Traktiran di Tanggal Tua? Coba Temukan Hidden Gems di Treats by Traveloka Eats Saja!







"Yeayy, hari ini UCUN-nya selesai!"
"Iya, UCUN-nya, tapi masih ada Gladi Bersih UN minggu depan dan UN April nanti, kan?"
"Iya sih, Buk! Duh, puyeng belajar tiap hari. Hhhh! Sabtu nanti kita pergi yuk, Buk!"
"Mau kemana?"
"Makaaan!!"
"Ya udah, boleh!"


Sulung saya, kelas IX SMP sedang disibukkan dengan rangkaian persiapan Ujian Nasional. Mulai dari Try Out di tingkat sekolah maupun propinsi, Uji Coba Ujian Nasional (UCUN) di tingkat nasional, Gladi Bersih UN hingga UN pada 20-23 April 2020 nanti. Maka, tak heran setiap hari dia disibukkan dengan pendalaman materi di sekolah juga setumpuk latihan soal yang harus dikerjakan di rumah. Hingga di akhir pekan, dia saya biarkan gegoleran, mengistirahatkan badan dan pikiran. Atau kalaupun dia minta pergi, sebisa mungkin saya turuti. Meski, kalau tanggal tua begini dia minta makan-makan, puyeng juga saya hahaha. Pasalnya, ini anak seleranya seperti kebanyakan anak milenial lainnya, kalau enggak makanan Barat, Jepang ya Korea. Pokoknya prinsip dia, makan di luar itu yang enggak biasa dimakan di rumah. Jadi ya dia main tunjuk saja mau makan apa, sementara Ibunya tinggal berdoa semoga enggak mahal saat bayarnya.🙈😁

Tapi...., itu dulu, saat saya belum mengenal Treats by Traveloka Eats.
Kalau sekarang, traktiran di tanggal tua, saya pakai Treats by Traveloka Eats saja!
Enggak bakal lagi pusing kepala! Apalagi jika nemu Hidden Gems-nya! Yihaaa!!😍


Review Buku: 365 Hariku Bersama Ananda

Terapi Mandiri pada Anak dengan Gangguan Selective Mutism






Teman-teman, pernah enggak menjumpai seorang anak yang memilih untuk tidak berbicara pada orang atau situasi tertentu, meskipun ia mampu? Mungkin kebanyakan orang - termasuk orangtua si anak itu - menganggap dia pemalu karena sedang berada di tempat baru. Tapi, jika ternyata itu bertolak belakang dengan kebiasaannya di keseharian, di mana di rumah dia sangat aktif, dominan, tipe pengatur juga banyak bicara, tentu kita patut curiga. Pasalnya, bisa saja anak ini mengidap Selective Mutism, sebuah gangguan kecemasan yang membuat anak fobia bicara atau memilih mode "mute" (diam) di lingkungan yang membuatnya tidak nyaman. Sebuah gangguan tumbuh kembang yang jika diabaikan akan berdampak buruk di masa depan. Lantaran kemampuan berinteraksi dan bersosialisasi merupakan salah satu bentuk kemampuan penting di masa tumbuh kembang anak-anak. Sehingga jika tidak ditangani segera, anak dengan selective mustism ini bisa berlanjut menjadi sosok yang membisu di luar lingkungan yang dikenalnya.

Nah, sebenarnya apa sih penyebab selective mutism? Bagaimana cara menyikapi anak yang mengalami gangguan kecemasan yang bisa terdeteksi saat usia lancar bicara ini? Adakah pola asuh tertentu yang bisa diterapkan agar orangtua tepat menangani sesuai dengan gangguan tumbuh kembang yang dimiliki?

Sebuah buku buah karya Sitatur Rohmah mengupas semua itu dalam "365 Hariku Bersama Ananda - Terapi Mandiri pada Anak dengan Gangguan Selective Mutism". Buku yang didasarkan pada pengalaman pribadi penulis saat membersamai buah hati yang mengalami gangguan selective mutism yang bisa menjadi panduan bagi orangtua, guru dan siapa saja agar tahu apa dan bagaimana cara menanganinya.

Imunisasi untuk Anak yang Sehat dan Bahagia

(Kulwap Teman Kumparan Bersama dr. Ferina Saat - Dokter Umum/Tim Edukator Rumah Vaksinasi Kebagusan)










Persalinan ketiga saya secara sesar karena diagnosa plasenta previa. Dua bulan setelahnya saya dan anak-anak ikut Bapaknya sekolah ke Amerika. Sesampainya di sana yang pertama saya cari adalah informasi tentang imunisasi untuk si Adik yang masih bayi. Ternyata ada bis imunisasi keliling gratis yang difasilitasi negara bagian Louisiana (pemkot New Orleans dan swasta), untuk sesiapa yang memerlukannya. Syaratnya gampang, bawa rekap data imunisasi sebelumnya, nunggu panggilan, dilayani dan...pulang!

Ini berlaku untuk bayi baru lahir - anak usia 18 tahun, tanpa ditanya apakah warga negara atau bukan serta ditangani langsung oleh dokter. Meliputi vaksin (saat itu): DTP, OPV, MMR, Hib, Hep A, Hep B, Varicella,Rotavirus, Influenza, Pneumo dan Novel Influenza. Semua gratisss, bahkan pulangnya anak-anak dibekali permen dan stiker. Oh ya, kelengkapan imunisasi ini jadi persyaratan untuk pendaftaran sekolah di Amerika.

Selama 2 tahun di sana, akhirnya si Mas dan Adik rutin saya ajak ke parkiran Mal dekat rumah, tempat bis ini terjadwal melayani. Alhamdulillah mereka sehat-sehat selama di sana sampai saat ini.

Jadi, imunisasi perlu enggak sih? Pertimbangkan saja baik buruknya, lebih banyak yang mana. Yang jelas, bukankah anak-anak kita berhak tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas? Jadi kenapa tidak kita lindungi mereka sejak dini dengan imunisasi?

FYI, anak pertama saya lahir belum sempurna hingga meninggal umur 13 hari, mungkin saja saat hamil trimester pertama saya terinfeksi Rubella atau yang lainnya, siapa sangka?😘


Nah, terkait dengan imunisasi, baru-baru ini di WAG Teman Kumparan yang saya ikuti mengadakan Kumparan Talk, kulwap bertema "Imunisasi untuk Anak yang Sehat dan Bahagia" pada Rabu, 12 februari 2020. 

Oh ya, narasumber pada Kumparan Talk kali ini adalah dr Ferina Saat - Dokter Umum/Tim Edukator di Rumah Vaksinasi Kebagusan, Kebagusan II - Jl Melati 55A Pasar minggu, Jakarta Selatan.

Dan summary Kulwap saya rangkum berikut ini, let's check it out!

Healthy Food, Healthy Lifestyle

 Bersama dr. Zaidul Akbar




"Good Food is Good Mood" 

"Penyakit akan muncul dari mood yang naik turun. Mood bisa memengaruhi hormon, fungsi jantung dan pembuluh darah, irama tidur, fungsi imun di tubuh. Bahan baku mood ada di enzim. Mau good mood? Ya makanlah good food, itu kuncinya! Maka jaga 5 panca indera dari hal yang tak penting dan bikin mood bermasalah!"

Demikian Dokter Zaidul Akbar mengawali materinya dalam acara pengajian akbar yang bertema "Healthy Food, Healthy Lifestyle", Rabu 12 Februari 2020 di Aula SDI Al Azhar 8 Kembangan, Jakarta Barat. 

Acara yang "sehat sekali", karena tak hanya materinya yang membahas seputar kesehatan tapi juga snack yang dibagikan kepada peserta adalah rebusan camilan yang terdiri atas ubi jalar (putih-orange-ungu), jagung dan kacang tanah rebus yang diwadahi besek. Tak hanya itu bagi 50 peserta yang datang pertama akan mendapatkan goodiebag berupa rimpang-rimpangan untuk dibawa pulang. 

Dokter Zaidul lebih lanjut mengingatkan jika semua penyakit berat asal muasalnya dari pikiran. Maka sebaiknya jangan berlebihan saat memikirkan sesuatu. Pasalnya perubahan fisiologis hormonal akan memengaruhi fisiologis umum. Untuk itu mumpung sehat kuatkan iman, bertobat dulu sebelum berobat. Solusi spiritual digunakan dulu jika ada penyakit mendekat. Bersihkan penyakit hati baru hilangkan sakit badani. Caranya, perhatikan asupan makanan..

Coz good food is good mood!


Healthy Food


Makanan yang Baik Seperti Apa?


Dokter Zaidul menjelaskan jika makanan yang baik adalah yang tidak banyak mengalami proses pengolahan. Semakin sedikit melewati proses pengolahan maka semakin sehat makanan. Misalnya sayuran, lebih baik dikonsumsi mentah saja. Lalu beri bumbu minyak zaitun, garam dan lada hitam..sudah! 

Dokter yang menyiapkan juga bahan makanan sehat untuk dijadikan contoh bagi seluruh peserta ini pun membagikan resepnya, Rainbow Salad. Di mana sayur-sayuran yang dipakai adalah yang aneka warna karena masing-masing sayuran berwarna ciptaan-Nya ini punya fungsi sendiri. Jadi mereka akan saling melengkapi untuk menjaga kesehatan tubuh kita. 

Warna-warna itu adalah: 

Putih: menguatkan sistem imun tubuh. Contoh: kembang kol, sawi putih, lobak 
Kuning: membersihkan dan melenturkan kulit dari dalam. Contoh: nanas, paprika kuning 
Orange: mencegah inflamasi/peradangan. Contoh: kunyit, temulawak, labu 
Merah: berhubungan dengan darah - memperbaiki fungsi darah dan jantung. Contoh: tomat, paprika 
Ungu: melindungi sistem saraf. Contoh: terong, kol ungu, anggur 
Hijau: untuk detoks Contoh; sawi, brokoli, kacang panjang 



Healthy Food
pembuka acara tutorial make up dari Wardah



Selain itu ada beberapa makanan yang disarankan oleh dokter Zaidul Akbar yang lulusan FK Universitas Diponegoro ini, karena manfaatnya untuk kesehatan, diantaranya:

  • Kurma → kurma mentah yang punya efek ke liver, kurma basah ke lambung
  • Air kelapa muda → mengandung asam amino yang baik untuk detoks hormon. Bisa ditambahkan garam sehat, kasih kurma dan blender. Baik diminum 2-3 kali/minggu
  • Jahe, kunyit, sereh, lengkuas, kasih air panas, disaring lalu perasi air jeruk nipis, tambahkan kurma dan blender. Fungsi: jahe baik untuk pencernaan, lengkuas untuk imunitas, sereh kaya steroid, jeruk nipis baik untuk enzim dan kurma tinggi asam amino
  • Dressing bisa dibuat dari alpukat yang mengandung lemak baik. Caranya: blender alpukat, campurkan dengan garam, lada hitam dan bawang putih.
  • Kayu manis: mencegah kerusakan sel
  • Cengkeh: anti nyeri (Misal untuk sakit flu: minum campuran cengkeh, kapulaga, ketumbar, kembang lawang)






Question & Answer



Banyak pertanyaan yang diajukan peserta, diantaranya:

Apa perbedaan zaitun minum dan untuk urut?
→ Yang diminum adalah Extra Virgin Oil, sedangkan untuk urut minyak refinery

Bagaimana terapi makanan untuk penderita auto imun
→ Konsumsi sayuran dan buah organik

Garam yang sehat yang mana?
→ pilih garam bukan hasil proses pemurnian, sebaiknya pilih garam alami

Berapa lama ketahanan infused water?
→ 8 jam

Tips mengecilkan perut?
→ Konsumsi serat, no gula

Makanan yang efeknya tidak baik bagi tubuh apa saja?
→ gula dan turunannya, transfat (misal: minyak goreng), karbohidrat (beras dan tepung), daging olahan

Apa harus dimakan mentah untuk semua jenis sayur/buah?
→ Jika memang tidak bisa, bisa dikukus dulu sebentar

Bagaimana diet untuk penderita PCOS?
→Sindrom polikistik ovarium (PCOS) adalah penyakit ketika ovum atau sel telur pada perempuan tidak berkembang secara normal karena ketidakseimbangan hormon. Maka yang utama jauhi stres. Jika kecemasan tinggi sel telur tidak akan matang sehingga enggak bisa dibuahi, akhirnya kehamilan sulit terjadi.



Tips Sehat Ala Dokter Zaidul Akbar



Healthy Food



Oh ya, ada beberapa tips terkait "Healthy Food, Healthy Lifestyle" yang disampaikan oleh Dokter Zaidul Akbar pada acara, diantaranya:

  • Karena perilaku kita dipengaruhi oleh apa yang kita makan, maka ingat “Good Food is Good Mood” jika ingin mendapatkan mood yang baik, maka makanlah makanan yang baik, masih asli, alami tanpa diolah, salah satunya buah dan sayur 
  • Tidak hanya pola makan untuk bisa hidup sehat, pola makan itu hanya sebagian kecil. Dalam Alquran diajarkan kalau makan harus halal dan thayyib, sesuatu yang tidak membuat masalah bagi tubuh kita 
  • Berhenti makan sebelum kenyang, konsep Rasulullah SAW yang simpel karena 'Tidak ada bencana yang lebih buruk dari perut manusia'. Kalau dia ingin makan berlebih maka jadikan sepertiga untuk makan sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk udara," Jadi, makan itu bagi orang muslim bukan untuk kenyang, makan itu agar dia bisa beribadah 
  • Untuk sehat, stop yang bikin sakit, remove masalahnya, misalnya kurangi makan makanan berminyak. Pelajarilah yang bikin sehat, ditambah belajar puasa. 
  • Enggak ada gunanya kita konsumsi makanan herbal kalau isi piring tidak dibetulkan. Membiasakan diri untuk makan sehat, kalau tidak ya tidak akan terbiasa, jika yang sehari-hari dimakan itu sampah
  • Salah satu cara untuk menjaga tubuh agar tetap fit, adalah dengan menjaga pola tidur seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, Rasul tidur diawal waktu, gunanya untuk mengistirahatkan hormon dan enzim yang ada di dalam tubuh. 
  • Memperbanyak berpuasa. Ketika seseorang membiasakan menahan lapar selama 20 jam, tubuhnya akan menjadi mesin pembakar lemak yang luar biasa. Untuk mengatasi berbagai macam masalah penyakit degeneratif seperti stroke, darah tinggi, kencing manis dan asam urat. Adalah dengan dengan mengikuti pola hidup Rasulullah SAW dan science membenarkan hal tersebut, yaitu memperbanyak berpuasa, seperti puasa senin kamis, 
  • Mari kita berikan yang terbaik untuk tubuh, salah satunya dengan bersedekah pada diri sendiri. Ketika kita makan makanan yang sehat, saat itu kita sedang bersedekah untuk diri sendiri, dan niatkan menjaga badan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT 

Yuk..hidup lebih sehat lagi!

Ingat tubuh kita akan menjalankan fungsinya dengan baik jika kita tidak membebaninya!💖

Semoga bermanfaat!




Salam Sehat


Dian Restu Agustina














Ancaman Resistensi Antibiotik

(Kulwap MoM ACADEMY Bogor Bersama Andhika Yoan Dirgantara Putri - S.Si., APt)








Dulu, jaman anak masih satu, saya dipenuhi kekhawatiran yang berlebihan saat dia sakit. Maklum saja, karena bayi pertama saya meninggal dunia, maka saat anak kedua ada, saya seperti trauma akan kehilangan dia. Ketika dia rewel sedikit langsung saya bawa periksa. Mana kebetulan pula saat itu saya sekeluarga tinggal di rumah dinas perusahaan di mana lokasi rumah saya hanya berjarak sekitar 500 meter saja dari RS yang ada. Jadi ya gitu deh, anak sakit langsung ke dokter. Apalagi sulung saya dulu itu sudah menampakkan gejala alergi dan asma sejak bayi. Jadi sebentar-sebentar batpil, demam, juga sesak napasnya.

Nah, jadilah ia seringkali mengonsumsi obat-obatan, termasuk antibiotik. Ini terjadi hingga kami pindah ke Jakarta pada dua tahun usianya. Dia sudah enggak ASI, lebih kuat, makan cukup,..dan rumah sakit lumayan jauh🙈 Jadi kalau sakit dicoba pakai obat bebas dulu yang umum dosisnya, jika masih enggak berkurang baru ke dokter saya bawa. Tapi teteup, ada antibiotik selalunya di sana. Saya yang awam tentang obat, membiarkan saja hingga saat adiknya lahir dan ditangani dokter anak yang berbeda yang ternyata bertipe enggak gampang kasih antibiotik. Akhirnya saya pun beralih langganan ke dokter anak ini untuk kedua anak saya. Alhamdulillah kini, mereka jarang sekali diresepkan antibiotik, kecuali hanya jika perlu saja. 

Hm..memang antibiotik itu enggak boleh ya? Kalaupun boleh untuk diagnosa yang seperti apa? Bagaimana dengan saran penggunaannya? Apakah ada aturan baku tertentu? Lalu, apa akibatnya jika aturan tidak dilakukan?

Nah, kegalauan banyak orangtua akan antibiotik inilah yang menginspirasi Mothers on Mission (MoM) ACADEMY, sebuah komunitas yang beranggotakan para Mommies dari berbagai wilayah di Indonesia, mengadakan Kuliah WhatsApp (Kulwap) yang bertema Ancaman Resistensi Antibiotik. Narasumber Kulwap adalah seorang Pharmacist & Medicine Expert Andhika Yoan Dirgantara Putri - S.Si., APt dan dimoderatori oleh Mom Ellga Yuthysa dari MoM ACADEMY Bogor.


SCG SD Symposium Indonesia 2020: Circular Economy - Collaboration for Action








SCG SD Symposium untuk pertama kalinya digelar di Indonesia dengan tema Circular Economy: Collaboration For Action. Acara dihelat dengan tujuan untuk mendorong para pemangku kepentingan memahami dan menerapkan konsep ekonomi sirkular demi pembangunan yang berkelanjutan. Di mana SCG berkolaborasi dengan para pemimpin organisasi global dan pemerintahan membahas urgensi kolaborasi dalam menerapkan konsep ekonomi sirkular ini.

Ya, setelah saya menghadiri acara SCG Welcoming Circular 2020 pada 22 Januari 2020 lalu, akhirnya tiba juga di puncak acara Sustainable Development (SD) Symposium Indonesia 2020 pada 20 Februari 2020.

Bertempat di Hotel The Ritz Carlton Jakarta - Mega Kuningan, acara berlangsung sukses dengan menghadirkan sesi Opening & Inspiration Talk, Panel Discussion, Press Briefing dan Exhibition Tour. Sekedar mengingatkan, acara yang berlangsung dari pukul 8 pagi hingga 2 siang ini diinisiasi Siam Cement Group (SCG), sebuah perusahaan konglomerasi terkemuka di ASEAN.

Imunoterapi, Solusi untuk Kualitas dan Harapan Hidup Pasien Kanker yang Lebih Baik Lagi








Saya menatapnya dengan rasa duka luar biasa. Sungguh tak mengira, berselang enam bulan saja tak bersua perubahan fisiknya begitu nyata. Rambut yang habis, mata cekung, badan kurus, wajah pucat pasi...Sediiiih saya melihatnya! Tapi masih ada senyum merekah di bibirnya. Itu yang bikin saya malu untuk menangis di depannya. Yuli, sepupu sekaligus saudara sepersusuan saya terlihat tegar di tengah perjuangan melawan ganasnya kanker yang menyerang payudaranya. Ia terlihat begitu bersemangat di tengah kondisinya yang kurang sehat. Sementara jauh di Ibukota, saya sering mengeluh akan hal remeh-temeh yang kalau dipikir sebenarnya sepele saja. Obrolan singkat dengannya membuat saya kagum pada semangat begitu banyak penyintas kanker yang selama ini telah menapaki hari dengan berbagai proses penyembuhan yang dijalani. Semua tahapan yang sungguh menguras waktu, biaya, energi dan emosi.


Hotel Aryaduta Jakarta, Hotel Lama yang Masih Berjaya






"Di kamarmu enggak ada yang aneh, kan?"
"Enggak!"
"Beneran..memang aneh apaan?"
"Enggak sih, kirain..!"

Begitu obrolan saya berempat dengan teman yang beda kamar saat sarapan di hari kedua menginap di Hotel Aryaduta Jakarta untuk event BI Netifest 2020.

Sementara saat saya menjawab, Evi Syahida (Visya), teman sekamar saya hanya senyum-senyum dalam diamnya. Dan saya baru tahu arti senyumnya beberapa hari di WAG Kelas Blog kami, setelah sampai rumah masing-masing.

Ternyata oh ternyata beberapa teman mendapati hal horor saat menginap selama 4 hari 3 malam di hotel ini. Hm, benarkah? Kok saya enggak merasa sih? Atau karena saya terlalu bahagia sehingga mengabaikan segala rasa yang telah ada hahaha😁

Katanya pula, karena ini hotel tua ya gitu deh, jadi ada penampakan yang seharusnya enggak nampak atau sengaja menggoda agar tertampak. Tuh bingung enggak dirimu? kwkw

Jadi gini cerita lengkapnya....


Tips Perawatan Rambut yang Diwarnai 






Uban adalah masalah utama rambut ketika usia kian senja. Seperti saya yang satu waktu nyesek melihat penampakan helaian rambut putih di kepala yang kian hari kian banyak saja. Lalu, saat ngaca merasa iba pada diri sendiri dan berkata:

"Duh, kasihan sekali dia, tua banget yaa..!"

Maklum, sudah kodratnya perempuan menolak tua.
Maunya setiap ketemu teman arisan komentarnya:

"Jeung, dirimu nih awet muda, apa rahasianya?",
"Sis, Makin glowing aja, skinker-nya apa?"
"Duh, kurusan lho Mbak, apa sih resepnya?"

Ya, tak peduli berapapun usia, ketika dipuji cantik dan awet muda maka pipi perempuan pun merona dan hati berbunga-bunga. Maka, tak heran saat menemukan uban di kepala rasanya seperti mimpi buruk saja. Meski, perempuannya berhijab macam saya, rasa galau pasti juga melanda. Pasalnya, saat di rumah dan enggak berhijab, nampak suami dengan rambut putih begini, duh...langsung turun drastis deh rasa percaya diri!! Jangan-jangan dalam hati suami mbatin nanti:

"Lho..Istriku kok sudah kayak nenek-nenek begini!"

Huaaa! 😭

Hutan Sumber Pangan Anugerah dari Tuhan






Dari balik jendela, saya melihat Ibu menyerahkan selembar uang pada nenek itu. Tak lama setandan pisang pun berpindah ke tangan Ibu. Mbah Nah, sang nenek pun berlalu dengan rona bahagia tergambar di muka. Dimiringkannya rinjing kosong yang tadi berada di punggungnya. Ternyata memang tak salah harapannya. Pisang yang dibawa dengan berjalan kaki dari rumahnya di lereng perbukitan gugusan Gunung Wilis, akhirnya terjual habis. Yang terakhir, Ibu sayalah yang membelinya semua. Pelanggan setia yang tak pernah menolak apapun yang dijualnya. Mbah Nah, setiap minggu memang selalu datang membawa sesuatu. Pisang, singkong, ubi jalar, nangka, sukun, daun ubi, daun pakis, jambu, rebung, mangga podang, petai, ontong, lamtoro, daun lompong dan aneka bahan pangan lainnya. Dia berjalan kaki dari kampung ke kampung untuk menawarkan dagangannya. Termasuk ke kampung saya, di mana Ibu selalu menyambutnya dengan sukacita. Bagaimana enggak senang Ibu melihatnya datang, bahan pangan yang dibawanya selalu segar karena memang baru saja dipanen dari hutan.


Review Buku: Acatalepsy | Ketika Sudut Pandangmu Tak Sama dengan Sudut Pandangku






Sebuah hal bisa saja dipahami berbeda oleh masing-masing orang. Ada yang pro dan ada yang kontra saat menyikapinya. Dan ini sah-sah saja bahkan menyenangkan karena hidup manusia bakal lebih berwarna. Demikian juga jika sebuah isu diangkat menjadi tema dalam sebuah buku. Bisa jadi ada pembaca yang setuju adapula yang tak sepakat dengan itu. 

Nah, Nonny Ranggana mengemas ketidaksepahaman dalam menyikapi sebuah kejadian dan mengemasnya dalam sebuah kumpulan cerita pendek khusus dewasa yang dinamai Acatalepsy!


Blurb


"Seharusnya kamu cerai, Tih,” kataku memecah keheningan di dalam mobil.

"Dia sudah minta maaf, Sa," ujar Ratih hampir berbisik karena menahan sakit.

"Gak cukupl Dia harus dijebloskan ke penjaral” kataku tegas.

"Anak-anak nanti sedih,” ujar Ratih sambil menyeka air mata yang turun dari sudut matanya.

"Anak-anak pasti ngerti, Tih, Mereka juga gak akan mau melihat ibunya seperti ini,” sahutku berusaha meyakinkannya, kemudian mendengus kesal pada perempuan lemah yang kini menunduk dan membisu

Atas nama cinta seorang istri, Ratih rela bertahan walau terus disakiti, Atas nama cinta pula sang suami terus menerus menyakiti, meninggalkan jejak luka. Cinta dalam drama kehidupan manusia.

Acatalepsy, sesuatu yang tidak bisa dipahami. Salah atau benar, tidak dapat disimpulkan secara pasti. 
Drama kehidupan berumah tangga yang kerap diwarnai oleh kontradiksi, romantisme, dan komedi.

Pada akhirnya, untuk memahami Acatalepsy hanya tergantung dari sudut pandang, Sudut pandangku mungkln saja tidak sama dengan sudut pandangmu, tapi hanya perlu satu hati untuk memahami.

Mengapa Perlu Mengunjungi Rumah Ibu Fatmawati Soekarno di Bengkulu?






Kota Bengkulu tidaklah seluas Jakarta. kemana-mana dekat saja apalagi kemacetan jauuuh tak separah Ibukota. Maka ketika di hari terakhir berada di kota ini kami memutuskan berkeliling kota, 4 tempat bisa kami jabani akhirnya. Rencana sebelumnya, kami akan stay di kota yang merupakan ibukota provinsi Bengkulu ini selama 4 hari. Tapi apa mau dikata, suami saya sakit saat di perjalanan Bandar Lampung - Bengkulu, hingga mesti bedrest selama 3 hari. Ya, manusia berencana, Allah menentukan ending-nya apa. Jadilah kami hanya punya waktu satu hari untuk mbolang di kota yang pernah dikuasai Inggris ini. Beberapa itinerary menuju luar kota kami coret dan pilihan tujuan terdekat akhirnya dijalani.

Pertama, kami mengunjungi Rumah Ibu Fatmawati Soekarno yang adalah Ibu Negara Pertama RI yang memang asli Bengkulu sini. 

Sebuah rumah masa kecil yang dipenuhi memorabilia Ibu Fatma, meski sejatinya banyak kesimpangsiuran berita jika sejatinya ini bukan rumah masa kecil Beliau yang asli?

Hmm...., jadi ini rumah siapa?

Mesin EDC SPOTS, Perlancar Operasional Penjual Dongkal 






"Dongkalnya satu ya, Mas, terus Klepon 1, Putri Ayu 5, Mata Rodanya juga 5"
"Iya, Buk"
"Jadi berapa?"
"Tiga puluh ribu"
"Eh, itu ada mesin EDC, bisa pakai kartu debit ya?"
"Bisa, Bu. Malah seneng saya, susaaah cari uang kembalian"
"Ya sudah, saya pakai debit saja"


Saya pun mengeluarkan kartu debit yang saya miliki. Dengan sigap, Mas Edi, penjual Kue Dongkal itu mengambil mesin EDC SPOTS yang ada di dekatnya, setelah selesai menyiapkan semua. Dia pun memencet-mencet tombol lalu meminta saya menyisipkan sendiri kartu di situ (maklum dia sedang sibuk menyiapkan pesanan berikutnya). Setelah saya masukkan PIN, enggak lama keluar resi bukti transaksi. Ada tertulis apa saja yang saya beli, nominal harga dan jumlah total pembeliannya. 

Tertarik, saya pun nanya-nanya...

"Memangnya enggak rugi, Mas, pakai mesin EDC?"
"Enggak, Buk. Enggak mahal kok harga mesin EDC ini, sewanya juga masih nyampe lah, lebih untung malah!"
"Wah, Alhamdulillah!"

Ternyata Mas Edi sudah beberapa bulan belakangan memakai mesin EDC SPOTS - powered by Gojek  ini di lapaknya. Usaha yang sudah ditekuni selama 10 tahun pun jadi makin lancar jaya karena selain menguntungkan baginya, mesin EDC SPOTS yang sekaligus adalah perangkat kasir ini juga memudahkan bagi pembeli. Pasalnya, mesin EDC SPOTS menerima pembayaran dengan kartu debit dan semua pembayaran digital dengan kode QR berbasis QRIS. Bahkan dalam waktu dekat, mesin ini bisa menerima pembayaran dengan kartu kredit!!

Waaaah!!


Mengunjungi Kadal Raksasa di Pulau Rinca





Atraksi utama yang ditawarkan Labuan Bajo adalah komodo. Si kadal raksasa yang mendunia karena keunikannya. Bayangkan saja, spesimen yang pernah hidup bisa berukuran panjang 3,13 meter dan berat 166 kg. Maka tak heran julukan sebagai kadal terbesar di dunia disematkan padanya. Dan istimewanya, mereka hanya ada di Indonesia, tepatnya di Nusa Tenggara, yakni di Pulau Komodo, Gili Motang dan Pulau Rinca. Tempat-tempat indah yang jadi rumah bagi ora (nama yang disandang komodo dari bahasa setempat) yang sangat tepat sebagai tujuan wisata. Meski saat mengunjungi, ada beberapa hal yang mesti diwaspadai. Misalnya: jaga jarak, jangan tiba-tiba bergerak, jangan teriak-teriak dan bagi perempuan lebih baik saat sedang tidak hamil atau datang bulan. Yup, ketika berwisata, memang semestinya kita menghormati aturan dan kearifan lokal, agar semua berjalan aman dan nyaman.


Kanker Nasofaring, Telat Terdeteksi Karena Letak Tersembunyi





Kanker menjadi salah satu dari 5 jenis penyakit tidak menular penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2018), kanker, hipertensi, diabetes melitus, stroke dan gagal ginjal kronis mengalami peningkatan dalam prevalensi sehingga memerlukan perhatian dan kewaspadaan dari kita semua.

Betapa tidak, khususnya kanker, data prevalensinya (data jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah) naik dari 1,4% menjadi 1,8% pada tahun 2018. Di mana ditemukan, kenaikan prevalensi untuk penyakit kanker ini diantaranya disebabkan oleh pola hidup tidak sehat masyarakat. Maka, penerapan gaya hidup sehat sangat diperlukan sebagai langkah pencegahannya. Juga, peduli kesehatan sejak dini adalah kunci hidup bermakna di masa kini. Tak lupa, kewaspadaan akan gejala yang dirasa sangatlah penting bagi kita. Pasalnya, gejala kanker pada umumnya tidak disadari oleh penderita. Sehingga banyak penderita kanker baru mengunjungi dokter bila sudah ada keluhan. Tak jarang pada saat itu, kanker sudah dalam stadium lanjut sehingga memperumit langkah pengobatan.

Jadi, pencegahan dan deteksi dini adalah solusi sebelum kanker ini berkembang dan mematikan. Tapi, sayangnya beberapa jenis kanker telat terdeteksi karena letaknya yang tersembunyi, gejala awalnya tidak jelas dan keluhannya yang terlalu umum. Ini membuat orang abai dan akhirnya mayoritas pasien yang terdiagnosa sudah memasuki stadium tinggi ketika tiba.

Kanker nasofaring, diantaranya...

Powerful Content and Positive Vibes





Teman, pernah enggak dirimu membaca sebuah artikel di media atau blog pribadi yang isinya nyaris sama? Biasanya tuh berita tentang sebuah acara di mana baik wartawan maupun blogger yang meliputnya mendapatkan press release dari panitia penyelenggara. Nah, karena sudah ada rangkuman kegiatan mulai dari nama acara, narasumber sampai ke kutipan pernyataan mereka, maka lengkaplah sudah jika rilis ini dijadikan berita. Tapi sayangnya, ada diantara peliput ini langsung copy paste alias copas isi press release-nya, tanpa ada awalan, imbuhan, akhiran apalagi membuat versi mereka sendiri. Alhasil, saat nemu beritanya di media A isinya sama pleggg ketiplegg dengan di media B. Juga di blog-nya si Anu sama persis artikelnya dengan blog si Itu. Hingga pembaca akhirnya dibuat eneg karena mendapat ulasan yang itu lagi itu lagi. Padahal, coba jika sang peliput menulisnya dalam versi sendiri juga mengamati dari sudut pandang yang tak sama dengan temannya. Pasti artikel yang disajikannya akan menarik, beda dan bakal istimewa. Akan ada sebuah tulisan yang powerful dan enak dibaca, syukur-syukur berdampak nularin energi positif ke pembacanya.

Lalu bagaimana cara menulis konten yang kuat sekaligus bisa memberikan pengaruh positif untuk pembaca?

Mas Nurulloh, Chief Operating Officer (COO) Kompasiana, membagikan ilmunya kepada finalis Kelas Blog BINetifest 2020 di Hotel Aryaduta Jakarta, Kamis 16 Januari 2020 silam.