Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Review Buku: "Hai Nak!" Karya Reda Gaudiamo

Menjadi orang tua di zaman sekarang ternyata tidak semudah yang dulu saya bayangkan. Anak-anak tumbuh di dunia yang jauh berbeda dengan masa kecil orang tuanya. Informasi datang tanpa henti. Media sosial membentuk standar hidup baru. Tekanan akademik semakin tinggi. Belum lagi kesehatan mental yang kini menjadi isu besar di kalangan remaja dan anak muda.

Membuat saya sebagai ibu, kadang dipenuhi tanya. Apakah saya sudah cukup hadir untuk anak? Saya terlalu banyak menuntut atau enggak? Apakah anak saya benar-benar baik-baik saja, atau hanya terlihat baik-baik saja?

Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba muncul lagi ketika saya membaca buku "Hai Nak!" karya Reda Gaudiamo.

Buku yang saya beli berbarengan dengan buku Reda Gaudiamo: "Kios Pasar Sore - dan Cerita Orang‑Orang Biasa Lainnya" dari penulis cerita anak Na Willa yang sukses diadaptasi menjadi film drama musikal keluarga.

"Hai Nak!" demikian judul singkat buku yang awalnya saya kira buku refleksi biasa. Ukurannya kecil, tampilannya sederhana, dan isinya berupa tulisan-tulisan pendek. Namun semakin dibaca, buku ini justru terasa seperti pengingat tentang bagaimana menjadi orang tua yang hadir secara emosional untuk anak.

Sebuah buku setebal 130 halaman yang bisa menjadi teman dalam menjalankan pengasuhan khususnya di era parenting modern saat ini.


Tips Parenting Modern yang Relevan di Era Sekarang

Well, bicara tentang parenting modern bukanlah soal menjadi orang tua yang sempurna, melainkan bagaimana membangun hubungan yang sehat, hangat, dan terbuka dengan anak kita. Ya, di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tekanan seperti sekarang, anak bukan hanya membutuhkan aturan, tetapi juga dukungan emosional.

Nah, beberapa tips parenting modern yang sederhana tetapi penting di antaranya:
  • Jadi pendengar yang baik: anak sering kali hanya ingin didengarkan, bukan langsung dihakimi atau dinasihati.
  • Bangun komunikasi yang hangat: membiasakan ngobrol santai tentang keseharian membuat anak merasa nyaman bercerita.
  • Validasi perasaan anak: tidak menganggap sedih, takut, atau kecewa sebagai hal sepele, perasaan mereka tetap penting.
  • Kurangi membandingkan anak: setiap anak punya kemampuan dan proses tumbuh yang berbeda.
  • Ajarkan kesehatan mental sejak dini: anak perlu tahu bahwa menjaga hati dan pikiran sama pentingnya dengan menjaga nilai akademik.
  • Luangkan quality time tanpa gadget: perhatian penuh selama beberapa waktu lebih berarti daripada hadiah mahal.
  • Berikan apresiasi, bukan hanya tuntutan: anak juga perlu mendengar bahwa mereka dicintai dan dihargai, bukan hanya dinilai dari prestasi.

Menariknya, nilai-nilai parenting modern ini juga terasa dalam buku "Hai Nak!" karya Reda Gaudiamo. Lewat tulisan-tulisannya yang hangat, Reda mengingatkan bahwa hubungan emosional antara orang tua dan anak adalah hal yang sangat penting, bahwa anak perlu merasa didengar, dipahami, dan dicintai apa adanya.


Ketika Anak Tidak Selalu Membutuhkan Nasihat

Sebagai orang tua, kadang kita refleks ingin langsung memberi solusi. Anak mengeluh capek, kita jawab dengan nasihat. Mereka sedih, kita buru-buru menyuruhnya kuat. Anak gagal, kita langsung bicara soal bangkit dan belajar lagi.

Padahal mungkin, yang mereka butuhkan sebenarnya hanyalah didengarkan. 

Itulah yang saya rasakan dari buku "Hai Nak!". Reda tidak menulis seperti orang tua yang ingin mengatur anaknya. Ia menulis seperti seseorang yang mau duduk sebentar, mendengarkan, lalu berkata, “Tidak apa-apa. Kamu bisa melewatinya.”

Cara seperti ini terasa relevan dengan pola parenting modern saat ini, ketika hubungan emosional antara orang tua dan anak menjadi semakin penting. Anak-anak sekarang bukan hanya butuh diarahkan, tetapi juga ingin dipahami. 

Reda juga menggambarkan bagaimana pikiran buruk bisa datang cepat dan menguasai kepala seseorang. Membaca bagian itu membuat saya sadar bahwa anak-anak zaman sekarang hidup dengan tekanan yang mungkin tidak pernah dialami generasi sebelumnya.

Mereka menghadapi overthinking, insecurity, fear of missing out, hingga tekanan sosial dari internet.

Dan sering kali, orang tua tidak sadar bahwa anak sebenarnya sedang lelah secara mental.

"Hai Nak!" mengingatkan bahwa dukungan emosional sederhana dari orang tua bisa sangat berarti. Kadang bukan solusi yang dicari anak, melainkan rasa aman bahwa ada tempat untuk pulang dan bercerita. 



Parenting Modern Bukan Tentang Menjadi Orang Tua Sempurna

Ya, "Hai Nak!" adalah buku yang tidak menghakimi. Tidak ada tuntutan menjadi ibu sempurna. Tidak ada kesan bahwa orang tua harus selalu benar. Justru buku ini terasa sangat manusiawi.

Betapa hidup kadang rumit, anak bisa sedih dan orang tua juga bisa lelah. Namun di tengah semua itu, hubungan antara anak dan orang tua tetap bisa dijaga lewat percakapan sederhana dan rasa saling memahami.

Betapa pentingnya orang tua hadir secara emosional dan bukan hanya hadir secara fisik.

Ini relate dengan salah satu pesan yang paling membekas dari buku ini adalah tentang menjaga hati. Reda mengingatkan bahwa menjaga perasaan orang lain itu penting, tetapi menjaga hati sendiri juga tidak kalah penting.

Kalimat itu terasa sangat relevan untuk anak-anak sekarang yang hidup di dunia serba cepat dan penuh penilaian. Mereka tumbuh dengan tekanan untuk selalu terlihat baik, pintar, aktif, produktif, bahkan bahagia. Padahal mereka juga manusia yang bisa lelah.

Sebagai ibu, saya merasa buku ini seperti pengingat bahwa tugas orang tua bukan hanya memastikan anak sukses secara akademis, tetapi juga membantu mereka memiliki hati yang sehat dan bahagia.

Tidak heran jika buku karya Reda Gaudiamo ini sudah dicetak tiga kali sejak pertama terbit pada tahun 2023. Karena di tengah dunia yang semakin bising, "Hai Nak!" hadir dengan suara yang lembut. 

Buku ini mungkin sederhana, tetapi justru kesederhanaannya membuat banyak orang merasa dekat. Terutama para orang tua yang kadang sibuk memikirkan masa depan anak sampai lupa menikmati percakapan kecil bersama mereka.

Bagi saya pribadi, "Hai Nak!" bukan hanya buku refleksi, tetapi juga pengingat parenting modern, seperti yang banyak ditulis di Catatan Harian Rani R Tyas: bahwa anak-anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang sempurna. Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang berkata: “Kamu hebat. Kamu bisa. Dan untukmu, rumah ini akan selalu ada!!”💗



Salam Semangat

Dian Restu Agustina








Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

11 komentar untuk "Review Buku: "Hai Nak!" Karya Reda Gaudiamo"

  1. Buku ini pasti related dengan yang berstatus orang tua atau penyuka parenting.
    Saya juga sedang ada dalam fase yang menegangkan setiap hari berhadapan dengan 2 anak remaja. Duuuh... harus punya kesabaran seluas samudera.
    Jadi pingin baca bukunya juga nih...

    BalasHapus
  2. Waktu itu pertama kali denger kata, "Hai Kak, " Bu Reda lewat videonya di IG saya langsung nangis😭 rasanya seperti sedang disapa hangat oleh ibu yang paham kondisi anaknya. Betul seperti yang mba Dian tulis, anak gagal nggak langsung disuruh belajar. Kadang mereka hanya butuh diterima kalau dia lagi nggak berhasil. Karena dituntut untuk selalu oke di segala hal itu melelahkan 😭

    BalasHapus
  3. Menarik sekali ini bukunya untuk dibaca para orang dewasa. Dari nama penulisnya, udah kebayang isinya pasti ringan tapi penuh makna

    BalasHapus
  4. setiap baca buku parenting, termasuk reviewnya, saya selalu merasa bersalah pada anak-anak
    trus DM mereka deh untuk minta maaf, hehehe sampai mereka hafal deh kelakuan mamahnya
    lha habis gimana, dulu gak ada buku-buku parenting sebagus ini

    BalasHapus
  5. senang bu Reda makin dikenal banyak orang karena tulisannya indah dan cocok untuk parenting :D

    BalasHapus
  6. Tulisan dan review nya menyentuh banget Mbak Dian. Sebagai ibu dari dua orang anak yang sudah di usia dewasa, saya sendiri menyadari bahwa menjadi orang tua itu belajarnya seumur hidup. Gak ada pakem khusus, ga ada tentang aku, tentang dia, tapi tentang kita (orang tua) dan anak-anak karena sejatinya mereka adalah orang-orang yang memiliki kepribadian, asa, dan harapan yang tentunya tidak sama dengan orang tua. Jadi ingin membaca langsung dan menikmati setiap lembar buku ini.

    BalasHapus
  7. Menjaga perasaan orang lain itu penting, tapi menjaga hati sendiri, itu jauh lebih penting.
    Suka banget dengan poin ini mbak.

    Menarik banget ini bukunya, gaya tulisannya juga tak menggurui.

    Quality time tanpa gadget, ini yang masih susah buat saya mbak, tapi tetap berusaha untuk menyingkirkan hp saat duduk dekat anak-anak dan membuat obrolan dengan mereka

    BalasHapus
  8. Makasih mba, sudah mereview buku yang aku sukai juga. Semenjak ikutan workshop kepenulisan bareng ibu Reda, aku jadi punya beberapa buku karya beliau dan bener sekali buku "Hai Nak!" karya Reda Gaudiamo ini sangat hangat.

    Mengembalikan pentingnya komunikasi dan ikatan emosional antara ortu dan anak. Di era sekarang, semua serba cepat dan ortu makin sibuk, butuh jalinan komunikasi dua arah yang kuat.

    Banyak pesan baiknya ini buku dan enak dibawa bepergian juga. Serta ku suka sampulnya.

    BalasHapus
  9. Saya belum pernah membaca buku Reda Gaudiamo. Tapi, cukup kaget juga ketika menonton film Na Willa. Film yang gak sekadar menghibur, tapi juga kagum dengan gaya parenting orang tua Na Willa. Kurang lebih gambarannya sama lah kayak di buku Hai Nak. Padahal parenting zaman dulu kan kebanyakan kayak kaku, ya. Sedikit anak yang merasa didengarkan. Kebanyakan wajib nurut aja.

    BalasHapus
  10. Aku setuju dengan salah satu point di artikel mbak Dian yaitu validasi perasaan anak. Saat ini generasi muda jaman now sudah jauh berbeda dengan jaman kita dulu ya mbak. Sebab kalau tidak divalidasi mereka merasa terabaikan. Banyak cerita dari teman-teman dimana anaknya seperti itu. (maria tanjung sari)

    BalasHapus
  11. Kemarin aku menonton sebuah konten, di mana era di jaman kita bahkan sudah berbeda lagi di jaman sekarang. Indeed yang bagian di mana sebenarnya anak-anak butuh kita hadir untuk mereka, bahkan termasuk ketika menerima kegagalannya. Ya pastinya, semua orang tua selalu berdoa dan mengupayakan keberhasilan anak-anaknya.

    terima kasih tulisannya Mbak 😍

    BalasHapus