Review Natur-E Advanced Serum

Natur-E Advanced Serum, saya jadikan skinker lanjutan dari set Natur-E Advanced Anti-Aging selama tiga bulan terakhir ini setelah pemakaian Natur-E Advanced Face Wash dan Natur-E Advanced Skin Balancer. Saya masih meneruskan rangkaian perawatan yang menjadi solusi permasalahan kulit untuk fase usia 35 tahun ke atas ini. Pasalnya, Natur-E seri Advanced ini memang ditujukan untuk mengatasi masalah penuaan dini dengan Soft Capsule sebagai perawatan dari dalam dan Natur-E Advanced Anti-Aging Face Series untuk melengkapi perawatan kulit dari luar. Di mana rangkaian produk perawatan ini adalah jawaban kebutuhan perawatan kecantikan untuk membantu menghapus tanda-tanda penuaan dini seperti garis halus, flek hitam, dan kerutan dengan khasiat anti-aging secara menyeluruh. Nah, penuaan dini dapat disebabkan oleh sinar matahari (UV A dan UV B). Natur-E Advanced Anti-Aging akan membantu menjaga kecantikan kulit agar tetap sehat seiring berjalannya waktu. Lantaran diformulasikan dengan kandungan Astaxanthin dari ganggang merah dan SkinRefineTM Formula yang telah teruji klinis menghilangkan tanda-tanda penuaan dini dalam waktu 2 minggu.

Lalu, bagaimana hasil pemakaiannya? Apakah sesuai dengan yang saya harapkan?


Natur-E Advanced Serum


Tentang Natur-E Advanced Anti Aging Serum


Saya awalnya membeli Natur-E Advanced Serum ini di official store Natur-E di Shopee, sepaket sama rangkaiannya. Tapi karena kemasan mungilnya, produk ini yang paling dulu habis, sehingga saya pun repurchase di official store Natur-E di Tokopedia karena lagi ada diskon di sana. Memang saya selalu pilih membeli di official store karena produknya dijamin ori, pun sering banget ada promosi yang bikin hepiiii...

Oh ya, saat tiba, packaging berlapis buble wrap jadi aman isinya. Apalagi Natur-E Advanced Serum ini punya kemasan luar berupa boks berbentuk kardus berwarna putih sehingga akan melindungi produknya.

Sementara, kemasan produknya sendiri mungil karena isinya hanya 15 ml. Maka kalau rutin dipakai, pagi dan malam hari, akan habis dalam waktu sekitar dua minggu. Sedangkan untuk bentuk kemasan, tube berbahan plastik berwarna merah bata dengan tutup bening transparan berbentuk ulir berujung serupa pipet. Kemasan yang memudahkan kita saat mengeluarkan isinya. 

Produk berharga normal Rp 82.000 ini dipakai sesudah kita menggunakan Natur-E Advanced Face Wash dan Natur-E Advanced Skin Balancer dengan manfaat tertera baik di kemasan luar maupun dalamnya, yakni:

Penuaan dini dapat disebabkan sinar matahari (UV A dan UV B). Natur-E Advanced Anti Aging membantu menjaga kecantikan kulit agar tetap sehat seiring berjalannya waktu. Diformulasikan dengan Astaxanthin & Profit Tech yang dapat membantu:

  • Menyamarkan kerutan dan garis halus
  • Melindungi kulit dari efek buruk sinar matahari
  • Merawat elastisitas dan kekencangan kulit
  • Menyamarkan noda hitam
  • Membuat kulit lebih halus
  • Menjaga kelembaban kulit

Natur-E Advanced Anti Aging Serum terbukti secara klinis oleh dermatologist dalam penggunaan 14 hari dapat: 
  • Mengurangi kerutan dan garis halus
  • Meningkatkan elastisitas dan kekencangan kulit

Natur-E Advanced Serum


Sementara cara pakai Natur-E Advanced Serum: gunakan setelah pemakaian Natur-E Advanced Skin Balancer. Usapkan Natur-E Advanced Serum pada wajah dan leher secara merata lalu pijat perlahan. Gunakan pada pagi dan malam hari.

Oh ya, pada kotak kemasan luar tertera: nama produk, informasi seputar Natur-E Advanced Anti Aging,  manfaat Natur-E Advanced Serum,  jumlah isi, cara pakai, peringatan, ingridients, produk dari dan logo halal MUI. Selain itu tertera juga keterangan "No Added TEA" - 'No Adden Paraben"

Nah, informasi tentang "No added TEA" ini menarik perhatian saya. Ya, salah satu ingredients yang sering digunakan dalam kosmetik adalah triethanolamine atau yang kerap kali disebut dengan TEA. 

TEA ini merupakan senyawa kimia tak berwarna atau kuning muda dan beraroma seperti amonia. TEA menetralisis larutan karbomer untuk membentuk gel dan menetralisis asam stearat untuk membentuk emulsi anionik dan berperan sebagai agen alkali untuk mengontrol pH. 

TEA digunakan untuk mengurangi tegangan permukaan dalam emulsi sehingga banyak digunakan sebagai emulsifier dalam kosmetik berbasis air. Hampir 40% produk kosmetik di pasaran mengandung TEA. Triethanolamine biasanya terdapat pada kosmetik kecantikan seperti body lotion, shampoo, baby lotion, pemulas mata, maskara, eyeliner, foundation, concealer, dan beberapa produk perawatan rambut seperti pewarna dan bahan keriting rambut.

Kadar TEA tidak boleh lebih dari 5%. Tapi meski boleh digunakan dalam dosis rendah, penyerapan TEA melalui kulit secara terus menerus dapat berbahaya pula karena senyawa beracun akan terakumulasi menjadi dosis besar. Bisa menimbulkan risiko iritasi kulit, rambut dan mata serta peradangan. Uji klinis menunjukan bahwa dosis tinggi TEA dapat mengakibatkan kanker liver dan testikular pada hewan percobaan.

Sementara selain No added TEA, produk Natur-E Advanced Anti-Aging Serum juga disebutkan No added Paraben pada kemasannya. Ini artinya produk tidak mengandung paraben dan turunannya. Label ini tentu sangat penting karena menandakan produk tersebut lebih aman, serta mengurangi risiko gangguan kesehatan yang disebabkan oleh paraben seperti gangguan hormon, menurunnya kualitas reproduksi, hingga risiko tumbuhnya sel kanker.


Natur-E Advanced Anti Aging Serum


Pengalaman Menggunakan Natur-E Advanced Serum


Nah, saya memakai Natur-E Advanced Serum ini setiap hari pada morning & night routine skin care. Jadi tahapannya: Natur-E Advanced Face Wash, lalu Natur -E Skin Advanced Balancer baru Natur-E Advanced Serum. 

Natur-E Advanced Serum bertekstur cair, agak kental disertai butiran-butiran merah (Astaxanthin). Beberapa tetes bisa kita ratakan di wajah dan leher sambil dipijat perlahan. Saat menempel tidak terasa panas, nylekit, perih atau sejenisnya. Malah ada sensasi adem saat menyerap ke kulit kita. Serum ini juga tidak membuat kulit lengket dan menjadikan kulit lembab serta kenyal setelah pemakaian.

Sementara saya dapati hasil pemakaian selama tiga bulan: kulit jadi lebih halus, lembab dan kenyal. Sedangkan untuk manfaat mengurangi kerutan dan garis halus serta meningkatkan elastisitas dan kekencangan kulit pada wajah belum saya dapatkan secara signifikan. Bisa jadi karena masih singkatnya durasi pemakaian atau memang karena kandungannya yang aman sehingga prosesnya enggak instan.

Review Natur-E Advanced Serum


Well, setelah 3 bulan pakai Natur-E Advanced Anti Aging Serum, Yay or Nay

Memang baru tiga bulan saya menggunakan Natur-E Advanced Anti Aging Serum ini. Tapi karena efek buruknya sampai kini enggak ada, jadi saya berencana melanjutkannya. Sementara kelebihan dan kekurangan produk ini versi saya, diantaranya:


Natur-E Advanced Anti Aging Serum YAY:

  1. Halal
  2. Aman: No added TEA, No added Paraben
  3. Dermatology Tested
  4. Tidak berbau wangi yang tajam
  5. Kemasan aman dan mudah diaplikasikan
  6. Terbukti bikin kulit tambah kenyal, halus dan lembab
  7. Enggak bikin kulit kering, panas, nylekit, perih
  8. Travel friendly
  9. Ada produk suplemen penunjangnya: Natur-E Advanced 
  10. Jaminan kualitas jika dilihat dari produsennya: diproduksi oleh PT Cosmax Indonesia, untuk dipasarkan oleh Darya-Varia Laboratoria

Natur-E Advanced Anti Aging Serum NAY:

  1. Untuk ukuran serum 15 ml harga normal Rp 82.000 termasuk lumayan (maka saya nyetok pas ada diskonan), meski worth it to buy
  2. Isi kemasan terlalu sedikit, jadi cepat habis 
  3. Setelah 3 bulan pemakaian efek mengurangi kerutan dan garis halus serta meningkatkan elastisitas dan kekencangan kulit belum signifikan saya dapatkan (tapi gapapa berarti hasilnya bukan instan, kan?)

Natur-E Advanced Serum

Natur-E Advanced

Natur-E Advanced Anti Aging Serum



Repurchase? YES!

Ya, saya memutuskan membeli kembali produk ini dan melanjutkan pemakaian. Semoga saja hasilnya sesuai yang saya harapkan, kulit sehat dan tidak menua sebelum waktunya. #Eaaaa😁

Baiklah, semoga ulasan ini bermanfaat ya...
See Yaaa!!💖



Stay Beautiful


signature-fonts

Podcast Dear Dearest: Old School Jadi The New Cool

Podcast “Dear Dearest” yang diproduksi KBR Prime terpilih menjadi salah satu line-up pertama dari konten eksklusif Spotify Original Podcast di Indonesia. KBR Prime adalah sayap dari Kantor Berita Radio KBR yang secara khusus memproduksi podcast berkualitas dengan konsep ‘podcast for curious minds’.


Podcast Dear Dearest: Yang Old School Jadi The New Cool


Tentang Dear Dearest


Podcast “Dear Dearest” berpusat pada surat yang ditulis dan dibacakan penulis, musisi, aktor serta tokoh lainnya. Konsep surat cinta dipilih karena surat termasuk cara yang ‘kuno’, yang mungkin sudah jarang, atau bahkan tidak pernah, dilakukan. Lewat surat yang ditulis dan dibacakan, para pendengar bisa memasuki pikiran para penulis, musisi, aktor dan lainnya dan terlibat dengan isi surat tersebut.

Pemilihan konsep surat cinta ini juga membawa pesan kalau yang old school bisa menjadi the new cool. 

“Kami mau membawa sesuatu yang purba seperti cinta, lewat sebuah surat yang mungkin dianggap kuno, dan disampaikan dalam podcast,” kata Asrul Dwi, produser podcast “Dear Dearest”.

 
Nah, bagi KBR, kolaborasi dengan Spotify adalah langkah penting bagi pengembangan podcast. 

“KBR dan Spotify punya misi yang beririsan: mengembangkan skena podcast Indonesia,” kata Pemimpin Redaksi KBR, Citra Dyah Prastuti.

Sementara, mengutip dari rilis yang dikeluarkan Spotify, 

“Kami bersemangat untuk menghadirkan Spotify Original Podcast pertama di Indonesia, yang menyesuaikan dengan kekayaan budaya, bahasa, serta nuansa Indonesia yang dekat dengan pendengar lokal. Beberapa genre podcast paling populer di Indonesia saat ini adalah komedi, bincang-bincang, hubungan cinta, dan horor. Oleh karena itu, kami mempersembahkan Kisah Horor The Sacred Riana dan Dear, Dearest,” kata Carl Zuzarte, Head of Studios, SEA, Spotify.

Oh ya, “Dear Dearest” akan tayang perdana pada Rabu 5 Agustus 2020. Dengarkan secara gratis hanya di Spotify. Lalu, simak episode baru setiap Rabu, juga update-nya di akun IG dan Twitter @deardearestpod yaa...

 

Tentang Spotify


Spotify adalah layanan streaming musik digital, podcast, dan video yang memberi kita akses ke jutaan lagu dan konten lain dari artis di seluruh dunia.

Fungsi dasarnya seperti memutar musik tidak berbayar, tapi kita juga bisa memilih untuk mengupgrade ke Spotify Premium. Mana pun yang dipilih, kita bisa:

  • Memilih musik yang ingin kita dengarkan dengan Browse dan Cari.
  • Mendapatkan rekomendasi dari fitur yang dipersonalisasikan, seperti Discover Weekly, Release Radar, dan Daily Mix.
  • Menyusun koleksi musik.
  • Melihat apa yang didengarkan teman, artis, dan selebriti .
  • Membuat Stasiun radio sendiri

Spotify tersedia di beragam perangkat, termasuk komputer, ponsel, tablet, speaker, TV, dan mobil, dan kamu bisa dengan mudah berpindah dari satu perangkat ke perangkat lain menggunakan Spotify Connect.

Spotify sebagai layanan musik alir, siniar, dan video komersial berasal dari Swedia dan menyediakan manajemen hak digital yang melindungi konten dari label rekaman dan perusahaan media. Ini tersedia di sebagian besar Amerika, Eropa Barat dan Oseania. 


Podcast Dear Dearest: Yang Old School Jadi The New Cool

 
Tentang KBR dan KBR Prime


KBR adalah penyedia konten berita berbasis jurnalisme independen yang berdiri sejak 1999. Produk KBR mengudara di 500 radio jaringan di 34 provinsi di Indonesia. Berita-berita KBR juga bisa disimak lewat website KBR.id, serta di media sosial. 

Sepanjang usianya, KBR telah meraih beragam penghargaan nasional dan internasional untuk sepak terjangnya sebagai media serta karya-karya jurnalistik berkualitas. KBR adalah salah satu media yang sudah mendapat verifikasi dari Dewan Pers. Juga, KBR adalah satu-satunya media di dunia yang pernah mendapat penghargaan dari Raja Belgia, King Baudouin Award. 

KBR ingin memastikan di mana pun kita berada, bisa menjangkau informasi dengan mudah. Kita bisa mendapatkan berita terkini, buletin berita, feature, talkshow inspiratif, cerita dari negara-negara tetangga, serta perbincangan dengan narasumber utama langsung dari KBR atau melalui radio jaringannya. Di mana pun kita berada dan apapun alat komunikasi yang kita gunakan, KBR siap menyajikan informasi inspiratif dan tepercaya.

Oh ya, sejak 2018, KBR mengembangkan produk podcast dengan sayap KBR Prime, dengan konsep ‘podcast for curious minds’. KBR Prime adalah platform podcast berbasis jurnalistik pertama di Indonesia. Podcast KBR Prime hadir dalam beragam format, yaitu News, Conversation dan Storytelling. Setiap podcast diracik dengan kualitas jurnalistik dan audio terbaik. Podcast di KBR Prime diproduksi oleh tim redaksi juga kolaborasi dengan pihak lain.

Hingga “Dear Dearest” yang diproduksi KBR Prime terpilih menjadi salah satu line-up pertama dari konten eksklusif Spotify Original Podcast di Indonesia.

Penasaran?

Cuss...langsung ke Spotify Player Embed Code: Dear Dearest saja yaaa!!😎




KBR - KBR Prime
www.kbr.id | www.kbrprime.id



Happy Sharing

signature-fonts

Pengalaman Naik LRT Palembang

Salah satu itinerary Roadtrip Sumatra saya dan keluarga saat di Palembang adalah mengunjungi Stadion Gelora Sriwijaya a.k.a stadion Jakabaring dan menjajal LRT Palembang yang merupakan LRT pertama di Indonesia. Maka, mobil kami parkir di mal di sudut stadion lanjut naik LRT dari sini ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, lihat-lihat bandara sebentar, lalu balik lagi. Sebelumnya saya dan suami sempat eyel-eyelan di depan petugas loket LRT. Gegara dia kezel saya enggak bawa kartu e-money ekstra karena kai kira yang diterima memang cuma kartu itu dan kartu tertentu. Seperti biasa saya bawa satu kartu e-money dan flazz di dompet, dia pun sama. Sementara anak-anak punya masing-masing tapi sayangnya ketinggalan di tas saya yang lainnya di Jakarta. Maklumlah sebagai warga Jakarta kartu pembayaran elektronik buat pembayaran digital memang selalu siap sedia. Eh, ndilalah giliran sampe Palembang, lupa dibawa. Akhirnya, si Mbak petugas loketnya bilang, kenapa enggak beli tiket tunai saja, 10 ribu harganya. Problem solved! Memang kadang eyel-eyelan, udur-uduran, tukaran itu perlu. Karena tanpa itu hidup enggak akan seruuuu!!😁


Pengalaman naik LRT Palembang


Tentang LRT Palembang


Berdasarkan sebuah penelitian, kota Palembang diperkirakan akan mengalami kemacetan total pada 2019. Maka, Palembang merencanakan membangun monorel dari Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II ke Kompleks Olahraga Jakabaring sebagai alternatif transportasi umum. 

Nah, menjelang perhelatan Asian Games 2018 di Palembang, rencana pembangunan monorel tersebut kemudian dibatalkan karena kesulitan mencari investor yang dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu serta proyek dianggap kurang menguntungkan. Monorel kemudian diganti dengan Light Rail Transit /Lintas Rel Terpadu (LRT) yang dianggap lebih efektif. 

Kemudian, Presiden Joko Widodo menandatangani Perpres Nomor 116 Tahun 2015 tentang percepatan penyelenggaraan kereta api ringan di Sumatra Selatan tanggal 20 Oktober 2015. Menurut Perpres, pemerintah menugaskan kepada PT Waskita Karya Tbk untuk membangun prasarana LRT meliputi jalur termasuk konstruksi jalur layang, stasiun dan fasilitas operasi. 

Pembangunan prasarana LRT Palembang akhirnya selesai pada Februari 2018.  Sedangkan operasi penuh LRT Palembang dimulai pada 1 Agustus 2018, dengan 6 stasiun prioritas dibuka untuk melayani penumpang dari dan menuju tempat pertandingan Asian Games 2018.

LRT ini ke depannya menempuh jalur sepanjang 23,4 km dan dilengkapi 13 stasiun serta 8 rangkaian kereta, membentang dari Bandara Sultan Mahmud Badarudddin II hingga Jakabaring. Setiap rangkaian kereta akan berhenti selama 1 menit di setiap stasiun, kecuali di setiap stasiun akhir perjalanan rangkaian kereta akan berhenti selama 10 menit. Selain itu, 5 di antara 13 stasiun yang ada juga dilengkapi dengan jembatan penghubung dengan bangunan-bangunan di sekitarnya.


LRT Palembang

Cara Naik LRT Palembang

Pengalaman Naik LRT di Palembang

Cara Naik LRT Palembang

Tiket LRT Palembang


Apa Menariknya LRT Palembang?


Nah, LRT Palembang berjalan melalui rel-kereta-layang tanpa pemberat dengan lebar sepur 1.067 mm, yang membentang sepanjang 23,4 kilometer (14,5 mi) dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di ujung barat menuju Depot OPI di ujung timur. Teknologi persinyalan kereta ini menggunakan metode sinyal fixed-block, dengan dilengkapi peralatan rel ketiga. Rel kereta ini dibangun menyeberangi Sungai Musi, sejajar dengan Jembatan Ampera.

Lalu, apa yang menarik dari LRT Palembang ini?


1. LRT Palembang Ramah Disabilitas dan Lansia

  • Tersedia tangga berjalan di setiap stasiun
  • Tinggi peron dan pintu keluar masuk kereta sejajar
  • Ruang tunggu yang nyaman bagi disabilitas dan lansia
  • Ramp untuk memudahkan akses penumpang berkebutuhan khusus dan lansia
  • Lift yang tersedia di beberapa stasiun
  • Pengeras suara untuk pengumuman di stasiun dan kereta
  • Bangku prioritas di setiap rangkaian kereta

2. Moda Trasportasi Terintegrasi

Sesuai dengan rancangan peme­rintah pusat dan pemerintah daerah, sistem LRT Palembang sudah dikem­bangkan dalam moda transportasi yang terintegrasi dengan Bus Rapid Transit (BRT) yaitu Trans Musi dan Damri. Integrasi antarmoda ini ti­dak hanya mempermudah arus trans­portasi masyarakat, tapi juga sekaligus menghemat biaya khususnya bagi para mahasiswa. Proses integrasi ini diharapkan bisa membantu mahasiswa saat ingin ber­kuliah. Ini juga merupakan salah satu upaya mengenalkan budaya menggunakan transportasi massal kepada kalangan milenial, terutama mahasiswa. 

Pasalnya, moda terintegrasi ini bisa diman­faatkan para mahasiswa untuk rute LRT Palembang hingga ke Stasiun DJKA di Jakabaring, Palembang. Setelah itu, mereka melanjutkannya dengan Bus Damri menuju kampus Unsri (Universitas Sriwijaya) di Indralaya. Integrasi LRT Palembang–Bus Damri ini, mahasiswa cukup membayar Rp 7.000,00 dari tarif seharusnya yaitu Rp 15.000,00. Kekurangan dari tarif tersebut disubsidi oleh Kementerian Perhubungan. Masyarakat umum juga diberikan subsidi sehingga tarif yang berlaku adalah Rp 10.000,00.


Tiket LRT Palembang

Cara Niak LRT Palembang

Pengalaman naik LRT Palembang

Pengalaman naik LRT Palembang

LRT Sumatera Selatan

LRT Palembang



3.  Memberikan Pilihan Alternatif Transportasi bagi Masyarakat

Hadirnya LRT Palembang diharapkan mempermudah dan memperlancar mobilisasi warga masyarakat, barang, dan jasa. Juga, LRT bisa menjadi gaya hidup bertransportasi modern milenial serta akan membangun suatu peradaban dan budaya baru. Baik budaya menggunakan transportasi massal yang aman dan nyaman, budaya tepat waktu juga budaya antre yang diharapkan akan terbangun setelah menggunakan LRT ini. 

Tak hanya itu, LRT menjadi opsi untuk mengurangi kemacetan di mana masyarakat diharapkan beralih dari angkutan umum dan kendaraan pribadi ke LRT. Meski memang ini membutuhkan waktu hingga beberapa tahun ke depan agar masyarakat benar-benar berminat menggunakan LRT. Proses seperti ini juga dialami negara lain, di antaranya Singapura. Di mana Singapura membutuhkan proses waktu sekitar 10 tahun bahkan lebih untuk me­num­buhkan minat warganya meng­gunakan transportasi massal yang ada.


4. Harga Tiket yang Terjangkau

Tarif sekali angkut penumpang LRT Palembang ini sebesar Rp 5.000,00 per penumpang dari dan ke stasiun mana saja, kecuali untuk ke Bandara SMB II dipatok tarif Rp 10.000,00 per penumpang. Tarif ini disubsidi pemerintah dengan kisaran Rp 200-300 miliar setahun hingga jumlah penumpang yang menaiki moda ini dapat menutup biaya operasional.  Rencananya, kalau sudah jadi sebuah budaya, subsidinya akan ditarik. Tapi bisa saja itu terjadi dalam waktu 10-15 tahun lagi, jadi jangan khawatir...enggak dalam waktu dekat kok!


5. Kemudahan Membeli tiket

  • Dengan QR Code yang bisa dibeli di stasiun pemberangkatan dengan menggunakan uang tunai
  • Kartu Uang Elektronik (KUE) perbankan yang disahkan oleh LRT Palembang: BRIZZI (Bank BRI), TapCash (Bank BNI), e-Money (Bank Mandiri), Flazz (Bank BCA), BSB Cash (Bank Sumsel Babel) 
  • Dengan tiket terintegrasi LRT Palembang dengan Damri dan Trans Musi

6. Kenyamanan dan Keamanan 

Suasana gerbong LRT Palembang sangat nyaman dan bersih. Selain itu kita bisa mengakses tempat-tempat macet secara praktis. Juga, lebih mudah singgah ke berbagai destinasi wisata di sekitar stasiun LRT (Benteng Kuto Besak, Hutan Punti Kayu, dan sejumlah tempat wisata lainnya). Kemudian, akses dari dan ke bandara lebih praktis dan hemat. Plus bonus menikmati pemandangan kota Palembang secara leluasa (terutama Sungai Musi).


Rute LRT Sumatera Selatan

Kecepatan LRT Palembang

Pengalaman naik LRT Palembang

Cara naik LRT Palembang

Pengalaman Naik LRT Palembang


Pengalaman Naik LRT Palembang


Setelah memarkir kendaraan, kami pun menuju stasiun LRT Jakabaring. Letaknya hanya sekitar 100 meter dari gerbang masuk menuju stadion Jakabaring. Stasiun ini nampak megah dan gagah karena berdiri di ketinggian yang lumayan. Memang LRT Palembang ini dibangun dengan Metode Elevated (konstruksi layang) dengan alasan:

  • Keselamatan: menghilangkan perlintasan sebidang dengan jalan, sehingga kapasitas jalan akan tinggi karena tidak ada gangguan kereta lewat serta menghindari kecelakaan lalu lintas yang sering terjadi.
  • Kapasintas lintas: memastikan headway perjalanan kereta dapat tercapai tanpa mengganggu jalur lalu lintas lain (jalan raya) dan dapat menampung demand penumpang yang cukup banyak.
  • Dampak sosial: meminimalkan masalah sosial seperti pencarian sinyal, gangguan pada rel dan sebagainya
  • Teknis konstruksi: pertimbangan terdapat banayk flyover dan JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) yang dilewati. Menjaga kelandaian minimum jalur, bila trase vertikalnya naik turun akan mengurangi kenyamanan penumpang dan juga sarananya membutuhkan power yang besar sehingga biaya operasional serta biaya perawatan dapat lebih tinggi.
  • Pembebasan lahan: meminimalkan waktu dan biaya pembebasan lahan serta ruang di bawahnya bisa difungsikan setelah konstruksi selesai sehingga penggunaan lahan lebih efisien

Tiket LRT Palembang


LRT Sumatera Selatan

LRT Palembang


Nah, setelah menaiki tangga yang cukup tinggi, sampailah saya di peron stasiun LRT. Ruangan nyaman berpendingin ruangan menyapa dengan rel yang berposisi di bagian tengahnya. Ada petunjuk di mana arah loket serta petunjuk lainnya tertera juga petugas berseragam yang siap memandu calon penumpang.

Setelah 4 lembar kertas tiket yang berupa QR Code saya punyai, saya sekeluarga pun menunggu di kursi tunggu yang tersedia. Menunggu kereta ada petugas keamanan yang menjaga pintu masuk menuju relnya demi keamanan semua.

Tak lama, kereta LRT Palembang pun tiba. Jumlah penumpang cukup untuk duduk semua, meski ada beberapa yang saya lihat memang sengaja berdiri. Tak lama kereta pun bergerak dengan kecepatan yang bisa dibilang lambat, karena memang maksimum kecepatan LRT ini adalah 100 km/jam. Saya bandingkan dengan kereta cepat Renfe AVE atau TGV yang pernah saya naiki saat Europe Trip yang bisa menyentuh 300 km/jam lebih kecepatannya, ya enggak sebanding. Tapiiiii, saya suka kalau lambat begini, pas buat menikmati pemandangan kota Palembang dari ketinggian, yekan?

Oh ya, di sepanjang perjalanan, penumpang ada yang naik dan turun sesuai tujuan. Jangan khawatir, ada pemberitahuan lewat pengeras suara nama stasiun yang akan disinggahi. Juga ada rute di layar video yang tertera. Jadi perhatikan dengan seksama ya, biar enggak kelewatan nantinya.

Ada juga penumpang yang seperti saya yang bertujuan ke stasiun akhir, Bandara SMB II. Di mana perjalanan dari ujung ke ujung ini memerlukan waktu sekitar 45 menit, beneran hemat. Kebayang jika pakai jalur darat, Yang kabarnya bisa 1,5 jam jarak tempuhnya, karena akan bertemu dengan kemacetan lalu lintas dimana-mana. Juga, pasti akan butuh biaya lebih buat bahan bakar dan parkir kendaraan.

Sesampai di Bandara SMB II, kami pun turun dan langsung menuju arah area bandara. Enak benar, enggak perlu turun naik lagi, jadi langsung terkoneksi ke sini. Pasti ini bakalan memudahkan bagi penumpang pesawat dari dan ke Bandara SMB II. 

Dan, setelah berkeliling di area bandara, juga foto-foto pastinya, kami pun ke arah stasiun LRT Bandara SMB II lagi, naik LRT kembali untuk menuju titik awal tadi.


LRT Sumatera Selatan


My Wishes for LRT Palembang 


Saya sangat bersyukur bisa singgah di Palembang di perjalanan kali ini dan menjajal LRT. Ini mengobati rasa penasaran saya akan LRT Jabodetabek yang direncanakan baru beroperasi pada Novemeber 2021 nanti.

Semoga gaya hidup bertransportasi modern milenial ini bisa juga dinikmati di kota-kota besar lainnya di Indonesia, sehingga bisa mengurangi masalah kemacetan yang berimbas pada beraneka sisi kehidupan masyarakat kita.


Sementara sedikit tips untuk naik LRT Palembang:

  • Lebih baik datang saat tidak dalam kondisi lapar atau haus, karena ada larangan makan atau minum di dalam LRT. Jadi jangan lupa isi perut dulu ya...
  • Sebaiknya ke toilet yang ada di stasiun dulu bila perlu, kuatir pengin BAK/BAB saat di LRT
  • Siapkan kartu pembayaran elektronik jika memang punya
  • Jaga kebersihan area
  • Berhati-hati jika mengajak anak-anak demi keselamatan semua
  • Pilih gerbong paling belakang, karena lebih sepi, penumpang biasa berkerumun di gerbong terdepan
  • Perhatikan layar yang menunjukkan rute stasiun dan dengarkan pengumuman dari pengeras suara agar enggak kelewatan
  • Patuhi aturan yang diberlakukan demi keamanan dan kenyamanan semua
  • Nikmati perjalanan melewati kota Palembang dengan segala warna-warninya

Oh ya, kalau teman-teman, sudah coba LRT Palembang jugakah? Jika belum, semoga ada kesempatan untuk mencobanya juga ya...💖



Happy Traveling


signature-fonts

Perempuan Bernama Yah

Kami tiba di Bandara Polonia Medan pada pukul 10 pagi. Perjalanan sejauh 80 km dari Pangkalan Brandan tadi memang sedikit terhambat. Anakku muntah, sehingga kami singgah dulu di Masjid Stabat. 

Untuk terakhir kalinya kupeluk Wak Yah erat-erat. Hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya.

“Selamat tinggal ya, Wak, terimakasih untuk semuanya. Insya Allah lain waktu kita bertemu,” bisikku haru.

”Ya, Bu, sama-sama,” jawabnya pendek sambil menahan isak.

Lalu dipeluknya anakku,”Jadi anak yang baik ya Mas,” pesannya pada bocah berusia 2 tahun, yang hanya bisa mengangguk-angguk mengiyakan tanpa tahu benar apa maksudnya.

Waktu tak banyak tersisa. Saatnya meninggalkan Sumatera Utara. Menorehkan kenangan tentang Wak Yah, asisten rumah tanggaku yang tak kuanggap sebagai orang lain. Ia istimewa, bahkan sejak pertama kali aku mengenalnya.



Cerita Pendek



***

Tugas suamiku membawa kami tinggal di kota kecil ini. Membuatku harus meninggalkan karir dan menjadi ibu rumah tangga. Sebuah perubahan yang ternyata tidah semudah yang kubayangkan. Setahun kemudian, anak pertama kami berpulang di usianya yang baru 13 hari. Aku terguncang. Karena khawatir, suamiku mencarikan asisten rumah tangga untuk menemaniku. Meski sebenarnya tak banyak pekerjaan untuk dikerjakan. Dan, wanita paruh baya itu bernama Wak Yah. Seorang yang periang, dengan tawa lepas, dan sikap yang santun. Hari Senin sampai Sabtu dari pagi sampai siang, kalau Minggu libur. Itu jadwal kerja yang kutawarkan padanya. Dan ia berterimakasih, karena ada hari libur.

Terlahir sebagai Komariyah, keturunan Melayu yang berdiam di Langkat. Setelah tali pusarnya dipotong, tubuh merahnya sengaja dibaringkan di atas tampah dan diletakkan di bale-bale di belakang rumah. Lalu, sepasang suami istri tak berputra membawanya pulang ke rumah mereka. Dan, ia pun diasuh oleh orang tua angkat yang bersuku Jawa yang merubah namanya menjadi Sugiharti. Yah telah melewati sebuah ritual menjadi ”anak pancing”, yakni anak yang diadopsi buat "memancing" punya keturunan sendiri.

"Memangnya Wak Yah tahu darimana cerita itu?" tanyaku heran.

“Tetangga saya ada yang cerita, Bu. Ia iba melihat saya sejak kecil sering dihajar. Sejak itu saya tahu ternyata mereka bukan orang tua kandung saya.” 

"Kok, sekarang nama Komariyah dipakai lagi?" selidikku ingin tahu.

”Sesudah orang tua angkat saya meninggal, saya pakai lagi nama Komariyah. Saya hanya ingin mengenang dan menghormati Bapak dan Mak kandung saya. Saya yakin saat mereka memberikan nama itu, dipanjatkan doa-doa kebaikan untuk anaknya,” ia menjelaskan alasannya.

"Tapi nama Sugiharti artinya juga bagus, ”banyak arti”, ”banyak makna” pastinya orang tua angkat Wak Yah mengharapkan agar kelak anaknya menjadi orang yang bermakna bagi orang lain!" sanggahku padanya.

Wak Yah hanya mengangguk dan menanggapinya dengan senyum.

Yah kecil tumbuh bersama 2 anak kandung Pak Di dan Mak Siti. Bukan hal-hal yang menyenangkan yang ia dapatkan di sana. Kenakalan khas bocah, membuat ia sering dicubit, dipukul, ditampar oleh Mak Siti. Dan yang paling menyakitkan, dikata-katai ”dasar anak pungut”. Ia juga tak diijinkan sekolah lagi saat kelas II Sekolah Rakyat. 

”Kalau kamu sekolah siapa yang mengurus rumah. Bapak dan Mamak harus ke sawah, kedua adikmu itu laki-laki, biar mereka saja yang sekolah! Perempuan tidak perlu pintar!” 

"Jadi sejak saat itu Wak Yah tidak sekolah?" aku menyesalkannya.

”Ya, Bu. Saya hanya mengurus rumah, memasak, mencuci baju. Saya tidak bisa lagi bermain seperti anak-anak lain. Pernah saat masak, nasinya gosong. Waktu Mak tahu, ia langsung melempar periuk beserta nasi gosong itu ke muka saya. Rasanya panas, sakit. Lalu, saya lari ke rumah orang tua saya. Sering, saya pergi ke sana. Tapi tidak berani masuk. Hanya memandang rumah mereka dari jauh.” 

"Memangnya, orang tua kandung Wak Yah juga tidak pernah menjenguk ke rumah Mak Siti?" tanyaku sambil berkhayal andai saja sudah ada Komnas Anak saat itu.

”Tidak pernah! Mungkin mereka tidak ingin mencampuri lagi, karena saya sudah jadi anak Pak Di dan Mak Siti. Pernah saya kelamaan di sana, saat pulang Mak Siti marah, dikiranya saya main seharian. Saya ditelanjangi, dan dijemur di halaman rumah. Saya tidak mampu menangis lagi. Untung ada tetangga yang menolong, saya diajak ke rumahnya, diberi makan dan pakaian. Beberapa hari kemudian saya mengintip lagi ke sana, ternyata mereka sudah pergi.”

"Pergi?Mereka pindah?" tanyaku.

”Ya. Tapi, pindah kemana saya juga tidak tahu. Sampai sekarang entah mereka dimana,” kenang Wak Yah dengan pandangan menerawang penuh kerinduan.

"Pak Di dan Mak Siti sama-sama galak ya?" aku membuyarkan kenangannya.

”Mak Siti yang sering menyiksa saya. Adik-adik juga sering ikut-ikutan. Pak Di tidak pernah. Kalau ia tahu, pasti dilarangnya istrinya memukul saya. Saya sering berlindung di balik badannya. Tapi sayangnya ia tak berumur panjang. Saat saya berumur 12 tahun Pak Di meninggal karena sakit.” kenangnya sedih.

***

Umur 12 tahun Yah memutuskan lari dari rumah, ikut Kak Sih yang lebih dulu merantau ke Pangkalan Brandan. Kisah kota minyak dengan segala kilau kemewahannya telah lama menghiasi mimpinya.
Di sana ia bekerja di sebuah kedai nasi. Tugasnya mencuci perabot yang kotor, merajang sayuran, menggiling bumbu, membersihkan kedai. Kedai itu buka dari waktu sarapan sampai makan malam, Yah pun mulai bekerja dari jam 2 pagi . Hampir jam 9 malam setelah semuanya rapi, ia baru beranjak tidur. 

Ia hanya bertahan 6 bulan, saat tawaran yang lebih menggoda datang, menjadi pekerja rumah tangga di rumah komplek pegawai. Betapa enaknya, bisa tinggal di rumah besar dengan kamar yang banyak,...wah!. Begitu yang ia bayangkan.

Setelah beberapa bulan tinggal di rumah besar, Yah menjenguk Mak Siti ke kampung. Diciumnya tangan Mak Siti. Dituturkannya maaf atas kepergiannya yang tanpa pamit. Dibawakannya makanan, kain dan kebaya juga sedikit uang. 

Tapi, Mak Siti menyambutnya dengan kata-kata,” Harti, jadi apa kau sekarang? Lihat dandananmu itu! Macam orang yang jual diri saja!”serunya pada Yah.

Yah dengan pakaian ”kota” mengejutkan Mak Siti, blus berlengan panjang, rok berlipit, lengkap dengan tas dan sepatu serta muka berpoles bedak dan gincu.

”Awak kerja jadi pembantu di rumah besar Mak. Menyapu, mengepel, mencuci dan menggosok baju. Baju ini diberi oleh anak majikan. Mereka di sana sudah biasa pakai baju seperti ini.”

”Ah!”Mak Siti tidak sepenuhnya percaya.

"Kenapa Wak Yah masih mau menjenguk Mak Siti?" aku menggerutu sambil membayangkan, harusnya Yah tidak akan pernah datang lagi ke tempat Mak Siti.

”Bagaimanapun Mak Siti telah merawat saya sejak baru lahir. Saya tidak pernah dendam padanya.”

"Tapi ia sudah begitu kejam pada Wak Yah." sanggahku tetap tak terima.

“Bu, kalaupun ia sudah menyia-nyiakan saya, akan ada yang membalasnya nanti. Betapapun kejamnya, Mak Siti tetap Mak saya, hanya saja bukan dia yang mengandung dan melahirkan saya.”

"Bisa-bisanya Wak Yah pemaaf seperti itu! Belum tentu semua orang mampu!" pujiku tulus.
“Saya hanya belajar dari pengalaman hidup, Bu.”

***

Yah mulai mengenal pria di usia 14 tahun. Seorang kuli bangunan bernama Mahdi yang berumur 12 tahun lebih tua dari Yah. Ia berpikir pria itu akan melindunginya dan mewujudkan keinginan yang belum pernah dimilikinya, memiliki sebuah keluarga yang bahagia.
Saat Mahdi menawarkan pernikahan Yah pun menerimanya.
Yah tahu dalam agamanya wali nikah seorang wanita yang pertama dan yang utama adalah ayah kandungnya. Karena itu ia pun mencari jejak ayahnya, yang kabarnya memboyong keluarganya ke Kuala Simpang di Aceh Tamiang. Ia mencari dengan berbekal nama dan sepenggal cerita. Usahanya sia-sia.
Sebelum menikah, ia juga minta restu pada Mak Siti.

“Mak, awak mau minta restu. Ada pria melamarku. Bulan depan kami menikah.”

”Kalau memang ada yang mau menikahimu ya sudah! Mamak tidak punya apa-apa untuk bekalmu”


Itu saja kata Mak Siti sampai Yah berpamitan. Sungguh, Yah pun tak ingin mengusik harta Mak Siti. Ia lalu meninggalkan pesan tanggal penikahannya dan berharap Mak Siti dan adik-adiknya akan menghadirinya. Tapi di saat hari bahagia Yah, tak satupun dari mereka yang datang.Yah menikah tanpa keluarga, hanya ada Yah, Mahdi, wali hakim dan beberapa orang keluarga Mahdi.

"Wak Yah tidak sedih ya, menikah tanpa ada keluarga? aku membayangkan betapa nelangsanya jika menikah tanpa didampingi orang-orang yang kita cintai.

”Ya sedih, Bu. Saya merasa benar-benar tidak punya siapapun di dunia ini.”

"Terus setelah nikah tinggal dimana?" aku bertanya.

”Ada pondok di ladang milik mertua. Saya rapikan tempat itu. Saya bersihkan kaleng-kaleng bekas untuk dijadikan perabot dapur. Saya tanam sayuran di sekitarnya, saat panen saya jual ke pekan. Penghasilan Mahdi tak tentu. Kami harus berhemat. Lama-lama kami bisa memperbaiki pondok hingga layak huni.”

"Lumayan ada ladang mertua, tidak perlu bingung mau tinggal dimana." ucapku haru.

”Tidak lama, Bu. Melihat pondok yang berdiri tegak dan ladang yang subur dengan sayuran, Bapak datang meminta kami pergi. Alasannya Abangnya Mahdi akan menempati. Abangnya punya anak banyak, sedangkan kami baru berdua, jadi lebih baik tinggal di rumah sewa, begitu katanya.”

"Wah, enak sekali mereka, tidak perlu capek-capek kerja, tinggal menempati saja!" gerutuku menyesalkan tindakan mertua Wak Yah.

”Ternyata juga tidak jadi ditempati Bu, tapi dijual sama Bapak. Ladang dan rumahnya habis dijual satu demi satu. Hanya untuk senang-senang. Saat tua, ia tak punya apa-apa lagi, saya yang merawatnya di rumah sampai ia meninggal.”

Mahdi, pria itu ternyata kerap menyakiti Yah. Entah sudah berapa banyak wanita lain yang membuatnya mendua. Saat masih dua orang anak mereka, seorang wanita tiga puluh tahunan datang ke rumah mencarinya. Yah menemui tamunya dan berbincang. Seorang janda yang katanya telah lama dekat dengan Mahdi, pria yang mengaku belum beristri dan tinggal dengan kakaknya di Kampung Baru.

”Kak Yah, kakak Mahdi bukan?” tanyanya. Yah pun mengiyakan saja. 

Saat Mahdi pulang, ditanyanya baik-baik tentang wanita itu.

”Ia memang simpananku. Kalau kau tak suka, ceraikan saja aku!” teriaknya. 

Terkesiap Yah mendengarnya!

"Jadi ia yang minta cerai?" tanyaku penasaran

”Bukan sekali dua! Sering! Saya tidak menjawabnya. Kalau pergi, pasti ia kembali lagi, lama-lama saya merasa biasa dan hapal kebiasaan buruknya.”

Biasanya pria pergi meninggalkan anak istri karena mengejar wanita lain, tidak akan kembali lagi. Ini lain cerita rupanya! Aku menanggapi.

”Kalau tidak pulang, mau makan apa ia Bu! Sejak di rumah sewa, saya kerja lagi, cuci gosok di tiga rumah di komplek. Dari pagi sampai petang. Bayi saya bawa, diayun di dapur rumah, sembari kerja bisa asuh anak. Sementara Mahdi, kadang ada kerja, tapi lebih sering duduk-duduk di kedai kopi. Uang hasil kerjanya pun sering tak utuh dibawa pulang. Untuk senang-senang.”

"Pantas saja! Senang-senang, habis uang, pulang! Kenapa Wak Yah tidak minta cerai? Pria seperti itu bikin makan hati saja! Kasus KDRT!" aku berseru tak peduli Wak Yah tahu KDRT atau tidak.

”Saya ingat anak-anak Bu. Jadi saya bersabar saja. Awalnya memang sakit hati, tapi berikutnya saya sudah kebal!” 

”Kadang ia merantau. Dua atau tiga bulan baru pulang, menengok kami sambil bawa uang. Pernah juga setengah tahun tak kunjung datang. Waktu ke Lhoknga, bikin bangunan SD yang rusak diterjang tsunami. Yang lain setelah 2 bulan pulang, tapi ia tidak. Ia hanya titip uang yang tak banyak. Kabar yang saya dengar, ia kecantol janda tsunami. Meski begitu akhirnya ia ingat pulang juga. Mungkin sudah habis uangnya” 

***

Anak sulung bernama Juhri. Yah memimpikan ia bisa sekolah tinggi, karena ia anak pertama dan pria yang kelak akan bertanggung jawab pada keluarga. Ia pun disekolahkan sampai STM. Sayangnya, ia tak menghargai peluh sang mamak. Ia pakai uang sekolahnya untuk senang-senang. Entah berapa kali Mamaknya datang ke sekolah karena kenakalannya. Satu hari ia pinjam motor kawannya, karena teledor motor itu raib. Saat ia melapor ke Mamaknya, ”Kau tanggung sendiri perbuatanmu. Mau pakai uang apa Mamak ganti motor itu. Kau pikir kita ini orang kaya?” seru Yah marah. 

Si empunya datang ke rumah, tapi hanya Mamaknya yang ada, Juhri sudah pergi.

"Juhri pergi? Kemana?"

”Saya tidak tahu Bu. Sampai sekarang ia tak berani pulang. Saya pernah dengar kabar, ia merantau ke Pekanbaru. Entah benar atau tidak,” ucapnya getir.

"Jadi pemilik motor itu juga tidak menuntut lagi?"

”Ibunya datang ke rumah, minta pertanggungjawaban. Saya bilang, tidak mungkin mengganti, untuk makan saja kami susah, apalagi beli motor. Ibu itu pulang, besoknya datang lagi sambil membawa beras dan makanan, mungkin setelah melihat kondisi kami.”

Baik sekali ibu itu, sedang kesusahan tapi mau menolong orang yang lebih susah. Aku membatin betapa pertolongan Allah untuk Wak Yah bisa lewat siapa saja.

Anak kedua, Kamisah. Setamat SMP, kerja di penggilingan padi. Ia kawin dengan pria yang sering membuatnya lebam. Wak Yah tak tahan melihatnya. Sah diungsikannya ke Medan. Dua anaknya ditinggal. Sang suami kelabakan. Ia memohon mertuanya mengampuninya dan berjanji takkan menyiksa Sah lagi. Wak Yah tak percaya begitu saja. Sampai tiga bulan dibiarkannya sang menantu mengasuh anak-anaknya sendirian. Barulah ia antar Sah pulang. Kini ada tiga anaknya. Suaminya menarik becak motor. Meski hidup pas-pasan, paling tidak, tak ada lagi luka-luka di tubuh Sah. Wak Yah pun lega.

"Hebat Wak Yah ini! Bisa-bisanya punya ide menyembunyikan Sah," ucapku heran.

”Saya tidak mau anak perempuan saya tersiksa seumur-umur Bu. Saya hanya ingin memberi pelajaran pada menantu saya.”

Sementara, anak ketiga meninggal saat baru lahir, kembar laki-laki. Malam itu, Yah merasa perutnya sakit. Dibangunkannya suaminya, tapi ia malah dibentak ”Baru juga tujuh bulan, belum saatnya!” Yah tak tahan lagi, suaminya beranjak pergi memanggil dukun beranak. Sebelum sampai, bayi itu keburu keluar, meninggal!

"Meninggal? Dua bayi lagi!" aku berseru.

”Memang mereka tak ada umur, Bu. Kita semua juga akan meninggal. Hanya kapan tidak ada yang tahu. Mungkin saat bayi, dewasa, atau sudah tua renta!” 

Aku terdiam merenungkan kata-katanya.

Anak keempat, laki-laki meninggal saat kelas satu SD, karena demam tinggi. Setelah tiga hari demam, iapun meninggal.

"Kenapa tidak dibawa berobat?" aku bertanya.

”Saya sudah belikan obat di warung. Mau suntik tak ada uang,“ kenangnya getir.

Anak kelima, laki-laki. Saat hamil, mereka benar-benar sedang kesulitan uang. Mereka sering hanya makan berlauk garam. Sampai saat melahirkan, untuk membayar dukun pun hampir tak ada uang. Lalu, ada orang seberang menawarkan diri mengasuh anaknya. Bayi merah itupun dibawa ke Sidempuan. Sebelumnya Yah berbisik padanya,”Nak, maafkan Mamak. Semoga hidupmu akan lebih baik bersama keluargamu yang baru.”

"Wak Yah pernah bertemu lagi dengan anak itu?"

”Tidak, Bu. Orang tua angkatnya orang berada yang tidak berputra. Lebih baik ia tidak mencari saya. Biarlah ia dengan kehidupannya sendiri,” ucapnya ikhlas.

"Tapi, kalau nanti ia tahu, ia pasti mencari ibu kandungnya." aku berkata yakin.

Anak keenam perempuan, Ningsih, tamatan SMP. Wataknya keras. Ia sering merantau ke Padang, Pekanbaru bahkan ke Jawa. Kadang bekerja di toko milik orang Cina, atau mengasuh anak, pernah juga bekerja di kedai nasi. Saat bekerja di kedai sampah di kota, ia hamil. Yah tak tinggal diam, dicarinya pria itu ke rumah orang tuanya di Gebang, agar bertanggung jawab. Sayang, ia tidak diterima dengan baik, malah dikata-katai. Pria itu lalu datang sendiri ke rumah Yah. Sanggup menikahi Ningsih meski tanpa restu orang tuanya.

"Lalu mereka menikah?" aku bertanya.

”Ya, Bu. Sekarang mereka tinggal di rumah sewa. Mereka rukun-rukun saja.”

Anak ketujuh, Ratna. Sebenarnya Yah sudah pasang spiral tanpa setahu Mahdi. Pria itu anti alat kontrasepsi. ”Kau pakai alat agar tak beranak lagi. Biar bisa bebas kau ya!” Tapi, diam-diam Yah pergi ke bidan. Hanya Yah tak paham, kalau alat itu harus dicek masih terpasang dengan benar atau tidak. Sebelas tahun kemudian Yah terlambat bulan. Ia tak terima. Ingin rasanya menggugurkannya. Tapi, Yah ingat dosa. Anak ini tak berdosa kenapa harus dibuang. Akhirnya dilahirkannya bayi itu dengan selamat.

"Jadi waktu pakai spiral tidak pernah kontrol ke bidan?" aku ingin tahu.

”Ya, Bu, saya kurang mengerti. Lalu, habis melahirkan saya pakai KB suntik.” 

"Sampai sekarang suami tetap tidak tahu?"

”Tidak. Saya selalu pergi diam-diam. Apalagi saya punya gaji sendiri, jadi tidak perlu minta uang padanya.”

Yah sudah tiga puluh tahun lebih menjadi pekerja rumah tangga. Banyak majikan ia jalani. Suatu hari, ada tanah dijual di dekat rumah sewanya. Majikannya, Bu Ros, seorang pegawai , tinggal di rumah komplek bersama anak semata wayangnya yang punya gangguan jiwa, membeli tanah itu. Dan, diijinkannya Yah berladang di situ. Yah sangat senang. Ia tanam pisang, pohon kapuk, ubi kayu, dan bumbu dapur. Saat pensiun Ibu itu pulang ke Mandailing Natal. Dan, sampai sekarang tak berkabar berita.

Pernah, tiba waktunya bayar sewa rumah, Yah pinjam ke Pak Sur, majikan berikutnya. Ia malah berkata,”Kalau kau sewa terus takkan ada habisnya. Lebih baik kau bangun pondok sederhana di tanah yang kau tanami itu. Ini kukasih uang untuk beli bahan-bahan. Biar lakimu yang mengerjakan!”

“Pondok itu berdinding anyaman bambu dan beratap daun nipah. Tapi saya bersyukur sekali, untuk pertama kalinya kami punya pondok sendiri…tidak perlu menyewa lagi. Pak Sur juga memberi saya sepeda untuk pergi bekerja, jadi saya tidak capek-capek jalan kaki lagi kemana-mana,” kenangnya haru.

"Satu hari daun nipahnya sudah banyak yang koyak, mesti diganti baru. Saya minta gaji tiga bulan di muka pada Bu Awal, majikan saya saat itu. Tanpa setahu saya Beliau mendatangi rumah saya. Lalu kami sekeluarga diminta mengungsi. Selama  sebulan, saya menginap di rumah Bu Awal. Saat, saya disuruh pulang ke rumah, saya diberi kunci! Rumah berdinding papan, beratap seng, ada dua bilik, dapur, sumur dan jamban. Lantainya disemen. Sekalian ada perabot lengkap meski sederhana. Mirip yang di TV itu kejadiannya Bu! Disuruh pergi dulu, terus rumahnya dibenahi. Saya benar-benar tidak menyangka."

Aku tercengang mendengarnya. Ya Allah, betapa rejeki Wak Yah bisa lewat siapa saja, batinku. Inilah berkah kesabaran dan keikhlasan Wak Yah.

"Lalu Bu Awal pindah ke Balongan, saya tidak boleh lagi menjadi pembantu. Beliau memberi saya modal dan peralatan untuk jualan nasi dan lontong."

"Lalu Wak Yah jualan?"

“Ya, jualan di ujung lorong. Pagi jualan sarapan, nasi gurih, lontong sayur, kue-kue, kopi...Sore hari buka lagi, jual mi bakso, kopi dan kue-kue. Mulanya suami saya membantu berjualan, lama-lama, ia bilang saya yang belanja dan masak saja, ia yang jaga kedai. Saya jadi tidak tahu berapa dapat uang dari jualan. Ia yang pegang uang. Saya hanya dikasih uang untuk belanja bahan masakan. Setahun berjalan, saya tak tahan lagi. Saya mogok tak mau belanja, tak mau masak. Padahal kata orang kedai saya selalu ramai, tapi saya tidak pernah ikut merasakan senangnya. Saya pikir lebih enak jadi pembantu lagi. Kerja sebulan, gaji langsung di tangan. Semua peralatan jualan saya simpan. Kalau ingat pesan Bu Awal saya jadi tidak enak hati. Tapi saya tidak punya pilihan.”

"Majikan-majikan yang sungguh berhati mulia."tulusku

”Ya, Bu. Saya sampai diisukan suka mengguna-gunai majikan. Padahal buat apa! Saya hanya berusaha bekerja dengan baik, jujur, ikhlas membantu mereka. Saya tidak pernah punya pamrih apapun. Biasanya saya bekerja sampai mereka pensiun atau pindah dari sini. Saya juga tidak mau mengambil gaji dulu atau bahkan berhutang kalau tidak perlu. Saya takut berhutang. Bikin tidak bisa tidur pulas.”

***

Pesawatku sudah berada di atas kota Medan. Meninggalkan seseorang yang akan tersimpan dalam kenangan. Yang telah memberi banyak pelajaran tentang hidup. Meski bukan saudaraku atau guruku. Ia hanya Yah, wanita sederhana yang berani menjalani hidup lewat pilihannya sendiri.

Yah yang takkan bisa tertawa lepas saat disodori buku komik "Si Juki". Karena meski gambarnya mencipta tawa, tapi Yah yang buta aksara takkan tahu apa isi pesannya.

Yah yang tidak mengerti juga peduli betapa jeritan orang-orang seprofesinya sedang disuarakan oleh Serikat Pekerja Rumah Tangga, agar pekerja rumah tangga tak lagi dipandang sebelah mata.
Seseorang yang telah mengajariku arti kesabaran dan keikhlasan menjalani hidup. Perempuan sederhana itu bernama Yah.




*Cerita pendek ini saya tulis 10 tahun lalu. Terinspirasi dari kisah nyata Wak Syamsiyah, asisten rumah tangga saya saat tinggal di Sumatera Utara.💖

**Catatan :

awak: saya
menggosok baju: menyetrika baju
lorong: gang
menggiling bumbu: mengulek bumbu
pajak: pasar
kedai sampah: toko yang menjual rupa-rupa barang