Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Manfaat Pembekalan Masa Purna Karya

Gaes, Retirement Readiness atau Pembekalan Masa Purna Karya (PMPK) yang diselenggarakan kantor tempat suami saya bekerja adalah pelatihan yang diberikan kepada pekerja - calon purna karya bersama pasangannya - jelang 1 sampai 5 tahun masa pensiun mereka

Kegiatan pembekalan ini dirancang khusus untuk para peserta dalam mempersiapkan diri menghadapi masa pensiun dengan melalui pelatihan yang meningkatkan awareness terhadap finansial, kesehatan fisik dan mental, serta perencanaan pengembangan bisnis untuk masa purna karya. 

Mengapa kegiatan ini penting?

Karena ada banyak kasus, saat masa pensiun tiba, ada orang yang langsung kena mental, post power syndrome, stres... enggak siap - dari biasa bekerja jadi di rumah saja. Lalu, kena stroke, penyakit ini itu muncul semua, hingga lama-lama jadi tak berdaya...

Belum lagi uang manfaat pensiun yang ratusan juta (bahkan milyaran) ludes karena tertipu investasi abal-abal atau habis buat nikah lagi, tergoda LC/ani-ani senang-senang tanpa ada perencanaan matang.

Yang harusnya masa tua dinikmati dengan bahagia, ujung-ujungnya jadi sakit-sakitan, enggak pegang uang bahkan jadi punya banyak hutang!! Hiks..., jangan sampai ya...


Tujuan Pembekalan Purna Karya

Kegiatan PMPK yang suami dan saya ikuti, berlangsung selama 5 hari, dari hari Senin sampai Jumat, 19 - 23 Mei 2025, di The Patra Bali Resort & Villas dengan agenda dan narasumber yang menarik agar para peserta mendapatkan pengalaman berharga selama masa pembekalan. Diharapkan, melalui kegiatan ini, peserta akan semakin matang dan siap menjalani masa purna karya dengan berbagai bekal ilmu dan bahagia bersama keluarga.

Well, tujuan umum kegiatan retirement readiness semacam ini adalah:
Mempersiapkan pekerja yang akan memasuki masa purna karya agar siap secara mental, finansial, kesehatan, sosial, dan spiritual, sehingga mampu menjalani fase baru kehidupannya dengan penuh makna, mandiri, dan tetap produktif sesuai dengan nilai-nilai perusahaan.
 Sementara tujuan khususnya, di antaranya:
  1. Membekali pekerja dengan pemahaman mengenai arti dan makna masa purna karya sebagai fase baru kehidupan, bukan sebagai akhir dari produktivitas.
  2. Menyiapkan pekerja secara mental dan psikologis agar mampu beradaptasi dengan perubahan peran dan rutinitas setelah pensiun.
  3. Memberikan edukasi tentang literasi keuangan dan strategi pengelolaan dana pensiun untuk menjaga kestabilan ekonomi keluarga.
  4. Meningkatkan kesadaran pekerja terhadap pentingnya kesehatan fisik dan mental di masa purna karya.
  5. Menginspirasi pekerja untuk mengembangkan potensi diri melalui kegiatan positif seperti wirausaha, sosial, keagamaan, maupun hobi yang produktif.
  6. Menumbuhkan kesiapan dalam membangun hubungan harmonis dengan keluarga, lingkungan, dan masyarakat.
  7. Meneguhkan penerapan nilai-nilai perusahaan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan setelah masa dinas aktif

Mengapa Banyak yang Tidak Siap Pensiun

Sayangnya, banyak survei di Indonesia (misalnya dari OJK, BPS, dan lembaga keuangan) menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia belum siap menghadapi masa pensiun. Ada beberapa alasan, antara lain: 
  • Kurangnya Literasi dan Perencanaan Keuangan: sebagian besar masyarakat Indonesia belum terbiasa menyusun rencana jangka panjang, termasuk tabungan pensiun atau investasi dan masih mengandalkan gaji bulanan tanpa menyiapkan cadangan ketika pendapatan berhenti.
  • Budaya Konsumtif dan Gaya Hidup: banyak orang lebih fokus pada kebutuhan dan keinginan saat ini dibanding menabung untuk masa nanti. 
  • Ketergantungan pada Anak atau Keluarga: secara budaya, masih banyak yang berpikir bahwa di masa tua akan ditanggung oleh anak-anaknya. Padahal, kondisi ekonomi keluarga modern tidak selalu memungkinkan, sehingga harapan ini sering tidak realistis. Hal inilah yang menciptakan lahirnya sandwich generation, digencet dari atas untuk nanggung ortu dan dari bawah buat nanggung anak/istri
  • Minimnya Akses Program Pensiun Formal: pegawai BUMN, PNS, atau perusahaan besar biasanya memiliki dana pensiun. Namun, mayoritas pekerja di sektor informal (pedagang, pekerja lepas, UMKM) tidak memiliki program pensiun yang jelas.
  • Kurang Kesadaran Akan Kesehatan: banyak yang belum mempersiapkan diri dari sisi kesehatan padahal biaya pengobatan di masa tua bisa sangat besar. 
  • Pandangan Pensiun = Berhenti Total. Stigma bahwa pensiun berarti berhenti bekerja. Hal ini membuat sebagian orang tidak mempersiapkan aktivitas alternatif (usaha kecil, kegiatan sosial, atau hobi yang menghasilkan).
Singkatnya, ketidaksiapan pensiun orang Indonesia umumnya disebabkan oleh kombinasi: faktor ekonomi (tidak menabung/investasi sejak dini), faktor budaya (mengandalkan anak), faktor mindset (pensiun dianggap akhir), dan kurang edukasi (literasi keuangan dan kesehatan rendah).

Lalu solusinya apa?



Solusi Praktis Persiapan Pensiun

Mulailah dengan merencanaan keuangan sejak dini dengan mulai menabung dan berinvestasi sejak usia produktif dengan alokasikan minimal 10–20% penghasilan bulanan untuk dana pensiun. Manfaatkan instrumen investasi yang sesuai profil risiko, misalnya reksa dana, emas, obligasi, atau program DPLK/Dana Pensiun Lembaga Keuangan (sebagai referensi bisa baca informasi menarik tentang investasi di blog tentang keuangan)
 
Selanjutnya, kelola gaya hidup dan konsumsi dengan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kurangi pola hidup konsumtif agar bisa menyisihkan dana lebih banyak untuk masa depan (kepoin deh blog gaya hidup buat  rujukan).

Kemudian, persiapkan kesehatan dengan menerapkan gaya hidup sehat, melakukan pemeriksaan kesehatan berkala dan miliki asuransi kesehatan atau tabungan khusus untuk mengantisipasi biaya medis di masa tua.
 
Lalu, bangun sumber penghasilan pasif, mulai usaha kecil, properti sewa, atau instrumen investasi yang bisa menghasilkan pendapatan rutin agar masa pensiun lebih aman dan mandiri. 

Terus, ubah mindset, pensiun bukan berarti berhenti total, tapi fase untuk berkarya dengan cara berbeda. Bisa tetap aktif di kegiatan sosial, keagamaan, menekuni hobi produktif, atau membangun bisnis kecil. 

Lanjut, siapkan kehidupan sosial  keluarga dengan membangun komunikasi yang sehat dengan keluarga mengenai rencana hidup setelah purna karya. Bergabunglah dengan komunitas positif agar tetap merasa dihargai, berdaya, dan tidak kesepian di masa tua. 

Last but not least, kuatkan spiritualitas dan ketenangan batin, jadikan masa purna karya sebagai momentum mendekatkan diri kepada-Nya. Spiritualitas yang kuat akan membuat hidup lebih tenang, menerima, penuh rasa syukur dan bahagia.

Well, semoga dengan langkah-langkah tadi, pensiun dapat dipandang bukan sebagai akhir, melainkan awal kehidupan yang lebih seimbang: sehat, mandiri, dan bermakna.

Semangaaat!!🔥



Salam


Dian Restu Agustina














Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

8 komentar untuk "Manfaat Pembekalan Masa Purna Karya"

  1. Post power syndrom ini nyata adanya ya mbak. Awalnya kenal istilahnya pas nemanin kawan penelitian karya ilmiahnya dengan topik tersebut, eh, baru kerasa banget menjelang orangtua sendiri memasuki masa purna bakti.

    Dari beberapa teman sekerja maupun seangkatan orangtua, kelihatan banget ada yang merosot secara fisik maupun mental begitu memasuki tahapan ini.

    Jadi sebaiknya memang mempersiapkan diri jauh sebelumnya ya

    BalasHapus
  2. Saya malah tiap ada yang pensiun, iri banget. Pensiun emang harus disiapkan ya, supaya ga kaget sih nanti.

    BalasHapus
  3. Seru banget bacanya. Ternyata pensiun tuh nggak cuma soal berhenti kerja, tapi gimana kita siapin diri biar tetap waras, sehat, dan punya duit aman. Bagian uang pensiun habis buat nikah lagi atau ke ‘ani-ani’ bikin ngakak tapi nyesek juga ya mbak. Wkwkwk. Salut banget sama acaranya, bisa jadi bekal biar masa tua tetap happy. Jadi reminder nih, buat yang masih kerja kudu siap dari sekarang.

    BalasHapus
  4. Walaupun foto di Pantai Legian biking ngiri tapi aaaaah, bacanya jadi merasa hangat di hati… Artikel ini bener-bener ngena! Saya suka banget cara Mbak Dian menjelaskan bahwa purna karya itu bukan akhir, tapi awal fase kehidupan baru yang penuh potensi dan makna. Kalimat itu bikin merenung sambil tersenyum.

    Menurutku, pembekalan masa purna karya itu kaya suplemen untuk jiwa dan mental—ngasih kita semangat dan kesiapan menghadapi perubahan—mirip yang Mbak Dian ceritakan tentang “sadari, terima, syukuri, beradaptasi, dan maknai” yang diarahkan ke kehidupan pasca-kerja dulu ya?

    definitely yes, masa purna karya bisa jadi masa berkarya dalam bentuk baru yang lebih bermakna!

    BalasHapus
  5. waduh nikah lagi, tergoda LC/ani-ani? Haha ada gitu yaa seumuran gitu kembali menjadi lucu2nya.
    BTW, kalau org pensiun tau2 linglung itu karena terbiasa beraktifitas tau2 pagi2 harus diem di rumah jadi kek dont what to do gitu kali ya.
    Ibuku bukan pensiunan, cuma ibu RT yang sehari2 buka warung di rumah. Kalo liburan ke kota ke rumah anaknya suka ngga betah dan cepet2 minta pulang alsannya bosen di rumah mulu ngga ada kegiatan.
    Makin diem badannya makin sakit deh katanya

    BalasHapus
  6. tulisan Mbak Dian tentang pembekalan masa purna karya ini bagus-bagus
    semoga banyak yang baca dan terinspirasi
    karena banyak yang gak siap dan akhirnya bikin suasana rumah jadi gak menyenangkan

    BalasHapus
  7. Persiapan mental dan psikologis ya Mbak. Setuju banget saya dengan statement ini. Sejujurnya tidak ada orang yang betul-betul siap untuk memasuki masa pensiun. Gak cuma masalah finansial tapi juga berbagai kebiasaan yang bisa dinikmati dengan mudah saat masih aktif bekerja.

    Beruntung banget deh Mbak Dian dan suami yang diajak untuk mengikuti pelatihan untuk itu. Tahap demi tahap mendapatkan pemahaman yang pas dan diberi kesempatan untuk memahami berbagai strategi pribadi agar benar-benar siap menghadapi masa pensiun.

    BalasHapus
  8. Keren ya perusahaan tempat suaminya Mbak Dian bekerja. Mereka perduli gitu dengan kehidupan stafnya setelah masa pensiun. Sampai dibikinin kegiatan pembekalan masa purna karya segala.

    Harapannya biar setelah purna karya, para staffnya tetap berdaya.

    BalasHapus