Aqiqahan
Saat yang ditunggu pun tiba. Pada usia kehamilan 37 minggu, ketuban saya pecah. Bapak, Ibu dan Kakak saya pun segera mengantarkan ke rumah sakit. Tiba di Unit Gawat Darurat sekitar pukul 12.00 siang. Saat diperiksa Bidan ternyata sudah bukaan 5. Sehingga langsung diarahkan ke ruang persalinan. Sementara suami yang saya kabari, hanya mampu lewat telepon menyemangati. Pukul 12 lewat, saya sudah berada di ruang bersalin. Beberapa perawat menyiapkan tempat sambil menunggu dokter. Saya memang memilih melahirkan dibantu dokter kali itu, meski bisa lahiran normal. Tak lama dokter datang, dan kontraksi demi kontraksi pun saya alami. Akhirnya, nggak sampai sejam dari itu...terdengar suara tangisan bayi...keras sekali! Alhamdulillah..



Saking terharunya, saya sampai berlelehan air mata saat Inisiasi Menyusui Dini. Dokter dan perawat sampai menggoda saya setengah geli..

"Sudah...anaknya sehat... nggak usah nangis lagi Buk...Wong anaknya nggak apa-apa kok malah nangis!"

Lalu saya pun dibawa ke ruang pemulihan (kamar pasien) lewat pintu belakang ruang bersalin. Keluarga besar yang sedang cemas menunggu di depan ruang bersalin nggak tahu kalau saya sudah keluar dari situ. Saya di ruang rawat pun keheranan sambil menunggu. Akhirnya, setelah bertanya ke perawat, mereka baru tahu. Semua nggak mengira kalau prosesnya bisa secepat itu. Mereka pikir saya masih di dalam dan belum lahiran.

Tak lama, saya pun mengabari suami akan kelahiran bayi kami. Tangisan saya pun pecah di telepon saat menceritakan kisahnya. Suami pun di ujung sana terdengar terbata. Apalagi, saat tahu bahwa bayi kami sehat dan baik-baik saja.

Suami juga bilang, saya dan si Mas tinggal saja dulu di Kediri, sampai kuat untuk dijemput dan balik ke rumah lagi. Setelah sekitar dua bulan, suami pun menjemput saya dan si Mas yang berkondisi sehat. Saya memberikan ASI eksklusif sejak hari pertama melahirkan dan Alhamdulillah ASI lancar tanpa ada hambatan. Dan, sekembalinya ke Pangkalan Brandan, ASI pun saya lanjutkan sampai usia 2 tahun 1 bulan. 


Kini, bayi yang kami nanti itu sudah menginjak usia remaja. Usia yang mengkhawatirkan banyak orang tua akan pengaruh pergaulan bagi putra-putrinya. Sebagai orang tua, tentu ada rasa khawatir di hati. Tapi itu tak harus membuat saya dan suami jadi takut menghadapi. Insya Allah dengan dasar agama yang utama dan bimbingan serta teladan dari orang tua, semua akan baik-baik saja.

Kisah saya inilah yang membuat saya benar-benar yakin pada janji Allah. Janji yang termaktub dalam lembaran ayat suci. Tepatnya pada Surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah: 5-6).

Ayat yang jika betul-betul direnungkan sungguh luar biasa maknanya. Jika kita benar-benar mentadabburinya, sungguh berbagai kesempitan akan terasa ringan dan semakin mudah kita cari jawaban. 

Percayalah...!

Bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan yang begitu dekat. Mungkin di awal kesulitan, belum datang pertolongan atau jalan keluar. Namun ketika hati sudah begitu pasrah dan segala sesuatu telah diserahkan seluruhnya pada Allah, Rabb tempat bergantung segala urusan, kemudahan pasti akan datang. 

Kuncinya adalah sabar. Sabar menanti adanya kelapangan adalah solusi. Dan, bukan selalu mengeluh tanpa ingat Yang Maha Pemberi. Insya AllahπŸ’–


Barakallah fii umrik, Mas!



Salam,

Dian Restu Agustina

#ODOPOKT19
Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Oktober 2017

Blogger Muslimah Indonesia

Cara Super Menjawab Telemarketer



Baru saja saya mendapat telepon dari seseorang yang menawarkan sebuah kartu keanggotaan jaringan hotel ternama. Padahal belum lama juga ada telepon penawaran KTA, Kredit Tanpa Agunan. Memang, kadang ponsel berdering saat sedang berada di tengah kesibukan. Langsung saya angkat meski nomor tak dikenal. Pikir saya, itu panggilan dari teman yang belum tersimpan nomornya, telepon dari sekolah anak, dari suami yang sedang dimana atau dari pihak yang ingin menawari saya kerjasama πŸ˜€. Kalau nggak diangkat, khawatirnya itu hal penting. Pas diangkat, ternyata telemarketing! Dilema...!

Telemarketing?


Ya, Kadang heran juga, tahu dari mana ya mereka tahu data-data kita?
Jangan salah, data kita tersebar dimana-mana kan? Saat bikin akun sosial media, kita ditanya email atau nomor ponsel. Waktu bikin aplikasi pendaftaran member itu ini, juga harus nulis data diri...

Nah, terjawab sudah!


Dilansir dari okupasidotcom, Telemarketing berasal dari kata tele dan marketing. Tele artinya jauh, marketing artinya aktifitas pemasaran. Jadi Telemarketing adalah aktifitas memasarkan produk atau jasa melalui saluran komunikasi jarak jauh. Dan, orang yang berprofesi di bidang Telemarketing ini disebut Telemarketer.

Nah, tugas utama seorang Telemarketer adalah melakukan penjualan via telepon, produk/ jasa sebuah perusahaan, kepada perorangan atau perusahaan.

Sedangkan roduk yang dipasarkan contohnya: asuransi, kartu kredit, pinjaman, paket wisata, voucher hotel, kendaraan dan beragam jasa lainnya.

Telemarketer dalam menjalankan tugasnya dibantu alat bantu diantaranya: telepon, fax, komputer dan koneksi internet. Telepon digunakan untuk menghubungi prospek (sebutan bagi calon pelanggan), sedangkan fax/komputer digunakan untuk mengirimkan pricelist, undangan, voucher, dan sebagainya, lewat fax atau email.


Sebenarnya sistem pemasaran produk/jasa melalui telemarketer ini sudah lama dipakai, tepatnya sejak tahun 70-an. Kemudian dengan perkembangan telekomunikasi, sistem ini makin berkembang, lantaran orang makin mudah untuk dihubungi melalui telepon seluler. Tentu dari sisi perusahaan hal ini membawa keuntungan pada kenaikan penjualan. Tapi, dari sisi pelanggan memunculkan dampak negatif yakni, gangguan akan telepon bertubi dari para telemarketer ini.

Bagi seorang telemarketer sendiri, ini merupakan tantangan tersendiri. Karena tentu berbeda memasarkan produk/jasa secara langsung atau face to face dengan hanya melalui sambungan telepon semata. Diperlukan kesabaran ekstra menghadapi prospek yang bisa jadi mengabaikan panggilan di ponselnya. Menyudahi segera pembicaraan saat baru tahap perkenalan. Atau mengatakan hal-hal yang kasar dan menyakitkan.


Tugas dan job description yang tentunya tak mudah bagi seorang telemarketer, dimana harus mengenakan headset / handsfree supaya tangannya tidak capek memegang gagang telepon. Sambil menelepon bisa memegang pulpen dan mencatat hal-hal penting atau mengetikkan data di komputernya. Belum lagi harus meredam emosi ketika menghadapi prospek yang menjengkelkan hati. Sampai-sampai di depan meja mereka biasanya dipasang cermin. Agar mereka melihat wajahnya sendiri ketika sedang menelepon prospek, sehingga sesekali tersenyum melihat raut mukanya sendiri.

Selain itu, juga dibutuhkan kemampuan menghadapi berbagai alasan penolakan yang disampaikan oleh prospek. Kemampuan handling rejection ini akan meningkat seiring dengan bertambahnya jam terbang sebagai seorang telemarketer. Seorang telemarketer yang handal bisa merubah penolakan menjadi hot prospek. Bahkan dalam banyak kasus, seorang prospek yang menolak saat ditawari telemarketer A, ternyata closing ketika ditangani oleh telemarketer B.

Seorang telemarketer juga harus mencatat semua aktivitas telemarketingnya (call record). Setiap panggilan harus dicatat dengan jelas. Siapa namanya, berapa nomor ponsel/kantornya, statusnya sebagai decision maker atau staf biasa, bagaimana status akhirnya (prospek, hot prospek, salah sambung, telepon mati), durasi teleponnya dan sebagainya. Call record ini nantinya akan menjadi bahan evaluasi aktifitas telemarketing bersama Team Leader / Supervisor / Sales Manager.

Hmmm, sekarang tahu kan, menjadi Telemarketer tidaklah semudah yang dibayangkan? Dan, saya bisa bicara seperti ini, karena pernah merasakan menjadi seorang part timer telemarketer di PT Indosat wilayah Bali saat kuliah dulu...😁


So, let's back to the topic...

Nah, karena kamu sudah tahu hari-hari indah dan sulit yang dijalani oleh seorang telemarketer, maka bersikaplah sewajarnya saat menerima telepon dari mereka. Karena:
  • Telemarketer itu juga manusia....punya rasa punya hati...Jangan samakan dengan pisau belati! (sambil nyanyi ala Candil Seurieus)
  • Telemarketer bekerja untuk mencari nafkah sama seperti kita. Bisa jadi ia tak hanya menghidupi diri sendiri juga anak istri.
  • Menelepon memang bagian dari tugasnya. Jadi, kalau sampai berulang, lain hari ditelpon oleh yang lain lagi..ya wajar. Nggak perlu GR! Selama belum closing kamu masih dikategorikan sebagai prospek! Jadi, mereka bukannya nggak bisa move on. Melainkan menunggu kamu yang masih menggantungkan harapan!

Jadi, lebih baik saat ditelepon seorang Telemarketer kamu bersikap:
  • Jawab salamnya dengan sopan dan ramah, karena mereka juga sudah susah payah.
  • Jangan langsung diputus teleponnya. Tunggu, paling tidak sampai sesi perkenalan selesai. Nggak ada salahnya mendengarkan 2-3 menit saja. Ingat, mereka malah harus menelpon lebih lamaaa...Selama 8 jam kerja!
  • Kalau Mas/Mbak-nya pakai acara basa-basi, potonglah dengan kalimat halus.."maaf Mbak, terus ini produknya apa ya..?"
  • Jika sedang tidak sibuk tak ada salahnya mendengarkan penjelasan sampai selesai dengan santai.
  • Kalaupun kamu sedang berkegiatan sehingga tak bisa konsentrasi mendengarkan penjelasan, langsung potong saja "maaf, saya sedang nyetir ini, Mbak" atau..."Mas, saya nggak bisa lama-lama terima telepon saat ini, maaf ya!"
  • Ucapkan terima kasih atas penjelasannya.
  • Sampaikan penolakan dengan sopan dan dengan alasan. "Maaf Mbak, saat ini saya belum perlu KTA! (saya butuhnya KTB, Kredit Tanpa Bunga)"
  • Tak perlu bernada keras ataupun mengucapkan kata-kata yang menyakitkan karena mereka sekedar menjalankan pekerjaan.



Dan, ingat cara pemasaran Telemarketing bukan asal-asalan dan memang diijinkan serta dipayungi oleh: 

"Peraturan OJK(Otoritas Jasa Keuangan) Nomor 1/POJK.7/2013 yakni OJK melarang pemanfaatan freelance telemarketing yang menggunakan long-number dan seolah-olah penawaran dilakukan secara pribadi. Penawaran harus jelas menyampaikan identitas PUJK(Pelaku Usaha Jasa Keuangan) dan jika melalui telepon harus memohonkan kesediaan Konsumen untuk menerima penawaran."

Artinya: OJK melarang menggunakan Freelance Telemarketing dengan menggunakan nomor telepon seluler pribadi dan bukan karyawan sebuah perusahaan. Jadi kalau ditelepon dari 021, 022, 031..dan itu karyawan pemasaran perusahaan, itu dibolehkan.

Jadi, sekarang kamu nggak perlu ngomel-ngomel lagi saat ditelepon oleh telemarketer, ya! Karena, mereka juga sekedar mencari rejeki seperti kita...πŸ’ž


Salam,

Dian Restu Agustina


*all pictures by: pixabay (dot)com



#ODOPOKT18
Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Oktober 2017
Blogger Muslimah Indonesia



Yuk, Bawa Bekal ke Sekolah!



"Bahagianya Ibuk-Ibuk itu nggak muluk-muluk. Lihat kotak bekal sekolah habis begini, sudah Alhamdulillah!"


Anak-anak saya terbiasa membawa bekal makanan ke sekolah. Sejak TK, si Mas sudah saya bawakan bekal. Karena saat itu di sekolahnya, Harold Keller Elementary School, Metairie LA, menu makan siang dari cafetaria meragukan saya. Pasalnya, menu yang tersedia tidak dijamin kehalalannya. Siswa di sana memang diberikan dua pilihan, apakah makan siang di cafetaria atau membawa bekal sendiri dari rumah. Makan siang, satu setnya seharga $1. Ini merupakan biaya yang dikenakan ke orang tua murid, setelah dikurangi subsidi dari pemerintah. Set menunya seperti yang sering kita lihat di film-film Amerika. Seperti, kentang goreng/tumbuk, ayam goreng, burger/sandwich, pizza, salad, buah dan  jus/susu. Sementara si Mas, bawa bekal saja dari rumah, dengan menu Nusantara atau ala Amerika. Bahkan, kadang saya samakan dengan jadwal menu di sekolah, agar ia tidak merasa minder lihat bekal yang dibawa temannya. Oh ya, jadwal menu ada diunggah di website sekolah.

Saat pulang dan sekolah lagi di Indonesia. Saya sempat shock lihat kantin dengan jejeran kios yang ada. Kantin di bawah pantauan sekolah, jadi jajanan yang dijajakan pun sudah diawasi. Sementara di luar pagar sekolah, pedagang kaki lima berbagai rasa dan rupa makanan ada. Memang anak-anak tidak diperbolehkan jajan di luar saat jam istirahat. Tapi saat pulang sekolah, bebas saja jika mau membeli.

Akhirnya, saya tetap membiasakan si Mas membawa bekal. Begitu juga si Adik saat mulai sekolah. Ketika si Mas masuknya tambah siang dan bekal sekali bawa tak cukup lagi, saya pesankan katering di sekolah untuk kekurangannya. Katering ini dimiliki oleh orang tua murid. Dan, melewati perijinan sekolah dulu. Sehingga terjamin kebersihannya. Menunya pun bervariasi. Jadi, kalau istirahat pagi, si Mas makan bekal yang dari rumah. Dan, saat istirahat siang, makan kateringnya.

roti, lumpia, nanas, melon

Tapi, ternyata lama-lama ia bosan dengan cara ini. Akhirnya ketika sudah masuk ke SMP (satu lokasi dengan SD-nya), ia nggak mau katering lagi. Maunya bawa bekal saja. Saat istirahat kedua, ia akan beli saja. Saya setujui, sekalian mulai melatihnya mengelola uang dengan memberi uang saku mingguan. Tapi, tetap saya pesan, jajannya musti hati-hati dan nggak sembarangan. Dan, tiap pulang sekolah, saya tanya tadi beli apa. Dan, jawabannya kadang menggelikan, 

"Aku beli Sate Padang, Buk. Satenya seporsi, ketupatnya setengah porsi!"
"Ha? Memang boleh begitu?"
"Iya bolehlah. Kalau ketupat seporsi (2 ketupat) itu banyak sekali, kekenyangan bisa ngantuk nanti. Kadang aku pesannya malah satenya saja!"
"Oh,oke...!" 

Saya rasa penjualnya mungkin heran. Kok tumben, anak sekolah biasanya minta banyak, eh ini malah nggak mau banyak-banyak...😁

Lain waktu, ia bilang beli nasi kucing, jus, es krim atau nggak beli apa-apa, karena sudah cukup dengan bekalnya. Yang utama, ia sudah belajar memutuskan sendiri, perlu beli atau tidak dan mau beli apa. Dan sisa uang mingguan, nantinya diserahkan kembali ke saya untuk ditabung setiap akhir bulan. 

nasi uduk, telur iris, ayam balado, timun, nanas

Masalah bekal sekolah telah sering dikampanyekan berbagai pihak. Dengan membawa bekal, makanan yang dikonsumsi tentu lebih sehat dan hemat. Mungkin banyak ibu yang beralasan, menyiapkan bekal itu memerlukan waktu. Apalagi di Jakarta yang anak sekolahnya masuk pagi, pukul setengah tujuh.

Padahal sebenarnya, bekal bisa disiapkan pagi sekalian memasak untuk sarapan. Atau diolah malam sebelumnya, jadi pagi tinggal menggorengnya, untuk ayam misalnya. Yang praktis saja, tak perlu terlalu lengkap juga. Nanti kecukupan gizi bisa kita kejar saat makan pagi, makan malam atau camilan saat di rumah.

nasi goreng, telur dadar, semangka, timun, pudding roti

Berikut beberapa tips saat menyiapkan bekal makanan anak:
  • Gunakan wadah makanan/minuman dengan kualitas baik.
Misalnya, tidak memakai botol mineral sebagai wadah minum secara berulang. Hindari juga pemakaian wadah plastik tidak sesuai standar wadah makanan. Ikuti juga petunjuk cara perawatannya.
  • Libatkan anak untuk menentukan menu
Tanyakan sebelumnya, besok mau bawa apa. Sehingga pagi-pagi bisa disiapkan menu sesuai yang anak mau.
  • Siapkan dulu agar tak buru-buru
Malam sebelumnya, bisa dicicil merajang bumbu, mengungkep ayam, menyiangi ikan memotong sayuran, dan lainnya. Sehingga pagi kita tinggal mengolahnya.
  • Kreatif menyajikannya
Bisa dari warna-warni makanannya, bentuk yang unik atau penataan yang menarik.
  • Hindari menu yang sama setiap hari
Kalau hari ini ayam, besok ayam, lusa juga..bosan lah anaknya! Buat variasi menu setiap hari!
  • Perhatikan keseimbangan nutrisi
Jika susah makan sayur, coba masukkan sayur dalam olahan makanan. Sesuaikan komposisi menu lainnya.

opor kentang dan ayam, mangga, melon

Tak harus makanan berat, kadangkala anak bisa membawa camilan/snack dan buah. Misalnya menu berikut ini:

Nugget Udang Roti Tawar

Bahan:
 4 lembar roti tawar
1/4 kg udang (bisa diganti ayam)
1 butir telur
daun bawang
susu, garam, merica secukupnya


Cara Membuat:
Blender semua adonan
Kukus hingga matang
Dinginkan
Goreng (bisa dengan tepung panir) saat akan disajikan
Bisa ditambahkan potongan sayuran

Lalu, sebenarnya apa saja keuntungan membawa bekal dari rumah?
  • Hemat waktu
Kalau jajan, harus pergi ke kantin dulu. Lagi antri..eh, tiba-tiba bel masuk sudah berbunyi.
  • Lebih sehat
Makanan yang diolah di rumah terjaga kebersihannya dan terpantau kualitas bahannya dan cara memasaknya.
  • Hemat uang
Belanja sekalian untuk sarapan dan bekal hingga hemat uang belanja.
  • Makan tepat waktu
Karena sudah bawa bekal, nggak akan telat makan.
  • Sesuai selera
Karena bekal yang dibawa apa yang anak suka, sesuai seleranya.
  • Pas porsinya
Ibu yang tahu kebiasaan makan anak-anaknya. Jadi bawa bekalnya pas porsinya.
  • Mengontrol nutrisi makanan anak
Dengan membawa bekal sendiri akan terpantau kecukupan nutrisi.
  • Menghindari jajan sembarangan
Karena sudah bawa makanan jadi terhindar dari jajan sembarangan yang nggak ketahuan nutrisi dan kebersihannya.


Nah, bawa bekal banyak manfaatnya, kan? Yuk, bawa bekal ke sekolah!


Salam,

Dian Restu Agustina


#ODOPOKT17
Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Oktober 2017
Blogger Muslimah Indonesia



Lumpia dan Kisah Romantis di Baliknya




Tadi pagi saat belanja, saya membeli kulit lumpia. Awalnya karena usul anak-anak saya, bikin camilannya nanti yang gurih saja. Mereka memang lebih suka penganan gurih daripada manis. Enek katanya! Sama dengan saya, yang tak terlalu suka dengan makanan yang terlalu manis. Lantaran merasa diri sudah cukup manis! #eaa 😁

Kulit lumpia memang tak sulit membuatnya. Tapi karena mengejar kepraktisan (baca: mager), saya membeli yang sudah jadi. Untuk bahan isian, saya pakai stok yang ada di kulkas saja. Memang tak ada rumusan baku, lumpia harus diisi bahan tertentu. Biasanya unsur sayur selalu ada, misalnya wortel, rebung, tauge, bengkuang, jagung dan kentang. Lalu unsur hewani seperti potongan daging ayam, udang, ikan (bandeng) atau telur. Campuran bahan tersebut beserta bumbu-bumbu diolah, lalu dibungkus dengan lembaran tipis yang terbuat dari tepung terigu, air, telur dan garam. Sedangkan untuk penyajian, lumpia bisa disajikan dalam versi basah atau kering (goreng).

Di Indonesia, lumpia diidentikan dengan kota Semarang. Tentang ini, ada kisah yang melatarbelakangi. Dilansir dari seputarsemarang dot com. Adalah Tjoa Thay Joe, pria kelahiran Fujian yang memutuskan untuk menetap di Semarang. Ia membuka usaha makanan khas Tionghoa, berupa hidangan pelengkap berisi daging babi dan rebung. Kemudian ia berjumpa Mbak Wasih, perempuan Jawa yang berjualan makanan yang hampir sama.  Hanya saja rasanya manis khas Jawa, berisi kentang dan udang. Ternyata, mereka bukannya bersaing atau saling menjatuhkan, tapi malah jatuh cinta dan menikah pada akhirnya. Usaha mereka pun di-merger. Dan, ada perubahan racikan yang dilakukan untuk melengkapi kesempurnaan rasa makanan berlintas budaya Tionghoa – Jawa. Isi yang semula daging babi diubah menjadi ayam atau udang. Sedangkan sayuran tetap rebung. Keunggulannya adalah isi yang tidak amis dan berasa gurih dan manis, serta kulit lumpia yang setelah digoreng renyah dan tipis. Benar-benar mewakili kisah romantis dari dua insan yang melahirkannya, sang pendatang dan penduduk lokal.

foto: seputarsemarangdotcom
Nah, untuk rebung sendiri, memang memerlukan cara khusus menanganinya agar bau tak enak(pesing)nya bisa hilang. Caranya dengan:
  • Rebus rebung dengan air mendidih sekitar 15 menit, lalu buang air rebusan.
  • Rebus dengan air kelapa, buang airnya. Merebus dengan air kelapa akan menambah rasa gurih pada rebung.
  • Rendam potongan rebung dalam garam selama 30 menit, baru diolah.
  • Rebus dengan rempah/bumbu, seperti daun jeruk, daun salam, daun sere atau jahe.
Olahan Lumpia Semarang memang unik dan berbeda. Jadi, kalau sedang berkunjung ke sana, jangan lupa membawa lumpia sebagai oleh-olehnya. Jika perjalanan cukup dekat, pilih yang belum digoreng yang bisa tahan 24 jam. Atau, lumpia yang sudah digoreng yang bisa awet sampai 3 hari. Boleh juga menikmati lumpia hangat di tempat. Dengan harga 15 ribu per potongnya (cukup mahal yaa), namun sebanding dengan rasanya. Worth it, nggak bakal nyesel kok. Endesss!

Nah, berhubung rebung susah didapat di tukang sayur langganan saya, jadi saya bikin isian dari bahan yang tersedia saja. Berikut Lumpia ala saya: πŸ˜€

Bahan:

10 lembar Kulit lumpia
4 Bawang merah
2 Bawang putih
1 buah wortel
1 buah kentang
1 tangkai daun seledri
1 buah sosis
1 butir (putih) telur
terigu, merica, garam secukupnya



Cara Membuat:

Potong kecil-kecil wortel, kentang, daun bawang, sosis
tumis bawang merah dan bawang putih
masukkan potongan sayur dan sosis
tambahkan air
beri merica dan garam
tambahkan 1 sdm terigu sebagai pengental



Masukkan isian ke kulit lumpia
Gulung dan rekatkan dengan putih telur
Goreng hingga kecoklatan
Sajikan dengan saus sambal atau cabe rawit



Meski bentuknya tak beraturan, tapi lumpia berbumbu cinta ala saya habis dalam beberapa menit saja saat anak-anak pulang sekolah. Alhamdulillah!😍

Tapi, kok jadi mirip risoles ya isinya...? Hmmmmm

Beda, lah! Risoles sebelum digoreng dibalur tepung roti dulu lalu digoreng, kalau lumpia langsung digoreng...hehehe😊

Nah, kalau kamu bikin lumpia, isiannya pakai apa?


Happy Cooking ~ Be Inspiring!

Dian Restu Agustina



#ODOPOKT16
Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Oktober 2017
Blogger Muslimah Indonesia

Layanan Pesan Antar

Dewa Penolong Disaat Lapar



Kasus pertama

Krrrrrkkk! Perut lapar, sementara nggak ada makanan di meja makan, mau masak, di kulkas habis pula stok bahan masakan. Nunggu tukang bakso yang lewat, ini bukan jam lewatnya. Lagian rasanya juga pas-pasan! Mau pergi keluar cari makanan, musti ganti pakaian, dandan, keluarkan kendaraan...Ah, ribet!

Kasus Kedua

Tiba-tiba saudara berkabar, siang ini akan datang berkunjung ke rumah. Padahal itu kurang 2-3 jam lagi. Periksa kulkas, tak ada bahan yang pantas jadi olahan untuk disajikan. Hmm..padahal nanti bertepatan dengan jam makan siang..Mau belanja ke warung tetangga, kalau Subuh belinya, baru lengkap bahan masakan tersedia. Kalau masak dulu, butuh waktu!  Belum lagi rumah seperti kapal pecah. Harus rapi-rapi biar pantas saat tamu duduk di sini. Huaaaa!!

Kasus Ketiga

Menjelang jam makan siang. Perut sudah mulai keroncongan. Berkas di meja kerja masih setumpuk banyaknya. Mau minta tolong Mas OB, entah lagi sibuk dimana dan ngerjain apa. Kalau makan siang sama teman ke warung belakang kantor, butuh waktu sejam. Bisa-bisa kerjaan nggak selesai dan harus lembur nanti.

Pernah merasakan kejadian yang sama? Solusinya ada dua, beli makanan ke warung sekitar. Tinggal pilih, mau ke Kedai Mie Aceh, Rumah Makan Padang, gerai fried chicken/pizza, Warung Tegal, Warung Soto Betawi atau lainnya. Tapi, harus keluar rumah, dandan rapi, macet-macetan lagi dan antri! Hhhh..!

Syukurlah, sekarang ada banyak layanan pesan antar makanan. Solusi kekinian untuk pemadam kelaparan ataupun situasi P3K (Pertolongan Pertama Pada Kedatangan-tamu ~ baca: magerπŸ˜€)

Dan, nggak tanggung-tanggung, bukan cuma gerai makanan berwaralaba yang membuka layanan ini. Tapi warung kecil di sekitar tempat saya tinggal pun sudah melakoni. Belum lagi aplikasi ojek online yang salah satu layanannya adalah food delivery. Kesemuanya, membuat kita tinggal duduk manis di rumah saja, bermodal pulsa untuk menelpon atau kuota internet untuk memesannya. Praktis dan ekonomis!

Nah, berikut beberapa jenis layanan pesan antar makanan yang bisa dijadikan pilihan, diantaranya:
  • Antar Langsung dari Warung
Salah satu contohnya, di dekat rumah saya ada Warung Mie Aceh Bang Madi. Warungnya sederhana, tapi nendang rasa masakannya. Warung ini melayani pesan antar. Setelah pesanan disiapkan, akan diantar sendiri oleh pemiliknya ke rumah kita. Tentu dalam jarak terbatas. Tapi, ide ini patut diacungi jempol. Tak hanya menunggu pelanggan datang tapi juga memudahkan lewat pesan layan antar. 



  • Hotline Number
Sementara, restoran waralaba juga berlomba memanjakan pelanggan dengan menyediakan layanan pesan antar. Layanan ini ada yang gratis dengan minimal pembelian atau dikenakan biaya pengantaran. Layanan bisa melalui nomor telepon khusus yang disediakan atau pesan online lewat website restoran. Asalkan di dekat kita ada cabangnya, kita tinggal menghubungi nomor yang tertera dan memesan makanan. Operator akan menghubungi cabang terdekat untuk mengantarkannya. Pembayaran bisa secara tunai atau non tunai (kartu debit/kredit).

  • Aplikasi Ojek Online 


Layanan pesan antar makanan berbasis ojek online ini, telah terintegrasi dengan ribuan gerai, mulai dari kaki lima sampai restoran bintang lima. Pembelian makanan akan ditalangi oleh driver-nya. Biaya pengantaran dihitung berdasarkan jarak antara lokasi si pemesan dan restoran. Pelanggan bisa melacak keberadaan driver, juga menelpon untuk menanyakan jika pesanan tak kunjung tiba. Setelah pesanan sampai, pemesan bisa membayar secara tunai atau melalui dompet virtual di akun ojek online-nya. 
  • Aplikasi Situs Pencarian Restoran


Aplikasi panduan restoran seperti Zomato misalnya, memberikan kemudahaan bagi pengguna untuk mencari informasi berkaitan dengan restoran. Informasi yang ditampilkan meliputi nama restoran, kontak, alamat, menu, foto, ulasan dan lokasi pada peta (dengan Google Maps). Zomato turut memberikan fasilitas kepada pengguna yang terdaftar untuk mengirim ulasan dan menilai (dalam skala 1 - 5) restoran tersebut dan menampilkan penilaian total untuk setiap tempat. Disediakan juga informasi yang berkaitan dengan waktu masakan disajikan, jam buka, rata - rata biaya makan untuk 2 orang, pembayaran dengan kartu kredit, juga fasilitas ketersediaan WiFi, harga tiket masuk dan informasi layanan pesan-antar

Nah, beragam pilihan layanan pesan antar tadi, banyak memberikan keuntungan bagi pelanggan diantaranya:
  • Tak perlu kemana-mana
Pesan dari manapun, rumah atau kantor, bisa! Sehingga menghemat waktu, tenaga dan uang kita. 
  • Menu pilihan sama dengan makan di tempatnya
Menu layan antar biasanya nggak jauh beda dengan makanan yang kita santap di restoran. Jadi tanpa harus mendatangi, kita sudah bisa menikmati menu favorit kita. Bahkan kadang ada program promosi yang hanya berlaku untuk layanan pesan antar saja.
  • Pas untuk dietmu
Jika kita datang ke tempatnya, lihat menunya atau makanan yang dipesan sebelah kita, bisa membuat tergoda. Lain halnya jika pesan layan antar. Menu yang kita pilih bisa kita kontrol sebelumnya.
  • Tidak mengganggu aktivitas lainnya
Sementara menunggu makanan kita datang, kita bisa lanjutkan kelanjutan serial TV yang kita ikuti, sambil bebenah rumah sampai tamu datang nanti atau mengerjakan itu ini.
  • Jaminan Ketepatan
Beberapa restoran memberikan jaminan batas waktu maksimal kedatangan pesanan. Akan ada compliment tertentu yang akan diberikan jika pesanan terlambat datang. Jadi kita tidak perlu terlalu khawatir dengan kesegaran makanan.


Nah, begitulah layanan pesan antar yang kini sudah jadi layanan wajib yang dimiliki restoran untuk meningkatkan penjualan. Sementara bagi pelanggan, layanan ini makin memudahkan saat membutuhkan makanan yang diinginkan. Apalagi di kota-kota besar dimana kemacetan adalah keniscayaan, menjadikan layanan ini bisa menjadi solusi.

Kalau kamu, sudah pernah belum mencoba layanan pesan antar makanan? 


Salam,

Dian Restu Agustina




#ODOPOKT15
Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Oktober 2017
Blogger Muslimah Indonesia


Parlementaria 

Majalah Wakil Rakyat Kita




Hari ini saya hampir seharian berada di stasiun Gambir. Awalnya karena menjemput si Mas pulang dari kegiatan sekolah, English Camp di Kampung Inggris Pare, Kediri. Kereta yang ditumpangi rombongan, KA Gajayana jurusan Malang-Jakarta, ternyata mengalami penundaan waktu kedatangan. Yang seharusnya pukul 5 pagi sudah masuk ke stasiun, ternyata hampir pukul satu siang baru tiba. Ini disebabkan, adanya peristiwa mogoknya sebuah truk pengangkut crane di perlintasan kereta Pasir Bungur, di dekat Stasiun Cilegeh, Cirebon. Sehingga rel arah ke Jakarta dan sebaliknya tak bisa dilalui kereta. Total ada 11 kereta dari arah Timur dan 3 kereta dari arah Barat yang berhenti menunggu selesainya proses evakuasi.

Padahal saya sudah stand by di Gambir sejak pagi. Memang ada pengumuman dari grup WA orang tua murid, kalau ada penundaan jadwal. Pikir saya, paling juga 1 atau dua jam saja terlambatnya. Nggak tahunya ternyata hampir 8 jam! Sampai habis baca 1 novel saat menunggu di parkiran, pindah lagi ke gerai makanan untuk sarapan lalu menuju ke tempat tunggu penumpang. Saya bertiga dengan si Bapak dan si Adik nunggunya sampai lumutan.πŸ˜€

Saat duduk di ruang tunggu penumpang, di sebuah sudut tempat lalu lalang, mata saya terpaku pada sebuah rak. Rak kayu dengan sisipan majalah yang di bagian kepala rak ada logo besar bertuliskan DPR-RI. Di bawah logo tertera tulisan Majalah dan Buletin PARLEMENTARIA - Gratis - Silakan Diambil


Karena dipersilakan mengambil, sebagai orang yang suka bacaan gratisan, saya pun mengambilnya. Dan, sesuai dengan keterangan di rak, memang ada 2 jenis, Majalah Parlementaria dan Buletin Parlementaria.


Majalah Parlementaria, dengan halaman berjumlah 79, kertas cover mengkilap berkualitas. Kertas yang digunakan pun pilihan. Sementara buletinnya, mempunyai 23 halaman dengan kualitas kertas sama. Di cover depan keduanya, terdapat logo DPR-RI dan keterangan "Tidak diperjualbelikan". Keduanya sama-sama edisi Oktober 2017.

Majalah Parlementaria


Di sampul depannya tertera, majalah ini adalah edisi ke-152 tahun ke-47. Membuka bagian dalam diawali dengan Pengantar Redaksi bersisian dengan Dewan Redaksi dan Penerbitan.


Di sisi kiri bawah tercantum akun sosial DPR-RI, ada Facebook, Twitter, Instagram dan Youtube. Yuk follow...! Jangan cuma follow artis Korea, follow juga lembaga wakil rakyat kita ...😍



Berikutnya ada Daftar Isi. Dimana disebutkan di majalah ini terdapat rubrik: Aspirasi, Prolog, Laporan Utama, Sumbang Saran, Pendapat Masyarakat, Foto Berita, Profil, Kunker, Liputan Khusus, Dapil, Pernik, Parlemen Dunia, Kiat Sehat, Wisata, Hobby dan Pojok Parle.

Konten artikel majalah Parlementaria banyak diwarnai seputar kegiatan anggota lembaga tinggi negara yang tahun ini telah berusia 72 tahun ini. 

Selain itu ada rubrik Aspirasi yang merupakan kiriman kritik dan saran dari masyarakat yang ditujukan untuk anggota dewan. Lalu ada Pendapat Masyarakat mengenai Dewan Perwakilan Rakyat. Foto Berita yang mencantumkan kegiatan dewan dalam bentuk foto-foto. Tak ketinggalan ada Profil, dimana dikupas perihal sosok anggota dewan. Kali ini ada profil Marwan Cik Asan, Wakil Ketua Komisi XI DPR-RI. Dan, yang menarik ada Rubrik Kiat Sehat dan Wisata yang merupakan artikel kiriman dari masyarakat (yuk coba kirim...!😍)


Buletin Parlementaria

Di cover depannya tertulis, buletin ini  edisi nomor 980 terbit bulan Oktober 2017. 

Di bagian dalam berisi beragam kegiatan anggota dewan dan berita terkait perihalnya. Tidak ada rubrik tertentu seperti dalam majalahnya. Dan di cover belakang terdapat Lensa Parlemen yang memuat foto-foto kegiatan.



Nah, itulah tadi Majalah  dan Buletin Parlementaria yang merupakan media lembaga tinggi negara yaitu Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Bagi yang ingin mendapatkan hasil cetak dan distribusi majalah/buletin ini silakan menghubungi kontak berikut ini:



Sedangkan untuk saran dan kritik tentang Majalah dan Buletin Parlementaria bisa ke info berikut: 


Semoga bermanfaat!πŸ’“


Salam,


Dian Restu Agustina

#ODOPOKT14
Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Oktober 2017
 Blogger Muslimah Indonesia


Yuk, Mengajak Anak Memasak!




Akhir pekan datang. Bagi Ibu Rumah Tangga seperti saya yang keseharian sudah disibukkan dengan urusan rumah tangga, akhir pekan adalah saat yang dinantikan. Untuk sekedar selonjoran atau mengurangi ritme kegiatan padat tiap Senin sampai Jumat. Ya, lantaran anak-anak libur sekolah dan suami pun libur kerjanya.

Biasanya, jika tak ada rencana pergi, kami di rumah saja dan berkegiatan bersama. Anak-anak misalnya, meski lelaki sering saya ajak turun ke dapur untuk memasak bersama. Kami kadang membuat kue yang gampang tanpa perlu ditimbang. Memasak resep yang sederhana sehingga bisa dikerjakan oleh anak-anak dengan mudahnya. Sehingga saya tinggal kasih instruksi saja...hahaha..

Seperti resep berikut ini: 

Lumpur Kentang

Bahan: 


3 kentang rebus (haluskan)
3 telur
1 gelas tepung terigu
2 gelas santan
10 sdm gula putih
100 gram (1/2 sachet margarine) lelehkan
garam
vanili

Cara Membuat:

Mikser telur dan gula selama 2 menit dengan kecepatan rendah


Tambahkan santan
Masukkan kentang
Masukkan tepung terigu
Tambahkan margarine
Cetak sampai matang. 


Beri hiasan(keju, kismis, nangka, dan lainnya)
Sajikan



Apple Pie

Bahan kulit:
satu gelas tepung terigu
100 gram margarine (1/2 sachet)
1 telur
1 sdm air es
Aduk rata semua

Bahan isi:
4 buah apel Malang potong dadu atau blender sebentar
1 gelas gula putih (atau sesuai selera)
1 sdm bubuk kayu manis (atau batang kayu manis)
Masak di api kecil, tambahkan maizena untuk pengental

Cara Membuat:
oleskan tipis margarine ke teflon
Bentuk adonan kulit
Tambahkan adonan isi
Masak dengan api kecil sampai matang
Sajikan




Cupcake Keju Sederhana




Bahan:
satu gelas tepung terigu
200 gram margarine (1 sachet)
setengah gelas gula
3 telur
keju parut secukupnya

Cara Membuat:
lelehkan margarine
kocok rata dengan gula
masukkan telur satu persatu
masukkan terigu
panggang 15 menit
taburi keju parut
panggang lagi 5 menit
Sajikan

Berbagai resep gampang tanpa perlu ditimbang tersebut, bisa dijadikan kegiatan kreatif dan produktif untuk anak-anak di akhir pekan atau saat liburan. Karena mengajarkan memasak anak itu banyak manfaatnya.

Beberapa manfaat mengajak anak memasak diantaranya:
  • Menumbuhkan kedekatan dan kehangatan keluarga.
Dengan memasak bersama, berbincang sesekali, saling membantu itu ini..Membuat suasana akhir pekan keluarga pun menghangat.
  • Menambah wawasan dan pengetahuan
Sambil memasak bisa disisipkan tentang kandungan gizi bahan, manfaatnya dan pengetahuan lainnya. Jadi tak hanya makanan lezat yang jadi hasilnya, tapi juga ilmu bermanfaat.
  • Melatih kepekaan rasa
Baik dari indra perasa, pencium, penglihatan, pendengar maupun peraba akan terlibat saat memasak. Anak bisa meraba tekstur terigu yang lembut, mencium bau wangi margarine yang dilelehkan atau membedakan mana masakan yang masih mentah atau matang. Kesemuanya akan melatih kepekaan rasa anak.
  • Melatih konsentrasi
Saat memasak, anak akan belajar melakukan tahapan sesuai yang diinstruksikan. Sehingga konsentrasi pun terasah.
  • Melatih gaya hidup sehat dan hemat
Dengan memasak sendiri makanan yang dikonsumsi, akan mengajari anak untuk makan makanan sehat, menghindari jajan sembarangan dan menjauhi pemborosan
  • Melatih ketrampilan hidup
Baik anak perempuan maupun laki-laki akan hidup mandiri suatu hari nanti. Memasak adalah salah satu ketrampilan hidup yang wajib dipunyai. Paling tidak ia nanti bisa mengolah makanan untuk dirinya sendiri.

Jadi, yuk kita selipkan memasak menjadi kegiatan bersama buah hati, karena manfaatnya bagus sekali!πŸ’–

Salam,

Dian Restu Agustina

#ODOPOKT13
Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Oktober 2017
 Blogger Muslimah Indonesia

Jenang Procotan




Sri mengairi kelapa parut. Diremas-remas, diperas dan disaring. Hingga mengucur air santan dari bawah saringan. Begitu seterusnya, sampai didapatkan sepinggan santan. Kemudian, dicampurkannya sebagian santan dengan garam, daun pandan dan gula merah. Lalu, dimasak di atas tungku kayu, sambil sesekali diaduk agar santan tidak pecah. Lantas, diambilnya tepung beras yang kemarin digilingkan di warung Kang Setu. Di baskom, tepung beras diaduk rata dengan santan yang tersisa. Dan, dimasukkan ke campuran santan yang sudah mendidih di tungku. Sambil terus diaduk sampai tercampur hingga matang menjadi jenang. Terakhir, dimasukkannya satu persatu pisang raja yang telah dikukus sebelumnya, ke dalam adonan jenang tadi untuk dimasak sebentar. Dan akhirnya, siaplah jenang procotan untuk diambil oleh pemesan.

Sambil menunggu waktu, Sri duduk di dingklik di depan tungku. Sembari menyesap kopi hitamnya yang hampir dingin. Helaan napas panjang terdengar di sela rintih hati Sri yang sunyi. Tiap kali menyiapkan pesanan jenang procotan, ia selalu merasa gundah. Jenang procotan, dipesan orang sebagai pelengkap selamatan usia sembilan bulan kehamilan. Merupakan simbol doa pada Tuhan Yang Maha Esa, agar persalinan nanti berjalan dengan lancar, sehat dan selamat. Seperti arti kata procot dalam Bahasa Jawa. Jenang ini nanti akan bersanding dengan nasi tumpeng yang dilengkapi beraneka macam lauk di sekelilingnya. Dan, seselesainya doa bersama, akan dibagikan ke tetangga kiri kanan, dengan harapan kelak si anak bakal menjadi orang yang dermawan. Sementara pisang raja mewakili simbol seorang raja. Harapannya, kelak si anak menjadi orang yang baik dan berbudi pekerti luhur. Memang, jenang procotan begitu istimewa baik cita rasa maupun maknanya. Hingga Sri merasa senang bisa membuatkan jenang ini untuk banyak orang. Meski hatinya selalu berkecamuk saat menyiapkan. Lantaran ia merindukan rasanya hamil dan melahirkan. 

Nduk, kae ana sing kulanuwun!” Suara Simbok dari arah depan memberi tahu jika ada tamu. Lamunan Sri pun buyar.

Nggih, Mbok.” Bergegas ia menuju pintu.

Sri Jenang, begitu ia dijuluki. Ya, jenang, penganan yang dijualnya tiap pagi, disandang mengikuti namanya. Untuk membedakan dengan berpuluh nama Sri yang lain di desanya. Sri mewarisi keahlian meracik makanan tradisional ini dari Simbok. Sudah tiga tahun ini, Sri yang sejak dulu hanya membantu, mengambil alih profesi Simbok, berjualan jenang di Desa Sidorejo. Saat ini, tinggal ia satu-satunya penjual jenang yang tersisa. Yang dijualnya pun tetap sama dengan yang dijual Simbok selama lebih dari 40 tahun. Ada dua macam jenang yang dijualnya, jenang putih dan jenang ireng. Jenang putih atau jenang sumsum hampir sama dengan jenang procotan. Hanya saja antara jenang putih dan kuah gula merahnya disajikan terpisah. Sedangkan jenang ireng terbuat dari beras ketan hitam yang dimasak dengan air, gula putih dan daun pandan yang dikentalkan hingga jadi jenang. Cara penyajiannya dengan disiram kuah santan. Selepas Subuh, dagangan jenang Sri sudah siap menunggu pembeli. Dan, sebelum mentari sempurna menghampiri bumi, semua jenang telah ludes terjual. Selain berjualan jenang setiap pagi, untuk pesanan Sri bisa membuatkan bermacam jenis jenang lainnya. Seperti jenang procotan, jenang candil, jenang katul juga jenang mancawarna. Semua jenang itu membawa makna yang mewakili hajat sang empunya acara. 

“Nduk, jenang kuwi wujud syukur marang Gusti Kang Murbeng Dumadi. Simbol doa, harapan, dan semangat hidup. Juga, rasa terima kasih atas semua karunia-Nya pada kita, semenjak proses kehamilan sampai kematian. Itulah kenapa dalam tiap selamatan, selalu ada jenang. Tanpa memandang siapa dia ataupun status sosialnya.”

Begitu tutur Simbok dulu saat Sri masih kecil, sembari mengajari memasak jenang. Biasanya Sri membantu memarut kelapa atau menumbuk beras menjadi tepung. Ya, dulu Simbok mengerjakan semuanya. Beruntung, sejak ada mesin penggiling beras dan pemarut kelapa, semua tak perlu dikerjakan sendiri lagi. Simbok juga mengajarinya cara memasak berbagai jenis jenang. Selain itu Sri pun diberi tahu masing-masing peruntukannya untuk apa. Kini, di saat tak semua orang bisa membuatnya sendiri, memesan jenang pada Sri bisa jadi solusi. Bagaimanapun tradisi sepatutnya diuri-uri. Dan Sri, bangga sekali bisa menjadi bagiannya.

Tak banyak orang yang tahu nama asli Sri. Sebenarnya, Sri Utami, itu nama lengkapnya. Berasal dari kata Sri, nama Dewi Padi yang mewakili simbol kecantikan dan kemakmuran. Dan Utami, yang berarti utama. Begitu indah arti namanya. Meski, Sri menyadari nasibnya tak secantik namanya. Bapak meninggal saat ia baru masuk SD. Simbok berjuang sendirian menghidupi Sri dan kedua kakaknya. Sedari kecil, sebagai anak bungsu ia selalu berada di bawah bayang-bayang dua kakak lelakinya. Sri tumbuh menjadi gadis pendiam yang manut. Berbeda dengan kakaknya yang melanjutkan sekolah ke kota, setamat SD, Sri membantu Simbok berjualan jenang. Kadang ia juga jadi buruh tani saat musim tanam atau panen padi tiba. Karena tak tahan dijuluki perawan tua oleh para tetangga, suatu hari ia pun menerima lamaran Bowo, anak juragan selepan dari desa sebelah. Dan, setelah menikah ia pun berpindah ke rumah mertuanya. 

Sayangnya sangkar emas yang diimpikan Sri belum menjadi rejeki. Hari demi hari, ia dirundung cibiran karena tak segera memberikan Bowo keturunan. Ibu mertuanya selalu bicara dengan nylekit. Menganggap Sri bagai ladang tandus yang membuat harapannya bercucu bakal pupus. Suaminya pun tak kalah kejam bikin hati Sri kelam. Ia selalu menunjuk kalau rahim Sri gabuk. Padahal Sri yakin, bisa jadi suaminya pun punya andil. Badan Bowo yang kegemukan dan kegemarannya menenggak minuman keras tentu cukup jadi alasan hingga tak mampu memberi Sri benih yang sempurna.

Namun, meski hidup tertekan luar biasa, Sri tetap sabar dan tak pernah mengadu pada Simbok. Sampai tiga tahun berselang, tiba-tiba Bowo meninggal mendadak. Kata Pak Mantri, ia terkena serangan jantung. Lalu, Sri pun pulang kembali ke rumah Simbok dengan menyandang status janda.

Wong urip ora bakal nampa coba luwih saka kasanggupane nyangga.” Itu yang selalu diucapkan Simbok sepeninggal Bapak. Keyakinan itu juga yang selalu dipegangnya dengan teguh. Sri percaya kalau Tuhan hanya memastikan kesanggupannya menghadapi cobaan.

Sri pun mengambil alih warung jenang Simbok. Sampai setahun yang lalu, tetangganya, Joko, meminangnya. Joko, duda cerai yang berpisah dengan istrinya tanpa ada anak. 

“Aku mungkin kedi, ngga bisa punya anak, Ko! Kamu nggak nyesel nanti?” jujur Sri dulu.

Ojo ngono, Sri. Anak itu hak Tuhan. Bukan kita yang menentukan,” Joko tak mempermasalahkan.

Sri pun merasa adem mendengarnya. Dan, yakin laki-laki inilah pelabuhan terakhir hatinya. 

Sri mengawali rumah tangganya dengan berbunga-bunga. Joko, pegawai di kantor kecamatan. Seorang laki-laki periang yang selalu ringan tangan. Rumah Simbok pun jadi hidup karena ada sosok laki-laki lagi. Joko mencukupi kebutuhan Simbok dan Sri. Bahkan Joko melarang Sri berjualan jenang lagi. Tapi Sri bergeming akan tetap membuat jenang karena ia merasa tak bisa dipisahkan dari kesibukan membuat penganan ini. Joko akhirnya tak keberatan. Simbok, demikian sayang pada mantu barunya yang sopan dan penuh perhatian. Simbok yakin, inilah jawaban atas doa-doanya untuk kebahagiaan Sri selama ini.

Tapi, Itu hanya yang nampak di muka. Kenyataannya Sri tetap resah. Bukan karena ia mulai mendengar bisik-bisik tetangga yang menyangsikan kesuburan rahimnya. Bukan juga karena Simbok yang makin menua sehingga Sri harus mengurusi semua kebutuhan hidupnya, lantaran kakak-kakaknya sudah berkeluarga di kota dan tak bisa banyak membantu. Bukan juga karena ada perlakuan kasar Joko yang membuat hatinya terluka. Bukan, …bukan itu semua!

Tapi, Sri tetap memendam segala gelebah hatinya sendiri. Ia masih bersyukur tak kekurangan apapun. Joko menafkahinya dengan cukup. Belum lagi hasil jualan dan pesanan jenang. Jumlahnya bahkan sisa untuk kebutuhan mereka. Hingga membuat uang tabungan yang disetorkannya ke unit bank pemerintah di kecamatan terus bertambah. 

Sri gundah lantaran Joko mungkin takkan bisa memberinya keturunan. Beberapa waktu setelah perhelatan pernikahan, Joko mendekapnya erat, Sri lirih mendengar : “Sri, aku bukan laki-laki sejati. Aku sudah berobat kemana-mana. Sepurane, baru bilang sekarang.” Sri pun tergugu.



Dingklik : bangku kecil
Procot/mrocot : mudah lepas , mudah mengeluarkan sesuatu
Gusti Kang Murbeng Dumadi : Tuhan Yang Maha Esa
Ireng : hitam
Manut : penurut
Diuri-uri : dilestarikan
Nylekit : pedas
Gabuk : kosong/tak berisi apa-apa
Mantri : perawat
Kedi : mandul
Ojo ngono : jangan begitu
Tenan : benar
Sepurane : maafkan



#ODOPOKT12

Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Oktober 2017
 Blogger Muslimah Indonesia